Part : 2 SELINGKUHAN SUAMIKU MEMPERMALUKANKU SAAT AKU HAMIL DELAPAN BULAN, TETAPI SATU KALIMAT DIREKTUR RUMAH SAKIT LANGSUNG MEMBUAT SUAMIKU TERDIAM

BAGIAN 1

Sepatu hak Celine berhenti tepat di depanku.

Aku masih memegangi perutku ketika seorang perawat berjongkok di sampingku.

“Bu, jangan berdiri dulu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Biar kami periksa dulu.”

Aku menatap Arga.

Suamiku tidak bergerak.

Dia berdiri sekitar tiga meter dariku dengan satu tangan di saku celana, seolah kejadian beberapa detik sebelumnya hanya pertengkaran kecil yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Celine justru merapikan mantel putihnya.

“Aku sudah bilang jangan mengikuti kami,” katanya.

“Aku tidak mengikuti kalian.”

“Lalu kenapa kamu ada di sini?”

Aku hampir tertawa.

“Aku punya jadwal pemeriksaan kandungan.”

Arga akhirnya menatapku.

“Laras, cukup.”

Nada suaranya tenang.

Itu justru lebih menyakitkan daripada kalau dia membentakku.

Aku datang pagi itu karena dokter kandunganku meminta pemeriksaan tambahan. Tekanan darahku beberapa hari terakhir tidak stabil, dan malam sebelumnya aku sempat merasakan kontraksi ringan.

Aku tidak tahu Arga juga berada di rumah sakit.

Aku juga tidak tahu Celine bersamanya.

Sampai aku melihat mereka keluar dari sebuah ruang konsultasi pribadi di lantai tujuh.

Tangan Celine memegang lengan Arga.

Terlalu dekat.

Terlalu akrab.

Aku hanya sempat bertanya satu hal.

“Kenapa kalian ada di sini?”

Celine langsung menjawab.

“Bukan urusanmu.”

Ketika aku meminta Arga menjelaskan, Celine melangkah maju.

Semuanya terjadi cepat.

Sekarang aku duduk di lantai koridor dengan noda kopi di bagian depan gaun biruku dan beberapa orang berdiri memperhatikan.

Seorang petugas keamanan mulai mendekat.

Celine menunjuk kepadaku.

“Dia membuat keributan.”

Perawat di sampingku langsung berdiri.

“Maaf, Bu. Saya melihat sendiri apa yang terjadi.”

Celine menatapnya.

“Kamu tahu siapa saya?”

Perawat itu terdiam sebentar.

Aku mengenal ekspresi itu.

Takut kehilangan pekerjaan.

Arga juga melihatnya.

Dia maju satu langkah.

“Tidak perlu diperpanjang.”

Aku menatapnya.

“Tidak perlu diperpanjang?”

“Dokter periksa kamu. Setelah itu kita bicara di rumah.”

“Rumah?”

Celine tersenyum kecil.

Aku mengerti.

Dia ingin aku pergi.

Mereka ingin semua kembali seperti biasa.

Aku diam.

Sudah hampir tujuh bulan aku membiarkan Arga mengatur hampir semua hal dalam hidupku.

Mobil.

Kartu.

Pengawal.

Jadwal.

Bahkan siapa yang boleh datang ke rumah.

Awalnya semuanya dibungkus dengan alasan keamanan.

Kemudian berubah menjadi kontrol.

Tiga hari sebelumnya dia memblokir kartu kreditku setelah aku menolak menandatangani sebuah dokumen perusahaan.

Katanya aku sedang mempermalukannya.

Pagi itu, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu lagi menjelaskan apa pun kepadanya.

Perawat membantu aku berdiri perlahan.

Saat itulah suara seorang pria terdengar dari ujung koridor.

“Apa yang terjadi di sini?”

Semua orang menoleh.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berjalan cepat ke arah kami.

Jas dokternya terbuka. Di belakangnya ada dua dokter lain dan seorang staf administrasi.

Aku langsung mengenalinya.

Arga tidak.

Celine juga tidak.

Petugas keamanan berdiri lebih tegak.

“Selamat pagi, Dokter Surya.”

Arga mengerutkan kening.

Dia mungkin pernah melihat nama pria itu di undangan gala atau laporan rumah sakit.

Dokter Surya Wibowo.

Direktur utama rumah sakit.

Salah satu dokter senior yang namanya dikenal luas di Jakarta.

Dia mendekat, melihat noda kopi di pakaianku, lalu menatap wajahku.

“Laras?”

Aku tidak menjawab.

Wajahnya langsung berubah.

Dia menoleh ke perawat.

“Apa yang terjadi?”

Perawat itu menarik napas.

“Pasien ini terlibat insiden dengan perempuan tersebut, Dok.”

Celine menyela.

“Ini masalah keluarga.”

Dokter Surya memandangnya.

“Siapa Anda?”

Celine terlihat tidak suka.

“Saya Celine Wijaya.”

“Baik. Saya tanya sekali lagi. Apa yang terjadi?”

Perawat menjelaskan singkat.

Tidak ada tambahan.

Tidak ada drama.

Hanya apa yang dia lihat.

Ketika selesai, Dokter Surya menatap Celine cukup lama.

Lalu dia beralih kepada Arga.

“Anda suaminya?”

Arga mengangguk.

“Benar. Arga Pratama.”

Dokter Surya tidak menunjukkan kesan apa pun.

“Dan Anda melihat kejadian itu?”

Arga tidak langsung menjawab.

“Itu terjadi sangat cepat.”

“Berarti Anda melihat.”

“Dokter, saya rasa ini tidak perlu—”

Dokter Surya memotong.

“Dia sedang hamil delapan bulan.”

Koridor mendadak sunyi.

Celine merapatkan bibir.

“Dia juga memprovokasi saya.”

Aku menatapnya.

“Dengan bertanya kenapa kamu datang ke rumah sakit bersama suamiku?”

Celine tidak menjawab.

Dokter Surya maju satu langkah.

Suaranya tetap rendah.

Tetapi semua orang mendengarnya.

“Coba sakiti keponakan saya sekali lagi.”

Arga membeku.

Celine memandangku.

Lalu kembali memandang Dokter Surya.

“Keponakan?”

Aku menutup mata sebentar.

Inilah alasan aku tidak pernah menceritakan keluarga ibuku kepada Arga.

Bukan karena aku malu.

Aku hanya ingin tahu apakah dia menikahiku karena diriku sendiri.

Dokter Surya meletakkan satu tangan di bahuku.

“Aku sudah menelepon ibumu.”

Aku langsung membuka mata.

“Om…”

“Dia sedang menuju ke sini.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, wajah Arga benar-benar kehilangan ketenangannya.

“Ibumu?”

Dia menatapku.

“Laras, apa maksud semua ini?”

Aku tidak menjawab.

Dokter Surya menoleh kepada stafnya.

“Bawa Laras ke ruang pemeriksaan VIP. Panggil dokter kandungannya sekarang.”

Lalu dia menatap petugas keamanan.

“Dan simpan rekaman kamera koridor ini.”

Celine terlihat pucat.

Arga langsung maju.

“Rekaman?”

Dokter Surya menjawab tanpa melihatnya.

“Ya.”

Arga menatapku lagi.

Kali ini bukan dengan marah.

Dengan takut.

Karena akhirnya dia mulai menyadari satu hal.

Selama empat tahun pernikahan kami, dia tidak pernah benar-benar tahu siapa perempuan yang dia nikahi.

Dan pagi itu, semuanya mulai terbuka.

BAGIAN 2

Aku baru selesai diperiksa ketika pintu ruang observasi terbuka.

Dokter kandunganku, Dokter Maya, masih berdiri di dekat monitor.

“Kondisi bayi stabil,” katanya. “Tapi kamu harus mengurangi tekanan. Saya ingin observasi beberapa jam.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih, Dok.”

Dia menyentuh lenganku sebentar sebelum keluar.

Begitu pintu tertutup, Om Surya duduk di kursi dekat tempat tidur.

Dia tidak langsung bicara.

Aku tahu dia sedang menahan banyak hal.

“Kenapa kamu tidak bilang kepada kami?”

Aku menatap selimut.

“Karena aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri.”

“Sudah berapa lama?”

“Sulit dijelaskan.”

“Coba.”

Aku menarik napas.

“Sekitar setahun terakhir Arga berubah.”

Sebenarnya perubahan itu tidak terjadi dalam satu malam.

Awalnya sederhana.

Arga meminta aku berhenti datang ke kantor yayasan keluarga karena katanya aku harus lebih banyak istirahat.

Lalu dia mulai mempertanyakan kenapa aku masih memiliki rekening terpisah.

Kemudian dia meminta akses ke beberapa dokumen investasi.

Setelah aku hamil, semuanya lebih cepat.

Dia memindahkan staf rumah.

Mengganti sopir pribadiku.

Mengatur jadwalku.

Dan dua bulan terakhir, Celine mulai muncul terlalu sering.

Di acara perusahaan.

Di makan malam bisnis.

Di rumah kami dengan alasan membawa berkas.

Aku tahu ada sesuatu.

Aku hanya belum punya bukti.

“Kenapa kartu kamu diblokir?” tanya Om Surya.

Aku memandangnya.

“Tiga hari lalu Arga memberikan dokumen untuk kutandatangani.”

“Dokumen apa?”

“Persetujuan penjaminan.”

Wajah Om Surya langsung berubah.

“Untuk perusahaan Arga?”

Aku mengangguk.

Pratama Artha Group sedang mengejar pembelian sebuah perusahaan logistik besar di Surabaya.

Nilainya sangat besar.

Arga selama berminggu-minggu mengatakan transaksi itu akan mengubah hidup kami.

Aku tidak peduli.

Sampai pengacaraku menghubungi diam-diam dan memperingatkan bahwa beberapa aset yang ingin dimasukkan sebagai jaminan bukan milik Arga.

Itu milikku.

Lebih tepatnya, milik perusahaan investasi keluarga ibuku.

“Dia tahu aset itu milik keluarga kita?” tanya Om Surya.

“Dia tahu aset itu terhubung denganku. Tapi aku tidak pernah menjelaskan struktur kepemilikannya.”

Om Surya menatapku.

“Kamu masih belum pernah mengatakan kepadanya?”

“Tidak.”

Dia menghela napas panjang.

Ibuku berasal dari keluarga Wibowo.

Keluarganya memiliki berbagai investasi di bidang kesehatan, properti, dan distribusi.

Namun sejak menikah dengan ayahku, Ibu memilih hidup jauh dari sorotan keluarga besar.

Aku tumbuh sederhana.

Sekolah biasa.

Naik angkutan umum.

Belanja sendiri.

Ayah dan Ibu ingin aku mengerti hidup sebelum mengenal angka di rekening keluarga.

Ketika ayah meninggal, Ibu kembali mengelola sebagian aset keluarga.

Aku tetap menggunakan nama Pratama setelah menikah.

Arga tahu ibuku cukup berada.

Dia tidak pernah tahu seberapa besar.

Dan aku tidak pernah merasa perlu menjelaskan.

Sampai sekarang.

Pintu terbuka lagi.

Seorang perawat masuk.

“Dokter Surya, Pak Arga meminta bicara dengan Bu Laras.”

“Tidak.”

Aku mengangkat tangan.

“Biarkan dia masuk.”

Om Surya menatapku.

“Kamu yakin?”

“Ya.”

Dia berdiri.

“Aku di luar.”

Beberapa menit kemudian Arga masuk.

Sendiri.

Jasnya masih rapi, tetapi dasinya sudah sedikit longgar.

Dia menutup pintu.

“Bagaimana bayi kita?”

“Stabil.”

Dia mengangguk pelan.

“Syukurlah.”

Aku menatapnya.

Tidak ada satu pun bagian dari diriku yang tersentuh oleh kalimat itu.

Arga duduk.

“Laras, kejadian tadi tidak seharusnya terjadi.”

Aku diam.

“Aku akan bicara dengan Celine.”

“Untuk apa?”

“Agar dia minta maaf.”

Aku hampir tidak percaya.

“Itu yang kamu pikir aku butuhkan?”

“Jangan mulai.”

“Aku bahkan belum mulai.”

Wajahnya mengeras.

Itulah Arga yang kukenal.

Ketika permintaan maaf tidak langsung mengembalikan kendalinya, dia akan berubah dingin.

“Kamu menyembunyikan hubungan keluarga dengan Direktur Surya.”

“Aku tidak menyembunyikan. Kamu tidak pernah bertanya tentang keluargaku kecuali jumlah aset yang dimiliki ibuku.”

“Jangan putar balik.”

Aku tertawa pendek.

“Menarik.”

Dia menatapku tajam.

“Kamu tahu kondisi perusahaan sekarang.”

“Aku tahu.”

“Aku butuh tanda tanganmu.”

“Tidak.”

“Laras.”

“Tidak.”

Dia bangkit.

“Kamu sadar berapa banyak uang yang dipertaruhkan?”

“Uangmu.”

“Uang kita.”

“Bukan.”

Dia terdiam.

Aku melihat perubahan kecil di wajahnya.

“Dokumen yang kamu minta kutandatangani menggunakan dua bidang tanah, tiga rekening investasi, dan saham Nusantara Medika sebagai jaminan.”

Arga masih berdiri.

Aku melanjutkan.

“Semua aset itu tidak berada di bawah kendalimu.”

“Namamu ada di sana.”

“Benar.”

“Jadi?”

“Namaku tercatat sebagai penerima manfaat. Bukan pemilik tunggal.”

Rahangnya menegang.

“Apa bedanya?”

“Banyak.”

Arga berjalan mendekat.

“Jangan bermain-main denganku.”

Aku memandangnya lurus.

“Aku tidak bermain.”

Pintu tiba-tiba terbuka.

Om Surya masuk.

Di belakangnya berdiri seorang perempuan berusia lima puluhan dengan blazer krem sederhana.

Ibuku.

Ratih Wibowo.

Arga pernah bertemu dengannya beberapa kali.

Selalu di rumah.

Selalu tanpa sopir.

Selalu mengenakan pakaian biasa.

Dia menganggap ibuku pensiunan pemilik toko tekstil.

Aku pernah memperbaiki kesalahpahaman itu sekali.

Arga tidak mendengarkan.

“Ibu.”

Ibuku berjalan langsung kepadaku.

Dia memegang wajahku dengan kedua tangan.

“Kamu baik-baik saja?”

“Aku baik.”

“Bayinya?”

“Baik.”

Baru setelah itu Ibu berbalik ke Arga.

Dia tidak marah.

Itulah yang membuat suasananya terasa jauh lebih berat.

“Keluar.”

Arga berkedip.

“Bu Ratih, saya rasa ada kesalahpahaman.”

“Keluar dari kamar anak saya.”

“Ini masalah pernikahan kami.”

Ibu mengangguk.

“Benar. Dan kamu akan menyelesaikannya tanpa berdiri di samping tempat tidur dia.”

Arga mencoba tersenyum.

“Bu, saya benar-benar menghormati Anda.”

Ibu menatapnya datar.

“Kalau kamu menghormati saya, kamu tidak akan meminta anak saya menjaminkan aset perusahaan keluarga saya untuk menutup kekurangan dana perusahaanmu.”

Arga tidak bergerak.

“Perusahaan keluarga?”

Om Surya menyilangkan tangan.

Arga memandang satu per satu wajah kami.

“Apa sebenarnya yang kalian bicarakan?”

Ibuku mengeluarkan ponsel.

“Wibowo Sentra Investama.”

Aku melihat mata Arga berubah.

Dia mengenal nama itu.

Semua orang di dunia bisnis Jakarta mengenalnya.

Tidak banyak berita tentang keluarga kami karena struktur perusahaan sangat tertutup.

Namun perusahaan induknya tercatat sebagai salah satu kelompok investasi swasta besar di Indonesia.

Arga menatap ibuku.

“Tidak mungkin.”

Ibu memasukkan ponselnya kembali.

“Sayangnya, kemungkinan tidak bergantung pada pendapatmu.”

Arga menatapku.

“Kamu bagian dari Wibowo Sentra?”

“Aku anggota keluarga.”

“Seberapa besar kepemilikanmu?”

Aku tidak menjawab.

Dia mengulang lebih cepat.

“Laras, seberapa besar?”

Ibuku menjawab.

“Cukup besar sehingga dokumen yang kamu kirim tiga hari lalu sampai ke meja penasihat hukum kami.”

Wajah Arga memucat.

Aku baru memahami sesuatu.

Dia bukan sekadar terkejut karena mengetahui keluargaku.

Dia takut karena ibuku mengetahui dokumen itu.

Aku menatapnya.

“Ada apa?”

“Tidak ada.”

Ibu langsung menoleh.

“Ada.”

Dia membuka tas.

Mengeluarkan sebuah map tipis.

“Aku sebenarnya datang ke sini membawa ini.”

Aku mengenali logo firma hukum keluarga.

Arga juga melihatnya.

Ibu menyerahkannya kepadaku.

“Aku menerima laporan lengkap tadi pagi.”

Aku membuka halaman pertama.

Nama perusahaan Arga tercetak di atas.

Di bawahnya ada daftar transfer.

Aku membaca baris pertama.

Lalu kedua.

Lalu ketiga.

Dadaku langsung terasa sesak.

“Apa ini?”

Arga menjawab terlalu cepat.

“Laporan biasa.”

Ibu berkata pelan.

“Baca tanggalnya.”

Aku membaca.

Transfer pertama dilakukan lima bulan lalu.

Dari rekening operasional Pratama Artha Group ke sebuah perusahaan konsultan bernama CW Strategic.

Transfer kedua sebulan kemudian.

Ketiga.

Keempat.

Jumlah keseluruhannya lebih dari dua puluh miliar rupiah.

Aku mengangkat kepala.

“CW?”

Arga diam.

Aku tahu jawabannya.

Celine Wijaya.

“Perusahaan Celine?”

“Itu pembayaran jasa.”

“Jasa apa?”

“Strategi bisnis.”

Aku menatapnya.

“Dua puluh miliar?”

Dia mulai kehilangan kesabaran.

“Kamu tidak memahami skala perusahaan.”

Ibu menyela.

“Laras mungkin tidak memahami semua urusan perusahaanmu. Tim audit kami memahami.”

Arga langsung menatap Ibu.

“Tim audit?”

Ibu menunjuk map.

“Bank yang mendanai akuisisimu meminta konfirmasi atas aset jaminan. Karena beberapa aset terkait perusahaan kami, permintaan itu masuk kepada kami.”

Sekarang semuanya masuk akal.

Arga membutuhkan tanda tanganku bukan sekadar untuk mempercepat transaksi.

Dia membutuhkannya karena bank menunggu persetujuan.

Jika aku menolak, pendanaannya berhenti.

“Kenapa kamu tidak bilang?” tanyaku.

Arga menatapku seolah pertanyaan itu tidak masuk akal.

“Aku sudah menjelaskan kita membutuhkan jaminan.”

“Kamu bilang itu formalitas.”

“Dalam transaksi sebesar ini, semuanya formalitas.”

Ibuku langsung menjawab.

“Tidak. Dokumen jaminan bukan formalitas.”

Arga diam.

Aku membalik halaman berikutnya.

Ada daftar lain.

Pengeluaran pribadi.

Apartemen.

Mobil.

Perjalanan.

Hotel.

Semua dibayar melalui perusahaan.

Beberapa atas nama Celine.

Aku memandang Arga.

“Kamu membiayai hidup dia menggunakan uang perusahaan?”

“Itu bisa dijelaskan.”

“Aku tidak meminta penjelasan panjang.”

Aku menunjuk satu baris.

“Apartemen di SCBD?”

Arga diam.

“Mobil?”

Tidak ada jawaban.

“Perjalanan ke Singapura dua bulan lalu?”

Dia menatapku.

“Laras.”

Aku menutup map.

“Cukup.”

Dia mendekat.

“Kamu sedang emosi.”

“Jangan.”

“Kita akan pulang. Kita bicara setelah kamu tenang.”

Aku memandangnya cukup lama.

“Rumah mana?”

Arga mengerutkan kening.

“Rumah kita.”

“Rumah di Kebayoran?”

“Ya.”

Aku menatap Ibu.

Dia memahami pertanyaanku.

Ibu mengangguk kecil.

Aku kembali memandang Arga.

“Rumah itu bukan milikmu.”

Arga hampir tertawa.

“Apa?”

“Rumah itu dibeli sebelum pernikahan.”

“Aku membayar renovasinya.”

“Renovasi tidak mengubah kepemilikan.”

Wajahnya semakin keras.

“Kamu mau mengusirku?”

“Aku belum mengatakan itu.”

“Lalu apa?”

Aku memandang pintu.

“Sekarang aku ingin kamu keluar dari kamar.”

Dia berdiri tanpa bergerak beberapa detik.

Kemudian dia mengambil ponselnya.

“Baik. Kita bicara nanti.”

Dia berjalan keluar.

Ibu menatap pintu yang tertutup.

“Dia masih mengira bisa memperbaiki semuanya.”

“Aku juga pernah berpikir begitu.”

Aku melihat map di tanganku.

“Celine masih di rumah sakit?”

Om Surya menjawab.

“Dia ada di ruang administrasi bersama keamanan. Mereka sedang membuat laporan kejadian.”

Aku mengangguk.

Aku tidak ingin melihatnya.

Tidak hari itu.

Namun satu jam kemudian, Celine datang sendiri.

Dia berhenti di depan pintu ruang observasi ketika melihat ibuku.

“Bu Ratih?”

Ibu menatapnya.

“Kita pernah bertemu?”

Celine langsung terlihat gugup.

“Dua tahun lalu. Gala Yayasan Wibowo. Saya datang bersama tim komunikasi.”

Aku menatapnya.

Tentu saja.

Celine tahu siapa ibuku.

Mungkin tidak tahu hubungan kami.

Tapi dia tahu nama Wibowo.

“Apa yang kamu mau?” tanyaku.

Celine masuk perlahan.

“Aku mau bicara.”

Ibu berdiri.

“Aku tetap di sini.”

Celine mengangguk cepat.

Dia tidak lagi terlihat seperti perempuan yang menatapku dari atas di koridor.

“Laras, tadi aku keterlaluan.”

Aku tidak menjawab.

“Aku sedang stres.”

“Karena?”

Dia melirik Ibu.

“Arga bilang kalian hampir berpisah.”

Aku tertawa kecil.

“Tentu.”

“Dia bilang kamu cuma tinggal di rumah karena bayi.”

Aku menatapnya.

“Apa lagi?”

Celine menggigit bibir.

“Dia bilang setelah transaksi Surabaya selesai, semuanya akan beres.”

Aku merasakan sesuatu berhenti di kepalaku.

“Transaksi Surabaya?”

“Ya.”

“Kamu tahu?”

Dia langsung sadar salah bicara.

“Sedikit.”

“Seberapa sedikit?”

Celine mundur.

“Aku sebaiknya pergi.”

Ibu berkata singkat.

“Celine.”

Dia berhenti.

“Kalau kamu pergi sekarang, tim hukum tetap akan memeriksa semua pembayaran perusahaanmu.”

Celine memucat.

“Aku tidak melakukan sesuatu yang ilegal.”

“Bagus,” kata Ibu. “Berarti kamu tidak perlu takut.”

Celine menelan ludah.

Aku memperhatikannya.

“Kenapa Arga begitu membutuhkan tanda tanganku?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengulang.

“Kenapa?”

Akhirnya dia duduk.

“Karena batas waktunya hari ini.”

Aku langsung menatap Ibu.

Celine bicara lebih cepat.

“Bank meminta konfirmasi jaminan sebelum jam lima sore. Kalau tidak, pendanaan utama bisa dibatalkan.”

“Dan?”

“Arga sudah membayar uang muka ke pemilik perusahaan.”

“Berapa?”

“Aku tidak tahu tepatnya.”

Ibu mengangkat map.

“Kami tahu.”

Dia membuka halaman terakhir.

“Seratus dua puluh miliar.”

Aku terdiam.

Celine menunduk.

Ibu melanjutkan.

“Sebagian dari dana itu pinjaman jangka pendek dengan jatuh tempo tiga minggu.”

Aku memahami masalahnya.

Jika pembelian gagal, Arga tidak hanya kehilangan transaksi.

Dia juga menghadapi kewajiban besar yang harus dibayar segera.

Itulah sebabnya dia memblokir kartuku.

Itulah sebabnya dia mendesakku.

Itulah sebabnya dia tidak mau konflik rumah tangga muncul sebelum dokumen ditandatangani.

Aku menatap Celine.

“Dia berjanji menikahimu?”

Celine tidak langsung menjawab.

Akhirnya dia mengangguk.

“Setelah perceraian.”

“Setelah aku menandatangani jaminan?”

Wajahnya berubah.

Dia baru menyadari urutannya.

Aku tidak merasa puas.

Aku justru merasa lelah.

Celine mungkin tahu dia bersama pria menikah.

Dia tetap bertanggung jawab atas pilihannya.

Tapi sekarang jelas Arga juga menggunakan dia.

Ponsel Ibu berdering.

Dia melihat layar.

“Pengacara.”

Dia menjawab dan berjalan sedikit menjauh.

Celine berdiri.

“Aku benar-benar tidak tahu dia menggunakan asetmu seperti itu.”

Aku menatapnya.

“Tapi kamu tahu dia masih menikah denganku.”

Celine diam.

“Itu cukup.”

Dia menunduk.

Kemudian pergi.

Sore itu dokter mengizinkanku pulang dengan syarat aku beristirahat.

Aku tidak kembali ke Kebayoran.

Aku ikut Ibu ke rumahnya di Menteng.

Arga menelepon tujuh belas kali.

Aku tidak menjawab.

Pukul empat lewat tiga puluh dua menit, sebuah pesan masuk.

Laras, bank menunggu. Jangan hancurkan masa depan anak kita hanya karena kamu marah.

Aku membaca dua kali.

Kemudian menyerahkan ponsel kepada Ibu.

Dia membaca.

“Dia masih melakukan ini.”

“Apa?”

“Membuat keputusan sendiri, lalu menyebut konsekuensinya tanggung jawabmu.”

Aku mematikan ponsel.

Pukul lima sore berlalu.

Aku tidak menandatangani apa pun.

Keesokan paginya, pengacaraku datang.

Namanya Bima Hartono.

Dia membawa tiga map.

“Yang pertama,” katanya, “permintaan perlindungan aset pribadi.”

Aku mengangguk.

“Yang kedua, pemberitahuan bahwa Ibu Laras tidak menyetujui penggunaan aset apa pun sebagai jaminan Pratama Artha Group.”

Aku mengambilnya.

“Yang ketiga?”

Bima memandangku.

“Permohonan perceraian. Hanya jika Ibu sudah yakin.”

Aku melihat map itu lama.

Empat tahun.

Rumah.

Pernikahan.

Rencana memiliki keluarga.

Semua berada di dalam kepalaku sekaligus.

Aku tidak merasa kuat.

Aku juga tidak merasa menang.

Aku hanya merasa sudah selesai.

“Ajukan.”

Bima mengangguk.

Siang harinya berita soal transaksi Arga mulai beredar di kalangan bisnis.

Tidak ada skandal publik.

Tidak ada tajuk besar.

Hanya satu kabar sederhana.

Pendanaan akuisisi Pratama Artha Group tertunda.

Dua hari kemudian, perusahaan target membatalkan perjanjian eksklusif.

Seminggu kemudian, pemberi pinjaman jangka pendek meminta jadwal pembayaran baru.

Arga datang ke rumah Ibu pada malam Jumat.

Satpam menelepon dari gerbang.

“Bu Laras, Pak Arga datang.”

Aku hampir mengatakan jangan masuk.

Lalu aku berubah pikiran.

“Biarkan.”

Dia masuk sendirian.

Tidak ada sopir.

Tidak ada pengawal.

Kemejanya kusut.

Dia duduk di ruang tamu.

Aku tetap berdiri.

“Kamu mengajukan perceraian.”

“Ya.”

“Tanpa bicara denganku.”

“Aku sudah bicara empat tahun.”

Dia mengusap wajah.

“Perusahaan sedang kacau.”

“Itu bukan urusanku.”

“Kamu istriku.”

“Untuk sementara.”

Dia berdiri.

“Laras, dengarkan aku. Aku melakukan kesalahan.”

“Banyak.”

“Aku bisa memperbaikinya.”

Aku tidak menjawab.

“Aku akan memutus hubungan dengan Celine.”

“Bukan itu masalah utamanya.”

“Aku akan mengembalikan semua uang perusahaan.”

“Dengan uang dari mana?”

Dia diam.

Aku menatapnya.

“Jangan datang kepadaku hanya karena bank menolak.”

“Itu tidak benar.”

“Kalau aku sudah menandatangani dokumen tiga hari lalu, apakah kamu akan duduk di sini sekarang?”

Dia tidak menjawab.

Jawabannya sudah jelas.

Arga menatap perutku.

“Itu anakku juga.”

Aku mengangguk.

“Dan aku tidak akan menghalangimu menjadi ayah, selama semuanya aman dan sesuai aturan.”

Wajahnya berubah.

“Kamu bicara seperti pengacara.”

“Aku belajar.”

Dia mendekat satu langkah.

“Laras, kita keluarga.”

Aku mundur.

“Keluarga tidak menggunakan nama pasangannya untuk menutup risiko bisnis tanpa penjelasan jujur.”

Dia mengepalkan tangan lalu langsung membukanya lagi.

“Aku sedang tertekan.”

“Aku juga.”

“Celine memengaruhiku.”

Aku hampir tersenyum.

“Jangan lakukan itu.”

“Apa?”

“Jangan jadikan perempuan lain alasan untuk pilihanmu sendiri.”

Dia menunduk.

Untuk pertama kalinya aku melihat Arga tanpa perusahaan, tanpa staf, tanpa acara, tanpa orang yang mengiyakan semua perkataannya.

Dia hanya seorang pria yang mengira semua hal bisa dinegosiasikan.

Termasuk kepercayaan.

“Aku kehilangan transaksi itu,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku mungkin harus menjual beberapa aset.”

“Lakukan.”

Dia menatapku.

“Kamu benar-benar tidak peduli?”

Aku berpikir sebentar.

“Aku peduli pada apa yang dulu kita punya. Itu berbeda.”

Dia berdiri beberapa detik.

Lalu pergi.

Aku kira itulah akhir kejutan.

Ternyata tidak.

Dua minggu kemudian, Bima menelepon.

“Bu Laras, kami menemukan sesuatu dalam pemeriksaan dokumen perusahaan Pak Arga.”

“Apa?”

“Ada nama Ibu dalam struktur pendirian lama.”

Aku mengerutkan kening.

“Itu tidak mungkin.”

“Bisa kita bertemu?”

Satu jam kemudian dia datang bersama Ibu.

Di meja ruang makan, Bima membuka salinan dokumen sepuluh tahun lalu.

Sebelum aku mengenal Arga.

Sebelum Pratama Artha menjadi perusahaan besar.

Aku membaca nama salah satu pemegang saham awal.

PT Cakrawala Mitra Nusantara.

“Apa hubungannya denganku?”

Ibu menjawab.

“Perusahaan itu milik ayahmu.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Bima menjelaskan.

“Dulu, perusahaan ayah Ibu memberikan modal awal ketika Pratama Artha hampir gagal berkembang.”

Aku tidak bisa langsung memahami.

“Ayah mengenal Arga?”

“Bukan Arga,” kata Ibu. “Ayahnya.”

Aku menatap dokumen.

Ayah Arga meninggal sebelum kami menikah.

Arga jarang bercerita tentang bisnis di masa awal.

Bima menunjuk bagian berikutnya.

“Ketika ayah Ibu meninggal, kepemilikan saham perusahaan ini masuk ke dalam warisan keluarga.”

“Berapa?”

“Dulu dua puluh lima persen.”

Aku menarik napas.

“Dulu?”

“Setelah beberapa putaran investasi, terdilusi.”

“Sekarang?”

Bima membalik halaman.

“Sekitar sebelas koma delapan persen.”

Aku menatapnya.

Aku memiliki bagian di perusahaan suamiku.

Selama bertahun-tahun.

Tanpa pernah tahu.

“Arga tahu?”

Bima menggeleng.

“Strukturnya menggunakan perusahaan induk. Kemungkinan besar dia hanya melihat nama badan hukumnya.”

Ibu melanjutkan.

“Ayahmu tidak pernah ingin mencampuri operasional keluarga Pratama. Itu hanya investasi.”

Aku duduk.

Lalu mulai tertawa kecil karena situasinya terlalu aneh.

Arga selama berbulan-bulan mendesakku menggunakan asetku untuk menyelamatkan perusahaan.

Padahal tanpa dia sadari, keluargaku sudah membantu membangun perusahaan itu sejak awal.

“Ini belum semuanya,” kata Bima.

Aku berhenti tertawa.

“Apa lagi?”

“Karena transaksi akuisisi gagal dan beberapa investor ingin keluar, ada rencana restrukturisasi.”

Aku langsung menggeleng.

“Aku tidak mau mengelola perusahaan Arga.”

“Tidak perlu.”

Bima mendorong satu dokumen kepadaku.

“Tapi sebagai pemegang saham melalui perusahaan keluarga, Ibu memiliki hak suara dalam rapat pemegang saham berikutnya.”

Aku membaca tanggal.

Senin.

Tiga hari lagi.

“Apa agendanya?”

Bima menjawab singkat.

“Evaluasi direksi.”

Aku menatapnya.

“Termasuk Arga?”

“Terutama Arga.”

Senin pagi aku datang ke gedung Pratama Artha untuk pertama kalinya dalam hampir setahun.

Aku tidak datang sebagai istri direktur utama.

Aku datang bersama perwakilan pemegang saham.

Ketika pintu ruang rapat terbuka, Arga sedang berdiri di depan layar.

Dia melihatku.

Wajahnya langsung berubah.

“Kenapa kamu di sini?”

Aku mengambil kursi di samping Bima.

Ketua rapat membuka dokumen.

“Bu Laras hadir sebagai wakil pemegang saham PT Cakrawala Mitra Nusantara.”

Arga menatapku.

Kemudian melihat daftar kepemilikan.

Aku bisa melihat saat dia menemukan angkanya.

Sebelas koma delapan persen.

Dia tidak mengatakan apa pun.

Rapat berlangsung hampir dua jam.

Aku tidak menyerangnya.

Aku tidak berpidato.

Aku hanya mendengarkan.

Ada laporan utang.

Pembayaran kepada perusahaan Celine.

Kegagalan akuisisi.

Risiko likuiditas.

Keputusan-keputusan yang diambil tanpa persetujuan lengkap.

Akhirnya ketua rapat mengajukan agenda terakhir.

“Pemegang saham diminta menentukan perubahan sementara dalam jajaran direksi selama restrukturisasi.”

Arga menatapku.

Aku tidak membalas tatapannya.

Pemungutan suara dilakukan.

Keluargaku bukan pemegang saham terbesar.

Kami juga bukan satu-satunya pihak yang kecewa.

Itulah bagian yang tidak pernah Arga pahami.

Aku tidak menjatuhkannya.

Keputusannya sendiri membuat pemegang saham kehilangan kepercayaan.

Ketika hasil diumumkan, Arga tidak lagi menjabat sebagai direktur utama.

Dia tetap memiliki saham.

Dia tetap memiliki hak.

Tapi kendali hariannya dicabut.

Ruang rapat sunyi.

Arga berdiri.

Kemudian berjalan ke arahku.

“Kamu merencanakan semua ini?”

“Tidak.”

“Jangan bohong.”

“Aku bahkan baru tahu tiga hari lalu bahwa keluargaku masih punya saham.”

Dia menatap Bima.

Lalu Ibu.

Kemudian kembali kepadaku.

“Jadi semuanya kebetulan?”

Aku menggeleng.

“Bukan.”

“Apa?”

“Konsekuensi.”

Dia tidak menjawab.

Aku berdiri.

“Aku tidak pernah meminta jabatanmu. Aku juga tidak meminta perusahaanmu.”

“Lalu kenapa kamu memilih melawanku?”

Aku menatapnya.

“Aku tidak melawanmu, Arga.”

Aku mengambil tas.

“Aku berhenti melindungimu dari akibat keputusanmu sendiri.”

Aku meninggalkan ruang rapat.

Tiga bulan kemudian, putriku lahir sehat.

Aku menamainya Nadira.

Arga datang ke rumah sakit setelah mendapatkan izin.

Tidak ada Celine.

Tidak ada staf perusahaan.

Tidak ada rombongan.

Dia berdiri di dekat jendela sambil melihat putrinya.

“Aku hampir kehilangan semuanya,” katanya.

Aku sedang merapikan selimut Nadira.

“Tidak semuanya.”

Dia menatapku.

Aku mengangguk ke arah bayi kami.

Wajahnya melunak.

“Aku ingin menjadi ayah yang baik.”

“Itu pilihanmu.”

Dia mengangguk.

Perceraian kami selesai beberapa bulan setelah itu.

Arga menjual beberapa aset untuk memenuhi kewajiban perusahaan.

Celine keluar dari perusahaan konsultannya setelah pemeriksaan internal. Kami tidak pernah bertemu lagi.

Pratama Artha tidak runtuh.

Perusahaan itu direstrukturisasi dan tetap berjalan di bawah manajemen baru.

Aku juga tidak mengambil alih.

Aku kembali bekerja di yayasan kesehatan keluarga dan mengurus Nadira.

Orang sering mengira bagian terbesar dari kisahku adalah hari ketika direktur rumah sakit mengatakan aku keponakannya.

Bukan.

Bukan juga saat Arga kehilangan jabatannya.

Bagian yang paling mengubah hidupku justru terjadi beberapa minggu setelah perceraian.

Aku sedang membuka dokumen lama ayah ketika menemukan surat pendek di antara berkas investasi Pratama Artha.

Surat itu ditulis hampir sebelas tahun sebelumnya.

Ditujukan kepada ibuku.

Isinya hanya beberapa kalimat.

Ayah menjelaskan bahwa dia membantu perusahaan keluarga Pratama karena pemiliknya saat itu pernah menolong salah satu pegawainya ketika sedang kesulitan.

Tidak ada strategi besar.

Tidak ada rencana menjodohkan keluarga.

Tidak ada maksud tersembunyi.

Di bagian akhir, Ayah menulis satu pesan untukku jika suatu hari saham itu diwariskan kepadaku.

Kalau investasi ini nanti menjadi milik Laras, jangan ajari dia merasa berkuasa karena memilikinya. Ajari dia tahu kapan harus berkata tidak.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Selama bertahun-tahun, aku berpikir kekuatanku datang dari keluarga yang ternyata jauh lebih besar daripada yang diketahui suamiku.

Aku salah.

Keluargaku hanya memberiku pilihan.

Aku sendiri yang akhirnya berani menggunakannya.

Bukan untuk menghancurkan Arga.

Bukan untuk mengambil perusahaannya.

Bukan untuk membalas Celine.

Hanya untuk berkata satu kata yang terlalu lama kutahan.

Tidak.

Dan ternyata, satu kata itu cukup untuk menyelamatkan hidup yang ingin kubangun setelah semuanya berakhir.