Part : 2 Sebuah pesan masuk dari Hendra: “Jangan membongkar berkas lama, Reza. Jika hal ini terangkat, namamu dan perusahaanmu juga akan hancur.”

PART 2

Maya duduk di depan tumpukan berkas di kantornya, menatap Reza dengan wajah serius.

“Kita tidak bisa bertindak hanya berdasarkan emosi,” kata Maya.

“Saya butuh seluruh data alur rekening perusahaan, bukti transfer pribadi, dan pesan lama dari Hendra.”

Reza menghabiskan waktu 2 hari berada di kamar hotelnya di Yogyakarta.

Ia membuka kembali arsip elektronik perusahaan dari 5 tahun terakhir.

Satu per satu transaksi diperiksa secara teliti.

Uang nafkah sebesar Rp 15.000.000 setiap bulan keluar dari rekening pribadi Reza menuju rekening operasional hukum yang dikelola Hendra.

Dari rekening itu, Hendra memotong Rp 13.500.000 dengan alasan biaya administrasi, pemeliharaan aset, dan konsultasi legal.

Hanya Rp 1.500.000 yang ditransfer ke rekening Laras.

Sisa uang ratusan juta rupiah selama 5 tahun dialirkan ke sebuah rekening atas nama PT Bina Sarana Properti.

Reza memeriksa dokumen pendirian perusahaan tersebut.

Pemilik saham utamanya adalah adik kandung Hendra sendiri.

Reza menatap layar laptopnya sampai matanya terasa perih.

“Saya akan menanggung seluruh biaya dan risiko hukumnya,” kata Reza saat menyerahkan dokumen itu ke Maya.

“Saya tidak peduli jika nama baik saya tercemar karena dianggap lalai.”

Maya menatap Reza dengan pandangan dingin.

“Memperbaiki berkas hukum itu mudah, Mr. Reza. Tapi memperbaiki hubungan dengan anak Anda tidak bisa menggunakan dokumen.”

Malam itu, Reza kembali ke Jakarta menggunakan kereta malam.

Ia pergi ke rumah lamanya dan membuka lemari penyimpanan di ruang kerja.

Di sana ada sebuah ponsel lama bertipe gawai bisnis yang digunakannya 5 tahun lalu.

Ponsel itu ditinggalkan di kantor karena Hendra pernah menyarankan untuk mengganti nomor demi menghindari gangguan masalah perceraian.

Reza mengisi daya ponsel tersebut dan menyalakannya.

Setelah memulihkan data cadangan, daftar kontak terblokir terbuka.

Nomor seluler Laras ada di dalam daftar terblokir.

Nomor tetangga mereka, Bu Rahmi, juga terblokir.

Bahkan nomor layanan darurat rumah sakit daerah Kulon Progo ada di daftar blokir.

Reza membuka folder pesan suara yang tersimpan di memori internal.

Suara Laras terdengar jelas dari speaker ponsel.

“Mas, Rian demam tinggi 40 derajat. Dokter bilang harus masuk ruang rawat inap malam ini.”

“Mas, tolong angkat teleponnya. Kami tidak punya uang untuk bayar uang muka RS.”

“Rian terus memanggil namamu, Mas. Datanglah sebentar saja.”

Reza melihat tanggal pesan suara itu dikirim.

Malam itu, Reza sedang berada di sebuah ballroom hotel berbintang 5 di Jakarta.

Ia sedang merayakan kemenangan tender proyek pembangunan gedung perkantoran senilai puluhan miliar rupiah.

Di foto dokumentasi acara yang masih tersimpan di galeri ponselnya, Reza terlihat memegang gelas kristal sambil tersenyum lebar bersama Hendra di sampingnya.

Reza duduk di lantai ruang kerjanya sampai matahari terbit.

Pukul 08.00, Reza menghubungi Hendra dan mengajak bertemu di sebuah restoran di daerah Senayan.

Hendra datang dengan kemeja rapi dan tas kulit hitam.

Ia duduk di hadapan Reza dengan sikap tenang.

“Kamu terlalu terbawa perasaan, Reza,” ujar Hendra santai.

“Laras itu wanita yang tidak bisa mengelola uang. Saya hanya mengamankan asetmu.”

Hendra mengeluarkan beberapa lembar kertas tanda terima yang tertera tanda tangan Laras.

“Dia selalu menerima uangnya setiap bulan,” lanjut Hendra.

Reza tidak menyentuh kertas-kertas itu.

“Kamu memblokir nomor Laras di ponselku,” kata Reza dengan suara datar.

Hendra merapikan posisinya.

“Saya memfilter komunikasi pribadi supaya kamu bisa fokus membesarkan bisnis. Tanpa fokus itu, perusahaanmu tidak akan punya 200 karyawan seperti sekarang.”

“Anakku dirawat di rumah sakit dan kamu membiarkan mereka hidup tanpa uang,” kata Reza.

Hendra menatap Reza tanpa rasa bersalah.

“Kamu yang memberikan kuasa penuh kepada saya untuk mengurus masalah perceraian itu. Kamu sendiri yang tidak pernah mau datang menengok mereka ke Jogja selama 5 tahun.”

Kata-kata Hendra menghantam Reza dengan kenyataan yang tidak bisa dibantah.

Reza tahu, Hendra memanfaatkan kelalaian dan rasa acuhnya.

“Penjualan rumah di Kulon Progo menggunakan pemalsuan tanda tangan Laras,” kata Reza.

Hendra tersenyum tipis.

“Surat kuasamu sah secara hukum. Laras juga sudah menandatangani surat pelepasan hak.”

Reza berdiri dari kursinya.

“Kita buktikan keabsahan tanda tangan itu di depan penyidik besok pagi.”

Wajah Hendra berubah pucat seketika.

Ia tidak menyangka Reza berani mempertaruhkan reputasinya sendiri demi membongkar kasus ini.

Dua hari kemudian, Reza kembali ke gubuk di Kulon Progo.

Ia tidak membawa hadiah mewah atau pakaian mahal.

Reza hanya membawa satu folder berisi seluruh dokumen bukti kejahatan Hendra.

Rian sedang duduk di depan pintu, mencoba memperbaiki roda mobil-mobilannya menggunakan sepotong kawat jemuran.

Reza berlutut beberapa meter di depan anak itu.

“Boleh Ayah duduk di sini?” tanya Reza.

Rian menatap ibunya yang berdiri di ambang pintu.

Laras mengangguk pelan.

Reza duduk di atas tanah berdebu, lalu membuka folder itu di hadapan Laras.

Reza menjelaskan secara terbuka bagaimana Hendra memotong uang kirimannya dan bagaimana nomor Laras diblokir di ponselnya.

Namun, Reza tidak melempar seluruh kesalahan kepada Hendra.

“Aku yang bersalah karena menyerahkan seluruh urusan hidup kalian kepada orang lain,” kata Reza di depan Laras dan Rian.

“Aku merasa sudah menjadi ayah hanya dengan mengirimkan uang setiap bulan.”

Rian menatap Reza dengan mata bulatnya.

“Kenapa Ayah tidak pernah datang waktu Rian sakit?” tanya anak itu.

“Pekerjaan membuat Ayah merasa penting, padahal hal yang paling penting adalah kamu,” jawab Reza jujur.

“Ayah minta maaf.”

Rian tidak langsung memeluk Reza.

Anak itu hanya menunduk dan kembali memegang mobil-mobilannya.

Seminggu kemudian, pertemuan resmi digelar di kantor kepolisian daerah Yogyakarta.

Maya mendampingi Laras dan Reza di depan penyidik.

Seluruh dokumen diserahkan: hasil analisis laboratorium forensik atas pemalsuan tanda tangan Laras, alur transaksi keuangan ke PT Bina Sarana Properti, serta rekaman percakapan dan pesan yang terhapus.

Hendra hadir didampingi tim kuasanya.

Ia mencoba berdalih bahwa potongan dana tersebut merupakan biaya jasa hukum yang disepakati secara lisan.

Namun, auditor independen yang dibawa Maya menunjukkan bukti pembayaran ganda.

Hendra telah mengambil honorarium resmi dari rekening perusahaan Reza, sekaligus memotong dana nafkah Laras secara ilegal.

Penyidik menetapkan Hendra sebagai tersangka kasus pemalsuan dokumen dan penggelapan dalam jabatan.

Proses hukum berjalan sesuai prosedur.

Sesuai penetapan pengadilan, transaksi jual beli rumah di Kulon Progo dibatalkan karena terbukti menggunakan dokumen palsu.

Rumah nomor 42 dikembalikan hak kepemilikannya kepada Laras dan Rian.

Reza membayar seluruh biaya perbaikan rumah itu.

Ia juga membayar seluruh tunggakan biaya sekolah Rian dan mengembalikan seluruh akumulasi dana nafkah yang dulu digelapkan oleh Hendra, langsung ke rekening pribadi Laras.

Laras menerima hak keuangan Rian, tetapi ia menolak bantuan pribadi untuk dirinya.

“Uang ini milik Rian,” kata Laras tegas saat mereka berada di halaman rumah yang baru direnovasi.

“Aku akan bekerja sendiri untuk kebutuhanku.”

Laras menggunakan tabungan kecilnya dari hasil bekerja di losmen untuk membeli 2 mesin jahit bekas.

Ia mengubah salah satu kamar di rumah itu menjadi bengkel jahit kecil.

Dalam waktu beberapa bulan, Laras mulai menerima pesanan menjahit seragam sekolah tetangga dan seprai untuk homestay lokal.

Reza tidak memaksakan diri untuk tinggal di rumah itu.

Ia menyewa sebuah rumah kontrakan kecil di kecamatan yang sama, sekitar 15 menit dari rumah Laras.

Reza menyerahkan pengelolaan harian perusahaannya di Jakarta kepada wakil direkturnya.

Ia hanya kembali ke Jakarta 2 hari dalam seminggu untuk rapat penting.

Sisa waktunya dihabiskan di Kulon Progo.

Setiap Selasa sore, Reza menunggu Rian di depan gerbang sekolah dasar.

Setiap Kamis, Reza duduk di pinggir lapangan menyaksikan Rian berlatih futsal bersama teman-temannya.

Hubungan mereka tidak pulih dalam semalam.

Pada bulan-bulan pertama, Rian masih memanggilnya dengan sebutan “Pak Reza”.

Saat Rian bertanya, “Kenapa Pak Reza baru datang sekarang?”, Reza selalu menjawab dengan jujur tanpa mencari alasan.

“Karena dulu Pak Reza bodoh dan mengira uang bisa menggantikan kehadiran,” jawabnya.

Kejujuran itu perlahan meruntuhkan jarak di antara mereka.

Suatu sore di akhir musim hujan, Rian membawa mobil-mobilan kuning yang dulu dibawanya di gubuk.

Roda depannya kembali terlepas.

Reza duduk di lantai teras rumah nomor 42, mengeluarkan kotak perkakas kecil yang dibelinya di pasar lokal.

“Kita pakai baut kecil ini supaya tidak lepas lagi,” kata Reza.

Rian memperhatikan tangan ayahnya yang belepotan oli bekas.

“Mobilnya jadi agak miring ke kiri,” kata Rian saat mencoba menjalankan mobil-mobilan itu di atas lantai semen.

Reza tersenyum tipis.

“Miring sedikit tidak apa-apa, yang penting masih bisa jalan ke depan.”

Rian menatap mobil-mobilan itu, lalu menatap Reza.

“Sabtu depan… Ayah mau mengajari Rian naik sepeda?” tanya anak itu pelan.

Reza menghentikan gerak tangannya.

Ia menatap Rian, lalu mengangguk perlahan.

“Hari Sabtu jam 08.00 pagi, Ayah sudah ada di sini.”

Dari dalam ruangan jahit, suara mesin jahit Laras terdengar teratur.

Laras melihat ke arah teras melalui jendela kaca, memperhatikan Reza dan Rian yang sedang membersihkan tangan mereka dengan kain lap.

Laras tidak mengundang Reza masuk untuk makan malam, dan Reza juga tidak meminta hal itu.

Reza membereskan kotak perkakasnya, berpamitan dengan sopan, lalu berjalan menuju mobilnya.

Reza tahu bahwa masa lalu tidak bisa dihapus dengan permintaan maaf atau lembaran uang.

Namun sore itu, saat berjalan menuju mobilnya, Reza tahu satu hal pasti: ia tidak akan pernah melewatkan satu hari pun dalam hidup anaknya lagi.