Malam itu aku meninggalkan rumah keluarga Rendra hanya dengan satu koper, laptop, dan map berisi dokumen penting.
Bu Mira berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Senyumnya tipis, seolah yakin aku akan kembali sebelum akhir pekan.
“Jangan lupa kata Mama,” katanya. “Kalau kembali, seratus persen gajimu Mama yang pegang.”
Aku berhenti sesaat di depan pagar.
Rendra berdiri beberapa langkah di belakang ibunya. Wajahnya terlihat gelisah, tetapi lagi-lagi dia tidak mengatakan apa pun.
Aku menatapnya.
Entah kenapa, justru pada detik itulah rasa sakit yang selama dua tahun kutahan terasa hilang.
Aku tidak marah lagi.

Aku hanya lelah.
“Terima kasih,” kataku pelan.
Bu Mira mengernyit. “Terima kasih untuk apa?”
“Karena akhirnya Mama membuat semuanya jelas.”
Aku masuk ke mobil taksi online yang sudah menunggu dan tidak menoleh lagi.
Malam itu aku menginap di hotel dekat kantorku. Rendra menelepon sebelas kali. Tidak satu pun kuangkat.
Pesannya terus masuk.
“Nabila, jangan kekanak-kanakan.”
“Mama cuma sedang emosi.”
“Besok pulang. Kita bicarakan baik-baik.”
Pesan terakhir datang hampir pukul dua pagi.
“Kamu istriku. Jangan mempermalukan aku seperti ini.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Aneh.
Ketika ibunya meminta lebih dari tiga puluh juta rupiah dari gajiku setiap bulan, dia tidak merasa aku dipermalukan.
Ketika ayahnya mengusirku dari rumah yang tagihannya ikut kubayar, dia diam.
Tapi ketika aku benar-benar pergi, justru aku yang dianggap mempermalukannya.
Aku mematikan ponsel dan tidur.
Keesokan paginya, pukul sembilan, aku menerima kunci apartemen perusahaan.
Begitu pintunya terbuka, aku sempat berdiri tanpa bergerak.
Apartemen itu jauh lebih bagus daripada yang kubayangkan.
Ruang tamunya luas dengan jendela kaca dari lantai sampai langit-langit. Dari balkon terlihat deretan gedung Jakarta dan aliran sungai di kejauhan. Ada tiga kamar tidur, dapur modern, ruang kerja kecil, dan dua kamar mandi.
Sebagian perabot memang sudah tersedia.
Namun saat berdiri di dapur, aku tiba-tiba teringat sesuatu.
Kulkas di rumah Bu Mira.
Mesin cuci.
Televisi 65 inci di ruang keluarga.
Dua AC.
Microwave.
Sofa ruang keluarga.
Meja makan enam kursi.
Vacuum cleaner.
Bahkan kasur premium yang digunakan Rendra dan aku.
Semua kubeli menggunakan uangku.
Aku membuka aplikasi mobile banking.
Kemudian membuka email.
Selama dua jam berikutnya aku mencari invoice, bukti transfer, kuitansi digital, dan riwayat pembelian selama dua tahun.
Semakin lama aku menghitung, semakin dingin tanganku.
Totalnya hampir Rp186 juta.
Itu belum termasuk tagihan rutin dan biaya renovasi dapur sebesar Rp47 juta.
Aku menelepon sebuah perusahaan jasa pindahan.
“Apakah bisa datang besok pagi?”
“Barangnya banyak, Bu?”
Aku melihat daftar di layar laptop.
“Lumayan. Sebagian besar barang rumah tangga.”
“Alamatnya?”
Aku menyebutkan alamat rumah Bu Mira.
Besok paginya, tepat pukul delapan, dua truk pindahan berhenti di depan rumah itu.
Aku datang bersama enam petugas.
Bu Mira yang sedang menyiram tanaman langsung membeku.
“Nabila?”
“Pagi, Ma.”
Dia melihat dua truk di belakangku.
“Kamu mau apa?”
“Mengambil barang saya.”
Wajahnya berubah.
“Apa maksudmu?”
Aku menyerahkan daftar barang.
“Kulkas, mesin cuci, televisi, microwave, sofa, meja makan, dua AC, vacuum cleaner, dispenser, kasur kamar saya, lemari kecil, dan beberapa barang elektronik lain.”
Bu Mira tertawa keras.
“Kamu sudah gila?”
Petugas pindahan saling berpandangan.
Aku tetap tenang.
“Semuanya saya beli menggunakan uang saya. Invoice dan bukti pembayarannya ada.”
Pak Hadi keluar dari rumah dengan wajah merah.
“Jangan bikin keributan di rumah saya!”
“Saya tidak membuat keributan, Pak. Saya hanya mengambil milik saya.”
“Kulkas itu sudah dipakai keluarga!”
“Benar. Tapi yang membayar saya.”
“Meja makan juga?”
“Saya.”
“AC?”
“Saya.”
Wajah Pak Hadi perlahan kehilangan warna.
Bu Mira langsung berdiri di depan pintu.
“Tidak ada yang boleh masuk!”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Kalau begitu kita bisa meminta bantuan petugas keamanan kompleks dan polisi untuk mendampingi. Saya sudah membawa semua bukti kepemilikan.”
Saat itulah Rendra muncul.
Dia baru turun dari lantai atas dan masih mengenakan kaus tidur.
Begitu melihatku, wajahnya langsung tegang.
“Nabila, kamu serius?”
“Sangat.”
Dia menarikku ke samping.
“Jangan begini. Tetangga lihat.”
Aku hampir tersenyum.
Lagi-lagi yang dia pikirkan adalah pandangan orang.
“Semalam kamu bilang aku mempermalukanmu karena pergi. Sekarang aku cuma menyelesaikan kepindahanku.”
“Kamu mau ambil kulkas segala?”
“Itu kulkasku.”
“Tapi kita keluarga.”
Aku menatapnya.
“Kalimat itu seharusnya kamu ucapkan tadi malam ketika ayahmu menyuruhku keluar.”
Rendra terdiam.
Aku memberi isyarat kepada petugas pindahan.
Mereka mulai bekerja.
Ketika televisi diturunkan dari dinding, Bu Mira mulai berteriak.
Ketika mesin cuci didorong keluar, dia menelepon kakak Rendra.
Ketika kulkas besar melewati pintu depan, beberapa tetangga mulai berdiri di luar pagar.
Tapi puncaknya terjadi ketika teknisi mulai membongkar AC.
Bu Mira benar-benar kehilangan kesabaran.
“Nabila! Kamu mau rumah ini kosong?”
Aku menatap ruang keluarga.
Tanpa sofa, televisi, meja makan, dan beberapa perabot yang kubeli, ruangan itu memang terlihat hampir kosong.
“Rumah ini milik Mama dan Papa,” kataku. “Saya hanya mengambil barang milik saya.”
Bu Mira mendekat.
“Dasar perempuan perhitungan.”
Aku menatapnya lurus.
“Bukankah Mama yang mengajarkan saya untuk mulai berhitung?”
Dia terdiam.
Menjelang siang, hampir semua barang sudah masuk ke truk.
Aku masuk ke kamar untuk mengambil beberapa benda terakhir.
Rendra mengikutiku.
“Nabila.”
Aku terus memasukkan barang ke kotak.
“Kita harus bicara.”
“Silakan.”
Dia menutup pintu.
“Aku minta maaf.”
Tanganku berhenti.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia mengatakan kalimat itu.
Namun kemudian dia melanjutkan.
“Tapi kamu juga harus mengerti posisi Mama.”
Aku tertawa kecil.
Ternyata aku terlalu cepat berharap.
“Posisi Mama apa?”
“Kakakku punya utang.”
Aku menoleh.
Rendra terlihat ragu.
“Utang apa?”
Dia duduk di ujung ranjang yang sebentar lagi juga akan dibawa keluar.
“Kredit usaha. Bisnisnya gagal. Sekitar enam ratus juta.”
Aku menatapnya lama.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
“Jadi tujuh puluh persen gajiku untuk membayar utang kakakmu?”
Rendra tidak menjawab.
“Jawab.”
“Sebagian.”
Dadaku terasa sesak.
“Berapa lama kalian merencanakan ini?”
“Mama cuma ingin keluarga saling membantu.”
“Berapa lama?”
Rendra menunduk.
“Sejak tahu kamu dapat promosi.”
Aku merasa seperti ditampar.
Bonus promosiku.
Pertanyaan Bu Mira tentang gajiku.
Pak Hadi yang mendadak bicara soal kewajiban menantu.
Buku tabungan yang sudah disiapkan.
Semuanya bukan keputusan spontan.
Mereka sudah merencanakannya.
“Dan kamu setuju?”
“Aku terjepit.”
“Tidak. Kamu memilih.”
“Nabila…”
“Kamu memilih diam karena yang dikorbankan bukan uangmu.”
Dia berdiri.
“Aku bisa memperbaiki ini.”
Aku menggeleng.
“Sudah terlambat.”
Ketika truk terakhir pergi, rumah itu terlihat sangat berbeda.
Aku meninggalkan kunci rumah di meja kecil dekat pintu.
Bu Mira masih berdiri dengan wajah marah.
“Kamu akan menyesal.”
Aku tidak menjawab.
Namun tiga hari kemudian, justru dia yang meneleponku.
“Nabila, kamu harus datang.”
“Ada apa?”
“Listrik rumah mau diputus.”
Aku terdiam.
“Tunggakan tiga bulan,” katanya cepat. “Bukankah selama ini kamu yang bayar?”
“Benar.”
“Kalau begitu bayarkan dulu. Nanti Mama ganti.”
Aku membuka laptop.
Tagihan itu sekitar Rp8 juta karena rumah besar tersebut menggunakan beberapa AC dan banyak perangkat elektronik.
“Maaf, Ma. Saya sudah tidak tinggal di sana.”
“Nabila!”
Aku menutup telepon.
Setengah jam kemudian Rendra menelepon.
“Kamu keterlaluan.”
Aku tidak menjawab.
“Papa punya darah tinggi. Mama stres. Sekarang rumah berantakan.”
“Lalu?”
“Setidaknya bantu sampai semuanya stabil.”
Aku menarik napas.
“Rendra, selama dua tahun aku membantu. Tapi kalian menganggap bantuan itu kewajiban. Begitu aku menolak memberikan tujuh puluh persen gajiku, aku diusir.”
Dia terdiam.
“Sekarang kalian hanya menerima konsekuensi keputusan kalian sendiri.”
Dua minggu berlalu.
Aku mulai menikmati kehidupan baruku.
Untuk pertama kalinya setelah menikah, aku pulang tanpa harus mendengar komentar tentang jam kerjaku, pakaian yang kubeli, atau berapa banyak uang yang kusimpan.
Namun masalah belum selesai.
Suatu sore, resepsionis kantor menelepon.
“Bu Nabila, ada keluarga yang ingin bertemu.”
Aku turun.
Bu Mira, Pak Hadi, dan Rendra sudah menunggu di lobi.
Bu Mira langsung berdiri.
“Kamu harus pulang.”
Aku menatap mereka.
“Kenapa?”
Pak Hadi menjawab dengan suara lebih rendah daripada biasanya.
“Rumah itu akan disita bank.”
Aku terkejut.
“Bukankah rumah itu sudah lunas?”
Tak seorang pun menjawab.
Kemudian Rendra berkata pelan, “Papa menjaminkan rumah untuk pinjaman Kak Dimas.”
Aku akhirnya memahami mengapa mereka begitu panik membutuhkan uang.
Cicilan sudah menunggak berbulan-bulan.
Mereka berharap gajiku menjadi penyelamat.
Bu Mira menggenggam tanganku.
Untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar memerintah.
“Nabila, kalau kamu membantu membayar tunggakan, rumah masih bisa diselamatkan.”
“Berapa?”
Rendra menjawab, “Sekitar dua ratus delapan puluh juta.”
Aku melepaskan tangan Bu Mira perlahan.
“Tidak.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu punya uang!”
“Punya uang bukan berarti saya wajib membayar utang yang dibuat tanpa sepengetahuan saya.”
“Kamu menantu keluarga ini!”
“Dan ketika saya menolak menyerahkan gaji, Mama bilang saya boleh keluar.”
Bu Mira mulai menangis.
Pak Hadi menunduk.
Namun Rendra tiba-tiba berkata, “Kalau rumah itu hilang, Mama dan Papa mau tinggal di mana?”
Aku menatap suamiku.
Pertanyaan itu justru membuat keputusan yang selama ini kutunda menjadi mudah.
Aku membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop.
“Aku sebenarnya berencana memberikan ini malam ini.”
Rendra mengambilnya.
Di dalamnya ada dokumen permohonan perceraian yang sudah disiapkan pengacaraku.
Wajahnya pucat.
“Nabila…”
“Aku menikah denganmu karena ingin membangun keluarga. Bukan menjadi rekening darurat keluargamu.”
Bu Mira menatapku seolah tidak percaya.
“Kamu menceraikan Rendra hanya karena uang?”
Aku menggeleng.
“Bukan karena uang.”
Aku memandang Rendra.
“Karena setiap kali aku membutuhkan suamiku untuk berdiri di sampingku, dia memilih berdiri di belakang ibunya.”
Rendra tidak mengatakan apa pun.
Dan keheningan itu menjadi jawaban terakhir yang kubutuhkan.
Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Aku mendengar rumah keluarga Rendra akhirnya dijual sebelum proses penyitaan selesai. Hasil penjualan digunakan untuk melunasi sebagian besar utang bank.
Pak Hadi dan Bu Mira pindah ke rumah kontrakan yang jauh lebih kecil.
Dimas menjual mobilnya dan mulai mencicil sisa utangnya sendiri.
Sedangkan Rendra pindah ke apartemen studio dekat kantornya.
Kami tidak pernah bertemu lagi sampai suatu sore aku menerima sebuah email darinya.
Tidak panjang.
Dia hanya menulis bahwa setelah hidup sendiri, dia baru memahami berapa banyak hal yang selama ini kubayar tanpa pernah mengeluh.
Di akhir email, ada satu kalimat.
“Aku kehilangan istriku karena terlalu sibuk menjadi anak yang selalu menurut.”
Aku membaca email itu sampai selesai lalu menutup laptop.
Tidak kubalas.
Aku berjalan menuju balkon apartemen.
Matahari hampir tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta. Di ruang tamu, sofa yang dulu berada di rumah Bu Mira kini menghadap jendela besar. Televisi yang kubeli dengan bonus pertamaku terpasang di dinding. Kulkas yang dulu dianggap milik keluarga berdiri di dapurku.
Semua barang itu ternyata tidak pernah menjadi hal terpenting.
Yang paling berharga justru sesuatu yang tidak bisa diangkut oleh jasa pindahan.
Harga diriku.
Malam itu aku membuat teh, duduk sendirian di dekat jendela, dan untuk pertama kalinya kesendirian tidak terasa seperti kehilangan.
Beberapa menit kemudian ponselku berbunyi.
Pesan dari HR masuk.
Perusahaan menawarkan penugasan dua tahun untuk memimpin proyek regional di Singapura, lengkap dengan promosi menjadi direktur pengembangan produk.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu tertawa kecil.
Enam bulan sebelumnya, seseorang menyuruhku keluar dari rumah karena aku menolak menyerahkan tujuh puluh persen gajiku.
Ternyata pintu yang mereka tutup di belakangku bukan akhir dari rumah tanggaku.
Itu adalah pintu pertama menuju hidup yang akhirnya benar-benar menjadi milikku sendiri.
