
Bagian 2
— Satu Dokumen Jaminan yang Selama Ini Ia Remehkan Berubah Menjadi Pintu yang Menutup Semua Kredit dan Membuka Bukti Perselingkuhannya di Depan Direksi
Rizky tiba di rumah sakit kurang dari satu jam kemudian.
Bukan untuk bertanya bagaimana keadaan ibu saya.
Ia datang dengan wajah merah dan dasi yang sudah longgar.
Begitu melihat saya di lorong, ia langsung menarik kursi di depan saya.
“Kita bicara.”
“Saya sedang menunggu dokter.”
“Ini lebih mendesak.”
Saya menatapnya.
Kalimat itu cukup menjelaskan seluruh pernikahan kami.
“Lebih mendesak daripada ibu saya yang sedang menjalani tindakan?”
Rizky menurunkan suaranya.
“Kalau bank benar-benar menghentikan limit, minggu depan kita tidak bisa bayar supplier. Kamu tahu ada berapa ratus karyawan yang bergantung pada perusahaan?”
Saya hampir tertawa.
Tiba-tiba ia peduli pada karyawan.
“Rp3,2 miliar ke Liora Kreatif itu untuk apa?”
Wajahnya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tapi saya melihatnya.
“Proyek.”
“Kontraknya mana?”
“Sedang diproses.”
“Proposal?”
“Tim marketing pegang.”
“Sari bilang tim legal bahkan tidak pernah menerima kontrak.”
Rizky berdiri.
“Kamu bicara dengan Sari?”
“Ya.”
Ia mengumpat kecil.
Lalu mendekat.
“Dengar. Jangan campur masalah rumah tangga dengan perusahaan.”
Saya membuka tangkapan layar transaksi di ponsel.
“Yang memindahkan Rp3,2 miliar dari uang perusahaan kepada perempuan selingkuhanmu itu siapa?”
Rizky membeku.
“Kamu ngawur.”
Saya sudah menyiapkan foto kedua.
Dikirim Sari lima menit sebelumnya.
Invoice Liora Kreatif.
Nomor rekening.
Alamat kantor.
Kemudian sebuah dokumen reservasi unit apartemen mewah di kawasan Senopati.
Nama calon pembeli: Selma Ariani.
Nilai booking dan cicilan awal hampir sama dengan jumlah yang ditransfer perusahaan.
Tanggalnya hari itu.
Saya mengangkat layar ponsel tepat di depan wajah Rizky.
“Proyek branding-nya punya balkon tiga kamar tidur?”
Ia tidak menjawab.
Yang keluar dari mulutnya justru ancaman.
“Kalau kamu terus begini, perusahaan bisa hancur dan kamu ikut kehilangan semuanya.”
Saya akhirnya berdiri.
“Justru itu kesalahan terbesar kamu, Mas.”
“Apa?”
“Kamu mengira semuanya milikmu.”
Gudang utama perusahaan berdiri di atas tanah keluarga saya.
Dua ruko operasional dimiliki perusahaan keluarga.
Sebagian kendaraan distribusi dibeli melalui perusahaan leasing yang jaminannya menggunakan deposito atas nama saya.
Selama bertahun-tahun saya tidak pernah mengungkitnya karena saya percaya kami sedang membangun masa depan bersama.
Kepercayaan itu rupanya diterjemahkan Rizky sebagai kebodohan.
Ponselnya berbunyi.
Ia melihat layar.
Saya bisa membaca nama peneleponnya.
Selma.
Rizky langsung menolak panggilan.
Saya tersenyum tipis.
“Kenapa tidak diangkat? Mungkin konsultan branding-mu mau membahas warna sofa apartemen.”
“Nadira!”
Sebelum ia sempat melanjutkan, Arman muncul dari ujung lorong bersama Sari.
Sari membawa laptop.
Wajahnya pucat.
“Mbak,” katanya, “kami menemukan transaksi lain.”
Rizky langsung memotong.
“Sari, kamu kembali ke kantor sekarang.”
Sari tidak bergerak.
Arman maju satu langkah.
“Mulai saat ini sebaiknya semua komunikasi terkait transaksi perusahaan dilakukan tertulis.”
Rizky menatapnya tajam.
“Kamu pengacara keluarga saya.”
“Tidak. Saya pengacara PT Maheswari Properti dan Ibu Nadira.”
Kalimat sederhana itu seperti tamparan.
Kami membuka laptop di ruang tunggu keluarga.
Dalam enam bulan terakhir, Liora Kreatif menerima total hampir Rp5,8 miliar.
Nominalnya sengaja dipecah.
Rp480 juta.
Rp725 juta.
Rp390 juta.
Rp950 juta.
Semua diberi nama proyek berbeda.
Peluncuran merek.
Riset pasar.
Aktivasi dealer.
Produksi konten.
Namun laporan penyelesaiannya hampir tidak ada.
Lebih buruk lagi, beberapa vendor asli mengatakan mereka tidak pernah bekerja sama dengan Liora.
Ketika Arman memperbesar salah satu berkas, saya melihat sesuatu yang membuat tangan saya berhenti bergerak.
Formulir pengajuan tambahan fasilitas kredit Rp6 miliar.
Ada tanda tangan saya.
Setidaknya terlihat seperti tanda tangan saya.
Tanggalnya dua bulan lalu.
Saya sedang menemani ibu di Bandung pada tanggal itu.
“Saya tidak pernah tanda tangan ini.”
Sari menelan ludah.
“Dokumen ini dikirim dari email sekretariat Pak Rizky.”
Rizky langsung meraih laptop.
Arman menahannya.
“Jangan sentuh.”
“Ini perusahaan saya!”
“Dan sekarang ada dugaan penggunaan tanda tangan tanpa persetujuan pemiliknya.”
Untuk pertama kalinya, wajah Rizky benar-benar kehilangan warna.
Saya memandang tanda tangan palsu itu lama.
Perselingkuhan masih bisa ia sebut “kesalahan”.
Transfer miliaran mungkin masih ingin ia sebut “bisnis”.
Tapi seseorang telah menggunakan nama saya untuk mencoba mendapatkan utang baru.
Dan tepat ketika saya hendak bertanya seberapa jauh rencananya, dokter keluar dari ruang tindakan.
“Ibu Nadira?”
Saya berdiri seketika.
Dokter membuka maskernya.
“Tindakan awal berhasil. Kondisinya sementara stabil.”
Lutut saya hampir lemas karena lega.
Namun sebelum saya sempat masuk menemui Ibu, Arman menyentuh bahu saya.
“Nadira, ada satu hal lagi.”
Ia menunjukkan layar ponselnya.
Sebuah email baru dari bank.
Bank menemukan dokumen pengajuan lain yang dikirim tiga hari sebelumnya.
Bukan Rp6 miliar.
Rp12 miliar.
Dengan jaminan tambahan berupa aset keluarga saya.
Dan sekali lagi, di halaman terakhir ada tanda tangan atas nama saya.
Saya menatap Rizky.
Kali ini ia tidak berani menatap balik.
Saat itulah saya sadar: suami saya tidak hanya bersiap meninggalkan saya.
Ia sedang berusaha pergi sambil membawa apa pun yang masih bisa dijadikan uang.
Bagian 3 — Ketika Suami Datang Memohon di Rumah Sakit, Ia Belum Tahu Saya Sudah Menyiapkan Bukti Transfer, Perceraian, dan Jalan Baru untuk Ibu
Malam itu saya tidak pulang bersama Rizky.
Saya tidur di kursi samping ranjang ibu.
Sekitar pukul dua pagi, Ibu membuka mata dan melihat saya masih mengenakan pakaian yang sama sejak pagi.
“Kamu habis menangis?”
Saya menggenggam tangannya.
“Sedikit.”
Ibu tersenyum lemah.
“Karena Ibu?”
Saya menggeleng.
“Karena akhirnya saya tahu apa yang harus saya berhentikan.”
Saya tidak menceritakan semuanya malam itu.
Kesehatannya lebih penting.
Tetapi keesokan paginya, hidup Rizky mulai berubah dengan cara yang tidak lagi bisa ia kendalikan lewat bentakan.
Bank membentuk review khusus.
Fasilitas kredit baru dihentikan.
Corporate card dibekukan.
Permohonan tambahan Rp12 miliar dibatalkan setelah saya memberikan pernyataan resmi bahwa saya tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.
Direksi menggelar rapat luar biasa.
Saya hadir melalui video dari rumah sakit.
Rizky datang dengan pengacara.
Ia tidak lagi berteriak.
Sekarang ia memakai nada seorang suami yang ingin terlihat masuk akal.
“Saya mengakui ada kesalahan administratif.”
Arman bertanya, “Apakah transfer Rp5,8 miliar kepada perusahaan milik perempuan yang memiliki hubungan pribadi dengan Anda juga kesalahan administratif?”
Rizky diam.
“Apakah dokumen kredit dengan tanda tangan Ibu Nadira yang tidak diakuinya juga kesalahan administratif?”
Diam lagi.
Ketika audit menunjukkan beberapa pembayaran Liora sama sekali tidak memiliki output kerja yang dapat diverifikasi, tiga komisaris independen meminta Rizky dinonaktifkan sementara dari kewenangan keuangan.
Kali ini bahkan Herman, orang yang selama bertahun-tahun selalu membelanya, memilih tidak angkat bicara.
Selma juga berubah cepat.
Begitu rekening bisnisnya ikut diminta memberikan klarifikasi, perempuan yang katanya sangat mencintai Rizky itu menunjuk pengacara sendiri.
Ia menyerahkan percakapan mereka.
Saya tidak membaca semuanya.
Saya hanya membaca bagian yang dibutuhkan pengacara.
Satu pesan dari Rizky sudah cukup.
“Setelah kredit baru cair, aku pindahkan sebagian dana. Urusan Nadira nanti aku bereskan setelah struktur aset aman.”
Saya menatap kalimat itu cukup lama.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Aneh sekali.
Kadang rasa sakit paling besar justru membuat hati menjadi sangat tenang.
Tiga hari kemudian Rizky datang lagi ke rumah sakit.
Ia membawa bunga.
Buket besar yang bahkan tidak ia bawa saat ulang tahun saya tahun lalu.
“Nadira, kita bisa selesaikan ini sebagai keluarga.”
Saya memandang bunga itu.
“Sejak kapan?”
“Aku salah.”
“Bagian mana?”
Ia terdiam.
“Selingkuh?”
Diam.
“Mengambil uang perusahaan?”
Diam.
“Menggunakan tanda tangan saya?”
“Nadira, aku panik waktu itu.”
Saya tersenyum.
“Yang menarik, Mas, kamu selalu panik setelah ketahuan. Tidak pernah sebelum melakukan.”
Ia duduk di kursi depan saya.
“Aku akan putus dengan Selma.”
“Itu bukan hadiah untuk saya.”
“Aku kembalikan uangnya.”
“Itu uang perusahaan. Memang harus dikembalikan.”
“Kita mulai lagi.”
Saya mengeluarkan amplop cokelat dari tas.
Rizky menatapnya.
“Apa itu?”
“Surat dari pengacara saya.”
Di dalamnya ada pemberitahuan proses perceraian, permintaan pemisahan kewajiban finansial, serta dokumen agar semua komunikasi terkait aset dilakukan melalui kuasa hukum.
Tangannya bergetar.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Nadira, sembilan tahun.”
“Saya tahu. Karena itu saya tidak akan membuang tahun kesepuluh.”
Ia berdiri dengan marah.
“Kalau aku jatuh, perusahaan juga jatuh!”
“Tidak.”
Saya sudah memikirkan hal itu.
Saya tidak ingin ratusan karyawan kehilangan pekerjaan karena kesalahan satu orang.
Keluarga saya setuju mempertahankan gudang dan fasilitas utama selama manajemen profesional mengambil alih operasional dan audit dilanjutkan.
Bank bersedia membahas restrukturisasi setelah jaminan lama diganti dengan struktur baru yang transparan.
Dua direktur operasional yang selama ini bekerja baik tetap dipertahankan.
Rizky bukan perusahaan.
Dan perusahaan tidak harus mati bersamanya.
Empat bulan berikutnya tidak mudah.
Sebagian dana yang diterima Liora berhasil dikembalikan melalui penyelesaian setelah audit.
Rizky menjual mobil sportnya dan melepas sebagian kepemilikannya untuk memenuhi kewajiban yang disepakati.
Soal penggunaan tanda tangan saya ditangani melalui jalur hukum dan pemeriksaan dokumen; saya menyerahkan prosesnya kepada pengacara tanpa menjadikan kemarahan sebagai pusat hidup saya lagi.
Proses perceraian juga berjalan.
Rizky beberapa kali mencoba menghubungi saya langsung.
Saya tidak membalas.
Pada hari putusan akhirnya selesai, saya tidak merasa menang.
Saya hanya merasa ringan.
Ibu pulih perlahan.
Dokter meminta beliau mengurangi aktivitas dan rutin kontrol.
Dua bulan setelah pulang dari rumah sakit, Ibu duduk di teras rumah saya sambil mengomel karena tanaman cabainya disiram terlalu banyak oleh tukang kebun.
Suara omelannya justru menjadi suara terindah yang pernah saya dengar.
Suatu pagi ia bertanya, “Kamu menyesal?”
“Menyesal apa?”
“Meninggalkan Rizky.”
Saya memandang dua cangkir teh hangat di meja.
Kemudian halaman kecil yang terkena cahaya pagi.
“Tidak.”
“Masih sakit?”
Saya berpikir sebentar.
“Kadang.”
Ibu mengangguk.
“Berarti kamu manusia.”
Saya tertawa.
Setelah semua yang terjadi, saya kembali aktif mengelola perusahaan keluarga.
Bukan untuk membuktikan apa pun kepada Rizky.
Saya hanya ingin memastikan tidak pernah lagi menyerahkan kendali hidup saya sepenuhnya kepada seseorang atas nama cinta.
Beberapa bulan kemudian saya menerima laporan terakhir tentang Nawasena.
Operasional stabil.
Sebagian utang sudah direstrukturisasi.
Tidak ada PHK besar.
Rizky tidak lagi memiliki wewenang manajemen.
Selma menutup CV Liora setelah menyelesaikan kewajiban administrasi dan pengembalian dana yang disepakati.
Saya menutup laporan itu dan memasukkannya ke laci.
Ibu memanggil dari dapur.
“Nadira, makan dulu!”
Saya bangkit.
Dulu saya mengira akhir bahagia berarti mempertahankan rumah tangga apa pun yang terjadi.
Ternyata saya salah.
Kadang akhir bahagia adalah ketika ibu Anda masih bisa memanggil Anda dari dapur, pekerjaan orang-orang tetap terselamatkan, dan orang yang mengkhianati Anda akhirnya harus bertanggung jawab atas pilihan yang ia buat sendiri.
Saya kehilangan seorang suami pada hari ibu saya masuk IGD.
Tetapi di hari yang sama, tanpa saya sadari, saya mulai mendapatkan hidup saya kembali.
