Part : 2 Rina berjalan menembus hujan deras kembali ke rumah kecil pekerja.

PART 2

Matahari terbit pukul 05:30 kian terang.

Rina sudah berada di kandang belakang sejak subuh.

Dia bekerja seperti biasa, tapi ada jarak tebal yang sengaja dia ciptakan.

Saat Bi Murni menyodorkan segelas teh hangat di dapur utama, Rina menolaknya dengan sopan.

Dia tidak lagi mau masuk ke ruang makan utama.

Dia menyelesaikan semua tugasnya tepat waktu, lalu langsung pulang ke rumah kecilnya.

Rayan yang baru berusia 9 tahun bingung dengan perubahan sikap ibunya.

“Ibu, kenapa kita tidak makan malam bersama Bu Rahma lagi?”

Rina mengusap kepala anaknya dengan lembut.

“Ada hal-hal baik yang bisa jadi masalah kalau orang lain mulai memasang harga pada kebaikan itu.”

3 hari berlalu dalam suasana dingin.

Sore harinya, Bu Rahma berjalan menuju rumah kecil di belakang kandang.

Pintu depan rumah kayu itu terbuka sedikit.

Di atas tempat tidur, Bu Rahma melihat sebuah koper tua yang sudah terbuka dan setengah terisi pakaian.

Bu Rahma masuk tanpa mengetuk pintu.

“Apa artinya ini, Rina?”

Rina yang sedang melipat baju terhenti seketika.

“Masa percobaan saya selesai hari Jumat ini. Kami akan pergi.”

“Hanya karena ucapan Mirna malam itu?”

Rina menahan napas, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

“Bukan karena Bu Mirna.”

“Tapi karena saya tidak ingin suatu hari nanti ada orang yang berkata pada anak saya bahwa ibunya memanfaatkan janda kaya yang kesepian.”

Bu Rahma menatap koper tua di atas kasur itu.

Dia membayangkan suasana rumah utamanya nanti malam.

Sunyi yang selama 15 tahun dia tanggung akan kembali lagi.

Malam itu, Bu Rahma tidak menyentuh makan malamnya sama sekali.

Di meja makan besar, hanya ada 1 piring, 1 gelas, dan suara denting jam dinding yang monoton.

Dulu, suasana ini terasa biasa saja baginya.

Tapi sekarang, rasa sepi itu terasa menekan dada.

Dia tahu bedanya sunyi sebelum mengenal keberadaan orang lain, dan sepi setelah mereka pergi.

Bu Rahma mengingat Rayan yang bicara heboh sambil mengunyah nasi.

Dia mengingat Alya yang menjatuhkan remah roti di lantai jati.

Dia mengingat Rina yang tersenyum saat tertawa pelan di sudut meja.

Bu Rahma merasa malu pada dirinya sendiri.

Selama 15 tahun, dia selalu mengira masalah utamanya adalah orang-orang yang mendekatinya hanya demi uang.

Tapi Rina memiliki ketakutan yang sebaliknya.

Rina takut setiap bantuan yang dia terima akan berubah menjadi utang budi yang merendahkan harga dirinya.

Bu Rahma naik ke lantai 2, menyalakan lampu kerja di ruang baca.

Dia bekerja di depan mesin tik dan berkas-berkas hingga pukul 01:00 dini hari.

Keesokan harinya pukul 06:10, Rina datang ke rumah utama untuk mengambil alat pel.

Di atas meja dapur, ada sebuah stopmap cokelat tebal mekar terbuka.

Rina melihatnya dan berhenti melangkah.

“Jika ini uang pesangon atau amplop kasihan, saya tidak akan menerimanya.”

Bu Rahma yang berdiri di dekat jendela berbalik.

“Makanya itu bukan uang kasihan.”

Bu Rahma meminta Rina duduk di kursi dapur.

Dia membuka folder tersebut di hadapan Rina.

Di dalamnya terdapat lembaran dokumen resmi bertuliskan Surat Perjanjian Kerja Operasional Rumah Dan Logistik Perkebunan Bumi Hijau.

Bu Rahma menjelaskan isinya poin demi poin.

“Bi Murni sudah makin tua dan butuh asisten tetap. Pengelolaan stok pakan dan bahan dapur kita kacau selama bertahun-tahun.”

“Saya menawarkan posisi resmi sebagai Penanggung Jawab Logistik dan Rumah Tangga.”

“Gaji bulanan Rp4.500.000, jam kerja jelas dari pukul 06:00 sampai 17:00, hak libur 1 hari seminggu, serta fasilitas rumah dinas pekerja selama masa kontrak berlaku.”

“Semua tertulis hitam di atas putih.”

“Tidak ada hubungannya dengan makan malam bersama, utang budi, atau belas kasihan.”

Rina membaca setiap lembar dokumen itu dengan cermat.

“Bu Rahma punya pekerja lain yang sudah bekerja bertahun-tahun di sini. Kenapa harus saya?”

Bu Rahma menatap mata Rina lurus.

“Karena tidak ada satu pun dari mereka yang dalam 4 hari sanggup merapikan gudang penyimpanan yang berantakan selama 8 bulan.”

“Tidak ada yang bisa menekan pemborosan bahan pakan ternak hingga 30% dalam seminggu.”

“Tidak ada yang membantu Pak Ujang melahirkan anak sapi di tengah malam tanpa mengeluh jam lembur.”

“Dan tidak ada yang bisa membuat Bi Murni batal mengajukan pensiun hari Senin lalu.”

Rina menahan senyum tipis.

“Sekarang Bi Murni mengancam pensiun hari Jumat.”

Bu Rahma tersenyum kecil untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.

Wajah Bu Rahma kembali serius.

“Saya tidak akan berbohong padamu, Rina.”

“Saya menyayangi Rayan. Saya menyayangi Alya. Dan saya mulai peduli padamu.”

“Tapi rasa peduli itu tidak boleh mengubah pekerjaanmu menjadi derma.”

“Jika kamu bertahan di sini, saya ingin kamu bisa menatap mata anak-anakmu dan berkata bahwa semua yang kalian miliki hari ini adalah hasil keringat ibunya sendiri.”

Rina menutup stopmap cokelat itu.

Dia tidak langsung menjawab penawaran tersebut.

Rina berjalan ke halaman luar rumah utama.

Di dekat kandang sapi, Rayan sedang memberi makan anak sapi yang baru lahir 3 hari lalu.

Rayan menamai anak sapi itu “Harapan”.

Rina mengingat kata-katanya sendiri pada Rayan saat mereka terlunta-lunta di jalanan kota: saat semua pintu tampak tertutup, kita harus terus berjalan untuk menemukan pintu berikutnya.

Rayan menengok ke arah ibunya yang berdiri di dekat pagar.

“Ibu, apa kita jadi pindah besok?”

Rina melihat pemandangan perkebunan hijau di sekelilingnya.

Beberapa minggu lalu, dia masuk melalui pintu gerbang besi itu sambil menghitung koin sisa di dompetnya.

Sekarang, di tangannya ada penawaran kerja yang adil.

Dan di balik jendela rumah utama, ada seorang wanita tua yang belajar menyayangi mereka tanpa berniat membeli harga diri mereka.

“Belum,” jawab Rina.

Rayan menatap ibunya dengan campuran rasa takut dan lega.

“Saya tidak mau pindah, Bu.”

“Ibu tahu.”

“Ibu mau pindah?”

Rina diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan polos anaknya.

“Ibu hanya takut kalau terlalu betah di sini.”

Sore itu, Rina kembali ke ruang kerja Bu Rahma dengan dokumen yang sudah ditandatangani.

“Saya menerima pekerjaan ini. Tapi ada syarat.”

Bu Rahma mengangkat satu alisnya.

“Saya sudah menduga akan ada syarat darimu.”

“Gaji saya adalah hak atas hasil kerja saya. Jika kerja saya buruk, Bu Rahma harus tegur atau pecat saya secara profesional.”

“Anak-anak saya tetap tanggung jawab penuh saya.”

“Dan tidak boleh ada orang—termasuk Bu Rahma—yang menggunakan makanan, pakaian, atau fasilitas rumah ini untuk membuat saya merasa dibeli.”

Bu Rahma mengangguk tegas.

“Setuju.”

“Kalau begitu, kami tinggal.”

Rayan yang mengintip di luar pintu langsung berlari masuk.

Dia memeluk ibunya erat-erat, lalu tanpa ragu berlari memeluk Bu Rahma.

Tubuh Bu Rahma sempat kaku selama 2 detik sebelum akhirnya melingkarkan kedua tangannya di punggung Rayan.

Momen itu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya: pekerjaan adalah pekerjaan, dan kasih sayang adalah kasih sayang.

Kehidupan di Perkebunan Bumi Hijau perlahan menemukan iramanya.

Bulan berganti bulan.

Rayan mulai bersekolah di SD negeri terdekat.

Setiap pagi pukul 06:30, Pak Ujang mengantarnya naik mobil bak terbuka saat hendak mengambil pakan ternak di pasar.

Bu Rahma selalu tahu kapan Rayan ada ujian matematika.

Saat Rayan pulang membawa nilai 95, Bu Rahma berpura-pura tidak peduli, padahal dia menyimpan lembar ujian itu di dalam laci kerjanya.

Alya yang kini berusia 2 tahun lebih sedikit mulai belajar berjalan lancar.

Suatu sore di ruang tamu utama, Alya melangkah perlahan menuju Rina.

Tiba-tiba balita itu kehilangan keseimbangan, berbelok arah, dan jatuh tepat di pangkuan Bu Rahma yang sedang duduk di kursi goyang.

Bu Rahma tertawa pelan, matanya berkaca-kaca saat mengangkat Alya ke pangkuannya.

“Saya tidak pernah membayangkan rumah ini akan mendengar suara tawa anak kecil lagi.”

Rina berlutut di samping kursi goyang itu.

“Rumah ini hanya terlalu lama menunggu awal yang baru.”

Makan malam tidak lagi terasa canggung.

Kadang mereka makan bersama di meja makan besar rumah utama.

Di lain waktu, Bu Rahma berjalan melintasi halaman dan duduk di dapur kecil rumah dinas Rina.

Pertama kali Bu Rahma datang ke dapur kecil itu, Rina sempat protest karena tempatnya sangat sempit.

“Piring saya muat di sini,” jawab Bu Rahma santai. “Itu sudah cukup.”

Ujian emosional berikutnya datang di akhir musim hujan.

Tepat 15 tahun sejak almarhum Pak Hendra meninggal dunia.

Biasanya, pada tanggal itu Bu Rahma akan mengurung diri di ruang kerja, bekerja sampai kelelahan, lalu pergi sendirian ke pemakaman desa.

Pagi itu, Rina menemukan Bu Rahma berdiri di teras dengan seikat bunga liar di tangannya.

“Mau saya temani?” tanya Rina pelan.

Jawaban Bu Rahma biasanya adalah penolakan dingin.

Tapi hari itu, Bu Rahma menatap jalan setapak yang basah.

“Ya. Temani saya.”

Di pemakaman desa, Rina berdiri agak jauh untuk memberikan ruang pribadi.

Bu Rahma meletakkan bunga liar di atas batu nisan suaminya.

Dia berdiri diam selama 10 menit.

Dia mengingat masa-masa muda mereka saat baru merintis perkebunan, membeli 10 ekor sapi pertama, dan ketakutan saat musim kemarau panjang.

Selama 15 tahun, Bu Rahma merasa bahwa kembali bahagia atau membuka hati untuk orang lain adalah bentuk pengkhianatan pada kenangan suaminya.

“Perkebunan kita masih berdiri tegak, Hendra,” bisik Bu Rahma pelan. “Dan saya juga masih di sini.”

Dia tersenyum tipis di antara air matanya.

“Ada 3 orang baru yang datang. Mereka tidak berniat menyelamatkanku. Tapi mereka mengisi rumah ini dengan keriuhan. Kamu pasti menyukai mereka.”

Saat mereka kembali ke perkebunan, Rayan sudah menunggu di dekat gerbang besi.

“Ibu dari mana?” tanya Rayan pada Rina.

“Ziarah ke makam Pak Hendra,” jawab Rina.

Rayan yang sudah tahu cerita tentang pemilik pertama perkebunan itu berpikir sejenak.

“Nanti boleh saya ikut ke sana?”

Bu Rahma menatap Rayan terkejut. “Kenapa kamu mau ikut?”

“Karena kalau Pak Hendra penting buat Bu Rahma, berarti dia juga penting buat kami.”

Kalimat sederhana dari anak 9 tahun itu meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanan di dada Bu Rahma.

Kedamaian itu terganggu dua minggu kemudian.

Hari Minggu sore, sebuah mobil sedan hitam berhenti di halaman depan.

Mirna datang kembali, kali ini memboyong anak laki-lakinya yang berusia 26 tahun, Dion.

Mirna tidak berteriak seperti kunjungan pertama.

Dia membawa sebuah dokumen map tebal dan melangkah masuk dengan sikap congkak.

Rina yang sedang menyajikan teh di ruang tamu berniat mundur ke dapur.

“Tetap di sini, Rina,” perintah Bu Rahma tegas.

Mirna duduk di sofa, meletakkan berkas di meja kaca.

“Saya datang tidak untuk berdebat, Rahma. Saya hanya ingin kejelasan.”

“Kejelasan apa?”

“Soal masa depan Perkebunan Bumi Hijau ini. Hendra tidak punya anak. Menurut hukum dan tradisi keluarga, tanah dan 200 ekor sapi ini harus tetap berada di bawah nama keluarga besar kita.”

Mirna melirik Rina dengan pandangan merendahkan.

“Saya mendengar rumor di desa bahwa kamu mulai mencantumkan nama orang luar di berkas-berkas pengurusan perkebunan.”

Dion tampak serba salah dan menundukkan kepala, merasa tidak nyaman dengan aksi ibunya.

Bu Rahma mendengarkan tanpa memotong satu kalimat pun.

Setelah Mirna selesai bicara, Bu Rahma mengambil cangkir tehnya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali.

“Kamu bicara soal keluarga, Mirna?” kata Bu Rahma dengan nada amat tenang.

“Iya! Hendra itu kakak kandung saya!” tegas Mirna.

Bu Rahma menatap Mirna lurus-lurus.

“Keluarga saya sudah ada di rumah ini sekarang.”

Mirna tertawa sinis. “Jangan konyol! Kamu mau memberikan harta Hendra pada pembantu dan anak-anaknya ini?”

Bu Rahma berdiri tegak di depan meja tamu.

“Saya tidak sedang bicara soal surat warisan atau bagi-bagi harta.”

“Saya bicara tentang siapa yang hadir jam 02:00 pagi saat pipa saluran air utama pecah dan menggenangi kandang.”

“Saya bicara tentang siapa yang merawat sapi sakit seharian tanpa pernah menanyakan berapa upah lembur yang akan dia terima.”

“Saya bicara tentang siapa yang duduk di meja makan saya tanpa pernah melirik isi brankas atau menanyakan status tanah ini.”

Bu Rahma melangkah mendekati Mirna.

“Kamu dan Dion baru datang ke sini saat mengingatkan saya soal kematian Hendra dan siapa yang akan mendapat tanah ini kalau saya mati.”

“Tapi Rina dan anak-anaknya mengajarkan saya bagaimana cara menjalani hari-hari saya selagi saya masih hidup.”

Mirna tertegun, bibirnya terkatup rapat.

Dion menarik lengan ibunya pelan. “Ibu, sudah… kita pulang saja.”

Bu Rahma tidak berhenti di situ.

“Mengenai apa yang akan saya lakukan pada Perkebunan Bumi Hijau ini di masa depan, itu adalah hak penuh saya sebagai pemilik sah.”

“Ini bukan hadiah kompetisi untuk siapa yang paling sabar menunggu saya meninggal dunia.”

Dion benar-benar merasa malu dengan teguran itu. Dia berdiri dan mengajak ibunya keluar.

Mirna mengambil berkasnya dengan tangan gemetar, lalu melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Rina menatap Bu Rahma setelah mobil sedan itu menghilang di balik gerbang.

“Bu Rahma… saya tidak ingin ada permusuhan keluarga karena kehadiran kami.”

Bu Rahma membalikkan badan.

“Permusuhan itu sudah ada sejak 15 tahun lalu, Rina. Mereka hanya marah karena pintu rumah ini tidak lagi bisa mereka buka sesuka hati.”

“Mulai hari ini, jangan pernah merasa bersalah karena berada di sini. Kamu bekerja keras, dan kamu layak dihormati.”

Tahun-tahun berlalu dengan cepat di Lembang.

Masalah pekerjaan tidak sepenuhnya hilang.

Ada masa-masa sulit saat harga pakan ternak melonjak tinggi, saat musim kemarau panjang membuat pasokan air menipis, atau saat sapi-sapi terserang penyakit.

Ada hari-hari di mana Rina dan Bu Rahma berbeda pendapat soal manajemen logistik hingga berdebat di ruang kerja.

Tapi tidak ada lagi ketakutan akan pengusiran atau tuduhan parasit.

Rayan tumbuh menjadi remaja yang rajin membantu pengelolaan kandang.

Alya tumbuh menjadi anak yang ceria dan selalu menemani Bu Rahma memeriksa laporan keuangan mingguan.

Suatu malam di awal musim hujan, Bu Rahma baru kembali dari pemeriksaan pagar batas di ujung perkebunan.

Sepatunya penuh lumpur, lututnya terasa pegal karena usianya yang kini memasuki 65 tahun.

Saat berjalan mendekati rumah utama, dia mendengar suara keriuhan dari arah dapur.

“Rayan, garamnya bukan yang itu!” suara Rina terdengar memprotes.

“Kata Bi Murni yang ini, Bu!” sahut Rayan dari balik kompor.

Alya tertawa terpingkal-pingkal karena ada tepung yang tumpah di meja.

Bu Rahma berdiri diam di teras luar yang dingin.

Selama 15 tahun setelah suaminya meninggal, dia selalu mematikan semua lampu sebelum tidur karena tidak ada orang yang dia tunggu pulang.

Malam ini, cahaya kuning yang hangat memancar terang dari jendela dapur.

Pintu dapur terbuka. Rina muncul membawa wadah sampah.

Dia terkejut melihat Bu Rahma berdiri di luar.

“Bu Rahma? Kenapa berdiri di situ? Di luar dingin sekali.”

Bu Rahma tersenyum tipis.

“Saya cuma sedang melihat rumah saya.”

“Rumah Bu Rahma sekarang berantakan karena mainan Alya dan tepung dapur.”

“Makanya rumah ini terasa hidup.”

Bu Rahma melangkah masuk, melepas sepatu boot-nya di pintu teras.

Rayan menengok dari balik meja dapur.

“Bu Rahma terlambat! Makan malamnya hampir dingin.”

“Saya ini pemilik perkebunan ini, Rayan,” goda Bu Rahma.

“Tapi Bu Rahma tetap harus makan tepat waktu,” jawab Rayan sambil menyajikan piring.

Di meja makan malam itu, ada 4 piring tertata rapi.

Tidak ada lagi sekat antara majikan dan buruh yang diselimuti rasa cemas.

Yang ada hanyalah sebuah keluarga yang dibentuk dari rasa hormat, kerja keras, dan kehadiran yang nyata.

Bu Rahma memandang 3 orang di hadapannya.

Dulu dia mengira bahwa kekayaan, 200 ekor sapi, dan lahan belasan hektar adalah segalanya.

Kini dia tahu arti sebuah rumah yang sesungguhnya.

Rumah bukanlah bangunan paling megah atau rekening bank yang tebal.

Rumah adalah saat kamu terlambat pulang, dan ada suara dari dalam yang memanggil namamu untuk segera masuk.

“Bu Rahma, cepat duduk! Supnya nanti dingin!” panggil Rayan dari meja makan.

Bu Rahma tersenyum, mengusap sudut matanya yang basah, lalu menjawab mantap:

“Iya, ini Bu Rahma datang.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *