Part : 2 “PAK, APA ADA PEKERJAAN CUCI PIRING? ANAK SAYA BELUM MAKAN.” SAAT PEREMPUAN ITU MENGANGKAT WAJAH DI DEPAN RESTORAN SAYA, LUTUT SAYA LEMAS—DIA ISTRI YANG SUDAH DUA TAHUN SAYA TANGISI, DAN BAYI DALAM GENDONGANNYA MEMAKAI GELANG DENGAN NAMA KELUARGA SAYA

“PAK, APA ADA PEKERJAAN CUCI PIRING? ANAK SAYA BELUM MAKAN.” SAAT PEREMPUAN ITU MENGANGKAT WAJAH DI DEPAN RESTORAN SAYA, LUTUT SAYA LEMAS—DIA ISTRI YANG SUDAH DUA TAHUN SAYA TANGISI, DAN BAYI DALAM GENDONGANNYA MEMAKAI GELANG DENGAN NAMA KELUARGA SAYA

BAGIAN 1

DUA TAHUN SAYA DATANG KE MAKAM KOSONG SETIAP BULAN, SAMPAI SEORANG PEREMPUAN KUMAL MEMINTA PEKERJAAN DI RESTORAN SAYA—LALU IA MEMANGGIL NAMA KECIL YANG HANYA ISTRI SAYA TAHU

“Pak… apa di sini butuh orang buat cuci piring?”

Saya sebenarnya sudah berjalan melewatinya.

Sore itu hujan baru berhenti di Surabaya. Trotoar depan restoran keluarga kami masih basah, dan saya sedang terburu-buru menuju mobil karena ada rapat dengan auditor pukul enam.

Lalu perempuan itu melanjutkan dengan suara pelan.

“Saya bisa bersih-bersih juga. Apa saja. Anak saya belum makan sejak pagi.”

Saya berhenti.

Bukan karena kalimatnya.

Karena suaranya.

Ada suara yang bisa berubah karena umur, sakit, atau kesedihan.

Tapi ada juga suara yang, sekali pernah menjadi rumah bagi kita, tidak mungkin benar-benar kita lupakan.

Saya berbalik.

Perempuan itu berdiri di dekat pintu samping restoran dengan jaket abu-abu kebesaran. Rambutnya dipotong pendek tidak rata. Wajahnya jauh lebih kurus dibandingkan perempuan yang terakhir kali saya peluk dua tahun lalu.

Di lengannya tertidur seorang bayi perempuan.

Mungkin sekitar satu tahun.

Saya menatap perempuan itu beberapa detik.

Ia ikut menatap saya.

Wajahnya seketika kehilangan warna.

Kantong plastik di tangannya jatuh.

“Mas Ardi…”

Dunia seperti berhenti.

Tidak ada lagi suara kendaraan.

Tidak ada suara pegawai restoran.

Tidak ada bunyi hujan dari talang.

Hanya satu nama itu.

Nama yang hanya digunakan satu orang ketika kami sedang berdua.

“Nisa?”

Bibirnya gemetar.

Lalu ia menangis.

Bukan tangis keras.

Justru itu yang membuat dada saya terasa dihantam.

Ia menunduk sambil memeluk bayi itu lebih erat.

Saya maju satu langkah.

Nisa mundur dua langkah.

“Jangan telepon Mama.”

Saya berhenti.

“Apa?”

“Tolong.”

Matanya bergerak ke kanan-kiri seperti seseorang sedang mengejarnya.

“Jangan kasih tahu Ibu Ratih kalau Mas sudah ketemu aku.”

Ibu Ratih.

Ibu saya.

Perempuan yang selama dua tahun menemani saya datang ke makam Nisa.

Perempuan yang setiap tahun mengadakan pengajian untuk “almarhumah menantunya”.

Perempuan yang berkali-kali memegang bahu saya dan berkata:

“Ardi, kamu harus ikhlas.”

Saya membawa Nisa masuk melalui pintu staf.

Saya tidak membawanya ke ruang utama.

Saya membawanya ke kantor kecil saya di lantai dua, mengunci pintu, lalu menurunkan tirai.

Nisa langsung menegang ketika mendengar bunyi kunci.

Saya segera membuka kembali kuncinya.

“Pintunya tidak saya kunci.”

Baru setelah itu bahunya turun.

Saya duduk beberapa meter darinya.

“Nisa.”

Ia menatap lantai.

“Saya butuh kamu bilang apa yang sebenarnya terjadi.”

Tangannya mengusap kepala bayi itu.

“Namanya Hana.”

Saya merasa dada saya mengecil.

“Anak siapa?”

Nisa menatap saya.

Air matanya jatuh lagi.

“Anak kita.”

Saya sampai harus berdiri.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan tangan saya.

Tidak tahu apakah saya harus tertawa, berteriak, atau menghancurkan meja.

“Nisa…”

“Aku hamil waktu aku hilang.”

Saya memejamkan mata.

Dua tahun lalu, Nisa pergi ke Malang untuk bertemu seorang konsultan akuntansi.

Setidaknya, itulah yang saya ketahui.

Malam itu ibu saya menelepon.

Mobil Nisa ditemukan rusak di dekat daerah pegunungan setelah hujan deras.

Tasnya ditemukan tidak jauh dari sana.

Ponselnya rusak.

Beberapa hari kemudian, keluarga menerima kabar bahwa pencarian dihentikan setelah ditemukan barang-barang lain yang dianggap cukup untuk menguatkan dugaan bahwa Nisa tidak selamat.

Saya waktu itu seperti orang mati.

Ibu mengambil alih semuanya.

Dokumen.

Pengajian.

Urusan rumah.

Bahkan keputusan membuat makam keluarga simbolis agar saya punya tempat untuk berziarah.

Dan saya…

Saya membiarkannya.

Nisa mengusap wajah.

“Aku tidak pernah pergi ke Malang.”

Saya menatapnya.

“Apa?”

“Hari itu Mama menelepon aku.”

Mama.

Nisa selalu memanggil ibu saya begitu.

“Katanya ada masalah dengan salah satu perusahaan katering keluarga. Dia bilang ada dokumen yang harus aku lihat sebelum kamu tahu.”

Saya mulai merasakan sesuatu yang dingin menjalar di belakang leher.

Nisa dulu bekerja sebagai auditor internal sebelum menikah dengan saya.

Setelah menikah, ia beberapa kali membantu memeriksa laporan perusahaan keluarga kami.

Beberapa minggu sebelum menghilang, ia pernah berkata ada transaksi yang aneh.

Saya tidak terlalu memperhatikannya.

Kesalahan terbesar dalam hidup saya.

“Mama menyuruh aku datang ke sebuah rumah di Batu,” lanjutnya.

“Di sana ada sopir keluarga dan satu perempuan yang tidak aku kenal. Aku dikasih minuman. Setelah itu…”

Ia berhenti.

Tangannya mulai gemetar.

Saya tidak mendesaknya.

“Aku bangun di kamar yang jendelanya dipasang teralis.”

Saya merasakan rahang saya mengeras.

“Siapa yang menjaga kamu?”

“Awalnya dua orang. Mereka bilang aku sedang disembunyikan karena ada orang yang mau menculik aku.”

Nisa tertawa kecil, pahit.

“Lucu ya? Orang yang menahan aku justru bilang mereka sedang melindungi aku.”

Beberapa hari kemudian, kata Nisa, ibu saya datang.

Sendirian.

Ratih duduk di hadapannya dan meletakkan koran lokal di meja.

Ada berita pencarian seorang perempuan yang hilang.

Nama Nisa.

Foto Nisa.

“Ibu bilang kamu percaya aku sudah meninggal.”

Saya merasa mual.

“Saya tidak pernah percaya begitu saja.”

“Tapi kamu tidak mencari aku.”

Kalimat itu menancap.

Saya tidak bisa membela diri.

Karena dalam sudut pandangnya, memang begitu.

Saya duduk kembali.

“Nisa, saya mencari selama berbulan-bulan.”

Ia menatap saya.

“Mama bilang kamu sudah menikah lagi.”

“Apa?”

“Dia bawa foto.”

Nisa mengeluarkan sesuatu dari tas kainnya.

Foto saya bersama seorang perempuan di sebuah acara bisnis.

Saya mengenalnya.

Sekretaris perusahaan.

Foto itu diambil ketika kami sedang berdiri berdekatan dalam acara penghargaan.

Bagian kanan foto dipotong sehingga orang lain di sekitar kami tidak terlihat.

“Mama bilang itu istri barumu.”

Saya menutup wajah.

Saat itu saya mulai memahami metode ibu saya.

Tidak perlu membuat kebohongan sempurna.

Cukup berikan potongan kebenaran yang tepat kepada orang yang sedang putus asa.

“Kenapa kamu tidak kabur?”

Nisa melihat Hana.

“Aku pernah mencoba.”

Setelah mengetahui dirinya hamil, pengawasan semakin ketat.

Namun tidak ada rantai.

Tidak ada ruangan bawah tanah seperti di film.

Justru itu yang membuat semuanya lebih sulit dibuktikan.

Sebuah rumah biasa.

Tetangga mengira Nisa kerabat pemilik rumah yang sedang sakit.

Telepon tidak boleh dipegang.

Pintu selalu dikunci dari luar.

Setiap keluar untuk kontrol kehamilan, seorang perempuan ikut dan memperkenalkan dirinya sebagai kakak Nisa.

“Mereka bilang kalau aku bikin keributan, aku tidak akan pernah bertemu bayiku setelah lahir.”

“Dan setelah Hana lahir?”

“Pengawasannya mulai longgar.”

Nisa menjelaskan bahwa rumah itu beberapa kali berganti penjaga.

Sekitar dua bulan terakhir, pembayaran kepada mereka rupanya mulai terlambat.

Salah satu penjaga berhenti datang.

Yang tersisa adalah seorang pria bernama Yanto.

Tiga malam lalu, Yanto meninggalkan rumah untuk waktu lama.

Nisa menemukan kunci cadangan di laci dapur.

Ia membawa Hana.

Berjalan hampir dua kilometer.

Menumpang kendaraan sayur menuju pasar.

Kemudian berganti bus sampai Surabaya.

“Kenapa datang ke sini?”

Pertanyaan itu membuatnya diam.

“Sebenarnya aku tidak tahu restoran ini punya kamu.”

Restoran baru kami memang dibuka sekitar delapan bulan lalu.

“Aku cuma lihat tulisan lowongan pekerja harian di kaca belakang.”

Saya menatapnya lama.

Dua tahun.

Dan yang mempertemukan kami bukan penyelidikan polisi.

Bukan detektif.

Bukan keluarga.

Sebuah kertas lowongan.

Hana bergerak dalam tidur.

Selimutnya bergeser.

Di pergelangan tangannya ada gelang kain lusuh.

Tulisan bolpoin hampir pudar.

HANA A.

“A itu apa?”

Nisa tersenyum kecil untuk pertama kalinya.

“Ardian.”

Saya tidak bisa menahannya lagi.

Saya berlutut di depan mereka.

Tapi sebelum menyentuh Hana, saya bertanya:

“Boleh?”

Nisa mengangguk.

Saya menyentuh tangan putri saya untuk pertama kalinya ketika usianya sudah lebih dari satu tahun.

Jari kecilnya menggenggam telunjuk saya tanpa membuka mata.

Saya menangis.

Diam-diam.

Lalu Nisa berkata:

“Aku punya sesuatu.”

Ia membuka bagian bawah tas kain yang jahitannya sudah dilepas.

Dari dalam lapisan tas, ia menarik sebuah kartu memori kecil yang dibungkus plastik.

“Dari mana?”

“Dari rumah itu.”

Malam sebelum kabur, ia melihat Yanto meninggalkan ponsel lama di meja.

Ponsel itu sudah tidak memiliki kartu SIM, tetapi masih menyimpan beberapa rekaman suara dan foto transfer.

Nisa tidak membawa ponselnya karena terlalu besar dan mudah diketahui.

Ia hanya mengambil kartu memorinya.

Saya memasukkannya ke laptop lama yang tidak terhubung dengan jaringan perusahaan.

Ada puluhan folder.

Foto rumah.

Struk.

Pesan.

Rekaman.

Saya membuka salah satu file suara.

Beberapa detik hanya terdengar suara kursi.

Kemudian suara laki-laki.

Yanto.

“Bu, kalau bulan depan tetap terlambat, saya keluar.”

Lalu terdengar suara perempuan.

Saya sudah mendengar suara itu sejak lahir.

“Jangan bodoh. Selama Nisa tidak kembali ke Ardi, kalian tetap dibayar.”

Saya membeku.

Nisa menutup mulut.

Rekaman berlanjut.

Yanto bertanya:

“Kalau anaknya bagaimana?”

Ibu saya menjawab dengan tenang.

“Anaknya justru alasan dia tidak akan berani macam-macam.”

Saya menghentikan rekaman.

Tangan saya dingin.

Tapi ternyata itu bukan file terburuk.

Ada sebuah foto lembar transfer bank.

Pengirimnya bukan atas nama ibu saya.

Melainkan sebuah perusahaan yang sangat saya kenal.

PT Sumber Karya Nusantara.

Perusahaan induk keluarga kami.

Dan di bawah foto itu ada pesan pendek.

JANGAN SAMPAI ARDI TAHU ALASAN SEBENARNYA NISA HARUS HILANG.

Saya menatap layar.

Nisa berbisik:

“Mas…”

Saya membuka file berikutnya.

Sebuah foto dokumen audit lama.

Di pojok kanan ada catatan tulisan tangan Nisa dari dua tahun lalu.

Dan ketika membaca angka di halaman pertama, akhirnya saya mengerti sesuatu yang bahkan lebih besar daripada penculikan itu.

Nisa tidak disingkirkan karena ibu saya membencinya.

Nisa disingkirkan karena dua hari sebelum menghilang, ia menemukan ke mana uang perusahaan sebesar Rp18,7 miliar sebenarnya mengalir.

Dan salah satu nama penerimanya membuat darah saya mendidih.

Itu nama saya sendiri.

Padahal saya tidak pernah menerima satu rupiah pun.

BAGIAN 2

NAMA SAYA DIPAKAI UNTUK MEMINDAHKAN MILIARAN RUPIAH, TAPI SAAT SAYA HENDAK MEMBAWA NISA KE POLISI, SATPAM MENGETUK PINTU DAN BERKATA: “PAK, IBU RATIH SUDAH DATANG.”

Saya belum sempat memproses angka Rp18,7 miliar itu ketika interkom berbunyi.

“Pak Ardi?”

Suara satpam restoran terdengar tegang.

“Ya?”

“Ibu Ratih ada di bawah.”

Nisa langsung berdiri.

Wajahnya pucat.

“Dia tahu.”

Saya melihat layar CCTV.

Ibu berdiri di lobi dengan pakaian rapi, tas kulit di tangan, ekspresi setenang orang yang datang untuk makan malam.

Dua pria dari keamanan perusahaan berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Mas, aku pergi lewat belakang.”

“Tidak.”

“Ardi—”

“Nisa, dua tahun saya kehilangan kamu karena saya terlalu percaya pada orang lain.”

Saya menatap matanya.

“Saya tidak akan mengulang kesalahan itu.”

Saya menelepon kepala keamanan restoran yang merupakan pegawai langsung saya, bukan perusahaan induk.

“Jangan izinkan siapa pun naik. Termasuk ibu saya.”

Lalu saya menghubungi seorang teman lama bernama Rendra, pengacara pidana yang tidak pernah bekerja untuk keluarga kami.

Saya hanya mengatakan satu kalimat.

“Saya butuh kamu datang ke restoran sekarang. Bawa orang yang kamu percaya.”

Setelah itu saya menelepon kepolisian.

Saya tidak memberi tahu ibu.

Saya ingin ia berbicara lebih dulu.

Lima menit kemudian ponsel saya berdering.

Ibu.

Saya mengaktifkan speaker.

“Di mana kamu?” tanyanya.

“Di kantor.”

“Kata satpam kamu tidak mau menemui Mama.”

“Saya sedang ada urusan.”

Hening.

Lalu ibu bertanya:

“Ada siapa di atas?”

Nisa mencengkeram ujung meja.

Saya menjawab tenang.

“Kenapa Mama tanya?”

“Tidak apa-apa.”

Lalu kalimat berikutnya membuat bulu kuduk saya berdiri.

“Ardi, kalau ada perempuan datang membawa bayi dan mengaku seseorang yang kamu kenal, jangan langsung percaya. Sekarang banyak penipu.”

Nisa menutup mulut agar tidak bersuara.

Saya menatap ponsel.

Ibu tahu.

Ia benar-benar tahu Nisa sudah lolos.

“Mama.”

“Ya?”

“Saya turun sebentar lagi.”

“Bagus.”

Nada suaranya kembali lembut.

Seperti ibu yang saya kenal seumur hidup.

Sebelum menutup telepon, ia berkata:

“Dan jangan lakukan sesuatu yang mempermalukan keluarga.”

Saya hampir tertawa.

Dua puluh menit kemudian Rendra datang bersama dua orang.

Tidak lama setelah itu polisi tiba.

Saya menyerahkan salinan awal kartu memori tanpa membiarkan barang aslinya lepas dari pengawasan.

Rendra meminta kami tidak melakukan konfrontasi sendiri.

Tapi sebelum kami bisa menyusun langkah berikutnya, terdengar keributan dari bawah.

Salah satu petugas keamanan perusahaan bersikeras ingin naik.

Ibu saya berteriak:

“Saya cuma mau bicara dengan anak saya!”

Untuk pertama kalinya saya turun.

Saya tidak membawa Nisa.

Ibu berdiri di tengah restoran yang sudah kami kosongkan dari pelanggan.

Begitu melihat dua polisi berpakaian sipil di dekat meja, wajahnya berubah sedikit.

Hanya sedikit.

“Ardi, ini apa?”

Saya berdiri beberapa meter darinya.

“Saya menemukan Nisa.”

Tidak ada keterkejutan.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada pertanyaan, “Nisa hidup?”

Hanya diam.

Itulah jawaban pertama saya.

Ibu akhirnya berkata:

“Perempuan itu sedang tidak stabil.”

Saya menatapnya.

“Jadi Mama sudah tahu dia hidup?”

Kesalahan kecil.

Tapi ibu menyadarinya terlambat.

“Bukan begitu maksud Mama.”

Saya mengeluarkan ponsel dan memutar potongan rekaman suara.

Selama Nisa tidak kembali ke Ardi, kalian tetap dibayar.

Wajah ibu saya akhirnya runtuh.

Bukan karena bersalah.

Karena marah.

Ia menatap saya dan berkata pelan:

“Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.”

“Mungkin.”

Saya melangkah mendekat.

“Tapi saya tahu satu hal. Nisa dan anak saya akan pulang bersama saya.”

Ibu menggeleng.

“Anak itu belum tentu anakmu.”

Saya merasakan amarah sampai ke ujung jari.

Namun saya tidak membalas.

Rendra menyentuh bahu saya.

Biarkan bukti yang bekerja.

Ibu dibawa untuk dimintai keterangan malam itu.

Bukan langsung karena semua perkara sudah terbukti, melainkan karena ada dugaan serius yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Saya pikir itulah akhir kejutan hari itu.

Ternyata belum.

Ketika polisi memeriksa kartu memori lebih teliti, mereka menemukan foto sebuah kontrak sewa rumah.

Pemilik rumah bukan ibu saya.

Penyewanya adalah sebuah perusahaan kecil bernama PT Langit Selatan Konsultan.

Saya mengenal direktur perusahaan itu.

Namanya Bagas Pranoto.

Adik kandung saya.

Dan ketika saya menelepon Bagas, nomor teleponnya sudah tidak aktif.

Sementara manajer keuangan perusahaan mengirim pesan kepada saya:

Pak Ardi, Pak Bagas baru saja meminta transfer Rp4 miliar ke rekening luar perusahaan. Katanya atas perintah Ibu Ratih. Kami tahan karena tanda tangannya tidak lengkap.

Saya membaca pesan itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Rendra berdiri di samping saya.

“Ardi.”

Saya menatapnya.

“Apa?”

“Kalau adikmu ikut terlibat, ini bukan cuma seorang ibu yang mencoba mengendalikan anaknya.”

Ia menunjuk dokumen audit Nisa.

“Ini operasi untuk menutup sesuatu.”

Pada saat yang sama, telepon Nisa berdering.

Nomor baru.

Ia mengangkatnya.

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Kemudian seorang laki-laki berkata:

“Nisa, bilang ke Ardi jangan buka lemari arsip di rumah Mama.”

Sambungan langsung terputus.

Saya dan Rendra saling berpandangan.

Karena kami berdua mengetahui sesuatu.

Di rumah ibu saya memang ada satu ruang arsip yang tidak pernah boleh dimasuki siapa pun.

Dan malam itu, polisi sedang menuju ke sana.

BAGIAN 3

LEMARI ARSIP IBU MENYIMPAN BUKAN CUMA BUKTI TENTANG HILANGNYA ISTRI SAYA, TAPI RENCANA MENJADIKAN SAYA KAMBING HITAM—DAN ORANG YANG MEMBUKA PINTU TERAKHIR TERNYATA ADIK SAYA SENDIRI

Saya tidak ikut polisi masuk ke rumah ibu malam itu.

Rendra melarang.

“Jangan sentuh apa pun sebelum ada prosedur yang benar.”

Untuk pertama kali dalam hidup, saya bersyukur memiliki seseorang di samping saya yang tidak takut pada nama Mercer—atau dalam kasus keluarga kami, nama Santoso.

Selama puluhan tahun, keluarga Santoso dikenal sebagai pemilik jaringan katering, gudang distribusi, serta beberapa properti komersial di Surabaya dan Malang.

Ibu adalah wajah keluarga itu.

Ramah di depan kamera.

Aktif di yayasan sosial.

Rajin mengadakan acara amal.

Orang-orang memanggilnya Bu Ratih dengan rasa hormat.

Tidak ada yang membayangkan perempuan berusia enam puluh tiga tahun itu mampu mengatur hilangnya menantu sendiri.

Termasuk saya.

Terutama saya.

Malam itu saya membawa Nisa dan Hana ke apartemen milik teman Rendra yang kosong.

Tidak ke rumah saya.

Tidak ke hotel milik keluarga.

Tidak ke tempat yang diketahui pegawai perusahaan.

Nisa mandi hampir satu jam.

Ketika keluar, ia mengenakan pakaian yang dibelikan staf perempuan Rendra.

Hana sudah bangun.

Putri saya duduk di lantai memainkan sendok plastik dan kotak tisu.

Saya duduk sekitar satu meter darinya.

Ia memandang saya dengan rasa ingin tahu.

Kemudian ia merangkak mendekat.

Nisa berhenti di pintu.

Hana memegang celana saya dan mencoba berdiri.

Saya mengangkatnya perlahan.

Ia tidak menangis.

Ia hanya menatap wajah saya, menyentuh hidung saya, lalu tertawa.

Saya hampir kehilangan kemampuan bicara.

Dua tahun yang dicuri dari saya tiba-tiba memiliki berat sekitar sembilan kilogram dan dua gigi kecil di bagian bawah.

Nisa duduk di sofa.

“Saya takut dia tidak akan kenal kamu.”

“Saya juga takut kamu tidak akan pernah percaya saya lagi.”

Nisa diam lama.

“Aku belum tahu.”

Jawaban itu menyakitkan.

Tapi saya menerimanya.

Karena saya tidak berhak menuntut pengampunan cepat dari perempuan yang selama dua tahun dibuat percaya suaminya telah meninggalkannya.

“Saya akan buktikan pelan-pelan.”

Malam itu polisi menemukan beberapa dokumen dari ruang arsip ibu.

Saya baru melihat salinannya keesokan hari bersama penyidik dan pengacara.

Ada daftar pembayaran sewa rumah di Batu.

Pembayaran kepada dua nama yang cocok dengan penjaga yang disebut Nisa.

Catatan biaya pemeriksaan kehamilan.

Nomor kendaraan.

Fotokopi identitas palsu yang digunakan saat Nisa menjalani kontrol.

Dan yang paling berat bagi saya:

salinan berita lama tentang hilangnya Nisa dengan beberapa catatan tulisan tangan ibu.

Di samping foto saya saat konferensi bisnis tertulis:

KIRIM KE NISA. POTONG BAGIAN ORANG LAIN.

Foto itulah yang digunakan untuk membuat Nisa percaya saya sudah memiliki perempuan lain.

Saya tidak bisa menatap dokumen itu lama-lama.

Tapi skandal keluarga kami ternyata memiliki lapisan kedua.

Audit yang dilakukan Nisa dua tahun lalu menemukan transaksi fiktif dari beberapa anak perusahaan.

Nilainya, setelah ditelusuri ulang, mencapai sekitar Rp18,7 miliar.

Sebagian uang dipindahkan melalui vendor palsu.

Sebagian masuk ke perusahaan konsultasi milik Bagas.

Dan beberapa transaksi menggunakan persetujuan digital atas nama saya.

Saya selama ini memimpin bagian pengembangan bisnis, sehingga secara administratif saya memiliki wewenang tinggi.

Kalau semuanya terbongkar tanpa dokumen asli, tanda tangan palsu dan persetujuan elektronik tersebut bisa membuat saya terlihat sebagai orang yang mengendalikan transaksi.

Ibu tidak hanya mencoba menyingkirkan Nisa.

Ia juga sedang menyiapkan saya sebagai pelindung terakhir bagi Bagas.

Anak kesayangannya.

Bagas ditemukan dua hari kemudian di sebuah vila sewaan di kawasan Tretes.

Ia tidak melarikan diri ke luar negeri seperti dugaan kami.

Ia justru bersembunyi.

Ketika diperiksa, Bagas pada awalnya menyangkal semuanya.

Sampai polisi menunjukkan catatan pembayaran rumah.

Kemudian bukti komunikasi.

Kemudian satu rekaman suara.

Suara ibu.

Suara Bagas.

Percakapan mereka terjadi beberapa minggu setelah Nisa menghilang.

Bagas terdengar gugup.

“Ma, sampai kapan Mbak Nisa harus di sana?”

Ibu menjawab:

“Sampai dokumennya aman.”

“Kalau Mas Ardi tahu?”

“Ardi tidak akan tahu.”

“Kalau dia cari?”

Lalu ibu saya mengucapkan kalimat yang tidak pernah bisa saya lupakan.

“Anak laki-laki kalau sedang berduka mudah diarahkan. Biar Mama yang urus.”

Saya harus keluar dari ruangan setelah mendengarnya.

Saya muntah di toilet kantor polisi.

Bukan karena saya baru mengetahui ibu saya jahat.

Saya muntah karena saya menyadari betapa tepat perhitungannya tentang saya.

Saya memang mudah diarahkan.

Ketika Nisa hilang, saya berhenti makan.

Berhenti bekerja.

Berhenti memperhatikan perusahaan.

Ibu datang setiap hari.

Menyaring telepon.

Menyampaikan perkembangan pencarian.

Mengurus komunikasi keluarga.

Setelah beberapa bulan, saya bahkan memberikan kepadanya kuasa lebih besar untuk mengurus beberapa kepentingan bisnis karena saya merasa tidak sanggup.

Ia tidak memanfaatkan kelemahan saya secara kebetulan.

Ia merencanakannya.

Kesaksian Bagas akhirnya membuka semuanya.

Ia mengaku menemukan audit Nisa lebih dulu.

Saat itu sejumlah uang perusahaan telah digunakan untuk menutup investasi pribadinya yang gagal.

Ia panik.

Ibu memilih melindunginya.

Awalnya, menurut Bagas, rencananya hanya membuat Nisa pergi beberapa hari sambil mereka mencari dokumen audit asli.

Namun setelah Nisa tahu terlalu banyak dan mengancam akan melapor secara resmi, rencana berubah.

Nisa dibuat tidak bisa menghubungi saya.

Mobilnya dibawa ke lokasi lain untuk menciptakan kesan bahwa ia mengalami kecelakaan saat perjalanan.

Barang pribadinya sengaja ditinggalkan.

Tidak pernah ada jasad.

Tidak ada proses identifikasi resmi terhadap tubuh.

Tapi keluarga menyebarkan keyakinan bahwa kemungkinan hidupnya sangat kecil.

Saya sendiri yang, dalam keadaan hancur, akhirnya menyetujui makam simbolis.

Ibu kemudian mengubah kesedihan menjadi “kepastian”.

Di antara keluarga besar, ia selalu berkata:

“Nisa sudah tidak ada.”

Orang mengulangnya.

Lama-lama kebohongan terdengar seperti fakta.

Untuk urusan administrasi tertentu, ternyata status Nisa belum pernah benar-benar berubah menjadi meninggal secara sah.

Hal itu justru memperkuat perkara terhadap mereka.

Karena menunjukkan ibu tidak pernah memiliki bukti kematian yang sebenarnya.

Yang ia miliki hanya cerita.

Cerita yang dibuat cukup kuat agar semua orang berhenti mencari.

Yanto ditangkap sekitar satu minggu kemudian.

Penjaga satunya menyerahkan diri setelah mengetahui kasus itu telah terbuka.

Dari keduanya, polisi mendapatkan keterangan tentang pola pengawasan rumah, pembayaran, dan perintah yang mereka terima.

Perempuan yang beberapa kali menemani Nisa ke klinik juga ditemukan.

Ia bekerja sebagai pengurus rumah tangga sementara dan mengaku diberi tahu bahwa Nisa adalah kerabat dengan masalah keluarga.

Namun beberapa bulan kemudian, ia mulai curiga karena Nisa tidak pernah boleh memegang telepon.

Kesaksiannya penting.

Yang paling tidak saya duga adalah seorang bidan dari klinik kecil dekat Batu datang sendiri ke polisi.

Ia mengingat Nisa.

“Matanya selalu lihat pintu,” katanya.

“Saya pikir dia takut sama suaminya.”

Kalimat itu menghancurkan saya dengan cara berbeda.

Selama dua tahun, orang-orang melihat tanda-tanda.

Tapi tidak ada satu pun orang memiliki potongan cerita yang lengkap.

Termasuk saya.

Proses hukum tidak selesai dalam satu malam.

Tidak juga dalam satu minggu.

Berbulan-bulan kami menghadapi pemeriksaan, audit forensik, pendalaman transaksi, pemeriksaan saksi, pencocokan rekaman, dan pengujian tanda tangan.

Saya juga menjalani tes DNA secara sukarela.

Bukan karena saya meragukan Nisa.

Saya ingin tidak ada satu pun celah yang kelak bisa digunakan keluarga untuk menyerang Hana.

Hasilnya mengonfirmasi saya ayah biologisnya.

Ketika membaca kertas itu, Nisa hanya berkata:

“Aku sudah tahu.”

Saya tertawa sambil menangis.

Hubungan kami tidak langsung kembali seperti dulu.

Ini bagian yang tidak pernah diceritakan orang dalam kisah-kisah dramatis.

Menemukan orang yang kita cintai bukan berarti trauma mereka langsung hilang.

Nisa tidak bisa tidur jika pintu kamar terkunci.

Ia panik ketika ponselnya kehabisan baterai.

Ia tidak suka seseorang berdiri di belakangnya.

Kalau saya terlambat pulang tanpa memberi kabar, wajahnya langsung berubah.

Dan ada hari-hari ketika ia marah kepada saya.

Benar-benar marah.

“Kenapa kamu berhenti mencari?”

Saya tidak menjawab dengan alasan.

Karena alasan tidak mengubah apa yang ia alami.

Saya hanya berkata:

“Saya seharusnya tidak berhenti.”

Kami mulai konseling.

Terpisah dahulu.

Kemudian bersama.

Saya belajar bahwa mencintai Nisa setelah ia kembali bukan tentang memintanya menjadi perempuan yang dulu.

Perempuan yang dulu sudah melewati sesuatu yang seharusnya tidak dialami siapa pun.

Saya harus mengenal Nisa yang sekarang.

Sementara urusan perusahaan, saya mengundurkan diri sementara dari posisi direksi sampai audit selesai.

Transaksi atas nama saya akhirnya dapat dibuktikan tidak saya lakukan.

Beberapa tanda tangan tidak cocok.

Akses sistem berasal dari perangkat yang bukan milik saya.

Sejumlah transfer dilakukan pada hari ketika saya tercatat sedang berada di luar kota.

Bagas akhirnya bekerja sama dalam penyidikan setelah menyadari ibunya tidak bisa lagi melindunginya.

Saya tidak memaafkannya.

Setidaknya belum.

Tapi saya tidak menghalangi proses hukum hanya karena dia adik saya.

“Keluarga tidak boleh dihancurkan,” kata salah satu paman saya.

Saya menjawab:

“Keluarga sudah dihancurkan dua tahun lalu. Yang terjadi sekarang cuma kita akhirnya berhenti menutupinya.”

Ibu berkali-kali meminta bertemu dengan saya.

Saya menolak.

Sampai suatu hari saya setuju.

Bukan di rumah.

Bukan sendirian.

Saya bertemu dengannya di ruangan resmi dengan pendamping hukum.

Ia tampak jauh lebih tua.

Tapi ia masih mencoba menjadi ibu saya.

“Ardi,” katanya, “Mama melakukan semuanya untuk keluarga.”

Saya menatap perempuan yang membesarkan saya.

“Untuk keluarga yang mana?”

Matanya memerah.

“Bagas melakukan kesalahan. Mama hanya mencoba menyelamatkan semua orang.”

“Dengan mengambil istri dan anak saya?”

“Mama tidak pernah menyuruh mereka menyakiti Nisa.”

Saya menghela napas.

“Dua tahun hidupnya diambil.”

Ibu mulai menangis.

“Kalau transaksi itu terbongkar saat itu, perusahaan kita bisa habis.”

“Jadi Mama memilih istri saya yang habis?”

Ia tidak menjawab.

Kemudian muncul kalimat terakhir yang menghancurkan sisa rasa iba saya.

“Perusahaan itu dibangun ayahmu puluhan tahun.”

Saya berdiri.

“Dan Hana baru punya hidup satu tahun ketika Mama menjadikannya alat untuk membungkam ibunya.”

Saya berjalan menuju pintu.

Ibu memanggil nama saya.

Saya berhenti tetapi tidak berbalik.

“Mama kehilangan saya bukan saat polisi datang.”

Saya berkata pelan.

“Mama kehilangan saya saat Mama memutuskan keluarga berarti melindungi uang lebih dulu daripada manusia.”

Proses pengadilan kemudian berjalan berdasarkan peran masing-masing.

Ibu, Bagas, serta pihak-pihak lain menghadapi konsekuensi hukum berdasarkan bukti dan keterlibatan mereka.

Aset yang berkaitan dengan transaksi bermasalah dibekukan untuk penyelidikan.

Perusahaan direstrukturisasi.

Sebagian bisnis dijual untuk menutup kewajiban serta memulihkan kerugian.

Nama besar keluarga kami tidak lagi terlihat seindah sebelumnya.

Dan saya tidak peduli.

Satu tahun setelah saya bertemu kembali dengan Nisa di depan restoran, kami datang ke makam simbolis yang dulu dibuat keluarga.

Saya membawa palu kecil.

Nisa berdiri di samping saya.

Hana, yang sekarang sudah bisa berjalan, sibuk menginjak rumput sambil memegang boneka kelinci.

Di batu itu masih tertulis nama lengkap Nisa.

Nisa menatapnya lama.

“Seram juga lihat nama sendiri di batu nisan.”

Saya tertawa kecil.

Lalu meminta petugas makam membongkarnya.

Bukan karena kami ingin melupakan dua tahun itu.

Justru sebaliknya.

Kami ingin berhenti hidup mengikuti kebohongan yang dibuat orang lain.

Setelah itu kami pergi makan bakso.

Sederhana.

Hana menumpahkan kuah ke bajunya.

Nisa tertawa sampai menangis.

Saya menatap mereka dari seberang meja dan menyadari sesuatu.

Dulu saya pikir akhir bahagia berarti semuanya kembali seperti sebelum Nisa menghilang.

Ternyata bukan.

Kami tidak pernah kembali.

Kami membangun sesuatu yang baru.

Nisa kemudian membuka jasa konsultasi pembukuan kecil bersama teman lamanya.

Bukan bagian dari perusahaan keluarga saya.

Bukan perusahaan yang saya biayai diam-diam.

Miliknya sendiri.

Saya mempertahankan satu restoran dan melepaskan sebagian besar posisi saya dalam bisnis keluarga.

Saya ingin pulang sebelum Hana tidur.

Kadang-kadang hidup yang lebih kecil terasa jauh lebih kaya.

Pada ulang tahun Hana yang ketiga, ia berlari ke arah saya sambil membawa gambar tiga orang bergandengan tangan.

Satu perempuan.

Satu laki-laki.

Satu anak kecil.

Di atasnya ada rumah dengan atap merah yang terlalu besar.

“Ini siapa?” saya bertanya.

Hana menunjuk satu per satu.

“Mama.”

“Papa.”

“Hana.”

Lalu dia menunjuk rumah.

“Rumah kita.”

Saya melihat Nisa berdiri di pintu dapur.

Ia tersenyum.

Dua tahun sebelumnya, saya berdiri di depan makam kosong dan percaya rumah saya sudah hilang selamanya.

Ternyata rumah bukanlah gedung keluarga.

Bukan saham.

Bukan nama besar.

Bukan perusahaan bernilai miliaran rupiah.

Rumah adalah seorang perempuan yang kembali kepada saya dengan keberanian yang hampir habis tetapi belum mati.

Rumah adalah seorang anak kecil yang saya temui terlambat, tetapi masih memberi saya kesempatan menjadi ayahnya.

Dan kadang-kadang keadilan bukan berarti mendapatkan kembali seluruh waktu yang dicuri.

Waktu itu tidak pernah kembali.

Keadilan adalah memastikan orang yang mencurinya tidak lagi menentukan bagaimana kami menjalani hari berikutnya.

Malam itu Hana tertidur di antara saya dan Nisa di sofa.

Televisi masih menyala tanpa suara.

Saya mengambil selimut dan menutupi kaki mereka.

Nisa membuka mata.

“Mas.”

“Hmm?”

“Dulu waktu kabur, aku cuma punya satu rencana.”

“Apa?”

“Cari pekerjaan. Kasih Hana makan.”

Saya menatapnya.

Ia tersenyum kecil.

“Aku sama sekali tidak berharap menemukan kamu.”

Saya menggenggam tangannya.

“Mungkin bagus.”

“Kenapa?”

“Kalau kamu sengaja mencari saya, saya akan habiskan sisa hidup merasa saya yang menyelamatkan kamu.”

Saya melihat Hana tidur di antara kami.

“Padahal kenyataannya, kamu sendiri yang membawa kalian berdua keluar.”

Nisa terdiam.

Kemudian menggenggam tangan saya lebih erat.

Untuk pertama kalinya sejak ia kembali, ia menyandarkan kepala ke bahu saya tanpa ragu.

Tidak ada makam.

Tidak ada kebohongan.

Tidak ada pintu yang dikunci dari luar.

Hanya rumah kecil kami, suara AC, napas anak kami yang teratur, dan dua orang yang akhirnya memahami bahwa keluarga bukanlah orang-orang yang menuntut kita menutupi kesalahan mereka.

Keluarga adalah orang-orang yang membuat kita aman untuk pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *