Part : 2 Menantuku Menyuruh Putriku yang Hamil Tua Mengepel Demi Bisa Makan—Dia Tak Tahu Ayah Mertuanya Pernah Melatih Prajurit Menghadapi Tekanan Terberat

Menantuku Menyuruh Putriku yang Hamil Tua Mengepel Demi Bisa Makan—Dia Tak Tahu Ayah Mertuanya Pernah Melatih Prajurit Menghadapi Tekanan Terberat

“Kalau masih ada satu noda, jangan harap kamu makan malam.”

Aku mendengar kalimat itu tepat ketika putriku yang sedang hamil delapan bulan berusaha berlutut sambil memegang pinggangnya.

Sementara itu, suaminya, Dimas, santai di sofa sambil bermain gim.

Aku tidak langsung marah.

Aku hanya berjalan ke televisi… lalu mencabut kabel konsolnya.

Layar mendadak gelap.

“Bapak gila, ya?!” Dimas berdiri dan membentakku. “Tahu nggak berapa mahal barang itu?”

Namaku Arman. Selama bertahun-tahun aku bekerja sebagai pelatih di lingkungan militer sebelum pensiun. Tapi sejak putriku, Nadia, menikah, aku tidak pernah merasa perlu menceritakan banyak hal tentang masa laluku kepada menantuku.

Aku ingin menjadi seorang ayah biasa.

Sampai sore itu.

Aku datang ke rumah mereka di Bekasi membawa perlengkapan bayi. Rencananya sederhana: membantu Nadia merakit ranjang bayi sebelum cucu pertamaku lahir.

Namun begitu Nadia membuka pintu, firasatku langsung berubah.

Wajahnya pucat. Kakinya bengkak. Gerakannya pelan seperti setiap langkah membuat tubuhnya tidak nyaman.

Dari ruang keluarga terdengar suara gim keras.

“Nad! Ambilin minum!” teriak Dimas.

“Iya, Mas.”

Nadia langsung bergerak.

Aku menahannya. “Biar Papa saja.”

“Nggak usah, Pa.”

Nada suaranya terdengar seperti permohonan.

Ketika kami masuk ke dapur, Nadia mengangkat tangan untuk mengambil gelas. Lengan bajunya tersingkap.

Aku melihat beberapa bekas samar di lengannya.

“Nadia.”

Dia buru-buru menarik lengan bajunya.

“Itu apa?”

“Kesenggol pintu lemari.”

Aku menatapnya.

Dia tidak berani menatap balik.

Lalu Dimas berteriak lagi.

“Nadia! Lama banget!”

Putriku tersentak.

Reaksi kecil itu membuat dadaku terasa jauh lebih berat daripada apa pun yang baru saja kulihat.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Belum.

Beberapa menit kemudian, Dimas melihat noda kecil di dekat meja ruang keluarga.

Dia menunjuk lantai.

“Kemarin aku sudah bilang dibersihkan.”

Nadia mengambil kain pel.

Aku kira Dimas akan membantunya.

Ternyata dia kembali duduk.

“Yang bersih. Kalau masih ada noda, nggak usah makan malam.”

Nadia perlahan mencoba berjongkok.

Aku berdiri.

Berjalan melewati putriku.

Kemudian mencabut kabel konsol gim itu.

Sunyi.

Dimas menatapku seolah tidak percaya.

“Bapak ngapain?!”

“Aku sedang menghentikan permainan.”

“Ini rumah saya!”

“Dan dia putriku.”

Wajahnya berubah.

Dimas melangkah mendekat dan mencoba mendorongku.

Kesalahan besar.

Refleks dari puluhan tahun latihan masih tersimpan dalam tubuhku. Aku menghindar, menahan gerakannya, lalu membuatnya berhenti sebelum situasi berkembang lebih jauh.

Dimas terdiam.

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa ragu di matanya.

Aku mendekat dan berkata pelan,

“Mulai hari ini, aturan di rumah ini berubah.”

“Bapak mengancam saya?”

“Tidak.”

Aku menunjuk Nadia.

“Aku sedang memastikan putriku aman.”

Namun Nadia tiba-tiba menarik lenganku.

“Papa… jangan.”

Aku menoleh.

Wajahnya bukan hanya ketakutan.

Ada sesuatu yang lain.

“Kenapa?”

Air matanya mulai turun.

“Karena kalau Papa membuat Dimas pergi sekarang… semuanya malah bisa lebih buruk.”

Aku membeku.

“Apa maksudmu?”

Nadia menatap suaminya.

Dimas justru tersenyum tipis.

Kemudian dia mengambil ponselnya dari meja.

“Bagus,” katanya. “Sekalian saja kasih tahu bapakmu.”

“Nggak, Mas.”

Terlambat.

Dimas membuka sebuah folder di ponselnya dan menunjukkan layar kepadaku.

Ada foto dokumen.

Ada tanda tangan Nadia.

Ada angka Rp380 juta.

Dan ada satu nama yang langsung membuatku sadar bahwa masalah di rumah ini ternyata jauh lebih besar daripada perlakuan Dimas kepada putriku.

Aku baru hendak mengambil ponsel itu ketika Nadia berbisik,

“Pa… tanda tangan itu bukan aku yang buat.”

Tanganku berhenti.

Karena pada detik berikutnya, Dimas mengatakan satu kalimat yang mengubah semuanya.

“Kalau begitu, coba tanya siapa yang memberikan dokumen aslinya kepada saya.”

Aku menatap nama yang tertera di layar.

Dan aku mengenalnya.

Sangat mengenalnya.

Nama yang tertera di layar itu membuat tengkukku dingin.

RUDI HARTONO.

Adik kandungku sendiri.

Selama beberapa detik, aku tidak mendengar apa pun selain napas Nadia yang tersengal di belakangku.

Aku menatap Dimas.

“Dari mana kamu dapat dokumen ini?”

Dia tersenyum kecil.

“Tanya adik Bapak.”

Aku meraih ponselnya, tetapi Dimas segera menarik tangannya.

“Jangan sentuh barang saya.”

“Mas, cukup!” Nadia berseru.

Aku menoleh kepadanya.

Putriku memegangi perutnya dengan satu tangan. Wajahnya semakin pucat.

Aku tidak lagi memikirkan Dimas.

“Nadia, duduk.”

“Aku nggak apa-apa, Pa.”

“Duduk.”

Kali ini dia menurut.

Aku mengambil segelas air, lalu berjongkok di depannya.

“Sekarang ceritakan semuanya.”

Nadia memandang Dimas.

Itu membuatku semakin yakin bahwa masalah ini sudah berlangsung jauh lebih lama daripada yang kukira.

Dimas mengambil konsol gimnya dari lantai.

“Tidak ada yang perlu diceritakan.”

Aku berdiri.

“Saya tidak bicara dengan kamu.”

“Ini istri saya.”

“Dan dia tetap anak saya.”

Dimas mendengus.

“Bapak pikir datang ke sini, menunjukkan gaya tentara, lalu semua masalah selesai?”

Aku tidak menjawab.

Karena kali ini dia benar tentang satu hal.

Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan membuatnya takut.

Aku membutuhkan bukti.

“Nadia.”

Putriku akhirnya menatapku.

“Tiga bulan lalu,” katanya pelan, “Mas Dimas bilang dia mau buka usaha distribusi makanan beku bersama temannya.”

Dimas langsung menyela.

“Usahanya masih jalan.”

“Diam dulu, Mas.”

Aku hampir tidak mengenali nada suara Nadia.

Masih takut, tetapi untuk pertama kalinya ada perlawanan di sana.

Dia melanjutkan.

“Dia butuh modal. Katanya sekitar Rp150 juta.”

“Dari mana uangnya?”

“Aku bilang kami tidak punya.”

Nadia menunduk.

“Lalu Om Rudi datang.”

Aku merasa rahangku menegang.

Adikku bekerja sebagai perantara penjualan properti di Tangerang. Dia selalu pandai bicara, selalu punya “peluang bagus”, dan selalu mengenal seseorang yang bisa mengurus sesuatu dengan cepat.

Aku tidak pernah percaya kepadanya soal uang.

Tapi Nadia menyayanginya.

Sejak kecil, dia memanggilnya Om Rudi dan menganggapnya seperti ayah kedua.

“Apa yang dia lakukan?”

“Om bilang bisa membantu mencarikan pinjaman.”

“Jaminannya?”

Nadia tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya pasti buruk.

“Nadia.”

“Rumah ini.”

Aku menatap sekeliling.

Rumah dua lantai sederhana di Bekasi itu bukan milik Dimas.

Aku membelinya beberapa tahun sebelumnya sebagai investasi, lalu ketika Nadia menikah, aku mengizinkan mereka tinggal di sana.

Sertifikatnya tetap atas namaku.

“Rumah ini tidak bisa dijadikan jaminan tanpa persetujuanku.”

“Itu yang aku bilang.”

“Lalu?”

Nadia menunjuk ponsel Dimas.

“Makanya aku juga nggak ngerti dokumen itu.”

Aku menoleh kepada Dimas.

“Buka lagi.”

“Tidak.”

Aku tidak bergerak mendekatinya.

Aku hanya mengeluarkan ponselku sendiri.

“Baik. Saya telepon Rudi sekarang.”

Wajah Dimas berubah.

Hanya sedikit.

Tapi aku melihatnya.

Aku menekan nama adikku.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tidak dijawab.

Lalu sebuah pesan WhatsApp masuk.

Bukan dari Rudi.

Dari nomor tak dikenal.

Pak Arman, jangan tanda tangan dokumen apa pun dari keluarga Anda sebelum kita bicara.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Di bawahnya ada nama:

FARHAN PRATAMA.

Aku tidak mengenalnya.

“Siapa Farhan?” tanyaku.

Gelas di tangan Nadia hampir terlepas.

Aku menatapnya.

“Kamu kenal?”

Dia menggeleng terlalu cepat.

“Nggak.”

Dimas tertawa pendek.

“Oh, sekarang mulai menarik.”

“Apa maksudmu?”

Dimas berjalan ke meja dan mengambil sebuah map abu-abu yang terselip di antara tumpukan majalah.

Dia melemparkannya ke meja.

“Buka.”

Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi.

Surat perjanjian.

Salinan KTP.

Dokumen terkait rumah.

Dan halaman terakhir berisi tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.

Aku tidak menyentuhnya selama beberapa detik.

Dimas menyilangkan tangan.

“Masih mau bilang saya satu-satunya orang jahat di sini?”

Aku mengangkat dokumen itu.

Tanda tangannya memang mirip.

Sangat mirip.

Tapi bukan milikku.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

Nadia menutup mulutnya.

Dimas justru terlihat tenang.

“Buktikan.”

Aku mengambil foto setiap halaman.

Kemudian aku melihat sesuatu.

Tanggal.

Dokumen itu dibuat pada hari ketika aku berada di Bandung menghadiri reuni kecil bersama beberapa teman lama.

Aku punya tiket kereta.

Foto.

Transaksi hotel.

Banyak cara sederhana untuk menunjukkan keberadaanku saat itu.

Tetapi itu belum menjawab pertanyaan terpenting.

Siapa yang membuat tanda tangan itu?

Dan untuk apa sebenarnya Rp380 juta tersebut?

Aku menatap Dimas.

“Kamu sudah menerima uangnya?”

Dia tidak menjawab.

“Dimas.”

“Sebagian.”

“Berapa?”

“Rp220 juta.”

Nadia langsung berdiri.

“Apa?”

Aku menoleh kepadanya.

Wajah Nadia benar-benar terkejut.

“Kamu bilang baru cair Rp80 juta!”

Dimas menatapnya tanpa rasa bersalah.

“Aku nggak perlu laporan setiap transaksi ke kamu.”

“Itu utang atas nama siapa?”

Dimas diam.

Nadia mengambil map itu dan membolak-balik halaman dengan tangan gemetar.

“Mas… atas nama siapa?”

“Perusahaan.”

“Perusahaan siapa?”

Sunyi.

Lalu Nadia menemukan jawabannya.

Dia berhenti pada satu halaman.

“PT Daya Boga Nusantara?”

Aku belum pernah mendengar nama itu.

Nadia juga tampaknya tidak.

Tetapi ketika dia melihat nama direktur yang tercantum di bawahnya, wajahnya kehilangan warna.

Aku mendekat.

Direktur perusahaan itu adalah:

RUDI HARTONO.

Adikku.

Aku segera menelepon lagi.

Kali ini dia mengangkat.

“Bang.”

“Datang ke rumah Nadia.”

Hening.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

“Ada apa?”

“Kamu tahu ada apa.”

Rudi terdiam.

Lalu sambungan terputus.

Dimas tersenyum.

“Dia nggak akan datang.”

“Kita lihat.”

Aku membawa Nadia ke kamar dan menyuruhnya beristirahat.

Begitu pintu tertutup, aku bertanya pelan,

“Dia pernah memperlakukanmu seperti tadi sebelumnya?”

Nadia tidak menjawab.

Aku duduk di kursi di depannya.

“Aku tidak akan memaksamu cerita semuanya sekarang. Tapi aku perlu tahu apakah kamu merasa aman tinggal di sini malam ini.”

Bibirnya bergetar.

Akhirnya dia menggeleng.

Itu cukup.

“Kemas barang penting. Dokumen pribadi, pakaian, obat, buku pemeriksaan kehamilan. Kamu ikut Papa.”

“Tapi, Pa…”

“Nggak ada tapi.”

“Rumah ini…”

“Rumah bisa diurus. Kamu dan bayimu dulu.”

Air matanya jatuh.

Untuk pertama kalinya sore itu, Nadia memelukku.

“Maaf.”

Aku memegang bahunya.

“Jangan minta maaf karena minta bantuan.”

Saat Nadia mengemas barang, aku kembali ke ruang keluarga.

Dimas sedang menelepon seseorang di teras.

Begitu melihatku, dia mematikan panggilan.

“Siapa?”

“Teman.”

Aku memperhatikan meja.

Map abu-abu sudah hilang.

“Kembalikan map tadi.”

“Nggak tahu.”

Aku tertawa kecil.

Kesalahan orang seperti Dimas adalah menganggap semua orang lain sama cerobohnya dengan dirinya.

“Aku sudah memotret setiap halaman.”

Ekspresinya langsung berubah.

Tepat saat itu, bel rumah berbunyi.

Aku membuka pintu.

Bukan Rudi.

Seorang pria sekitar empat puluh tahun berdiri di luar mengenakan kemeja putih dan membawa tas kerja.

“Pak Arman?”

“Ya.”

“Saya Farhan.”

Aku langsung teringat pesan tadi.

“Farhan Pratama?”

Dia mengangguk.

Dimas muncul dari belakangku.

Begitu melihat Farhan, dia langsung berkata,

“Keluar.”

Farhan tidak bergerak.

“Pak Arman mengizinkan saya masuk?”

Aku menatap Dimas, lalu membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Farhan duduk di meja makan.

Dia memperkenalkan dirinya sebagai konsultan legal yang beberapa kali membantu memeriksa dokumen transaksi usaha dan properti. Beberapa minggu sebelumnya, seseorang meminta dia mengecek berkas terkait pinjaman perusahaan.

“Siapa?”

Farhan membuka tasnya.

“Pak Rudi.”

Dimas berdiri.

“Saya nggak mau dengar omong kosong ini.”

Farhan menatapnya.

“Mas Dimas, justru nama Anda ada di beberapa dokumen yang saya bawa.”

Dimas berhenti.

Farhan mengeluarkan sebuah amplop.

“Awalnya saya kira transaksi biasa. Tapi ada ketidaksesuaian tanda tangan dan dokumen pendukung. Saya minta verifikasi tambahan. Pak Rudi kemudian meminta saya menghentikan pemeriksaan.”

“Kenapa Anda menghubungi saya?”

“Karena nama Bapak muncul sebagai pemilik aset yang dijadikan dasar untuk meyakinkan pemberi dana.”

Aku menatapnya.

“Apakah rumah saya sudah berpindah tangan?”

“Setahu saya, belum.”

Aku sedikit lega.

“Namun ada masalah lain.”

Tentu saja.

Selalu ada masalah lain.

Farhan mengeluarkan salinan rekening koran perusahaan.

Dia menunjuk beberapa transaksi.

Rp80 juta.

Rp45 juta.

Rp60 juta.

Rp35 juta.

Totalnya lebih dari Rp200 juta.

“Dana yang dicairkan tidak semuanya masuk ke bisnis.”

Nadia keluar dari kamar sambil membawa tas kecil.

“Masuk ke mana?”

Farhan ragu.

Aku berkata, “Tunjukkan.”

Dia membalik halaman.

Beberapa transfer menuju rekening berbeda.

Salah satunya atas nama Dimas.

Satu lagi atas nama Rudi.

Dan satu rekening lain atas nama seorang perempuan.

MAYA KUSUMA.

Nadia menatap nama itu lama.

Aku melihat tangannya mulai gemetar.

“Kamu kenal?”

Dia mengangguk.

“Maya itu… sepupu Dimas.”

Dimas segera berkata,

“Jangan mulai.”

Nadia menoleh kepadanya.

“Katanya dia cuma pinjam Rp10 juta.”

“Memang.”

Farhan menunjuk angka di kertas.

“Transfer yang saya temukan totalnya Rp67 juta.”

Nadia seperti kehilangan kemampuan bicara.

Aku memandang Dimas.

“Untuk apa?”

“Urusan keluarga.”

“Dengan uang pinjaman yang memakai dokumen palsu?”

“Saya nggak memalsukan apa pun!”

Untuk pertama kalinya, suaranya pecah.

Aku menangkap sesuatu dari reaksinya.

Ketakutan.

Bukan kemarahan.

Dia tahu lebih banyak.

“Kalau bukan kamu, siapa?”

Dimas menatap pintu.

Dan seolah dipanggil oleh pertanyaan itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Rudi turun.

Adikku masuk tanpa mengetuk.

Begitu melihat Farhan, wajahnya berubah.

“Ngapain kamu di sini?”

Farhan berdiri.

“Saya rasa Pak Arman berhak tahu.”

Rudi meletakkan kunci mobil di meja.

“Tahu apa?”

Aku mendorong fotokopi dokumen ke arahnya.

“Mulai dari tanda tangan palsu ini.”

Rudi menatapnya.

Tidak terkejut.

Itulah bagian yang paling menyakitkan.

Dia sudah tahu.

“Bang, dengarkan dulu.”

“Aku mendengarkan.”

“Dimas punya usaha bagus. Cuma butuh modal.”

“Jadi kamu memakai rumahku?”

“Belum ada yang mengambil rumahmu.”

“Bukan itu pertanyaannya.”

Rudi menghela napas.

“Kita keluarga.”

Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.

“Justru karena kita keluarga, kamu pikir kamu boleh memakai namaku?”

“Aku berencana mengembalikan semuanya.”

“Dengan apa?”

Rudi diam.

Farhan kemudian mengeluarkan satu dokumen lagi.

“Saya rasa bagian ini yang harus dilihat Pak Arman.”

Rudi langsung bergerak.

“Jangan.”

Terlambat.

Farhan menyerahkan dokumen itu kepadaku.

Itu bukan dokumen pinjaman.

Itu daftar kewajiban perusahaan.

Aku membaca angka di bagian bawah.

Rp742.500.000.

Aku menatap Rudi.

“Utangnya tujuh ratus empat puluh dua juta?”

Nadia terisak.

Dimas duduk perlahan.

Sekarang semuanya mulai masuk akal.

Rp380 juta bukan modal pertama.

Itu uang untuk menutup lubang lama.

“Sejak kapan?”

Rudi mengusap wajah.

“Delapan bulan.”

Delapan bulan.

Aku menoleh kepada Nadia.

Delapan bulan lalu adalah saat kehamilannya dimulai.

Aku tiba-tiba memahami kenapa Dimas begitu terobsesi mengontrol pengeluaran rumah, kenapa Nadia selalu mengatakan mereka sedang berhemat, kenapa perlengkapan bayi belum juga lengkap meski tanggal persalinannya semakin dekat.

Tetapi satu hal masih tidak masuk akal.

“Kenapa melibatkan Nadia?”

Dimas menatap lantai.

Rudi tidak menjawab.

Farhan menutup tasnya.

“Ada satu dokumen yang belum saya tunjukkan.”

Rudi langsung berdiri.

“Farhan, cukup.”

Nada suaranya berbeda.

Panik.

Farhan memandangku.

“Sebelum saya datang, saya menerima file dari mantan staf administrasi perusahaan. Dia menyimpan salinan percakapan dan beberapa dokumen karena merasa ada yang tidak beres.”

Dimas berdiri.

“Dia bohong.”

“Kalau begitu kita lihat bersama.”

Farhan mengeluarkan tablet.

Dia membuka sebuah folder.

Ada puluhan tangkapan layar percakapan.

Aku membaca satu per satu.

Rudi: Nadia harus percaya ini buat usaha Dimas.

Dimas: Dia mulai banyak tanya.

Rudi: Jangan kasih tahu total utangnya.

Lalu sebuah pesan membuat darahku serasa berhenti mengalir.

Dimas: Kalau Pak Arman nggak mau tanda tangan?

Rudi: Kita pakai cara yang sudah dibahas. Contoh tanda tangannya ada.

Aku menatap adikku.

“Kamu mengambil contoh tanda tanganku dari mana?”

Rudi pucat.

Tidak menjawab.

Farhan menggulir layar.

Ada foto sebuah dokumen lama.

Aku mengenalinya.

Surat yang pernah kutandatangani bertahun-tahun lalu.

Dokumen itu seharusnya hanya tersimpan di satu tempat.

Di lemari arsip rumahku sendiri.

Seseorang pernah masuk ke rumahku dan memotretnya.

Namun sebelum aku sempat bertanya, Nadia tiba-tiba berkata,

“Pa…”

Aku menoleh.

Dia memegang perutnya.

Wajahnya meringis.

“Nadia?”

“Aku… sakit.”

Aku langsung menghampirinya.

Farhan berdiri.

“Kita harus bawa ke rumah sakit.”

Aku tidak menunggu.

Aku mengambil tas Nadia dan membawanya keluar.

Dimas mencoba mengikuti.

Nadia justru berhenti.

“Jangan.”

Satu kata.

Dimas membeku.

“Sayang…”

“Jangan ikut aku.”

Aku membawa Nadia ke rumah sakit terdekat.

Setelah diperiksa, dokter meminta Nadia beristirahat dan dipantau karena kondisinya perlu dijaga agar tidak semakin tertekan.

Aku duduk di luar ruang pemeriksaan sambil menatap ponsel.

Ada dua belas panggilan dari Rudi.

Delapan dari Dimas.

Aku tidak menjawab satu pun.

Kemudian Farhan mengirim pesan.

Pak, ada satu hal lagi. Saya baru membuka file terakhir dari staf tersebut.

Aku mengetik:

Apa?

Balasannya datang beberapa detik kemudian.

Bukan teks.

Sebuah rekaman suara.

Aku memasang earphone.

Suara pertama adalah Dimas.

Lalu suara Rudi.

Mereka sedang membicarakan Nadia.

Aku mendengarkan sampai sebuah kalimat membuatku berdiri dari kursi.

“Kalau Nadia sudah tanda tangan setelah bayinya lahir, rumah itu bukan lagi masalah utama.”

Lalu Dimas bertanya,

“Terus aset yang satunya?”

Rudi menjawab sesuatu yang membuat tanganku dingin.

“Aman. Arman bahkan belum tahu Nadia punya hak atas itu.”

Aku menghentikan rekaman.

Aset yang satunya?

Hak Nadia?

Aku merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang disembunyikan dariku.

Saat itulah seorang perawat keluar.

“Pak Arman?”

Aku berdiri.

“Putri saya bagaimana?”

“Untuk sementara kondisinya stabil. Tapi dia meminta bertemu Bapak.”

Aku masuk.

Nadia sedang berbaring.

Begitu melihatku, dia berkata,

“Pa, ada sesuatu yang belum pernah aku ceritakan.”

Aku duduk di sampingnya.

“Apa?”

“Beberapa bulan lalu, Om Rudi pernah menyuruhku tanda tangan dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Aku nggak tahu. Dia bilang cuma administrasi keluarga.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Kamu tanda tangan?”

Nadia menggeleng.

“Nggak. Aku bawa pulang.”

“Masih ada?”

Dia mengangguk.

“Aku sembunyikan.”

“Di mana?”

Nadia menatapku lama.

“Di belakang laci meja kerja Dimas.”

Aku segera menghubungi Farhan yang masih berada di rumah.

“Cari laci meja kerja Dimas. Bagian belakangnya.”

Beberapa menit terasa seperti satu jam.

Lalu Farhan menelepon lewat video.

“Pak Arman.”

“Ada?”

Wajahnya terlihat tegang.

“Ada.”

Dia mengangkat sebuah amplop cokelat.

“Buka.”

Farhan membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa halaman.

Dia membaca halaman pertama.

Kemudian berhenti.

“Kenapa?”

Farhan menatap kamera.

“Pak… ini bukan dokumen pinjaman.”

“Lalu apa?”

Dia membalik halaman dan menunjukkan bagian atasnya.

Aku membaca nama Nadia.

Kemudian nama seseorang yang sudah meninggal hampir lima tahun lalu.

Mendiang istriku.

Ibunya Nadia.

Aku tidak bisa bernapas selama beberapa detik.

“Apa hubungan dokumen ini dengan istriku?”

Farhan tidak langsung menjawab.

“Pak Arman… sebaiknya Bapak melihat sendiri.”

“Baca.”

“Pak…”

“Baca, Farhan.”

Dia menarik napas.

Namun tepat sebelum membacakan bagian terpenting, terdengar suara pintu rumah dibuka dari belakangnya.

Farhan menoleh.

Wajahnya berubah.

“Pak Arman…”

“Ada apa?”

Seseorang masuk ke ruangan.

Bukan Dimas.

Bukan Rudi.

Farhan berdiri sambil memegang dokumen itu erat-erat.

Lalu terdengar suara seorang perempuan.

“Dokumen itu seharusnya tidak pernah ditemukan Nadia.”

Aku membeku.

Aku mengenal suara itu.

Dan orang itu seharusnya tidak mungkin berada di rumah putriku malam itu.