Part : 2 Keluarga Suamiku Selalu Memesan Menu Termahal karena Mengira Aku Akan Membayar, Sampai Ulang Tahun Ayah Mertuaku

Bagian 2

Catatan yang kubuka bukan daftar harga makanan malam itu.

Itu daftar semua makan keluarga Raka yang pernah kubayar selama dua tahun terakhir.

Aku memang baru mulai mencatat secara teratur sekitar delapan belas bulan sebelumnya, tetapi riwayat transaksi kartu dan rekening membuatku bisa menarik data lebih jauh ke belakang.

Tanggal.

Nama restoran.

Jumlah tagihan.

Acara keluarga.

Bahkan beberapa kali aku menambahkan catatan kecil tentang siapa yang memilih tempat dan alasan mengapa aku akhirnya membayar.

Aku tidak melakukan itu untuk menagih kembali uang mereka.

Aku melakukannya karena bekerja di bagian keuangan telah mengajariku satu hal sederhana.

Kalau sesuatu terasa salah, jangan hanya mengandalkan perasaan.

Lihat angkanya.

Dan angka di layar ponselku malam itu membuat dadaku terasa dingin.

Dalam dua tahun terakhir saja, aku telah mengeluarkan Rp76.840.000 untuk makan keluarga besar Raka.

Itu belum termasuk uang yang pernah kuberikan untuk biaya dokter keponakan, bantuan kontrakan Bimo, hadiah ulang tahun, THR untuk para keponakan, atau kebutuhan keluarga lain yang memang kuberikan dengan sadar.

Hampir tujuh puluh tujuh juta rupiah itu murni untuk restoran.

Aku menarik napas panjang.

Lalu aku menambahkan satu catatan baru.

“Ulang tahun Pak Arif. Setiabudi. Belum dibayar.”

Setelah itu aku menutup ponsel dan menikmati makan malam.

Benar-benar menikmatinya.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku tidak menghitung berapa banyak kerang yang dipesan Citra, tidak memikirkan harga steak Bimo, dan tidak merasa jantungku turun setiap kali seseorang memanggil pelayan untuk menambah makanan.

Aku bahkan membantu Pak Arif memotong kue ulang tahunnya.

“Kamu kok senyum-senyum terus?” bisik Raka ketika semua orang sedang berfoto.

“Ayah ulang tahun,” jawabku. “Harus senang.”

Ia mengangguk.

Mungkin ia mengira aku sudah menerima nasib seperti biasanya.

Sekitar pukul sembilan lewat dua puluh menit, piring mulai kosong.

Beberapa wadah makanan sudah disiapkan untuk dibawa pulang.

Anak-anak menerima es krim.

Citra masih memesan dua kopi.

Bimo meminta satu porsi iga tambahan untuk dibungkus.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Sampai seorang pelayan laki-laki datang membawa beberapa map tagihan.

Bukan satu.

Ada tujuh.

Aku sudah berbicara dengannya ketika pura-pura pergi ke toilet sekitar satu jam sebelumnya.

Aku menjelaskan dengan tenang bahwa meja kami terdiri atas beberapa keluarga dan meminta pesanan dipisahkan berdasarkan kursi serta kelompok keluarga.

Aku juga meminta tagihan untuk Pak Arif dan Bu Yuni digabungkan dengan tagihanku dan Raka.

Aku akan membayar makan malam orang tua yang sedang berulang tahun.

Sisanya membayar pesanan masing-masing.

Pelayan itu sempat tampak khawatir.

“Semua tamu sudah mengetahui sistem pembayarannya, Bu?”

“Belum,” jawabku. “Tapi setiap orang dewasa di meja ini mampu membaca tagihan.”

Ia menahan senyum.

Sekarang map-map hitam itu diletakkan satu demi satu.

“Untuk Bapak Arif dan Ibu Yuni bersama Bapak Raka dan Ibu Laras,” katanya.

Satu map diletakkan di depanku.

“Kemudian keluarga Ibu Citra.”

Map kedua.

“Keluarga Bapak Bimo.”

Map ketiga.

Senyum Citra menghilang.

Pelayan terus membagikan tagihan.

Meja yang selama tiga jam dipenuhi tawa mendadak sunyi.

Aku bisa mendengar suara sendok jatuh dari meja lain.

Citra menatap map di depannya, lalu menatapku.

“Ini apa?”

“Tagihan makan malam.”

“Aku tahu ini tagihan. Maksudku, kenapa dipisah?”

Aku membuka map milikku.

Jumlahnya Rp4.270.000 karena mencakup makanan kami berempat, beberapa minuman, kue ulang tahun, dan sebagian biaya layanan.

Aku mengambil kartu debit dari dompet.

“Karena malam ini setiap keluarga membayar pesanannya sendiri.”

Tidak ada yang tertawa.

Raka menoleh cepat kepadaku.

“Laras.”

Nada suaranya rendah.

Nada yang biasa ia gunakan ketika ingin menyuruhku berhenti tanpa membuat keributan di depan orang lain.

Aku tidak berhenti.

“Aku membayar makan Ayah dan Ibu karena ini ulang tahun Ayah. Aku juga membayar bagian kita.”

Bimo membuka mapnya.

Matanya membesar.

“Dua juta delapan ratus?”

Istrinya langsung meraih tagihan.

“Kok sebanyak ini?”

Pelayan menjawab dengan sopan, “Ada dua steak premium, satu iga untuk dibungkus, dua makanan pembuka, empat minuman, dan tiga pencuci mulut, Pak.”

Bimo menatap meja seolah berharap salah satu steak tadi bisa muncul kembali dan membela dirinya.

Citra bahkan lebih pucat.

Tagihan keluarganya lebih dari Rp4 juta.

“Ini tidak masuk akal,” katanya.

“Apa yang tidak masuk akal?” tanyaku.

“Kita kan makan keluarga.”

“Benar.”

“Kamu biasanya yang bayar.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tidak dibungkus candaan.

Tidak disamarkan dengan kata berbagi rezeki.

Hanya sebuah pengakuan.

Aku menatapnya beberapa detik.

“Biasanya.”

“Jadi kenapa malam ini tidak?”

Aku meletakkan kartu di dalam map dan mendorongnya kepada pelayan.

“Karena aku tidak mau lagi.”

Citra tertawa pendek, tetapi tidak ada kegembiraan di wajahnya.

“Serius? Di ulang tahun Ayah?”

Pak Arif yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan gelasnya.

“Memangnya Laras harus membayar ulang tahunku untuk semua orang?”

Citra langsung mengubah nada.

“Bukan begitu, Yah. Cuma selama ini kan memang begitu.”

“Selama ini karena kalian minta atau karena Laras menawarkan?”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Arif memandang satu per satu anaknya.

Aku melihat perubahan kecil di wajah beberapa orang.

Mungkin untuk pertama kalinya mereka menyadari bagaimana kebiasaan itu terlihat dari luar.

Namun Raka justru terlihat paling gelisah.

Ia membungkuk mendekat.

“Kita bisa bahas di rumah.”

“Kita sudah membahasnya di rumah.”

“Bukan begini caranya.”

Aku memandangnya.

“Lalu bagaimana caranya?”

Ia diam.

Aku melanjutkan dengan suara tetap pelan.

“Aku sudah berkali-kali bilang kita harus membagi tagihan. Kamu bilang nanti. Aku bilang aku tidak nyaman. Kamu bilang mereka cuma bercanda. Aku bilang jumlahnya makin besar. Kamu bilang penghasilanku cukup.”

Wajah Raka menegang.

Beberapa orang di meja mulai melihat ke arah lain.

Aku tidak meninggikan suara.

Aku juga tidak menangis.

Entah mengapa, ketenangan membuat semuanya terasa jauh lebih jelas.

“Aku sudah mencoba caramu, Raka. Bertahun-tahun. Malam ini aku mencoba caraku.”

Citra menyilangkan tangan.

“Jadi sekarang kamu mau mempermalukan kami?”

“Tidak.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku hanya berhenti membayar pesanan kalian.”

“Bedanya apa?”

“Bedanya besar.”

Aku membuka catatan yang tadi kulihat.

“Mempermalukan kalian berarti aku berdiri dan membacakan semua yang pernah kalian pesan selama dua tahun terakhir.”

Raka menatapku.

“Laras, cukup.”

Aku justru memutar layar ponsel agar ia bisa melihat angka paling bawah.

Rp76.840.000.

Wajahnya berubah.

Untuk beberapa detik ia hanya menatap layar.

“Ini apa?”

“Total pembayaran restoran keluarga yang keluar dariku selama dua tahun terakhir.”

Bimo berhenti membuka aplikasi perbankannya.

Salah satu adik perempuan Raka berbisik, “Sebanyak itu?”

Aku mengangguk.

“Dan itu bukan semua bantuan keluarga. Itu hanya makan.”

Citra menggeleng.

“Tidak mungkin.”

“Aku kepala bagian keuangan, Mbak. Kalau ada satu hal yang bisa kulakukan dengan baik, itu mencocokkan transaksi.”

Aku tidak membacakan detailnya.

Tidak perlu.

Angka total itu sudah cukup.

Raka masih memandangku seolah baru pertama kali mengetahui bahwa uang di kartuku benar-benar berasal dari rekening yang punya batas.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang jumlahnya sebesar itu?”

Pertanyaannya membuatku hampir tertawa.

“Aku sudah bilang masalahnya terlalu besar.”

“Bukan jumlah tepatnya.”

“Aku seharusnya tidak perlu membuat presentasi bulanan supaya suamiku percaya ketika aku mengatakan sesuatu membuatku tidak nyaman.”

Ia terdiam.

Kalimat itu tampaknya mengenainya lebih keras daripada angka tujuh puluh tujuh juta.

Pak Arif menarik napas.

“Ayah tidak tahu soal ini.”

Aku segera menatapnya.

“Aku tahu, Yah.”

“Kalau Ayah tahu, Ayah tidak akan membiarkan.”

Bu Yuni yang duduk di sampingnya terlihat sedih.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita ke Ibu?”

“Karena ini masalah antara aku dan Raka. Dan selama ini aku berharap Raka yang menyelesaikannya.”

Raka menunduk.

Citra masih belum menyerah.

Ia menunjuk tagihannya.

“Baiklah. Tapi kalau memang mau ubah aturan, harusnya bilang dari awal. Kita mungkin pesan beda.”

Aku menatapnya.

“Itulah masalahnya.”

“Apa?”

“Kalau tahu harus bayar sendiri, Mbak akan pesan beda.”

Citra membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Aku melanjutkan.

“Aku tidak masalah mentraktir keluarga sesekali. Aku tidak masalah membayar makan Ayah dan Ibu malam ini. Yang membuatku keberatan adalah kalian sengaja memilih lebih mahal karena merasa aku yang akan menanggungnya.”

Salah satu kakak laki-laki Raka bernama Dedi mengusap wajah.

Ia tidak banyak bicara malam itu.

Akhirnya ia membuka map tagihannya.

“Laras benar.”

Citra menoleh tajam.

“Mas.”

“Kalau kita memang menganggap pesanan kita wajar, mestinya kita tidak keberatan bayar.”

Istrinya mengangguk pelan.

“Kita bayar saja.”

Mereka menjadi keluarga pertama yang mengeluarkan kartu.

Setelah itu adik perempuan Raka, Nia, melakukan hal sama.

Bimo masih terlihat tidak senang, tetapi akhirnya membuka aplikasi bank.

Hanya Citra yang terus mempertahankan ekspresi seperti seseorang baru saja mengganti aturan permainan ketika ia hampir menang.

Pak Arif menatapnya.

“Bayar, Citra.”

“Ayah.”

“Kamu yang memilih restoran ini, kan?”

“Iya.”

“Kamu yang pesan lobster?”

Citra menghela napas.

“Iya.”

“Berarti kamu makan sesuai keputusanmu sendiri. Jangan minta menantumu menanggung keputusanmu.”

Suasana menjadi sangat sunyi.

Akhirnya Citra mengambil kartu dari dompetnya.

Malam itu tidak berakhir dengan teriakan.

Tidak ada yang membanting meja.

Tidak ada yang berjalan keluar.

Justru itulah yang membuatnya terasa penting.

Satu demi satu mereka membayar.

Beberapa orang mungkin kesal.

Beberapa malu.

Beberapa baru sadar.

Setelah transaksi selesai, kami keluar ke area parkir.

Pak Arif memelukku sebelum masuk ke mobil Dedi.

“Terima kasih sudah datang dan membayar makan Ayah dan Ibu.”

“Selamat ulang tahun, Yah.”

Ia melepaskan pelukan, tetapi menahan lenganku sebentar.

“Dan soal yang lain, Ayah minta maaf.”

“Bukan kesalahan Ayah.”

“Ayah kepala keluarga. Kalau anak-anak Ayah kebablasan seperti ini dan Ayah tidak tahu, tetap saja rasanya Ayah gagal memperhatikan.”

Aku menggeleng.

“Ayah tidak perlu menanggung semuanya.”

Ia tersenyum kecil.

“Mungkin itu kalimat yang juga harus kamu katakan kepada dirimu sendiri.”

Aku tidak langsung menjawab.

Kalimat itu ikut masuk ke mobil bersamaku.

Sepanjang perjalanan pulang, Raka hampir tidak bicara.

Lampu-lampu Bandung bergerak di balik kaca.

Aku tidak memaksanya.

Aku tahu percakapan sebenarnya belum dimulai.

Sesampainya di rumah, ia menaruh kunci di meja ruang tamu.

Aku melepas sepatu.

Raka tetap berdiri.

“Kenapa kamu tidak bilang kamu akan melakukan itu?”

Aku menatapnya.

“Kalau kubilang, apa yang akan kamu lakukan?”

Ia membuka mulut.

Aku menunggu.

Akhirnya ia duduk.

“Mungkin aku akan minta kamu jangan.”

“Itulah jawabannya.”

Ia mengusap rambut.

“Aku kelihatan seperti orang bodoh di sana.”

“Aku juga terlihat seperti dompet selama bertahun-tahun.”

“Aku bukan bermaksud begitu.”

“Aku tahu.”

“Laras.”

“Aku tahu kamu tidak duduk di rumah sambil berpikir bagaimana caranya memanfaatkan istrimu.”

Aku duduk di kursi berseberangan.

“Tapi akibatnya tetap sama.”

Ia mengangkat wajah.

Aku melanjutkan.

“Masalahku bukan hanya keluargamu. Masalah terbesarku kamu.”

Wajahnya jatuh.

Aku tahu kalimat itu menyakitkan.

Tetapi aku tidak ingin lagi membungkus semuanya sampai bentuknya tidak dikenali.

“Setiap kali aku mencoba membuat batas, kamu meminta aku mengalah. Setiap kali mereka bercanda soal uangku, kamu ikut tertawa atau diam. Setiap kali aku bilang tidak nyaman, kamu menjelaskan kenapa mereka seperti itu, seolah aku yang harus terus memahami.”

“Aku cuma tidak mau ribut dengan keluarga.”

“Jadi kamu memilih ribut denganku dalam diam.”

Ia membeku.

Aku merasakan tenggorokanku mulai berat, tetapi kutahan air mata.

“Raka, aku istrimu. Aku seharusnya menjadi orang yang kamu lindungi juga.”

“Aku melindungi kamu.”

“Dari apa?”

Ia tidak bisa menjawab.

Aku mengangguk kecil.

“Itu yang kupikirkan.”

Raka menunduk.

Lama sekali.

Kemudian ia berkata, “Aku malu.”

Aku tidak menjawab.

“Bukan karena kejadian di restoran.”

Ia menatapku.

“Aku malu karena baru malam ini aku benar-benar melihatnya.”

Ia menunjuk ponselku yang masih tergeletak di meja.

“Tujuh puluh enam juta.”

“Tujuh puluh enam juta delapan ratus empat puluh ribu.”

Ia mengangguk.

“Dan selama ini aku selalu bilang kamu mampu.”

Aku menunggu.

“Aku pikir karena penghasilanmu lebih tinggi, itu tidak terlalu terasa buat kamu.”

“Uang tetap uang.”

“Aku tahu.”

“Bukan cuma soal jumlahnya.”

“Aku tahu sekarang.”

Aku menggeleng.

“Jangan bilang tahu kalau baru lima menit lalu kamu masih marah karena aku memisahkan tagihan.”

Ia menerima itu tanpa membela diri.

“Apa yang kamu mau aku lakukan?”

Pertanyaan itu sederhana.

Aku sudah memikirkan jawabannya jauh sebelum malam itu.

“Aku mau keuangan kita berubah.”

Ia terlihat tegang.

“Aku tidak akan lagi menggunakan kartu pribadiku untuk acara keluargamu kecuali aku sendiri yang menawarkan. Kalau ada acara makan, kita bayar bagian kita dari rekening rumah tangga.”

Ia mengangguk pelan.

“Lalu?”

“Aku mau kita punya batas pengeluaran untuk bantuan keluarga. Bukan karena aku pelit. Justru supaya ketika ada kebutuhan sungguhan, kita masih bisa membantu.”

“Baik.”

“Dan satu lagi.”

Ia menatapku.

“Kalau keluargamu menghina atau membuat lelucon tentang aku karena ini, aku tidak mau kamu diam.”

Raka menarik napas.

“Aku akan bicara.”

“Bukan nanti.”

“Iya.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Besok.”

Ia terlihat terkejut.

“Besok?”

“Di grup keluarga.”

Raka sempat menunduk.

Mungkin rasa takut lama terhadap konflik mulai muncul.

Kemudian ia mengangguk.

“Besok.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa ada sesuatu yang berubah.

Belum cukup untuk membuat semuanya baik.

Tetapi setidaknya kali ini ia tidak berkata, “Nanti saja.”

Keesokan paginya aku bangun lebih dulu.

Ketika sedang membuat kopi, ponsel Raka berbunyi beberapa kali di meja makan.

Ia keluar dari kamar sambil menguap.

“Grup keluarga?”

“Mungkin.”

Ia mengambil ponsel.

Wajahnya langsung berubah.

“Apa?”

Ia menyerahkan layar kepadaku.

Citra telah mengirim pesan panjang.

Menurutnya aku terlalu memperhitungkan uang.

Menurutnya keluarga tidak seharusnya “dipisahkan oleh tagihan”.

Ia bahkan menulis bahwa sejak aku menikah dengan Raka, aku selalu terlihat ingin menunjukkan bahwa aku lebih berhasil daripada saudara-saudaranya.

Aku membaca sampai selesai.

Anehnya, aku tidak marah.

Aku mengembalikan ponsel.

“Giliranmu.”

Raka menatap layar.

Kemudian menatapku.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia duduk di kursi makan.

Selama hampir sepuluh menit ia mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Akhirnya ia menekan kirim.

Aku tidak membaca pesan itu sampai ia menyerahkan ponselnya.

Pesannya panjang.

Namun ada satu bagian yang membuatku berhenti.

“Aku yang paling salah karena selama ini membiarkan kalian menganggap penghasilan Laras sebagai milik keluarga besar kita. Setiap kali Laras keberatan, aku justru memintanya mengalah karena aku takut membuat kalian tidak nyaman. Akibatnya aku membuat istriku sendiri tidak nyaman di rumah tangganya. Mulai sekarang, kalau kita makan bersama, setiap keluarga membayar bagian masing-masing kecuali orang yang mengundang sejak awal memang mengatakan ingin mentraktir.”

Di bawahnya ia menambahkan:

“Dan tolong hentikan candaan soal Laras sebagai kartu kredit berjalan. Kalau ada yang masih melakukan itu, aku yang akan menegur.”

Aku membaca dua kali.

“Sudah cukup?” tanyanya.

Aku menatapnya.

“Untuk hari ini.”

Ia mengangguk.

Itu bukan pengampunan.

Belum.

Tetapi itu awal.

Pesan-pesan mulai masuk.

Dedi mengirim emoji jempol dan menulis bahwa ia setuju.

Nia meminta maaf langsung kepadaku.

Bimo menulis bahwa aturan itu masuk akal.

Citra tidak membalas.

Pak Arif hanya mengirim satu kalimat.

“Begini seharusnya keluarga menyelesaikan masalah. Jelas, tanpa saling mengambil hak.”

Aku meletakkan ponsel.

Raka berdiri di dekat meja.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Aku memandang wajah pria yang kunikahi empat tahun lalu.

Aku masih mencintainya.

Mungkin itulah yang membuat semua ini begitu menyakitkan.

Kalau aku tidak peduli, tentu lebih mudah pergi tanpa menoleh.

“Aku percaya kamu menyesal,” kataku.

Matanya sedikit berkaca.

“Tapi aku ingin lihat apakah kamu berubah setelah rasa malu malam tadi hilang.”

Ia mengangguk.

“Adil.”

Dan selama beberapa minggu berikutnya, aku melihat jawabannya perlahan-lahan.

Bukan lewat janji.

Lewat hal-hal kecil.

Ketika Citra mengundang makan dan menulis, “Yang kaya boleh traktir, ya,” Raka langsung menjawab, “Mbak, jangan mulai lagi.”

Ketika Bimo menelepon meminta bantuan karena harus membayar servis mobil, Raka tidak langsung menyerahkan telepon kepadaku seperti biasanya. Ia bertanya berapa yang dibutuhkan, apa masalahnya, dan apakah itu pinjaman atau bantuan.

Ketika kami menerima undangan ulang tahun keponakan, Raka sendiri yang berkata, “Kita tetapkan anggaran hadiah dulu.”

Dan pada akhir bulan, untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, ia duduk di meja makan membawa laptop.

“Ajarin aku bikin anggaran keluarga yang benar.”

Aku menatapnya curiga.

“Kamu yakin?”

“Jangan senang dulu. Aku mungkin murid yang menyebalkan.”

Aku tertawa.

Sudah lama aku tidak tertawa dengannya soal uang.

Malam itu kami membuat tiga rekening tujuan.

Kebutuhan rumah tangga.

Tabungan bersama.

Dan bantuan keluarga.

Jumlah bantuan keluarga tidak besar.

Tetapi justru karena jelas, aku merasa jauh lebih nyaman.

Untuk pertama kalinya, berbagi rezeki benar-benar terasa seperti keputusan kami.

Bukan kewajibanku.

Kupikir masalah terbesar sudah selesai.

Ternyata perubahan sesungguhnya baru terlihat tiga bulan kemudian, ketika keluarga Raka kembali merencanakan makan bersama.

Dan kali ini, orang yang mengusulkan tempat adalah Citra.

Bagian 3 …..