Kakakku Menitipkan Bayinya Hanya untuk Dua Jam—Tapi Saat Dokter Menunjukkan Hasil Pemeriksaan dan Berkata, “Ini Bukan Terjadi Hari Ini,” Aku Baru Mengerti Kenapa Kakakku Tidak Pernah Membalas Pesanku

“Cuma dua jam, Nad. Aku sama Arga mau ke mal sebentar.”
Itulah kalimat terakhir Kak Rani sebelum meninggalkan putrinya yang baru berusia enam bulan di rumahku di Bekasi.
Namun belum sampai setengah jam, aku tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Keponakanku, Alya, menangis tanpa henti. Bukan tangisan karena lapar atau mengantuk. Tubuh kecilnya terus menegang setiap kali aku mencoba menggendongnya.
“Alya… Tante di sini.”
Aku memeriksa susu, suhu tubuh, lalu popoknya.
Saat itulah aku mencium aroma aneh dari pakaiannya—seperti bedak bercampur sesuatu yang terlalu menyengat untuk produk bayi.
Aku mengambil tisu basah dan membersihkan sedikit bagian kulit yang tampak tertutup lapisan kosmetik.
Tanganku langsung berhenti.
Di balik lapisan itu ada perubahan warna pada kulit yang jelas bukan sekadar ruam biasa.
Aku tidak berani memeriksa lebih jauh.
Aku langsung memasukkan perlengkapan Alya ke tas, menggendongnya, lalu memesan mobil menuju IGD rumah sakit terdekat.
Di perjalanan, aku menelepon Kak Rani.
Tidak diangkat.
Aku mengirim WhatsApp.
“Kak, Alya aku bawa ke rumah sakit. Tolong telepon aku SEKARANG.”
Centang dua.
Pesan dibaca.
Tidak ada balasan.
Di IGD, seorang dokter anak memeriksa Alya dengan sangat hati-hati. Semakin lama pemeriksaan berlangsung, wajah dokter itu semakin serius.
“Sejak kapan bayi ini bersama Ibu?”
“Sekitar satu jam.”
Dokter menatapku.
“Apakah sebelumnya Ibu melihat kondisinya seperti ini?”
Aku menggeleng cepat.
“Dia baru dititipkan pagi ini.”
Dokter meminta beberapa pemeriksaan tambahan. Alya kemudian dibawa oleh perawat, sementara aku menunggu sendirian dengan tangan dingin.
Aku kembali menelepon Kak Rani.
Kali ini panggilanku ditolak.
Jantungku seperti jatuh.
Kenapa dia menolak?
Aku mengetik lagi.
“Kak, ini serius. Dokter minta kamu dan Mas Arga datang.”
Dibaca lagi.
Tetap tidak dibalas.
Hampir satu jam kemudian, dokter kembali menemuiku.
“Nadira?”
Aku berdiri.
Dokter memegang berkas pemeriksaan.
“Ada beberapa temuan yang membuat kami perlu mengetahui riwayat perawatan Alya secara lengkap. Sebagian tanda yang kami lihat tampaknya bukan baru terjadi pagi ini.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Maksud Dokter?”
“Untuk saat ini kami belum ingin membuat kesimpulan. Tapi karena pasien masih bayi, rumah sakit wajib memastikan keselamatannya dan mendokumentasikan temuan yang mencurigakan.”
Lututku terasa lemas.
Aku segera membuka WhatsApp.
Kak Rani baru saja online.
Aku menelepon.
Tidak diangkat.
Lalu sebuah pesan masuk.
Bukan dari Rani.
Dari Arga.
“Kenapa kamu bawa anak kami ke rumah sakit tanpa izin?”
Aku terpaku.
Aku membalas:
“Karena Alya kesakitan. Kalian di mana?”
Tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian, seorang petugas rumah sakit menghampiriku dan mengatakan pihak keluarga akhirnya sudah menghubungi mereka.
Aku mengembuskan napas lega.
“Syukurlah. Kakak saya mau datang?”
Petugas itu tidak menjawab langsung.
Tatapannya justru membuat perutku terasa kosong.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka.
Dokter masuk bersama seorang petugas yang memperkenalkan diri sebagai pekerja sosial rumah sakit. Seorang anggota kepolisian juga menunggu di luar untuk meminta keterangan awal karena kondisi pasien perlu ditelusuri.
Dokter duduk di depanku.
“Nadira, kami sudah berbicara dengan ibu Alya melalui telepon.”
“Terus?”
Dokter meletakkan berkas di meja.
“Kakak Anda mengatakan Alya dalam keadaan baik ketika ditinggalkan pagi ini.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Dia juga mengatakan perubahan pada kondisi Alya baru terlihat setelah bayi itu berada bersama Anda.”
Aku sampai tidak bisa bicara.
“Kakak saya bilang begitu?”
Dokter mengangguk perlahan.
Darahku seperti turun dari wajah.
Sekarang aku mengerti kenapa Rani membaca semua pesanku tetapi tidak pernah menjawab.
Dia bukan sedang sibuk berbelanja.
Dia sedang membangun cerita.
Dan dalam cerita itu, akulah orang yang akan disalahkan.
Aku buru-buru membuka ponsel.
“Tunggu. Saya punya chat saat dia mengantar Alya. Saya juga punya kamera CCTV di ruang tamu. Kakak saya datang pagi tadi dan—”
Aku berhenti.
Ada sesuatu yang baru kuingat.
Sebelum pergi, Rani sempat masuk ke kamar mandi sambil membawa tas bayi Alya.
Hampir sepuluh menit.
Saat keluar, wajahnya pucat.
Dan sebelum menyerahkan tas itu kepadaku, dia berkata satu kalimat yang tadi sama sekali tidak kupikirkan:
“Kalau Alya rewel, jangan buka kantong kecil di bagian dalam tasnya.”
Aku langsung mengambil tas bayi yang kubawa ke rumah sakit.
Kantong kecil itu masih tertutup ritsleting.
Dokter berdiri.
“Bu Nadira, jangan keluarkan apa pun dulu.”
Petugas mendekat dan meminta tas tersebut dibiarkan apa adanya agar dapat dicatat bersama barang-barang lain yang relevan.
Lalu ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.
Hanya satu kalimat:
“Sebelum kamu percaya cerita Rani, cek rekaman kamera rumah mereka hari Kamis malam.”
Di bawahnya ada sebuah foto.
Begitu melihat siapa yang tampak berdiri di depan rumah Kak Rani malam itu, napasku tercekat.
Orang itu seharusnya tidak pernah berada di sana.
Dan saat aku memperbesar foto tersebut, dokter di sebelahku tiba-tiba berkata:
“Bu Nadira… Anda kenal orang ini?”
Aku mengenalnya.
Tapi kalau aku benar tentang alasan dia datang ke rumah Kak Rani, masalah ini jauh lebih besar daripada tuduhan yang baru saja diarahkan kepadaku.
Siapa orang dalam foto itu—dan apa sebenarnya yang disembunyikan Rani?
ORANG DI FOTO ITU MEMBUAT SEMUA ORANG MENATAPKU—TAPI SAAT REKAMAN KAMIS MALAM DIPUTAR, KAKAKKU TIBA-TIBA MEMOHON AGAR VIDEO ITU DIMATIKAN
Aku mengenal laki-laki dalam foto itu.
Namanya Dimas.
Adik Arga.
Dan setahuku, selama hampir setahun terakhir, Kak Rani selalu mengatakan satu hal tentang dia:
“Dimas sudah nggak boleh datang ke rumah kami.”
Aku memperbesar foto itu dengan dua jari.
Gambarnya agak gelap, tetapi wajahnya jelas. Dimas berdiri di depan pagar rumah Kak Rani sekitar pukul sembilan malam. Ia mengenakan jaket abu-abu dan membawa sebuah tas hitam.
Ada sesuatu yang lebih mengganggu.
Pintu rumah terbuka.
Seseorang berdiri di baliknya.
Arga.
“Bu Nadira?”
Suara dokter membuatku tersadar.
“Dia adik ipar kakak saya,” jawabku. “Tapi saya tidak tahu kenapa dia ada di sana.”
Petugas yang sejak tadi berdiri di samping dokter meminta izin melihat pesan tersebut.
“Nomor pengirimnya Anda kenal?”
“Tidak.”
Aku menunjukkan layar.
Pesan kedua masuk.
JANGAN HAPUS PESAN INI. SAYA PUNYA VIDEO LENGKAPNYA.
Jantungku berdegup semakin keras.
Aku langsung mengetik:
Siapa Anda?
Balasannya datang kurang dari semenit.
PAK YANTO. SATPAM KOMPLEKS.
Aku mengenalnya.
Pak Yanto sudah bertahun-tahun menjaga kompleks tempat Kak Rani tinggal di Jatibening. Orangnya pendiam dan jarang ikut campur urusan penghuni.
Kenapa dia menghubungiku?
Teleponku tiba-tiba berdering.
Kak Rani.
Semua orang di ruangan menatapku.
Aku mengangkatnya.
“Kak?”
Suara Rani terdengar terburu-buru.
“Kamu masih di rumah sakit?”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Menurut Kakak?”
“Nad, dengarkan dulu—”
“Kenapa Kakak bilang kepada dokter bahwa Alya baik-baik saja waktu ditinggalkan bersamaku?”
Sunyi.
“Rani?”
“Aku panik.”
“Panik sampai menuduh adikmu sendiri?”
“Aku nggak menuduh kamu.”
“Dokter baru saja mengatakan sebaliknya.”
Rani menarik napas panjang.
Lalu suaranya berubah.
Lebih pelan.
“Nadira, pulang saja.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Biar aku dan Arga yang urus Alya.”
Aku menatap dokter.
“Anakmu sedang diperiksa di rumah sakit, dan Kakak menyuruhku pulang?”
“Nad, jangan bikin semuanya lebih rumit.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku patah.
“Lebih rumit untuk siapa?”
Rani tidak menjawab.
Aku teringat tas bayi.
Kantong kecil yang dia larang kubuka.
“Kak.”
“Apa?”
“Apa isi kantong kecil di dalam tas Alya?”
Hening.
Kali ini lebih lama.
“Nadira, jangan sentuh tas itu.”
Nada suaranya membuat tengkukku dingin.
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan!”
Dokter menatapku tajam.
Aku menyalakan pengeras suara.
“Kakak bilang tadi jangan bikin semuanya rumit. Sekarang jawab satu pertanyaan saja. Kenapa Kakak melarangku membuka kantong itu?”
“Aku akan jelaskan kalau aku sampai.”
“Jadi Kakak datang?”
Tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara laki-laki di belakangnya.
Arga.
“Matikan teleponnya.”
Sambungan terputus.
Aku menatap layar.
Sepuluh menit kemudian, Rani dan Arga akhirnya tiba.
Begitu melihatku di koridor, Rani berlari mendekat.
“Mana Alya?”
“Masih diperiksa.”
Wajahnya pucat.
Namun hal pertama yang dilakukan Arga bukan bertanya tentang putrinya.
Dia melihat tas bayi di kursi.
Kemudian dia berjalan ke arahnya.
“Aku ambil tasnya.”
Petugas rumah sakit segera menghentikannya.
“Mohon jangan dipindahkan dulu, Pak.”
Arga menoleh.
“Itu barang anak saya.”
“Betul. Tetapi ada beberapa barang yang sedang dicatat karena berkaitan dengan informasi yang diberikan kepada dokter.”
Rahang Arga mengeras.
Rani menggenggam lenganku.
“Nad, sebenarnya kamu ngapain sama Alya?”
Aku menatapnya.
“Apa Kakak serius?”
“Aku cuma tanya.”
“Tidak. Kakak sedang memastikan cerita Kakak tetap sama.”
Wajah Rani berubah.
Arga menyela.
“Jangan bicara seperti itu kepada istri saya.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Kalau begitu mungkin Mas bisa menjelaskan ini.”
Kutunjukkan foto Dimas.
Untuk sepersekian detik, Arga kehilangan warna wajahnya.
Rani menoleh kepadanya.
“Mas?”
Arga cepat-cepat menguasai ekspresi.
“Itu foto lama.”
“Bukan,” kataku. “Kamis malam.”
Rani menatap foto lagi.
“Mas, kamu bilang Dimas sudah tidak pernah datang.”
“Dia cuma mampir.”
“Malam-malam?”
“Urusan keluarga.”
Aku memperhatikan Rani.
Dia benar-benar tampak terkejut.
Berarti ada sesuatu yang bahkan tidak diketahui kakakku.
Ponselku kembali bergetar.
Pak Yanto mengirim sebuah video berdurasi dua menit lebih.
Aku tidak langsung membukanya.
Aku menyerahkan ponsel kepada petugas.
“Ini katanya rekaman CCTV kompleks.”
Kami kemudian diminta masuk ke sebuah ruangan kecil agar percakapan tidak berlangsung di koridor.
Video diputar.
Kamis, pukul 21.07.
Dimas datang menggunakan sepeda motor.
Arga membuka pagar.
Mereka berbicara beberapa saat.
Tidak ada suara karena kamera hanya merekam gambar.
Lalu Dimas mengeluarkan tas hitam.
Arga menerimanya.
Rani tiba-tiba berdiri.
“Sudah.”
Semua menoleh.
“Kenapa?” tanyaku.
“Itu nggak ada hubungannya sama Alya.”
“Dari mana Kakak tahu?”
Dia tidak menjawab.
Video berlanjut.
Dimas masuk.
Empat puluh menit kemudian dia keluar tanpa tas hitam.
Namun kali ini Arga ikut keluar sambil membawa sebuah kantong plastik putih.
Aku menoleh kepada Arga.
“Apa isi tas itu?”
“Barang pribadi.”
“Barang apa?”
“Bukan urusan kamu.”
Petugas yang bersama kami berbicara tenang.
“Pak Arga, karena ada dugaan kondisi bayi sudah berlangsung sebelum dititipkan kepada Bu Nadira, informasi tentang siapa saja yang berada di rumah beberapa hari terakhir bisa relevan.”
Arga menyandarkan punggung.
“Saya tidak perlu menjawab pertanyaan keluarga di sini.”
“Benar,” jawab petugas itu. “Bapak juga dapat memberikan keterangan secara resmi kepada pihak yang berwenang.”
Arga terdiam.
Kemudian pintu terbuka.
Dokter masuk membawa hasil pemeriksaan awal.
Aku langsung berdiri.
“Bagaimana Alya?”
“Kondisinya stabil dan sedang dipantau. Yang paling penting sekarang, dia berada di tempat aman dan mendapat penanganan.”
Aku hampir menangis karena lega.
Dokter melanjutkan dengan hati-hati.
“Namun berdasarkan pemeriksaan awal, ada beberapa temuan yang tampaknya tidak semuanya berasal dari waktu yang sama.”
Rani memegang meja.
“Maksud Dokter?”
“Sebagian tampak lebih lama daripada periode ketika Alya bersama Bu Nadira pagi ini.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku melihat kakakku.
Rani menatap dokter seperti tidak memahami bahasa yang digunakan.
“Jadi… Nadira bukan—”
“Kami belum menentukan siapa melakukan apa,” potong dokter. “Kami hanya menjelaskan bahwa waktu kemunculan temuan tersebut tidak mendukung anggapan bahwa semuanya baru terjadi dalam satu jam terakhir.”
Aku seharusnya merasa lega.
Namun justru aku semakin takut.
Karena itu berarti Alya sudah mengalami sesuatu sebelum memasuki rumahku.
Dan Rani tahu ada sesuatu yang salah.
Pertanyaannya: seberapa banyak?
Petugas kemudian meminta izin memeriksa isi tas bayi dengan prosedur yang sesuai dan mencatat barang yang dianggap relevan.
Rani langsung panik.
“Tidak perlu.”
Aku menatapnya.
“Kak?”
“Isinya cuma perlengkapan bayi.”
“Kalau begitu kenapa dari tadi Kakak takut tas itu dibuka?”
Rani menutup wajah.
Arga berdiri.
“Kita pulang.”
“Duduk, Mas,” kata Rani tiba-tiba.
Arga menoleh tajam.
“Apa?”
“Aku bilang duduk.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, Rani tidak terdengar takut kepadaku.
Dia terdengar takut kepada suaminya.
Petugas membuka kantong kecil.
Isinya bukan sesuatu yang dramatis seperti yang kubayangkan.
Sebuah wadah kosmetik.
Beberapa kapas.
Satu botol kecil tanpa kemasan.
Dan sebuah kuitansi apotek.
Aku melihat tanggalnya.
Jumat sore.
Sehari sebelum Alya dititipkan kepadaku.
Petugas menyerahkan kuitansi kepada dokter.
Dokter membacanya.
“Kosmetik korektor warna?”
Aku menatap Rani.
“Kakak membelinya?”
Rani mulai menangis.
Arga menghela napas kasar.
“Rani, jangan.”
“Kenapa ada kosmetik di tas bayi?” tanyaku.
Rani tidak sanggup menatapku.
“Aku cuma… mau menutupinya sementara.”
Dunia seperti berhenti.
“Menutupi apa?”
Dia menangis semakin keras.
“Aku takut.”
“Takut kepada siapa?”
Arga berdiri lagi.
“Cukup.”
Aku membentak balik.
“Bukan Mas yang menentukan kapan cukup!”
Semua orang terdiam.
Aku mendekati Rani.
“Kak, lihat aku.”
Perlahan dia mengangkat wajah.
“Waktu Kakak datang pagi tadi, Kakak sudah tahu kondisi Alya?”
Air matanya jatuh.
Dia mengangguk.
Dadaku terasa sesak.
“Kenapa tidak membawanya ke dokter?”
“Aku mau.”
“Lalu?”
Rani melirik Arga.
Hanya satu detik.
Tapi cukup.
Aku mengikuti pandangannya.
Arga menyadarinya.
“Jangan mulai menuduh saya.”
“Aku belum mengatakan apa-apa,” kataku.
Rani memegang tanganku.
“Nad, aku memang tahu ada tanda di tubuh Alya. Tapi Arga bilang mungkin karena Alya terbentur sisi boks atau saat digendong pengasuh.”
“Pengasuh?”
Aku bahkan tidak tahu mereka punya pengasuh baru.
Rani menelan ludah.
“Namanya Siska. Dia baru bekerja sekitar tiga minggu.”
Arga langsung menyela.
“Sudah jelas berarti dia.”
Dokter menggeleng.
“Belum ada yang bisa menyimpulkan itu.”
Aku memandang Rani.
“Di mana Siska sekarang?”
“Aku nggak tahu.”
Arga menjawab terlalu cepat.
“Dia berhenti kemarin.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Katanya mau pulang kampung.”
“Kampung mana?”
Arga diam.
Rani memandang suaminya.
“Mas bilang dia pulang ke Cirebon.”
“Ya.”
“Tapi waktu aku minta nomor keluarganya, kamu bilang nggak punya.”
Arga memukul pelan meja dengan telapak tangan.
“Karena saya memang nggak punya!”
Aku teringat pesan Pak Yanto.
Aku mengetik:
Pak, apakah Kamis malam cuma Dimas yang datang?
Balasannya cepat.
BUKAN. ADA SATU PEREMPUAN KELUAR DARI RUMAH SEKITAR JAM 10. SAYA KIRA ART-NYA.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Rani.
Wajahnya langsung berubah.
“Siska.”
Arga berdiri.
“Ini sudah keterlaluan.”
Namun kali ini petugas meminta dia tetap berada di ruangan sampai keterangan dasar selesai dicatat.
Rani memegang kepalanya.
“Mas, kamu bilang Siska pergi Jumat pagi.”
Arga tidak menjawab.
“Kalau Kamis malam dia sudah keluar bawa koper, kenapa kamu bohong?”
“Karena kamu lagi stres!”
“Apa hubungannya?”
“Aku tidak mau kamu makin panik.”
Rani tertawa kecil.
Tawa orang yang baru menyadari betapa banyak kebohongan yang selama ini diterimanya.
Lalu dia menatapku.
“Nadira… ada sesuatu yang belum aku ceritakan.”
“Apa?”
“Dua minggu lalu aku pernah menemukan Alya menangis sendirian di kamar.”
Aku menahan napas.
“Siska di mana?”
“Di dapur. Katanya baru meninggalkan Alya sebentar.”
“Terus?”
“Aku marah. Tapi Arga bilang aku terlalu curiga.”
Aku menatap Arga.
Dia menggeleng.
“Jangan dipelintir.”
Rani tidak berhenti.
“Beberapa hari kemudian, aku melihat sesuatu yang aneh lagi. Aku mau membawa Alya ke dokter. Tapi Arga bilang kalau aku terus menuduh orang tanpa bukti, Siska bisa pergi dan kami akan kesulitan karena aku harus kembali bekerja.”
“Kenapa Kakak menuruti dia?”
Rani menutup mata.
“Karena aku bodoh.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bukan itu jawaban yang kubutuhkan.”
Dia menangis.
“Karena aku takut kehilangan pekerjaan. Cicilan rumah naik. Kami punya utang.”
Aku menoleh kepada Arga.
“Utang apa?”
Arga menatap istrinya.
“Jangan.”
Rani tertawa pahit.
“Sekarang kamu masih menyuruh aku diam?”
Dia mengambil ponselnya.
“Aku baru tahu tiga hari lalu Arga punya pinjaman yang tidak pernah dia ceritakan kepadaku.”
Aku mulai memahami satu bagian.
Tekanan uang.
Pengasuh murah.
Tanda-tanda yang diabaikan.
Tapi Dimas?
Tas hitam?
Kebohongan tentang waktu Siska pergi?
Semua itu belum cocok.
Lalu seseorang mengetuk pintu.
Petugas kepolisian masuk.
“Bu Rani, Pak Arga, Bu Nadira. Kami sudah menghubungi petugas di kompleks untuk mengamankan salinan rekaman CCTV.”
Arga langsung pucat.
“Untuk apa?”
“Karena kami perlu mengetahui siapa yang berada di rumah sebelum bayi dibawa ke sini.”
Kemudian petugas itu melihat catatannya.
“Ada satu hal lagi.”
Kami menunggu.
“Petugas keamanan menyebut perempuan bernama Siska belum pulang ke Cirebon.”
Rani berdiri.
“Apa?”
“Dia masih di Bekasi.”
Arga mundur setengah langkah.
Aku melihatnya.
Reaksi itu terlalu jelas.
“Mas tahu dia di mana, ya?”
“Tidak.”
“Mas bohong.”
“Jangan sembarangan!”
Ponsel petugas berdering.
Dia meminta izin keluar sebentar.
Ketika kembali, ekspresinya berubah.
“Kami sudah menemukan Siska.”
Rani menutup mulut.
“Dia baik-baik saja?”
“Ya.”
“Di mana?”
“Dia sedang dimintai keterangan.”
Arga tiba-tiba mengambil ponselnya.
Petugas menghentikannya.
“Pak, mohon jangan menghubungi siapa pun yang terkait dulu.”
“Saya cuma mau telepon kantor.”
“Sebentar saja.”
Arga meletakkan ponselnya dengan kesal.
Kemudian petugas mengatakan sesuatu yang membuat ruangan kembali membeku.
“Siska mengatakan dia tidak berhenti bekerja.”
Rani menatapnya.
“Lalu?”
“Menurut keterangannya, dia diminta pergi pada Kamis malam.”
“Siapa yang menyuruh?”
Petugas tidak langsung menjawab.
Aku melihat Arga.
Dia sudah tidak berani menatap siapa pun.
“Pak Arga,” kata petugas, “apakah Anda yang meminta Siska meninggalkan rumah?”
Arga mengusap wajah.
“Saya bisa jelaskan.”
Itu pertama kalinya dia tidak menyangkal.
Rani terduduk.
“Kenapa?”
“Siska bikin masalah.”
“Masalah apa?”
“Dia minta uang.”
“Untuk apa?”
Arga diam.
“MASALAH APA?”
Suara Rani pecah.
Petugas membuka catatan.
“Menurut Siska, Kamis malam dia melihat sesuatu melalui kamera bayi yang terhubung ke ponselnya.”
Aku merasakan seluruh tubuhku dingin.
Rani menatap kosong.
“Kamera bayi?”
“Ya.”
Rani berbisik, “Tapi kameranya rusak sejak bulan lalu.”
Petugas menatapnya.
“Menurut Siska, kameranya tidak rusak.”
Aku perlahan menoleh kepada Arga.
Rani juga.
“Mas bilang kameranya rusak.”
Arga tidak menjawab.
“Mas…”
“Nanti aku jelaskan.”
“KAMU SELALU BILANG NANTI!”
Rani berdiri sambil menangis.
“Apa yang dilihat Siska?”
Petugas menutup catatannya.
“Kami belum akan menyimpulkan sebelum rekaman asli diperiksa.”
“Rekaman?”
Aku langsung menangkap kata itu.
“Masih ada videonya?”
Petugas mengangguk.
“Siska mengatakan dia menyimpan salinannya.”
Arga tiba-tiba berdiri.
“Siska bohong.”
Tidak ada yang menjawab.
“Dia pemeras!” katanya lebih keras. “Dia mau uang!”
Petugas memandangnya.
“Menarik, Pak Arga.”
“Apa?”
“Tadi kami belum mengatakan Siska pernah meminta uang kepada siapa.”
Wajah Arga berubah.
Rani mundur seolah baru melihat suaminya untuk pertama kali.
“Mas…”
Arga membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Petugas kemudian menerima pesan di ponselnya.
Dia membaca sebentar.
“Kami sudah menerima salinan videonya.”
Aku merasa jantungku hampir berhenti.
“Boleh kami lihat?”
“Tidak di ponsel pribadi. Rekaman akan diperiksa sebagai bagian dari proses resmi.”
Rani menangis.
“Tolong. Setidaknya kasih tahu saya… apa anak saya ada di video itu?”
Petugas menatapnya beberapa detik.
“Ada.”
Rani hampir jatuh kalau aku tidak memegang lengannya.
“Tapi ada hal lain,” lanjut petugas.
“Apa?”
“Video itu menunjukkan ada tiga orang dewasa di rumah malam tersebut.”
Aku menghitung dalam kepala.
Arga.
Dimas.
Siska.
Tapi petugas menggeleng seolah membaca pikiranku.
“Siska bukan salah satu dari tiga orang itu. Dia melihat rekaman dari perangkatnya sebelum diminta datang mengambil barang dan pergi.”
Aku menatap Arga.
“Jadi siapa orang ketiga?”
Arga diam.
Rani tiba-tiba berbisik:
“Nadira…”
Tangannya mencengkeram lenganku.
“Aku tahu siapa.”
Aku menoleh.
Wajahnya pucat seperti kertas.
“Siapa, Kak?”
Sebelum Rani sempat menjawab, pintu terbuka lagi.
Seorang petugas membawa sebuah tablet.
“Rekaman sudah siap untuk verifikasi identitas.”
Tablet diletakkan di meja.
Video mulai diputar.
Pukul 20.41.
Ruang keluarga rumah Kak Rani muncul.
Arga terlihat masuk ke dalam gambar.
Beberapa detik kemudian Dimas muncul dari sisi kanan.
Lalu orang ketiga berjalan masuk.
Rani mengeluarkan suara kecil.
Tangannya terlepas dari lenganku.
Aku menatap layar.
Aku juga mengenali orang itu.
Dan tiba-tiba aku mengerti kenapa Rani memilih menitipkan Alya kepadaku pagi itu.
Kenapa dia membawa kosmetik.
Kenapa Arga ingin tas itu diambil.
Dan mungkin juga kenapa sejak awal seseorang berusaha membuat semua orang percaya bahwa sesuatu terjadi ketika Alya berada bersamaku.
Rani menatap suaminya dengan mata penuh air.
“Kamu bilang dia sudah tidak pernah datang ke rumah kita lagi…”
Arga tidak menjawab.
Video terus berjalan.
Orang ketiga itu berbalik menghadap kamera.
Saat wajahnya terlihat jelas, Rani menutup mulutnya.
“Ya Tuhan…”
Lalu petugas menghentikan video tepat ketika orang tersebut mengeluarkan sesuatu dari sebuah map cokelat dan menyerahkannya kepada Arga.
Sesuatu yang membuat kasus Alya tiba-tiba bukan hanya soal apa yang terjadi di rumah itu.
Tetapi juga tentang alasan sebenarnya mereka berusaha menutupinya.
Dan ketika petugas membaca nama yang tercetak pada dokumen pertama dari map tersebut, Rani menatapku sambil berbisik:
“Nad… kalau dokumen itu asli, berarti Arga sudah merencanakan semua ini jauh sebelum Alya dititipkan kepadamu.”
Apa isi map cokelat itu—dan siapa sebenarnya orang ketiga yang terekam bersama Arga dan Dimas?
