Part : 2 Ibu Tunggal di Kursi 8A Menyembunyikan Masa Lalunya sebagai Pilot Tempur—Sampai Kapten Memanggilnya Saat Pesawat Terancam di Atas Samudra

Ibu Tunggal di Kursi 8A Menyembunyikan Masa Lalunya sebagai Pilot Tempur—Sampai Kapten Memanggilnya Saat Pesawat Terancam di Atas Samudra

“Apakah ada penumpang di pesawat ini yang pernah menjadi pilot tempur?”

Suara kapten terdengar melalui pengeras kabin, membuat hampir tiga ratus penumpang penerbangan Jakarta–Madrid mendadak terdiam.

Di kursi 8A, Laras Pratama membuka mata.

Perempuan 38 tahun itu terlihat seperti penumpang biasa. Sweater hijau tua, selimut tipis di pangkuan, sebuah novel tertutup di tangannya. Tak seorang pun tahu bahwa sebelum membesarkan putrinya seorang diri, Laras pernah menerbangkan pesawat tempur dalam satuan penerbang TNI AU.

Dan tak seorang pun tahu mengapa ia meninggalkan semuanya.

Enam bulan sebelumnya, sebuah kecelakaan saat latihan telah menghancurkan kariernya. Sejak hari itu Laras bersumpah tidak akan kembali ke kokpit.

Lalu pengumuman kedua terdengar.

“Kami sedang menghadapi gangguan teknis serius. Jika ada penumpang dengan pengalaman menerbangkan pesawat tempur, segera hubungi awak kabin.”

Kali ini Laras mendengar sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.

Kapten sedang berusaha terdengar tenang.

Terlalu tenang.

Seorang pramugari berjalan cepat menyusuri lorong.

“Bapak, Ibu, apakah ada yang punya pengalaman penerbangan militer?”

Ketika perempuan itu sampai di baris delapan, Laras melihat seorang ibu memeluk anaknya erat. Beberapa kursi di belakang, seorang bocah menatap ke arah kokpit dengan wajah pucat.

Laras menutup matanya sesaat.

Ia bisa meninggalkan seragam.

Ia bisa meninggalkan pangkalan.

Tetapi ia tidak bisa berpura-pura tidak mendengar ketika ratusan nyawa membutuhkan bantuan.

“Saya pilot.”

Pramugari itu berhenti.

“Maaf, Bu?”

Laras melepaskan sabuk pengamannya.

“Saya mantan penerbang tempur. Saya pernah menerbangkan F-16.”

Penumpang di sebelahnya menoleh cepat.

“Ibu?”

Laras hanya mengangguk.

Wajah pramugari berubah tegang.

“Mohon ikut saya sekarang.”

Laras berjalan menuju bagian depan pesawat. Semakin dekat ke pintu kokpit, semakin kuat suara alarm samar yang terdengar dari baliknya.

Tangannya mulai dingin.

Bukan karena takut pada pesawat.

Melainkan karena bunyi alarm itu pernah ia dengar sebelumnya.

Persis pada malam kecelakaan yang membuatnya meninggalkan dunia penerbangan.

Ketika pintu kokpit dibuka, kapten langsung menyerahkan sebuah lembar data penerbangan kepadanya.

Laras baru membaca dua baris ketika wajahnya kehilangan warna.

Kode kerusakan yang muncul di layar bukan sekadar mirip dengan kecelakaan masa lalunya.

Itu kode yang sama.

Lalu kopilot berbisik, “Bu Laras… ada satu hal lagi yang belum kami sampaikan.”

Ia menunjuk sebuah pesan yang baru muncul di sistem komunikasi pesawat.

Laras membaca nama pengirimnya.

Dan tubuhnya langsung membeku.

Nama itu seharusnya sudah tidak mungkin muncul lagi sejak kecelakaan enam bulan lalu.

Laras Menemukan Nama dari Masa Lalunya di Sistem Pesawat—Lalu Kapten Mengatakan Satu Kalimat yang Membuat Semua Orang Membeku

Nama itu muncul di layar komunikasi kokpit seperti sesuatu yang seharusnya sudah terkubur bersama puing-puing enam bulan lalu.

ARDHANA WIRATAMA.

Laras menatap layar tanpa berkedip.

Jari-jarinya perlahan mencengkeram tepi kursi kopilot.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Kapten Adrian menoleh cepat.

“Ibu mengenal nama itu?”

Laras tidak langsung menjawab.

Ia mengenal Ardhana jauh lebih baik daripada siapa pun di ruangan itu.

Mayor Penerbang Ardhana Wiratama adalah instruktur terakhir yang terbang bersamanya sebelum kecelakaan yang mengakhiri kariernya.

Ia juga orang yang secara resmi dinyatakan meninggal.

“Nama itu muncul dari mana?” tanya Laras.

Kopilot, Reza, menunjuk panel komunikasi.

“Pesan masuk melalui kanal data darurat sekitar tiga menit lalu.”

“Apa isinya?”

Reza menelan ludah.

“Jangan percaya data sensor utama.”

Laras mengangkat wajah.

“Apa?”

Kapten Adrian memutar layar kecil ke arahnya.

Pesan lengkapnya hanya terdiri dari dua kalimat.

JANGAN PERCAYA DATA SENSOR UTAMA.

GUNAKAN PROSEDUR MANUAL SEPERTI LATIHAN MALAM DI ISWAHJUDI.

Dada Laras langsung terasa sesak.

Tidak banyak orang tahu tentang latihan malam itu.

Bahkan sebagian besar pilot di skuadronnya tidak pernah mendengar detailnya.

Pada malam tersebut, Ardhana mematikan beberapa sistem bantuan dalam simulator dan memaksa Laras menerbangkan pesawat hanya dengan instrumen dasar.

Ia marah saat itu.

“Kenapa harus seperti ini, Pak?”

Ardhana hanya tertawa.

“Karena suatu hari teknologi bisa berbohong kepadamu.”

Kalimat itu kembali terngiang di kepala Laras.

Teknologi bisa berbohong.

“Bu Laras?”

Suara Kapten Adrian membuyarkan pikirannya.

Laras memandang panel.

“Apa masalah utama pesawat ini?”

Kapten Adrian menunjuk beberapa indikator.

“Kami mendapat pembacaan yang bertentangan. Sistem menunjukkan kecepatan turun, tapi altimeter cadangan stabil. Sensor tekanan juga berubah-ubah.”

“Autopilot?”

“Putus sendiri tiga kali.”

“Cuaca?”

“Tidak ada badai besar di jalur kita.”

Laras menatap ke luar kaca depan.

Malam hitam.

Hampir tidak ada garis horizon.

Situasi seperti ini sangat berbahaya.

Jika sensor memberikan informasi salah, pilot bisa kehilangan orientasi.

“Matikan data dari sensor utama.”

Kapten Adrian menatapnya.

“Itu langkah besar.”

“Saya tahu.”

“Kalau pesan itu palsu?”

Laras menatap layar sekali lagi.

Nama Ardhana masih terpampang jelas.

“Kalau data itu benar-benar rusak, kita bisa mengikuti angka palsu sampai pesawat masuk ke laut.”

Suasana kokpit hening.

Hanya terdengar dengung mesin dan bunyi elektronik pendek.

Kemudian Kapten Adrian mengangguk.

“Kita beralih ke instrumen cadangan.”

Reza menjalankan prosedur.

Begitu beberapa sumber data utama dinonaktifkan, angka di layar berubah.

Kapten Adrian langsung membeku.

“Ketinggian kita…”

Laras melihatnya.

Pesawat sebenarnya berada hampir seribu meter lebih rendah daripada yang ditunjukkan sistem utama beberapa detik sebelumnya.

“Naikkan perlahan,” kata Laras.

Kapten Adrian menarik kendali.

Mesin meraung sedikit lebih keras.

Di kabin, beberapa penumpang mulai terbangun saat pesawat berubah sudut.

Laras tetap mengawasi instrumen.

“Jangan terlalu agresif.”

“Ketinggian bertambah.”

“Kecepatan?”

“Stabil.”

“Bagus.”

Untuk beberapa detik, semuanya tampak terkendali.

Lalu alarm baru berbunyi.

Reza menoleh.

“Ada peringatan sistem bahan bakar.”

Kapten Adrian mengumpat pelan.

Laras langsung memeriksa indikator.

“Jangan percaya sebelum diverifikasi.”

Mereka membandingkan beberapa panel.

Sekali lagi hasilnya berbeda.

Satu sistem mengatakan bahan bakar di tangki kanan menurun cepat.

Sistem lain menunjukkan jumlah normal.

Kapten Adrian memukul sandaran kursinya pelan.

“Seperti seluruh pesawat sedang memberi kita informasi palsu.”

Kalimat itu membuat Laras terdiam.

Bukan kerusakan biasa.

Terlalu banyak sistem bermasalah secara bersamaan.

Terlalu teratur.

“Sejak kapan semua ini dimulai?” tanyanya.

Reza menjawab, “Sekitar dua puluh menit setelah kami melewati titik navigasi terakhir.”

“Ada pembaruan sistem sebelum terbang?”

Kapten Adrian memandangnya.

“Ada. Pembaruan perangkat lunak minor dilakukan di Jakarta sebelum keberangkatan.”

Laras perlahan menoleh.

“Siapa yang mengesahkan?”

“Saya tidak tahu. Bagian teknik.”

Laras merasa ada sesuatu yang dingin bergerak di punggungnya.

Enam bulan lalu, pesawat latih yang ia terbangkan juga baru menerima pembaruan sistem.

Setelah itu sensor mulai memberikan pembacaan berbeda.

Ia berhasil keluar.

Ardhana tidak.

Setidaknya itu yang tertulis dalam laporan resmi.

“Kapten, apakah Anda menyimpan manifest teknisi sebelum keberangkatan?”

Kapten Adrian mengangguk ke Reza.

“Cek.”

Reza membuka data pemeliharaan digital.

Beberapa detik berlalu.

Lalu wajahnya berubah.

“Ada sesuatu.”

“Apa?”

“Nama teknisi terakhir tidak muncul.”

Kapten Adrian mengerutkan dahi.

“Maksudmu?”

“Kolomnya kosong.”

Laras mendekat.

Benar.

Jam pemeriksaan tercatat.

Kode pekerjaan tercatat.

Nomor akses tercatat.

Tetapi nama orang yang melakukan pembaruan hilang.

“Seseorang menghapusnya,” kata Laras.

Kapten Adrian menatapnya.

“Bu, apakah Anda menyiratkan ada sabotase?”

“Saya belum menyimpulkan apa pun.”

“Tapi Anda memikirkannya.”

Laras tidak menjawab.

Karena itulah yang sedang ia pikirkan.

Lalu speaker komunikasi berbunyi.

Suara petugas kabin terdengar.

“Kapten, ada masalah di kabin depan.”

Kapten Adrian menekan tombol.

“Masalah apa?”

“Seorang penumpang mencoba masuk ke area galley depan. Dia mengaku teknisi penerbangan dan meminta bertemu kapten.”

Laras dan Kapten Adrian saling pandang.

“Namanya?” tanya Laras cepat.

Kapten Adrian mengulang pertanyaan melalui interkom.

“Siapa nama penumpang itu?”

Jawaban datang beberapa detik kemudian.

“Bima Santoso.”

Laras tidak mengenal nama itu.

Kapten Adrian melihat daftar penumpang.

“Bima Santoso, kursi 31C.”

“Pekerjaan?”

“Tidak tercantum.”

Laras berpikir cepat.

“Jangan biarkan dia masuk kokpit.”

Kapten Adrian memberi instruksi pada kepala kabin.

“Katakan kami akan bicara melalui interkom dulu.”

Beberapa saat kemudian suara seorang pria muncul.

“Kapten, saya pernah bekerja pada sistem avionik pesawat jenis ini. Saya mendengar pengumuman sebelumnya. Kalau sensor Anda bermasalah, saya mungkin bisa membantu.”

Kapten Adrian menatap Laras.

Laras memberi isyarat agar ia melanjutkan.

Kapten bertanya, “Anda bekerja di mana?”

Hening sebentar.

“Dulu di perusahaan pemeliharaan pesawat di Tangerang.”

“Nama perusahaan?”

Hening lagi.

“Garuda Aero Teknik Mandiri.”

Laras mengernyit.

Ia pernah mendengar perusahaan itu.

Bukan perusahaan besar.

Namun enam bulan lalu nama perusahaan tersebut sempat muncul dalam dokumen investigasi kecelakaannya.

Hanya sebentar.

Kemudian hilang dari laporan final.

Laras mendekati mikrofon.

“Pak Bima.”

Suara di seberang terdiam.

“Ya?”

“Saya Laras Pratama.”

Tidak ada jawaban.

Bahkan napas pria itu seolah berhenti.

Laras langsung tahu.

Ia mengenalnya.

“Atau saya seharusnya memanggil Anda dengan nama lain?”

Kapten Adrian menoleh cepat.

“Bu Laras?”

Laras terus bicara.

“Enam bulan lalu ada seorang teknisi dengan inisial BS dalam lampiran investigasi kecelakaan pesawat saya. Nama lengkapnya tidak pernah ditulis.”

Di interkom terdengar suara gesekan.

Seolah seseorang memindahkan telepon.

“Bu Laras, saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan.”

“Kalau begitu kenapa Anda tahu sistem sensor kami bermasalah?”

“Saya hanya menebak dari pengumuman.”

“Kapten tidak pernah mengumumkan masalah sensor.”

Hening.

Kapten Adrian perlahan menatap Laras.

Wajahnya menjadi tegang.

Laras melanjutkan.

“Pak Bima, jangan bergerak dari tempat Anda.”

Sambungan terputus.

Beberapa detik kemudian suara kepala kabin masuk.

“Kapten! Penumpang itu berlari ke belakang!”

Kapten Adrian berdiri setengah dari kursinya.

“Amankan dia!”

“Tolong jangan buat keributan besar,” kata Laras cepat. “Kalau dia panik, penumpang lain bisa ikut panik.”

Kepala kabin dan dua awak laki-laki mengejar Bima.

Namun tak lama kemudian suara mereka kembali.

“Kapten, kami menemukannya.”

“Di mana?”

“Di toilet belakang.”

“Bawa dia ke kursinya.”

Ada jeda.

“Tidak bisa.”

Laras menegang.

“Kenapa?”

“Dia pingsan.”

Kapten Adrian memejamkan mata sebentar.

“Dokter?”

“Ada dokter umum di kabin. Sedang memeriksa.”

Laras menatap layar.

Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu bersamaan.

Kerusakan sistem.

Pesan dari orang yang dinyatakan meninggal.

Teknisi misterius.

Sekarang teknisi itu pingsan.

Lalu tiba-tiba monitor navigasi berkedip.

Reza menunjuk layar.

“Kapten…”

Jalur penerbangan berubah sendiri.

Pesawat mengarah beberapa derajat ke selatan.

Kapten Adrian segera mengambil alih.

“Autopilot mati!”

“Saya sudah matikan!” kata Reza.

“Tapi sistem masih memberi input.”

Laras memandang layar.

Seseorang atau sesuatu masih mencoba mengendalikan pesawat melalui sistem digital.

“Putuskan modul navigasi otomatis.”

“Kalau kita lakukan itu, kita kehilangan beberapa fungsi penting.”

“Kita masih punya sistem dasar.”

Kapten Adrian mengambil keputusan.

“Lakukan.”

Reza memutus modul.

Layar utama meredup sesaat.

Kemudian stabil.

Pesawat kini sepenuhnya di bawah kendali manual.

Laras menghembuskan napas.

Untuk pertama kalinya sejak masuk kokpit, ia merasa mereka benar-benar mengendalikan pesawat.

Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.

Pesan baru masuk.

Kali ini bukan dari Ardhana.

Pesan hanya berisi angka.

17-09-26.

Laras membaca angka itu dua kali.

“Apa artinya?” tanya Kapten Adrian.

Laras merasa jantungnya berhenti sesaat.

Tanggal itu.

Ia mengenalnya.

“Ini tanggal kecelakaan saya.”

Reza menatapnya.

“Enam bulan lalu?”

Laras mengangguk.

Di bawah angka tersebut muncul pesan kedua.

KAU TIDAK SEHARUSNYA SELAMAT.

Kokpit menjadi sunyi.

Kapten Adrian memandang Laras.

“Ini bukan kecelakaan.”

Laras tidak menjawab.

Ia sudah tahu.

Seseorang di luar sana mengetahui persis siapa dirinya.

Mengetahui kecelakaannya.

Mengetahui Ardhana.

Dan entah bagaimana orang itu bisa mengirim pesan langsung ke sistem pesawat.

Laras mengambil napas panjang.

“Kapten, saya perlu tahu satu hal.”

“Apa?”

“Siapa yang tahu saya ada di penerbangan ini?”

“Saya tidak tahu. Manifest penumpang?”

“Bisa diakses maskapai?”

“Tentu.”

“Pihak keamanan?”

“Ya.”

“Staf bandara?”

“Sebagian.”

Laras menutup mata sesaat.

Seseorang mungkin telah memilih penerbangan ini bukan karena pesawatnya.

Melainkan karena dirinya.

Suara kepala kabin kembali terdengar.

“Kapten, dokter sudah memeriksa Pak Bima.”

“Bagaimana kondisinya?”

“Dia sadar.”

“Bagus. Jangan biarkan dia bergerak.”

“Tapi ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.”

Laras mengambil interkom.

“Apa?”

Kepala kabin terdengar ragu.

“Dia terus meminta bertemu Ibu Laras.”

Laras menjawab, “Tidak.”

“Katanya dia punya sesuatu milik Mayor Ardhana.”

Laras membeku.

Kapten Adrian langsung melihatnya.

“Apa?”

Kepala kabin mengulang.

“Dia bilang ada benda yang dititipkan Mayor Ardhana kepadanya sebelum kecelakaan.”

Laras berdiri.

“Saya akan ke belakang.”

Kapten Adrian menggeleng.

“Kita membutuhkan Anda di sini.”

“Saat ini pesawat stabil.”

“Bu Laras…”

“Kalau dia benar-benar mengenal Ardhana, mungkin dia tahu kenapa sistem kita disabotase.”

Kapten Adrian ragu beberapa detik.

Akhirnya ia mengangguk.

“Lima menit.”

Laras meninggalkan kokpit bersama kepala kabin.

Saat berjalan melewati lorong, ratusan mata memandangnya.

Beberapa penumpang berbisik.

Seorang pria bahkan merekam dengan ponsel sebelum pramugari meminta ia berhenti.

Laras terus berjalan.

Ia tidak peduli.

Di kursi belakang, Bima duduk pucat dengan dua awak berdiri di sisinya.

Usianya sekitar empat puluh lima tahun.

Kemejanya basah oleh keringat.

Begitu melihat Laras, matanya langsung berubah.

Seperti seseorang yang telah melihat hantu.

“Bu Laras.”

“Kita pernah bertemu?”

Bima menggeleng.

“Tapi saya tahu Anda.”

“Dari mana?”

Bima melihat sekeliling.

“Tidak di sini.”

“Bicara sekarang.”

Bima menelan ludah.

“Enam bulan lalu, saya bekerja dalam tim pemeliharaan sebelum pesawat Anda melakukan latihan malam.”

Laras merasa darahnya dingin.

“Lanjutkan.”

“Ada orang yang memerintahkan kami memasang pembaruan.”

“Siapa?”

“Saya tidak tahu nama aslinya.”

“Jangan bohong.”

“Saya serius.”

“Lalu kenapa Anda kabur ketika saya menyebut investigasi?”

Bima menunduk.

“Karena saya menandatangani laporan yang tidak benar.”

Laras menatapnya tajam.

“Apa yang Anda sembunyikan?”

Bima memasukkan tangan perlahan ke saku dalam jaket.

Awak kabin langsung menahannya.

“Pelan-pelan!”

“Saya hanya mau ambil sesuatu.”

Laras memberi tanda.

“Biarkan.”

Bima mengeluarkan benda kecil yang dibungkus plastik.

Sebuah flashdisk hitam.

Pada bagian luarnya ada stiker lama.

Tulisan tangan.

L.

Tulisan itu langsung dikenali Laras.

Ardhana selalu menulis huruf L dengan garis bawah panjang.

“Dari mana Anda mendapatkan ini?”

“Mayor Ardhana memberi kepada saya malam sebelum kecelakaan.”

Laras menahan napas.

“Kenapa dia memberikannya kepada Anda?”

“Dia bilang kalau sesuatu terjadi padanya, berikan kepada Laras.”

Laras hampir tidak percaya.

“Kenapa baru sekarang?”

Mata Bima penuh ketakutan.

“Karena saya diancam.”

“Siapa yang mengancam Anda?”

Bima melihat ke arah depan pesawat.

“Orang yang sama yang mungkin sedang mencoba menjatuhkan pesawat ini.”

Laras mengambil flashdisk itu.

“Apa isinya?”

“Saya tidak tahu seluruhnya.”

“Sebagian?”

Bima mengangguk.

“Rekaman.”

“Rekaman apa?”

“Percakapan sebelum kecelakaan.”

Laras mengepalkan tangan.

“Dengan siapa?”

Bima membuka mulut.

Namun sebelum sempat menjawab, lampu kabin mati.

Seketika terdengar jeritan penumpang.

Pesawat bergetar keras.

Lampu darurat merah menyala di sepanjang lantai.

Laras hampir terjatuh.

Dari pengeras suara terdengar suara Kapten Adrian.

“Semua penumpang tetap duduk! Kenakan sabuk pengaman sekarang!”

Laras menggenggam sandaran kursi.

Kepala kabin berteriak.

“Bu Laras, kembali ke kokpit!”

Laras baru berbalik ketika Bima menangkap pergelangan tangannya.

Wajah pria itu ketakutan.

“Jangan buka flashdisk itu di sistem pesawat.”

Laras menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena orang yang membuat sistem ini rusak mungkin sedang menunggu Anda melakukannya.”

Pesawat kembali berguncang.

Laras berlari ke depan.

Saat ia masuk ke kokpit, Kapten Adrian sedang berjuang menjaga posisi pesawat.

“Ada apa?”

“Daya listrik utama turun!”

“Generator?”

“Generator satu putus. Generator dua tidak stabil.”

Laras duduk cepat.

“Kita punya baterai cadangan?”

“Ya, tapi waktunya terbatas.”

Reza tiba-tiba menunjuk radar.

“Ada bandara yang bisa kita capai.”

“Di mana?”

“Pulau kecil di depan. Bandara militer lama, sekarang dipakai sebagai landasan darurat.”

Kapten Adrian melihat peta.

“Landasannya pendek.”

Laras menghitung cepat.

“Kalau kita kurangi berat dan pendekatan tepat, masih mungkin.”

“Tapi cuaca di sana buruk.”

Seakan untuk menjawab, petir muncul jauh di depan.

Kapten Adrian memandang Laras.

“Pilihan lain?”

Laras melihat bahan bakar.

Sistem utama mati, tapi perhitungan manual memberi jawaban jelas.

Mereka tidak punya cukup keamanan untuk berputar jauh.

“Tidak ada.”

Kapten Adrian mengangguk.

“Kita menuju landasan itu.”

Beberapa menit berikutnya terasa seperti satu jam.

Hujan mulai menghantam kaca depan.

Turbulensi mengguncang pesawat.

Ketinggian terus menurun.

Laras membantu membaca instrumen cadangan.

“Kecepatan turun stabil.”

“Landasan terlihat?”

“Belum.”

Reza mencoba komunikasi radio.

“Menara darurat, ini penerbangan 412…”

Tidak ada jawaban.

Sekali lagi.

Tidak ada.

Laras menatap luar.

Hanya hitam.

Lalu di kejauhan muncul garis kecil cahaya.

“Di sana.”

Kapten Adrian melihatnya.

“Visual.”

Pesawat mulai melakukan pendekatan.

Penumpang di belakang pasti sudah merasakan mereka turun.

Namun tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Ketinggian 500 meter.

Laras melihat indikator kecepatan.

“Sedikit terlalu cepat.”

Kapten Adrian mengurangi.

200 meter.

Lampu landasan tampak semakin jelas.

Kemudian Reza berteriak.

“Kapten!”

“Apa?”

“Lampu landasan mati!”

Gelap.

Seluruh garis yang tadi menjadi panduan mereka lenyap.

Kapten Adrian mengumpat.

“Kita kehilangan visual!”

“Naik lagi?” tanya Reza.

Laras melihat bahan bakar.

“Kalau kita batal sekarang, kita mungkin tidak punya kesempatan kedua.”

Kapten Adrian menatap Laras.

“Bisa?”

Laras mengingat latihan malam bersama Ardhana.

Gelap.

Instrumen terbatas.

Tidak ada bantuan.

Teknologi bisa berbohong.

“Bisa.”

Laras mengambil peta pendekatan.

“Pertahankan arah. Jangan kejar lampu. Ikuti heading.”

Kapten Adrian menuruti.

“Seratus lima puluh meter.”

“Stabil.”

“Seratus.”

Hujan semakin keras.

Tiba-tiba lampu landasan menyala lagi.

Tapi Laras langsung berteriak.

“Jangan ikuti!”

Kapten Adrian terkejut.

“Kenapa?”

“Posisinya salah!”

Lampu itu muncul terlalu jauh ke kanan.

Seseorang menyalakan panduan palsu.

Kalau mereka mengikuti cahaya itu, pesawat akan keluar dari jalur sebenarnya.

“Heading tetap!” teriak Laras.

Kapten Adrian mempertahankan arah.

Lima puluh meter.

Laras menahan napas.

Lalu dari balik hujan, permukaan landasan asli terlihat.

“Tiga puluh meter!”

Kapten Adrian menarik sedikit hidung pesawat.

Roda menyentuh landasan.

Benturan keras mengguncang seluruh kabin.

Jeritan terdengar.

Rem bekerja.

Pesawat melaju kencang.

Landasan semakin habis.

“Rem penuh!”

Pesawat terus bergerak.

Seratus meter.

Lima puluh.

Kemudian berhenti.

Hanya beberapa meter sebelum ujung landasan.

Di kokpit, tak ada yang bicara.

Reza menutup wajah dengan kedua tangan.

Kapten Adrian menghembuskan napas panjang.

“Kita hidup.”

Laras menatap kaca depan.

Hujan masih turun.

Di belakang mereka, ratusan penumpang mulai menangis, berdoa, atau bertepuk tangan.

Namun Laras tidak merasa lega.

Karena ia melihat sesuatu di pinggir landasan.

Sebuah kendaraan hitam.

Mesinnya menyala.

Tidak ada tanda bandara.

Tidak ada petugas berseragam.

Kendaraan itu perlahan bergerak mendekati pesawat.

Kapten Adrian melihatnya juga.

“Siapa mereka?”

Laras menggenggam flashdisk Ardhana di sakunya.

Kemudian radio yang sejak tadi mati tiba-tiba hidup.

Suara seorang pria masuk.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Penerbangan 412, tetap di tempat. Jangan membuka pintu pesawat.”

Kapten Adrian menekan tombol.

“Identifikasi diri Anda.”

Tidak ada jawaban.

Lalu suara yang sama berkata:

“Bu Laras Pratama pasti ada di dalam pesawat.”

Wajah Laras berubah.

Suara itu dikenalnya.

Bukan dari masa lalu.

Bukan dari kecelakaan.

Ia baru mendengarnya beberapa jam sebelumnya.

Di Bandara Soekarno-Hatta.

Orang itu adalah pria yang membantu memeriksa dokumennya sebelum naik pesawat.

Dan saat itulah Laras sadar bahwa apa pun yang terjadi malam ini tidak dimulai di udara.

Semua sudah direncanakan sejak ia masih berada di Jakarta.

Bahkan mungkin jauh sebelum itu.

Di sakunya, flashdisk milik Ardhana terasa semakin berat.

Karena sekarang hanya ada satu pertanyaan.

Apa yang sebenarnya direkam Ardhana sampai seseorang bersedia menjatuhkan satu pesawat penuh penumpang demi memastikan Laras tidak pernah mendengarnya?

Dan sebelum Laras sempat mengatakan apa pun, Bima berlari masuk ke area depan dengan wajah pucat.

“Bu Laras!”

Ia menunjuk flashdisk di tangan Laras.

“Jangan berikan benda itu kepada siapa pun.”

Laras menatapnya.

Bima mengambil napas gemetar.

“Karena orang yang memerintahkan sabotase kecelakaan Anda… namanya ada di dalam rekaman itu.”

Lalu seseorang dari luar mengetuk pintu pesawat tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Dan Bima berbisik:

“Dia sudah datang.”