Part : 2 Hendra menghela napas panjang.

PART 2

Pengacara keluarga, Bambang Irawan, tiba 40 menit kemudian.

Dia memeriksa akta nikah Nia, akta kelahiran Maya, dan surat kematian Rendy.

Semua dokumen itu sah dan tercatat secara hukum.

Nia menolak menandatangani dokumen apa pun yang disodorkan.

Bambang berbicara dengan tenang.

“Bu Nia, tidak ada yang akan mengambil hak Anda sebagai ibu. Kita hanya perlu memastikan garis keturunan secara resmi.”

Saat mereka berbicara di ruang tamu, pintu depan terbuka kasar.

Aris Wijaya, keponakan Hendra yang selama ini digadang-gadang sebagai ahli waris tunggal, masuk dengan wajah tegang.

“Luar biasa,” ujar Aris sambil menatap Nia dengan pandangan merendahkan.

“Seorang janda tidak punya uang tiba-tiba datang membawa anak dan mengaku sebagai keluarga kaya?”

Nia langsung berdiri dan memegang tangan Maya.

“Kami pergi.”

Hendra berdiri dari kursinya.

“Tidak. Yang harus pergi dari rumah ini adalah kamu, Aris.”

Bambang membuka dokumen perwalian dan wasiat mendiang Sofia.

Ada satu pasal khusus yang tertulis di sana: jika Rendy memiliki keturunan sah, sebagian aset pribadi milik Sofia harus diserahkan kepada anak tersebut.

Wajah Aris berubah drastis.

Nia akhirnya menyetujui tes DNA demi kepastian hukum, namun dengan satu syarat mutlak: tidak boleh ada pembahasan harta di depan Maya.

Sambil menunggu proses sampel diambil oleh tim medis independen, Bi Bik membawa sebuah kotak kayu dari kamar atas.

Kotak itu disimpan rapi oleh mendiang Sofia.

Di dalamnya terdapat belasan surat yang dikembalikan oleh pos, album foto masa kecil Rendy, dan sebuah catatan tangan:

“Untuk putraku Rendy, jika suatu hari kamu kembali ke rumah ini.”

Malam harinya, pengacara menerima dokumen hasil analisis laboratorium dari lembaga medis resmi melalui pesan terenkripsi.

Bambang membaca laporan itu sebelum menatap Hendra.

“Hasil tes menunjukkan tingkat kesesuaian DNA sebesar 99,9 persen. Anak ini adalah cucu kandung Anda.”

Aris berdiri terpaku di sudut ruangan.

Maya bukan lagi tamu asing.

Dia adalah ahli waris sah dari garis keturunan utama.

Namun kepastian itu tidak lantas mengubah suasana rumah menjadi hangat.

Nia menegaskan bahwa kertas hasil tes tidak bisa menghapus rasa sakit selama 12 tahun.

Hendra yang terbiasa mengatur orang lain dengan uang dan kekuasaan kini tidak tahu harus berbuat apa.

“Saya bisa menyiapkan rumah yang lebih layak untuk kalian,” menawarkan Hendra.

“Tidak perlu,” jawab Nia tegas.

“Saya bisa membiayai sekolah Maya.”

“Belum saatnya.”

“Lalu apa yang harus saya lakukan?”

Nia menatap mata pria tua itu.

“Jelaskan kepada saya kenapa Rendy meninggal tanpa pernah mau mengingat nama ayahnya.”

Hendra meminta Bi Bik membawa Maya ke ruang bermain.

Setelah anak itu keluar, Hendra duduk di kursi kayunya.

Rendy adalah putra tunggalnya.

Sejak kecil, Rendy suka menggambar dan memegang kamera.

Sofia selalu mendukung bakat itu, tetapi Hendra menganggapnya hanya mainan tidak berguna.

Hendra ingin anaknya meneruskan jaringan bisnis hotel yang dia bangun dari nol.

Ketika berusia 24 tahun, Rendy memutuskan pergi ke Yogyakarta untuk membuka studio fotografi sendiri.

Pertengkaran hebat terjadi di ruangan ini.

“Saya katakan padanya, kalau dia keluar dari rumah ini hanya untuk menjadi tukang foto, jangan pernah pulang sebelum dia sadar,” kata Hendra dengan suara pelan.

“Dan Anda tidak pernah mencarinya?” tanya Nia.

“Tidak.”

“Bahkan saat Ibu Sofia sakit keras?”

Hendra menunduk.

Dia mengira Rendy akan menyerah dan kembali ketika kehabisan uang.

“Saya pikir gengsinya yang akan hancur duluan.”

“Ternyata Anda salah.”

“Ya, saya salah besar.”

Nia membuka album hijau milik suaminya.

Di dalamnya ada foto-foto Rendy saat bekerja keras memotret pernikahan kecil di desa, pemandangan kota, hingga foto saat dia memeluk Maya yang baru lahir di kontrakan sederhana.

Hendra menatap foto anaknya yang tersenyum memakai kaos lusuh.

“Saya tidak pernah melihat dia tersenyum seperti itu.”

“Karena Anda hanya mau melihatnya memakai jas dan duduk di kantor Anda,” balas Nia.

Keesokan harinya, mereka membuka kamar lama Rendy yang tidak pernah diubah sejak dia pergi.

Di dalam laci meja belajar, ada sebuah surat yang belum sempat dikirim Rendy untuk ibunya.

Surat itu berisi tulisan tangan:

“Ibu, aku tidak membenci Ayah. Aku hanya lelah harus menjadi orang lain agar dianggap ada olehnya.”

Hendra memegang kertas itu dengan tangan gemetar.

Tiba-tiba Bi Bik masuk membawa kotak dokumen tua yang disimpan Sofia sebelum meninggal.

Di bagian bawah kotak ada amplop cokelat dari lembaga detektif swasta.

Tanggal di laporan itu menunjukkan waktu 8 tahun lalu.

Sofia ternyata pernah menyewa orang untuk mencari keberadaan Rendy.

Penyelidik berhasil menemukan alamat lengkap Rendy di Yogyakarta, nomor telepon, dan lokasi kerjanya.

Hendra terkejut.

“Saya tidak pernah melihat laporan ini.”

Bambang memeriksa bukti tanda terima surat di bagian belakang dokumen.

Nama penerima paket di kantor pusat 8 tahun lalu tertera jelas.

Aris Wijaya.

Saat itu Aris bekerja sebagai asisten pribadi Hendra.

Hendra langsung memanggil Aris datang ke rumah saat itu juga.

Aris masuk dengan wajah panik begitu melihat dokumen cokelat di atas meja.

“Kamu yang menerima surat ini?” tanya Hendra.

“Saya menerima ratusan dokumen setiap hari, mana saya ingat,” kilah Aris.

Bambang mengeluarkan salinan email konfirmasi penyerahan dokumen dari pihak agensi yang ditujukan langsung ke alamat surel pribadi Aris.

Aris tidak bisa berkutik lagi.

“Ya, saya ingat!” seru Aris akhirnya.

“Kenapa kamu sembunyikan dari saya dan Sofia?”

“Karena Tante Sofia sedang sakit dan Kamu selalu bilang Rendy anak pembangkang! Jika Rendy kembali, semua usaha yang saya bangun di perusahaan akan sia-sia!”

“Itu bukan hakmu untuk memutuskan!” bentak Hendra.

“Saya yang berada di sampingmu selama bertahun-tahun! Saya yang mengurus perusahaan saat Rendy malah sibuk memotret hal tidak berguna!” Aris berteriak meluapkan kekesalannya.

Nia berdiri dan memotong pembicaraan itu.

“Ibu Sofia meninggal tanpa pernah bertemu anaknya lagi karena keputusan Anda. Anda bukan melindungi keluarga ini, Anda hanya takut kehilangan akses pada kekayaan mereka.”

Aris menatap Nia dengan penuh kebencian.

“Lalu kamu mau apa? Mengambil seluruh harta ini bersama anak kecilmu?”

“Saya datang mencari kerja dengan hasil keringat saya sendiri,” jawab Nia tenang. “Jika saya tahu rumah ini milik keluarga yang membuang suaminya, saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini.”

Hendra menatap Aris dengan dingin.

“Mulai hari ini, seluruh wewenangmu di perusahaan dicabut. Keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali.”

“Kamu membuang keponakanmu sendiri demi janda ini?” ancam Aris.

“Saya mengeluarkan orang yang merusak keluarga saya,” tegas Hendra.

Aris pergi meninggalkan rumah dengan emosi tinggi.

Beberapa minggu berlalu, suasana mulai mereda meski belum sepenuhnya pulih.

Hendra mencoba belajar menjadi seorang kakek.

Dia tidak membelikan mainan mahal secara berlebihan.

Dia belajar mendengar cerita Maya tentang sekolahnya, makanan kesukaannya, dan alasannya menyukai warna biru.

Nia tetap menolak untuk tinggal di rumah mewah itu.

Dia memilih tetap tinggal di rumah kontrakan yang lebih layak bersama Maya agar putrinya tumbuh secara sederhana.

Namun ujian belum selesai.

Sebuah artikel berita online lokal mendadak viral dengan judul provokatif: “Mantan Pelayan Mengaku Membawa Cucu Rahasia Pengusaha Hotel Demi Warisan”.

Berita itu memuat foto Nia tampak depan saat keluar dari gerbang perumahan.

Nia sangat marah karena merasa privasi anaknya terganggu.

“Kami akan pindah dari kota ini,” kata Nia tegas saat bertemu Hendra.

Hendra melarangnya.

“Jangan pergi. Kali ini biarkan saya yang menyelesaikannya dengan benar.”

Bambang menyarankan untuk menempuh jalur hukum dan membuat klarifikasi terbuka tanpa melibatkan Maya secara langsung.

Hendra menggelar konferensi pers resmi di salah satu ruang pertemuan hotelnya.

Dia tidak memamerkan harta atau membawa cucunya ke depan kamera.

Di hadapan para wartawan, Hendra berbicara jujur.

“Ibu Nia tidak pernah meminta warisan. Saya adalah ayah yang gagal, yang pernah mengusir putra saya sendiri hanya karena dia memilih jalurnya sendiri sebagai fotografer.”

Pernyataan itu membuat publik berbalik mendukung.

Banyak teman-teman lama Rendy dari Yogyakarta yang mulai menghubungi Nia.

Mereka mengirimkan karya-karya foto yang pernah dibuat oleh Rendy semasa hidupnya.

Ada foto pasar tradisional di pagi hari, foto kakek tua yang sedang memperbaiki sepeda, dan foto senyuman anak-anak kecil di desa.

Di antara ratusan file foto tersebut, ada satu karya Rendy yang diberi judul: “Pintu yang Terbuka”.

Di balik cetakan foto itu, Rendy menulis sebuah kalimat:

“Rumah bukan tentang seberapa besar pintunya, tetapi tentang apakah pintu itu dibuka untuk menerima kita apa adanya.”

Hendra membaca kalimat itu berulang kali di ruang kerjanya.

Dia menyadari kesalahan utamanya selama puluhan tahun.

Atas inisiatif Nia dan bantuan teman-teman seniman Rendy, mereka menggelar pameran foto kenangan untuk mengenang karya Rendy.

Pameran itu diberi nama “Langkah yang Tertinggal”.

Seluruh hasil penjualan karya foto dalam pameran itu disalurkan ke yayasan beasiswa seni untuk anak-anak tidak mampu.

Pada malam pembukaan pameran, Aris mendadak muncul di area galeri.

Dia menghampiri Nia di sudut ruangan.

“Kamu merasa menang sekarang?” bisik Aris.

“Ini bukan soal menang atau kalah,” jawab Nia tenang.

“Saya bisa menyiapkan dana jika kamu mau melepas hak perwalian anak itu.”

Nia menatap Aris tanpa rasa takut.

“Nama suami saya tidak bisa dibeli dengan uang Anda. Dan masa depan anak saya tidak akan pernah dijual.”

Hendra berjalan mendekat bersama petugas keamanan galeri.

“Aris, ini kesempatan terakhir saya minta kamu pergi sebelum petugas membawa kamu keluar secara paksa.”

Aris menatap mereka bertiga dengan kesal, lalu berbalik pergi meninggalkan tempat itu.

Pemeriksaan internal perusahaan akhirnya menemukan bukti bahwa Aris pernah menyalahgunakan dana operasional kantor untuk kepentingan pribadi.

Kasus tersebut diserahkan sepenuhnya ke proses hukum tanpa ada campur tangan keluarga.

Mengenai hak waris, Nia menyetujui pembentukan dana perwalian khusus untuk Maya.

Dana tersebut disimpan secara aman dan baru bisa diakses setelah Maya berusia 21 tahun, khusus untuk pendidikan dan usahanya sendiri.

Nia tidak mengambil satu rupiah pun untuk kepentingan pribadinya.

Dia memilih bekerja sebagai pengelola galeri seni kecil yang didirikan dari hasil pameran Rendy.

Beberapa bulan kemudian, di suatu sore yang cerah, Maya dan Nia berkunjung ke rumah Hendra.

Maya membawa selembar kertas gambar yang dibuatnya di sekolah.

Dia menyerahkannya kepada Hendra.

Di dalam gambar itu, ada sebuah rumah besar dengan pintu depan yang terbuka lebar.

Di depan pintu, ada gambar empat orang: seorang wanita, seorang anak kecil, seorang pria memegang kamera, dan seorang kakek berambut putih.

“Kenapa pintunya digambar besar dan terbuka?” tanya Hendra pelan.

Maya tersenyum polos.

“Kata Ibu, kalau pintunya ditutup, orang yang mau pulang nanti dikira tidak disayangi.”

Hendra terdiam menahan haru.

Pria tua itu mengambil bingkai kayu dan memasukkan gambar tangan cucunya ke dalamnya.

Dia menggantung gambar itu tepat di dinding teras depan, persis di samping pintu masuk utama.

Sejak hari itu, setiap kali Nia dan Maya datang berkunjung, Hendra selalu berjalan sendiri menuju teras untuk membuka pintu lebar-lebar sebelum mereka melangkah naik.