AYAHKU TAK PERNAH MEMBERITAHU SUAMIKU BAHWA IA DULU PELATIH MARINIR—SAMPAI AKU YANG HAMIL DELAPAN BULAN DIPAKSA MENGEPEL LANTAI DEMI MAKAN MALAM, AYAH MEMATIKAN GIMNYA, DAN SEBUAH REKAMAN DI PONSELKU MEMBUKA RAHASIA YANG MEMBUAT SELURUH KELUARGA SUAMIKU TERDIAM

BAGIAN 1 — AYAH DATANG MEMBAWA RANJANG BAYI, TETAPI MENEMUKANKU MENGEPEL SAMBIL MENAHAN NYERI; SAAT SUAMIKU MENGANCAM TAK MEMBERIKU MAKAN, AYAH HANYA MENEKAN SATU TOMBOL DAN RUANG TAMU MENDADAK MEMBEKU
Ayahku tidak pernah menceritakan banyak hal tentang masa mudanya kepada suamiku.
Bagi Arga, ayah hanyalah Pak Wiratama, laki-laki 62 tahun yang tinggal sendirian di Sidoarjo, suka memperbaiki motor tua, bangun sebelum subuh, dan selalu membawa buah setiap kali berkunjung.
Arga tidak tahu bahwa selama lebih dari dua puluh tahun, Ayah bertugas di Korps Marinir.
Ia juga tidak tahu bahwa beberapa tahun terakhir sebelum pensiun, Ayah menjadi salah satu pelatih yang terkenal paling tegas di kesatuannya.
Aku sendiri hampir tak pernah membicarakannya.
Ayah sudah meninggalkan kehidupan militernya jauh sebelum aku menikah.
“Di rumah, Bapakmu ya Bapak,” katanya suatu kali. “Bukan komandan siapa-siapa.”
Mungkin itulah sebabnya Arga berani memperlakukanku seperti itu di depan matanya.
Namaku Laras.
Usiaku tiga puluh dua tahun, dan saat semuanya terjadi, kandunganku sudah memasuki minggu ke-34.
Aku menikah dengan Arga empat tahun sebelumnya.
Dulu dia bukan laki-laki yang suka membentak.
Atau mungkin aku hanya belum melihatnya.
Ketika kami pacaran, Arga bekerja sebagai supervisor penjualan di sebuah perusahaan elektronik di Surabaya. Ia mudah tertawa, rajin mengantar ibuku—sebelum Ibu meninggal—ke rumah sakit, dan bahkan pernah menempuh perjalanan dua jam hanya untuk membawakan bubur ketika aku demam.
Setelah kami menikah, perubahan kecil mulai muncul.
Pertama soal uang.
Gajiku sebagai staf administrasi diminta masuk ke rekening bersama.
Kemudian ATM-ku ia pegang.
Katanya supaya pengeluaran rumah tangga lebih teratur.
Setelah aku hamil dan dokter menyarankan mengurangi aktivitas karena tekanan darahku beberapa kali meningkat, aku berhenti bekerja sementara.
Sejak saat itu, Arga seperti berubah menjadi orang yang berbeda.
Setiap rupiah yang kubutuhkan harus dijelaskan.
Setiap belanja harus difoto struknya.
Setiap telepon dari Ayah membuatnya bertanya terlalu banyak.
“Bapakmu nanya apa?”
“Kenapa telepon lama?”
“Kamu cerita masalah rumah tangga kita?”
Awalnya aku menjawab.
Kemudian aku belajar bahwa jawaban apa pun bisa menjadi alasan untuk bertengkar.
Siang itu Ayah datang tanpa memberitahuku.
Bel rumah berbunyi sekitar pukul tiga.
Aku berjalan pelan menuju pintu sambil memegang pinggang.
Begitu membukanya, kulihat Ayah berdiri dengan sebuah tas kuning besar dan dua batang kayu panjang yang dibungkus kardus.
“Ayah?”
Ia mengangkat tasnya.
“Hadiah buat cucu.”
Untuk pertama kalinya hari itu, aku tersenyum.
Ternyata Ayah membawa ranjang bayi kayu yang sudah beberapa minggu ia buat sendiri.
Ia pernah berjanji akan membuatkannya setelah tahu cucunya laki-laki.
“Mana Arga?” tanyanya.
Aku langsung merasakan perutku menegang.
“Di ruang keluarga.”
Dari dalam terdengar suara ledakan gim.
Ayah melangkah masuk.
Ketika kami melewati ruang keluarga, Arga bahkan tidak berdiri.
Ia duduk bersandar di sofa besar, memakai headset, kaus tanpa lengan, dan celana pendek. Di meja ada empat kaleng minuman energi, dua bungkus keripik, piring bekas makan siang, serta puntung rokok elektronik yang entah berapa kali sudah kuminta agar tidak digunakan di dalam rumah.
“Pak,” katanya singkat.
Ayah mengangguk.
“Aku datang mau bantu pasang ranjang bayi.”
“Taruh saja di kamar, Pak. Nanti saya kerjakan.”
Aku tahu arti “nanti”.
Kotak lemari bayi yang dibeli tiga minggu sebelumnya masih belum dibuka.
Aku menuju dapur untuk membuat teh.
Ayah mengikutiku.
“Laras.”
“Hm?”
“Lihat Bapak.”
Aku menunduk mengambil gelas.
“Kenapa?”
“Lihat Bapak.”
Aku akhirnya menatapnya.
Ayah tidak langsung bertanya.
Justru itu yang membuat dadaku sesak.
Ia memperhatikan wajahku cukup lama.
“Kamu sakit?”
“Biasa. Sudah besar kandungannya.”
“Kakimu bengkak.”
“Dokter bilang harus banyak istirahat.”
Ayah menatap wastafel penuh piring.
Kemudian matanya turun ke ember dan kain pel di sudut dapur.
“Kamu istirahat?”
Aku tertawa kecil.
“Ya… kalau sempat.”
Tiba-tiba terdengar suara Arga.
“Laras!”
Tubuhku otomatis menegang.
Ayah melihatnya.
“Minumanku mana?”
Aku mengambil satu botol teh dingin dari kulkas.
Arga berteriak lagi.
“Yang soda! Jangan yang itu!”
Aku membuka kulkas kembali.
Ayah berkata pelan.
“Dia tidak punya kaki?”
“Ayah.”
“Aku cuma tanya.”
“Jangan mulai.”
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Aku melihat sesuatu berubah di wajah Ayah.
Bukan marah.
Belum.
Lebih seperti orang yang baru menyadari bahwa ada bagian cerita yang selama ini sengaja kusembunyikan.
Aku membawa minuman ke ruang keluarga.
Arga menerimanya tanpa melihatku.
Kemudian ia menunjuk sesuatu di lantai.
Ada bercak kecil bekas saus di dekat meja televisi.
“Kenapa itu belum dibersihkan?”
“Nanti aku bersihkan.”
“Nanti kapan?”
“Pinggangku sakit.”
Ia melepas sebelah headset.
“Kamu dari tadi ngapain?”
Aku menatap Ayah yang berdiri beberapa meter di belakang.
“Aku baru saja—”
“Jangan pakai alasan karena Bapakmu datang.”
Pipiku panas.
“Arga, nanti saja.”
“Nggak.”
Ia menunjuk ember.
“Sekarang.”
Ayah berkata datar, “Nak, Laras hamil besar.”
Arga tertawa pendek.
“Hamil bukan penyakit, Pak.”
Aku ingin bumi membuka lantainya dan menelanku.
Lebih buruk lagi, aku tahu apa yang akan terjadi kalau aku melawan setelah Ayah pulang.
Jadi aku mengambil kain pel.
Aku mencoba berjongkok.
Nyeri seperti ditarik dari pinggang sampai perut bawah.
Aku menahan napas.
“Laras.”
Suara Ayah berubah.
“Aku tidak apa-apa.”
Tanganku gemetar saat menggosok noda itu.
Arga kembali bermain.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suaranya lagi.
“Dekat sofa juga.”
Aku melihatnya.
“Arga…”
“Kalau bersih ya bersih sekalian.”
Aku tidak bergerak.
Ia menoleh.
Matanya menyipit.
“Apa?”
Aku tahu tatapan itu.
Tatapan yang selalu muncul sebelum suaranya menjadi lebih keras.
Sebelum pintu dibanting.
Sebelum ia mengambil dompetku.
Sebelum aku harus meminta uang untuk makan siang keesokan harinya.
“Tidak apa-apa.”
Aku bergeser.
Ayah masih berdiri.
Kedua tangannya berada di samping tubuhnya.
Tenang.
Terlalu tenang.
Lalu Arga mengucapkan kalimat yang menghancurkan sesuatu di dalam diri Ayah.
“Jangan sisakan satu noda pun. Kalau kerja begini saja malas, malam ini nggak usah makan.”
Tanganku berhenti.
Ruangan sunyi beberapa detik.
Kemudian suara permainan kembali terdengar dari televisi.
Aku mendengar langkah Ayah.
Tidak cepat.
Tidak tergesa-gesa.
Ia berjalan melewatiku.
Melewati sofa.
Lalu berhenti di depan rak televisi.
Tangannya meraih kabel ekstensi.
Klik.
Televisi mati.
Konsol mati.
Router kecil di sebelahnya ikut mati.
Seluruh ruangan mendadak senyap.
Arga membeku.
“Apa-apaan ini?”
Ayah tidak menjawab.
Arga berdiri.
“Pak, saya lagi turnamen!”
“Angkat anak saya dari lantai.”
“Apa?”
“Bantu istrimu berdiri.”
Wajah Arga memerah.
“Ini rumah saya.”
Ayah akhirnya menoleh kepadanya.
Aku belum pernah melihat tatapan itu sejak aku kecil.
Bukan tatapan orang marah.
Tatapan seseorang yang tidak membutuhkan suara keras agar orang lain mengerti bahwa ia serius.
Arga melangkah mendekat.
“Pak jangan ikut campur rumah tangga saya.”
“Kalau rumah tanggamu membuat perempuan hamil delapan bulan takut makan, sejak tadi kau sudah membuatnya menjadi urusan orang lain.”
Arga mendorong bahu Ayah.
Aku menjerit kecil.
“Ayah!”
Namun Ayah bahkan hampir tidak bergeser.
Arga mencoba mendorong lagi.
Kali ini Ayah menangkap lengannya, memutar tubuhnya menjauh dariku, lalu menahannya ke dinding dengan gerakan cepat tanpa memukul.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik.
Arga terkesiap.
“Lepasin saya!”
Ayah menahannya cukup lama untuk menghentikan serangan, kemudian melepaskannya dan mundur dua langkah.
Tidak ada pukulan.
Tidak ada tendangan.
Hanya jarak.
Dan sebuah peringatan.
“Jangan pernah sentuh saya lagi.”
Arga menatapnya seperti baru pertama kali menyadari bahwa laki-laki tua di hadapannya bukan orang yang bisa ia intimidasi.
“Ayah…” bisikku.
Ayah menoleh padaku.
“Ambil tasmu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Kamu ikut Bapak.”
Arga langsung tertawa.
“Dia nggak ke mana-mana.”
Ayah tidak memandangnya.
“Laras. Ambil dokumen, obat, dan pakaianmu.”
Arga berdiri di depanku.
“Coba kamu pergi.”
Dan entah mengapa, ancaman itu justru membuat rasa takut yang selama berbulan-bulan kutelan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Aku berjalan ke kamar.
Arga mengikuti.
Namun Ayah berdiri di pintu.
“Dia mau ambil barangnya.”
“Pak, jangan sok jadi pahlawan.”
“Aku tidak sedang jadi pahlawan.”
Ayah menunjuk sofa.
“Duduk.”
Arga tertawa mengejek.
“Kira saya anak buah Bapak?”
“Tidak.”
Ayah menatap kaleng-kaleng minuman di meja.
“Anak buah saya dulu tahu tanggung jawab.”
Aku masuk kamar.
Tanganku bergetar saat mengambil tas kecil.
Di lemari aku memasukkan kartu identitas, buku pemeriksaan kehamilan, charger, dua baju, dan obat tekanan darah.
Lalu mataku berhenti pada sebuah kotak kosmetik di belakang tumpukan handuk.
Di sanalah selama hampir tiga bulan aku menyembunyikan ponsel lamaku.
Arga mengira ponsel itu sudah rusak.
Padahal aku menggunakannya untuk satu hal.
Merekam.
Suara bentakan.
Ancaman.
Pecahan piring.
Pengakuannya mengambil uang tabungan persalinan.
Dan satu rekaman yang bahkan belum pernah kudengarkan kembali karena aku terlalu takut mendengar suara diriku sendiri di dalamnya.
Aku memasukkan ponsel itu ke tas.
Ketika kembali ke ruang keluarga, Arga sedang berteriak.
“Bapak bawa dia pergi, saya laporkan penculikan!”
Ayah hanya mengangkat alis.
“Perempuan tiga puluh dua tahun memilih pergi bersama ayahnya bukan penculikan.”
Aku berjalan menuju pintu.
Arga tiba-tiba berkata,
“Kalau kamu keluar dari rumah ini, jangan harap bisa bawa anak saya.”
Aku berhenti.
Tanganku memegang perut.
Ia tersenyum ketika melihat reaksiku.
“Dengar itu, Laras?”
Aku menatapnya.
“Kamu nggak punya uang. Nggak punya pekerjaan. Bahkan rekeningmu saya yang pegang.”
Ia mendekat.
“Kalau kamu pergi, saya akan bilang kamu nggak stabil. Saya punya keluarga, pengacara, dan bukti kamu bergantung pada saya.”
Ayah hendak bicara.
Namun aku mengangkat tangan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin Ayah berbicara untukku.
Aku membuka tas.
Mengambil ponsel lama.
Arga memucat.
Matanya langsung terpaku pada benda itu.
“Kamu masih punya itu?”
Aku menyalakannya.
Layarnya retak.
Baterainya tinggal 34 persen.
Tetapi semua file masih ada.
Puluhan rekaman.
Foto.
Pesan yang kukirim ke email baru yang tidak ia ketahui.
Aku menatap suamiku.
“Masalahnya, Ga…”
Suaraku gemetar.
Tetapi kali ini bukan karena takut.
“…aku juga punya bukti.”
Dan tepat ketika aku menekan salah satu rekaman, terdengar suara Arga sendiri dari pengeras suara:
“Kalau bapakmu sampai tahu uang persalinan itu aku pakai, aku pastikan kamu menyesal.”
Wajah Ayah berubah.
Namun bukan Ayah yang membuat darahku serasa berhenti mengalir.
Dari rekaman itu terdengar kalimat Arga berikutnya.
Kalimat yang bahkan telah kulupakan.
“Lagipula rumah ini sebentar lagi bukan rumahmu lagi. Suratnya sudah hampir selesai.”
Aku menatap Arga.
“Surat apa?”
Untuk pertama kalinya hari itu, suamiku tidak punya jawaban.
BAGIAN 2 — REKAMAN ITU MEMBUKA RAHASIA UANG PERSALINAN DAN SURAT RUMAH; NAMUN KETIKA AYAH MEMBAWAKU KE RUMAH SAKIT, SEORANG PETUGAS BANK MENELEPON DAN MENGUNGKAP RENCANA ARGA YANG JAUH LEBIH BESAR
Kami tidak pulang ke rumah Ayah.
Dalam perjalanan, perutku mulai mengeras berkali-kali.
Awalnya kupikir hanya kontraksi palsu akibat stres.
Kemudian rasa sakit datang lagi.
Lebih kuat.
Ayah langsung mengubah arah menuju rumah sakit di Surabaya tempat aku biasa kontrol.
Arga menelepon sebelas kali.
Aku tidak menjawab.
Ia kemudian mengirim pesan.
Pulang sekarang.
Lalu:
Jangan bikin masalah makin besar.
Lima menit kemudian:
Bapakmu menyerang saya. Ada CCTV. Saya bisa lapor polisi.
Aku hampir tertawa.
Selama bertahun-tahun, aku takut pada kalimat-kalimat seperti itu.
Sore itu, entah kenapa, semuanya terdengar semakin kecil.
Dokter memeriksaku dan mengatakan bayi masih baik, tetapi tekanan darahku tinggi dan aku harus diobservasi beberapa jam.
Ayah duduk di samping tempat tidur.
“Ayah minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena Bapak nggak melihat ini lebih cepat.”
Dadaku langsung sesak.
“Aku yang bohong.”
“Kamu takut.”
Aku menunduk.
Air mataku jatuh.
“Aku malu.”
Ayah menggenggam tanganku.
“Yang seharusnya malu bukan kamu.”
Aku akhirnya menceritakan semuanya.
Tentang Arga yang mulai mengendalikan uang.
Tentang kartu ATM yang dipegangnya.
Tentang dorongan pertama setelah kami bertengkar soal rekening.
Tentang bagaimana ia meminta maaf keesokan harinya dengan membawa martabak dan bunga.
Tentang ancaman berikutnya.
Tentang uang tabungan persalinan sebesar Rp78 juta yang tiba-tiba hilang.
Ia mengaku memakainya untuk “investasi sementara”.
Aku tidak pernah melihat uang itu lagi.
Kemudian aku menunjukkan rekaman kepada Ayah.
Ada lebih dari tiga puluh file.
Beberapa hanya suara.
Beberapa video yang kurekam diam-diam ketika Arga merusak barang.
Ada foto lenganku setelah ia mencengkeram terlalu kuat.
Ada tangkapan layar pesan.
Ayah tidak berkomentar.
Ia hanya meminta izin mengirim salinannya ke email miliknya.
Sekitar pukul tujuh malam, ponselku berbunyi.
Nomor tak dikenal.
Aku hampir tidak mengangkat.
“Selamat malam, apakah benar dengan Ibu Laras Prameswari?”
“Iya.”
“Saya Rina dari Bank Nusantara cabang Darmo. Mohon maaf menghubungi malam hari. Tadi siang ada permohonan lanjutan terkait fasilitas kredit dengan agunan rumah atas nama Ibu.”
Aku langsung duduk tegak.
“Agunan?”
Ayah menoleh.
“Rumah yang mana?”
“Rumah di Waru, Bu.”
Darahku seperti turun ke kaki.
Rumah itu bukan milik Arga.
Rumah itu warisan dari almarhum Ibu.
Sertifikatnya atas namaku.
“Aku tidak pernah mengajukan kredit.”
Suara di seberang berubah hati-hati.
“Karena itu kami menghubungi Ibu. Ada beberapa ketidaksesuaian tanda tangan, jadi proses belum dapat dilanjutkan.”
Aku menutup mulut.
“Siapa yang mengajukan?”
“Dokumen disampaikan melalui pihak yang mengaku mendapatkan kuasa dari Ibu.”
Aku sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
“Namanya?”
Ada jeda.
“Bapak Arga Mahendra.”
Ayah berdiri.
Aku merasa mual.
Ternyata uang persalinan bukan akhir dari semuanya.
Arga mencoba menjadikan rumah peninggalan Ibu sebagai jaminan utangnya.
Dan aku bahkan tidak tahu.
Besok paginya, dengan bantuan seorang advokat yang dikenalkan teman lama Ayah, kami meminta bank membekukan proses dan menyimpan salinan dokumen untuk pemeriksaan.
Di sana aku melihat sesuatu yang membuat jari-jariku dingin.
Sebuah surat kuasa.
Namaku tercetak di bagian bawah.
Di atas meterai ada tanda tangan yang menyerupai milikku.
Tetapi bukan milikku.
Aku tahu karena huruf “L” selalu kutulis miring ke kiri.
Di dokumen itu, hurufnya tegak sempurna.
“Ada satu hal lagi,” kata petugas bank.
Ia menggeser fotokopi dokumen berikutnya.
Formulir permohonan kredit menunjukkan nilai Rp450 juta.
Tujuan pinjaman ditulis:
Modal pengembangan usaha.
Aku menatapnya.
“Usaha apa?”
Petugas tidak menjawab.
Advokat kami menunjuk nama perusahaan kecil di halaman kedua.
PT Sinar Cakrawala Digital.
Aku tidak mengenalnya.
Namun Ayah mengenali satu nama komisaris di bawahnya.
Ia membaca perlahan.
“Dimas Mahendra.”
Aku langsung mengangkat kepala.
Dimas adalah kakak Arga.
Orang yang selama ini selalu berkata kepadaku bahwa aku harus menjadi istri yang “lebih patuh”.
Dan malam itu juga, sebuah pesan masuk ke ponselku.
Bukan dari Arga.
Dari ibu mertuaku.
Besok datang ke rumah Mama sendiri. Jangan bawa bapakmu. Kita selesaikan urusan rumah itu seperti keluarga.
Di bawah pesan itu ada foto.
Foto sertifikat rumah peninggalan ibuku.
Dokumen asli yang seharusnya kusimpan di lemari terkunci.
Aku menatap Ayah.
“Mereka punya sertifikat aslinya.”
Dan untuk pertama kalinya kami menyadari bahwa yang merencanakan semua ini mungkin bukan hanya Arga.
BAGIAN 3 — KELUARGA ARGA MENGIRA LARAS DATANG SENDIRI UNTUK MENYERAHKAN RUMAH, TETAPI SATU MAP COKELAT, REKAMAN SUARA, DAN KESAKSIAN TAK TERDUGA MEMBUAT SEMUA KEBOHONGAN MEREKA RUNTUH DALAM SATU SORE
Aku tidak datang ke rumah ibu mertuaku sendirian.
Tetapi aku juga tidak membawa Ayah masuk bersamaku.
Itu keputusan kami.
Rumah Bu Ratih berada di kawasan Rungkut, Surabaya.
Rumah dua lantai dengan pagar hitam tinggi, taman yang selalu rapi, dan ruang tamu yang penuh foto keluarga seolah semua orang di dalamnya hidup tanpa masalah.
Aku tiba pukul empat sore.
Ayah menunggu di sebuah kedai kopi dua blok dari sana bersama Pak Hendra, advokat yang membantu kami.
Mereka tidak akan masuk kecuali aku meminta.
Di tas kecilku ada ponsel lama.
Salinan dokumen bank.
Catatan pemeriksaan dokter.
Dan sebuah alat perekam suara yang sudah aktif.
Ketika pintu dibuka, Bu Ratih tidak memelukku.
Ia langsung melihat ke belakangku.
“Bapakmu mana?”
“Tidak ikut.”
Wajahnya tampak lega.
“Bagus.”
Di ruang tengah sudah ada Arga.
Dimas.
Dan seorang laki-laki yang tidak kukenal.
Di meja ada map cokelat besar.
Arga bangkit.
Matanya turun ke perutku.
“Kamu akhirnya sadar.”
Aku duduk.
“Aku datang untuk dengar penjelasan.”
Bu Ratih mendesah seperti aku sedang merepotkan keluarga dengan hal sepele.
“Laras, kalian sebentar lagi punya anak. Jangan hancurkan rumah tangga hanya gara-gara salah paham.”
“Salah paham yang mana?”
Aku membuka tas.
“Uang persalinan Rp78 juta?”
Ia diam.
“Surat kuasa palsu?”
Dimas langsung menyela.
“Jangan asal nuduh palsu.”
Aku memandangnya.
“Rumah itu milikku.”
“Dan Arga suamimu,” katanya. “Apa salahnya suami menggunakan aset keluarga untuk menyelamatkan usaha?”
Akhirnya aku mengerti.
Bukan hanya Arga.
Mereka semua tahu.
“Usaha siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menatap laki-laki asing.
“Bapak siapa?”
Dimas berkata cepat, “Rekan bisnis.”
Laki-laki itu terlihat tidak nyaman.
Aku menoleh ke Arga.
“Ceritakan.”
Arga menarik kursi.
“Dimas punya bisnis distribusi gadget. Tahun lalu ada masalah arus kas.”
“Berapa?”
“Laras…”
“Berapa utangnya?”
Dimas mendecakkan lidah.
“Bukan urusanmu.”
Aku tertawa kecil.
“Rumahku mau kalian jaminkan, tapi utangnya bukan urusanku?”
Bu Ratih berkata, “Nada bicaramu dijaga.”
Aku menatapnya.
Selama empat tahun, kalimat semacam itu selalu berhasil membuatku mengecil.
Hari itu tidak.
“Tidak, Ma. Hari ini nada bicara saya tidak akan jadi topik.”
Ruangan langsung sunyi.
“Topiknya adalah kenapa sertifikat rumah peninggalan ibu saya ada di tangan Mama.”
Bu Ratih menatap Arga.
Kesalahan kecil.
Namun cukup.
Aku menoleh kepada suamiku.
“Kamu yang ambil?”
Ia tidak menjawab.
Aku teringat kejadian dua bulan sebelumnya.
Arga pernah meminta kunci lemari dokumen karena katanya membutuhkan buku nikah untuk urusan kantor.
Aku memberikannya.
Malam itu aku sudah tidur ketika ia mengembalikan kunci.
Aku merasa bodoh.
Tetapi perasaan itu hanya bertahan beberapa detik.
Aku tidak mencuri.
Aku tidak memalsukan.
Aku tidak menipu.
Rasa malu itu bukan milikku.
Arga akhirnya berkata,
“Aku cuma pinjam.”
“Orang meminjam biasanya minta izin.”
“Kamu pasti nolak.”
“Jadi kamu mengambilnya diam-diam?”
Ia mengusap wajah.
“Karena kamu nggak ngerti tekanan yang aku hadapi.”
Aku memandangnya lama.
Kemudian mengeluarkan salinan permohonan kredit.
“Rp450 juta.”
Arga terdiam.
“Berapa yang akan kamu dapat?”
Dimas berdiri.
“Sudah cukup.”
“Duduk, Mas Dimas.”
Ia tertawa.
“Kamu siapa menyuruh saya duduk?”
Aku menunjuk map cokelat.
“Kalau kalian ingin saya membahas rumah saya, saya akan bicara sampai selesai.”
Laki-laki asing di samping Dimas tiba-tiba berdeham.
“Maaf, saya sepertinya tidak perlu ada di sini.”
Dimas menahannya.
“Tunggu.”
Aku menatapnya.
“Bapak siapa?”
Akhirnya ia menjawab sendiri.
“Nama saya Yudi. Saya investor.”
Aku mengangguk.
“Pak Yudi tahu rumah yang mau dipakai sebagai agunan bukan milik mereka?”
Wajahnya berubah.
Dimas langsung berkata, “Jangan dengarkan dia.”
Namun Pak Yudi sudah menatap Arga.
“Kalian bilang rumah itu aset keluarga yang sudah disetujui.”
Tidak ada jawaban.
Ia berdiri.
“Kalau begitu saya pulang.”
Dimas mencengkeram lengannya.
“Duduk dulu.”
Pak Yudi menarik tangannya.
“Jangan sentuh saya.”
Ia pergi.
Pintu tertutup.
Dan suasana berubah.
Arga tidak lagi mencoba terlihat tenang.
“Kamu puas?”
“Aku bahkan belum mulai.”
Aku mengeluarkan ponsel lama.
Wajahnya langsung pucat.
Bu Ratih bertanya, “Apa itu?”
Aku membuka rekaman pertama.
Suara Arga terdengar jelas.
“Kalau kamu cerita ke bapakmu, kartu ATM kamu aku blokir. Mau makan pakai apa?”
Bu Ratih memandang putranya.
Arga berkata cepat, “Itu dipotong konteksnya.”
Aku memutar rekaman kedua.
Suara benturan.
Tangisku.
Kemudian Arga:
“Jangan sok berani cuma karena hamil. Kamu hidup pakai uangku.”
Bu Ratih mulai gelisah.
“Sudah, matikan.”
“Belum.”
Aku memutar rekaman ketiga.
Yang ini berbeda.
Direkam satu bulan sebelumnya saat Arga berbicara melalui telepon di balkon.
Aku tidak mengetahui lawan bicaranya waktu itu.
Sekarang aku tahu.
Suara Arga:
“Mas, Mama bilang sertifikat sudah aman. Tinggal tanda tangan Laras. Kalau dia nggak mau, ya pakai yang kemarin kita latihan.”
Kemudian suara Dimas.
Samar.
Tetapi cukup jelas.
“Yang penting bank jangan sampai telepon dia.”
Wajah Dimas kehilangan warna.
Aku menghentikan rekaman.
“Masih mau bilang aku salah paham?”
Bu Ratih berdiri.
“Dimas?”
Putranya membentak,
“Mama sendiri yang bilang rumah itu harus dipakai dulu!”
Dan dalam satu kalimat itu, mereka mulai menghancurkan satu sama lain.
Bu Ratih menunjuk Arga.
“Saya cuma bilang bicara baik-baik dengan istrimu!”
Arga tertawa pahit.
“Mama yang ambil sertifikatnya!”
“Karena kamu bilang Laras sudah setuju!”
Dimas menyela,
“Kalian berdua jangan lempar kesalahan ke saya!”
Aku hanya duduk.
Mendengarkan.
Selama berbulan-bulan mereka membuatku merasa seperti orang bodoh di rumahku sendiri.
Sekarang mereka bahkan tidak membutuhkan pertanyaanku untuk membongkar kebohongan mereka.
Kemudian Arga memukul meja.
“Cukup!”
Aku tersentak.
Ia berjalan ke arahku.
“Kamu matikan rekaman itu.”
Aku berdiri.
“Jangan mendekat.”
“Kamu sengaja jebak keluarga saya?”
“Aku merekam perlakuan suamiku sendiri.”
Ia meraih ponselku.
Aku mundur.
“Arga.”
“Kasih sini!”
Tangannya hampir menyentuhku ketika sebuah suara terdengar dari pintu.
“Jangan.”
Semua kepala menoleh.
Ayah berdiri di sana.
Di sampingnya Pak Hendra.
Aku ternyata tanpa sadar telah menekan tombol panggilan darurat kecil yang disiapkan Pak Hendra sebelum aku masuk.
Ayah tidak menyerbu.
Tidak berteriak.
Ia hanya masuk dan berdiri di antara aku dan Arga.
“Laras mau pulang.”
Arga tertawa sinis.
“Bapak lagi.”
Ayah menatapnya.
“Kali ini saya tidak datang untuk bicara dengan kamu.”
Pak Hendra maju.
“Saya kuasa hukum sementara Ibu Laras. Kami sudah menyampaikan keberatan resmi kepada bank dan sedang menyiapkan laporan atas dugaan pemalsuan dokumen serta tindakan lain yang relevan berdasarkan bukti yang tersedia.”
Mendengar kata laporan, Bu Ratih langsung berubah.
“Pak, jangan dibesar-besarkan. Ini keluarga.”
Pak Hendra menjawab tenang.
“Kalau sebuah keluarga mengambil sertifikat tanpa izin dan menggunakan tanda tangan yang dipersoalkan pemiliknya, status hubungan keluarga tidak menghapus persoalannya.”
Dimas mendadak duduk.
Arga masih menatapku.
“Kamu benar-benar mau lakukan ini?”
Aku menjawab,
“Aku sudah melakukannya.”
Wajahnya berubah.
“Aku suamimu.”
“Itulah yang paling menyakitkan.”
Untuk pertama kalinya, suaraku tidak bergetar.
“Aku menikah denganmu karena kupikir rumah adalah tempat paling aman bagiku. Tapi ternyata aku harus menyembunyikan ponsel di kotak kosmetik supaya suatu hari ada orang yang percaya pada apa yang terjadi di dalam rumahku sendiri.”
Arga membuka mulut.
Aku tidak memberinya kesempatan.
“Aku meminta uang untuk kontrol kehamilan dari uang yang sebenarnya hasil kerjaku sendiri.”
“Kamu—”
“Aku takut membuka kulkas tanpa berpikir apakah kamu akan marah.”
Ia terdiam.
“Aku belajar mengenali suara langkahmu supaya tahu apakah malam itu aman untuk bicara.”
Bu Ratih mulai menangis.
Aku menatapnya.
“Dan setiap kali saya meminta bantuan, Mama bilang saya harus lebih sabar karena laki-laki punya tekanan.”
Ia menutup mulut.
“Tidak, Ma.”
Aku menggeleng.
“Sabar bukan berarti menyerahkan diri untuk dihancurkan sedikit demi sedikit.”
Kami pergi sore itu membawa sertifikat asli.
Pak Hendra memastikan dokumen tersebut langsung diamankan.
Dua hari kemudian aku membuat laporan resmi.
Prosesnya tidak selesai dalam semalam.
Tidak ada polisi datang kemudian langsung membawa semua orang pergi seperti dalam sinetron.
Ada pemeriksaan.
Ada dokumen yang harus diverifikasi.
Ada contoh tanda tangan yang dibandingkan.
Ada permintaan keterangan dari pihak bank.
Ada rekaman yang disalin.
Ada hari-hari ketika aku begitu lelah sampai bertanya pada diri sendiri apakah sebaiknya aku menyerah saja.
Tetapi setiap kali rasa takut itu kembali, Ayah mengatakan hal yang sama.
“Besok kita kerjakan satu langkah lagi.”
Bukan sepuluh langkah.
Satu.
Itu cukup.
Tiga minggu kemudian aku melahirkan lebih cepat dari perkiraan.
Seorang bayi laki-laki sehat dengan berat 2,8 kilogram.
Aku menamainya Raka.
Ayah menangis ketika pertama kali menggendongnya.
Benar-benar menangis.
Laki-laki yang dulu membuat puluhan prajurit muda gemetar hanya karena satu tatapan berdiri di ruang rawat sambil mengusap pipi cucunya dengan satu jari dan berkata,
“Kecil sekali.”
Aku tertawa.
“Itu bayi, Yah.”
“Ayah tahu.”
“Terus?”
“Ya tetap kecil.”
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tertawa sampai perutku sakit.
Arga sempat datang ke rumah sakit.
Aku tidak menemuinya sendirian.
Ia berdiri di luar ditemani kakaknya.
Katanya ingin melihat putranya.
Aku tidak melarang hubungan itu selamanya.
Tetapi aku meminta semuanya dilakukan melalui jalur yang aman sambil proses hukum dan perceraian berjalan.
Ia marah.
Mengancam akan mengambil hak asuh.
Namun kali ini aku sudah punya pekerjaan untuk kembali setelah masa pemulihan.
Aku punya rekening sendiri.
Aku punya rumah sendiri.
Dan yang terpenting, aku sudah tidak sendirian.
Beberapa bulan berikutnya, kenyataan mulai mengejar keluarga Arga.
Pengajuan kredit batal.
Investor utama Dimas menarik diri setelah mengetahui persoalan agunan.
Usahanya yang ternyata sudah kesulitan membayar pemasok akhirnya kehilangan gudang sewaan.
Aku tidak merasa senang melihat bisnisnya jatuh.
Tetapi untuk pertama kalinya, kerugian mereka menjadi akibat keputusan mereka sendiri.
Bukan sesuatu yang harus kubayar.
Dalam proses pemeriksaan, diketahui bahwa tanda tanganku pada surat kuasa memang bukan dibuat olehku.
Riwayat komunikasi dan dokumen pendukung memperkuat bahwa aku tidak memberikan persetujuan terhadap pengajuan tersebut.
Masalah hukum berlanjut sesuai prosesnya.
Aku memilih tidak menjadikan hidupku tentang menunggu Arga dihukum.
Aku sudah menghabiskan terlalu banyak waktu dengan hidup mengikuti tindakannya.
Aku ingin hidup kembali untuk diriku sendiri.
Enam bulan setelah kelahiran Raka, aku kembali bekerja.
Bukan di kantor lama.
Seorang teman kuliah membantuku mendapatkan posisi administrasi di perusahaan logistik di Surabaya.
Gajinya tidak spektakuler.
Tetapi ketika gaji pertama masuk ke rekening yang hanya bisa kuakses sendiri, aku duduk di mobil selama hampir sepuluh menit sambil memandangi notifikasi itu.
Rp6.850.000.
Aku menangis.
Bukan karena jumlahnya.
Karena tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya dan kemudian membuatku meminta kembali Rp50.000 untuk makan siang.
Ayah membantu menjaga Raka dua kali seminggu.
Dan ranjang bayi yang dulu ia bawa pada hari semuanya terbongkar akhirnya terpasang di kamar kecil rumahku.
Ada satu bekas gores di bagian kiri karena Ayah salah memasukkan sekrup.
Ia ingin membongkarnya.
Aku melarang.
“Biarkan.”
“Jelek.”
“Biar Raka tahu Kakeknya juga bisa salah.”
Ayah mendengus.
“Jangan ajari anak itu fitnah sejak bayi.”
Aku tertawa.
Setahun kemudian, suatu sore aku sedang duduk di teras ketika sebuah pesan masuk.
Dari Arga.
Kami hampir tidak pernah bicara langsung lagi.
Pesannya pendek.
Aku minta maaf.
Kemudian satu lagi.
Aku pikir kalau aku mengontrol semuanya, aku tidak akan kehilangan keluarga. Ternyata aku justru menghancurkannya.
Aku membaca pesan itu lama.
Dulu, dua kalimat seperti itu mungkin sudah cukup membuatku pulang.
Dulu aku akan mengingat versi dirinya yang membawakan bubur ketika aku sakit.
Aku akan meyakinkan diri bahwa orang itu masih ada.
Mungkin memang masih ada.
Tetapi aku akhirnya mengerti sesuatu.
Mencintai kenangan tentang seseorang tidak mewajibkan kita hidup bersama orang yang telah ia pilih untuk menjadi.
Aku membalas satu kalimat.
Semoga kamu benar-benar berubah, terutama demi hubunganmu dengan Raka. Tetapi aku tidak akan kembali.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada sumpah serapah.
Hanya batas.
Malamnya Ayah datang membawa sate ayam.
Kami makan bertiga di meja kecil.
Raka menumpahkan air ke lantai.
Aku otomatis berdiri mengambil kain.
Ayah tertawa.
“Biarkan. Nanti Bapak pel.”
Aku menatapnya.
“Sejak kapan mantan pelatih Marinir sukarela mengepel?”
Ia mengambil kain.
“Sejak cucu saya yang bikin kotor.”
Aku memperhatikannya berjongkok sambil mengomel karena Raka terus tertawa melihat kakeknya membersihkan air.
Pemandangan sederhana.
Tetapi membuat dadaku terasa penuh.
Setahun sebelumnya aku pernah berjongkok di lantai rumahku sendiri dengan kandungan besar, menggosok sebuah noda sambil takut apakah aku akan diizinkan makan malam.
Sekarang aku duduk di rumah yang sama.
Rumah peninggalan Ibu yang hampir dirampas dariku.
Raka tertawa.
Ayah mengomel.
Makanan masih hangat di meja.
Dan tidak ada seorang pun yang takut.
Aku pernah berpikir hari ketika Ayah mematikan konsol gim Arga adalah hari ketika ia menyelamatkanku.
Ternyata aku salah.
Ayah hanya membuka pintu.
Orang yang akhirnya berjalan keluar adalah aku sendiri.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar yang kuterima dari seorang mantan pelatih Marinir yang selama bertahun-tahun memilih menjadi sekadar “Ayah” di rumah:
Kekuatan tidak selalu berarti mampu menjatuhkan seseorang.
Kadang kekuatan adalah berani mengumpulkan bukti ketika tanganmu masih gemetar.
Berani mengucapkan “tidak” setelah bertahun-tahun dipaksa berkata “iya”.
Berani pulang ke rumahmu sendiri.
Berani menyimpan kunci di tanganmu sendiri.
Dan berani memahami bahwa mencintai seseorang tidak pernah berarti memberinya hak untuk membuatmu takut di tempat yang seharusnya paling aman.
Malam itu, sebelum tidur, aku melewati kamar Raka.
Ia tertidur di ranjang buatan Ayah.
Tangannya terbuka di samping wajah.
Aku menyelimutinya.
Lalu aku mematikan lampu dan menutup pintu perlahan.
Rumahku sunyi.
Namun kali ini kesunyian itu bukan karena aku takut seseorang akan marah.
Kesunyian itu adalah kedamaian.
Dan setelah bertahun-tahun, akhirnya aku tahu bedanya.
