DAN APA YANG DILIHATNYA MEMBUAT DARAHNYA SERASA MEMBEKU.
Bukan hanya karena setrika yang masih mengepulkan uap.
Bukan pula karena Raka sedang menangis.
Ardi melihat sesuatu di bahu putranya.
Beberapa bekas kemerahan yang bentuknya tidak wajar.
Ada yang sudah memudar. Ada yang tampak lebih baru.
Artinya…
Ini bukan pertama kalinya.
Koper Ardi terlepas dari tangannya.
Bruk.
Suara itu membuat Laras menoleh.
Wajah perempuan itu langsung kehilangan warna.
“Mas?”
Ardi tidak menjawab.
Tatapannya berpindah dari Laras ke Raka, lalu kembali lagi pada benda di tangan istrinya.
“Taruh.”
Hanya satu kata.
Pelan sekali.
Justru karena terlalu pelan, Laras terlihat semakin gugup.
“Mas, dengar dulu. Ini bukan seperti yang kamu—”
“Taruh setrikanya.”
Laras akhirnya meletakkannya di atas papan setrika.
Ardi segera berjalan ke arah Raka.
Aneh, pikirnya kemudian.
Dalam perjalanan pulang tadi ia sempat memikirkan hal-hal sepele. Apakah Raka sudah mengerjakan tugas matematika. Apakah Laras akan marah karena ia pulang tanpa memberi kabar. Apakah mereka bertiga bisa makan malam di luar.
Sekarang semuanya terasa seperti kehidupan milik orang lain.
Ia berjongkok.
“Raka.”
Anak itu tidak menatapnya.
“Papa sudah pulang.”
Tetap tidak ada jawaban.
Ardi mengulurkan tangan, tetapi Raka justru tersentak dan mundur sampai punggungnya menyentuh dinding.
Gerakan kecil itu menghantam Ardi lebih keras daripada teriakan apa pun.
Putranya takut disentuh.
Bahkan oleh ayahnya sendiri.
Ardi menurunkan tangannya.
“Oke. Papa nggak sentuh dulu.”
Raka menggigit bibir.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Laras mulai berbicara dari belakang.
“Mas, Raka akhir-akhir ini susah sekali diatur. Aku cuma mencoba mendisiplinkan dia. Kamu jarang di rumah, jadi kamu nggak tahu bagaimana dia kalau—”
Ardi berdiri.
“Keluar.”
“Apa?”
“Keluar dari ruangan ini.”
“Mas, aku istrimu.”
“Aku tahu.”
Jawaban Ardi pendek.
Laras terdiam.
“Dan dia anakku.”
Ada jeda yang membuat ruang laundry itu mendadak terasa sempit.
Ardi tidak berteriak.
Ia takut kalau ia kehilangan kendali, Raka justru akan semakin ketakutan.
Jadi ia mengambil ponselnya.
Tangannya gemetar ketika menelepon satpam kompleks dan meminta seseorang datang ke rumah.
Kemudian ia menghubungi kakaknya, Mira, yang tinggal sekitar dua puluh menit dari Pondok Indah.
Setelah itu barulah ia kembali berjongkok di depan Raka.
“Papa boleh duduk di sini?”
Raka mengangguk kecil.
Ardi duduk di lantai.
Jas mahal yang masih ia kenakan dari perjalanan Surabaya kusut begitu saja. Ia tidak peduli.
Beberapa menit berlalu.
Tak seorang pun bicara.
Sampai akhirnya terdengar suara sangat kecil.
“Papa…”
“Iya?”
“Papa jangan pergi lagi.”
Ardi menunduk.
Ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya.
Namun ia menahannya.
“Nggak.”
Ia menelan ludah.
“Papa di sini.”
Raka akhirnya menatapnya.
“Bener?”
“Bener.”
Barulah anak itu bergerak.
Perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Lalu tiba-tiba Raka merangkak maju dan memeluk ayahnya sekuat tenaga.
Ardi memejamkan mata.
Tubuh anaknya gemetar di pelukannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu, Ardi menangis.
Bukan keras.
Air matanya hanya jatuh begitu saja ke rambut Raka.
Di belakang mereka, Laras berkata, “Aku bisa jelaskan.”
Raka langsung menegang.
Ardi merasakannya.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Jangan sekarang.”
Malam itu tidak berakhir dengan pertengkaran besar seperti yang mungkin dibayangkan orang.
Tidak ada piring pecah.
Tidak ada meja dibalik.
Tidak ada adegan dramatis di halaman rumah.
Justru yang terjadi terasa jauh lebih dingin.
Mira datang.
Raka dibawa untuk mendapatkan pemeriksaan dan memastikan kondisinya baik-baik saja.
Ardi ikut bersamanya.
Sebelum meninggalkan rumah, ia meminta Laras tinggal terpisah untuk sementara dan tidak mendekati Raka sampai situasinya jelas.
Laras menangis.
Kemudian marah.
Lalu menangis lagi.
“Kamu percaya anak kecil daripada istrimu?”
Ardi berhenti di depan pintu.
Kalimat itu membuatnya menoleh.
“Ini bukan soal memilih siapa yang dipercaya.”
“Lalu?”
Ardi menatapnya lama.
“Anakku ketakutan saat melihatmu.”
Laras tidak menjawab.
“Dan aku melihat sendiri apa yang terjadi.”
Pintu tertutup.
Untuk pertama kalinya dalam satu setengah tahun pernikahan mereka, Ardi pergi tanpa mencium kening istrinya.
Pukul 01.17 dini hari.
Raka tertidur di sebuah kamar yang lampunya sengaja dibiarkan redup.
Ardi duduk di kursi sebelah tempat tidur.
Ia tidak bergerak.
Mira sudah beberapa kali menyuruhnya tidur.
“Besok kita pikirkan semuanya,” bisik Mira.
Ardi menggeleng.
“Aku mau di sini.”
Mira memandang adiknya beberapa detik sebelum akhirnya keluar.
Rumah sakit sunyi.
Sesekali terdengar roda troli melewati lorong.
Ardi menatap wajah Raka.
Sembilan tahun.
Baru sembilan tahun.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Tiga bulan sebelumnya, Raka pernah memecahkan gelas saat sarapan.
Suara pecahannya bahkan tidak terlalu keras.
Namun Raka langsung berjongkok, menutup kepala dengan kedua tangan, lalu berkata:
“Maaf. Jangan marah. Aku bersihin.”
Waktu itu Ardi tertawa kecil.
Ia mengira anaknya hanya takut dimarahi karena memecahkan barang.
Sekarang…
Ardi menutup wajahnya.
Ada lagi.
Dua bulan lalu, Raka berhenti memakai kaus tanpa lengan yang biasanya ia sukai.
Alasannya panas.
Tidak masuk akal.
Justru kaus tanpa lengan lebih nyaman saat cuaca Jakarta sedang gerah.
Lalu sebulan lalu, wali kelas Raka mengirim pesan.
Raka beberapa kali mengantuk di sekolah.
Ardi hanya membalas:
“Mungkin terlalu banyak main game. Nanti saya tegur.”
Ternyata bukan game.
Ada begitu banyak potongan kecil yang pernah lewat di depan matanya.
Ia hanya tidak menyusunnya.
Karena ia sibuk.
Karena penerbangan.
Karena rapat.
Karena target.
Karena selalu ada sesuatu yang terasa lebih mendesak.
Padahal…
“Papa?”
Ardi cepat mengangkat kepala.
Raka sudah bangun.
“Iya, Nak.”
“Papa nangis?”
Ardi buru-buru mengusap wajah.
“Sedikit.”
Raka diam.
Lalu ia berkata sesuatu yang membuat Ardi kehilangan kata-kata.
“Jangan nangis. Nanti Papa dimarahin.”
Ardi memandang anaknya.
“Siapa yang bilang kalau menangis bikin orang dimarahin?”
Raka tidak menjawab.
Ia menarik selimut sampai dagu.
Ardi tidak mendesak.
Beberapa saat kemudian, dari balik selimut terdengar suara pelan.
“Tante Laras bilang anak laki-laki nggak boleh cengeng.”
Ardi menarik napas panjang.
“Dengar Papa.”
Raka mengintip.
“Anak laki-laki boleh nangis.”
Raka berkedip.
“Papa juga?”
“Papa juga.”
“Orang dewasa?”
“Boleh.”
“Kalau sedih?”
“Boleh.”
“Kalau takut?”
Ardi mengangguk.
“Apalagi kalau takut.”
Raka memikirkan jawaban itu lama sekali.
Kemudian ia menggeser tubuhnya sedikit.
“Papa tidur sini aja.”
Ardi tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
“Iya.”
Ia tidak tidur.
Tapi ia tetap di sana.
Hari-hari berikutnya berjalan aneh.
Tidak cepat.
Tidak juga lambat.
Lebih seperti seseorang menumpahkan sebuah lemari penuh barang ke lantai dan memaksa Ardi memilah semuanya satu per satu.
Ada pemeriksaan.
Ada percakapan dengan psikolog anak.
Ada pertemuan dengan sekolah.
Ada keluarga yang bertanya.
Ada telepon dari Laras yang tidak selalu ia angkat.
Ada pesan panjang.
Ada permintaan maaf.
Ada kalimat yang mencoba mengecilkan kejadian.
Ada pula kalimat yang membuat Ardi berhenti membaca di tengah.
Namun satu hal mulai terlihat jelas.
Raka sudah lama menyimpan ketakutannya sendiri.
Awalnya bukan karena ia tidak ingin memberi tahu ayahnya.
Ia pernah mencoba.
Dengan cara anak sembilan tahun.
Bukan dengan duduk dan berkata, “Papa, aku punya masalah.”
Anak-anak jarang bekerja seperti itu.
Raka pernah berkata:
“Papa jangan ke Surabaya minggu depan.”
Ardi menjawab:
“Papa harus kerja.”
Raka pernah bertanya:
“Kalau aku ikut Papa ke kantor boleh nggak?”
Ardi tertawa.
“Sekolah dulu yang benar.”
Raka pernah mengirim emoji sedih saat Ardi sedang rapat.
Ardi membalas emoji hati.
Selesai.
Atau setidaknya Ardi mengira selesai.
Suatu sore, psikolog yang mendampingi Raka mengatakan sesuatu kepadanya.
“Pak Ardi, jangan habiskan energi Bapak untuk menghukum diri sendiri.”
Ardi diam.
“Yang Raka butuhkan sekarang bukan ayah yang terus mengatakan ‘seharusnya saya tahu’. Dia membutuhkan ayah yang hadir hari ini.”
Kalimat itu tidak langsung terasa menenangkan.
Malah menyakitkan.
Tetapi Ardi membawanya pulang.
Hari ini.
Bukan kemarin.
Hari ini.
Dua minggu kemudian, Raka kembali ke rumah.
Namun rumah itu berubah.
Foto pernikahan Ardi dan Laras yang biasanya tergantung di ruang keluarga sudah tidak ada.
Beberapa barang Laras telah dipindahkan.
Pintu ruang laundry dibiarkan terbuka.
Setrika lama juga sudah tidak ada di sana.
Ardi bahkan mengganti warna dinding ruangan itu.
Mira menertawakannya.
“Cat dinding bukan terapi, Di.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku nggak suka warna yang lama.”
“Alasan jelek.”
“Biarin.”
Mereka mengecatnya biru muda.
Raka awalnya hanya menonton.
Kemudian ia mengambil roller kecil.
“Boleh ikut?”
Ardi menyerahkan roller.
“Ini rumah kamu.”
Raka mencelupkannya terlalu dalam.
Cat menetes ke lantai.
Mira menjerit.
“Raka!”
Anak itu membeku.
Roller terlepas dari tangannya.
Wajahnya langsung pucat.
“Maaf…”
Ardi melihat perubahan itu.
Cepat sekali.
Seperti sakelar.
Ia mendekati Raka, mengambil roller dari lantai, lalu sengaja membuat satu garis cat kecil di kausnya sendiri.
Mira melongo.
“Ardi!”
Raka menatap ayahnya.
Ardi melihat noda di bajunya.
“Waduh.”
Beberapa detik sunyi.
Kemudian Raka terkikik.
Kecil.
Sangat kecil.
Tapi itu tawa.
Ardi ikut tertawa.
Mira menggeleng.
“Dua manusia aneh.”
Raka tertawa lagi.
Kali ini lebih keras.
Dan entah kenapa, suara itu membuat ruang laundry yang selama beberapa minggu terasa seperti tempat paling gelap di rumah tersebut perlahan kehilangan kuasanya.
Laras tidak kembali tinggal bersama mereka.
Ardi mengambil keputusan itu tanpa pesta kemenangan, tanpa ingin mempermalukan siapa pun.
Ia hanya menetapkan batas yang tidak bisa dinegosiasikan.
Keselamatan Raka lebih dulu.
Proses selanjutnya ditangani melalui jalur yang semestinya dengan pendampingan orang dewasa dan profesional.
Ardi juga tidak menceritakan semuanya kepada tetangga.
Ketika seseorang bertanya mengapa Laras tidak pernah terlihat lagi, jawabannya sederhana.
“Kami sedang menyelesaikan urusan keluarga.”
Cukup.
Ia tidak ingin kehidupan Raka berubah menjadi gosip kompleks.
Tiga bulan berlalu.
Ada kemajuan.
Ada juga hari buruk.
Suatu malam listrik rumah sempat turun ketika Ardi menyalakan oven, AC, dan pemanas air bersamaan.
Rumah gelap.
Raka menjerit dari kamar.
Ardi berlari.
Ia menemukan anak itu meringkuk di sudut tempat tidur.
“Raka, Papa di sini.”
“Jangan nyalain!”
“Oke.”
Ardi tidak menyalakan lampu.
Ia duduk di lantai.
Dalam gelap.
Mereka diam hampir sepuluh menit.
Kemudian Raka bertanya:
“Papa nggak marah?”
“Kenapa harus marah?”
“Aku teriak.”
“Kalau kaget ya teriak.”
“Tapi kenceng.”
“Papa pernah lebih kenceng waktu lihat cicak jatuh ke bahu.”
Raka tertawa pendek.
“Itu bohong.”
“Serius.”
“Papa takut cicak?”
“Jangan kasih tahu Tante Mira.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Raka keluar dari sudut.
Hal-hal kecil.
Ternyata pemulihan sering terlihat seperti itu.
Bukan musik dramatis.
Bukan pelukan setiap lima menit.
Kadang cuma seorang anak yang berani tertawa setelah mati lampu.
Kadang cuma satu malam tanpa mimpi buruk.
Kadang mundur lagi.
Lalu maju dua langkah.
Ardi juga mengubah hidupnya.
Bukan secara ekstrem.
Ia tetap bekerja.
Tetap melakukan perjalanan dinas ketika benar-benar diperlukan.
Tetapi kalendernya tidak lagi seperti tembok yang tidak bisa ditembus.
Dua malam setiap minggu ia blok khusus.
Tidak ada rapat setelah pukul enam.
Tidak ada makan malam dengan klien.
Tidak ada “Papa lihat nanti.”
Hari Rabu mereka memasak.
Masakannya sering kacau.
Pernah mereka mencoba membuat nasi goreng dan hasilnya terlalu asin sampai Raka mengambil air tiga kali.
“Papa.”
“Hm?”
“Ini nasi goreng atau air laut?”
Ardi tersinggung pura-pura.
“Chef profesional nggak menerima kritik.”
“Chef profesional nggak pakai kecap sebanyak itu.”
“Keluar dari dapur saya.”
Raka tertawa sambil membawa piringnya.
Hari Sabtu pagi mereka bersepeda di sekitar kompleks.
Kadang ke taman.
Kadang membeli bubur ayam.
Raka suka kerupuk terlalu banyak.
Ardi selalu bilang kebanyakan.
Raka selalu menambah lagi.
Begitulah.
Hidup mulai kembali memiliki suara-suara biasa.
Suara sendok.
Televisi.
Sepeda.
Pintu kulkas.
PR matematika.
Keluhan karena bangun pagi.
Sesuatu yang dahulu dianggap remeh oleh Ardi sekarang terasa mewah.
Hampir enam bulan setelah hari itu, wali kelas Raka meminta Ardi datang.
Jantungnya langsung tidak enak.
“Raka kenapa, Bu?”
Guru itu tersenyum.
“Tidak kenapa-kenapa.”
Ia memberikan sebuah kertas.
Tugas sekolah.
Judulnya:
ORANG YANG MEMBUATKU MERASA AMAN.
Ardi membaca.
Tulisan Raka tidak terlalu rapi.
Ada beberapa kata dicoret.
Ada satu kalimat ditulis miring karena hampir kehabisan tempat.
Namun bagian terakhir membuat Ardi berhenti.
Raka menulis bahwa ayahnya memang sering sibuk.
Kadang lupa menaruh kaus kaki.
Tidak bisa memasak nasi goreng dengan benar.
Dan terlalu lama kalau memilih film.
Ardi hampir tertawa.
Lalu matanya sampai pada kalimat terakhir.
“Aku dulu takut bicara karena kupikir tidak ada yang akan percaya. Sekarang aku tahu kalau aku takut, aku bisa pulang dan bilang ke Papa.”
Ardi membaca kalimat itu dua kali.
Tiga kali.
Guru Raka pura-pura sibuk merapikan buku.
Mungkin agar Ardi punya waktu mengusap matanya.
“Boleh saya bawa pulang?”
“Tentu.”
Kertas itu kemudian dipasang Ardi di pintu kulkas.
Raka protes.
“Papa! Jelek tulisannya.”
“Bagus.”
“Hurufku miring.”
“Artistik.”
“Teman-temanku bisa lihat kalau main ke sini.”
“Bagus.”
“Papaaa…”
Ardi tidak melepasnya.
Setahun berlalu.
Pada suatu Minggu pagi, Ardi sedang membereskan gudang kecil ketika mendengar Raka memanggil dari lantai dua.
“Pa!”
Jantung Ardi masih punya kebiasaan buruk.
Setiap kali Raka berteriak dari lantai atas, ia langsung membayangkan sesuatu terjadi.
Ia berlari.
“Ada apa?”
Raka berdiri di ruang laundry.
Di tangannya ada setrika baru.
Ardi berhenti.
Untuk sesaat, mereka hanya saling memandang.
Raka sudah sepuluh tahun sekarang.
Sedikit lebih tinggi.
Rambutnya berantakan.
Di atas papan setrika ada seragam sekolah.
“Ajari aku.”
Ardi tidak langsung mengerti.
“Apanya?”
“Nyetrika.”
Ardi melihat benda di tangan Raka.
Lalu melihat wajah anaknya.
“Kamu yakin?”
Raka mengangguk.
“Aku mau bisa sendiri.”
Ardi masuk.
Tidak ada musik.
Tidak ada pidato.
Ia hanya mengambil setrika itu dan berkata:
“Pertama, jangan terlalu panas.”
“Oke.”
“Terus lihat jenis kain.”
“Ribet.”
“Makanya selama ini Papa kirim laundry.”
Raka tertawa.
Ardi memperlihatkan caranya.
Kemudian ia menyerahkan pegangan setrika kepada Raka.
Tangan anak itu sempat berhenti.
Hanya satu detik.
Mungkin dua.
Ardi tidak mengambil alih.
Ia menunggu.
Raka menarik napas.
Lalu mulai menyetrika bagian bawah seragamnya.
Pelan.
Satu arah.
Kemudian balik lagi.
“Gimana?”
“Bagus.”
“Beneran?”
“Lumayan.”
“Papa ngeselin.”
Raka meneruskannya.
Setelah beberapa menit, kemeja putih itu jauh lebih kusut daripada sebelum mereka mulai.
Ardi tertawa.
Raka ikut tertawa.
Dan di situlah Ardi menyadari sesuatu.
Setahun lalu ia pernah berdiri di ambang pintu ruangan yang sama dan merasa dunianya berakhir.
Ternyata tidak.
Sesuatu memang berakhir hari itu.
Kepercayaan yang salah.
Kehidupan yang terlalu sibuk.
Kebiasaan menganggap diam berarti semuanya baik-baik saja.
Tetapi dunia mereka tidak berakhir.
Mereka membangunnya lagi.
Sedikit berbeda.
Lebih berantakan.
Lebih jujur.
Dan mungkin jauh lebih kuat.
Beberapa tahun kemudian, Ardi masih menyimpan koper hitam yang dibawanya dari Surabaya pada hari ia pulang lebih cepat.
Rodanya sudah rusak.
Pegangannya lecet.
Mira pernah menyuruhnya membuang koper itu.
“Beli baru. Kamu mampu.”
Ardi hanya menjawab:
“Belum.”
Ia sendiri tidak tahu mengapa.
Sampai suatu hari Raka, yang sudah beranjak remaja, menemukannya di gudang.
“Pa, koper tua ini buat apa?”
Ardi menatapnya.
“Dulu Papa pulang bawa itu.”
“Dari mana?”
“Surabaya.”
Raka diam.
Ia tahu hari mana yang dimaksud.
Mereka sudah bisa membicarakannya sekarang tanpa membuat ruangan terasa sesak.
Tidak detail.
Tidak perlu.
Raka memegang gagang koper.
“Buang aja.”
Ardi tersenyum kecil.
“Yakin?”
“Udah jelek.”
“Kenang-kenangan.”
“Kenang-kenangan kok koper rusak?”
Ardi tertawa.
“Ya sudah.”
Mereka membawanya keluar bersama-sama.
Sebelum memasukkannya ke tempat barang bekas, Ardi sempat menatap koper itu beberapa detik.
Bertahun-tahun ia menganggap benda tersebut sebagai pengingat bahwa ia pernah terlambat menyadari sesuatu.
Hari itu perspektifnya berubah.
Ia memang terlambat.
Tetapi ia pulang.
Ia membuka pintu.
Ia mendengar.
Dan setelah mengetahui kebenaran, ia tidak berpaling.
Mungkin itu yang paling penting.
Bukan menjadi orang tua yang selalu tahu.
Tidak ada orang tua seperti itu.
Melainkan menjadi orang tua yang mau percaya ketika anak akhirnya berani bicara.
Ardi melepaskan koper tersebut.
“Pa.”
“Hm?”
“Makan bakso?”
“Jam segini?”
“Kenapa?”
“Kamu baru makan.”
Raka mengangkat bahu.
“Masih lapar.”
“Pakai uang sendiri.”
“Papa pelit.”
Mereka berjalan keluar sambil berdebat soal siapa yang harus membayar.
Matahari sore Jakarta menyelinap di antara pepohonan kompleks.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada kejutan.
Hanya ayah dan anak yang berjalan berdampingan menuju warung bakso.
Namun beberapa langkah kemudian, Raka tiba-tiba berkata:
“Pa.”
“Apa lagi?”
“Makasih.”
Ardi menoleh.
“Buat apa?”
Raka tidak menjawab.
Ia hanya memasukkan kedua tangan ke saku dan berjalan sedikit lebih cepat.
Ardi hampir memanggilnya lagi.
Lalu urung.
Ia tahu.
Raka juga tahu.
Tidak semua hal membutuhkan kalimat panjang.
Ardi menyusul putranya.
“Baksonya Papa bayar.”
Raka langsung berbalik.
“Nah, gitu dong.”
“Kurang ajar.”
Raka tertawa.
Suara itu terdengar ringan.
Tidak dipaksa.
Tidak takut ada orang yang akan memarahinya karena terlalu keras.
Ardi mendengarnya sampai mereka keluar dari gerbang rumah.
Dan tanpa alasan yang bisa ia jelaskan, ia teringat suara lirih bertahun-tahun sebelumnya.
“Tolong… jangan bakar aku lagi.”
Suara yang pernah membuat darahnya serasa berhenti mengalir.
Sekarang suara itu telah digantikan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Tawa anaknya.
Ardi tidak ingin menghapus masa lalu seolah-olah semua itu tidak pernah terjadi.
Ia hanya tidak akan membiarkan satu masa buruk menentukan seluruh kehidupan Raka.
Sebab rumah bukan selalu tempat yang sejak awal sempurna.
Kadang rumah adalah tempat yang harus dibangun kembali setelah kepercayaan runtuh.
Dengan pintu yang tidak dikunci karena ketakutan.
Dengan percakapan yang tidak dipotong oleh pekerjaan.
Dengan hak untuk menangis.
Dengan keberanian mengatakan, “Aku takut.”
Dan seseorang yang menjawab:
“Aku dengar.”
Malam itu mereka pulang membawa dua bungkus bakso tambahan untuk Mira yang kebetulan sedang berkunjung.
Raka membuka pintu lebih dulu.
“Tante! Papa yang bayar!”
Dari ruang tengah terdengar suara Mira.
“Keajaiban!”
Ardi melepas sepatu.
“Hei!”
Raka sudah tertawa lagi.
Rumah itu ramai.
Sedikit berantakan.
Ada tas sekolah di sofa yang seharusnya sudah disimpan sejak siang.
Ada gelas di meja.
Televisi terlalu keras.
Mira mengomel soal bakso yang kebanyakan sambal.
Ardi berdiri beberapa detik di dekat pintu.
Dulu ia mengira kebahagiaan keluarga harus terlihat sempurna.
Rumah rapi.
Karier berhasil.
Pernikahan utuh.
Foto keluarga bagus.
Tidak.
Ternyata bukan itu.
Kebahagiaan mereka malam itu bahkan tidak tampak istimewa.
Justru biasa sekali.
Dan Ardi menyukainya.
“Papa!”
Raka memanggil dari meja makan.
“Apa?”
“Cepetan. Baksonya dingin.”
“Iya.”
Ardi berjalan mendekat.
Ia duduk di sebelah putranya.
Bukan di depan laptop.
Bukan sambil menjawab email.
Bukan sambil memikirkan penerbangan berikutnya.
Di sana.
Benar-benar di sana.
Raka menyodorkan sambal.
Ardi mengambilnya.
Dan malam berlanjut begitu saja.
Tanpa ketakutan.
Tanpa bisikan dari lantai atas.
Tanpa seorang anak yang harus berjanji menjadi “anak baik” hanya agar merasa aman.
Karena akhirnya Raka memahami satu hal yang seharusnya ia ketahui sejak dulu.
Ia tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai.
Ia hanya perlu pulang.
Dan di rumah itu…
akan selalu ada seseorang yang mendengarnya.

