Part : 2 Aku baru mengambil sepotong kecil ayam panggang ketika Mama menegurku keras di depan semua orang.

Aku baru mengambil sepotong kecil ayam panggang ketika Mama menegurku keras di depan semua orang.

“Nadira, jangan penuh-penuhi piringmu. Kamu bukan yang bayar acara ini. Dahulukan tamu.”

Kakakku, Rani, tersenyum sambil menatap piringnya yang penuh.

“Keluarga yang benar-benar peduli harus tahu diri, Nad.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya memandang ruangan privat sebuah hotel di Jakarta Selatan itu—rangkaian bunga, lilin, taplak meja, makanan kesukaan Papa, sampai kartu ucapan kecil di setiap meja.

Semuanya aku yang bayar.

Dua bulan sebelumnya, Mama meneleponku.

“Nadira, kamu kan paling bisa mengurus beginian. Tolong siapkan acara ulang tahun pernikahan Mama dan Papa.”

Seperti biasa, aku mengiyakan.

Aku memesan ruangan untuk hampir lima puluh orang, membayar uang muka Rp18 juta, memilih paket makanan, dekorasi, kue, dan bunga. Totalnya hampir Rp47 juta.

Kemudian Rani ikut campur.

Dia menambah beberapa tamu, mengganti dekorasi, bahkan meminta meja utama dipindahkan.

Aku membiarkannya karena kupikir yang penting Mama dan Papa bahagia.

Ternyata aku salah.

Sebelum makan malam dimulai, Rani berdiri sambil memegang mikrofon.

“Waktu aku memutuskan membuat acara ini untuk Mama dan Papa,” katanya, “aku ingin semuanya sempurna.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Aku menoleh tajam.

Dia menyebut bunga yang kupilih.

Menu yang kupesan.

Dekorasi yang kubayar.

Semua seolah hasil kerja kerasnya.

Mama bahkan memegang tangan Rani dengan bangga.

“Dari dulu Rani memang paling perhatian sama keluarga.”

Papa tersenyum.

“Kalau tidak ada Rani, entah bagaimana jadinya acara ini.”

Aku berdiri beberapa meter dari mereka dalam gaun merah yang sengaja kubeli untuk malam itu.

Tak seorang pun menyebut namaku.

Hanya Hana, putri Rani, yang menatapku dengan wajah tidak nyaman.

Lalu tibalah waktu makan.

Aku mengambil piring.

Dan Mama mengucapkan kalimat itu.

“Kamu bukan yang bayar acara ini.”

Aneh, aku tidak marah.

Aku justru merasa sangat tenang.

Aku meletakkan kembali piring kosong itu.

Rani melihatku mengambil tas.

“Mau ke mana?”

“Pulang.”

Mama langsung mengernyit.

“Nadira, jangan bikin drama malam ini.”

Aku mengenakan mantel tipis.

“Tenang, Ma. Aku tidak akan bikin drama.”

Aku keluar dari ruangan dan menelepon Pak Daniel, manajer acara hotel.

“Pak, saya mau membatalkan fasilitas tambahan yang masih tercatat atas nama saya.”

Dia terdiam sebentar.

“Termasuk pelunasan paket makan malam dan layanan tambahan?”

Aku melihat dari balik pintu kaca.

Rani sedang tertawa bersama para tamu.

Mama tampak begitu bangga kepadanya.

“Betul, Pak.”

“Tapi tamu sudah mulai makan.”

“Saya mengerti. Uang muka yang memang tidak bisa dikembalikan, biarkan. Tapi untuk tagihan sisanya, saya tidak akan menanggungnya.”

Pak Daniel memeriksa data reservasi.

“Karena pemesan dan penanggung jawab pembayaran tercatat atas nama Ibu Nadira, permintaan itu bisa kami proses. Untuk biaya yang sudah berjalan, kami akan meminta penanggung jawab baru menyelesaikannya.”

“Silakan.”

Aku meninggalkan hotel.

Beberapa menit kemudian, Pak Daniel masuk ke ruangan membawa map hitam.

Dia meletakkannya di depan Mama dan Rani.

“Ada perubahan mengenai pembayaran acara malam ini.”

Senyum Rani perlahan hilang.

“Apa maksudnya?”

“Penanggung jawab reservasi sudah menghentikan pembayaran untuk sisa tagihan. Jadi kami membutuhkan pihak lain untuk mengambil alih.”

Mama terlihat bingung.

“Penanggung jawab? Bukannya anak saya Rani yang mengadakan semuanya?”

Pak Daniel membuka map.

“Bukan, Bu.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Reservasi, uang muka, dekorasi awal, serta pemesanan paket acara semuanya dibuat atas nama Ibu Nadira Prameswari.”

Wajah Mama berubah pucat.

Rani langsung berdiri.

“Pasti ada salah paham.”

Pak Daniel menggeleng.

Kemudian dia mengeluarkan lembar tagihan.

“Kalau acara ingin dilanjutkan sesuai pesanan, sisa pembayaran harus diselesaikan malam ini.”

Rani melihat angkanya.

Rp29.650.000.

Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Hana tiba-tiba berdiri dari kursinya.

“Ma…”

Rani menoleh.

Hana memegang ponselnya dengan tangan gemetar.

“Aku rasa Tante Nadira bukan cuma membayar acara ini.”

Wajah Rani seketika berubah.

“Hana, duduk.”

“Tapi aku lihat chat Mama kemarin.”

“Hana!”

Semua orang menoleh.

Hana membuka layar ponselnya.

“Ada sesuatu yang Mama bilang tentang Tante Nadira… dan tentang uang acara ini.”

Pak Daniel masih berdiri di sana.

Mama menatap Rani.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, kakakku benar-benar terlihat ketakutan.

Hana menarik napas, lalu menekan sebuah percakapan di layar.

“Aku rasa semuanya harus tahu kenapa Mama dari awal ingin Tante Nadira yang membayar, tapi nama Mama yang diumumkan di depan tamu…”

Lalu Hana mulai membaca pesan pertama.

Dan kalimat yang keluar dari mulutnya membuat Papa perlahan berdiri dari kursinya.

“Aku rasa semuanya harus tahu kenapa Mama dari awal ingin Tante Nadira yang membayar, tapi nama Mama yang diumumkan di depan tamu…”

Suara Hana bergetar.

Rani langsung bangkit dari kursinya.

“Hana, kasih ponsel itu ke Mama.”

“Kenapa?”

“Karena itu percakapan pribadi.”

“Tapi isinya tentang Tante Nadira.”

Ruangan mendadak sunyi.

Pak Daniel masih berdiri di dekat meja utama dengan map hitam di tangannya. Papa perlahan meletakkan sendok. Mama menatap Rani seolah belum mengerti mengapa cucunya tiba-tiba membuat suasana berubah.

Hana melihat layar ponselnya.

Lalu membaca.

“Kalau Nadira yang bayar, biarkan saja. Dia pasti mau. Yang penting nanti di depan keluarga besar, semua orang tahu acara ini aku yang urus.”

Rani langsung pucat.

“Hana!”

Hana mundur satu langkah.

Tetapi dia belum selesai.

Pesan berikutnya bahkan lebih buruk.

“Jangan terlalu banyak menyebut nama Nadira. Sekali-sekali biar Mama dan Papa lihat siapa anak yang benar-benar hadir buat mereka.”

Beberapa tamu mulai saling berpandangan.

Mama menoleh kepada Rani.

“Kamu menulis itu?”

Rani mencoba tertawa.

“Ma, itu cuma obrolan biasa. Hana salah mengerti konteksnya.”

Hana menggeleng.

“Ada lagi.”

“Hana, cukup!”

Kali ini Papa yang bicara.

“Biarkan dia baca.”

Suara Papa tidak keras.

Justru itu yang membuat Rani terdiam.

Hana menarik napas.

“Kalau dia protes soal uang, bilang saja dia terlalu hitung-hitungan sama keluarga. Nadira paling takut dianggap anak yang tidak berbakti.”

Aku tidak berada di ruangan itu untuk mendengarnya langsung.

Aku sudah duduk di dalam mobil di parkiran hotel.

Namun ponselku mulai bergetar tanpa henti.

Sepupu.

Tante.

Nomor Mama.

Nomor Papa.

Aku tidak mengangkat satu pun.

Sampai sebuah pesan dari Hana masuk.

Tante, maaf. Aku sudah bilang semuanya.

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Lalu pesan kedua muncul.

Tapi Tante harus tahu sesuatu. Ini bukan cuma soal pesta.

Aku langsung menegakkan badan.

Apa maksudmu?

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Sebelum Hana sempat menjawab, Papa menelepon.

Kali ini aku mengangkat.

“Nadira.”

Nada suaranya berbeda.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada perintah.

Hanya kelelahan.

“Kamu masih di hotel?”

“Masih di parkiran.”

“Tolong jangan pulang dulu.”

Aku diam.

Papa melanjutkan.

“Naik lagi. Ada sesuatu yang harus kita selesaikan.”

“Aku rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

“Ada.”

Kemudian dia mengucapkan kalimat yang membuat tanganku berhenti di atas setir.

“Ini menyangkut uang yang selama ini kamu kirim ke Mama.”

Aku kembali ke hotel.

Ketika pintu ruang acara terbuka, suasananya sudah benar-benar berubah.

Musik dimatikan.

Sebagian tamu memilih pulang.

Makanan masih tersusun di meja prasmanan, tetapi hampir tidak ada yang menyentuhnya.

Mama duduk dengan wajah tegang.

Rani berdiri di sampingnya.

Begitu melihatku, Mama langsung berkata,

“Kamu puas sekarang?”

Aku berhenti.

Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Bukan maaf.

Bukan terima kasih.

“Kamu membuat kakakmu dipermalukan di depan semua orang.”

Aku hampir tertawa.

“Ma, aku bahkan tidak ada di ruangan ketika chat itu dibaca.”

“Tapi semua ini terjadi karena kamu membatalkan pembayaran!”

“Pembayaran untuk acara yang katanya bukan aku yang bayar?”

Mama terdiam.

Rani langsung menyela.

“Nadira, kita bayar saja dulu tagihannya. Besok kita bicara baik-baik.”

Aku memandangnya.

“Kita?”

“Iya. Keluarga.”

“Kalau begitu kamu bayar.”

Wajahnya menegang.

“Aku tidak bawa uang sebanyak itu.”

“Transfer.”

“Ada batas transaksi.”

“Pakai kartu.”

“Nadira!”

Pak Daniel mendekat dengan sopan.

“Maaf, Bu. Kami hanya perlu kepastian siapa yang mengambil alih sisa tagihan.”

Rani menatap Mama.

Mama menatap Papa.

Papa justru mengambil dompetnya.

Aku menahan tangannya.

“Jangan, Pa.”

Papa memandangku.

“Biar Papa selesaikan.”

“Bukan itu masalahnya.”

Aku menoleh kepada Rani.

“Dia ingin dipuji sebagai orang yang mengadakan pesta. Sekarang dia punya kesempatan untuk benar-benar menjadi orang yang mengadakan pesta.”

Rani memelototiku.

“Kamu sengaja mempermalukanku.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Aku cuma berhenti membayar supaya kamu terlihat baik.”

Untuk pertama kalinya, Rani tidak punya jawaban.

Akhirnya suaminya, Arief, yang sejak tadi diam, mengeluarkan kartu dan menyelesaikan tagihan.

Tetapi ketika mesin pembayaran berbunyi menandakan transaksi berhasil, dia tidak melihatku.

Dia melihat istrinya.

Dan tatapannya dingin.

“Aku kira kamu bilang sebagian besar acara ini sudah kamu bayar.”

Rani membeku.

“Mas, nanti aku jelaskan.”

“Dari uang mana?”

“Bukan sekarang.”

“Justru sekarang.”

Mama buru-buru berdiri.

“Sudahlah. Ini acara keluarga.”

Arief tertawa pendek.

“Itu masalahnya, Ma. Setiap kali ada uang, semua orang bilang ‘keluarga’, lalu tidak ada yang boleh bertanya.”

Kalimat itu membuatku menoleh.

Ada sesuatu dalam cara Arief mengatakannya.

Seolah masalah ini bukan pertama kali terjadi.

Kemudian Hana mendekat kepadaku.

“Tante.”

Dia menyerahkan ponselnya.

“Aku tadi mau menunjukkan ini.”

Ada tangkapan layar percakapan Rani dengan Mama.

Awalnya hanya membahas pesta.

Kemudian aku melihat satu kalimat.

Soal transfer bulanan Nadira, nanti kita bicarakan setelah acara. Jangan sampai Papa tahu jumlah sebenarnya.

Dadaku terasa dingin.

Aku membaca ulang.

Transfer bulanan.

Selama hampir enam tahun, setiap bulan aku mengirim uang kepada Mama.

Awalnya untuk obat Papa setelah operasi lutut.

Kemudian biaya rumah.

Listrik.

Asuransi.

Kebutuhan sehari-hari.

Jumlahnya tidak selalu sama.

Kadang Rp3 juta.

Kadang Rp5 juta.

Ketika ada kebutuhan besar, bisa Rp10 juta atau lebih.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Mama selalu mengatakan hal yang sama.

“Papa sudah pensiun. Mama tidak mau merepotkan Rani karena dia punya keluarga.”

Jadi aku membayar.

Aku mengangkat ponsel Hana.

“Jumlah sebenarnya apa?”

Mama berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Hana, dari mana kamu dapat chat itu?”

“Aku pinjam tablet Mama buat kirim tugas. Akun WhatsApp Mama masih tersambung.”

Rani menatap putrinya.

“Kamu membaca pesan pribadi Mama?”

“Aku tidak sengaja lihat nama Tante Nadira.”

Aku menatap Mama.

“Jumlah sebenarnya apa, Ma?”

Mama menghindari mataku.

“Itu bukan urusan yang harus dibahas di sini.”

“Uangku adalah urusanku.”

“Nadira.”

Papa tiba-tiba bicara.

“Selama ini kamu kirim berapa?”

Ruangan terasa berhenti.

Aku menoleh kepadanya.

Papa benar-benar tidak tahu.

“Pa…”

“Berapa?”

Aku menjawab pelan.

“Rata-rata empat sampai lima juta sebulan.”

Wajah Papa berubah.

“Sejak kapan?”

“Hampir enam tahun.”

Papa menatap Mama.

Aku melihat sesuatu runtuh di wajahnya.

“Enam tahun?”

Mama langsung berkata,

“Itu untuk kebutuhan rumah!”

Papa menggeleng.

“Biaya rumah kita dari uang pensiun saya.”

Mama terdiam.

Papa melanjutkan.

“Obat saya ditanggung BPJS dan asuransi kantor lama. Memang ada biaya tambahan, tapi tidak sebesar itu.”

Aku mulai merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada penghinaan di meja makan.

Aku membuka aplikasi bank.

Mencari riwayat transfer.

Nama rekening Mama muncul berkali-kali.

Puluhan juta.

Ratusan juta jika dikumpulkan bertahun-tahun.

Aku tidak pernah menghitung totalnya.

Karena aku percaya.

“Apa yang Mama lakukan dengan uang itu?”

Mama terlihat marah sekarang.

Seolah pertanyaanku adalah penghinaan.

“Kenapa kamu menghitung semuanya? Kamu anak sendiri.”

“Karena Mama bilang uang itu untuk Papa.”

“Memang untuk keluarga!”

“Untuk siapa?”

Tidak ada jawaban.

Lalu Arief berdiri.

“Rani.”

Rani menatap suaminya.

“Jangan.”

Arief menarik napas.

“Aku rasa Nadira berhak tahu.”

Wajah Rani berubah.

“Mas.”

“Aku sudah terlalu lama diam.”

Mama langsung memotong.

“Arief, ini urusan kami.”

“Tidak lagi.”

Arief mengambil ponselnya.

“Aku menikah dengan Rani sebelas tahun. Selama itu, ada beberapa kali dia tiba-tiba punya uang untuk menutup cicilan atau kebutuhan yang seharusnya tidak sanggup kami bayar.”

Rani mulai menangis.

“Mas, tolong.”

Aku merasa tenggorokanku kering.

“Uang apa?”

Arief menatapku.

“Tiga tahun lalu bisnis katering Rani rugi besar.”

Aku tahu tentang bisnis itu.

Yang tidak kutahu adalah bisnis tersebut meninggalkan utang.

“Berapa?”

“Sekitar Rp180 juta.”

Aku menatap Rani.

Dia tidak berani melihatku.

Arief melanjutkan.

“Sebagian dibayar sedikit-sedikit. Aku kira uangnya dari tabungan Mama.”

Sekarang semua mata beralih kepada Mama.

Aku mengerti sebelum siapa pun mengatakannya.

“Uang yang aku kirim?”

Mama berdiri.

“Jangan bicara seolah-olah Mama mencuri!”

“Aku tidak bilang mencuri.”

Aku menatapnya.

“Aku bertanya.”

Mama mulai meninggikan suara.

“Rani punya anak! Dia punya keluarga! Kamu hidup sendiri, penghasilanmu bagus. Salah kalau Mama membantu kakakmu?”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi benar?”

Mama diam.

“Ma, jadi benar?”

“Tidak semuanya.”

Itu sudah cukup.

Aku duduk.

Bukan karena ingin.

Kakiku mendadak lemas.

Enam tahun.

Aku pernah membatalkan liburan karena Mama mengatakan atap rumah bocor.

Aku pernah menunda mengganti mobil karena katanya biaya terapi Papa meningkat.

Aku pernah mengirim Rp12 juta dalam satu hari karena Mama bilang ada kebutuhan mendesak.

Dan ternyata sebagian uang itu mengalir ke Rani.

Rani mendekat.

“Nad…”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan.”

“Aku mau jelaskan.”

“Sejak kapan kamu tahu?”

Dia menangis.

“Nadira…”

“Sejak kapan?”

“Beberapa tahun.”

Aku menatapnya.

“Tapi kamu tetap berdiri di depan semua orang malam ini dan mengaku membayar pesta.”

Rani menutup wajah.

Mama membela,

“Dia sedang malu!”

Aku menoleh kepada Mama.

“Dan aku?”

Mama terdiam.

“Aku boleh dipermalukan?”

“Nadira, jangan membesar-besarkan.”

Kalimat itu.

Kalimat yang sama dalam bentuk berbeda.

Sejak kecil, kebutuhanku selalu terlalu besar.

Perasaanku selalu terlalu sensitif.

Pengorbananku dianggap kewajiban.

Sementara Rani selalu punya alasan.

Dia sudah menikah.

Dia punya anak.

Dia punya masalah.

Dia butuh bantuan.

Aku hanya “lebih kuat”.

Aku berdiri.

“Mulai malam ini, tidak ada lagi transfer bulanan.”

Mama menatapku tak percaya.

“Kamu mau menghukum orang tua sendiri?”

“Tidak. Aku berhenti membiayai kebohongan.”

“Kalau Papa butuh sesuatu?”

“Aku bayar langsung ke rumah sakit, apotek, atau penyedia layanan. Bukan lewat rekening Mama.”

Wajah Mama semakin pucat.

Itulah saat aku tahu masih ada sesuatu.

Bukan hanya Rani.

“Ma.”

Aku menatapnya.

“Ada apa lagi?”

“Tidak ada.”

“Ada.”

Mama mengambil tas.

“Kita pulang.”

Papa tidak bergerak.

“Duduk.”

Mama menatapnya.

“Pak…”

“Duduk.”

Aku belum pernah mendengar Papa berbicara kepadanya seperti itu.

Papa kemudian menoleh kepadaku.

“Minggu lalu bank menelepon rumah.”

Mama langsung memucat.

Aku merasa jantungku berdetak lebih cepat.

“Bank apa?”

“Bank tempat rekening tabungan kita.”

Mama memotong.

“Itu tidak ada hubungannya!”

Papa tidak menghiraukannya.

“Mereka menanyakan konfirmasi sebuah pengajuan.”

“Pengajuan apa?”

Papa menggeleng.

“Saya tidak tahu. Mama bilang telepon penawaran biasa.”

Aku memandang Mama.

Dia menggenggam tas begitu erat sampai buku jarinya memutih.

Hana tiba-tiba berkata,

“Tante…”

Dia membuka percakapan lain.

“Ada foto juga.”

Rani langsung maju.

“Hana, jangan!”

Terlambat.

Hana menunjukkan layar kepadaku.

Sebuah foto dokumen.

Tidak terlalu jelas.

Tetapi aku bisa membaca nama lengkapku.

Nadira Prameswari.

Di bawahnya ada angka.

Rp350.000.000.

Dan di bagian bawah dokumen itu ada ruang tanda tangan.

Aku memperbesar gambar.

Jantungku seperti berhenti.

“Itu apa?”

Tidak seorang pun menjawab.

Aku memperbesar lagi.

Ada nama sebuah bank.

Ada nama Rani.

Ada namaku.

Dan ada satu kalimat yang membuat seluruh kemarahan malam itu terasa kecil dibandingkan apa yang baru saja kutemukan.

Dokumen itu bukan tentang pesta.

Bukan pula transfer bulanan.

Itu berkaitan dengan sebuah pengajuan kredit yang menggunakan namaku sebagai pihak yang seolah-olah mengetahui transaksi tersebut.

Aku menatap Rani.

“Kamu sudah mengajukan ini?”

Dia menggeleng cepat.

“Belum.”

“Kenapa namaku ada di sini?”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Kenapa namaku ada di sini?”

Mama mulai menangis.

Papa mengambil ponsel dari tanganku.

Dia membaca dokumen itu.

Kemudian wajahnya berubah.

Bukan sedih.

Marah.

“Ini tanda tangan siapa?”

Aku melihat bagian bawah.

Ada tanda tangan yang bentuknya hampir menyerupai milikku.

Hampir.

Tetapi bukan milikku.

Aku menatap Mama.

Lalu Rani.

Tidak ada yang berani bicara.

Arief terlihat benar-benar terkejut.

“Rani… kamu bilang pengajuan itu sudah dibatalkan.”

Aku menoleh tajam.

“Kamu tahu?”

“Tidak soal tanda tanganmu. Demi Tuhan, Nadira, aku tidak tahu.”

Rani menangis semakin keras.

“Aku terdesak!”

“Karena apa?”

Dia tidak menjawab.

“Utang katering itu sudah tiga tahun lalu. Jadi Rp350 juta ini untuk apa?”

Rani memandang Mama.

Mama menggeleng kecil.

Gerakan itu begitu cepat sehingga mungkin orang lain tidak melihatnya.

Aku melihat.

Mereka masih menyembunyikan sesuatu.

Aku mengambil kembali ponsel Hana.

Di bawah foto dokumen terdapat pesan dari Rani kepada Mama.

Aku membacanya.

Kalau Nadira tahu tujuan uang ini, dia tidak akan pernah mau tanda tangan.

Lalu balasan Mama:

Makanya jangan bilang dulu. Setelah cair, kita jelaskan pelan-pelan.

Tanganku dingin.

Aku membaca pesan berikutnya.

Hanya satu baris.

Dan kali ini bahkan Rani berhenti menangis ketika melihat aku menemukannya.

Aku menatap mereka berdua.

“Uang Rp350 juta itu sebenarnya untuk siapa?”

Mama menutup mata.

Rani mundur.

Papa berkata,

“Jawab.”

Namun sebelum Rani sempat membuka mulut, ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aku hampir menolaknya.

Lalu melihat pesan singkat yang masuk bersamaan.

Selamat malam, Ibu Nadira. Saya menghubungi terkait dokumen pengajuan atas nama Ibu. Ada ketidaksesuaian tanda tangan yang perlu kami konfirmasi sebelum proses dilanjutkan.

Aku mengangkat kepala.

Mama langsung berkata,

“Jangan angkat.”

Saat itulah aku tahu aku harus menjawabnya.

Aku menekan tombol menerima panggilan.

“Selamat malam. Saya Nadira.”

Suara seorang pria terdengar dari seberang.

“Terima kasih, Bu. Sebelum kita lanjut, saya perlu memastikan satu hal. Apakah Ibu mengenal seseorang bernama—”

Dia menyebut sebuah nama.

Aku tidak mengenalnya.

Tetapi reaksinya terjadi tepat di depanku.

Gelas di tangan Rani jatuh ke meja.

Mama menutup mulut.

Dan Papa perlahan menoleh kepada istrinya.

Aku menatap mereka bertiga.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku sadar bahwa Rp350 juta mungkin bukan rahasia terbesar mereka.

Orang di telepon melanjutkan,

“Bu Nadira, nama orang tersebut tercantum sebagai pihak yang akan menerima sebagian dana setelah pencairan.”

Aku menggenggam ponsel.

“Siapa dia?”

Pria itu terdiam sebentar.

Lalu berkata,

“Kalau Ibu memang tidak mengenalnya, saya rasa ada dokumen lain yang perlu Ibu lihat sebelum menyetujui apa pun.”

Mama tiba-tiba berdiri.

“Nadira, tutup teleponnya!”

Aku menatap Mama.

Dan saat itu aku yakin satu hal.

Apa pun yang ada di dokumen berikutnya, Mama sudah mengetahuinya sejak awal.