PART 2
Pintu dari kelima SUV hitam itu terbuka secara bersamaan.
Dari dalam kendaraan, turun 5 pria berbadan tegap dengan pakaian rapi.
Mereka tidak datang sendiri.
Beberapa pengacara senior, tim medis pribadi, dan staf keamanan berjas hitam ikut menyertai langkah mereka.
Arya Kusuma berjalan paling depan memasuki ruang tamu.
Pandangan mata Arya langsung tertuju pada bekas kemerahan di kedua pergelangan tangan Maya.
Raut wajah Arya berubah menjadi sangat dingin.
“Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Arya dengan suara berat.
Maya menunjuk langsung ke arah Reza.
Siska maju sambil tertawa sinis untuk menutupi rasa gugupnya.
“Jangan ikut campur. Ini masalah internal keluarga kami!”
Arya menatap Siska dengan tajam.

“Justru karena ini masalah keluarga, kami datang.”
Empat pria lain berdiri di samping Arya.
Bagas, seorang ahli analisis data dan keamanan sistem.
Dimas, pemilik perusahaan logistik nasional.
Rendry, investor utama di berbagai institusi keuangan.
Dan Gilang, salah satu pengacara hukum korporasi terbaik di negara ini.
Reza mengamati wajah kelima pria itu satu per satu.
Wajahnya mendadak pucat ketika mengenali sosok yang berdiri di depan ruang tamunya.
“Kusuma?” bisik Reza dengan suara bergetar.
Gilang maju satu langkah dan meletakkan sebuah berkas tebal di atas meja kaca.
“Maya Kusuma. Dia adalah adik kandung kami.”
Bambang Pratama terbelalak.
Dia menatap Maya seolah baru pertama kali melihat menantunya sendiri.
Nama keluarga Kusuma bukanlah nama yang bisa disentuh oleh pengusaha tingkat menengah seperti Pratama Land.
Rendry menyalakan laptop yang dibawanya dan membukanya di tengah ruangan.
“Kami juga punya masalah lain yang perlu diselesaikan malam ini,” kata Rendry.
Di layar monitor muncul puluhan dokumen audit keuangan internal Pratama Land.
Dokumen-dokumen itu telah dikumpulkan secara legal oleh tim riset investasi milik Rendry selama beberapa bulan terakhir.
Gilang menunjuk beberapa angka pada dokumen tersebut dan menatap Reza serta Bambang.
“Penggelembungan anggaran proyek, faktur fiktif, dan penggunaan anak perusahaan untuk menyembunyikan utang jatuh tempo.”
Reza mencoba membela diri.
“Itu fitnah! Dari mana kalian dapat dokumen itu?”
“Kamu bisa menjelaskan validitas dokumen ini langsung di hadapan penyidik kejaksaan besok pagi,” jawab Gilang tenang.
Dari luar gerbang, terdengar suara sirine dan terlihat sorot lampu biru berputar dari mobil polisi yang baru saja tiba.
Reza mengira keluarga Maya datang untuk melakukan tindakan kekerasan.
Namun dia salah besar.
Keluarga Kusuma tidak datang untuk berbuat kriminal.
Mereka datang menggunakan jalur legal dan kekuatan hukum mutlak yang tidak bisa diintimidasi oleh uang milik Reza.
Dua petugas polisi masuk ke dalam rumah.
Gilang telah menghubungi pihak kepolisian sepuluh menit sebelum mereka tiba di lokasi.
Gilang memberikan bukti awal berupa foto cedera di tangan Maya, rekaman CCTV luar, serta laporan awal dugaan pelanggaran hukum di perusahaan Pratama Land.
Seorang petugas kepolisian mendekati Maya.
“Apakah Ibu ingin membuat laporan resmi atas tindakan penganiayaan dan pengekangan ini?”
Selama 5 tahun, pertanyaan seperti ini mungkin akan membuat Maya ragu karena memikirkan nama baik suaminya.
Namun malam ini, Maya menjawab tanpa keraguan sedikit pun.
“Ya. Saya ingin buat laporan resmi malam ini.”
Reza panik dan mencoba mendekati Maya.
“Maya! Jangan bertindak bodoh! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!”
Arya langsung berdiri menghalangi langkah Reza tanpa perlu menyentuhnya.
“Jangan pernah membentak atau memberi perintah pada adik saya lagi.”
Reza mengepalkan tangan dengan emosi.
“Ini rumah saya!”
Rendry yang duduk di depan laptop mengangkat wajahnya.
“Soal kepemilikan rumah ini juga belum pasti.”
Bambang memandang Rendry dengan wajah tegang.
“Apa maksudmu?”
Rendry memutar layar laptop ke arah Bambang dan Reza.
Beberapa minggu sebelum kejadian malam ini, perusahaan investasi milik Rendry telah membeli sebagian besar surat utang Pratama Land yang gagal bayar di pasar sekunder.
Pratama Land terlihat sangat besar dari luar.
Namun faktanya, seluruh ekspansi bisnis mereka bergantung pada pinjaman bank yang ditumpuk berkali-kali.
Bahkan aset rumah mewah di Menteng ini dijadikan jaminan atas pinjaman modal proyek di luar daerah.
Rendry menunjuk total angka kewajiban perusahaan.
“Total kewajiban finansial perusahaan kalian mencapai 420.000.000.000 rupiah yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.”
Wajah Bambang Pratama menjadi pucat pasi.
“Bagaimana kamu bisa mendapat data internal itu?”
“Pasar keuangan selalu mencatat risiko,” jawab Rendry dingin.
“Terutama ketika kreditor mulai meragukan kemampuan bayar perusahaan kalian.”
Reza menatap ayahnya dengan rasa takut yang luar biasa.
Rasa percaya diri yang dia tunjukkan beberapa menit lalu sirna seketika.
“Papa… katakan pada mereka kalau semua angka itu salah.”
Bambang hanya diam membisu dengan tangan gemetar.
Siska terduduk di kursi dengan wajah lemas.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Karin mencoba menyelinap keluar secara perlahan menuju pintu samping.
Maya melihat pergerakan Karin.
“Kamu boleh pergi, Karin,” ujar Maya tenang.
Karin menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Apa?”
“Pergilah. Kamu tidak ada hubungannya lagi dengan masalah ini.”
Karin memandang Reza, berharap pria itu membela atau menahannya.
Namun Reza bahkan tidak melirik ke arah Karin sama sekali.
Reza hanya peduli pada nasib harta dan perusahaannya yang berada di ujung tanduk.
Karin akhirnya menyadari satu hal.
Bagi Reza, dia hanyalah pajangan untuk memuaskan rasa gengsi, bukan seseorang yang berharga.
Karin melepas perhiasan anting emas yang baru diberikan Reza kemarin dan meletakkannya begitu saja di atas meja.
“Jangan pernah hubungi aku lagi,” kata Karin pada Reza sebelum berjalan keluar rumah.
Siska berteriak dari kursinya.
“Dasar wanita tidak tahu diri! Setelah semua yang anakku berikan padamu!”
Karin menoleh sebentar di pintu keluar.
“Justru karena aku sudah tahu sifat anakmu, aku pergi.”
Karin melangkah keluar dari rumah itu tanpa berbalik lagi.
Reza kini beralih menatap Maya dengan tatapan memohon.
“Kamu puas melihat semua ini?”
Maya menggelengkan kepala perlahan.
“Tidak. Aku tidak merasa puas.”
Jawaban tenang Maya justru membuat Reza semakin bingung dan ketakutan.
“Kalau begitu suruh saudara-saudaramu menghentikan semua ini!”
“Tidak akan.”
“Aku ini suamimu!”
“Hanya sampai proses perceraian selesai.”
Gilang mengeluarkan amplop cokelat dari dalam tasnya.
“Gugatan cerai atas nama Maya Kusuma sudah selesai didaftarkan oleh tim hukum kami.”
Reza menatap Maya dengan tidak percaya.
“Kamu sudah menyiapkan ini dari kapan?”
“Sejak aku tahu kamu menggunakan akun bersama kita untuk membeli gaun itu,” jawab Maya.
Selama beberapa bulan terakhir, Maya tidak tinggal diam.
Dia mencatat setiap nomor rekening, mengumpulkan bukti pengeluaran tanpa izin, serta menyalin percakapan di mana Reza melakukan tindakan intimidasi padanya.
Semua bukti itu dikirimkan Maya secara berkala ke sebuah kantor hukum di Surabaya untuk diproses tanpa diketahui keluarga Pratama.
Maya tidak berniat membalas dendam secara anarki.
Dia hanya menyiapkan jalan keluar yang aman untuk dirinya sendiri.
Kejadian malam ulang tahun ini hanya mempercepat keputusan yang sudah dia buat.
“Kamu merencanakan ini di belakangku?” tanya Reza dengan suara serak.
“Aku hanya melindungi diriku sendiri dari orang yang tidak menghargaiku,” jawab Maya.
Arya berdiri di belakang Maya.
Dia tidak perlu mengeluarkan ancaman verbal.
Kehadirannya di sana sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Maya tidak lagi sendiri.
Selama 5 tahun ini, Maya sengaja menjauh dari keluarganya karena tidak ingin terus berada di bawah perlindungan saudara-saudaranya.
Dahulu, 5 kakaknya selalu mengatur dan melindungi Maya secara berlebihan hingga dia merasa tidak memiliki kebebasan.
Namun ketika Maya memutuskan untuk hidup mandiri, kelima kakaknya menghormati keputusan itu.
Arya dan saudara-saudaranya tidak pernah memaksa Maya kembali.
Mereka hanya memberikan satu nomor telepon khusus yang selalu aktif jika sewaktu-waktu Maya membutuhkan bantuan.
Dan malam ini, Maya memutuskan untuk menggunakannya.
Di dalam ruang tamu, polisi mulai meminta keterangan dari para tamu undangan yang berada di lokasi.
Satu per satu tamu yang tadinya diam mulai berbicara.
Mercedes, seorang direktur yayasan yang hadir di pesta itu, maju memberi kesaksian.
“Saya lihat sendiri. Reza yang menyuruh petugas keamanannya mengikat tangan Maya.”
Tamu pengusaha lainnya ikut bersuara.
“Benar, kami semua ada di sini dan melihat tindakan kasar itu.”
Satu demi satu tamu memberikan keterangan kepada polisi.
Mereka yang sebelumnya tertawa dan diam saat Maya dipermalukan, kini berlomba-lomba memberikan kesaksian untuk mengamankan posisi mereka sendiri.
Maya memperhatikan perubahan sikap para tamu itu.
Dia menyadari bahwa orang-orang itu tidak benar-benar menghormati Reza.
Mereka hanya patuh selama Reza memiliki uang dan kekuasaan.
Gilang menatap para tamu itu dan berkata pelan.
“Memberikan kesaksian sekarang adalah hal yang benar. Tapi seharusnya kalian bersuara sejak awal kejadian.”
Tidak ada satu pun tamu yang berani menjawab ucapan Gilang.
Malam itu juga, Reza dibawa ke kantor polisi setempat untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait Laporan Polisi atas dugaan penganiayaan ringan dan pengekangan.
Sementara itu, Bambang Pratama harus menghadapi krisis yang lebih besar.
Keesokan harinya, beberapa bank swasta nasional secara resmi membekukan fasilitas kredit untuk Pratama Land.
Auditor independen menemukan ketidaksesuaian laporan keuangan senilai miliaran rupiah dalam proyek-proyek yang dikerjakan perusahaan tersebut.
Dalam waktu kurang dari 3 minggu, para pemasok bahan bangunan dan kontraktor mulai mengajukan gugatan penagihan utang ke pengadilan.
Berita mengenai krisis tersebut mulai bermunculan di berbagai media bisnis nasional.
PRATAMA LAND DISIDIK ATAS DUGAAN PELANGGARAN LAPORAN KEUNAGAN DAN ANCAMAN KEPAILITAN.
Siska tidak pernah lagi terlihat di acara-acara sosialita Jakarta.
Undangan pesta yang biasanya memenuhi mejanya berhenti datang.
Teman-teman arisan yang dulu selalu memujinya kini berpura-pura tidak mengenalnya ketika bertemu di tempat umum.
Bagi Siska, kehilangan status sosial jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan uang.
Sementara itu, Maya memilih tinggal sementara di sebuah rumah milik keluarganya di kawasan Kebayoran Baru.
Di malam pertama kepindahannya, Maya duduk di teras belakang rumah.
Arya datang membawakan secangkir teh hangat dan duduk di samping adiknya.
“Kamu bisa saja menghubungi kami sejak tahun lalu,” kata Arya pelan.
Maya memegang cangkir tehnya.
“Aku tahu.”
“Kenapa kamu bertahan begitu lama?”
Maya menghela napas panjang.
“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri tanpa nama besar Kusuma.”
Arya menatap adiknya dengan lembut.
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tahu, meminta bantuan keluarga bukan berarti aku lemah.”
Arya tersenyum tipis.
“Itu jawaban yang bagus.”
Tidak ada omelan dari kakaknya.
Tidak ada paksaan untuk mengikuti keinginan keluarga.
Kelima kakaknya kini benar-benar menghargai keputusan Maya sebagai seorang wanita dewasa.
Dalam kurun waktu beberapa bulan, proses perceraian antara Maya dan Reza resmi dikabulkan oleh pengadilan.
Reza sempat mencoba menghubungi Maya berulang kali melalui pesan singkat.
“Tolong cabut laporannya.”
“Ibuku jatuh sakit karena masalah ini.”
“Ingat 5 tahun pernikahan kita.”
“Jangan hancurkan semuanya hanya karena kesalahan satu malam.”
Maya tidak pernah membalas satu pun pesan tersebut.
Seluruh urusan hukum sepenuhnya ditangani oleh Gilang dan tim pengacaranya.
Dampak dari investigasi keuangan tersebut sangat berat bagi keluarga Pratama.
Bambang resmi mundur dari jabatan direktur utama.
Beberapa aset proyek dijual murah untuk membayar tunggakan utang perusahaan.
Rumah mewah di Menteng akhirnya disita dan dilelang oleh pihak bank untuk menutup kewajiban keuangan mereka.
Namun Maya tidak merayakan kejatuhan mantan suaminya itu.
Tujuannya bukan untuk menghancurkan hidup Reza.
Tujuannya adalah lepas dari lingkungan yang beracun.
Satu tahun kemudian, Maya merayakan ulang tahunnya yang ke-35.
Pesta kali ini sangat sederhana.
Tidak ada 50 tamu elit, tidak ada gaun mahal, dan tidak ada sorotan kamera.
Acara diadakan di halaman belakang rumah di daerah Cisarua, Bogor.
Hanya ada kelima kakaknya, para keponakan, dan beberapa rekan kerja baru Maya.
Setelah bercerai, Maya menggunakan sebagian tabungan pribadinya untuk mendirikan sebuah lembaga konseling dan bantuan hukum bagi wanita yang mengalami kekerasan finansial dan domestik.
Maya ingin memberikan akses bantuan bagi wanita yang tidak beruntung memiliki keluarga seperti dirinya.
Di tengah acara, seorang staf Maya meletakkan sebuah amplop surat di meja.
Surat itu datang dari Reza yang saat ini hidup sederhana di rumah kontrakan di luar Jakarta.
Dimas yang melihat amplop itu bertanya pada adiknya.
“Kamu mau baca surat dari dia?”
Maya melihat amplop surat itu sebentar.
Dia mengingat kembali kejadian malam itu di ruang tamu Menteng.
Rasa takut, rasa malu, dan kalimat angkuh Reza saat itu.
Namun anehnya, malam ini Maya tidak merasakan kemarahan lagi.
Dia tidak merasakan kebencian.
Hatinya benar-benar tenang.
Maya mengambil amplop tersebut dan memasukkannya ke dalam tempat sampah tanpa membukanya.
“Aku sudah tahu apa isi pemikirannya,” kata Maya tenang.
Bagas tersenyum sambil mengangkat gelas mejanya.
“Untuk kehidupan barumu.”
Maya menyentuhkan gelasnya ke gelas Bagas.
“Untuk kehidupan baru.”
Di tempat lain, nama Pratama Land sudah tenggelam dari bursa properti nasional.
Reza harus menanggung akibat dari kesombongan dan kecurangannya sendiri.
Namun bagi Maya, masa lalu itu sudah sepenuhnya selesai.
Wanita yang dulu diam saja saat diintimidasi kini telah pergi.
Maya tidak berubah menjadi sosok yang penuh dendam.
Dia menjadi seorang wanita yang tahu pasti berapa nilai dirinya.
Seorang wanita yang tahu kapan harus bertahan, kapan harus melawan, dan kapan harus melangkah pergi demi kedamaian hidupnya sendiri.

