Part : 2 15 MENIT SEBELUM AKAD, MERTUA SERAKAH USIR ORANG TUA KUSAK KE KURSI PLASTIK POJOKAN, TAPI BALASAN NEKATKU DI DEPAN 200 TAMU BIKIN SEMUA KELUARGA PRASAJA HANCUR BERKEPING-KEPING!

15 MENIT SEBELUM AKAD, MERTUA SERAKAH USIR ORANG TUA KUSAK KE KURSI PLASTIK POJOKAN, TAPI BALASAN NEKATKU DI DEPAN 200 TAMU BIKIN SEMUA KELUARGA PRASAJA HANCUR BERKEPING-KEPING!

Tepat 15 menit sebelum lantunan ayat suci akad nikah bergema di gedung megah kawasan Lembang, Bandung, aku melangkah keluar dari kamar rias. Gaun pengantin kebaya putih berkilau yang kukenakan menyapu lantai granit gedung Nuansa Asri. Bunga melati segar menghiasi jilbabku. Semuanya terasa seperti mimpi indah yang akhirnya terwujud. Namun, lamunanku terpecah seketika saat Nisa, sepupuku, berlari kencang menghampiriku dengan wajah pucat pasi tanpa darah.

“Maya! Kamu harus ke ruang utama sekarang juga! Cepat, Maya!” bisik Nisa gagap, matanya membelalak penuh kecemasan.

Aku menyingkap sedikit gaun panjangku dan mempercepat langkah menuju aula utama tempat resepsi dan akad dilangsungkan. Suasana riuh riang tamu undangan berangsur menyapa telingaku. Tapi pemandangan di depan mataku membuat jantungku berhenti berdetak seketika.

Tiga petugas katering sedang sibuk memindahkan papan nama di meja VIP paling depan. Di sebelah kanan tempat duduk Aditya, calon suamiku, tertera sembilan nama anggota keluarga besar Prasaja. Ada nama Ibu Ratna, calon ibu mertuaku, Aditya, adik-adiknya, hingga para paman kaya yang memakai baju batik sutra mahal.

Namun, papan nama Bapak dan Ibuku tidak ada di sana. Sama sekali tidak ada!

Mataku menyapu seluruh penjuru aula yang sangat luas itu. Astaga! Duniaku serasa runtuh saat menemukan kedua orang tuaku berdiri terpojok di dekat pilar beton paling belakang gedung. Di sana, hanya disediakan dua kursi plastik merah tanpa sarung penutup, tanpa meja, dan tanpa hiasan bunga sedikit pun! Posisi itu berada di balik tembok, sama sekali tidak bisa melihat ke panggung utama akad nikah.

Bapak terlihat begitu canggung berdiri di sana, mengenakan jas batik sederhana yang beliau cicil pembayarannya selama enam bulan penuh dari hasil bertani cabai di kampung. Ibuku memeluk tas tangan kainnya erat-erat di dada, menundukkan kepala sembari menahan air mata kekecewaan agar tidak menetes di depan para tamu kaya.

Darahku mendidih hebat. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku. Dengan langkah lebar penuh amarah, aku berjalan menghampiri koordinator acara pernikahan kami yang tampak serba salah dan ketakutan.

“Siapa yang menyuruh memindahkan meja orang tuaku ke sudut sampah itu?!” tanyaku dengan nada suara menekan, menahan ledakan emosi.

“I-Ibu Ratna yang minta, Mbak Maya…” bisik koordinator itu dengan tubuh gemetar. “Beliau bilang Mas Aditya sudah menyetujuinya…”

“Jadi kamu bilang putraku menyetujuinya?” sebuah suara melengking nan dingin memotong percakapan kami dari belakang.

Ibu Ratna muncul dengan anggunnya, dibalut gaun kebaya warna hijau zamrud berkilau mewah berhiaskan permata imitasi. Senyum di bibirnya terasa sangat tajam merendahkan.

“Jangan bikin drama murahan di sini, Maya,” ucap Ibu Ratna santai sambil mengibaskan kipas tangannya. “Orang tuamu itu memang cocoknya duduk di sana. Kurang ajar sekali kalau kamu mau memaksakan mereka duduk sejajar dengan para pejabat tetanggaku! Lagipula, orang tua kampung seperti mereka pasti bakal bikin malu kalau tertangkap kamera wartawan lokal.”

“Ini pernikahan putri mereka, Bu! Bapak dan Ibu saya yang bekerja membanting tulang membayar separuh sewa gedung ini dari uang tabungan haji mereka!” teriakku, suaraku bergetar hebat menahan tangis amarah.

Ibu Ratna tertawa mengejek, suaranya renyah menembus kebisingan ruangan. “Lalu kenapa? Ini pernikahan putraku! Keluarga Prasaja harus menjadi raja di barisan depan! Lihat orang tuamu itu… baju batik murahan, sendal kusam, sungguh memprihatinkan kalau dipaksa menyatu di meja kehormatan!”

Bapak dan Ibu yang mendengar kalimat tajam itu makin menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Ibuku mulai mengusap sudut matanya dengan sapu tangan lusuh.

“Di mana Aditya?!” tanyaku lantang. “Di mana calon suamiku?!”

“Mana saya tahu, paling sedang mengurus bisnis besarnya di telepon,” jawab Ibu Ratna acuh tak acuh tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Saat itu juga, kenangan buruk beberapa bulan terakhir berputar cepat di kepalaku. Setiap kali Ibu Ratna menghina pekerjaan orang tuaku sebagai petani kampung, Aditya selalu memintaku mengalah. “Sabar ya Maya, Mama memang begitu wawasannya tinggi. Nanti Mas yang bicarakan baik-baik.” Kata-kata manis yang selalu keluar dari mulut pria itu hanya untuk menutupi kenyataan bahwa dia adalah seorang anak pembangkang yang tidak punya pendirian dan penakut!

Cukup! Harga diri keluarga Sastro tidak bisa dibeli dengan janji manis palsu!

Aku berbalik arah, membelakangi Ibu Ratna yang terkekeh geli. Langkah kakiku berderak mantap menuju panggung utama akad nikah. Di sana, sebuah mikrofon berdiri tegak di tengah podium, tersambung langsung ke enam pengeras suara raksasa gedung.

Aku menyalakan sakelar mikrofon tersebut. Suara berdenging nyaring melengking tiba-tiba memotong musik gamelan latar gedung.

Seketika, 200 tamu undangan yang hadir terdiam dan serentak menoleh ke arah panggung utama!

“Sebelum acara akad nikah ini dimulai, ada satu rahasia besar yang harus kalian semua ketahui!” ucapku keras melalui mikrofon, suaraku menggema ke seluruh sudut ruangan.

Pintu samping gedung terbuka lebar. Aditya muncul dengan ponsel pintar menempel di telinganya. Wajah tampannya seketika pucat pasi seperti mayat saat melihat calon istrinya berdiri memegang mikrofon di atas panggung dengan mata menyala amarah.

“Maya! Apa-apaan kamu?! Turun dari panggung sekarang juga! Jangan bikin malu keluarga kita!” teriak Aditya panik sambil berlari mendekat.

Aku tidak bergeming sedikit pun. Tatapanku terkunci lurus padanya.

“Aditya! Jawab satu pertanyaan ini di depan 200 tamu undangan yang hadir!” teriakku menyahut. “Apa kamu yang mengizinkan mamamu memindahkan Bapak dan Ibuku ke kursi plastik bekas di pojokan belakang?!”

Aditya menghentikan langkahnya tepat di bawah panggung. Matanya melotot lebar. Ia menatapku, lalu menatap ibunya yang berdiri gagah di tengah ruangan, lalu menatap ratusan pasang mata tamu undangan yang kini berbisik-bisik riuh.

Aditya diam membisu. Ia menunduk, bibirnya terkunci rapat tanpa sepatah kata pun!

Keheningan pria itu di depan ratusan pasang mata menjadi pukulan mematikan yang menghancurkan seluruh sisa cintaku padanya.

Perlahan tapi pasti, aku menarik cincin pertunangan emas di jari manisku. Aku melempar cincin itu tepat ke dada Aditya hingga jatuh memantul di lantai granit.

“Bagus. Karena kamu tidak punya keberanian menjadi seorang laki-laki, sekarang kalian semua akan mendengar kenapa pernikahan ini batal dan keluarga Prasaja hanyalah penipu ulung yang kelaparan harta!…”

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Semua tamu undangan yang hadir menahan napas serentak. Suasana di dalam aula gedung Nuansa Asri mendadak hening mencengangkan, seolah waktu berhenti berputar.

“Maya! Cukup! Jangan bertindak gila!” teriak Ibu Ratna sambil berlari mendekati panggung dengan wajah merah padam karena menanggung malu luar biasa. “Petugas keamanan! Matikan mikrofon itu sekarang juga!”

Namun sebelum para petugas keamanan mendekat, aku kembali meninggikan suara lewat mikrofon, menggetarkan setiap dinding gedung.

“Kalian semua menyangka keluarga Prasaja ini adalah keluarga konglomerat kaya raya dari Jakarta yang dermawan?!” seruku dengan nada sarkastik yang tajam. “Kalian salah besar! Selama dua tahun bertunangan, seluruh biaya pengobatan rumah sakit Ibu Ratna, biaya cicilan mobil mewah Aditya, hingga deposit sewa gedung mewah ini senilai 150 juta Rupiah… semuanya dibayar menggunakan uang hasil penjualan tanah warisan milik Bapakku di kampung!”

Gumpalan bisik-bisik heboh langsung pecah di antara para tamu undangan. Beberapa kerabat dekat keluarga Prasaja mulai saling pandang dengan tatapan syok.

“Bohong! Dia cuma wanita gila yang depresi!” jerit Ibu Ratna histeris, suaranya melengking mencoba menutup malu. “Jangan dengarkan wanita kampung ini!”

“Bohong?!” aku tertawa keras, tawa penuh kepedihan dan keberanian. Aku merogoh tas kecil yang dipegang Nisa di samping panggung, mengambil seberkas dokumen tebal bercap notaris resmi yang sengaja kusiapkan sejak semalam.

“Ini adalah bukti kuitansi transfer dan surat perjanjian utang pinjaman atas nama Aditya Prasaja!” teriakku sambil memamerkan lembaran kertas tersebut ke udara. “Keluarga ini bergaya sok kaya di depan publik Bandung, padahal untuk menggelar pernikahan bernuansa adat mewah hari ini, mereka memeras keringat orang tuaku yang kalian usir ke sudut ruangan itu!”

Aditya berlutut di bawah panggung, wajahnya basah oleh keringat dingin. “Maya… tolong, jangan hancurkan nama baik keluargaku… Aku mohon, Maya… Kita bisa bicarakan ini baik-baik…” bisiknya merintih penuh keputusasaan.

“Nama baik?!” celatukku dingin. “Kamu sendiri yang menghancurkan harga dirimu saat kamu membiarkan ibumu menginjak-injak Bapak dan Ibuku! Hari ini, detik ini juga, pernikahan ini BATAL!”

Aku membanting mikrofon ke lantai hingga menimbulkan suara dentuman pekak yang memecahkan keheningan gedung. Aku melepaskan ronce bunga melati dari jilbabku dan melemparnya ke wajah Aditya. Tanpa ragu sedikit pun, aku melangkah turun dari panggung, berjalan lurus menuju sudut belakang tempat orang tuaku berdiri.

Bapak memelukku erat dengan tubuh gemetar, air mata menetes di pipinya yang keriput. “Maya… anakku… maafkan Bapak yang tidak bisa memberimu pernikahan mewah seperti wanita lain…” bisik Bapak pelan.

“Tidak, Pak,” jawabku mantap sambil menghapus air mata ibuku. “Bapak dan Ibu adalah kehormatan Maya. Maya tidak akan pernah menukar harga diri keluarga kita demi menikah dengan keluarga penipu!”

Aku menggandeng tangan Bapak dan Ibu, melangkah lebar keluar dari pintu utama gedung diiringi tatapan puji dan kagum dari ratusan tamu yang memberikan jalan untuk kami. Di belakang kami, suasana aula berubah menjadi kekacauan total ketika para kreditur dan tamu VIP mulai memprotes Ibu Ratna dan Aditya.

Namun, drama Sinetron kehidupan nyata ini ternyata belum berakhir di sana.

Tepat tiga bulan setelah kejadian skandal pernikahan batal yang menggemparkan seluruh kota Bandung itu, aku fokus membangun kembali kehidupan baruku di Yogyakarta. Dengan sisa modal tabungan, aku membuka usaha katering makanan tradisional khas Jawa yang berkembang pesat hanya dalam waktu singkat.

Suatu sore di balai kota Yogyakarta, aku menghadiri acara penganugerahan pengusaha UMKM terbaik tingkat provinsi. Saat namaku dipanggil ke atas panggung untuk menerima penghargaan utama, seorang pria tua anggun berkemeja batik eksklusif berdiri memberikan piala emas padaku.

Pria tua itu adalah Bapak Suryo Prasetyo, pemilik jaringan hotel terbesar di Indonesia sekaligus pimpinan asosiasi pengusaha nasional.

“Selamat, Maya Sastro,” ucap Bapak Suryo dengan senyum hangat penuh wibawa. “Keberanianmu tiga bulan lalu mempertahankan harga diri orang tuamu benar-benar menginspirasi banyak orang.”

Aku tertegun kaget. “Bapak tahu cerita itu?”

Bapak Suryo tertawa kecil lalu mengangguk pelan. “Tentu saja. Hari itu, saya adalah salah satu tamu undangan VIP yang duduk di aula gedung Nuansa Asri. Dan kamu harus tahu satu hal…”

Bapak Suryo mendekatkan wajahnya lalu berbisik dengan nada penuh rahasia yang membuat dadaku berdegup kencang.

“Ibu Ratna dan Aditya sebenarnya adalah mantan istri dan anak kandung yang sudah saya coret dari hak waris keluarga Prasetyo sejak sepuluh tahun lalu karena sifat keserakahan mereka… Dan keberanianmu membatalkan pernikahan hari itu telah menyelamatkan sisa aset perusahaan milik keluarga besar kami dari niat jahat mereka.”

Bapak Suryo tersenyum lebar, menyerahkan kunci mobil dinas baru beserta dokumen kerja sama investasi senilai lima miliar Rupiah ke tanganku.

Keluarga penipu yang dulu menghina orang tuaku kini harus menanggung utang ratusan juta hingga gulung tikar, sementara kebanggaan dan kejujuran telah membawaku serta kedua orang tuaku menuju puncak kejayaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *