SUAMIKU MELETAKKAN SURAT CERAI DI DEPANKU SAMBIL DUDUK BERSAMA WANITA PILIHANNYA DAN BERKATA, “JANGAN BERHARAP MENDAPATKAN VILA INI” — AKU HANYA MENANDATANGANI, MENELEPON SESEORANG, DAN LIMA MENIT KEMUDIAN WAJAHNYA LANGSUNG BERUBAH.
Namaku Alya Prameswari.
Aku sudah menikah dengan Raka Wijaya selama delapan tahun. Kami memiliki seorang putra berusia tujuh tahun bernama Nara, anak yang sangat pendiam dan sangat dekat denganku.
Selama ini semua orang yang melihat keluarga kami mengira Raka lah yang membangun kehidupan mewah kami dari nol.
Vila besar dua lantai di Puncak dengan kolam renang pribadi.
Mobil mahal berjejer di garasi.
Perusahaan properti sendiri bernama Wijaya Prima Holdings yang namanya ada di mana-mana.
Acara-acara mewah dengan rekan bisnis.
Sedangkan aku hampir tidak pernah muncul di depan publik. Di Instagram Raka, aku jarang ada. Di acara kantornya, aku selalu bilang tidak bisa datang karena menjaga Nara. Banyak orang mengira aku hanya ibu rumah tangga biasa yang beruntung menikah dengan pengusaha sukses.
Tidak banyak orang tahu bahwa sebelum menikah, aku pernah tinggal dan bekerja cukup lama di Singapura selama hampir enam tahun, membantu perusahaan keluarga.
Mereka juga tidak tahu atas nama siapa tanah seluas 2000 meter tempat vila mewah kami berdiri itu sebenarnya tercatat di Badan Pertanahan.
Sore itu, sore yang cerah, Raka pulang tidak sendirian. Dia membawa Maya Santoso ke rumah. Perempuan yang selama setahun terakhir sering terlihat di story Instagram kantornya sebagai “konsultan marketing”.
Maya duduk di ruang tamuku, di sofa yang aku beli sendiri, dengan kaki disilangkan dan senyum yang sangat percaya diri.
Raka, tanpa basa-basi, meletakkan map hitam berisi surat cerai di atas meja marmer ruang tamu.
“Alya, aku sudah memutuskan. Kita akhiri saja. Kita sudah tidak cocok.”
Aku menatap Maya, lalu menatap Raka dengan tenang.
“Kamu memilih dia?”
Raka mengangguk tanpa ragu, “Iya. Maya lebih mengerti dunia aku. Aku ingin memulai hidup baru.”
Aku bertanya pelan, sambil melirik ke arah kamar Nara yang pintunya setengah terbuka,
“Lalu Nara bagaimana?”

“Kamu boleh membawa Nara. Aku akan kasih uang bulanan. Tapi…” Dia menatap sekeliling vila dengan bangga, “Vila ini tetap milikku. Jangan membuat masalah soal harta. Kamu tahu aku yang bangun semua ini. Jangan berharap mendapatkan vila ini.”
Aku tidak menangis. Aku tidak memohon. Aku tidak berteriak seperti yang mungkin mereka harapkan agar terlihat dramatis.
Aku hanya mengambil pena mahal milik Raka yang ada di meja, membuka halaman terakhir surat cerai itu, dan langsung menandatanganinya. Satu tarikan napas.
Raka terlihat heran, bahkan kaget, karena aku sama sekali tidak memohon atau bertanya kenapa.
Dia bahkan berkata dengan nada meremehkan,
“Begitu saja? Kamu tidak mau mempertahankan rumah tangga?”
Aku menatapnya dan menjawab, “Untuk apa mempertahankan seseorang yang sudah membawa wanita lain duduk di ruang tamu istri sahnya?”
Aku lalu mengambil ponselku dari saku daster. Aku menelepon satu nomor yang sudah 5 tahun tidak pernah aku telepon.
Pak Arman, pengacara keluarga kami di Singapura, orang kepercayaan nenekku.
Aku hanya berkata dengan suara pelan tapi jelas,
“Pak Arman, tolong aktifkan klausul nomor tujuh. Sekarang.”
Raka mengernyit, dahinya berkerut,
“Klausul apa? Klausul nomor tujuh apa? Kamu menelepon siapa?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menggenggam tangan Nara yang baru keluar dari kamar karena mendengar suara ribut, dan memeluknya.
Kurang dari lima menit kemudian, ponsel Raka yang ada di atas meja berdering keras. Nama di layar: Legal Office.
Dia mengangkatnya dengan gaya bos besar.
“Halo… ya… ada apa?”
Senyumnya yang tadi penuh kemenangan langsung hilang dalam 10 detik. Wajahnya berubah dari merah percaya diri menjadi pucat.
Dia menatapku dengan mata membelalak,
“Alya… barusan kantor pertanahan dan pengacara Singapura menelepon… mereka bilang hak penggunaan vila ini baru saja ditangguhkan sementara dan akses sertifikatnya dibekukan. Semua kartu akses vila dinonaktifkan. Apa yang kamu lakukan? Apa maksudnya ini?”
Maya yang tadinya duduk anggun langsung duduk tegak.
Aku menggenggam tangan Nara lebih erat dan menjawab dengan suara yang sangat tenang,
“Aku tidak melakukan apa-apa, Mas. Aku hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal memang bukan milikmu. Kamu hanya meminjamnya.”
Aku membawa Nara masuk ke kamar untuk mengemas barang. Aku tidak mau Nara melihat pertengkaran. Aku lipat baju-bajunya yang kecil, seragam sekolahnya, buku gambarnya.
Raka mengikuti dari belakang, panik.
“Alya, kamu tidak bisa melakukan ini! Kamu tidak bisa bekukan vila ini! Ini rumahku! Aku yang bangun dari pondasi! Kamu mau bawa anakku ke mana?”
Aku menoleh dan menatapnya,
“Kamu sendiri yang bilang aku boleh membawa Nara, Mas. Sekarang kamu lupa?”
“Aku tidak bicara soal Nara! Aku bicara soal vila! Kamu pakai ilmu apa?”
Aku hanya tersenyum tipis. Aku sudah terlalu lama diam.
Saat itu laptopku berbunyi. Pak Arman mengirim dokumen via email, dengan subjek: AKTIFKAN.
Halaman pertama adalah dokumen tanah, sertifikat asli yang sudah di-scan.
Nama yang tercantum sebagai pemilik sah di kolom pemilik, bukan nama Raka Wijaya.
Nama yang tercantum adalah:
Sulastri Prameswari.
Nenekku. Ibu dari ibuku. Perempuan hebat yang membangun Prameswari Capital di Singapura dari nol.
Raka langsung membeku di depan pintu kamar. Mulutnya terbuka.
“Nenekmu? Kenapa bisa nama nenekmu? Bukankah tanah ini kita beli bersama dari developer?”
Aku mengangguk pelan dan menjelaskan untuk pertama kalinya setelah delapan tahun,
“Tanah seluas 2000 meter ini dibeli keluargaku 15 tahun lalu, jauh sebelum aku kenal kamu, Mas. Waktu itu masih kebun teh. Setelah aku menikah denganmu, keluargaku memberikan hak pakai, hak untuk membangun di atasnya selama pernikahan masih berjalan. Tapi kepemilikannya tidak pernah sepenuhnya dialihkan ke namamu. Karena nenekku bilang, ‘Tanah tidak pernah bohong, tapi manusia bisa.’ Makanya ada klausul.”
Aku membuka halaman berikutnya di laptop. Ada satu klausul yang diberi stabilo kuning oleh Pak Arman:
Klausul No. 7: Jika pernikahan berakhir karena keputusan sepihak dari pihak suami (Raka Wijaya) yang menghadirkan pihak ketiga, maka hak penggunaan, hak tinggal, dan hak kelola atas tanah dan bangunan vila di atasnya akan dihentikan secara otomatis dan dikembalikan sepenuhnya kepada keluarga Prameswari dalam waktu 24 jam.
Maya yang menguping dari luar kamar langsung berdiri dengan wajah kaget,
“Raka, bukankah kamu bilang rumah ini, vila ini, tanah ini milikmu sepenuhnya? Kamu bilang kamu beli cash? Jadi selama ini kita tinggal di tanah neneknya Alya?”
Raka tidak menjawab. Keringatnya bercucuran.
Aku kembali mengemas barang Nara. Malam ini juga aku berencana membawa anakku kembali ke Singapura, ke rumah nenek, tempat aku dibesarkan. Tiket sudah aku pesan diam-diam sejak seminggu lalu karena firasatku sudah tidak enak.
Namun sebelum kami berangkat ke bandara, ponselku berdering lagi. Pak Arman menelepon lagi dengan suara lebih serius.
“Alya, tunggu dulu. Ada sesuatu yang lebih besar daripada vila. Kamu harus tahu sebelum terbang.”
Aku berhenti melipat baju,
“Apa lagi, Pak?”
“Perusahaan Raka. Wijaya Prima Holdings.”
Aku langsung terdiam. Raka yang mendengar kata perusahaan dari luar kamar langsung mendekat ke ambang pintu.
“Perusahaanku kenapa? Perusahaanku tidak ada hubungannya dengan tanah ini!”
Pak Arman mengirim dokumen lain. Aku membukanya dengan tangan gemetar. Nara memeluk kakiku.
Nama perusahaan: Wijaya Prima Holdings Pte. Ltd. – Cabang Jakarta.
Raka memang tercatat sebagai pendiri dan direktur utama di Indonesia.
Namun di halaman modal awal, tertulis jelas, modal pertamanya senilai 1,2 juta Dollar Singapura, bukan dari tabungan Raka, melainkan berasal dari sebuah dana investasi di Singapura bernama:
Prameswari Capital.
Itu adalah perusahaan investasi milik keluargaku. Milik nenekku.
Maya langsung menatap Raka dengan tatapan tidak percaya,
“Raka, kamu tahu soal ini? Kamu bilang ke aku perusahaan ini murni kamu bangun dari nol dengan uang investor dari Jakarta!”
Wajah Raka mulai pucat pasi. Bibirnya bergetar.
Aku membuka halaman selanjutnya. Ada perjanjian investasi yang dibuat delapan tahun lalu, tepat seminggu sebelum kami menikah.
Di bagian bawah perjanjian itu ada tanda tangan Raka Wijaya yang masih sangat rapi. Ada tanda tangan nenekku, Sulastri Prameswari. Dan ada stempel Prameswari Capital.
Artinya dia pernah mengetahui semuanya sejak awal. Dia tahu modal itu dari keluargaku. Dia tahu tanah itu dari keluargaku.
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih, tapi karena kecewa,
“Kamu tahu sejak awal, Mas? Kamu tahu tanah ini punya nenekku? Kamu tahu modal perusahaanmu dari keluarga aku? Kenapa kamu bilang ke semua orang kamu bangun semuanya sendiri?”
Raka diam membisu. Tidak ada jawaban.
Aku membuka halaman terakhir perjanjian itu. Ada klausul lain mengenai apa yang terjadi apabila pernikahan kami berakhir.
Namun bagian terpenting masih tertutup lipatan hasil scan yang kurang sempurna, hanya terlihat bayang-bayang tanda tangan.
Pak Arman berkata dari telepon dengan suara pelan,
“Alya, coba buka baris terakhir. Baris yang ada lipatannya itu. Kalau kamu membaca baris itu, kamu akan tahu kenapa Raka menyembunyikan status pernikahan kalian dari banyak rekan bisnis dan dari Maya selama delapan tahun. Kenapa dia selalu bilang masih lajang di beberapa acara.”
Aku menatap Raka. Maya juga menatapnya dengan gelisah, karena Maya baru sadar, selama ini Raka sering memperkenalkannya sebagai “teman dekat” bukan sebagai selingkuhan dari istri sah.
Tanganku gemetar saat mulai membuka bagian terakhir yang terlipat itu.
Sebuah nama perlahan terlihat samar-samar di bawah cahaya laptop.
Raka langsung panik dan berteriak dari pintu,
“Alya, jangan lanjutkan! Tolong jangan buka itu di depan Maya!”
Aku berhenti sejenak.
“Kenapa, Mas? Apa yang kamu sembunyikan lagi? Kalau vila ini bukan milikmu, apakah perusahaan yang selama ini kamu banggakan di depan semua orang itu juga sebenarnya berdiri di atas nama keluargaku?”
Aku menarik napas panjang dan membuka lipatan scan itu sepenuhnya.
Di sana tertulis dengan huruf kapital yang sangat jelas:
KLAUSUL PENJAGA – Pasal 9: Apabila pernikahan Alya Prameswari dan Raka Wijaya berakhir karena pihak Raka menghadirkan pihak ketiga, maka seluruh saham Raka Wijaya di Wijaya Prima Holdings (45%) akan secara otomatis dianggap sebagai HIBAH BERSYARAT yang GUGUR, dan akan kembali sepenuhnya kepada Prameswari Capital sebagai pemilik modal awal. Dan hak asuh serta hak pendidikan penuh atas anak, Nara Prameswari Wijaya, sepenuhnya berada pada pihak ibu, tanpa bisa diganggu gugat.
Dan di bawah pasal itu ada satu nama terakhir yang ditulis tangan oleh nenekku sendiri sebagai saksi moral:
Wali Amanah: Nara Prameswari Wijaya (Cucu) – Penerus Tunggal Prameswari Capital.
Maya langsung terdiam dan melepaskan tangan Raka yang sejak tadi dia pegang. Wajahnya berubah dari kaget menjadi marah besar.
“Raka! Jadi kamu selama ini bohong ke aku! Kamu bilang kamu duda! Kamu bilang perusahaan ini 100% milikmu dan kalau kita menikah aku akan jadi nyonya besar! Ternyata modalnya dari keluarga Alya? Dan kalau kamu cerai, saham kamu hilang semua? Lalu aku dapat apa? Kamu mau kasih aku apa? Vila pinjaman yang sudah dibekukan ini?”
Raka terduduk lemas di lantai ruang tamu mewah yang 5 menit lalu dia sebut miliknya.
“Ly… aku… aku bisa jelaskan… Aku memang tahu modal itu dari nenekmu. Tapi aku malu mengakuinya. Aku ingin terlihat hebat di depanmu dan di depan semua orang. Makanya aku bilang ke semua orang aku beli tanah ini sendiri. Aku sembunyikan status pernikahan kita di beberapa acara kantor karena aku takut investor lain tahu kalau modal awalku dari keluarga istri, bukan dari kerja kerasku sendiri. Aku takut dianggap numpang hidup…”
Aku berjongkok di depan Raka, menatap matanya yang sudah tidak ada lagi kesombongan seorang direktur.
“Mas, tidak ada yang merendahkanmu karena modal awal dari keluarga istri. Yang membuatmu terlihat kecil adalah ketika kamu meletakkan surat cerai di depan istrimu yang sudah menemanimu delapan tahun, sambil membawa wanita lain duduk di sofa yang dibeli dari uang nenekku, dan berkata ‘jangan berharap mendapatkan vila ini’.”
“Vila ini memang bukan milikmu, Mas. Dari awal memang bukan. Tapi aku dan Nara pernah menganggapmu pemilik hati kami. Itu yang lebih mahal dari vila.”
Malam itu, aku tidak jadi berteriak. Aku tidak jadi membalas dengan makian.
Aku hanya menarik koper Nara yang sudah siap, menggandeng tangan Nara yang berusia tujuh tahun itu, dan berjalan keluar dari vila yang sudah dibekukan aksesnya.
Di luar, mobil jemputan dari Pak Arman sudah menunggu untuk membawa kami ke bandara menuju Singapura. Bukan untuk kabur, tapi untuk pulang ke rumah nenek, tempat aku dibesarkan, tempat di mana namaku masih dihargai sebagai Prameswari, bukan sebagai istri yang disembunyikan.
Raka hanya bisa menatap dari pintu vila yang lampunya satu per satu mulai padam otomatis karena hak aksesnya sudah dicabut sistem.
Maya pergi 10 menit setelah aku keluar, meninggalkan Raka sendirian di teras vila pinjaman itu dengan map surat cerai yang sudah aku tanda tangani.
Nara di dalam mobil bertanya pelan,
“Ibu, kita mau ke mana?”
Aku memeluknya dan berkata,
“Kita pulang ke rumah Nenek Sulastri, Nak. Di sana ada kebun yang luas, dan tidak ada yang akan menyuruh kita pergi dari rumah sendiri.”
Vila itu akhirnya kembali kosong, seperti 15 tahun lalu saat masih kebun teh, sebelum dibangun dengan uang Prameswari Capital.
Pesan untuk kita semua:
Jangan pernah berkata “jangan berharap mendapatkan vila ini” kepada seorang perempuan yang kamu kira tidak punya apa-apa. Bisa jadi tanah tempat vila itu berdiri, modal perusahaan yang kamu banggakan, dan bahkan lampu yang menyala di ruang tamu itu, semuanya tercatat atas nama nenek dari perempuan yang kamu usir. Kesombongan lima menit bisa menghapus delapan tahun kerja keras, karena klausul nomor tujuh selalu menunggu untuk diaktifkan.
Kekayaan yang dibangun di atas kebohongan tentang asal-usul modal, tidak akan pernah kokoh seperti tanah milik nenek yang dibeli dengan keringat 15 tahun lalu.
Pernahkah kamu melihat seseorang yang sangat membanggakan vila, mobil, dan perusahaannya sebagai hasil kerja kerasnya sendiri, padahal diam-diam modal awalnya dari keluarga istrinya? Atau pernahkah kamu mengalami diusir dari rumah yang ternyata tanahnya masih milik keluargamu sendiri?
Coba ceritakan pengalamanmu di kolom komentar ya. Menurutmu, apakah keputusan Alya yang langsung mengaktifkan klausul nomor tujuh dan membawa Nara pulang ke Singapura itu sudah tepat, atau sebaiknya dia beri Raka kesempatan kedua? Mari kita bahas bersama dengan bijak!

