PART 2
Dua pria berpakaian sipil itu masuk ke dalam ruangan.
Salah satu dari mereka mengeluarkan tanda pengenal resmi dari lembaga penegak hukum.
“Kami dari tim penyidik,” kata petugas itu tegas.
“Nyonya Maya saat ini berada dalam perlindungan saksi kunci terkait penyelidikan saksi terlapor.”
Kusuma mencoba memprotes dengan suara tinggi.
“Ini urusan internal keluarga kami! Kalian tidak bisa sembarangan!”
Petugas itu tidak terpengaruh.
“Kami membawa surat perintah penyitaan barang bukti terkait dugaan penyimpangan dana hibah dan pencucian uang.”
“Setiap perangkat elektronik milik Nyonya Maya wajib diserahkan detik ini juga.”
Aris mundur satu langkah.
Matanya bergetar.
“Rian… kau sudah bersihkan laptop di rumah?” bisik Aris panik.
Rian hanya diam dengan wajah pucat.
Petugas menghampiri Aris.
“Tuan Aris, serahkan ponsel dan dokumen yang Anda ambil dari Nyonya Maya.”
Dengan tangan gemetar, Aris menyerahkan ponsel berwarna hitam milik istrinya dari dalam saku jas.
Rahmi mengambil posisi di samping ranjang Maya, mengawasi proses tersebut dengan tenang.
Seorang wanita bergaun formal cokelat masuk ke ruangan.
Dia adalah Sintia, pengacara spesialis hukum korporasi yang dihubungi Rahmi 40 detik lalu.
Sintia membawa sebuah map tebal.
“Semua laporan keuangan Yayasan Seni Pratama sudah berada di tangan penyidik sejak tadi malam,” kata Sintia tegas.
“Nyonya Maya telah menyerahkan salinan otentik secara bertahap selama 5 bulan terakhir.”
Maya menghembuskan napas panjang.
Beban berat yang menghimpit dadanya selama berbulan-bulan mulai terangkat.
Semua berawal 8 bulan lalu.
Sebagai ketua pengurus Yayasan Seni Pratama, Maya diminta menandatangani berkas pembelian 3 unit lukisan abstrak senilai 12 miliar rupiah.
Sesuai keahliannya di bidang seni, Maya memeriksa keaslian dan nilai pasar karya tersebut.
Ia menemukan bahwa nilai asli lukisan itu tidak lebih dari 300 juta rupiah.
Ketika Maya menolak menandatangani pencairan dana, ancaman mulai berdatangan.
Kusuma mendatangi galeri pribadinya dan menuntut agar Maya tidak ikut campur urusan bisnis keluarga.
Aris mulai membatasi akses keuangan Maya.
Kartu kreditnya diblokir satu per satu.
Sopir pribadi dilarang mengantarnya tanpa izin Kusuma.
Bahkan asisten rumah tangga diperintahkan untuk mengawasi setiap gerak-gerik Maya.
Suatu malam, Maya menemukan draf surat pernyataan di meja kerja Aris.
Dalam draf itu, Maya dinyatakan bersedia menyerahkan seluruh hak atas yayasan serta mengakui memiliki gangguan kesehatan mental.
Di lembar terakhir, terdapat pemalsuan tanda tangan atas nama Maya.
Malam itu juga, Maya sadar bahwa hidupnya dalam bahaya.
Ia tidak langsung berteriak atau berkonflik secara terbuka.
Melalui bantuan Sintia, Maya mengumpulkan bukti pemindahan dana secara diam-diam.
Setiap kali menemukan dokumen transaksi fiktif, ia memfoto dan menyimpan salinannya di server penyimpanan awan yang terenkripsi.
Ia menyusun skenario perlindungan diri.
Ia memberikan nomor kontak Sintia kepada Rahmi dengan pesan khusus: “Jika saya tidak bisa dihubungi atau ponsel saya diambil, hubungi nomor ini.”
Kembali di kamar hospital, petugas telah mengamankan ponsel dan memberikan tanda terima resmi.
“Tuan Aris dan Tuan Rian, kalian diminta hadir di kantor pemeriksaan besok pagi pukul 09.00 WIB,” tegas petugas.
Kusuma terduduk di kursi dengan wajah kusam.
Kesombongan yang tadi terpancar dari wajahnya hilang tanpa sisa.
Hari berikutnya, Maya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Rahmi membawanya ke sebuah rumah dinas yang aman dan terjaga.
Di sana, Maya akhirnya bisa tidur nyenyak selama lebih dari 8 jam tanpa rasa takut.
Saat terbangun pukul 07.00 WIB, bau aroma kopi hangat memenuhi ruangan.
Rahmi duduk di meja makan sambil membaca berkas.
“Minum dulu,” kata Rahmi lembut menyodorkan cangkir.
Maya duduk di hadapan ibunya.
“Maafkan Maya, Bu. Maya baru cerita sekarang.”
Rahmi menatap putrinya dengan pandangan hangat.
“Ibu yang minta maaf karena baru tahu sekarang.”
“Ibu pikir kamu bahagia di sana.”
“Mereka sangat rapi menutupi semuanya, Bu,” kata Maya.
Pemeridikan kasus Pratama Group berjalan sangat cepat.
Rian menjadi pihak pertama yang mengajukan diri sebagai saksi pelaku yang bekerja sama.
Karena takut terseret hukuman berat, Rian menyerahkan bukti percakapan internal keluarga.
Dari bukti tersebut, terungkap bahwa transaksi fiktif yayasan digunakan untuk menutupi kerugian proyek pembangunan resor di Bali senilai 45 miliar rupiah.
Aris terbukti melakukan penekanan fisik dan mental terhadap Maya untuk menguasai aset yayasan.
Ponsel Maya yang disita menjadi bukti kunci.
Di dalamnya terdapat rekaman suara berdurasi 14 menit saat malam penahanan Maya di paviliun.
Dalam rekaman itu, suara Kusuma terdengar jelas memaki dan menuntut Maya menandatangani surat penyerahan aset.
Suara Aris juga terdengar mengancam akan merusak karier seni Maya jika berani melapor.
Rekaman itu menjadi bukti tak terbantahkan di depan penyidik.
3 bulan kemudian.
Proses hukum dan gugatan cerai selesai diputus oleh pengadilan.
Pernikahan yang penuh tekanan itu resmi berakhir.
Pratama Group mengalami krisis kepercayaan publik yang parah.
Saham perusahaan merosot tajam, dan beberapa kontrak kerja sama pemerintah dibatalkan.
Aris dan Kusuma ditetapkan sebagai tersangka kasus penggelapan dana dan tindakan intimidasi.
Sementara itu, Maya memilih kembali ke dunia yang dicintainya.
Ia menyewa sebuah studio kecil di daerah Bandung untuk memulai kembali karyanya.
Suatu sore di bulan Agustus, studio Maya dipenuhi cahaya matahari.
Beberapa kanvas lukisan berjejer rapi di dinding.
Rahmi datang berkunjung tanpa seragam dinas, hanya mengenakan pakaian santai.
Ia berdiri di depan sebuah lukisan besar.
Lukisan itu menggambarkan seorang wanita berdiri di tengah pintu terbuka, menatap padang rumput yang luas.
“Ini karya baru?” tanya Rahmi.
Maya mengangguk sambil membersihkan kuasnya.
“Judulnya ‘Pintu yang Terbuka’.”
“Indah sekali,” puji Rahmi.
Maya menghampiri ibunya dan merangkul armadanya pelan.
“Terima kasih sudah menelpon hari itu, Bu.”
Rahmi tersenyum tipis.
“Ibu cuma menjalankan tugas seorang ibu.”
“Kamu yang berjuang menyelamatkan diri kamu sendiri.”
Kejahatan dan kekuasaan finansial yang dibangun atas dasar intimidasi akhirnya runtuh.
Bukan karena ancaman balik, melainkan karena keberanian seorang wanita untuk menyimpan kebenaran dan menolak untuk terus berdiam diri.

