Pandangannya tertuju pada gambar seorang wanita setengah baya yang sedang tersenyum sambil menyerahkan semangkuk sup hangat kepada Rendy remaja yang tampak kurus dan lusuh.

PARTE 2

Aris menggenggam foto itu dengan jemari yang bergetar hebat.

Matanya menatap wajah Maya yang tersenyum lembut di dalam foto kusam tersebut.

“Dari mana kamu dapat foto ini?” suara Aris terdengar serak.

Rian ikut mendekat dan mengintip foto di tangan Aris.

Rendy menarik napas panjang sebelum berbicara.

“Lima tahun lalu, ayah saya meninggal dunia,” kata Rendy pelan.

“Waktu itu saya kehilangan arah. Saya berhenti kerja, tidak pernah membersihkan rumah, dan tidak mau keluar kamar selama berbulan-bulan.”

“Suatu hari, saya menemukan semangkuk makanan hangat di depan pintu rumah saya.”

“Besoknya ada lagi, lengkap dengan catatan kecil.”

Rendy menatap mata Aris secara langsung.

“Catatan itu berbunyi: ‘Rasa sakit boleh tinggal, tapi jangan biarkan rumahmu mati.’ Itu tulisan tangan Ibu Maya.”

“Selama 3 bulan, Ibu Maya selalu memastikan saya makan dan memberikan dorongan sampai saya bisa bangkit lagi dan bekerja di bengkel.”

Aris terpaku di tempatnya berdiri.

Selama 43 tahun menikah, Maya tidak pernah menceritakan kejadian itu kepadanya.

Rian tertawa sinis sambil melangkah maju.

“Cerita yang sangat indah dan menyentuh,” kata Rian dengan nada mengejek.

“Tapi sangat kebetulan, bukan? Kakak saya sudah meninggal 9 meses lalu, dan sekarang kamu datang membawa cerita ini saat Aris sedang sendirian di rumah ini?”

Rian menoleh ke arah Aris dengan ekspresi meyakinkan.

“Jangan percaya begitu saja, Aris. Dia cuma mau memanfaatkan kelemahanmu untuk mendapatkan harta atau rumah ini.”

Rendy tidak mendebat Rian.

Dia hanya merapikan alat-alat kebersihannya dan memasukkannya ke dalam tas.

“Saya tidak butuh uang atau harta Pak Aris,” kata Rendy tenang.

“Saya hanya melakukan apa yang dulu pernah dilakukan Ibu Maya untuk saya.”

Rendy berjalan kembali ke rumahnya tanpa menoleh lagi.

Perkataan Rian meninggalkan keraguan mendalam di pikiran Aris.

Selama bertahun-tahun, Aris terbiasa menilai orang dari penampilan luar dan selalu curiga pada kebaikan orang lain.

Selama 4 hari berikutnya, Aris sengaja mengunci pintu dan tidak pernah menyapa Rendy lagi.

Namun, pada hari Kamis pagi, sebuah insidente terjadi.

Aris mencoba membawa tempat sampah plastik ke depan pagar sendirian.

Kakinya yang lemah tersandung ubin yang licin akibat embun pagi.

Aris terjatuh keras di atas semen.

Tongkat kayunya terlempar sejauh 2 meter.

Rasa sakit hebat menjalar di kaki kirinya, membuatnya tidak mampu berdiri atau bahkan merangkak.

Aris erang kesakitan di atas tanah yang dingin.

Tidak sampai 1 menit kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari rumah sebelah.

Rendy berlari melompati pagar rendah yang memisahkan rumah mereka.

“Pak Aris! Jangan bergerak dulu!” teriak Rendy panik.

Rendy langsung melepas jaket tebalnya dan melipatnya untuk mengalas kepala Aris.

Pria muda bertato itu memeriksa kondisi kaki Aris dengan hati-hati.

“Saya panggil ambulans sekarang. Tahan sebentar, Pak,” kata Rendy sambil mengambil ponsel dari sakunya.

Rendy tidak meninggalkan Aris sendirian di atas semen dingin.

Dia duduk di samping Aris, memegang bahu pria tua itu untuk memberikan dukungan sampai ambulans tiba 15 menit kemudian.

Di Rumah Sakit Umum Daerah, Aris terbangun di atas ranjang bangsal perawatan.

Kaki kirinya sudah dibalut gips tipis karena mengalami retak tulang ringan.

Aris mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, memperkirakan ruangan itu kosong.

Namun di sudut ruangan, Rendy sedang duduk di kursi besi sambil tertidur lelap dengan posisi duduk.

Di kursi sebelah Rendy, duduk seorang wanita berusia 40 tahun bernama Dewi.

Dewi adalah seorang tetangga dari blok sebelah yang pernah dibantu Aris 3 minggu sebelumnya.

Waktu itu, kartu ATM Dewi bermasalah di kasir minimarket saat hendak membeli beras dan susu untuk anaknya.

Aris yang berada di belakang antrean langsung membayarkan belanjaan Dewi tanpa banyak bicara karena teringat tulisan tangan Maya di kertas yang diberikan Rendy.

Dewi tersenyum melihat Aris sudah sadar.

“Pak Aris sudah bangun? Dokter bilang Pak Aris harus istirahat beberapa hari,” kata Dewi pelan.

“Kenapa kalian ada di sini?” tanya Aris pelan.

“Mas Rendy yang menghubungi saya setelah membawa Pak Aris ke sini,” jawab Dewi.

“Rian… apakah adik ipar saya sudah datang?” tanya Aris.

Dewi menggelengkan kepala.

“Mas Rendy sudah menelepon Pak Rian 3 kali, tapi Pak Rian bilang dia sedang sibuk dengan urusan pekerjaan di luar kota dan baru bisa datang minggu depan.”

Aris memejamkan mata sejenak.

Pria yang mengaku ingin melindunginya dari niat jahat orang lain ternyata tidak ada saat dia membutuhkan bantuan darurat.

Sementara pemuda bertato yang dicurigainya justru bertahan di sampingnya sepanjang hari.

Dokter memperbolehkan Aris pulang 3 hari kemudian dengan syarat harus menggunakan tongkat ketiak dan menghindari aktivitas berat selama 1 bulan.

Rendy menyewa sebuah mobil tua milik temannya untuk menjemput Aris dari rumah sakit, karena tahu Aris tidak bisa naik sepeda motor dengan kondisi kaki dibalut gips.

Ketika mobil berhenti di depan rumah, Aris menatap keluar jendela.

Halaman depannya sudah benar-benar bersih.

Di dekat pintu masuk, berjejer 3 pot bunga baru yang berisi tanaman geranium merah yang sedang mekar indah.

Geranium merah adalah bunga kesukaan Maya yang selalu dibeli setiap musim hujan.

Aris menatap pot-pot itu dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu yang membeli bunga-bunga ini?” tanya Aris saat Rendy membukakan pintu mobil.

“Penjual tanaman di ujung jalan sedang diskon,” jawab Rendy santai.

“Kamu bohong,” kata Aris pelan.

“Sedikit, Pak,” jawab Rendy sambil tersenyum tipis.

Aris dibantu berjalan masuk ke dalam rumah.

Ketika melangkah ke dapur, Aris melihat tirai jendela dapur sudah terikat rapi ke samping, membiarkan cahaya matahari pagi menerangi ruangan yang selama 9 bulan gelap gulita.

Maya selalu mengikat tirai dapur seperti itu setiap pagi.

“Kamu yang merapikan tirai ini juga?” tanya Aris.

Rendy menggeleng.

“Bukan. Itu Bu Heni, tetangga nomor 12. Dia masuk pakai kunci cadangan kemarin untuk membersihkan debu di meja makan.”

Aris duduk di kursi kayu dapur.

Selama 9 bulan, dia merasa dunia telah melupakannya setelah Maya meninggal.

Namun hari ini dia menyadari bahwa tetangga di sekitarnya selalu memperhatikan, hanya saja Aris sendiri yang selalu menutup pintu dan mengusir mereka.

Masa pemulihan kaki Aris berjalan lambat tetapi membawa banyak perubahan.

Aris yang dulu pemarah dan tertutup kini mulai menerima kehadiran orang-orang di rumahnya.

Setiap pagi sebelum berangkat ke bengkel, Rendy menyempatkan diri mampir membawa roti segar dan memastikan pasokan air minum Aris cukup.

Di sore hari, Dewi sering datang membawa anaknya yang berusia 7 tahun bernama Bima.

Bima yang polos sering berlari di dalam rumah Aris dan menanyakan berbagai benda lama di sana.

Suatu hari, Bima menemukan cangkir keramik putih bermotif bunga mawar di dalam lemari kaca.

“Mbah Aris, cangkir ini kok bersih banget tapi tidak pernah dipakai?” tanya Bima polos.

Aris menatap cangkir itu dari meja makan.

Cangkir itu adalah cangkir kesayangan Maya yang tidak pernah disentuh Aris sejak hari pemakaman.

“Itu milik almarhum Mbah Maya,” jawab Aris pelan.

“Kenapa tidak dipakai? Kalau tidak dipakai, cangkirnya jadi kasihan cuma sendirian di dalam lemari,” kata Bima lagi.

Dewi mencoba menegur anaknya.

“Bima, tidak boleh bicara sembarangan.”

Namun Aris mengangkat tangannya pelan.

“Anakmu benar, Dewi.”

Aris berdiri menggunakan tongkatnya, berjalan ke lemari kaca, dan mengambil cangkir bermotif mawar itu.

Dia mencucinya di wastafel, lalu menuangkan teh hangat ke dalamnya.

Saat menyesap teh dari cangkir itu, Aris tidak merasakan kesedihan yang mendalam seperti yang ditakutkannya selama ini.

Sebaliknya, dia merasa seolah-olah Maya sedang duduk di seberang meja, tersenyum melihat rumah mereka kembali hidup.

Hubungan Aris dengan para tetangga semakin membaik dari hari ke hari.

Ibu Heni sering mengirimkan masakan rumah.

Pak RT datang membantu memperbaiki engsel pintu pagar yang rusak.

Bahkan beberapa pemuda kompleks membantu mengecat ulang dinding luar rumah Aris yang sudah kusam.

Namun, ketenangan itu terganggu saat Rian kembali datang dari Jakarta pada suatu hari Minggu.

Rian masuk ke rumah Aris tanpa mengetuk pintu dan menemukan Rendy sedang memasang pegangan besi di dinding kamar mandi untuk membantu Aris berdiri.

“Aris! Apa-apaan ini?!” terhak Rian dengan wajah merah padam.

“Kenapa kamu membiarkan orang luar membongkar dinding rumahmu?”

Aris yang sedang duduk di ruang tamu menjawab dengan tenang.

“Saya yang minta Rendy memasangnya agar saya tidak jatuh lagi.”

Rian berjalan mendekati Aris dan berbicara dengan suara rendah namun menekan.

“Aris, kamu sudah makin tua dan mudah dipengaruhi. Rumah ini atas nama kamu dan Maya. Nilai tanah di sini sudah mencapai 1,5 miliar rupiah. Kamu harus sadar kalau orang-orang ini cuma mengincar hartamu!”

Rendy menghentikan pekerjaan bornya dan keluar dari kamar mandi.

“Pak Rian, saya bisa tinggalkan tempat ini kalau kehadiran saya membuat Anda terganggu,” kata Rendy tenang.

“Tidak, Rendy. Kamu tetap di sini,” tegas Aris sambil menatap adiknya dengan pandangan dingin.

Aris menatap Rian secara langsung.

“Rian, waktu saya tergeletak di lantai selama 1 jam karena kaki retak, di mana kamu?”

Rian tersentak.

“Saya… saya ada urusan bisnis penting waktu itu.”

“Waktu rumah ini terbengkalai dan saya tidak makan selama 2 hari, apa kamu pernah menelepon untuk menanyakan kabar saya?” lanjut Aris.

Rian tidak bisa menjawab.

“Orang yang kamu sebut orang asing ini adalah orang yang mengambilkan obat saya, membersihkan rumah saya, dan memastikan saya tidak mati sendirian di sini,” kata Aris dengan suara mantap.

“Kalau kamu datang ke sini hanya untuk membicarakan nilai tanah dan warisan, lebih baik kamu pulang ke Jakarta sekarang.”

Rian mengepalkan tangannya, merasa tersudut dan malu.

“Kamu bakal menyesal kalau suatu hari dia membawa lari surat rumahmu!” ancam Rian sebelum berbalik dan pergi meninggalkan rumah itu.

Aris menarik napas panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi.

Rendy mendekati Aris dengan raut wajah merasa bersalah.

“Maaf, Pak Aris. Gara-gara saya, hubungan Anda dengan keluarga jadi rusak.”

Aris menggelengkan kepala.

“Hubungan itu sudah rusak sejak lama, Rendy. Kamu tidak merusak apa pun. Kamu justru mengajari saya cara melihat mana keluarga sebenarnya dan mana yang cuma melihat angka.”

Dua minggu kemudian, kaki Aris sudah sembuh total dan dia bisa berjalan tanpa tongkat lagi.

Untuk merayakan kesembuhannya, Aris memutuskan untuk memasak sendiri di dapur.

Dia membeli bahan-bahan untuk membuat bolu kukus pandan, resep yang selalu dibuat Maya setiap akhir pekan.

Percobaan pertama Aris gagal karena adonannya tidak mengembang.

Percobaan kedua agak gosong di bagian bawah.

Tetapi pada percobaan ketiga, aroma harum pandan melati memenuhi seluruh isi rumah.

Aroma itu membawanya kembali pada kenangan indah masa lalu bersama Maya, namun kali ini tanpa rasa duka yang menghancurkan.

Sore itu, Aris mengundang Rendy, Dewi, Bima, dan Ibu Heni ke rumahnya.

Mereka duduk melingkar di meja makan yang kini selalu bersih dan terawat.

Bima memakan potongan bolu kukus dengan lahap.

“Enak banget, Mbah Aris! Tapi agak sedikit keras,” kata Bima jujur.

Dewi tertawa sambil menepuk pelan bahu anaknya.

Rendy dan Ibu Heni ikut tertawa berbarengan.

Suara gelak tawa menggema di dalam rumah yang dulu sunyi bagaikan kuburan itu.

Aris memegang cangkir mawar milik Maya dan tersenyum lebar.

Satu bulan kemudian, Rendy mendapat penawaran kenaikan jabatan menjadi kepala mekanik di cabang bengkel baru yang terletak di luar kota.

Gajinya jauh lebih besar dan jam kerjanya lebih teratur.

Namun Rendy tampak ragu untuk memikirkannya.

Dia mendatangi Aris yang sedang duduk di kursi kayu halaman depan pada suatu sore.

“Pak Aris… saya dapat tawaran pindah kerja ke cabang baru,” kata Rendy pelan.

Aris menatap pemuda itu dengan bangga.

“Itu kabar bagus, Rendy. Kamu harus ambil kesempatan itu.”

“Tapi tempatnya jauh, Pak. Saya tidak bisa mampir ke sini setiap hari lagi untuk mengecek kondisi Pak Aris,” jawab Rendy dengan nada khawatir.

Aris tersenyum hangat, lalu menunjuk ke arah jalan raya di depan rumahnya.

Terlihat Ibu Heni sedang menyiram bunga di seberang jalan, Dewi sedang berjalan bersama Bima sambil melambaikan tangan, dan Pak RT sedang menyapa warga yang melintas.

“Lihat ke sana, Rendy,” kata Aris pelan.

“Waktu kamu pertama kali datang membawa alat pemotong rumput itu, kamu tidak cuma membersihkan halaman saya.”

“Kamu membuka pintu rumah ini dan membawa kembali orang-orang yang dulu saya usir.”

Aris memegang bahu Rendy dengan erat.

“Sekarang pintu rumah ini sudah terbuka lebar. Saya tidak akan kesepian lagi. Kamu harus pergi dan mengejar masa depanmu sendiri.”

Mata Rendy berkaca-kaca mendengar perkataan Aris.

Dia mengangguk pelan dan berterima kasih.

Meskipun Rendy pindah ke cabang baru, tradisi di rumah Aris tidak pernah berhenti.

Setiap hari Jumat sore, rumah Aris selalu ramai oleh kedatangan para tetangga.

Dewi membawa masakan hangat, Ibu Heni membawa kue tradisional, dan anak-anak kompleks bermain di halaman depan yang kini hijau dan terawat.

Dan setiap dua minggu sekali, suara bising mesin sepeda motor hitam yang khas akan terdengar berhenti di depan pagar.

Rendy selalu datang berkunjung, melepas helmnya, dan melangkah masuk ke rumah dengan senyuman lebar.

Aris akan selalu menyambutnya di depan pintu sambil memegang cangkir keramik mawar milik Maya.

Aris akhirnya menyadari bahwa kebaikan yang ditanamkan almarhum istrinya bertahun-tahun lalu tidak pernah hilang.

Kebaikan itu tumbuh melompati tembok keraguan, meruntuhkan prasangka buruk, dan kembali kepadanya dalam bentuk keluarga baru yang tidak pernah dia duga sebelumnya.