PART 2
Nuria berdiri terpaku di tempatnya.
Gelas plastik kosong di tangan Siti hampir terlepas.
“Mbak Siska, saya cuma berikan segelas air untuk Ibu ini…” suara Nuria gemetar.
“KAMI MENGAJIHMU UNTUK BEKERJA, BUKAN UNTUK JADI TEMAN SIAPA PUN YANG MASUK LEWAT PINTU ITU!” bentak Siska tanpa ragu.
“Besok kamu tidak usah datang lagi!”
Siti mencoba berdiri tegak, bertumpu kuat pada tongkat kayunya.
“Jangan salahkan anak ini. Saya yang menerima air itu.”
Siska melambaikan tangan dengan wajah jijik, bahkan tidak sudi memandang wajah Siti.
“Ibu tidak usah ikut campur. Ini urusan internal perusahaan kami.”
Nuria menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dia berjalan pelan menuju mejanya, mengambil tas gendong lusuh, lalu berjalan keluar dengan kepala tertunduk.
Bambang yang duduk di sudut ruangan hanya bisa menggelengkan kepala melihat kesewenang-wenangan itu.
Pukul 15:00 WIB.
Lobi utama yang luas itu mulai sepi.

Seluruh karyawan, staf, dan jajaran manajerial diminta berkumpul di aula utama lantai 2.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba: perkenalan pemilik baru PT Megah Tekstil.
Siska merapikan pakaian dan riasannya di depan cermin.
Rian menyetel mikrofon di atas panggung aula, memasang senyum terbaiknya di hadapan 80 karyawan yang hadir.
Siti masih duduk tenang di ruang tunggu lantai bawah.
Di dalam aula utama, suasananya sangat megah.
Rian maju ke depan panggung dengan dada busung.
“Selamat siang semuanya. Hari ini adalah hari bersejarah bagi PT Megah Tekstil.”
“Perusahaan kita telah resmi diambil alih oleh investor baru yang sangat kuat secara finansial.”
“Mari kita dengarkan pengumuman resmi dari kuasa hukum proses akuisisi ini, Bapak Hendra Wijaya.”
Hendra Wijaya, seorang pengacara senior bersetelan jas hitam rapi, maju ke depan panggung.
Dia memegang map dokumen tebal di tangannya.
Hendra menyesuaikan posisi mikrofon, lalu menatap ke arah pintu masuk aula di bagian belakang.
“Hadirin sekalian, marilah kita sambut pemilik saham mayoritas yang baru dari PT Megah Tekstil…”
“Ibu Siti Rahayu.”
Pintu kayu besar di belakang aula terbuka lebar.
Langkah kaki yang lambat dan teratur terdengar menepuk lantai marmer.
Siti Rahayu berjalan masuk.
Dia masih mengenakan mantel hijau tua yang lusuh.
Dia masih memegang tongkat kayu yang sama.
Siska yang berdiri di barisan depan penonton mendadak pucat pasi.
Mulutnya terbuka sedikit, matanya melotot tidak percaya.
Rian yang berada di atas panggung membeku seketika.
Mikrofon di tangannya hampir saja terjatuh.
Seluruh ruangan mendadak hening total, tidak ada satu suara pun yang berani keluar.
Siti tidak berjalan menuju panggung utama.
Dia berhenti tepat di tengah-tengah lorong aula, berdiri tegap memandang seluruh karyawannya.
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya tidak ada hubungannya dengan bisnis atau keuntungan.
“Di mana Nuria?” tanya Siti dengan suara lantang yang menggemakan isi ruangan.
Hendra Wijaya langsung mengerti situasi tersebut.
“Saya akan segera menyuruh staf untuk memanggilnya kembali, Bu Siti,” jawab Hendra cepat.
Hendra segera memberi isyarat kepada asistennya untuk keluar mencari Nuria.
Siti mengangguk pelan.
Dia memalingkan pandangannya ke arah jajaran direksi dan manajer yang berdiri kaku di samping panggung.
Dua eksekutif muda yang tadi pagi tertawa di ruang tunggu kini menundukkan kepala dalam-dalam.
Sementara itu, Bambang sang pemasok benang berdiri di barisan paling belakang dekat pintu, menyaksikan semuanya dengan mata berbinar.
“Saya telah menghabiskan waktu hampir 3 jam duduk di resepsionis kalian hari ini,” kata Siti memulai bicaranya.
“Dan saya harus mengakui, itu adalah 3 jam paling berguna dalam hidup saya untuk mengenal perusahaan ini.”
Siska memberanikan diri maju satu langkah.
“Bu… Ibu Siti… Saya benar-benar tidak tahu kalau Ibu adalah…”
“Justru karena kamu tidak tahu,” potong Siti cepat.
Suara Siti tidak keras, tetapi memotong alasan Siska sampai habis.
“Kamu tidak tahu siapa saya. Dan karena itulah saya bisa melihat siapa dirimu yang sebenarnya ketika kamu merasa orang di hadapanmu tidak memiliki nilai apa-apa.”
Siska terdiam, wajahnya pucat tanpa darah.
Siti memindahkan pandangannya ke arah Bambang di barisan belakang.
“Saya melihat seorang mitra kerja yang membawa 4 tagihan menunggak selama 6 bulan.”
“Dia bekerja keras menyediakan bahan baku, tetapi dia diperlakukan seperti pengemis yang mengganggu.”
Lalu Siti menunjuk pelan ke arah staf kebersihan yang duduk di barisan belakang.
“Saya melihat seorang pekerja kecil disalahkan atas kecerobohan orang lain hanya karena dia tidak punya kekuatan untuk membela diri.”
Ruangan aula semakin sunyi.
Siti menarik napas panjang.
“Dan yang paling parah, saya melihat seorang gadis muda dipecat hanya karena memberikan segelas air hangat kepada seorang nenek tua yang kelelahan.”
Siska mencoba membela diri dengan suara gemetar.
“Itu… Itu masalah kedisiplinan, Bu! Nuria sering meninggalkan mejanya dan…”
“Itu bukan kedisiplinan. Itu adalah kesombongan kekuasaan!” tegas Siti.
“Kedisiplinan adalah mengoreksi pekerjaan yang salah dengan cara yang benar.”
“Kekuasaan yang salah adalah menghina orang lain hanya untuk membuktikan bahwa kamu berkuasa!”
Rian, sang Direktur Utama, mencoba melangkah mendekati Siti dengan wajah penuh kehati-hatian.
“Ibu Siti, mungkin lebih baik kita membicarakan hal-hal internal ini di ruang rapat secara pribadi.”
“Hari ini ada banyak tekanan karena masa transisi perusahaan, sehingga beberapa kejadian mungkin terlihat berbeda di luar konteksnya.”
Siti menatap Rian lurus-lurus.
“Saya juga memperhatikan Anda hari ini, Pak Rian.”
Bahu Rian seketika menegang.
“Saya melihat Anda membentak bawah bawahan Anda untuk kesalahan orang lain.”
“Saya melihat Anda menuntut kesempurnaan penyambutan untuk saya, sementara Anda membiarkan manusia di sekitar Anda diperlakukan tanpa rasa hormat.”
Rian mencoba mempertahankan wibawanya.
“Mengelola perusahaan dengan 240 karyawan membutuhkan ketegasan, Bu.”
“Ketegasan dan kesewenang-wenangan adalah dua hal yang sangat berbeda,” jawab Siti tajam.
Siti kemudian membuka tas kulit usangnya.
Dia mengeluarkan sebuah map warna biru tebal.
Siti tidak datang tanpa persiapan.
Sebelum melangkah ke gedung ini, dia telah meminta tim independen memeriksa laporan rotasi karyawan, tingkat stres kerja, dan keluhan internal perusahaan selama 2 tahun terakhir.
“Dalam 18 bulan terakhir, ada 37 karyawan yang mengundurkan diri dari departemen di bawah pengawasan langsung Anda, Pak Rian,” kata Siti sambil membaca dokumen di map biru itu.
“Dalam wawancara keluar, alasan utama mereka selalu sama: ‘takut membuat kesalahan sedikit pun’.”
“Awalnya saya ingin menanyakan hal ini di ruang rapat besok. Tapi setelah hari ini, saya sudah mendapatkan jawabannya.”
Rian tidak sanggup menjawab. Dia menundukkan kepalanya.
“Mulai sore ini, jajaran komisaris akan mengevaluasi posisi Anda sebagai Direktur Utama,” lanjut Siti.
“Selama proses evaluasi berjalan, Anda dinonaktifkan dari segala keputusan terkait personalia dan SDM.”
Tidak ada satu pun manajer yang berani memprotes.
Siti lalu menatap Siska.
“Mengenai kamu, Siska. Saya tidak akan memecatmu di depan semua orang hari ini.”
Siska mendongak, ada sedikit rasa lega di matanya.
“Namun,” sambung Siti, “mulai hari ini kamu dicopot dari posisi kepala resepsionis dan tidak lagi memiliki wewenang atas staf lain.”
“Bagian HRD akan memeriksa seluruh catatan prilakumu terhadap tamu dan karyawan.”
“Jika kamu masih ingin bekerja di perusahaan ini, kamu akan ditempatkan di posisi staf biasa tanpa jabatan, sampai kamu belajar cara menghargai sesama manusia.”
Siska hanya bisa mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca.
“Bu Siti, seandainya saya tahu kalau Ibu…”
Siti mengangkat tangan tuanya, menghentikan kalimat itu.
“Jangan pernah selesaikan kalimat itu. Jika kamu memperlakukan saya dengan baik hanya karena kamu tahu siapa saya, maka saya tidak akan pernah tahu seberapa buruk kualitas dirimu.”
Tiba-tiba pintu aula belakang kembali terbuka.
Nuria masuk didampingi oleh asisten Hendra.
Mata gadis itu masih sembab karena menangis.
Dia bingung mengapa dia diminta kembali ke kantor setelah baru saja dipecat.
Saat melihat Siti berdiri di tengah aula dikelilingi seluruh petinggi perusahaan, langkah Nuria terhenti.
“Kemarilah, Nak,” panggil Siti dengan lembut.
Nuria berjalan perlahan melewati barisan karyawan yang menatapnya.
“Ada apa ini, Bu?” tanya Nuria polos.
Siti tersenyum hangat, raut wajah tegasnya berubah menjadi penuh kasih sayang.
“Beberapa jam lalu, kamu memberikan segelas air kepada seorang wanita tua tanpa tahu siapa namanya, apa jabatannya, atau apa yang bisa dia berikan untukmu.”
“Dan karena kebaikan itu, kamu kehilangan pekerjaanmu.”
Nuria melirik Siska yang menunduk, lalu kembali menatap Siti.
“Saya cuma kasihan melihat Ibu kelelahan…”
“Itulah yang dinamakan kemanusiaan,” kata Siti.
Siti berpaling kepada pengacara Hendra.
“Pak Hendra, tolong catat surat keputusan pemilik saham hari ini.”
“Pemecatan atas nama Nuria dibatalkan total. Gaji hari ini dibayar penuh dan tidak boleh ada catatan pelanggaran apa pun di berkasnya.”
Nuria menutupi mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Selain itu,” lanjut Siti, “mulai besok, Nuria akan dimasukkan ke dalam tim khusus pembentukan standar pelayanan dan kesejahteraan karyawan yang baru.”
“Bukan karena dia memberiku air, tetapi karena dia punya hati untuk melihat manusia lain di saat orang lain hanya melihat jabatan.”
Air mata Nuria menetes di pipinya, kali ini air mata haru.
“Tapi Bu… Saya cuma staf biasa, saya tidak tahu apakah saya mampu…”
“Saya juga dulu tidak tahu apa-apa ketika berada di posisimu,” kata Siti dengan suara yang mendadak penuh haru.
Siti merogoh saku dalam mantel hijau tuanya.
Dia mengeluarkan sebuah benda kecil dari sana.
Sebuah pin nama logam tua yang sudah agak tergores di bagian sudutnya.
Di atas logam itu tertulis sebuah nama: “Surya Rahayu”.
Dan di bawahnya terukir tanggal bergabung: “12 Agustus 1994”.
Siti menggenggam pin logam itu dengan kedua tangannya.
“Almarhum suami saya, Surya, pernah bekerja di pabrik ini selama 19 tahun.”
Beberapa karyawan senior di barisan belakang saling berbisik.
Pria tua dari bagian teknisi mesin mendadak membelalakkan mata.
“Pak Surya… Pak Surya teknisi mesin kain?” tanya pria tua itu dengan suara bergetar.
Siti menatap pria tua itu dan mengangguk pelan.
“Iya, Pak. Suami saya dulu kepala teknisi mesin di pabrik ini saat usahanya masih kecil.”
Pria tua itu mengangguk paham, matanya berkaca-kaca mengenang masa lalu.
30 tahun lalu, Surya adalah seorang pekerja keras yang sangat ahli membetulkan mesin-mesin tekstil.
Namun, dia tidak pernah bisa diam jika melihat ketidakadilan.
Pada suatu musim hujan, fasilitas keselamatan kerja di area mesin rusak dan membahayakan para buruh malam.
Surya mengajukan protes keras kepada pimpinan manajemen saat itu agar fasilitas diperbaiki.
Dia tidak meminta kenaikan gaji untuk dirinya sendiri.
Dia hanya meminta perlindungan untuk rekan-rekan kerjanya.
Seminggu kemudian, Surya dipecat dengan alasan “efisiensi perusahaan”.
Kata-kata terakhir yang diucapkan manajer saat memecatnya sangat dingin: “Di sini kami tidak butuh orang yang sok pahlawan.”
Siti mengingat betul malam itu.
Suaminya pulang ke rumah kontrakan sempit membawa sebuah kotak kardus berisi barang-barangnya.
Anak sulung mereka baru berusia 8 tahun, dan anak bungsu mereka berusia 5 tahun.
Uang di tabungan mereka hanya tersisa Rp 250.000, sementara uang kontrakan sudah jatuh tempo.
Selama bertahun-tahun, Siti bekerja menjahit pakaian tetangga hingga larut malam.
Sementara Surya menerima jasa perbaikan mesin ketik dan bengkel kecil-kecilan di garasi rumah orang.
Dengan ketekunan dan kejujuran, usaha bengkel kecil itu berkembang menjadi perusahaan manufaktur suku cadang mesin yang sukses di Jawa Barat.
Mereka berhasil mengubah nasib.
Namun, Surya tidak pernah menyimpan dendam.
Beberapa tahun sebelum meninggal dunia, ketika mereka berkendara melewati pabrik PT Megah Tekstil, Surya pernah berkata kepada Siti:
“Jika suatu hari nanti kita punya kesempatan untuk mengubah tempat itu, ubahlah menjadi lebih baik.”
“Jangan pernah menjadi orang yang sombong seperti orang-orang yang pernah merendahkan kita.”
Pesan itu dipegang teguh oleh Siti.
Surya telah meninggal dunia 14 bulan lalu.
Ketika PT Megah Tekstil mengalami krisis keuangan dan pemilik lamanya mencari pembeli, anak-anak Siti sempat melarangnya.
Anak sulungnya berkata, “Ibu, untuk apa membeli perusahaan yang dulu pernah memecat Ayah?”
Siti menjawab pendek, “Ibu tidak membeli tempat ini untuk membalas dendam. Ibu membeli tempat ini untuk menepati janji pada Ayahmu.”
Siti menegosiasikan pembelian saham ini selama 7 bulan.
Dia mempertahankan seluruh karyawan bawah dan menolak tawaran investor asing yang ingin memangkas 100 tenaga kerja.
Dan Siti sengaja datang sendiri hari ini tanpa pengawal, tanpa mobil mewah, dan tanpa pemberitahuan.
Dia ingin melihat wajah asli perusahaan ini dari sudut pandang suaminya dulu.
“Hari ini saya tahu, keputusan saya tidak salah,” kata Siti sambil mengusap pin logam suaminya.
“Jika saya datang dengan mobil mewah dan dikawal pengawal, kalian semua akan menyambut saya dengan senyuman palsu dan Bunga.”
“Saya tidak akan pernah tahu betapa sakitnya menjadi orang kecil di tempat ini.”
Bambang sang pemasok benang mengacungkan mapnya dari belakang.
“Ibu benar! Perusahaan ini memang sudah lama lupa cara menghargai orang kecil!”
Siti tersenyum pada Bambang.
“Pak Bambang, setelah acara ini selesai, Pak Hendra akan langsung memproses seluruh pembayaran 4 tagihan Anda hari ini juga.”
“Dan mulai minggu depan, sistem pembayaran untuk seluruh UKM pemasok akan diselesaikan maksimal 5 hari kerja.”
Bambang menundukkan kepala penuh rasa syukur.
Para staf kebersihan, buruh pabrik, dan karyawan biasa di aula itu mulai bertepuk tangan.
Tepuk tangan yang tadinya pelan semakin lama semakin riuh memenuhi seluruh aula.
Siti tidak mengangkat tangannya dengan sombong.
Dia hanya menggenggam pin logam suaminya rapat-rapat di dada.
Setelah pertemuan besar itu selesai, Siti meminta waktu untuk menyendiri di ruang tunggu lobi bawah.
Bunga-bunga segar yang tadi disiapkan masih berdiri anggun.
Siti kembali duduk di kursi kayu keras dekat jendela, tempat dia menunggu selama 3 jam tadi pagi.
Nuria berjalan mendekat membawa segelas air hangat yang baru.
“Ibu Siti… Apakah Ibu perlu bantuan untuk pulang?”
Siti terkekeh pelan.
“Saya masih kuat jalan sendiri, Nak. Tapi terima kasih sudah perhatian.”
Nuria duduk di kursi sebelah Siti.
“Apakah Pak Surya akan bangga melihat apa yang Ibu lakukan hari ini?”
Siti menatap pin logam di tangannya dengan pandangan penuh kerinduan.
“Suamiku pasti akan tersenyum. Dia selalu bilang, kebaikan sekecil apa pun tidak akan pernah sia-sia.”
Siti kemudian berdiri perlahan.
Dia berjalan mendekati meja resepsionis.
Di sana, dia meletakkan pin logam tua milik almarhum suaminya di dalam sebuah kotak kaca kecil di atas meja.
“Besok, saya ingin ditaruh tulisan kecil di bawah pin ini,” kata Siti pada Nuria.
“Tulisan apa, Bu?”
Siti menatap pintu kaca depan tempat dia masuk tadi pagi sebagai orang asing yang tak terlihat.
“Rasa hormat harus diberikan sebelum kamu tahu siapa yang ada di hadapanmu.”
Nuria mengangguk mantap sambil tersenyum.
Tiga bulan kemudian, PT Megah Tekstil mengalami perubahan besar.
Sistem kerja menjadi lebih adil, pembayaran pemasok lancar, dan tidak ada lagi kecemasan di wajah para pekerja.
Satu hal yang tidak pernah diubah oleh Siti.
Kursi kayu keras di sudut ruang tunggu itu tetap berada di sana.
Siti melarang siapa pun memindahkannya.
Setiap kali Siti datang berkunjung ke pabrik, dia selalu melihat kursi itu.
Bukan untuk mengingat bagaimana dia diabaikan.
Tetapi untuk mengingatkan semua orang, bahwa nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh jabatan atau pakaian yang dikenakannya.
Dan tepat di atas meja resepsionis, pin logam usang milik Surya Rahayu berkilau di dalam kotak kaca.
Di bawahnya terukir indah satu kalimat sederhana:
“Kali ini, kita melakukannya dengan cara yang benar.”
