Natasha adalah mantan istri ketiganya, wanita dari keluarga terpandang yang tidak pernah menerima perceraian mereka.

PART 2

Pagi berikutnya, Reza tiba di bangunan sanggar tua di dekat pelabuhan.

Pria itu memakai kaus polos dan celana jeans becek terkena air genangan.

Arini memperlihatkan rak-rak kayu lapuk yang dipenuhi buku bekas dan anak-anak yang duduk di lantai semen.

Reza duduk bersama anak-anak itu.

Dia membacakan dongeng dengan suara beratnya, membetulkan mainan plastik yang patah memakai isolasi, dan ikut makan nasi bungkus sederhana.

Arini memperhatikan dari sudut ruangan dengan senyum tipis.

Saat Reza mendekati Arini dan meminta kesempatan untuk menjalani hubungan serius, ponsel Reza bergetar hebat.

Nama Natasha muncul di layar.

Reza menggeser tombol hijau dan menyalakan pengeras suara.

“Jadi kamu serendah ini sekarang, Reza?” suara Natasha terdengar tajam dan merendahkan. “Berhubungan dengan guru miskin dari tempat kumuh?”

Reza mencoba menyela, tapi Natasha memotong cepat.

“Aku akan membongkar siapa wanita itu sebenarnya. Kita lihat apa dia masih bisa mengajar setelah ini.”

Panggilan terputus.

Wajah Arini pucat pasi.

“Sudah kuduga,” kata Arini pelan. “Duniamu bukan cuma menghakimi, tapi juga menghancurkan.”

Arini memutar badan dan berjalan pergi meninggalkan sanggar.

Senin pagi, sebuah amplop cokelat tebal mendarat di meja kerja Reza di kantor pusatnya.

Di dalamnya ada lembaran foto-foto lama Arini.

Foto Arini memakai seragam pelayan bar malam, foto Arini keluar dari gedung perkantoran jam 4:00 pagi dengan pakaian lusuh, dan foto Arini berdiri sendirian di halte bus yang sepi.

Ada secarik kertas tanpa nama di dalam amplop itu.

Isinya tidak menuduh secara langsung, melainkan menyebarkan insinuasi jahat tentang bagaimana Arini mencari uang di masa lalu.

Reza tahu rencana Natasha.

Natasha tidak perlu membuktikan kesalahan, dia hanya perlu memicu prasangka publik.

Dua hari kemudian, foto-foto itu tersebar di media sosial dan portal berita online.

Judul-judul berita memakai kata-kata provokatif tentang masa lalu kelam kekasih baru sang miliarder.

Wartawan dan kamera langsung menyerbu depan sanggar di Jakarta Utara.

Mereka menerobos masuk ke halaman saat anak-anak sedang belajar.

Arini berdiri di depan pintu, merentangkan kedua tangan.

“Ada anak-anak di dalam! Tolong keluar!” teriak Arini.

Kamera terus menembakkan kilatan cahaya ke wajahnya.

“Apakah Anda bekerja di tempat hiburan malam demi mendekati pria kaya?” tanya seorang reporter.

“Apakah Anda sudah mengincar harta Reza sejak awal?” cecar yang lain.

Reza tiba di lokasi bersama tim Keamanannya.

Dia mendorong para wartawan dan berdiri di depan Arini yang tubuhnya gemetaran.

Reza mengambil mikrofon salah satu wartawan.

“Kalian ingin pernyataan? Ambil ini,” kata Reza dengan suara lantang.

“Arini bekerja di tiga tempat berbeda karena ayahnya meninggal dan keluarganya harus makan. Dia belajar di kampus pagi hari dan membersihkan kantor malam hari. Dia membiayai ibunya dan lulus dengan predikat terbaik. Jika kalian mencoba mempermalukannya karena dia berjuang untuk bertahan hidup, yang kotor bukan masa lalunya, tapi pikiran kalian!”

Video pernyataan Reza viral dalam hitungan jam.

Namun, Natasha tidak tinggal diam.

Sore harinya, Natasha tampil di acara bincang-bincang televisi nasional.

Dia menangis di depan kamera, mengaku sebagai korban, dan menuduh Arini telah mengancamnya serta memanipulasi Reza demi menguasai aset perusahaan.

Situasi kembali panas.

Malam itu, Arini memutuskan berhenti bersembunyi.

Dia duduk di meja dapur rumah ibunya, meletakkan ponsel di atas tumpukan buku, dan memulai siaran langsung di akun media sosialnya.

Tanpa riasan wajah, tanpa naskah.

“Nama saya Arini,” ucapnya tenang menatap kamera.

“Saya bekerja di bar malam saat usia saya 19 tahun karena ayah saya meninggal serangan jantung dan ibu saya sakit berat. Saya menyapu lantai kantor jam 4 pagi agar saya bisa membayar uang kuliah esok harinya. Saya tidak malu pernah bekerja keras secara halal. Yang malu adalah orang yang memakai perjuangan hidup orang lain untuk difitnah.”

Arini menceritakan pertemuannya dengan Reza dari awal tanpa menutupi apa pun.

Penonton siaran langsung melonjak dari ratusan menjadi ratusan ribu orang.

Dukungan mengalir deras.

Teman-teman kuliah Arini bermunculan memberikan kesaksian.

Mantan pemilik bar tempat Arini bekerja mengunggah catatan gaji dan bukti bahwa Arini hanya bekerja sebagai kasir dan pelayan biasa.

Orang tua siswa sanggar membuat video pernyataan membela Arini.

Donasi untuk sanggar mulai berdatangan dari masyarakat.

Namun, Natasha masih menyiapkan serangan terakhir.

Tiga hari kemudian, seorang wanita berusia sekitar 60 tahun turun dari mobil hitam di depan sanggar.

Wanita itu berpakaian sangat rapi, memakai kaca mata hitam, dan berjalan anggun.

“Saya mencari Arini,” katanya pelan. “Nama saya Dewi.”

Arini mengerutkan kening.

“Saya ibu kandung Reza.”

Arini terhenyak.

Reza pernah bercerita bahwa ibunya sudah meninggal dunia karena sakit saat Reza berusia 15 tahun.

Dewi menurunkan kacamata hitamnya, matanya berkaca-kaca.

“Reza mengira saya sudah mati. Tapi ayahnya yang membuat cerita itu.”

Dewi mengungkapkan rahasia yang selama puluhan tahun terpendam.

Mantan suami Dewi, ayah Reza, adalah pria berkuasa yang sangat manipulative.

Ketika Dewi sembuh dari sakit keras tahunan, suaminya justru mengancam akan menghancurkan nama baik Dewi, mengambil seluruh hak asuh Reza, dan memiskinkan keluarga Dewi jika Dewi tidak pergi dari Indonesia.

Ayah Reza memalsukan dokumen kematian dan mengusir Dewi ke Portugal.

“Saya takut dan lemah saat itu. Saya memilih kabur daripada melihat anak saya hancur,” bisik Dewi penuh penyesalan.

Dewi kemudian mengeluarkan sebuah kilat petunjuk berupa flashdisk dari tasnya.

Natasha telah menemukan keberadaan Dewi di Portugal beberapa minggu lalu.

Natasha menawarkan uang senilai Rp5 miliar agar Dewi mau muncul di media dan membuat pengakuan palsu bahwa Reza adalah anak yang durhaka dan kejam.

Namun, Dewi menolak.

Dewi secara diam-diam merekam seluruh percakapan dan ancaman Natasha saat pertemuan mereka di Lisbon.

“Saya sudah cukup merusak hidup anak saya karena diam,” kata Dewi tegas. “Kali ini saya tidak akan biarkan wanita itu menghancurkan kebahagiaan Reza.”

Arini segera menghubungi Reza.

Saat Reza tiba di sanggar dan melihat wanita tua itu berdiri di dekat papan tulis, langkah kakinya terhenti.

Wajah Reza pucat pasi.

Dia tidak mendekat, tidak juga berteriak.

“Kenapa?” hanya satu kata itu que keluar dari mulut Reza.

Dewi menangis dan menceritakan semuanya dari awal.

Reza mendengarkan dengan rahang terkunci rapat.

“Saya butuh Ibu saat saya gagal di pernikahan pertama,” suara Reza bergetar. “Saya butuh Ibu saat toko buku saya bangkrut. Saya butuh Ibu selama 27 tahun ini.”

“Maafkan Ibu, Nak… Maafkan Ibu,” ratap Dewi.

Dewi meletakkan flashdisk itu di atas meja.

“Ibu tidak minta kamu memaafkan Ibu hari ini. Ibu hanya ingin memberikan ini agar kamu bisa membela wanita yang kamu cintai. Setelah ini Ibu akan pulang.”

Dewi berbalik hendak berjalan keluar.

Reza menatap Arini.

Arini tidak menyuruh Reza memaafkan, dia hanya menggenggam tangan Reza dengan hangat.

Reza menarik napas panjang.

“Jangan pergi lagi,” kata Reza pelan namun jelas. “Kita butuh waktu, tapi jangan hilang lagi.”

Dewi menghentikan langkahnya dan memeluk Reza erat-erat.

Bukti rekaman suara dan dokumen dari flashdisk itu diserahkan langsung ke pihak kepolisian dan tim hukum Reza.

Bukti tersebut membongkar seluruh rekayasa Natasha, mulai dari pemerasan, pencemaran nama baik, hingga upaya penyuapan.

Natasha tidak bisa mengelak lagi.

Pengacaranya mundur, portal berita mencabut seluruh artikel bohong, dan Natasha harus menghadapi proses hukum serta membayar ganti rugi yang sangat besar.

Reza tidak menggunakan kemenangan itu untuk pamer di media.

Seluruh uang ganti rugi dari kasus tersebut disalurkan ke yayasan pendidikan independen yang dikelola secara profesional, dengan Arini sebagai penanggung jawab utamanya.

Tiga bulan kemudian, suasana sanggar di Jakarta Utara sudah jauh berubah.

Atapnya tidak lagi bocor, ada fasilitas komputer bekas yang masih layak pakai, serta ribuan buku baru di rak-rak kayu yang kokoh.

Reza masih tetap datang setiap hari Sabtu.

Anak-anak tidak lagi memanggilnya “orang kaya”, melainkan “Om Reza” yang sering salah menirukan suara karakter dalam buku cerita.

Ibu Arini sudah sehat dan sering membantu menyiapkan makanan kecil untuk anak-anak.

Dewi juga rutin datang berkunjung dari rumah barunya di Jakarta untuk memperbaiki hubungannya dengan Reza secara perlahan.

Sore itu, Arini menemui Reza yang sedang duduk di kursi plastik depan sanggar.

“Saya punya proposal baru,” kata Arini sambil tersenyum.

Reza menaikkan alisnya.

“Kedengarannya mahal.”

Arini membuka bundel kertas.

Dia ingin membuka cabang sanggar baca di tiga lokasi pemukiman padat lainnya.

“Ini bukan proyek pribadi Mas Reza,” tegas Arini. “Ini milik masyarakat di sini.”

“Setuju,” jawab Reza cepat.

“Akan banyak urusan birokrasi.”

“Saya yang urus.”

Arini tertawa pelan.

Reza kemudian merogoh saku jas santainya dan mengeluarkan sebuah kotak bludru kecil.

Arini langsung menahan napas.

“Jangan sekarang, Mas.”

“Aku bahkan belum bicara,” ujar Reza sambil tersenyum.

Anak-anak sanggar mulai berkumpul mengelilingi mereka.

Ibu Arini dan Dewi memperhatikan dari ambang pintu.

Reza berlutut di atas lantai semen yang berdebu.

Tanpa karpet merah, tanpa lampu kristal, tanpa wartawan.

Hanya ada suara angin laut dan kepolosan anak-anak sanggar.

“Arini, maukah kamu menikah denganku?”

Arini menatap pria di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.

“Menikah denganku artinya Mas harus bangun subuh, makan makanan sederhana, mengurus anggaran sanggar, dan menerima kalau kadang anak-anak ini jadi prioritas utama.”

Reza menggenggam tangan Arini.

“Itu hidup yang selama ini saya cari.”

Arini ikut berlutut agar sejajar dengan Reza.

“Kalau begitu, saya mau.”

Sorak-sorai anak-anak dan tepuk tangan pecah di halaman sanggar.

Beberapa bulan lalu, Arini datang ke restoran mewah dengan perasaan rendah diri karena sepatunya yang rusak.

Reza datang dengan pikiran bahwa semua orang hanya menginginkan uangnya.

Keduanya sama-sama keliru.

Reza tidak membutuhkan wanita yang pas dengan dunia mewahnya, dia membutuhkan seseorang yang mengajarinya cara membangun dunia yang sejati.

Dan Arini tidak membutuhkan pria kaya untuk menyelamatkan hidupnya, dia hanya membutuhkan seseorang yang melihat perjuangannya tanpa nilai harga.

Di sudut ruang baca sanggar, jam tangan Swiss mewah itu tersimpan rapi di dalam kotak kaca kecil di atas rak buku.

Di bawahnya terukir sebuah kalimat sederhana:

“Ada hal yang harganya sangat mahal, dan ada hal yang akhirnya memiliki berguna bagi sesama.”

Reza merangkul bahu Arini saat matahari terbenam di balik pelabuhan.

Kekayaan yang dia kumpulkan puluhan tahun bisa membeli apa saja, tetapi wanita di sampingnya telah memberikan satu hal yang tak ternilai harganya:

sebuah tempat untuk pulang.