MOBIL SUDAH PENUH DENGAN BAWAAN UNTUK KELUARGA IBU. KAMU DAN LIAM NAIK BUS SAJA KE KAMPUNG.


BAGIAN 1:

Ada keputusan yang tidak perlu kamu pikirkan sepanjang malam.

Terkadang, hanya butuh satu detik ketika kebenaran yang dingin, telanjang, dan sangat menyakitkan muncul untuk membangunkanmu dari enam tahun kebodohan.

Malam Natal.

Pukul lima pagi di parkiran apartemen kami di kawasan SCBD, Jakarta yang dingin dan berkabut.

Aku menunggu suamiku, Dennis, sambil menggandeng anak kami yang berusia empat tahun, Liam.

Tangan kecil anakku gemetar karena udara dingin. Dia memeluk erat ransel kesayangannya bergambar Mickey Mouse.

“Mommy, apakah kita akan naik mobil Daddy ke rumah Nenek?” tanya Liam polos, matanya berbinar karena tidak sabar bertemu nenek dan sepupu-sepupunya.

Aku tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, aku menatap bagian belakang SUV hitam kami—sebuah mobil yang hampir tenggelam karena rodanya terlihat berat menahan muatan berlebihan.

Dennis berdiri di sana dengan tangan di pinggang, menyeka keringat di dahinya meskipun udara pagi terasa dingin.

Dia baru saja selesai menumpuk berbagai macam barang.

Di dalam mobil itu, hampir tidak ada satu sentimeter pun ruang kosong.

Seluruh bagasi dan bahkan kursi belakang penuh:

Dua kotak whisky single malt impor mahal untuk ayahnya.

Daging ham impor.

Tas bermerek mahal untuk saudara-saudaranya.

Dua kotak besar anggur dan apel premium dari supermarket kelas atas.

Serta tumpukan cokelat impor dan mainan untuk keponakan-keponakannya.

Tidak ada lagi tempat tersisa.

Bahkan kursi bayi Liam dilepas oleh Dennis dan diletakkan di samping area parkir basement hanya agar satu kotak biskuit mahal tambahan bisa masuk.

Ketika aku dan Liam mendekat, Dennis menoleh kepada kami.

Tidak ada keraguan.

Tidak ada rasa malu.

Bahkan tidak ada sedikit pun kelembutan dalam suaranya.

“Carmela, kamu bisa lihat sendiri situasinya, kan? Mobilnya memang sudah penuh,” katanya santai sambil membersihkan tangannya.

“Jangan terlalu banyak menuntut. Kamu dan Liam naik bus saja dari Terminal Kampung Rambutan. Nanti kita bertemu di Pangandaran malam ini saat kalian sampai.”

“Di sini sudah sempit. Jangan sampai buah-buahan dan oleh-oleh untuk Ibu rusak kalau kalian dipaksakan masuk.”

Aku menatap wajah pria yang selama enam tahun aku layani, aku rawat, dan aku percaya akan melindungi kami dari badai kehidupan apa pun.

Kotak minuman, buah-buahan, dan makanan mahal ternyata lebih berharga baginya dibandingkan istri dan anaknya sendiri yang baru berusia empat tahun.

Barang-barang itu lebih pantas duduk di dalam mobil yang nyaman daripada seorang anak kecil yang mudah mabuk perjalanan jauh.

Selama enam tahun aku bertahan dalam pernikahan ini.

Setiap kali kami pulang ke kampung halaman keluarganya saat Natal, Dennis selalu berubah menjadi orang lain.

Di Jakarta, ketika hanya kami berdua, dia berpura-pura menjadi suami yang bertanggung jawab.

Namun begitu kami menginjak wilayah keluarganya, dia langsung berubah menjadi “anak teladan” yang sangat ingin mendapatkan pujian ibunya, bahkan rela menginjak harga diriku agar terlihat hebat di depan keluarga besarnya.

Di sana, aku berubah menjadi pembantu.

Aku yang memasak untuk tiga puluh anggota keluarga dari pagi hingga malam.

Aku yang mencuci tumpukan piring kotor.

Sementara keluarganya menikmati hadiah mahal yang dibeli menggunakan tabunganku sendiri dan hasil kerja kerasku.

Sejak pukul tiga pagi tadi, ibu mertuaku, Bu Tessie, sudah lima kali menelepon Dennis.

“Dennis, ham favorit kakakmu jangan sampai rusak ya!”

“Pastikan AC mobil menyala maksimal supaya anggur impor tetap segar saat kalian sampai!”

“Jangan terlambat, banyak tamu yang datang!”

Dan Dennis, seperti anak kecil yang selalu mengikuti perintah tanpa berpikir:

“Iya, Bu. Semua oleh-oleh sudah aman. Jangan khawatir.”

Untuk keluarganya, dia siap memberikan langit dan bumi.

Tetapi untuk aku dan anaknya sendiri?

“Naik bus saja dari Terminal Kampung Rambutan.”

Di tengah musim liburan, ketika ratusan ribu penumpang berdesakan, berebut, dan mengantre panjang hanya untuk mendapatkan tiket bus.

“Dennis, Liam baru empat tahun,” kataku dengan tenang tetapi tegas, mencoba mencari sedikit saja rasa bersalah di hatinya.

“Sekarang sedang musim liburan. Tidak mungkin mendapatkan bus di terminal tanpa pesan sebelumnya. Bagaimana kalau kami terjebak dalam kerumunan?”

Dia memutar matanya lalu masuk ke kursi pengemudi.

“Carmela, kamu banyak sekali mengeluh!”

“Itu urusanmu. Kamu seorang ibu, cari cara sendiri.”

“Barang-barang ini tidak boleh tertinggal karena Ibu akan marah.”

“Aku berangkat dulu supaya tidak terkena macet di tol.”

“Jangan terlalu lama di terminal, nanti kalian sampai terlalu malam.”

Mesin SUV sudah menyala.

Liam menatapku dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.

“Mommy… apakah Daddy tidak mau membawa kita bersama?”

Saat itu, aku merasakan tali terakhir kesabaranku putus.

Aku tidak berteriak.

Aku tidak memohon.

Tidak ada satu pun air mata yang jatuh.

Karena ketika seorang wanita sudah terlalu terluka, kemarahannya tidak lagi meledak.

Kemarahannya berubah menjadi sedingin es.

“Baik, Dennis,” jawabku tenang sambil menatap langsung matanya.

“Hati-hati di jalan.”

Dennis sedikit terkejut karena aku menyerah begitu cepat.

Namun dia hanya tersenyum, mengira aku kembali menuruti kemauannya.

Dia menginjak pedal gas dan meninggalkan basement, meninggalkan kami dalam asap mobil dan udara dingin pagi itu.

Dia mengira aku akan berdiri berjam-jam mengantre di terminal.

Dia mengira aku akan berlutut di kampung halamannya dan memohon perhatian dari keluarganya yang selalu menghakimiku.

Dia tidak tahu bahwa aku menggenggam tangan Liam erat-erat dan langsung memesan layanan mobil premium menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3.

Di dalam tasku ada dua tiket kelas bisnis yang sudah dikonfirmasi menuju Hong Kong Disneyland—rencana rahasia yang sudah lama kupersiapkan menggunakan uangku sendiri sebagai “Rencana B” jika suatu hari dia kembali membuktikan bahwa kami tidak berarti dalam hidupnya.

Ketika kami naik pesawat, saat pramugari memberikan handuk hangat dan cokelat kepada Liam, aku membuka ponsel sebelum pesawat lepas landas.

Tiga pesan dari Dennis muncul di layar:

“Kalian sudah naik bus?”

“Pastikan kamu membeli fruitcake mahal untuk Tante Baby!”

“Kenapa kamu tidak menjawab? Angkat teleponku!”

Aku melihat pesan-pesan itu dengan senyum pahit tetapi lega.

Tanpa ragu, aku menggeser jariku:

Mode Pesawat: AKTIF.

Dennis, rayakan Natal kalian bersama semua oleh-oleh yang kamu prioritaskan.

Karena ketika kami kembali dari Hong Kong, aku akan memastikan tidak ada lagi keluarga yang bisa kamu datangi—

dan tidak ada lagi rumah yang bisa kamu tinggali.
\

Kabin kelas perniagaan pesawat Garuda menuju Hong Kong dingin, tetapi bau biskut mentega dan aroma lemon dari tuala panas yang diserahkan oleh pramugari perlahan-lahan mengikis bau asap ekzos dari tempat letak kereta bawah tanah SCBD pagi tadi.

Liam duduk bersila di kerusi kulitnya yang luas, kedua-dua tangannya memegang erat cawan coklat panas. Cermin mata kecilnya sedikit berwap. Dia memandang ke luar tingkap, menyaksikan sayap kapal terbang membelah gumpalan awan kelabu di atas Jakarta yang perlahan-lahan mengecil.

“Mommy, rumah Nenek di Pangandaran ada awan sebesar ini ke?” tanyanya polos, lidahnya masih comot dengan buih coklat.

Aku tersenyum, menyapu pipinya dengan tisu lembut. “Tak ada, sayang. Hari ini kita tak pergi rumah Nenek. Kita pergi tempat yang ada istana dan bunga api malam nanti.”

“Betul ke, Mommy? Daddy ikut tak?”

“Daddy ada urusan penting dengan buah epal dan botol araknya,” jawabku perlahan, suaraku datar tanpa getaran. Liam cuma mengangguk, terlalu leka dengan skrin hiburan di depannya yang mula memaparkan animasi kegemarannya. Kanak-kanak mudah melupakan kekecewaan jika diberi kasih sayang yang tulus, berbeza dengan orang dewasa yang terpaksa menelan rasa terhina bertahun-tahun demi mengekalkan ilusi sebuah keluarga bahagia.

Sementara Liam leka, aku membuka komputer riba peribadiku yang disambungkan ke Wi-Fi penerbangan. Langkah pertama sudah bermula.

Orang luar, malah keluarga Dennis sendiri, sering menyangka Dennis ialah tonggak utama kemewahan kami. Dennis berpenampilan kemas, bergaya seperti eksekutif muda korporat, dan gemar menonjolkan diri di media sosial. Namun hakikatnya, jawatannya di firma pelaburan itu hanyalah pengurus pertengahan dengan gaji yang sekadar cukup untuk membiayai ansuran gaya hidupnya sendiri: jam tangan mewah, kelab golf, dan pinjaman kereta SUV hitam tersebut.

Kondo mewah tiga bilik di SCBD itu? Dibeli sepenuhnya atas namaku, hasil keuntungan syarikat reka bentuk dalaman dan pembekal perabot komersial yang kubina sendiri sejak sebelum kami berkahwin. Malah, had kad kredit tanpa had yang digunakan Dennis untuk membeli segala wiski, ham import, dan beg tangan berjenama untuk keluarganya pagi tadi adalah kad tambahan yang dipautkan terus ke akaun syarikat peribadiku.

Dennis fikir aku hanya seorang isteri yang pendiam, patuh, dan takut kehilangan suami. Dia terlupa bahawa wanita yang menguruskan kewangan projek bernilai puluhan bilion rupiah tidak akan pernah menjadi mangsa yang naif selamanya.

Jemariku menari di atas papan kekunci.

Langkah pertama: Menamatkan akses kad kredit tambahan atas nama Dennis Pratama berkuat kuasa serta-merta. Segala transaksi yang belum disahkan akan ditolak secara automatik.

Langkah kedua: Menghantar e-mel rasmi kepada pihak pengurusan bangunan kondo di SCBD. Menukar semua kod akses digital pintu masuk, membatalkan pelekat akses kenderaan untuk SUV hitam Dennis, serta mengeluarkan namanya daripada senarai penduduk yang dibenarkan masuk tanpa kebenaran bertulis daripadaku.

Langkah ketiga: Menghantar pesanan ringkas kepada peguam peribadiku, Encik Hendra. “Failkan permohonan cerai dan pembahagian harta sepencarian pada pagi Isnin. Kunci kondo telah ditukar. Bukti pengabaian nafkah dan transaksi kad kredit selama dua tahun sudah sedia di pautan storan awan.”

Selesai menghantar e-mel tersebut, aku menutup komputer riba. Aku bersandar pada kerusi empuk sambil menarik selimut bulu ke paras dada Liam yang mula terlena. Untuk kali pertama dalam tempoh enam tahun, nafasku terasa lapang. Tiada lagi ketakutan memikirkan menu sarapan untuk tiga puluh orang saudara mertua yang cerewet, tiada lagi sindiran tajam tentang caraku membesarkan anak, dan tiada lagi rasa terhina melihat suami sendiri mengabaikan darah dagingnya demi secebis pujian kosong.

Sementara itu, di sebuah rumah besar di tepi pantai Pangandaran, suasana riuh-rendah mula bertukar menjadi tegang.

SUV hitam Dennis tiba di perkarangan rumah keluarga besarnya sekitar jam empat petang selepas meredah kesesakan lalu lintas yang teruk. Dennis melangkah keluar dengan senyuman lebar yang dibuat-buat, walaupun badannya lenguh dan letih.

Ibu mertuaku, Bu Tessie, keluar menyambutnya dengan senyuman yang terarah terus ke bonet kereta.

“Dennis! Sampai pun kamu. Mana ham import dan anggur premium yang Ibu pesan?” laung Bu Tessie sambil menjeling ke dalam kereta. Matanya meliar mencari kelibat menantu dan cucunya, bukan kerana rindu, tetapi kerana memerlukan tenaga kerja percuma. “Mana Carmela? Dapur tu berselerak, pinggan mangkuk kenduri malam tadi belum basuh. Saudara-mara kamu dah mula lapar nak makan malam Krismas.”

Dennis tersengih kelat sambil membuka bonet kereta yang padat. “Carmela dan Liam naik bas dari Kampung Rambutan, Bu. Barang-barang terlalu banyak, tak muat kalau mereka ikut sekali. Mungkin lewat malam baru sampai.”

Kakak iparku, Sheila, yang sedang menghisap vape di beranda, mencebik bibir. “Naik bas? Lembaplah perempuan tu. Habis tu siapa nak masak sup daging dan tolong aku sediakan meja untuk tetamu malam ni? Kamu ni Dennis, patutnya suruh dia naik teksi sapu dari pagi tadi biar cepat sampai!”

Dennis cuma mampu menggaru kepala yang tidak gatal sambil mula memunggah kotak-kotak wiski dan buah-buahan mahal ke ruang tamu. Dia cuba menelefon nombor telefon bimbitku berkali-kali, namun hanya suara operator yang menyambut: “Nombor yang anda hubungi tidak dapat dicapai.”

Rasa gelisah mula merayap di tangkai hatinya, tetapi dia menepis perasaan itu. Dia menganggap aku sengaja merajuk dan mematikan telefon bimbit kerana marah disuruh menaiki bas awam. Baginya, sebaik sahaja aku tiba di Pangandaran nanti dengan bas yang berbau hapak, aku pasti akan menangis meminta maaf seperti kebiasaannya.

Malam semakin larut. Jam di dinding rumah Bu Tessie menunjukkan pukul sembilan malam.

Tetamu mula memenuhi ruang tamu. Ayah mertuaku dan bapa-bapa saudara Dennis duduk mengelilingi meja, bersedia untuk membuka kotak wiski import kegemaran mereka.

“Dennis, buka botol ni sekarang. Kita minum sama-sama!” laung bapa saudaranya dengan bangga.

Dennis tersenyum megah, menghulurkan botol tersebut sambil mengeluarkan dompetnya untuk membayar pesanan tambahan makanan laut panggang yang baru dihantar oleh penghantar makanan tempatan. Bil makanan laut itu mencecah empat juta rupiah.

“Biar saya bayar guna kad, Bang,” kata Dennis dengan gaya seorang jutawan di hadapan saudara-maranya. Dia menghulurkan kad kredit berkilat berwarna hitam kepada penghantar makanan yang membawa mesin terminal mudah alih.

Penghantar makanan itu memasukkan kad, menekan butang, lalu mesin mengeluarkan bunyi bip yang panjang dan nyaring.

TRANSAKSI DITOLAK: HUBUNGI BANK PENGELUAR.

Dennis mengerutkan dahi. “Eh, silap kot. Cuba lagi sekali.”

Cubaan kedua dibuat. Keputusannya tetap sama: DITOLAK.

“Mungkin talian internet di sini tak stabil,” kata Dennis sambil ketawa sumbang, cuba menutup rasa malu apabila beberapa orang sepupunya mula memandang ke arahnya. Dia mengeluarkan kad kredit kedua, kad peribadinya sendiri.

Namun kad tersebut mempunyai baki yang sangat terhad. Apabila dimasukkan, mesin memaparkan: HAD KREDIT TIDAK MENCUKUPI.

Wajah Dennis mula pucat. Dia tahu kad tambahannya daripada akaun syarikat Carmela tidak pernah mempunyai masalah sebelum ini. Kenapa tiba-tiba disekat?

“Dennis, kenapa lama sangat tu? Bayar sajalah tunai, budak penghantar tu dah tunggu lama,” tegur Bu Tessie dari dapur, suaranya mula kedengaran tajam dan menjengkelkan.

“Duit tunai Dennis tak cukup, Bu… ada dalam lima ratus ribu saja dalam dompet,” bisik Dennis perlahan.

“Apa?! Kamu bawa barang berkotak-kotak dari Jakarta tapi tak ada duit tunai empat juta nak bayar makanan laut?!” herdik Bu Tessie tanpa mempedulikan tetamu lain yang mula memandang serong. “Mana duit kamu?! Mana Carmela?! Telefon perempuan tu sekarang, suruh dia pindahkan duit ke akaun kamu!”

Dennis berlari ke anjung luar, tangannya menggeletar menekan nombor telefonku sekali lagi. Masih tidak dapat dihubungi.

Dia kemudian memeriksa akaun perbankan internet di telefon pintarnya. Matanya membulat besar apabila melihat satu notifikasi e-mel rasmi daripada bank korporat:

Akses kad kredit tambahan anda telah dibatalkan secara kekal oleh pemegang akaun utama: Carmela Amanda.

Saat itu, darah Dennis seakan-akan berhenti mengalir.

Bukan itu sahaja, sebuah pesanan ringkas daripada pengawal keselamatan kondo SCBD masuk ke peti masuk telefonnya: “Selamat malam Pak Dennis. Kami diarahkan oleh Ibu Carmela untuk memaklumkan bahawa pelekat kenderaan SUV hitam tuan telah dinyahaktifkan dan kod pintu unit telah ditukar petang tadi. Tuan tidak dibenarkan naik ke unit tanpa kebenaran bertulis Ibu Carmela.”

Dennis terduduk di atas anak tangga beranda batu yang kasar. Peluh sejuk membasahi dahinya walaupun angin laut Pangandaran bertiup kencang malam itu. Kata-katanya pagi tadi terngiang-ngiang kembali di telinganya bagai tamparan yang bertubi-tubi:

“Mobilnya memang sudah penuh… Kamu dan Liam naik bus saja… Jangan sampai buah-buahan untuk Ibu rusak…”

Dia menyedari bahawa aku tidak pernah menaiki bas ke Kampung Rambutan. Aku tidak pernah menangis di stesen bas yang sesak. Aku telah pergi, membawa bersama segala kemudahan, kemewahan, dan rasa hormat yang selama ini menopang egonya di hadapan keluarganya.

Di dalam rumah, Bu Tessie mula membebel dengan suara yang nyaring, menyindir Dennis kerana memalukan keluarga di hadapan tetamu. Sheila pula menghempas pintu bilik kerana tiada siapa yang memasakkan makanan kegemarannya. Tiada lagi pujian untuk ‘anak teladan’. Sebaik sahaja sumber wang terputus, keluarga yang disanjungnya lebih daripada isteri dan anaknya sendiri mula memperlakukannya seperti orang luar yang menyusahkan.

Dennis menekup mukanya dengan kedua-dua belah tangan di bawah kegelapan malam pantai selatan, sendirian dan terhina.

Pada masa yang sama, di Hong Kong Disneyland Hotel, suasana dipenuhi dengan kehangatan dan keajaiban musim perayaan.

Lobi hotel dihiasi dengan pokok Krismas gergasi yang berkerlipan dengan ribuan lampu keemasan. Bau kayu manis, pastri bakar, dan muzik orkestra Krismas berkumandang lembut di setiap sudut ruang.

Liam berlari anak di atas permaidani tebal menuju ke tingkap bilik suite kami yang menghadap ke arah laut. Dia memakai baju sejuk tebal bertudung dengan telinga Mickey Mouse, ketawa riang melihat hiasan patung salji di taman bawah.

“Mommy, bilik kita ada dua katil besar! Liam boleh lompat tak?”

“Boleh, sayang, tapi buka kasut dulu ya,” jawabku sambil tersenyum tenang, merebahkan diri di atas kerusi sofa empuk berhampiran balkoni.

Pelayan hotel baru sahaja menghantar hidangan makan malam Krismas kami ke bilik: stik wagyu lembut dengan kentang lecek krim, sup cendawan berkrim pekat, dan kek coklat strawberi istimewa untuk Liam. Tiada timbunan pinggan kotor yang menanti, tiada rengekan orang tua yang tidak tahu bersyukur, dan tiada lagi penghinaan yang perlu kutelan.

Liam duduk di sebelahku, menyuap kek ke mulutnya dengan penuh selera. Tiba-tiba dia mendongak, memandang wajahku dengan matanya yang jernih.

“Mommy, Liam suka Krismas tahun ni. Tak ada orang jerit-jerit suruh Mommy pergi dapur.”

Kata-kata anak kecil itu menusuk tepat ke lubuk hatiku, meruntuhkan sisa-sisa keraguan yang mungkin masih tersisa. Anak sekecil itu pun mampu merasai penderitaan ibunya selama ini, namun dia memilih untuk mendiamkan diri kerana takut. Aku memeluk Liam erat-erat, mencium ubun-ubunnya yang berbau syampu bayi.

“Mommy janji, Liam. Lepas ni takkan ada sesiapa lagi yang boleh suruh Mommy macam tu. Kita berdua saja, hidup gembira.”

Malam itu, kami turun ke taman tema untuk menyaksikan pertunjukan bunga api Krismas di hadapan Istana Impian Ajaib. Cahaya merah, hijau, dan emas meledak di dada langit malam yang gelap, menerangi wajah riang Liam yang bertepuk tangan di atas bahuku. Untuk kali pertama dalam tempoh enam tahun, aku benar-benar tersenyum tanpa sebarang beban di jiwa.

Dua minggu kemudian.

Aku dan Liam kembali ke Jakarta dengan penerbangan petang. Udara ibu kota masih lembap dengan sisa hujan Januari, tetapi langkah kakiku terasa ringan dan mantap menuruni eskalator Lapangan Terbang Soekarno-Hatta.

Peguamku, Encik Hendra, sudah menunggu di kawasan ketibaan bersama sebuah fail tebal berwarna biru gelap.

“Semua dokumen telah diserahkan ke Mahkamah Agama pagi tadi, Bu Carmela,” kata Encik Hendra sambil menyapa kami dengan senyuman profesional. “Pihak pengurusan kondo juga melaporkan Encik Dennis ada cuba membuat kekecohan di lobi dua hari lepas, tetapi pihak keselamatan telah mengusirnya keluar mengikut arahan undang-undang.”

“Terima kasih, Encik Hendra. Biar undang-undang yang buat kerja seterusnya.”

Apabila kami tiba di lobi kondo SCBD, aku melihat kelibat Dennis duduk di atas bangku taman di luar kawasan pintu pagar utama. Pakaiannya kelihatan kusut-masai, kemejanya tidak bergosok, dan wajahnya cengkung dengan lingkaran gelap di bawah mata. Kereta SUV hitamnya diletakkan di tepi jalan awam, penuh dengan debu tebal jalan raya antara wilayah.

Sebaik sahaja dia melihat keretaku masuk, dia meluru ke arah tingkap kereta dengan wajah yang penuh terdesak.

Pengawal keselamatan bertindak pantas menahannya sebelum dia sempat mendekati pintu kereta.

“Carmela! Tolong dengar dulu, Carmela!” jerit Dennis, suaranya serak dan pecah. “Tolong jangan buat saya macam ni! Saya minta maaf… saya tahu saya salah pasal hari tu! Buka pintu kondo tu, baju-baju kerja saya semua ada kat dalam!”

Aku menurunkan cermin tingkap kereta separuh, memandangnya dengan pandangan kosong, seolah-olah sedang melihat orang asing yang meminta sedekah di persimpangan lampu isyarat.

“Semua pakaian dan barang peribadi kamu telah dibungkus ke dalam kotak dan disimpan di bilik stor pengurusan di tingkat bawah tanah,” kataku tenang, nadaku tidak tinggi mahupun rendah. “Kamu ada tempoh empat puluh lapan jam untuk ambil semuanya sebelum pihak pengurusan lupuskan.”

“Carmela, kita boleh bincang! Fikirkan tentang Liam! Dia perlukan ayahnya!” rayu Dennis, air mata mula mengalir di pipinya yang cengkung.

“Liam perlukan seorang ayah yang melindunginya, bukan ayah yang sanggup campak anak sendiri ke stesen bas sesak semata-mata nak jaga kotak biskut untuk ibunya,” bidasku tajam, setiap patah perkataan menusuk tepat ke jantungnya. “Peguam saya akan hubungi kamu untuk tarikh perbicaraan. Sekarang, tolong ke tepi, kamu menghalang laluan kenderaan lain.”

“Carmela! Tolonglah! Ibu dah halau saya dari rumah sebab saya tak dapat bagi duit lagi! Kereta ni dah tertunggak bayaran dua bulan, bank nak tarik!” jeritnya lagi sambil memukul perlahan cermin kereta yang mula dinaikkan semula.

Tetapi aku tidak lagi menoleh ke belakang. Cermin kereta tertutup rapat, kedap bunyi, memadamkan segala rayuan dan penyesalan kosong yang sudah terlambat. Kereta meluncur masuk ke kawasan basement yang terang dan selamat.

Di tempat duduk belakang, Liam memegang tangan patung Mickey Mouse baharunya sambil tersenyum memandangku.

“Mommy, malam ni kita makan piza sama-sama, kan?”

“Ya, sayang,” jawabku sambil mengusap rambutnya, membalas senyumannya dengan hati yang penuh kedamaian. “Malam ni, esok, dan selama-lamanya… rumah kita cuma ada bahagia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *