Meylani tidak sedang menunggu Rina membuat kesalahan.

PART 2

Pola itu berlanjut selama beberapa hari berikutnya.

Meylani tidak pernah memarahi Rina dengan berteriak di depan Rendra.

Ia menggunakan metode yang jauh lebih rapi.

Jika ada barang rumah tangga yang berpindah tempat, Meylani akan mengeluh pelan di depan Pak Lukman bahwa Rina mulai tidak fokus.

Jika Rina bertanya ulang tentang tugasnya, Meylani memutar mata dan menyebut Rina sudah tidak bisa diberi tanggung jawab.

Rina menyadari situasi itu.

Ia mulai membawa buku catatan kecil bersampul biru di saku apronnya.

Setiap kali Meylani memberikan perintah, Rina mencatat jam, tanggal, dan detail instruksi secara rinci.

empat hari sebelum hari pernikahan, Meylani meminta Rina mengatur ulang denah duduk tamu di denah papan besar yang ada di ruang tamu.

Rina mencatat setiap posisi meja yang diminta Meylani.

Saat Rina pergi ke dapur untuk mengambil selotip, Meylani berdiri sendirian di dekat papan denah.

Rendra melihat dari balik jendela ruang kerja, Meylani menggeser 2 kartu nama tamu dari meja utama ke meja belakang.

Rina kembali dan menyelesaikan tugasnya sesuai instruksi tertulis yang ia pegang.

Satu jam kemudian, Meylani memanggil Rendra dan Pak Lukman ke ruang tamu.

“Lihat ini,” kata Meylani dengan suara kecewa. “Posisi keluarga Pak Broto ditukar ke belakang. Padahal aku sudah bilang berkali-kali mereka tamu penting.”

Rina melangkah maju dan membuka buku catatannya.

“Ibu menyuruh saya memindahkan nama Pak Broto ke meja nomor 12 pada pukul 10:15 WIB tadi.”

Meylani tertawa kecil yang terdengar sinis.

“Jadi kamu mau bilang aku yang salah?”

“Saya hanya mengerjakan apa yang Ibu perintahkan dan saya catat,” kata Rina tegas.

“Kamu mungkin mencatatnya benar, tapi tanganmu bekerja salah. Atau sengaja membantahku?” balas Meylani tajam.

Rina berdiri tegak, matanya menatap Meylani tanpa rasa takut.

“Saya tidak pernah mengubah posisi kartu itu sendiri.”

Rendra tahu betul apa yang sebenarnya terjadi karena ia melihat Meylani menggeser kartu itu.

Namun Rendra tidak memegang bukti foto atau rekaman.

Ia ragu untuk berbicara langsung di depan ayahnya.

Rendra mengambil jalan tengah yang salah.

“Rina, mungkin lebih baik kamu istirahat dulu di rumah saudaramu sampai acara pernikahan selesai.”

Rina menatap Rendra.

Tatapan itu penuh kekecewaan.

“Bapak pikir saya berbohong?” tanya Rina.

Rendra terdiam beberapa detik.

“Aku hanya ingin situasi tenang dulu.”

Rina menutup buku catatannya dengan pelan.

“Saya bisa menerima kalau pekerjaan saya dikritik. Tapi saya tidak bisa bekerja di tempat di mana saya harus membuktikan kebenaran saya setiap hari.”

Rina mengambil tasnya dan berjalan keluar dari rumah.

Setelah pintu depan tertutup, Nenek Aminah berjalan perlahan keluar dari kamarnya.

Nenek Aminah menatap Rendra dengan mata yang tajam.

“Ibumu pasti sangat malu melihat penakut seperti kamu hari ini.”

Kata-kata Nenek Aminah menghantam nurani Rendra.

Malam itu, rumah terasa sangat sepi.

Meylani sudah pulang ke rumah orang tuanya untuk persiapan luluran dan pengantin.

Pak Lukman sudah tidur.

Rendra duduk sendirian di meja makan pukul 02:00 WIB.

Ia memegang gelas kramik tua milik almarhum ibunya.

Kenangan masa kecilnya mendadak berputar kembali.

Saat Rendren berusia 11 tahun, ibunya pulang dari rumah majikannya sambil menangis diam-diam di dapur kontrakan mereka.

Ibunya dituduh merusak vas bunga mahal yang sebenarnya sudah retak sebelum ibunya bekerja di sana.

Waktu itu Rendra kecil bertanya, “Kenapa Ibu tidak melawan?”

Ibunya menjawab, “Yang paling menyakitkan bukan fitnah orang lain, Rendra. Tapi ketika orang yang tahu kejujuran kita memilih diam hanya karena tidak ingin repot.”

Rendra memegang kepala dengan kedua tangannya.

Ia menyadari fakta pahit.

Ia tidak hanya mengabaikan Rina.

Ia telah menjadi bagian dari orang-orang yang membuat ibunya menderita dulu.

Kesenangan dan kenyamanan status sosial telah membuatnya buta.

Pagi harinya, Rendra langsung menemui Nenek Aminah.

“Nenek, ceritakan semuanya padaku. Apa saja yang terjadi selama aku tidak di rumah?”

Nenek Aminah duduk di kursi goyangnya dan memandang cucunya.

“Kamu baru mau mendengar sekarang?”

“Aku salah, Nek. Tolong beri tahu aku.”

Selama 40 menit, Nenek Aminah membeberkan segalanya.

Meylani sering menyuruh Rina mengulang pekerjaan yang sudah selesai hanya untuk menunjukkan kekuasaannya.

Meylani menyuruh Rina mencuci baju dengan tangan padahal mesin cuci berfungsi baik.

Meylani sengaja menyalahkan Rina atas barang-barang hiasan yang salah letak di depan tamu-tamu keluarga.

“Meylani tidak pernah bersikap manis pada Rina jika kamu tidak ada di rumah,” tegas Nenek Aminah.

Rendra kemudian memanggil dua pekerja lain yang membantu persiapan acara di rumah: Pak Ujang si pengemudi dan Bu Sri yang membantu di dapur.

Rendra bertanya pada mereka satu per satu secara terpisah.

Bu Sri menceritakan kejadian tumpahnya kopi pada hari itu.

“Saya melihat dari pintu samping, Pak. Bu Meylani sengaja memiringkan gelas itu ke lantai. Saya mau menolong Mbak Rina, tapi Bu Meylani melarang saya campur tangan.”

Pak Ujang juga memberi kesaksian lain.

“Bu Meylani pernah menyuruh saya membuang daftar belanjaan yang ditulis Mbak Rina, lalu menuduh Mbak Rina lupa membeli bahan makanan.”

Semua kesaksian cocok satu sama lain.

Meylani secara sistematis merusak reputasi Rina agar Rina dikeluarkan dari rumah itu tanpa menimbulkan kecurigaan Rendra.

Sore harinya, Rendra mengendarai mobilnya menuju kontrakan kakak Rina di daerah Tambun, Bekasi.

Saat Rina membuka pintu, ia terkejut melihat Rendra berdiri di sana.

Rendra tidak meminta Rina kembali bekerja saat itu juga.

Rendra menatap mata Rina dengan tulus.

“Aku sudah bicara dengan Nenek, Bu Sri, dan Pak Ujang. Aku tahu semuanya sekarang. Kamu tidak bersalah sama sekali.”

Rina menatap Rendra datar.

“Bapak sudah punya buktinya sekarang?”

“Ya,” jawab Rendra.

“Lalu apa bedanya, Pak? Kebenaran saya tidak bernilai apa-apa waktu Bapak belum punya bukti dari orang lain. Bapak memilih meragukan saya karena status saya di rumah itu.”

Kata-kata Rina jujur dan tepat sasaran.

Rendra menunduk.

“Kamu benar. Aku minta maaf. Aku di sini bukan untuk membujukmu kembali, tapi untuk mengakui kesalahanku secara langsung.”

Rina mengangguk pelan.

“Terima kasih sudah datang dan minta maaf, Pak.”

Rina menutup pintu rumahnya dengan sopan namun tegas.

Hari pernikahan pun tiba.

Gedung mewah di kawasan Jakarta Selatan sudah dihiasi dekorasi bunga serba putih.

Ratusan tamu undangan dari kalangan pengusaha dan pejabat mulai memadati ruangan.

Meylani tampak anggun dengan gaun pengantin putihnya.

Ibu Meylani, Bu Siska, berjalan mendekati Rendra di ruang tunggu pria.

“Rendra, kamu kelihatan tegang sekali. Wajar, semua pengantin pria pasti gugup,” ujar Bu Siska sambil tersenyum.

Rendra hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.

Di dadanya, keputusan besar sudah bulat.

Pukul 11:00 WIB, prosesi pernikahan dimulai.

Meylani berjalan menyusuri karpet merah didampingi ayahnya.

Rendra berdiri di depan altar bersama penghulu dan para saksi.

Saat penghulu meminta kedua pengantin bersiap mengucapkan janji dan menandatangani berkas, Meylani mengulurkan tangannya untuk menerima pena.

Rendra menatap wajah Meylani.

Meylani tersenyum, menunggu Rendra mengambilkan pena di meja.

Rendra tidak mengambil pena itu.

Ia mundur satu langkah.

Suasana ruangan langsung berubah hening.

“Rendra?” bisik Meylani dengan raut bingung.

“Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini,” kata Rendra dengan suara yang terdengar jelas oleh barisan depan tamu.

Ibu Meylani berdiri dari kursinya dengan wajah kaget.

Pak Lukman membelalakkan mata.

Meylani mendekati Rendra dan berbisik keras.

“Apa-apaan kamu, Rendra?! Jangan bikin malu keluarga di sini! Bicara di belakang!”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan di belakang, Meylani,” jawab Rendra tenang.

“Kamu gila ya? Cuma gara-gara urusan rumah tangga dan pembantu itu kamu mau membatalkan pernikahan kita?” seru Meylani, emosinya mulai tidak terkontrol.

Tamu-tamu di barisan depan mulai berbisik-bisik.

Rendra menatap Meylani lurus-lurus.

“Aku membatalkan pernikahan ini bukan cuma karena Rina. Tapi karena aku akhirnya tahu siapa kamu sebenarnya saat kamu merasa punya kekuasaan atas orang lain.”

“Aku melihatmu menumpahkan kopi itu dengan sengaja. Aku mendengar saksi mata yang melihat caramu memfitnah pekerjaan Rina. Kamu dengan dingin menghancurkan harga diri orang lain hanya untuk kepuasan dirimu.”

Wajah Meylani berubah pucat seketika.

“Itu cuma masalah sepele! Dia cuma pekerja di rumahmu!” bentak Meylani.

“Bagi kamu itu sepele. Tapi bagiku, caramu memperlakukan orang yang tidak bisa melawan menunjukkan sifat aslimu. Aku tidak bisa hidup bersama seseorang yang berpura-pura baik di depanku tapi bertindak kejam di belakangku.”

Rendra melepas pin bunga di jasnya dan meletakkannya di meja.

Ia berbalik dan berjalan keluar dari gedung pernikahan tanpa menoleh lagi.

Pernikahan itu batal total.

Berita tentang pembatalan pernikahan itu menjadi bahan pembicaraan di lingkaran bisnis mereka selama beberapa minggu.

Meylani dan keluarganya berusaha menyebarkan rumor bahwa Rendra mengalami gangguan emosional.

Namun Rendra tidak membalas satu pun tuduhan itu.

Ia fokus merapikan kembali kehidupannya dan rumahnya.

Tiga minggu kemudian, Rendra menemui Rina kembali di kampus tempatnya berkuliah.

Rendra menunggu di kantin sampai jam kuliah Rina selesai.

“Aku datang untuk memberikan tawaran pekerjaan yang berbeda,” kata Rendra saat Rina duduk di hadapannya.

Rendra menyodorkan sebuah dokumen kontrak kerja resmi.

“Ini bukan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga.”

Rina membaca dokumen tersebut.

Rendra ingin menyewa jasa Rina sebagai perawat pribadi profesional untuk Nenek Aminah dengan jam kerja yang teratur, gaji sesuai standar perawat medis, dan fasilitas pendukung untuk menyelesaikan kuliah keperawatannya.

“Semua tugas tertulis jelas di kontrak. Kamu bekerja secara profesional, bukan berdasarkan perintah lisan yang bisa diubah-ubah,” kata Rendra.

Rina membaca setiap poin dengan teliti.

“Saya punya hak untuk menolak tugas di luar kontrak?” tanya Rina.

“Tentu saja. Kamu punya wewenang penuh atas perawatan Nenek,” jawab Rendra.

Rina berpikir sejenak lalu mengangguk.

“Saya terima penawaran ini.”

Dua hari kemudian, Rina kembali ke rumah di Menteng.

Kali ini ia datang tidak lagi menggunakan pakaian kerja ART, melainkan seragam perawat medis yang rapi.

Nenek Aminah menyambutnya dengan pelukan hangat di ruang tamu.

Pak Lukman yang juga ada di sana mengangguk hormat pada Rina, meminta maaf atas kesalahpahamannya di masa lalu.

Rendra berdiri di dekat tangga.

Rina menatap Rendra dan mengangguk pelan.

“Selamat pagi, Pak Rendra.”

“Selamat pagi, Rina. Terima kasih sudah kembali.”

Tidak ada kepura-puraan di antara mereka.

Kehidupan di rumah itu berubah sepenuhnya.

Beberapa bulan berlalu dengan tenang.

Suatu sore, Rendra pulang dari kantornya tepat waktu.

Ia berjalan ke area belakang rumah dan melihat Nenek Aminah sedang duduk di taman bersama Rina.

Nenek Aminah sedang menceritakan kisah masa mudanya saat pertama kali pindah ke Jakarta tahun 1970-an.

Rina mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mencatat perkembangan tensi darah Nenek di papan jalan miliknya.

Rendra berdiri di balik pintu kaca.

Ponsel di saku jasnya bergetar menandakan ada pesan pekerjaan yang masuk.

Rendra melihat ponselnya sebentar.

Lalu ia mematikan layar ponsel itu dan memasukkannya kembali ke saku.

Rendra berjalan keluar, mengambil kursi kayu, dan duduk di samping neneknya.

Nenek Aminah menghentikan ceritanya dan menatap Rendra bingung.

“Kamu tidak masuk ke dalam? Biasanya jam segini kamu langsung mengurung diri di ruang kerja.”

Rendra tersenyum tipis dan mengambil cangkir tehnya.

“Pekerjaan bisa menunggu 15 menit, Nek.”

“Nenek sudah menceritakan cerita ini tiga kali bulan ini, kamu tahu kan?” goda Nenek Aminah.

Rendra menatap Nenek Aminah, lalu menatap Rina yang tersenyum kecil, dan akhirnya memandang pintu rumah yang terbuka lebar.

“Aku tahu cerita Nenek. Tapi dulu aku cuma mendengar tanpa pernah benar-benar ada di sini.”

Rendra menyesap tehnya.

Ia tahu ia tidak bisa menghapus masa lalu ketika ia sempat berdiam diri melihat ketidakadilan.

Namun hari ini, ia memilih untuk tidak lagi memalingkan wajah.