MEREKA MEREMEHKANNYA KARENA TUBUHNYA GEMUK DAN SELALU MEMUJA KAKAKNYA YANG CANTIK… SAMPAI SUATU HARI DIA BERHENTI MENJADI OTAK YANG SELAMA INI MENOPANG PERUSAHAAN KELUARGA//

MEREKA MEREMEHKANNYA KARENA TUBUHNYA GEMUK DAN SELALU MEMUJA KAKAKNYA YANG CANTIK… SAMPAI SUATU HARI DIA BERHENTI MENJADI OTAK YANG SELAMA INI MENOPANG PERUSAHAAN KELUARGA

—Jangan terlalu banyak mengambil roti itu, Nadira —kata Bu Ratna sambil menarik nampan menjauh sebelum putrinya yang bungsu sempat meraih satu lagi. —Kamu tahu sendiri, setelan yang kami belikan sudah terasa sempit di bagian pinggul. Malam ini para rekan bisnis perusahaan akan datang. Susah payah kami mencari pakaian formal yang bisa menyamarkan bentuk tubuhmu, jangan sampai kamu merusak potongannya sebelum acara makan malam.

Nadira menarik tangannya perlahan.

Ia menundukkan wajah ke piring salad di depannya.

Selama tiga hari terakhir, ia hanya tidur empat jam setiap malam demi menyelesaikan audit keuangan yang menyelamatkan perusahaan keluarganya dari denda bernilai miliaran rupiah.

—Sudahlah, jangan bertengkar di meja makan —sela ayahnya, Pak Budi, sambil menuangkan segelas anggur untuk putri sulungnya, Laras. —Kita semua tahu Nadira memang pintar menghitung. Tapi kalau soal kecantikan, dia memang tidak terlalu beruntung. Bahkan kalau dia berhenti makan selama setahun, bentuk tubuhnya juga tidak akan banyak berubah.

Lalu Pak Budi menoleh kepada Laras.

—Nah, kalau soal penampilan… Laras, kamu benar-benar cantik malam ini. Gaun putih itu sangat cocok untukmu. Aku yakin putra pemilik perusahaan investor utama tidak akan bisa mengalihkan pandangan darimu.

Laras tersenyum di depan cermin besar ruang makan sambil membetulkan tali gaun sutranya.

—Terima kasih, Ayah. Pemotretan pagi tadi memang membuatku lelah, tapi penata riasnya berhasil membuat kulitku terlihat sempurna untuk malam ini.

Nadira hanya diam.

Sepanjang hidupnya, ia selalu memainkan peran yang sama.

Laras adalah kebanggaan keluarga.

Putri cantik, tinggi, langsing, selalu menjadi pusat perhatian dalam foto keluarga dan acara-acara kalangan atas.

Sedangkan dirinya?

Ia adalah “anak pintar”.

Anak yang dipanggil ketika perusahaan memiliki masalah.

Anak yang harus memeriksa kontrak.

Mengurus laporan keuangan.

Menganalisis investasi.

Bekerja sampai tengah malam.

Dan setiap kali selesai menyelesaikan masalah besar, Nadira selalu berharap satu hal sederhana.

Sebuah pelukan.

Sebuah ucapan bangga.

Atau sekadar kalimat, “Ayah bangga padamu.”

Namun kalimat itu tidak pernah datang.

Sore itu, Nadira sebenarnya baru saja mencapai sesuatu yang luar biasa.

Ia berhasil menutup kerja sama strategis dengan Grup Korporasi Nusantara, sebuah kesepakatan yang telah ia susun sendirian selama enam bulan dan yang diperkirakan akan menjamin kestabilan perusahaan keluarga mereka selama bertahun-tahun.

—Ayah —ujar Nadira pelan, mencoba mendapatkan perhatian ayahnya. —Aku akhirnya berhasil menyelesaikan negosiasi terbaik yang pernah kita dapatkan. Kesepakatan ini bisa membawa perusahaan kita ke tingkat yang bahkan belum pernah kita bayangkan.

Pak Budi hanya mengangguk.

Ia bahkan tidak mengangkat wajah dari piring Laras yang sedang ia bantu potongkan daging.

—Bagus, Nadira. Memang untuk itu kamu sekolah tinggi. Tolong ambilkan garam.

Nadira terdiam.

Sesuatu di dalam dadanya terasa semakin berat.

Pukul delapan malam, rumah besar keluarga mereka dipenuhi tawa, gelas kristal, dan para pengusaha penting dari Jakarta.

Nadira mengenakan setelan hitam yang dipilih ibunya.

Setelan yang menurut Bu Ratna “lebih sopan dan bisa menyamarkan bentuk tubuh”.

Ia berdiri di dekat meja bar sambil memeriksa lampiran terakhir kontrak melalui tabletnya.

Tak lama kemudian, Pak Arif Santoso, direktur utama Grup Korporasi Nusantara, memasuki ruangan bersama beberapa eksekutifnya.

Begitu melihat keluarga Nadira, ia langsung menghampiri Pak Budi.

—Budi! Malam yang luar biasa —kata Pak Arif sambil menjabat tangannya. —Negosiasi hari ini sangat mengesankan. Saya harus mengakui, orang yang menyusun strategi keuangan itu benar-benar jenius.

Pak Budi tersenyum penuh kebanggaan.

Lalu ia memanggil putri sulungnya.

—Terima kasih, Arif. Perkenalkan, ini putri saya, Laras. Kebanggaan keluarga kami. Laras sangat terlibat dalam berbagai proyek perusahaan.

Laras maju dengan senyum terbaiknya.

—Suatu kehormatan bertemu dengan Bapak —katanya lembut. —Kami berusaha keras agar perusahaan kami memenuhi harapan Grup Nusantara.

Beberapa meter dari sana, Nadira membeku.

Ia melihat ayahnya menepuk bahu Laras.

Pak Arif pun tersenyum kagum.

—Luar biasa, Nona Laras. Dalam rapat tadi disebutkan bahwa posisi Wakil Direktur Operasional untuk pabrik baru akan diberikan kepada orang yang berada di balik strategi kontrak ini. Kami senang mengetahui bahwa perempuan muda dan berbakat seperti Anda akan memimpin proyek tersebut.

Nadira tidak bergerak.

Wakil Direktur Operasional.

Itu adalah posisi yang telah ia perjuangkan selama lima tahun.

Jabatan yang diam-diam pernah dijanjikan ayahnya kepadanya jika ia berhasil menyelesaikan restrukturisasi perusahaan.

Namun sebelum Nadira sempat mengatakan apa pun, Bu Ratna sudah mendekati Laras.

Ia merapikan rambut putrinya di depan semua tamu.

—Laras memang kebanggaan keluarga kita —kata Bu Ratna. —Cantik, pintar, dan selalu tahu bagaimana membawa nama keluarga.

Nadira merasakan lantai seakan runtuh di bawah kakinya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya berbalik dan berjalan menuju ruang kerja ayahnya untuk mengambil berkas pengangkatan jabatan.

Namun sebelum masuk, ia mendengar suara dari lorong samping.

Suara Laras.

—Ayah, tapi aku sama sekali tidak mengerti administrasi. Bagaimana kalau nanti mereka meminta laporan di pabrik? Aku harus bagaimana?

Nadira berhenti.

Ia berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka.

Suara Pak Budi terdengar santai.

—Jangan khawatir, Nak. Nadira akan tetap mengerjakan semua pekerjaan di belakang layar seperti biasa. Orang-orang dewan akan lebih terkesan kalau melihat perempuan seperti kamu tampil di depan. Kamu memberikan citra muda, sukses, dan elegan.

Nadira menahan napas.

—Tapi kalau begitu, bagaimana dengan pekerjaannya Nadira? —tanya Laras.

Pak Budi tertawa kecil.

—Dia tidak akan keberatan. Selama kita tetap memberinya gaji dan membiarkannya sibuk dengan buku-bukunya, dia akan baik-baik saja. Lagipula, Nadira tidak punya penampilan untuk mewakili perusahaan di depan publik. Dengan tubuhnya dan sikapnya yang terlalu serius, orang tidak akan menganggapnya cocok untuk foto perusahaan atau acara resmi.

Bu Ratna ikut tertawa pelan.

—Benar. Kamu cukup tersenyum dan tanda tangani semua dokumen yang sudah Nadira siapkan. Untuk urusan berpikir, biarkan dia yang melakukannya.

Nadira berdiri diam dalam kegelapan ruangan.

Anehnya, ia tidak menangis.

Tidak marah.

Tidak berteriak.

Yang muncul justru sebuah keheningan yang sangat dingin.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami semuanya.

Selama bertahun-tahun, ia bukan anak yang kurang cantik.

Ia bukan anak yang kurang berharga.

Ia hanya terus ditempatkan di belakang karena keluarganya membutuhkan otaknya, tetapi tidak pernah menghargai dirinya.

Keinginan untuk mendapatkan kasih sayang orang tua.

Keinginan untuk membuktikan dirinya.

Harapan bahwa suatu hari mereka akan memeluknya.

Semuanya runtuh malam itu.

Nadira berbalik dan pergi.

Ia naik ke kamar.

Mengambil dua koper besar.

Memasukkan pakaian, ijazah, dokumen pribadi, dan laptop yang berisi seluruh analisis finansial miliknya.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada drama.

Hanya keputusan.

Setengah jam kemudian, Nadira turun membawa kedua kopernya.

Pesta masih berlangsung.

Pak Budi langsung mengerutkan dahi ketika melihatnya.

—Apa maksud semua ini, Nadira? —bisiknya tajam. —Ada banyak orang penting di rumah. Simpan koper itu sekarang.

Nadira berhenti.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menatap langsung mata ayahnya.

Tidak menunduk.

Tidak meminta izin.

Tidak takut.

—Kontrak dengan Grup Korporasi Nusantara memiliki klausul kepemilikan intelektual atas nama saya, Yah —ucap Nadira tenang, tetapi cukup jelas hingga beberapa direktur di dekat mereka dapat mendengarnya. —Mulai malam ini, saya menarik tanda tangan saya dari proses audit dan mengajukan pengunduran diri secara resmi dari perusahaan.

Wajah Bu Ratna dan Laras langsung berubah.

—Kamu gila? —bisik ibunya sambil mencengkeram lengannya. —Kamu tidak bisa melakukan ini sekarang! Kamu akan mempermalukan keluarga kita!

Nadira melepaskan tangan ibunya dengan gerakan tenang.

—Kalian tidak perlu takut dipermalukan oleh saya —jawabnya. —Kalian sudah mempermalukan diri kalian sendiri.

Ia menatap ayah, ibu, lalu kakaknya.

—Selama bertahun-tahun, kalian membuatku percaya bahwa satu-satunya nilai diriku adalah apa yang bisa kulakukan untuk kalian karena tubuhku tidak sesuai dengan standar kecantikan keluarga ini. Kalian memakai kemampuanku untuk membangun nama dan kekayaan kalian, sementara aku kalian sembunyikan di belakang layar.

Nadira menarik napas.

—Tapi semuanya berakhir malam ini.

—Nadira, kita bicarakan di ruang kerja saja —kata Pak Budi cepat, mulai panik karena Pak Arif sedang memperhatikan mereka.

—Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Budi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nadira memanggil ayahnya hanya dengan namanya.

—Besok pagi, kamu akan menerima pemberitahuan hukum mengenai pemisahan kepemilikan sahamku. Kalau Laras memang wajah sekaligus otak perusahaan ini, biarkan dia sendiri yang menyelesaikan kekurangan operasional bulan depan.

—Kamu tidak akan bertahan seminggu di luar sana! —bentak Laras, kehilangan senyum manisnya di depan para tamu. —Tidak ada yang akan menganggapmu serius!

Nadira menatap kakaknya.

Lalu tersenyum.

Bukan senyum kemenangan.

Melainkan senyum seseorang yang akhirnya bebas.

—Kemampuan dan harga diri tidak pernah diukur dari ukuran pakaian, Laras. Selama ini justru aku yang terjebak dalam penampilan, berusaha mencari kasih sayang dari orang-orang yang hanya menghargai manfaatku.

Nadira mengambil kopernya.

Berbalik.

Dan berjalan keluar dari rumah.

Ketika melewati pintu utama, udara malam menyentuh wajahnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ketika melihat bayangannya di kaca mobil yang menunggunya, ia tidak melihat perempuan yang selama ini dibuat merasa rendah oleh keluarganya.

Ia melihat seorang perempuan yang bebas.

Perempuan yang cerdas.

Dan perempuan yang akhirnya berani menentukan hidupnya sendiri.

Tiga bulan setelah mengundurkan diri, kehidupan Nadira berubah total.

Dengan dukungan langsung dari Grup Korporasi Nusantara yang mengetahui sendiri kemampuan profesionalnya, Nadira mendirikan perusahaan konsultan strategi keuangan miliknya sendiri.

Dalam waktu singkat, perusahaan itu mulai mendapatkan klien besar.

Namanya muncul di berbagai media bisnis.

Sementara itu, perusahaan keluarganya mulai mengalami kekacauan.

Tanpa Nadira yang selama bertahun-tahun mengurus kontrak, memeriksa laporan keuangan, memperbaiki arus kas, dan menyelesaikan masalah yang muncul setiap hari, perusahaan itu perlahan kehilangan kendali.

Laras tidak mampu memahami laporan keuangan yang selama ini disiapkan Nadira.

Kesalahan demi kesalahan terjadi dalam rapat direksi.

Beberapa kontrak besar dibatalkan.

Bank mulai membekukan fasilitas kredit.

Utang menumpuk.

Dan perusahaan keluarga mereka berada di ambang kebangkrutan.

Suatu sore, Nadira baru saja menyelesaikan rapat di ruang direksi kantornya ketika sekretarisnya masuk.

—Bu Nadira, ada tiga orang yang menunggu di lobi. Mereka tidak punya janji.

Nadira mengangkat wajah.

—Siapa?

Sekretarisnya ragu sejenak.

—Ayah, ibu, dan Laras.

Nadira terdiam.

Kemudian ia berjalan menuju pintu kaca.

Ketika pintu terbuka, ia melihat ketiganya berdiri di lobi.

Perbedaannya begitu jelas.

Pak Budi terlihat jauh lebih tua.

Wajahnya lelah dan kehilangan kesombongan yang dulu selalu terpancar.

Bu Ratna tidak lagi mengenakan perhiasan mewah.

Sedangkan Laras berdiri dengan kepala tertunduk.

Tidak ada lagi senyum percaya diri yang dulu selalu ia tunjukkan.

—Nadira… Nak —ujar Pak Budi dengan suara bergetar. —Kita perlu bicara. Tolong.

Nadira menatap mereka dari balik setelan profesional yang dibuat khusus untuknya.

Posturnya tegak.

Wajahnya tenang.

—Kalian punya waktu lima menit, Budi. Masuklah ke ruanganku.

Mereka bertiga masuk.

Begitu pintu tertutup, Bu Ratna tidak mampu menahan air matanya.

Ia mencoba meraih tangan Nadira.

Namun Nadira mundur satu langkah.

Tetap tenang.

Tetap menjaga jarak.

—Nadira, demi Tuhan, tolong kami —isak Bu Ratna. —Bank akan menyita rumah. Perusahaan tinggal menunggu proses likuidasi. Semua orang sudah meninggalkan kami.

Nadira menatap ibunya.

—Tidak ada yang meninggalkan kalian, Ratna. Mereka hanya akhirnya melihat bahwa orang yang selama ini menjadi otak perusahaan bukan Laras. Bukan wajah yang kalian tampilkan di depan publik.

Pak Budi menundukkan kepala.

—Kami tahu, Nak. Kami salah.

Tangannya gemetar.

—Aku benar-benar buta. Aku memperlakukanmu dengan sangat buruk. Tolong kembali ke perusahaan. Aku akan memberikan posisi direktur utama kepadamu. Saham berapa pun yang kamu inginkan akan menjadi milikmu. Kamu boleh mengendalikan semuanya.

Ia menelan ludah.

—Laras juga siap meminta maaf. Kalau perlu, dia akan berlutut di depanmu.

Laras akhirnya mengangkat wajah.

Matanya penuh air mata.

—Tolong, Nadira.

Suaranya hampir tidak terdengar.

—Jangan biarkan semuanya hilang. Aku mengakuinya. Kamu memang yang paling pintar. Kamu yang sebenarnya mengerti bagaimana perusahaan itu berjalan. Aku tidak tahu harus melakukan apa.

Nadira mendengarkan semuanya dalam diam.

Tidak ada amarah di dadanya.

Tidak ada keinginan untuk membalas.

Hanya ketenangan.

—Selama bertahun-tahun, kalian membuatku percaya bahwa nilaiku hanya sebatas seberapa banyak pekerjaan yang bisa kulakukan untuk membuat kalian terlihat sukses —ujar Nadira perlahan. —Aku menunggu ucapan bangga. Aku menunggu pelukan. Aku menunggu kalian mengakui bahwa aku adalah bagian dari keluarga ini.

Ia menatap ayahnya.

—Tapi bagi kalian, aku hanya anak yang dianggap tidak sempurna dan bisa bekerja di belakang layar.

—Kami sudah belajar dari kesalahan itu, Nadira! —seru Pak Budi putus asa. —Kami akan berubah!

Nadira menggeleng perlahan.

—Bagi saya, semuanya sudah berubah sejak malam itu, Budi.

Suaranya tetap lembut.

Namun tidak bisa digoyahkan.

—Saya tidak akan kembali untuk memadamkan kebakaran yang kalian sendiri ciptakan karena kesombongan dan ketidakmampuan kalian menghargai orang yang bekerja untuk perusahaan ini.

Bu Ratna menatapnya dengan wajah pucat.

—Jadi kamu akan membiarkan kami kehilangan rumah?

Nadira tidak menjawab dengan marah.

—Kalian sendiri yang membawa perusahaan itu sampai ke titik ini.

Ia membuka sebuah folder di atas meja.

—Proposal restrukturisasi utang kalian ditolak bank pagi ini.

Pak Budi menatap folder tersebut.

—Dan kebetulan, perusahaan investasi yang sekarang menjadi mitra saya telah membeli portofolio utang perusahaan kalian.

Wajah Pak Budi langsung pucat.

—Apa?

Nadira menatapnya.

—Saya tidak akan menyelamatkan perusahaan itu.

Ia menutup folder.

—Saya akan menjalankan proses restrukturisasi dan menjual aset-aset yang diperlukan untuk mengembalikan investasi para mitra saya.

Pak Budi memegang ujung meja agar tidak jatuh.

—Nadira…

—Waktu kalian sudah habis.

Nadira berjalan menuju pintu dan membukanya.

—Saya sarankan kalian mencari pengacara yang bagus untuk menghadapi proses kebangkrutan perusahaan.

—Nadira! —teriak Laras dalam keputusasaan. —Kami ini keluargamu!

Nadira berhenti di ambang pintu.

Ia menoleh.

Wajahnya tenang.

Kemudian tersenyum.

—Keluargaku adalah diriku sendiri, Laras.

Ia menatap kakaknya untuk terakhir kalinya.

—Aku akhirnya belajar mencintai diriku sendiri. Aku belajar menghormati diriku sendiri. Dan aku belajar menghargai perempuan yang selama ini kalian paksa untuk merasa kecil.

Nadira menarik napas.

—Aku tidak akan pernah mengecilkan diriku lagi hanya agar bisa masuk ke dalam standar siapa pun.

Petugas keamanan kantor kemudian mengantar ketiganya keluar.

Nadira berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya.

Dari sana, ia melihat gedung-gedung Jakarta yang disinari matahari sore.

Ia merapikan jasnya.

Menghela napas.

Lalu tersenyum.

Karena akhirnya ia mengerti sesuatu.

Kesuksesan terbesar dalam hidupnya bukanlah perusahaan yang berhasil ia bangun.

Bukan jumlah uang di rekeningnya.

Bukan jabatan.

Bukan pula pengakuan dari orang-orang yang dulu meremehkannya.

Kesuksesan terbesarnya adalah ketika ia akhirnya berhenti meminta izin kepada orang lain untuk menghargai dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nadira tidak lagi merasa perlu menjadi cantik di mata siapa pun.

Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *