MEREKA MENGIRA AKU HANYA GADIS KAMPUNG MISKIN BERPAKAIAN LUSUH YANG DATANG REBUT WARISAN RATUSAN MILIAR RUPIAH DI JAKARTA! MEREKA TIDAK TAHU, PEREMPUAN YANG MEREKA HINA LIKU-LIKU SEBAGAI KERBAU DESA INI ADALAH SEORANG KAPTEN PILOT KETUA YANG SIAP MENGHANCURKAN MEREKA!

Suara deru mesin taksi online tua yang kupesan dari Stasiun Gambir akhirnya berhenti tepat di depan pilar megah sebuah hunian mewah di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. Aku melangkah keluar menembus panasnya udara ibu kota, menarik sebuah koper tua berbahan kain kusam yang warnanya sudah pudar dimakan zaman. Di dalam tas selempang kulit sintetis milikku, tersimpan sebuah amplop cokelat tebal peninggalan almarhum kakek yang baru saja berpulang ke Rahmatullah satu bulan lalu. Surat peninggalan tua itulah yang memaksa kakiku menginjakkan lantai marmer berkilau milik keluarga besar Wiratama—keluarga kandung dari Ayahku sendiri.
Selama puluhan tahun, Ayah memilih mengasingkan diri di sebuah kampung kecil di lereng Gunungkidul, Yogyakarta. Beliau hidup sangat sederhana, menggarap sawah kecil dan mengajar anak-anak desa membaca. Namun, sebelum Kakek berpulang menuju keabadian, beliau menuliskan pesan terakhir yang menegaskan bahwa Ayah memiliki hak sah atas sebagian besar aset kepemilikan bisnis keluarga Wiratama. Karena kondisi fisik Ayah yang makin lemah dan tidak memungkinkan untuk bepergian jauh, beliaulah yang memohon kepadaku untuk menyelesaikan urusan dokumen kewarisan ini di Jakarta.
Baru tiga langkah aku berjalan melintasi halaman depan yang dihiasi air mancur bernilai ratusan juta Rupiah, tatapan tajam dan penuh keangkuhan langsung menyambutku. Seorang wanita paruh baya berpakaian gaun sutra mahal berdiri di teras utama bersama seorang gadis muda yang berdandan sangat mencolok. Di samping mereka, berdiri Raka—sepupu kandungku yang sejak kecil dijodohkan oleh mendiang Kakek denganku demi menyatukan garis keturunan.
Wanita paruh baya itu—Tante Maya—melipat kedua tangannya di dada. Matanya menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ke sepatu kainku yang berdebu.
“Astaga! Demi Tuhan, ini anak dari Mas Prasetyo yang datang jauh-jogja dari kampung itu?” seru Tante Maya dengan suara melengking penuh nada penghinaan.
Gadis muda di sebelahnya tertawa melengking, menutup mulutnya dengan jemari bertabur cincin berlian. “Aduh, Mama! Aku kira pelayan baru yang didatangkan dari agen penyalur. Pakaian kusam begini mau mengklaim bagian rumah Menteng? Kurang ajar sekali sangkalan orang kampung ini!”
Raka melangkah maju. Lelaki itu mengenakan jas buatan penjahit Italia yang amat mahal. Pandangan matanya begitu dingin, menatapku seolah aku adalah serangga menjijikkan yang tersapu angin malam ke dalam istananya.
“Kamu datang ke Jakarta cuma mau mengemis warisan, kan, Kirana?” tuduh Raka tanpa basa-basi sedikit pun. Bibirnya tersenyum sinis. “Jangan terlalu banyak berharap. Orang dari desa kecil seperti kamu memang biasanya sangat pintar melihat kesempatan untuk mengeruk uang ratusan miliar Rupiah milik keluarga kota.”
Aku memegang erat gagang koper tuaku. Aku tidak membalas dengan amarah. Sebaliknya, aku memamerkan ukiran senyum paling tenang yang kubisa. “Aku datang ke sini bukan untuk mengemis, Mas Raka. Aku datang membawa amanah peninggalan Kakek yang meminta hak Ayah diselesaikan secara hukum.”
Tante Maya tertawa terbahak-bahak, lalu menoleh ke arah putri dan keponakannya sembari berbicara dalam bahasa Inggris beraksen cepat, mengira aku hanyalah gadis desa bodoh yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.
“Look at her… She literally looks like a village cow with blue eyes. How dare she step her dirty shoes into our mansion!” ucap Tante Maya penuh kejahatan dalam nada suaranya.
Kerbau desa bermata biru? Ya Allah… Aku menahan gejolak tawa di dalam dada. Bola mataku yang berwarna kebiruan ini memang warisan genetik dari almarhumah Ibuku yang memiliki darah blasteran. Namun, mereka sama sekali tidak tahu bahwa perempuan yang mereka sebut kerbau desa ini telah menempuh pendidikan penerbangan tingkat tinggi di akademi internasional penerbangan terbaik di dunia.
Aku sengaja memasang wajah kebingungan, seolah tidak mengerti satu kata pun kalimat bahasa Inggris yang baru saja meluncur dari mulutnya. “Maaf, Tante Maya… Tante sedang membicarakan apa ya? Bahasa planet mana yang Tante pakai?”
Mendengar pertanyaan polosku, mereka bertiga tertawa makin kencang. Raka bahkan melambaikan tangannya meremehkan. “Bukan apa-apa! Sudah, tidak usah sok tahu. Orang kampung seperti kamu cukup diam saja dan ikuti aturan di rumah ini!”
Malam harinya, aku tidak ditempatkan di kamar tamu lantai atas yang mewah. Tante Maya secara sengaja menyuruh pelayan membawaku ke kamar paling belakang di dekat gudang tempat penyimpanan barang bekas yang berdebu dan pengap. Tidak ada sambutan hangat, tidak ada hidangan makan malam yang layak. Aku hanya disajikan sisa makanan dingin yang hampir basi.
Namun, aku sama sekali tidak berniat mengeluh. Di dalam kamar yang sepi itu, aku mengunci pintu rapat-rapat. Aku meletakkan koper tuaku di atas ranjang kayu, lalu membukanya perlahan.
Di balik tumpukan kain batik tua peninggalan Ibu, terbaring rapi sebuah seragam kebanggaan berwarna putih bersih lengkap dengan empat garis batang emas di bagian pundaknya. Di sampingnya, tergeletak topi pet kapten penerbang berlambang emas mengkilap, kartu identitas resmi otoritas penerbangan sipil internasional, dan sebuah logbook penerbangan dengan ribuan jam terbang komersial.
Aku membelai garis emas di pundak seragamku itu, lalu tersenyum tipis dalam kegelapan malam. “Malam ini kalian boleh merendahkan aku sebagai gadis kampung tanpa masa depan. Kita lihat besok pagi…”
Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga besar Wiratama berkumpul di ruang tamu utama untuk membacakan dokumen resmi pengalihan aset. Notaris keluarga, Pak Prabowo, telah duduk membawa berkas tebal. Ketika nama Ayahku secara sah dibacakan sebagai pemegang hak 40% saham utama perusahaan induk Wiratama Group, wajah Raka dan Tante Maya langsung berubah pucat pasi bercampur amarah yang meluap-luap!
“Kurang ajar! Ini pasti ada kecurangan!” bentak Raka berdiri menunjuk mukaku. “Kamu pasti memalsukan surat ini! Mana mungkin paman desa yang miskin itu punya hak menguasai aset perusahaan puluhan miliar Rupiah?!”
Aku menatap Raka lurus-lurus tanpa gentar sedikit pun. “Itu hak sah Ayah saya, Mas. Dan sekarang, hak itu diwakilkan sepenuhnya kepadaku.”
Raka mencondongkan tubuhnya ke depannya, tatapannya menyalang penuh kebencian. “Kamu pikir uang bisa membuatmu sejajar dengan derajat kami di Jakarta? Kemampuan apa yang dimiliki gadis berdebu seperti kamu, heh?!”
Belum sempat aku membalas lontaran kejamnya, tiba-tiba ponsel pintar kelas atas yang kupasang mode getar di dalam saku kainku berbunyi nyaring. Layar ponselku menyala terang memunculkan notifikasi pesan mendesak dari Markas Besar Maskapai Pusat:
“Captain Kirana Wiratama, penerbangan khusus armada jet eksekutif dan evaluasi kelayakan armada besok pagi tetap sesuai jadwal. Seluruh jajaran direksi maskapai dan calon klien penerbangan kargo menunggu kehadiran Anda.”
Aku bergegas mematikan layar ponselku. Namun, gerakan reflekku kalah cepat. Raka yang berdiri tepat di sampingku sempat menangkap sekilas baris kata yang tertera di atas layar monitor ponselku!
Mata Raka memicing tajam. Dahi berlapis kerutannya berkerut keras saat dia melangkah mendekatiku dengan tatapan penuh kecurigaan yang makin membara…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Raka menyambar pergelangan tanganku dengan cengkeraman kasar. Matanya membelalak, mencoba membaca ulang bayangan tulisan yang baru saja hilang dari layar ponselku.
“Tunggu dulu! Apa yang baru saja kubaca di ponselmu?!” bentak Raka dengan nada suara yang bergetar penuh kemarahan. “Kenapa ada tulisan ‘Captain’? Pekerjaan apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar desa, Kirana?!”
Aku menepis tangannya dengan gerakan halus namun amat tegas, lalu menyunting senyuman paling polos yang bisa kutampilkan di depan wajahnya. “Ah, itu cuma pesan dari teman-teman grup gim simulator di ponsel, Mas Raka. Di kampung, anak-anak muda sering main game terbangkan pesawat dan saling panggil ‘Kapten’. Mas Raka kenapa panik sekali? Seperti melihat hantu saja.”
Tante Maya yang duduk di sofa kulit impor langsung mendengus jijik, menyilangkan kakinya sembari menyesap teh chamomile mahal dalam cangkir porselen. “Astaga, Raka! Untuk apa kamu membuang energi meladeni pertanyaan gadis bau matahari ini? Sudah jelas dia cuma rekayasa cerita! Paling-paling dia bekerja sebagai buruh pabrik kain atau penjaga toko kelontong di Jogja. Jangan biarkan dia mengalihkan perhatian kita dari pembatalan dokumen warisan ini!”
Notaris Pak Prabowo yang duduk di ujung meja kaca berdeham keras, mencoba meredakan ketegangan yang kian memuncak di ruang tamu tersebut. “Mohon tenang, Bapak dan Ibu sekalian. Dokumen yang ditandatangani oleh almarhum Bapak Hadikusumo Wiratama ini mengikat secara hukum negara. Hak Mas Prasetyo sebagai anak sulung adalah mutlak. Jika ada pihak yang ingin menyanggah, kita harus membawanya ke Pengadilan Negeri.”
“Pengadilan Negeri?!” Tante Maya berdiri seketika, menghentakkan kakinya hingga suara sepatu hak tingginya menggema ke seluruh ruangan. “Demi Tuhan, Pak Prabowo! Kami tidak akan membiarkan satu sen pun Rupiah dari harta keluarga Wiratama jatuh ke tangan anak desa yang tidak jelas ini!”
Malam harinya, ketegangan di dalam rumah mewahnya makin menjadi-jadi. Aku sengaja tidak mengunci pintu kamar belakangku secara rapat. Sekitar pukul sebelas malam, ketika seluruh isi rumah Menteng itu diselimuti kesunyian, aku berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
Saat melintasi lorong remang-remang di dekat ruang kerja pribadi almarhum Kakek, suara bisikan keras terengar dari balik pintu kayu jati yang agak terbuka. Langkah kakiku terhenti seketika.
“Pokoknya besok pagi sebelum Notaris Prabowo datang membawa sertifikat asli, kita harus bertindak!” suara Tante Maya terdengar sangat kentara meluapkan kebencian. “Kunci pintu kamar belakang itu dari luar! Buat dia terjebak di dalam sana sampai batas waktu penandatanganan pengalihan hak berlalu. Begitu dia terlambat datang ke kantor notary, secara otomatis hak penguasaan akan jatuh ke tanganmu, Raka!”
“Tenang, Mama,” jawab Raka dengan tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. “Bukan cuma itu. Rapat direksi PT Wiratama Holdings besok pagi jam sembilan di gedung Sudirman adalah penentuan hidup mati bisnis kita. Kita bakal menandatangani kontrak penerbangan kargo bernilai Rp 150 Miliar dengan maskapai penerbangan raksasa, SkyWings Aviation. Begitu kontrak kargo itu cair, kita punya cukup dana tunai untuk menyuap pengadilan dan menghapus nama si gadis kampung itu dari silsilah warisan selamanya!”
Ya Allah! Astaga… Ternyata tidak hanya keangkuhan dan penindasan kata-kata yang mereka simpan selama dua hari ini. Mereka sedang merencanakan kejahatan terstruktur untuk merampas hak Ayahku dan menjebakku dalam kemelaratan!
Aku merapatkan tubuhku ke dinding dingin lorong. Tanganku mengepal erat hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan. Mereka mengira aku adalah mangsa empuk yang bisa dikurung dalam sangkar besi. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang memegang kendali atas nasib bisnis Rp 150 Miliar mereka besok pagi adalah perempuan yang selama ini mereka anggap tak lebih berharga dari sekadar kerbau desa!
Aku kembali ke kamar tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Di dalam kamar yang remang-remang, aku menyalakan ponsel pintarku, lalu menekan nomor sambungan langsung ke Direktur Operasional Pusat Maskapai SkyWings Aviation.
“Halo, Kapten Kirana?” suara di ujung telepon terdengar amat hormat. “Ada perkembangan apa untuk jadwal inspeksi kargo dan penandatanganan kerja sama besok pagi?”
“Pak Hendra,” ucapku dengan suara tegas, dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun. “Alihkan seluruh agenda rapat evaluasi kelayakan vendor kargo PT Wiratama Holdings besok jam sembilan pagi ke ruang rapat utama lantai 30 Gedung Astra Sudirman. Dan pastikan seluruh tim hukum maskapai hadir membawa dokumen pembatalan klausul kontrak.”
“Baik, Kapten! Apakah ada indikasi pelanggaran transparansi dari pihak penyedia kargo?” tanya Pak Hendra heran.
“Bukan cuma pelanggaran transparansi, Pak,” balasku sembari memandang seragam kapten bersetrip empat yang tergantung rapi di balik pintu. “Tetapi juga pelanggaran etika dan moral yang sangat berat. Saya sendiri yang akan memimpin rapat penentuan nasib mereka.”
Keesokan harinya, tepat pukul tujuh pagi, suasana rumah Menteng sudah sangat riuh. Tante Maya dan Raka tampak mengenakan pakaian sangat mewah. Raka memakai jas kustom bernilai puluhan juta Rupiah, sementara Tante Maya memamerkan tas kulit buaya impor terbarunya.
Mereka berdua terkejut bukan main saat melihatku sudah berdiri di ruang tamu utama. Aku tidak terkurung di kamar belakang seperti rencana jahat mereka—karena aku telah keluar melalui pintu samping sejak subuh tadi untuk menaruh kopetku di dalam mobil dinas maskapai yang menjemputku secara sembunyi-sembunyi.
Raka menatapku dengan mata membelalak heran. “Kamu… kenapa kamu tidak berada di dalam kamar?!”
Aku tersenyum sangat manis. “Kenapa, Mas Raka? Mas berharap aku terkunci di kamar belakang dan menangis memohon ampun?”
Wajah Raka memerah padam karena malu dan terkejut. Namun dia berusaha menutupi kegugupannya dengan tawa buatan yang sangat kasar. “Cih! Jangan banyak tingkah! Hari ini adalah hari besar bagi keluarga Wiratama. Kami ada rapat bisnis bernilai puluhan miliar Rupiah di kawasan Sudirman dengan petinggi maskapai penerbangan internasional! Orang kampung seperti kamu sebaiknya angkat kaki dari rumah ini sebelum saya panggilkan sekuriti untuk mengusirmu secara paksa!”
“Oh, rapat dengan maskapai penerbangan?” bisikku santai sembari membetulkan posisi jam tangan penerbanganku. “Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang sebenarnya akan diusir hari ini.”
Tanpa mempedulikan teriakan cacian Tante Maya yang menggelegar di ruang tamu, aku melangkah keluar menuju mobil sedan hitam berpelat khusus penerbangan yang sudah menungguku di luar gerbang.
Pukul delapan lewat empat puluh lima menit, suasana di lantai 30 Gedung Tinggi Kawasan Sudirman tampak sangat megah. Ruang rapat utama berbingkai kaca tebal itu menyajikan pemandangan lanskap pencakar langit Jakarta yang sangat memukau. Di dalam ruang rapat tersebut, Raka dan Tante Maya duduk di kursi jajaran direksi PT Wiratama Holdings dengan dada terbusung bangga. Di hadapan mereka, duduk jajaran direktur eksekutif dari SkyWings Aviation—maskapai penyedia jasa transportasi udara terbesar di Asia Tenggara.
Raka memamerkan senyum paling sombongnya sembari menggeser dokumen kontrak di atas meja kaca. “Bapak-Bapak Direksi SkyWings yang terhormat, perusahaan kami telah menyiapkan seluruh armada truk darat untuk mendukung operasional kargo udara ini. Kita bisa langsung menandatangani kesepakatan bernilai Rp 150 Miliar ini sekarang juga.”
Namun, Wakil Direktur Utama SkyWings Aviation justru mengangkat tangannya, menahan pena berujung emas yang dipegang Raka. “Mohon maaf, Bapak Raka. Sesuai dengan regulasi keselamatan dan etika penerbangan tertinggi di maskapai kami, seluruh kontrak bernilai di atas Rp 100 Miliar harus mendapatkan persetujuan mutlak dan tanda tangan basa dari Chief Pilot sekaligus Direktur Kelayakan Operasional armada kami.”
Dahi Raka berkerut heran. “Chief Pilot? Maksud Bapak… seorang pilot yang memutuskan kontrak bisnis komersial raksasa seperti ini?”
“Tentu saja,” jawab Wakil Direktur Utama dengan senyum penuh penghormatan. “Beliau adalah penerbang terbaik yang pernah dimiliki maskapai ini. Beliau yang menentukan apakah sebuah perusahaan layak menjadi mitra terbang kami atau tidak. Dan beliaulah yang baru saja tiba di gedung ini.”
Tepat pada detik itu, dua pintu kayu mahoni berukuran raksasa di ujung ruangan terbuka lebar. Dua orang petugas keamanan penerbangan berseragam resmi berdiri tegap memberikan penghormatan senjata.
Langkah kaki bersepatu kulit hitam yang mengkilap bergema keras menembus kesunyian ruangan.
Seorang perempuan berpostur tegap melangkah masuk dengan penuh keanggunan dan wibawa yang sangat luar biasa. Dia mengenakan seragam kapten penerbang berwarna biru tua bersih, empat batang garis emas murni berkilau di kedua pundaknya, pin sayap penerbang bersepuh emas terpasang gagah di dada sebelah kiri, dan topi pet kapten terapit sempurna di bawah lengan kirinya.
Seluruh jajaran direksi maskapai langsung berdiri dari kursi mereka dan memberikan penghormatan tegap secara serentak.
“Selamat pagi, Kapten Kirana!” seru para direktur eksekutif dengan penuh rasa hormat.
Suasana ruangan seketika berubah menjadi sehening kuburan.
Cangkir kopi porselen yang sedang dipegang Tante Maya terlepas dari jemarinya, jatuh menghantam lantai marmer dan pecah berkeping-keping! Kopi panas membasahi gaun mewahnya, namun wanita itu sama sekali tidak meringis. Matanya melotot hampir melompat keluar dari rongganya, menatap sosok perempuan gagah yang berdiri di ujung meja rapat itu!
Raka berdiri tersentak hingga kursinya terdorong ke belakang dan tumbang ke lantai. Wajahnya yang semula penuh kesombongan mendadak berubah pucat pasi bagaikan mayat yang kehilangan seluruh darahnya!
“K-Kirana…?! KAU… KAU PILOT?!” pekik Raka dengan suara melengking pecah.
Aku berjalan pelan mendekati meja utama. Tatapan mataku yang berwarna kebiruan menusuk lurus ke dalam bola mata Raka dan Tante Maya yang sedang menggigil ketakutan.
Aku menarik kursi utama di kepala meja, lalu duduk dengan tenang sembari menyilangkan kakiku. Kemudian, aku memajukan tubuhku dan berbicara dalam bahasa Inggris yang sangat fasih, beraksen amat sempurna tanpa cela sedikit pun:
“Good morning, Tante Maya. Good morning, Cousin Raka. Do I still look like a village cow with blue eyes to you today?”
Tante Maya terduduk lemas di lantai, menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetaran hebat. “D-Demi Tuhan… Kamu… kamu mengerti semua bahasa Inggris yang kami ucapkan selama ini?!”
“Tentu saja aku mengerti setiap kata busuk yang keluar dari mulut kalian!” jawabku dengan suara menggelegar yang menggetarkan seluruh ruangan rapat tersebut. “Kalian menghina pakaianku, kalian merendahkan Ayahku yang hidup sederhana di desa, dan kalian mengira aku adalah gadis bodoh yang bisa kalian injak-injak demi menguasai harta warisan Kakek!”
Raka mencoba melangkah mendekatiku dengan tubuh gemetar, menyatukan kedua telapak tangannya memohon. “K-Kirana… Kirana, sepupuku! Ini… ini cuma kesalahpahaman keluarga! Kami tidak tahu kalau kamu adalah Kapten Senior di maskapai raksasa ini! Tolong… tolong tangani kontrak Rp 150 Miliar ini, Kirana! Perusahaan keluarga kita akan bangkrut total kalau kontrak ini dibatalkan!”
Aku mengambil berkas penilai kelayakan vendor yang tergeletak di atas meja, lalu membukanya perlahan. Dengan menggunakan pena berujung tinta merah, aku menggoreskan garis silang berukuran raksasa di atas lembar persetujuan tersebut, lalu menandatanganinya dengan tegas!
sttt! Suara goresan pena itu terdengar bagaikan vonis mati bagi masa depan Raka.
“Atas nama otoritas penerbangan keselamatan dan etika tertinggi SkyWings Aviation,” ucapku dingin sembari melempar berkas itu tepat ke dada Raka, “kontrak kerja sama kargo dengan PT Wiratama Holdings secara resmi saya BATALKAN dan dinyatakan REJECTED selamanya!”
“TIDAAAK!” jerit Raka histeris meremas rambutnya sendiri. “Kamu tidak bisa melakukan ini! Kamu menghancurkan bisnis keluarga Wiratama!”
“Bukan aku yang menghancurkan bisnis ini, Raka,” balasku sembari berdiri dan menatapnya penuh rasa jijik. “Kesombongan, kesetanan harta, dan cara kalian merendahkan manusia lainlah yang menghancurkan diri kalian sendiri! Jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena pakaian kusam dan asal usul desanya. Karena perempuan yang kalian hina di tanah Menteng adalah orang yang mengendalikan pesawat ribuan kaki di atas langit!”
Aku memutar badanku, berniat melangkah keluar meninggalkan ruangan yang dipenuhi tangisan histeris Tante Maya dan Raka yang terkulai lemas di lantai marmer.
Namun, baru tiga langkah aku berjalan menuju pintu keluar, Notaris Pak Prabowo mendadak berlari terengah-engah masuk ke dalam ruang rapat membawa sebuah map segel merah berlogo Mahkamah Agung.
“Kapten Kirana! Tunggu, Kapten!” teriak Pak Prabowo dengan napas memburu.
Aku menghentikan langkahku, membalikkan badan heran. “Ada apa lagi, Pak Prabowo? Bukankah urusan dokumen warisan sudah jelas?”
Pak Prabowo menyapu keringat dingin di dahinya, lalu membuka segel merah tersebut dengan jemari yang bergetar. “Ada… ada klausul rahasia peninggalan almarhum Bapak Hadikusumo Wiratama yang baru saja dibuka oleh Lembaga Hukum Negara pagi ini!”
Seluruh jajaran direksi dan Raka yang tergeletak di lantai mendadak menahan napas mereka.
“Klausul rahasia apa, Pak?!” tanya Raka dengan sisa-sisa harapan di matanya.
Pak Prabowo membaca lembaran kertas tebal berstempel emas itu dengan suara yang bergema nyaring di dalam ruangan kaca tersebut:
“Bahwa sesungguhnya, seluruh modal awal pembentukan PT Wiratama Holdings dan pembelian rumah mewah Menteng tiga puluh tahun lalu bukan berasal dari Kakek kalian… melainkan dari dana kepercayaan milik Mas Prasetyo—Ayah dari Kapten Kirana! Ayah Anda adalah pemilik tunggal 100% saham induk perusahaan yang sengaja mengatasnamakan Kakek demi menjaga kerukunan keluarga!”
Ruangan rapat itu makin mencekam! Raka dan Tante Maya membelalak tak percaya.
Namun Pak Prabowo belum selesai membaca. Dia menatap Raka dan Tante Maya dengan pandangan penuh belas kasihan, lalu membacakan tiga baris kalimat terakhir dari surat keputusan hukum negara tersebut:
“Dan berdasarkan dokumen adopsi resmi tahun 1995, status Raka dan Maya dinyatakan batal secara hukum karena pemalsuan dokumen silsilah, sehingga keduanya sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Wiratama dan wajib mengosongkan seluruh aset Menteng dalam waktu 1×24 jam!”
