PART 2
Pukul 14.00 WIB, ruang pertemuan di lantai atas Hotel Grand Imperium sudah terisi penuh.
Keluarga besar Wiraatmadja hadir lengkap.
Ratna memesan minuman termahal, Tante Siska meminta kue-kue impor, dan sepupunya, Danu, memesan fasilitas spa di hotel tersebut.
Mereka menganggap semua itu fasilitas gratis.
Maya membiarkan mereka menandatangani semua nota pesanan atas nama masing-masing.
Setelah semua duduk, Ratna meletakkan dokumen di atas meja.
“Ada 3 syarat yang harus kamu penuhi hari ini,” kata Ratna dengan nada memerintah. “Sertifikat apartemen Menteng dibaliknama atas nama Reno, tabunganmu dimasukkan ke kas keluarga, dan Montalbán Group harus memenangkan Wiraatmadja Karya dalam Proyek Alborán.”
Maya menatap surat itu tanpa menyentuhnya.
“Bagus sekali,” sahut Maya tenang. “Kalau kita mau berbagi segalanya, mari kita mulai dari utang kalian.”
Maya mengeluarkan sebuah berkas tebal.
Dia membacakan rinciannya satu per satu.
Tante Siska telah menerima Rp 3.500.000.000 dari kas perusahaan dalam 4 tahun terakhir.
Danu menerima Rp 4.200.000.000 tanpa alasan yang jelas.
Beberapa kerabat lain menerima gaji bulanan dari posisi fiktif di Wiraatmadja Karya.
Senyum di wajah para kerabat langsung hilang.
Pintu ruangan terbuka.

General Manager Hotel Grand Imperium masuk bersama dua stafnya.
“Ibu Maya, apakah tagihan makanan dan fasilitas spa para tamu ini bisa dimasukkan ke akun korporat Anda?”
Ratna tertegun. “Ibu Maya?”
Maya menggelengkan kepala. “Tidak. Biarkan mereka membayar pesanan mereka masing-masing.”
Kasir hotel membawa mesin pembayaran.
Kartu kredit Ratna ditolak.
Kartu milik Tante Siska tidak memiliki saldo yang cukup.
Tante Siska terpaksa menelepon temannya untuk meminta transfer darurat.
Danu harus membatalkan pesanan minumannya.
Ratna masih berusaha menyakinkan dirinya bahwa Maya hanyalah seorang manajer tingkat menengah.
Sampai akhirnya, Direktur Operasional Montalbán Group masuk membawa folder dokumen berwarna merah.
“Ibu Presiden Komisaris, kami butuh tanda tangan Anda untuk membatalkan seluruh hak istimewa yang pernah diajukan oleh Wiraatmadja Karya.”
Wajah Reno berubah pucat.
Ratna mematung di kursinya.
Maya membuka folder tersebut.
Sebelum merobek berkas kerja sama itu, dia menatap suaminya.
“Reno, tidak peduli siapa aku saat ini. Katakan di depan mereka semua, siapa yang salah kemarin?”
Reno terdiam cukup lama.
Dia melihat ibunya, lalu melihat Maya.
Keterlambatan Reno dalam menjawab adalah bukti yang tidak lagi bisa dimaafkan oleh Maya.
Maya membubuhkan tanda tangannya, membatalkan seluruh hubungan bisnis dengan Wiraatmadja Karya, lalu berjalan keluar dari hotel.
Reno menyusulnya ke apartemen Menteng sore itu.
“Aku minta maaf,” kata Reno di ambang pintu.
“Untuk apa?”
“Karena tidak membela kamu.”
“Kamu tidak minta maaf karena itu, Reno. Kamu takut karena sekarang kamu tahu perusahaanku yang memegang kendali atas nasib perusahaan keluargamu.”
“Itu tidak benar, Maya!”
“Kalau kemarin aku hanya seorang buruh harian, apakah kamu akan tetap diam saat ibumu merobek fotoku dan mengusirku?”
Reno tidak bisa menjawab.
Maya memintanya tidur di kamar tamu.
Dalam hitungan hari, kebohongan keluarga Wiraatmadja mulai runtuh.
Pihak hotel menarik fasilitas mobil ber-AC dan sopir pribadi yang biasa dipakai Ratna.
Klub golf membatalkan keanggotaannya karena tunggakan iuran bulanan.
Para kerabat yang biasanya berkumpul di rumah Pondok Indah mendadak menghilang.
Danu datang ke rumah Ratna dengan wajah marah.
“Kapan Maya mau menandatangani kontrak Proyek Alborán?”
“Aku tidak tahu,” jawab Ratna layu.
“Harusnya Tante tahu! Tante bilang semuanya sudah beres!”
Tante Siska juga datang menuntut uang bulanan.
“Gaji bulan ini bagaimana? Anakku harus bayar uang kuliah!”
Ratna menatap mereka dengan mata lelah.
“Kas perusahaan kosong. Sekarang kalian yang harus membantu bayar utang.”
Dalam waktu kurang dari 15 menit, mereka semua pergi meninggalkan rumah itu.
Tidak ada satu pun yang menawarkan bantuan.
Reno mulai memeriksa pembukuan Wiraatmadja Karya secara mandiri.
Dia menemukan bukti bahwa selama bertahun-tahun, ibunya menjual aset keluarga demi membiayai gengsi para saudaranya.
Bahkan, rumah yang mereka tempati sudah dijadikan jaminan bank sejak 2 tahun lalu.
Reno menghampiri Maya dua hari kemudian.
“Aku yang salah,” aku Reno. “Aku biarkan kamu masuk ke dalam keluarga ini padahal aku tahu betapa beracunnya mereka. Aku takut menghadapi ibuku sendiri.”
Untuk pertama kalinya, Reno tidak mencari alasan.
Namun, Ratna belum menyerah.
Dia menggelar rapat pemegang saham darurat untuk mencopot Reno dari jabatan Direktur Utama.
Ratna mengumpulkan seluruh kerabat dan menuduh Reno telah terpengaruh oleh Maya hingga merusak bisnis keluarga.
Maya hadir dalam rapat tersebut karena namanya disebut berulang kali dalam dokumen gugatan.
Ratna berbicara selama 20 menit tentang kehormatan keluarga, tradisi, dan kesetiaan.
Saat Ratna selesai, Maya memproyeksikan laporan keuangan aktual di layar besar.
Di sana tertera daftar pengeluaran fiktif, pembayaran ke rekening pribadi kerabat, serta nota makan malam mewah yang dibebankan ke perusahaan.
“Saat ada pembagian uang, kalian mengaku sebagai keluarga,” kata Maya sinis. “Tapi saat ada utang, kalian mengaku sebagai individu yang terpisah.”
Ratna memukul meja. “Kamu orang luar! Kamu tidak mengerti arti nama besar Wiraatmadja!”
Reno berdiri dari kursinya.
“Tidak, Ibu. Maya benar.”
Semua orang terdiam menatap Reno.
“Selama bertahun-tahun aku membayar semua pemborosan ini hanya agar tidak ada yang marah padaku. Aku mengorbankan perusahaan dan membiarkan Maya disakiti. Hari ini semuanya berhenti.”
Reno memotong berkas rapat darurat itu menjadi dua.
Dia mengumumkan pemutusan hubungan kerja bagi seluruh kerabat yang tidak memiliki kontribusi nyata, pembatalan gaji fiktif, dan penghematan total.
Tante Siska berteriak histeris. “Kami ini keluargamu!”
“Saat perusahaan butuh bantuan 10 menit lalu, tidak ada satu pun dari kalian yang mau mengeluarkan uang Rp 100.000,” jawab Reno tegas.
Usulan Ratna ditolak oleh pemegang saham independen.
Kekuasaannya runtuh sepenuhnya pada sore itu.
Dua hari kemudian, asisten rumah tangga yang telah bekerja 15 tahun di rumah Pondok Indah menemui Maya.
Dia menyerahkan sebuah kotak kayu kecil berisi foto lama.
Dalam foto itu, tampak Ratna muda sedang menggendong Reno yang masih bayi.
Foto itu terlihat pernah dirobek dan direkatkan kembali menggunakan selotip kuning yang sudah usang.
“Mertua Bu Ratna dulu yang merobeknya,” bisik asisten rumah tangga itu. “Waktu Bu Ratna baru menikah, dia diperlakukan seperti pembantu. Dia tidak boleh duduk di meja makan dan selalu dihina.”
Malamnya, Maya menemui Ratna di ruang tengah yang mulai sepi.
Maya meletakkan foto lama itu di atas meja.
“Waktu Ibu merobek foto pernikahan saya, apakah Ibu ingat foto ini?”
Ratna tertegun, matanya menatap tajam ke arah foto usang itu.
“Itu beda,” kata Ratna pelan.
“Sama sekali tidak beda,” sahut Maya. “Ibu merasa berhak menyiksa orang lain hanya karena Ibu pernah disiksa di masa lalu. Ibu pikir penderitaan memberi Ibu hak untuk menjadi kejam.”
Ratna mengepalkan tangannya, tapi bibirnya gemetaran.
Dia tidak bisa menjawab.
Reno menyaksikan percakapan itu dari pintu.
Malam itu, Reno menyerahkan seluruh laporan pembenahan perusahaan kepada Maya.
Dia tidak meminta Proyek Alborán diberikan kepadanya.
Dia menyewa apartemen kecil di dekat kantor dan pindah dari rumah ibunya.
“Aku harus membereskan kekacauan ini sendiri,” kata Reno kepada Maya. “Jangan beri aku proyek apa pun sampai perusahaan ini benar-benar sehat secara mandiri.”
Bulan-bulan berikutnya berjalan dengan ketat.
Proyek Alborán akhirnya jatuh ke tangan perusahaan konstruksi lain yang lebih profesional.
Reno menerima keputusan itu tanpa protes.
Dia memotong gaji direksi, menjual mobil-mobil dinas mewah, dan mulai turun langsung ke lapangan.
Setelah 6 bulan, Wiraatmadja Karya berhasil memenangkan tender kecil untuk perbaikan gedung sekolah negeri di Tangerang.
Pekerjaan itu tidak mewah, tapi didapat murni karena penawaran harga dan kualitas yang masuk akal.
Sebelum menandatangani kontrak tersebut, Reno memastikan tidak ada campur tangan dari Montalbán Group.
Sementara itu, Ratna menjual rumah mewahnya di Pondok Indah untuk melunasi sisa utang perusahaan.
Dia pindah ke sebuah rumah sederhana di kawasan Bintaro.
Tanpa mobil mewah dan tanpa pengawal, para kerabat tidak pernah berkunjung lagi.
Ratna mulai mengisi waktunya dengan mengajar kerajinan tangan untuk ibu-ibu di sekitar kompleks rumahnya.
Di sana, orang-orang menyapanya sebagai Bu Ratna, bukan sebagai nyonya besar Wiraatmadja.
Pada hari ulang tahun Ratna, Maya datang berkunjung.
Maya meletakkan sebuah bingkai foto di meja tamu.
Di dalamnya ada foto pernikahan Maya dan Reno yang dulu sempat dirobek.
Foto itu telah diperbaiki oleh ahli restorasi dokumen.
Garis robekannya masih terlihat jelas, tetapi dua sisinya sudah menyatu kembali dengan rapi.
Ratna menyentuh kaca bingkai foto tersebut.
“Foto ini… aku minta maaf,” kata Ratna pelan tanpa melihat ke arah Maya.
Maya tidak menjawab “tidak apa-apa”.
Sebab, beberapa luka memang membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih.
Namun, Maya duduk di sampingnya dan meminum teh yang disajikan.
Satu tahun kemudian, Reno dan Maya kembali tinggal bersama di apartemen mereka.
Mereka menggantung foto pernikahan yang direstorasi itu di dinding ruang makan.
Suatu malam, saat mereka sedang makan malam sederhana di meja kayu yang baru, Reno tersenyum tipis.
“Meja ini terasa jauh lebih berat dari yang dulu,” kata Reno.
Maya menatap suaminya.
“Aku sengaja memilih meja ini.”
“Kenapa?”
“Supaya tidak ada lagi orang yang bisa membalikkannya dengan mudah,” jawab Maya. “Dan supaya kita ingat, keluarga bukan tentang siapa yang paling kuat menindas, tapi tentang siapa yang mau bertahan untuk memperbaiki kerusakan.”
Di luar jendela, lampu-lampu kota Jakarta menyala terang.
Foto di dinding tetap menampakkan garis robekannya.
Namun, garis itu tidak lagi menjadi tanda kehancuran, melainkan pengingat bahwa masa lalu tidak perlu terulang kembali.
