PART 2
Pukul 9:00 pagi berikutnya, Maya kembali ke rumah keluarga Aris.
Dia tidak datang sendiri.
Di belakangnya berdiri pengacara senior, seorang notaris publik, dan tim dari jasa pengangkutan barang.
Hampir seluruh perabot di rumah itu—mulai dari sofa kulit, televisi, kulkas dua pintu, hingga mesin cuci otomatis—dibeli menggunakan uang pribadi Maya sebelum pernikahan.
Semua bukti pembayaran dan kuitansi atas nama Maya Valda Sanjaya tersimpan rapi di dalam map hitam pengacaranya.
Aris keluar dari pintu depan dengan wajah penuh emosi.
“Begitu saya menandatangani kesepakatan investasi dengan Valda Investment Group besok, kamu akan menyesal!” teriak Aris.
“Kamu bukan siapa-siapa tanpa saya!”
Maya menatap Aris dengan pandangan dingin.

“Kalau begitu, pastikan kamu tidak datang terlambat ke pertemuan esok hari.”
Aris mengerutkan dahi, tidak memahami arti kata-kata itu.
Satu jam setelah truk pengangkut barang pergi, kepala keamanan Maya memberikan laporan lewat telepon.
Aris telah menghubungi pemilik kontrakan lama Maya di Tebet, menuntut agar Maya diusir.
Aris juga mengirimkan email ke kantor logistik tempat Maya berpura-pura bekerja, menuduh Maya mencuri uang perusahaan.
Aris benar-benar berusaha menghancurkan hidup seorang wanita yang dianggapnya lemah dan tidak berdaya.
Maya mendengar semua laporan itu tanpa sedikit pun niat untuk membalas secara kasar.
Siang harinya, di kantor pusat Valda Investment Group, Maya memanggil tim hukum dan direktur investasinya.
Dia memerintahkan agar penandatanganan berkas pendanaan Teknologi Nusantara dipindahkan ke acara gala bisnis resmi.
Acara itu akan dihadiri oleh jajaran direksi, jurnalis media bisnis, dan para investor senior.
Maya menambahkan satu pasal khusus dalam draf kontrak kerja sama.
Klausul Etika dan Integritas Pemimpin: Setiap bentuk tindakan kekerasan, pelanggaran hukum, laporan palsu, atau perbuatan tidak beretika dari pendiri perusahaan akan membatalkan seluruh komitmen pendanaan secara otomatis.
“Apakah Ibu ingin langsung menolak proposal mereka sekarang?” tanya direktur investasi.
“Tidak,” jawab Maya singkat.
“Saya ingin Aris menandatangani dokumen itu terlebih dahulu.”
Sore harinya, konfirmasi masuk dari pihak Aris.
Aris telah menyetujui seluruh isi draf awal tanpa membaca lembar demi lembar klausul secara mendalam. Dia terlalu percaya diri bahwa dana 90 miliar rupiah akan segera masuk ke rekening perusahaannya.
Dua malam kemudian, gala bisnis digelar di ballroom hotel bintang lima kawasan Sudirman.
Aris datang dengan pakaian sangat rapi.
Di sampingnya, Rosma berjalan bangga mengenakan gaun merah terang.
Aris tersenyum lebar kepada setiap pengusaha yang menyapanya.
Di hadapan para wartawan, Aris berulang kali menyombongkan diri bahwa Teknologi Nusantara akan menjadi pemain utama dalam industri digital nasional.
Maya mengamati pemandangan itu dari ruang pantau kaca di lantai atas.
Dia tidak lagi mengenakan gaun pengantin yang dinodai air sabun kotor.
Maya mengenakan setelan jas bisnis berwarna biru tua yang sangat elegan.
Di sampingnya berdiri Rina, pengacara perusahaan, dan Hendra yang menjabat sebagai direktur eksekutif investasi.
Rina telah menyerahkan surat pernyataan resmi mengenai insiden penganiayaan di rumah Aris.
Selain itu, rekaman kamera pengawas di lorong rumah serta kesaksian dari pekerja rumah tangga telah mengonfirmasi seluruh kejadian malam itu.
Maya tidak berniat menyebarkan video kekerasan tersebut ke media sosial.
Dia menyelesaikan segala urusan sesuai hukum dan prosedur hukum yang berlaku.
Tepat pukul 21:15, Hendra naik ke atas panggung utama.
“Perusahaan Teknologi Nusantara telah melewati kualifikasi teknis awal,” umum Hendra di depan mikrofon.
“Sebelum proses pencairan dana senilai 90 miliar rupiah dilakukan, pendiri perusahaan wajib menandatangani dokumen pernyataan kepatuhan, transparansi, dan integritas kepemimpinan.”
Aris naik ke panggung dengan langkah mantap di bawah kilatan lampu kamera.
Pengacara dari Valda Investment Group menyerahkan dokumen dan menawarkan waktu jika Aris ingin membacanya kembali bersama tim hukumnya.
“Tidak perlu,” jawab Aris percaya diri ke arah kamera.
“Saya tidak punya rahasia apa pun. Perusahaan saya bersih dan berintegritas.”
Rosma bertepuk tangan paling keras dari meja paling depan.
Petugas menunjukkan halaman pertama.
“Di sini Anda menyatakan secara sadar bahwa tidak ada kasus hukum, tindakan kekerasan, atau laporan palsu yang sedang melibatkan diri Anda.”
Aris menandatangani halaman pertama tanpa ragu.
Dia melanjutkan menandatangani halaman kedua dan halaman ketiga.
Hendra menerima kembali map tersebut tanpa memberikan senyuman.
“Terima kasih. Dewan komisaris akan melakukan verifikasi akhir sebelum pencairan tahap pertama.”
Aris membayangkan tepuk tangan meriah dan penyerahan plakat secara simbolis.
Namun yang dia terima hanyalah segelas minuman dan ucapan selamat yang terasa dingin dari para tamu.
Dia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, tim kepatuhan internal sedang memasukkan berkas laporan kepolisian, email fitnah yang dikirimkan Aris ke kantor lama Maya, serta dokumen gugatan perceraian ke dalam sistem verifikasi akhir.
Keesokan paginya, Valda Investment Group mengeluarkan surat resmi pembekuan investasi secara permanen.
Keputusan itu diambil secara sah melalui rapat dewan komisaris berdasarkan pelanggaran klausul etika dan pemalsuan dokumen pernyataan.
Teknologi Nusantara sangat bergantung pada dana 90 miliar rupiah tersebut untuk membayar utang vendor dan gaji karyawan.
Kabar pembekuan investasi dari Valda Investment Group tersebar cepat di lingkungan pasar modal.
Dua lembaga pendukung yang awalnya berniat ikut menyuntikkan dana langsung menarik diri.
Klien utama Teknologi Nusantara meminta klarifikasi dan menghentikan kontrak kerja sama sementara.
Dalam hitungan jam, posisi Aris berbalik total.
Dia mulai menelepon Hendra secara terus-menerus.
Awalnya Aris berbicara dengan nada tinggi dan mengancam akan menuntut pencemaran nama baik.
Ketika ancamannya tidak ditanggapi, nada bicaranya berubah menjadi permohonan.
“Saya harus bicara langsung dengan pimpinan tertinggi Valda Investment Group,” desak Aris di telepon.
“Ini tidak adil. Ada orang yang mencoba mencampuradukkan masalah pribadi saya dengan urusan bisnis!”
Hendra menjawab dengan suara datar.
“Pimpinan tertinggi kami sudah memeriksa seluruh berkas Anda secara langsung.”
Pukul 16:30, Aris datang ke kantor pusat Valda Investment Group di kawasan Rasuna Said.
Petugas keamanan mengawalnya menuju ruang rapat utama di lantai tertinggi.
Tidak ada wartawan, tidak ada kamera, dan tidak ada pesta.
Di ruangan berinding kaca itu hanya ada meja kayu besar, Hendra, dan sebuah kursi pimpinan yang membelakangi pintu masuk.
Aris langsung berbicara keras sebelum sempat duduk.
“Pasti mantan istri saya yang menyebarkan fitnah ini!” seru Aris.
“Maya itu hanya mantan staf administrasi yang sakit hati karena saya ceraikan!”
Hendra tidak menjawab sepatah kata pun.
“Di mana pimpinan kalian? Saya mau menjelaskan fakta sebenarnya!”
Kursi besar di ujung meja berputar secara perlahan.
Maya duduk di sana, menatap Aris dengan pandangan dingin.
Aris membeku di tempatnya selama beberapa detik.
“Kamu… Kenapa kamu ada di ruangan ini?”
Hendra berdiri dari kursinya.
“Pak Aris, perkenalkan. Ini adalah Ibu Maya Valda Sanjaya. Pendiri, pemilik saham utama, sekaligus Presiden Komisaris Valda Investment Group.”
Wajah Aris berubah pucat seketika.
Matanya membelalak penuh ketidakpercayaan.
Rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi rasa takut, lalu berubah menjadi kepanikan yang luar biasa.
“Tidak mungkin…” bisik Aris pelan.
“Kamu dulu naik transportasi umum. Kamu tinggal di kontrakan biasa. Kamu cuma staf kantor logistik…”
“Saya memilih hidup sederhana karena saya ingin menemukan orang yang tulus,” jawab Maya tenang.
“Jadi… Semua aset dan gedung ini milikmu?”
“Perusahaan ini milik saya.”
Aris terduduk lemas di kursi.
Dia mencoba memajukan tubuhnya ke arah meja.
“Maya, kamu bisa memperbaiki ini semua, kan?”
Maya tetap diam.
“Kamu bisa mencairkan kembali dana 90 miliar itu. Kita bisa bilang ke media kalau masalah kemarin hanya salah paham keluarga.”
“Ibu saya cuma emosi, dan saya sedang tidak sadar malam itu.”
“Kita tidak perlu membesarkan masalah kecil ini.”
Maya memandang Aris tanpa ekspresi marah.
Ketenangan Maya justru membuat Aris semakin gemetar.
“Kamu masih tidak mengerti apa kesalahanmu,” kata Maya.
“Saya cuma khilaf, Maya.”
“Bukan khilaf. Kamu memperlakukan saya dengan buruk saat kamu berpikir saya berada di bawah kendalimu.”
“Ketika saya melawan, kamu menggunakan kekerasan.”
“Keesokan harinya, dalam keadaan sadar, kamu mencoba menghancurkan tempat tinggal dan pekerjaan saya.”
“Lalu kamu menandatangani surat pernyataan palsu hanya karena kamu yakin tidak ada orang yang sanggup menuntutmu.”
Aris mengepalkan tangannya.
“Kamu menyembunyikan identitasmu selama 2 tahun! Apakah itu yang kamu sebut kejujuran?”
Maya mengangguk pelan.
“Saya menyembunyikan jumlah rekening saya, tapi saya tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain.”
“Saya tidak pernah menuntut kamu harus kaya atau patuh untuk bisa dihargai.”
“Kamu yang membutuhkan wanita lemah agar kamu merasa berkuasa.”
Aris tidak bisa membantah satu kata pun.
Maya membuka map tebal di depannya dan meletakkannya di tengah meja.
Di dalamnya terdapat berkas pembatalan pernikahan, daftar inventaris barang milik Maya, serta surat larangan mendekati area kantor Valda Investment Group.
“Hubungan kita sudah berakhir,” tegas Maya.
“Urusan hukum akan diselesaikan oleh pengacara. Saya tidak akan mengorbankan keselamatan dan harga diri saya demi menyelamatkan perusahaanmu.”
Aris menatap berkas itu tanpa berani menyentuhnya.
“Bagaimana dengan masa depan Teknologi Nusantara?”
“Perusahaanmu mungkin bisa bertahan jika dewan komisaris mengganti jajaran direksi dan menemukan investor baru yang sah.”
“Namun Valda Investment Group tidak akan pernah masuk ke dalam perusahaan yang dipimpin oleh pelaku kekerasan.”
“Kamu menghancurkan seluruh hidupku, Maya.”
“Tidak. Saya hanya menarik kembali dukungan yang memang bukan milikmu.”
Petugas keamanan masuk dan mengawal Aris keluar dari ruang rapat.
Namun masalah sore itu belum sepenuhnya selesai.
Tiga puluh menit kemudian, keributan terjadi di area lobi utama gedung.
Rosma muncul mengenakan mantel merahnya, berteriak-teriak kepada petugas resepsionis.
Dia menuntut agar “Maya si staf biasa” segera turun untuk meminta maaf karena telah merusak karier anaknya.
Maya turun ke lobi didampingi oleh Hendra dan dua petugas keamanan.
Melihat Maya datang, Rosma langsung menunjuk wajahnya dengan kasar.
“Kamu! Panggil atasanmu sekarang juga! Kamu sudah menipu anakku dan mencuri barang-barang dari rumah kami!”
Beberapa tamu dan karyawan di lobi berhenti melangkah.
Maya tidak menaikkan nada suaranya sedikit pun.
“Saya tidak perlu memanggil siapa pun.”
“Jangan berlagak sombong!” bentak Rosma.
Hendra maju satu langkah berdiri di samping Maya.
“Ibu Rosma, Anda saat ini berada di gedung pusat Valda Investment Group.”
“Ibu Maya Valda Sanjaya adalah pemilik utama dan pimpinan tertinggi di perusahaan ini.”
Rosma tertawa keras, mengira penjelasan itu adalah gurauan.
Namun tawa itu terhenti ketika tiga manajer senior dan kepala divisi hukum berjalan mendekati Maya dengan sikap sangat hormat untuk menyerahkan dokumen persetujuan.
Wajah Rosma mendadak pucat pasi.
“Tidak mungkin… Dia tidak bisa mengurus rumah tangga…”
Maya menatap wanita tua di hadapannya itu dengan tenang.
“Dan Anda masih berpikir bahwa mencuci kemeja adalah satu-satunya cara untuk mengukur harga diri seorang wanita.”
Rosma terdiam kaku.
“Malam itu Anda memberikan ember baju kotor untuk merendahkan saya.”
“Namun tindakan Anda justru membuka mata saya sebelum terlambat.”
Rosma mencoba mengubah nada bicaranya menjadi memelas.
“Kita ini keluarga, Maya… Kamu tidak boleh menghancurkan Aris cuma karena masalah sepele…”
“Keluarga tidak pernah menjadikan penghinaan sebagai tradisi.”
Rosma memandang ke sekeliling lobi yang luas.
Tidak ada lagi orang yang bisa dia intimidasi dengan suara kerasnya.
Di tempat semewah ini, amarahnya terlihat sangat kecil dan tidak berarti.
Petugas keamanan dengan sopan tapi tegas membimbing Rosma menuju pintu keluar.
“Silakan meninggalkan area gedung ini.”
Rosma berjalan keluar dengan langkah gontai tanpa mampu berkata-kata lagi.
Dalam beberapa bulan berikutnya, kasus ini diselesaikan secara tenang melalui jalur hukum.
Harta milik pribadi dipisahkan sepenuhnya oleh pengacara.
Laporan fitnah dan kekerasan diproses oleh pihak berwenang sesuai aturan yang berlaku.
Dewan komisaris Teknologi Nusantara akhirnya memberhentikan Aris dari jabatannya sebagai direktur utama untuk menyelamatkan sisa aset perusahaan.
Perusahaan itu harus menjual salah satu divisi utamanya untuk membayar utang operasional.
Aris kehilangan posisi kepemimpinannya, bukan karena Maya melakukan pembalasan dendam, melainkan karena kebohongannya sendiri terungkap saat dia sangat membutuhkan kepercayaan publik.
Maya memilih kembali tinggal di rumah sederhananya di kawasan Chamberí.
Dia menyukai lingkungan itu karena dia bisa membeli roti di toko kecil depan jalan tanpa ada orang yang memperlakukannya secara berbeda.
Suatu sore, Rina datang berkunjung membawa sebuah kotak beludru kecil.
Kotak itu berisi cincin pernikahan yang berhasil diambil kembali oleh tim hukum saat pendataan barang.
“Apa yang ingin kamu lakukan dengan cincin ini?” tanya Rina.
Maya memegang cincin emas itu di jemarinya.
Cincin itu tidak lagi terasa seperti simbol masa depan, melainkan hanya sebongkah logam mahal yang tidak memiliki arti.
“Jual cincin ini.”
“Uangnya untuk apa?”
Maya tersenyum tipis.
Satu bulan kemudian, sebuah yayasan perlindungan wanita di Jakarta menerima donasi anonim dengan nominal yang persis sama dengan hasil penjualan cincin tersebut.
Uang itu digunakan untuk membiayai pelatihan kerja dan bantuan hukum bagi wanita yang ingin mandiri secara ekonomi.
Maya tidak pernah menceritakan asal-usul donasi itu kepada media.
Dia juga tidak pernah lagi menyembunyikan nama lengkapnya.
Bukan untuk memamerkan kekayaannya, melainkan karena dia telah memahami satu pelajaran penting: hubungan yang hanya bisa berjalan saat kita berpura-pura menjadi lemah bukanlah cinta, melainkan sebuah kurungan.
Setiap kali ada rekan bisnis yang bertanya mengapa pernikahan singkatnya berakhir dalam hitungan jam, Maya hanya memberikan satu jawaban sederhana:
“Semua berawal dari satu ember baju kotor. Sisa kejadian setelahnya hanya menunjukkan siapa diri mereka yang sebenarnya.”
