PART 2
Keesokan paginya, Aditiya kembali tanpa setelan jas. Ia menumpang mobil bak terbuka warga lokal.
Ia menemukan Bagas sedang membongkar mesin pemotong rumput tua di samping rumah. Setengah jam Aditiya membujuk, hingga akhirnya Rahmi, ibu Bagas, mengizinkannya masuk ke gudang belakang.
Aditiya membayangkan gudang kumuh penuh barang bekas tak berguna. Namun di depannya berdiri sebuah laboratorium sederhana dari barang bekas.
Panel surya retak tersusun rapi di atap. Baterai bekas kendaraan dirangkai dengan kabel warna-warni. Skema rumput digambar teliti di atas kardus bekas mi instan.
Di atas meja kayu, ada sebuah kotak dari rakitan radio tua dan kapasitor bekas.
“Alat apa ini?” tanya Aditiya.
“Ini buat menjaga kulkas kecil tempat obat Ibu tetap dingin kalau listrik dipadamkan,” jawab Bagas pelan. “Alat ini bisa menyerap sisa arus dari mana saja. Kalau satu baterai mati, yang lain langsung menggantikan tanpa perlu jaringan internet.”
Aditiya membaca skema di kardus itu dua kali.
Jantungnya berdegup kencang. Bagas, dengan sampah elektronik, menciptakan solusi sederhana atas masalah yang membuat 40 teknisi Wijaya Power frustrasi selama bertahun-tahun.
Rahmi muncul di pintu gudang. “Jangan sentuh barang itu.”
“Saya tidak berniat mencurinya, Bu Rahmi,” kata Aditiya jujur.

“Perusahaan Anda sudah mencuri nyawa suaminya dari rumah ini,” balas Rahmi dengan suara bergetar.
Bagas membeku di tempatnya.
Rahmi menceritakan semuanya. Empat tahun lalu, suaminya, Surya Reyes, bekerja sebagai teknisi senior di pabrik baterai yang diakuisisi oleh Wijaya Power di Klaten. Surya menemukan data palsu pada sensor suhu saat uji coba beban baterai skala besar. Ia melaporkan bahaya itu kepada atasannya. Laporannya diabaikan. Uji coba dipaksa berjalan, hingga terjadi ledakan ruang kendali. Surya terluka parah. Meski sempat bertahan beberapa bulan, komplikasi luka dan trauma membuat kesehatannya menurun drastis hingga meninggal dunia.
Aditiya tidak pernah mendengar nama Surya Reyes dalam laporan audit internal. Dan kenyataan itu membuatnya merasa sangat bersalah.
Ponsel Aditiya bergetar. Nama sekretarisnya, Siska, muncul di layar.
Aditiya mengangkatnya. “Siska, cari berkas lama atas nama Surya Reyes.”
“Saya sudah menemukannya, Pak Aditiya,” bisik Siska dari seberang telepon. “Tapi berkas ini dikunci dengan akses tingkat tinggi. Perintah penyegelan berkas itu keluar langsung dari ruangan Pak Hendra.”
Aditiya mengepalkan tangannya. Hendra adalah Direktur Operasional sekaligus orang kepercayaannya selama 15 tahun.
Suara deru mobil terdengar dari luar gudang. Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pagar rumah Rahmi.
Aditiya melangkah keluar, berdiri pas pas di depan Rahmi dan Bagas.
Dua pria berjas hitam turun dari sedan itu. Mereka bukan preman jalanan, melainkan staf keamanan korporat dari kantor pusat.
Pria pertama menunjukkan tanda pengenal. “Pak Aditiya, Pak Hendra meminta Anda segera kembali ke Jakarta. Ada rapat darurat pemegang saham.”
“Hanya untuk ini kalian menyusul saya ke desa?” tanya Aditiya dingin.
Pria kedua membawa map dokumen tebal. “Kami juga ditugaskan menyampaikan surat pemberitahuan resmi kepada Ibu Rahmi. Setiap temuan teknis yang dikembangkan menggunakan pengetahuan dari mantan karyawan perusahaan berpotensi melanggar hak kekayaan intelektual Wijaya Power.”
Wajah Rahmi pucat pasi. Bagas memeluk buku catatan kardusnya erat-erat ke dadanya.
Aditiya paham permainan Hendra. Hendra tidak mengirim bantuan. Ia mengirim ancaman untuk membungkam keluarga ini.
“Masuk kembali ke mobil kalian,” perintah Aditiya tegas.
“Pak Aditiya, kami menjalankan perintah direksi—”
“Saya pemilik saham mayoritas dan orang yang menandatangani gaji kalian! Kembali ke mobil sekarang!” suara Aditiya meninggi.
Kedua petugas itu ragu-ragu sejenak, lalu meletakkan map itu di atas pagar sebelum pergi.
Rahmi menatap map itu penuh kebencian. “Lihat? Ini cara kerja perusahaan besar seperti Anda. Datang pura-pura peduli, lalu begitu melihat ada yang berharga, kalian terbitkan surat untuk merebutnya.”
Aditiya tidak membela perusahaannya. “Ibu benar untuk membenci kami.”
Bagas menatap Aditiya dengan kekecewaan mendalam. “Jadi… alat yang dibuat Ayah dulu seperti ini?”
“Bukan,” potong Rahmi lembut pada anaknya. “Ayahmu cuma mengajari cara memanfaatkan barang bekas. Yang membuat alat ini berfungsi adalah dirimu sendiri.”
Aditiya langsung mengambil ponselnya. Ia menghubungi Siska dan memberikan instruksi tegas.
“Siska, dengarkan baik-baik. Pertama, tarik seluruh data medis dan laporan kerja almarhum Surya Reyes. Kedua, tunjuk tim pengacara independen luar perusahaan untuk mendampingi keluarga ini. Ketiga, bekukan semua akses Hendra ke sistem arsip lama. Dan pastikan tidak ada seorang pun dari perusahaan yang boleh mendekati rumah ini.”
Siska diam sejenak di telepon. “Pak Aditiya… ada satu hal lagi. Saya menemukan rekaman kamera pengawas lama dari lokasi kejadian 4 tahun lalu yang lupa dihapus dari server cadangan.”
“Kirim ke saya sekarang.”
Listrik rumah Rahmi mendadak padam lagi. Bagas dengan cepat menyambungkan laptop Aditiya ke kotak energi buatan tangannya. Layar laptop menyala stabil.
Aditiya membuka file video yang baru dikirim.
Video itu memperlihatkan ruang kontrol pabrik Klaten 4 tahun lalu. Surya Reyes terlihat menunjuk ke layar monitor dengan cemas. “Sensor membaca suhu normal, tapi arus riil menunjukkan peningkatan berbahaya! Kita harus matikan sistem sekarang!”
Di dalam video, Hendra berdiri di belakang meja kontrol. Namun yang membuat Aditiya terpaku adalah pria yang berdiri tepat di samping Hendra.
Pria yang mengenakan kemeja biru itu adalah Dimas Wijaya. Adik kandungnya sendiri.
Aditiya mendekatkan wajahnya ke layar. Ia mengenali gaya rambut dan jam tangan adiknya. Dimas saat itu baru masuk ke jajaran direksi. Aditiya mengingat bagaimana ia dulu membela Dimas dari tuduhan nepotisme, mengingat masa kecil mereka di rumah kontrakan sempit di Solo, berbagi kamar hingga usia 16 tahun. Saat ayah mereka di-PHK, Aditiya rela menunda kuliah demi bekerja agar Dimas bisa melanjutkan sekolah. Aditiya selalu berjanji, jika sukses nanti, perusahaannya tidak akan pernah mengorbankan rakyat kecil.
Di dalam video, Surya terus mendesak agar tombol darurat ditekan. Hendra menatap Dimas, meminta kepastian. Dimas mengibaskan tangannya pelan. Sebuah isyarat singkat: “Lanjutkan.”
Beberapa menit kemudian, rekaman video itu terputus oleh gangguan sinyal.
Rahmi menutup matanya. Tidak ada air mata, hanya kepedihan mendalam.
Bagas menatap Aditiya. “Pria di sebelah orang itu… adik Bapak?”
Kata-kata itu menghantam kesadaran Aditiya lebih keras dari tuduhan apa pun.
“Iya,” jawab Aditiya parau.
“Berarti dari dulu ada orang yang tahu Ayah benar… tapi sengaja membiarkannya?” tanya Bagas lagi.
Aditiya tidak bisa menjawab. Ia langsung menelpon Dimas lewat panggilan video.
Dimas mengangkatnya pada dering kedua. “Mas Aditiya! Akhirnya diangkat juga. Hendra bilang Mas hilang di Gunung Kidul gara-gara urusan anak kecil—”
“Aku sedang melihat video ruang kontrol Klaten 4 tahun lalu,” potong Aditiya langsung.
Suasana di ujung telepon mendadak hening.
“Mas… kamu tidak mengerti situasinya waktu itu,” suara Dimas berubah pelan.
“Aku melihat Surya Reyes memohon agar uji coba dihentikan. Dan aku melihat kamu memberi isyarat untuk lanjut.”
“Dia cuma teknisi biasa, Mas!” bela Dimas dengan nada panik. “Besoknya ada kunjungan investor asing! Kalau kita hentikan uji coba hari itu, proyek bernilai puluhan miliar bisa batal. Lagipula tidak ada yang menyangka bakal ada ledakan!”
“Lalu setelah ledakan itu terjadi? Kenapa laporan kerusakan paru-paru Surya disembunyikan? Kenapa laporannya disegel?!” bentak Aditiya.
“Kami menyewa pengacara dan tim medis untuk memeriksa semuanya, Mas. Perusahaan baru saja menggelontorkan investasi 100 miliar di sana. Kalau kita mengaku bersalah saat itu, perusahaan kita bisa hancur! Kita punya 2.000 karyawan yang bergantung pada kita!”
“Jadi kamu tumbalkan satu nyawa demi menyelamatkan nama baik perusahaan?!”
“Kami melindungi bisnis keluarga kita!” teriak Dimas di telepon. “Jangan hancurkan perusahaan yang kita bangun dari nol cuma demi satu keluarga asing!”
Bagas menundukkan kepala.
Aditiya merasa ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya. Bukan perusahaannya yang hancur, melainkan rasa hormatnya pada adik kandungnya sendiri.
“Perusahaan ini sudah hancur sejak hari di mana kita menganggap nyawa seorang manusia kurang berharga dibanding kontrak bisnis,” kata Aditiya dingin.
Ia mematikan telepon.
Rapat darurat jajaran direksi digelar sore itu juga melalui video konferensi dari dalam mobil Aditiya. Hendra mencoba mengambil alih jalannya rapat dari Jakarta. Ia menuduh Aditiya mengalami tekanan mental dan mengusulkan agar posisi Direktur Utama ditangguhkan sementara.
Aditiya tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia membagikan layar laptopnya.
Video detik-detik sebelum ledakan diputar di hadapan seluruh pemegang saham. Selanjutnya, Aditiya menampilkan berkas asli laporan Surya Reyes, dokumen perubahan laporan yang dipalsukan, serta salinan instruksi pengancaman yang dikirimkan ke rumah Rahmi pagi tadi.
Ruang rapat virtual itu hening total.
Hendra mencoba membela diri. “Ini… ini propaganda yang dipotong! Kita melakukan penyesuaian prosedur teknis demi efisiensi!”
“Jelaskan efisiensi apa yang mengharuskan kalian memalsukan tanda tangan korban?” tanya Aditiya datar.
Dimas muncul di kotak layar lain. Wajahnya pucat. “Mas… tolong, jangan lakukan ini di depan umum.”
Aditiya menatap adiknya dari layar. “Aku harap kamu memanggilku Mas saat Surya Reyes memohon keselamatan jiwanya dulu.”
Aditiya mengumumkan pembentukan tim investigasi independen yang dipimpin oleh pihak luar. Seluruh berkas diserahkan kepada pihak kepolisian dan otoritas hukum untuk diproses secara pidana. Hari itu juga, Hendra dipecat secara tidak hormat dan ditahan untuk pemeriksaan. Two days later, Dimas mengundurkan diri dari jajaran direksi sebelum pemungutan suara pemecatannya dilakukan.
Namun Aditiya tahu, memecat dua orang tidak bisa menghapus penderitaan empat tahun keluarga Reyes.
Hari berikutnya, Aditiya kembali ke rumah kayu itu. Kali ini ia tidak membawa cek uang. Pelajaran dari pertemuan pertama membuatnya sadar uang tidak bisa membeli harga diri.
Ia datang bersama seorang pengacara independen yang ditunjuk oleh asosiasi perlindungan konsumen, serta seorang dokter spesialis jantung dari rumah sakit daerah untuk memeriksa kondisi kesehatan Rahmi yang terus menurun.
“Saya tidak datang untuk membeli maaf dari Ibu,” kata Aditiya di teras rumah. “Saya datang agar Ibu dan Bagas mendapatkan hak yang seharusnya tanpa perlu percaya pada janji manis saya.”
Pengacara menjelaskan bahwa rancangan kotak energi buatan Bagas akan didaftarkan atas nama Bagas Reyes secara penuh. Tidak ada satu pun dokumen, gambar, atau hak paten yang bisa diambil oleh Wijaya Power tanpa persetujuan tertulis dari Rahmi. Jika Wijaya Power ingin menggunakan teknologi tersebut, mereka harus membayar lisensi resmi dengan nilai yang ditentukan oleh penilai independen.
Rahmi mendengarkan tanpa senyuman. “Bagaimana dengan almarhum suami saya?”
Aditiya menunduk. “Kasus kecelakaan kerja suami Ibu ditinjau ulang oleh kepolisian. Perusahaan akan membuat pernyataan publik resmi yang mengakui bahwa Surya Reyes adalah pahlawan yang peringatannya diabaikan oleh manajemen lama.”
“Pernyataan itu tidak akan mengembalikan suami saya,” kata Rahmi lurus.
“Tidak akan pernah,” jawab Aditiya jujur.
Rahmi menatap mata Aditiya cukup lama. “Baguslah kalau Anda tahu itu. Itu jawaban paling jujur yang saya dengar dari orang kota.”
Bulan-bulan berikutnya, kehidupan Bagas berubah, namun bukan dengan kemewahan yang berlebihan. Mereka tidak pindah ke rumah mewah di Jakarta. Bagas tidak berhenti dari sekolah biasanya.
Seorang dosen teknik dari Universitas Gadjah Mada datang dua kali seminggu ke desa untuk mengajari Bagas dasar-dasar ilmu rekayasa kelistrikan. Gudang tua di samping rumah diperbaiki dengan ventilasi yang baik, meja kerja yang kokoh, dan alat ukur digital yang aman.
Sistem yang diciptakan Bagas diberi nama “Jaringan Semut”.
Konsepnya tidak fokus pada pembuatan baterai raksasa, melainkan pada komunikasi antar-baterai kecil. Setiap unit saling memeriksa kondisi unit di sebelahnya. Jika satu unit mengalami penurunan performa, unit lain langsung membagi beban secara otomatis tanpa perlu menunggu perintah dari komputer pusat.
Ketika tim insinyur senior Wijaya Power diundang ke desa untuk mempelajari sistem ini, mereka sempat memandang sebelah mata pada bocah 13 tahun itu.
Dalam rapat teknis pertama di Yogyakarta, seorang insinyur senior berbicara menggunakan istilah teknis bahasa Inggris yang rumit selama 15 menit untuk menutupi kebingungannya.
Bagas mendengarkan dengan tenang hingga orang itu selesai.
“Maksud Bapak… kalau ada satu Baterai yang berbohong bilang dia masih penuh, baterai lain tidak tahu harus percaya atau tidak?” tanya Bagas sederhana.
Insinyur itu terdiam. “…Iya. Betul.”
“Kalau begitu, bicara saja pakai bahasa yang gampang,” kata Bagas polos.
Aditiya yang duduk di sudut ruangan harus memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya.
Uji coba sistem “Jaringan Semut” memakan waktu 6 bulan. Ada kegagalan, ada komponen yang terbakar, dan ada hari-hari di mana Bagas merasa putus asa. Namun prinsip dasarnya terbukti tangguh. Dalam uji coba ekstrem di wilayah terpencil dengan cuaca panas dan arus listrik tidak stabil, sistem buatan Bagas tetap menyala saat sistem konvensional milik perusahaan mati total.
Wijaya Power akhirnya menandatangani kontrak lisensi resmi. Rahmi menolak draf pertama karena ada pasal yang membatasi hak cipta Bagas di masa depan. Aditiya memerintahkan tim hukumnya untuk menuruti semua syarat yang diajukan Rahmi tanpa menawar.
Draf kedua disetujui. Seluruh hasil royalti disimpan dalam rekening wali atas nama Bagas yang baru bisa diakses penuh saat ia berusia 21 tahun.
Saat penandatanganan berkas, Bagas membaca setiap lembar dengan teliti.
“Kata Ayah dulu, tulisan yang paling kecil di kertas justru yang paling penting dibaca,” ujar Bagas.
Rahmi menyapu air mata di sudut matanya.
Aditiya menyadari, sosok Surya Reyes tidak pernah benar-benar hilang dari rumah itu. Ia ada di setiap baut yang dipasang Bagas, di setiap kabel yang dirapikan, dan di dalam kehati-hatian mereka menerima janji orang lain.
Hasil penyelidikan kepolisian atas kasus pabrik Klaten menetapkan Hendra dan Dimas sebagai tersangka atas kelalaian yang menyebabkan kematian dan pemalsuan dokumen. Sesuai prosedur hukum, kasus tersebut dilimpahkan ke pengadilan. Aditiya juga membentuk saluran pelaporan masalah teknis independen di perusahaannya yang langsung terhubung ke auditor luar, tanpa bisa diintervensi oleh jajaran direksi.
Sistem keselamatan itu diberi nama “Protokol Reyes”.
Dimas tidak pernah lagi disapa di dalam keluarga besar. Ibu mereka sempat memohon kepada Aditiya agar mencabut laporan polisi demi membela adiknya. “Dia adik kandungmu, Aditiya! Kamu tega melihat adikmu dipenjara?”
Aditiya menjawab tenang, “Surya Reyes juga anak dari seorang ibu, dan suami dari seorang istri. Kita tidak bisa menghapus kejahatan hanya karena pelakunya adalah keluarga kita sendiri.”
Perselisihan itu membuat hubungan keluarga besar Aditiya renggang. Namun Aditiya tidak pernah menyesali keputusannya.
Satu tahun setelah kejadian mobil mogok itu, Aditiya kembali melewati jalan tanah yang sama di Gunung Kidul. Kali ini, SUV mewahnya meluncur tanpa kendala.
Bagas, yang kini berusia 14 tahun, sedang berada di depan pagar rumahnya, merakit sepeda listrik dari kerangka bekas. Kesehatan Rahmi sudah jauh membaik dan ia bisa kembali berkebun di halaman rumah.
Aditiya turun dari mobil, merogoh saku celananya, dan mengeluarkan dua keping uang logam pecahan 1.000 rupiah.
“Saya masih punya utang 2.000 rupiah sama kamu,” kata Aditiya sambil tersenyum.
Bagas tertawa kecil. “Lama sekali bayarnya, Pak.”
“Bunganya mahal tidak?”
“Lumayan,” jawab Bagas bercanda.
Aditiya menyodorkan dua keping koin itu.
Bagas menggelengkan kepala. “Simpan saja, Pak.”
“Bukankah dulu kamu bilang biaya perbaikannya 2.000 rupiah?”
“Itu harga kabelnya,” kata Bagas sambil menatap ke arah ibunya di teras. “Kalau hal lain yang membaik setelahnya, tidak bisa dibayar pakai uang.”
Aditiya terdiam dalam hening yang menenangkan.
Bagas menunjuk ke arah mobil SUV Aditiya. “Bapak tahu tidak, apa yang sebenarnya paling rusak dari mobil Bapak waktu pertama kali mogok di sini?”
“Sensor utamanya?” tanya Aditiya.
“Bukan.”
Bagas menatap mata Aditiya dengan kedewasaan yang melampaui usianya.
“Sambungannya.”
Aditiya tersenyum tipis, ada rasa haru yang hangat di dadanya.
Ia harus kehilangan adiknya dari jajaran bisnis, mempertaruhkan nama baik perusahaannya yang bernilai 5 triliun rupiah, dan bertemu dengan seorang anak desa berujung jari hitam oli untuk memahami satu pelajaran berharga.
Bukan cuma mesin yang bisa mati saat sambungannya terputus.
Keluarga juga bisa hancur. Perusahaan juga bisa busuk dari dalam. Dan hati nurani manusia bisa mati rasa.
Dan untuk menyambungkannya kembali, tidak dibutuhkan uang berlimpah. Hanya butuh keberanian untuk membuka kap mesin, melihat kerusakan yang terjadi secara jujur, dan berhenti berpura-pura bahwa tidak ada yang terbakar di dalamnya.
