Laras menatap layar ponselnya. Bros itu tidak pernah disimpan di rumah Aris. Bros itu berada di dalam brankas pribadi Kakek Danu di rumah utama.

PART 2

Sebelum jam 12:00 siang, kebohongan di gedung resepsi runtuh sepenuhnya. Foto buku nikah Aris dan Maya beredar cepat di grup percakapan para tamu undangan. Para pengusaha dan pejabat yang hadir mulai berbisik-bisik.

Tante Aris, Rina, menelepon Laras dengan nada marah. “Kamu membuat keluarga kami jadi bahan tertawaan se-Jakarta!”

“Apakah Tante tahu Aris sudah menikah kemarin sore?” tanya Laras tenang.

Hening di ujung telepon. Rina langsung mematikan sambungan.

Hanya Kakek Danu yang menelepon secara pribadi. Suaranya terdengar sangat lemah. “Laras… apa kamu tidak akan kembali?”

“Saya akan kembali ke Jakarta sebagai dokter, Kakek. Tapi bukan sebagai pasangan Aris.”

Tiga hari kemudian, Maya mengunggah foto selfie di akun media sosialnya. Dia memakai bros zamrud kuno itu di baju mewahnya. Foto itu diberi keterangan: Rumah baru, tanggung jawab baru.

Laras menyimpan tangkapan layar unggahan tersebut. Dia menyerahkan bukti foto itu bersama seluruh rincian transaksi transfer ke tim hukumnya.

Pada hari keenam setelah pembatalan nikah, ponsel Laras berdering pukul 05:15 WIB. Panggilan dari Rumah Sakit Medika Utama.

“Dokter Laras, Pak Danu Pratama baru saja masuk IGD.” “Terjadi robekan aorta akut. Kondisinya sangat kritis.”

Laras melihat dokumen medis yang dikirimkan lewat aplikasi internal rumah sakit. Tingkat kerusakannya sangat parah.

Ponselnya kembali berdering dari nomor Aris. “Laras! Kamu harus ke rumah sakit sekarang! Kakek bisa meninggal!”

“Aku akan datang karena Pak Danu adalah pasienku,” jawab Laras tegas.

Di seberang telepon, terdengar suara Maya berteriak lirih. “Beri tahu dia, sekarang aku menantu resmi keluarga ini!”

Laras menarik napas panjang. “Dia boleh mengambil posisi di keluarga kalian. Tapi di dalam ruang operasi, aku yang pegang kendali.”

Satu jam kemudian, Laras tiba di RS Medika Utama dengan pakaian dinas dokter. Aris mencoba mendekatinya di koridor depan IGD. “Laras, tolong maafkan aku…”

Laras melangkah mundur, menghindari sentuhan Aris. “Keluarga silakan menunggu di ruang tunggu luar.”

Seorang perawat senior berbisik kepada Laras sebelum dia masuk ke ruang steril. “Dokter, tadi ada wartawan di luar. Ibunya Mas Aris bilang ke media kalau Dokter masih bakal jadi calon menantu mereka.”

Laras mengambil ponselnya. Dia mengunggah satu pernyataan resmi di akun media sosial profesionalnya: Hubungan personal saya dengan Aris Pratama telah berakhir sepenuhnya minggu lalu. Saya hadir di RS Medika Utama murni sebagai ketua tim bedah medis Pak Danu Pratama.

Laras mematikan ponselnya dan melangkah masuk ke ruang operasi.

Di dalam ruang persiapan, Kakek Danu yang masih sadar menatap Laras. Oksigen terpasang di hidungnya. Suaranya amat pelan. “Laras… kalau Kakek bangun nanti… Kakek mau tahu siapa yang sudah membohongi Kakek…”

Laras memegang tangan sang kakek. “Fokus tenang dulu, Kakek. Saya akan lakukan yang terbaik.”

Operasi besar itu berlangsung selama 8 jam 17 menit.

Pada jam kelima, kondisi pasien mendadak drop. Tekanan darah Kakek Danu turun drastis. Robekan di dinding aorta ternyata menyebar lebih panjang dari perkiraan awal. Jaringan pembuluh darahnya sangat rapuh. Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.

Dokter Hendra, kepala spesialis anastesi, menatap monitor dengan cemas. “Laras, kalau kita ganti seluruh saluran sekaligus, jantungnya tidak akan kuat menahan beban mesin.”

“Kita lakukan teknik bertahap,” tegas Laras. Tangannya bergerak sangat stabil di bawah lampu operasi. “Kita amankan bagian atas dulu. Baru kita sambung ke bagian bawah.”

Tidak ada keraguan di mata Laras. Di dalam ruang steril ini, tidak ada Aris, tidak ada Maya, dan tidak ada pameran harta. Yang ada hanya nyawa seorang pria tua yang harus diselamatkan.

Ketika indikator monitor kembali stabil, Dokter Hendra menarik napas lega. “Luar biasa, Laras. Aliran darahnya kembali lancar.”

“Operasi selesai. Tapi 24 jam ke depan masih masa kritis,” kata Laras sambil melepas sarung tangan medisnya.

Saat melangkah keluar dari area operasi, seluruh anggota keluarga Pratama sudah berkumpul di lorong. Aris langsung berdiri mendekat. “Bagaimana Kakek?”

“Operasinya berhasil. Kondisinya stabil tapi harus dipantau ketat di ICU,” jawab Laras dingin.

Aris mencoba meraih tangan Laras. “Terima kasih, Laras…”

Laras menarik tangannya ke belakang. “Ucapkan terima kasih pada seluruh tim medis.”

Di belakang Aris, Maya berdiri memakai blazer krem. Bros zamrud kuno itu masih terpasang di kerahnya. Dia menatap Laras dengan pandangan tidak suka.

Namun kali ini, tidak ada satu pun anggota keluarga yang memandang Laras sebagai pengantin yang dibuang. Mereka menatapnya sebagai sosok ahli yang baru saja menyambung nyawa pimpinan tertinggi keluarga mereka.

Santi mendekati Laras sambil membawa map biru. “Surat somasi dari pengacara kita sudah selesai.”

Di dalam map itu, pengacara Laras menuntut pengembalian dana total Rp 920.000.000. Ditambah denda kerugian materi yang telah disepakati sebelumnya. Total tuntutan mencapai Rp 1.150.000.000. Selain itu, ada tuntutan permintaan maaf terbuka dari keluarga Pratama atas klaim palsu di media.

“Kirimkan sekarang ke Aris,” kata Laras.

Beberapa saat kemudian, Aris mendatangi Laras di ruang kerja dokter. Wajahnya pucat membawa map surat tuntutan itu. “Laras, kita bisa bicara baik-baik kan? Kakek baru selesai operasi. Jangan buat masalah baru.”

Laras mengambil ponselnya dan membukakan pesan teks Aris pada malam sebelum pernikahan. Aku sudah menikah dengan Maya. Besok kamu tetap pakai gaun pengantin. Jangan buat keributan.

Laras meletakkan layar itu tepat di depan wajah Aris. “Pesan ini ditulis olehmu. Bagian mana dari surat tuntutan itu yang salah?”

Aris menunduk. “Aku pikir kita bisa selesaikan ini kekeluargaan…”

“Kamu pikir aku akan diam saja karena selama ini aku selalu mengalah?”

“Aku takut kehilangan kamu, Laras…”

“Kamu menikah dengan wanita lain secara diam-diam, lalu menyuruhku berpura-pura di depan 280 orang demi menyelamatkan mukamu,” potong Laras. “Itu bukan takut kehilangan. Itu karena kamu merasa aku tidak akan pernah berani pergi.”

Santi yang berdiri di samping Laras kemudian memutar sebuah rekaman suara dari ponselnya. Rekaman itu berasal dari sepupu Aris, Budi, yang merekam pertengkaran di halaman rumah sehari sebelum acara.

Suara Maya terdengar jelas di rekaman: “Kalau aku tidak paksa Aris nikah sirih kemarin, dia pasti batalin! Laras itu selalu bisa bujuk Aris buat jadi pria bertanggung jawab!”

Lalu terdengar suara Ibu Aris, Beatriz: “Lalu bagaimana dengan bros zamrud Kakek?”

Maya menjawab: “Ibu kan yang janji mau kasih itu ke aku? Biar semua tamu tahu siapa menantu yang sebenarnya.”

Aris membelalakkan mata. Wajahnya memerah seketika. Ibunya sendiri yang mengambil kunci brankas Kakek Danu pagi hari sebelum acara dimulai.

“Ibu… melakukan itu?” gumam Aris tidak percaya.

“Ibumu mengira kalau aku dipermewah dan dipermalukan di depan umum, aku bakal terlalu malu untuk kabur,” kata Laras datar.

Tiga hari kemudian, kondisi Kakek Danu membaik pesat. Dia dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Atas permintaannya, Kakek Danu memanggil Aris, Maya, Beatriz, dan pengacara keluarga, Pak Tomas. Laras hadir di ruangan tersebut sebagai dokter penanggung jawab.

Kakek Danu duduk di ranjangnya. Matanya menatap Aris dengan tajam.

“Kapan kamu menikah dengan Maya?” tanya Kakek Danu dengan suara berat.

“Hari Jumat sore sebelum acara, Kakek…” jawab Aris pelan.

“Dan kamu berniat menyuruh Laras bersanding denganmu di pesta hari Sabtu?”

Aris tidak bisa menjawab.

Kakek Danu beralih menatap Maya. “Kamu tahu pernikahan Aris dan Laras sudah disiapkan selama lebih dari 1 tahun?”

“Saya tahu, Kakek… Tapi saya mencintai Aris…” sahut Maya membela diri.

“Cinta tidak memberi kamu hak untuk merampas hak orang lain,” kata Kakek Danu tegas.

Kakek Danu menatap istrinya Aris, Beatriz. “Bros zamrud di brankas pribadiku. Siapa yang mengambilnya?”

Beatriz gemetar. “Papah… Laras kan waktu itu kabur. Aku cuma mau menjaga agar acara berjalan lancar…”

Pak Tomas, pengacara keluarga, mengeluarkan berkas log brankas. “Sistem keamanan rumah mencatat Ibu Beatriz membuka brankas pada pukul 07:45 WIB tanggal 12.”

“Kamu mencuri perhiasan itu untuk diberikan pada wanita ini?” tanya Kakek Danu.

“Bukan mencuri, Pah! Maya kan sudah jadi istri sah Aris!” kilah Beatriz.

“Bros itu adalah hadiah lamaran pribadi atas nama Laras Paramita,” potong Pak Tomas. “Secara hukum kepemilikan, perhiasan itu milik Dokter Laras.”

Kakek Danu memandang Aris dengan raut kecewa yang mendalam. “Selama ini Laras mengurus semua fasilitas kesehatanku, mengatur jadwal operasiku, bahkan membantu kegiatan bakti sosial yayasan kita tanpa minta bayaran sepeser pun.”

“Dia melakukan semua itu karena dia menghargai keluarga ini.” “Bukan karena dia butuh harta kita.”

Kakek Danu memberi isyarat kepada Pak Tomas.

“Seluruh kerugian dana Rp 1.150.000.000 yang ditagihkan oleh Dokter Laras akan dibayar menggunakan pemotongan aset pribadi Aris Pratama,” tegas Pak Tomas. “Selain itu, posisi Aris sebagai Direktur Operasional Yayasan Pratama dicopot sementara sampai rapat pemegang saham bulan depan.”

Wajah Aris seketika pucat pasi. Jabatan itu adalah sumber kehormatan utamanya di dunia bisnis.

Kakek Danu lalu menatap Maya. “Kamu boleh jadi istri Aris.” “Tapi kamu tidak punya hak atas rumah ini, fasilitas keluarga ini, maupun perhiasan apa pun milik keluarga Pratama.”

Kakek Danu menunjuk bros di dada Maya. “Lepaskan bros itu sekarang.”

Maya menggigit bibir bawahnya. Dengan tangan gemetar, dia melepas bros zamrud itu dan meletakkannya di atas meja medis.

Hari berikutnya, Santi menyerahkan kotak perhiasan itu kembali kepada Laras. Bros zamrud itu berkilau indah.

Laras memandangnya sebentar, lalu menutup kotaknya kembali. “Aku tidak menginginkannya lagi.”

“Ini kan hak kamu,” kata Santi.

“Dulu aku pikir bros ini simbol diterima di keluarga mereka,” kata Laras. “Sekarang aku tahu, aku tidak butuh pengakuan dari siapa pun untuk tahu nilai diriku sendiri.”

Laras mengembalikan kotak itu langsung kepada Kakek Danu saat jadwal pemeriksaan terakhir.

“Ini milik Kakek,” kata Laras.

Kakek Danu memegang tangan Laras dengan lembut. “Maafkan keluarga Kakek, Laras…”

“Kakek tidak salah.”

“Janji sama Kakek,” ujar Kakek Danu dengan mata berkaca-kaca. “Jangan pernah lagi mengorbankan impianmu hanya demi menyenangkan orang yang tidak pernah menghargaimu.”

Kakek Danu menyerahkan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya terdapat surat rekomendasi penuh untuk program beasiswa riset spesialisasi bedah jantung tingkat lanjut di rumah sakit rujukan Surabaya. Program yang dulu dua kali ditolak oleh Laras karena Aris memintanya tetap di Jakarta.

Dua minggu kemudian, klarifikasi resmi diterbitkan oleh Grup Pratama. Mereka membenarkan bahwa Aris telah menikah sirih dengan Maya sebelum acara resepsi, dan menegaskan bahwa Dokter Laras Paramita hadir kembali di Jakarta murni sebagai profesional medis untuk menyelamatkan nyawa pendiri perusahaan.

Nama baik Laras bersih sepenuhnya di mata publik dan dunia medis.

Sementara itu, hubungan Aris dan Maya mulai berantakan. Tanpa dukungan dana penuh dari yayasan dan tanpa kehadiran Laras yang selalu membereskan masalah Aris, pertengkaran demi pertengkaran terjadi setiap hari. Maya menuntut gaya hidup mewah yang biasa diberikan keluarga Pratama, sementara Aris harus menanggung beban finansial dari pemotongan asetnya.

Enam minggu kemudian, Aris dan Maya resmi mengajukan gugatan cerai.

Satu hari sebelum keberangkatan Laras ke Surabaya, Aris mencegatnya di taman RS Medika Utama. Aris membawa segelas kopi kesukaan Laras.

“Laras… aku dan Maya sudah pisah,” kata Aris dengan suara parau.

“Semoga kalian bisa menyelesaikan masalah masing-masing,” jawab Laras tenang.

“Aku sadar aku salah besar,” Aris menatap Laras dengan mata merah. “Aku pikir kamu akan selalu ada di sana. Aku pikir kamu cukup kuat untuk menahan semuanya.”

“Kamu menyalahartikan kebaikan dan kesabaranku sebagai izin untuk menyakitiku,” kata Laras.

“Beri aku kesempatan kedua. Tolong…”

Laras menatap pria yang pernah menemaninya selama 9 tahun itu. Tidak ada rasa benci. Tidak ada dendam. Hanya ada rasa hampa.

“Aku tidak bisa, Aris.”

“Kenapa? Karena kamu benci sama aku?”

“Karena aku sudah tidak mencintaimu lagi,” jawab Laras jujur.

Aris tertegun. Kata-kata itu memutus seluruh harapannya.

Awal bulan berikutnya, Laras membawa koper besarnya berjalan menuju pintu keberangkatan Stasiun Gambir menuju Surabaya. Ponselnya berdering menerima satu pesan terakhir dari Aris: Maafkan aku. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang dulu aku tunda.

Laras tidak membalas. Dia mematikan pemberitahuan ponselnya dan melangkah masuk ke dalam kereta.

Selama bertahun-tahun, dia mengira masa depannya ada di dalam pernikahan mewah yang dirancang orang lain. Kini dia paham, kehilangan hubungan yang salah bukanlah sebuah kerugian.

Kereta mulai bergerak perlahan menembus kota Jakarta. Laras menyandarkan kepalanya di jendela.

Kursi kosong di sampingnya tidak lagi terasa sepian. Kursi itu terasa seperti kebebasan.