“Siapa yang menguncimu?”
Aku menatap pintu.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke kamar mandi itu, aku ragu menjawab.
Bukan karena takut pada Ratih.
Bukan juga karena Arga.
Melainkan karena begitu nama mereka keluar dari mulutku, tidak akan ada jalan kembali.
Enam tahun pernikahan.
Enam tahun makan di meja yang sama.
Enam tahun memanggil perempuan itu “Mama”.
Enam tahun membela Arga di depan teman-temanku sendiri.
Semuanya akan berubah hanya dengan beberapa kata.
Aku menarik napas.
“Ibu mertuaku. Ratih Wijaya.”
Renata tidak langsung menjawab.
“Arga ada di sana?”
“Ada.”
“Dia tahu kamu dikunci?”
Aku menutup mata.
Pertanyaan kedua terasa jauh lebih menyakitkan.
“Dia melihatnya.”
Hening.
Kemudian Renata berkata, “Dengarkan aku. Jangan putus telepon.”
“Aku takut.”
“Aku tahu. Duduk kalau kamu masih bisa. Jangan berdiri sendirian. Aku sedang menghubungi bantuan dari perangkat lain.”
Kontraksi datang lagi.
Aku menggigit bibir dan menahan suara.
“Maya, bicara denganku.”
“Sakit…”
“Berapa lama sejak kontraksi sebelumnya?”
Aku tidak tahu.
Waktu sudah kehilangan bentuk di ruangan itu.
Mungkin tiga menit.
Mungkin lima.
Mungkin satu abad.
“Aku tidak tahu.”
Lalu terdengar sesuatu dari luar.
Langkah kaki.
Aku langsung diam.
Seseorang berhenti tepat di depan pintu.
“Maya?”
Arga.
Aku menggenggam ponsel erat-erat.
“Maya, buka pintunya.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Buka pintunya?
“Aku dikunci dari luar, Arga!”
“Oh, iya.”
Jawabannya begitu bodoh sampai dalam keadaan lain mungkin aku akan tertawa.
Namun malam itu aku hanya merasa kosong.
“Aku mau membuka pintunya,” katanya.
Tanganku spontan menyentuh gagang.
Tetapi sebelum kunci diputar, terdengar suara Ratih.
“Kamu mau apa?”
“Ma, dia kesakitan.”
“Laras sebentar lagi potong kue.”
“Dia hamil.”
“Memangnya sejak kapan kita tidak tahu dia hamil?”
Aku mendengar napas Arga.
Kemudian tidak ada apa-apa.
Tidak ada bantahan.
Tidak ada bunyi kunci.
Aku tahu apa yang sedang terjadi di luar tanpa perlu melihatnya.
Arga menunduk.
Seperti biasa.
Aku menempelkan punggung ke dinding.
Enam tahun aku menyebut sifat itu kesabaran.
Malam itu aku akhirnya menemukan nama yang sebenarnya.
Pengecut.
“Maya?” suara Renata terdengar dari ponsel.
“Aku masih di sini.”
“Bantuan sedang menuju ke tempatmu.”
“Ambulans?”
“Bukan hanya ambulans.”
Aku membuka mata.
“Apa maksudmu?”
Renata diam sesaat.
Lalu dia mengatakan kalimat yang membuat rasa sakit di perutku seolah berhenti sepersekian detik.
“Tim sudah mendapatkan surat perintah yang kami tunggu sejak kemarin sore.”
Aku membeku.
“Renata…”
“Kami tadinya berencana bergerak Senin pagi. Tapi keadaan berubah.”
Di luar, suara Ratih terdengar semakin jauh.
“Kalau dia mau drama, biarkan saja. Jangan sampai tamu tahu.”
Langkah kaki mereka menghilang.
Aku menatap pintu.
“Mereka akan datang ke sini?”
“Ya.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Aku ingin mengatakan sesuatu.
Namun kontraksi berikutnya menghantam.
Ponsel hampir terlepas dari tanganku.
Aku merosot ke lantai.
Ada saat-saat dalam hidup ketika seseorang tidak lagi memikirkan harga diri, rahasia, pernikahan, atau pekerjaan.
Yang kupikirkan saat itu cuma satu.
Anakku.
“Tolong selamatkan bayiku.”
Suara Renata melunak.
“Itu yang pertama.”
Entah berapa menit berlalu.
Dari aula utama terdengar tepuk tangan.
Aku bahkan mendengar suara pembawa acara.
“Sekarang kita persilakan kedua mempelai…”
Lalu musik.
Mereka benar-benar melanjutkan pesta.
Aku sedang duduk di lantai kamar mandi dengan ketuban yang sudah pecah, sementara beberapa meter dari tempatku, keluarga Wijaya memotong kue pernikahan.
Aneh sekali.
Kadang hidup tidak menghancurkan seseorang dengan adegan besar.
Kadang cuma dengan suara tepuk tangan dari balik pintu.
Aku menunduk dan mengusap perut.
“Nak…”
Suaraku pecah.
“Bertahan sebentar, ya.”
Aku tidak tahu apakah bayi di dalam kandunganku bisa mendengar.
Tetapi aku terus berbicara.
“Mama di sini.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan justru aku sendiri yang menangis setelah mengucapkannya.
Mama di sini.
Bukan Papa.
Bukan Nenek.
Aku.
Kalau akhirnya hanya ada aku dan anakku, ya sudah.
Kami akan belajar.
Kami akan hidup.
Kami akan baik-baik saja.
Tiba-tiba suara musik berhenti.
Bukan mengecil.
Berhenti.
Aku mengangkat kepala.
Beberapa detik kemudian terdengar suara gaduh.
Orang berbicara bersamaan.
Langkah kaki.
Lalu seseorang berlari di lorong.
“Mbak Maya!”
Aku mengenali suara seorang pegawai perempuan resor.
“Mbak Maya ada di dalam?”
“Ada!”
Aku memukul pintu.
“Tolong!”
“Ya Allah…”
Dia mencoba gagangnya.
“Terkunci!”
“Tolong cari kuncinya!”
Suara lain menyahut.
Kemudian suara laki-laki yang tidak kukenal.
“Mundur dari pintu.”
“Pak, kuncinya—”
“Tidak usah menunggu.”
Benturan keras terdengar.
Sekali.
Pintu bergetar.
Dua kali.
Pada benturan ketiga, pengaitnya terlepas.
Cahaya dari lorong masuk.
Aku menyipitkan mata.
Seorang petugas keamanan berdiri di depan, diikuti dua tenaga medis yang membawa perlengkapan darurat.
Aku hampir tidak pernah merasa sebahagia itu melihat orang asing.
“Mbak Maya?”
Aku mengangguk.
Petugas medis perempuan langsung berlutut di sampingku.
“Jangan berdiri sendiri, ya. Kami bantu.”
“Aku tiga puluh empat minggu.”
“Kami tahu. Ambulans sudah menunggu.”
Saat mereka mengangkatku ke tandu, aku melihat sesuatu di ujung lorong.
Ratih.
Wajahnya tidak lagi tenang.
Dia berjalan cepat menuju kami.
“Apa-apaan ini?”
Tak seorang pun menjawab.
“Aku pemilik tempat ini! Siapa yang mengizinkan kalian masuk?”
Petugas keamanan hanya bergeser sedikit.
Di belakangnya muncul Renata.
Dia masih mengenakan setelan kerja abu-abu gelap dan rambutnya sedikit berantakan seperti baru turun dari mobil setelah perjalanan terburu-buru.
Tatapan kami bertemu.
Aku hampir menangis lagi.
Ratih berhenti.
“Kamu siapa?”
Renata tidak menjawab pertanyaannya.
Dia berjalan mendekat kepadaku.
“Maya.”
Aku mengulurkan tangan.
Renata menggenggamnya.
“Kamu aman.”
Ratih semakin marah.
“Saya tanya, Anda siapa?”
Barulah Renata menoleh.
“Orang yang seharusnya tidak perlu datang ke pesta pernikahan putri Anda malam ini.”
Aku melihat perubahan kecil di wajah Ratih.
Sangat kecil.
Tetapi aku mengenalnya.
Takut.
Renata melanjutkan.
“Sayangnya, Anda membuat keadaan menjadi jauh lebih rumit.”
Ratih hendak berbicara, tetapi dari aula utama terdengar keributan lebih besar.
Beberapa tamu keluar.
Laras muncul masih mengenakan gaun pengantin.
“Ada apa sih, Ma?”
Di belakangnya, Arga berdiri pucat.
Ketika melihatku di atas tandu, dia bergerak mendekat.
“Maya.”
Aku memalingkan wajah.
“Maya, aku ikut ke rumah sakit.”
“Tidak.”
Hanya satu kata.
Aku bahkan terkejut mendengar betapa tenang suaraku.
“Aku suamimu.”
Aku menatapnya.
“Baru ingat?”
Arga tidak menjawab.
Petugas medis mulai mendorong tandu.
Saat melewati aula, aku melihat puluhan kepala menoleh.
Namun pesta itu sudah bukan pesta lagi.
Di dekat meja penerima tamu berdiri beberapa petugas.
Dua orang sedang berbicara dengan ayah mertuaku.
Seorang lainnya membawa kotak dokumen dari ruangan kantor.
Laras menatap mereka, lalu menatap ibunya.
“Ma… sebenarnya ada apa?”
Ratih tidak menjawab.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat perempuan itu tidak punya kalimat untuk mengendalikan keadaan.
Pintu ambulans menutup.
Sirene berbunyi.
Aku meninggalkan Resor Puspa Aruna tanpa mengetahui apa yang terjadi setelahnya.
Dan mungkin itu bagus.
Karena perjalanan menuju rumah sakit berubah menjadi perjuangan lain.
Kontraksiku semakin rapat.
Petugas medis terus mengajakku berbicara.
Aku menjawab sebisanya.
Nama.
Usia.
Usia kehamilan.
Alergi.
Nama dokter.
Di tengah semuanya, aku masih menggenggam ponsel hitam itu.
Renata duduk di depan.
“Dokumennya aman?” tanyaku tiba-tiba.
Dia menoleh.
Lalu hampir tertawa karena tidak percaya.
“Kamu sedang menuju persalinan prematur dan masih bertanya soal dokumen?”
“Aman?”
“Aman.”
Aku mengembuskan napas.
“Bagus.”
“Maya.”
“Hmm?”
“Sekarang pikirkan bayimu.”
Aku mengangguk.
Kali ini aku menurut.
Di rumah sakit, semuanya bergerak cepat.
Lampu putih.
Roda tandu.
Suara sepatu.
Pertanyaan dokter.
Monitor.
Jarum infus.
Aku mendengar istilah medis yang tidak seluruhnya kupahami.
Detak jantung bayi masih ada.
Itu yang kupegang.
Masih ada.
Masih kuat.
Dokter kandunganku datang sekitar dua puluh menit kemudian.
“Maya, kami akan melakukan yang terbaik. Tapi kemungkinan besar bayinya harus lahir malam ini.”
Aku menelan ludah.
“Dia akan baik-baik saja?”
“Kami punya tim neonatal yang sudah siap.”
Jawaban dokter tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dijanjikan.
Anehnya, aku menyukai itu.
Setelah berjam-jam hidup bersama orang-orang yang selalu membungkus kebohongan dengan kalimat indah, kejujuran terasa seperti bentuk kasih sayang.
Aku menandatangani formulir.
Kemudian semuanya berlangsung sangat cepat.
Dan sangat lambat.
Sulit menjelaskannya.
Ada rasa sakit.
Ada suara orang memanggil namaku.
Ada saat ketika aku benar-benar berpikir tubuhku tidak sanggup lagi.
Lalu…
Tangisan kecil.
Tipis.
Tidak keras seperti bayi di film.
Lebih mirip protes kecil dari seseorang yang baru tiba di dunia terlalu cepat.
Aku langsung menangis.
“Bayiku?”
“Perempuan,” kata dokter.
Aku menoleh.
Aku hanya sempat melihat wajah kecil berwarna kemerahan sebelum tim neonatal membawanya untuk mendapat perawatan.
“Kok kecil sekali…”
“Dia lahir prematur, Bu Maya. Kami akan merawatnya.”
“Boleh aku menyentuhnya?”
Seorang perawat mendekatkannya sebentar.
Jari telunjukku menyentuh tangannya.
Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Jari kecil itu menggenggamku.
Lemah.
Tapi nyata.
Aku menangis tanpa suara.
“Hai…”
Itulah kata pertama yang kuucapkan kepada putriku.
Bukan pidato.
Bukan janji besar.
Cuma…
“Hai.”
Aku memberinya nama Kirana.
Karena beberapa bulan sebelumnya, ketika Arga masih berpura-pura tertarik membicarakan nama bayi, aku pernah mengatakan bahwa aku menyukai nama itu.
Cahaya.
Ironis, mungkin.
Tetapi setelah malam itu, aku justru semakin menyukainya.
Kirana harus tinggal di ruang perawatan neonatal.
Hari pertama adalah hari terpanjang dalam hidupku.
Hari kedua tidak jauh lebih baik.
Pada hari ketiga, dokter mengatakan kondisinya stabil.
Aku menangis di depan inkubator.
Bukan tangisan dramatis.
Aku bahkan sedang makan biskuit waktu itu.
Dokter berkata, “Perkembangannya cukup baik.”
Aku langsung menangis sambil masih memegang setengah biskuit.
Begitulah hidup sebenarnya.
Momen besar tidak selalu datang dengan musik latar.
Kadang datang bersama remah biskuit di baju rumah sakit.
Renata mengunjungiku sore itu.
Dia membawa buah, dokumen, dan wajah seseorang yang sudah tidak tidur dua malam.
“Aku punya kabar.”
Aku langsung tegang.
“Arga?”
“Sudah diperiksa.”
Aku menatap inkubator Kirana.
“Ratih?”
“Juga.”
Renata duduk di kursi.
Penyelidikan yang selama ini kami lakukan ternyata hanya membuka sebagian kecil persoalan.
Setelah dokumen dari kantor resor diperiksa, tim menemukan catatan transaksi lain yang sebelumnya tidak kami ketahui.
Perusahaan fiktif.
Pengalihan dana.
Pembukuan ganda.
Sejumlah aset yang didaftarkan menggunakan nama pihak lain.
Dan beberapa dokumen dengan tanda tangan Arga.
Banyak.
Terlalu banyak untuk disebut sebagai ketidaktahuan.
“Aku bodoh,” kataku.
Renata menggeleng.
“Jangan.”
“Aku tidur di sebelah orang itu selama enam tahun.”
“Itu tidak membuatmu bertanggung jawab atas apa yang dia sembunyikan.”
Aku diam.
Beberapa menit kemudian aku bertanya, “Pernikahan Laras?”
Renata menahan senyum.
“Acara potong kuenya tidak pernah selesai.”
Entah kenapa aku tertawa.
Sakit karena jahitan, jadi aku langsung meringis.
“Jangan bikin aku ketawa.”
“Kamu yang tanya.”
Ternyata Laras sendiri tidak terlibat langsung dalam sebagian besar transaksi yang sedang diperiksa.
Aku lega mendengarnya.
Aku tidak menyukainya.
Dia juga tidak pernah baik kepadaku.
Tetapi aku tidak ingin seseorang dihukum hanya karena aku marah kepadanya.
Beberapa hari kemudian, Laras datang.
Sendirian.
Tanpa riasan.
Tanpa gaun mahal.
Dia berdiri di depan pintu kamar hampir satu menit sebelum mengetuk.
“Aku boleh masuk?”
Aku tidak menjawab segera.
“Boleh.”
Dia duduk.
Kami sama-sama canggung.
“Aku tidak tahu Mama menguncimu.”
Aku menatapnya.
“Tapi kamu tahu bagaimana dia memperlakukanku.”
Laras menunduk.
“Iya.”
“Dan kamu ikut melakukannya.”
“Iya.”
Tidak ada pembelaan.
Itu membuatku justru tidak tahu harus berkata apa.
Laras mengusap matanya.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak langsung mengatakan bahwa aku memaafkannya.
Karena saat itu aku memang belum bisa.
“Aku dengar bayinya perempuan.”
“Kirana.”
“Nama yang bagus.”
“Terima kasih.”
Sebelum pergi, Laras berhenti di pintu.
“Maya?”
“Ya?”
“Aku memberikan akses ke semua dokumen perusahaan yang aku punya.”
Aku mengangkat kepala.
Dia menelan ludah.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga kami setelah ini. Tapi… aku rasa sudah terlalu lama semua orang takut pada Mama.”
Pintu tertutup.
Aku duduk cukup lama setelah itu.
Ternyata keluarga tidak selalu pecah ketika rahasia terbongkar.
Kadang keluarga sudah lama pecah.
Rahasia hanya menyalakan lampu.
Arga datang pada hari kelima.
Aku tidak mengizinkannya masuk.
Dia menunggu di luar selama hampir dua jam.
Akhirnya aku keluar menggunakan kursi roda.
Wajahnya kusut.
“Maya.”
“Apa?”
“Aku mau lihat anak kita.”
“Nanti, lewat prosedur rumah sakit.”
Dia tampak terluka mendengar jawabanku.
Aneh.
Orang yang meninggalkanku terkunci saat persalinan merasa terluka karena aku menetapkan batas.
“Aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku panik malam itu.”
“Tidak.”
“Maya—”
“Kamu tidak panik.”
Dia diam.
“Kamu membuat pilihan.”
Kalimat itu menghentikannya.
Aku melanjutkan.
“Waktu aku minta ambulans, kamu melihat kamera. Waktu ibumu mengunciku, kamu berdiri di sana. Waktu aku memanggil namamu, kamu pergi.”
“Mama memaksaku.”
“Kamu tiga puluh lima tahun, Arga.”
Dia menunduk.
Aku tidak berteriak.
Tidak menamparnya.
Tidak membuat pidato panjang.
Aku sudah terlalu lelah.
“Aku akan mengajukan perceraian.”
Wajahnya terangkat.
“Maya, jangan mengambil keputusan saat emosimu—”
“Keputusan ini justru pertama kalinya dalam enam tahun aku tidak membiarkan emosiku terhadapmu mengalahkan kenyataan.”
Dia menangis.
Aku juga.
Itulah bagian yang jarang diceritakan orang.
Meninggalkan seseorang yang telah menyakitimu tidak otomatis membuat semua rasa sayang menghilang.
Aku masih ingat Arga yang membawakan bubur ketika aku demam.
Arga yang dulu menunggu di depan kantor ketika motorku mogok.
Arga yang tertawa bersamaku di warung kecil saat kami belum punya banyak uang.
Semua kenangan itu tetap ada.
Tetapi kenangan baik tidak menghapus keputusan buruk.
Dan satu cinta tidak seharusnya meminta nyawa sebagai harga untuk mempertahankannya.
Aku kembali ke kamar.
Arga tidak mengejarku.
Beberapa bulan setelah itu, hidupku berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak glamor.
Susu bayi.
Popok.
Sidang.
Laporan.
Kurang tidur.
Pompa ASI.
Pertemuan dengan pengacara.
Kirana menangis pukul tiga pagi.
Dokumen perceraian.
Kirana tertawa untuk pertama kalinya.
Pemeriksaan saksi.
Imunisasi.
Hidup tidak memberiku satu akhir besar.
Ia memberiku banyak akhir kecil.
Dan banyak awal kecil juga.
Proses hukum keluarga Wijaya berjalan sesuai bukti yang ditemukan dan keputusan pihak berwenang. Aku memberikan keterangan mengenai hal-hal yang memang kuketahui, lalu berhenti mengikuti gosip yang beredar.
Aku tidak ingin hidup Kirana dibangun dari kebencian terhadap keluarga ayahnya.
Ratih tidak pernah meminta maaf kepadaku.
Setidaknya bukan permintaan maaf yang sungguh-sungguh.
Pernah ada pesan panjang yang dimulai dengan kalimat, “Kalau malam itu kamu merasa tersinggung…”
Aku berhenti membaca di sana.
Laras berbeda.
Dia perlahan berubah.
Tidak secara ajaib.
Kadang dia masih menyebalkan.
Kadang kami masih bertengkar.
Tetapi dia datang ketika Kirana berusia enam bulan membawa boneka kelinci yang terlalu besar.
“Aku boleh jadi tante?”
Aku menatap boneka itu.
“Kirana bahkan lebih kecil dari telinganya.”
Laras tertawa.
Itu pertama kalinya kami tertawa bersama tanpa ada Arga di antara kami.
Setahun berlalu.
Pada ulang tahun pertama Kirana, aku tidak menyewa ballroom.
Tidak ada lampu kristal.
Tidak ada tiga ratus tamu.
Kami mengadakan pesta kecil di halaman rumah orang tuaku.
Ada nasi kuning.
Ayam goreng.
Mie.
Buah potong.
Kue sederhana yang sebagian krimnya dihancurkan Kirana dengan tangan.
Renata datang terlambat sambil membawa hadiah.
Laras datang bersama suaminya.
Ibuku sibuk menyuruh semua orang makan.
Ayahku menggendong Kirana dan menolak menyerahkannya kepada siapa pun.
Aku berdiri di dekat meja sambil memperhatikan putriku.
Anak yang dulu lahir terlalu cepat itu sekarang sedang tertawa karena balon menyentuh kepalanya.
Keras sekali tawanya.
Aku sampai ikut tertawa.
Renata berdiri di sampingku.
“Kamu ingat malam itu?”
“Tentu.”
“Kamu meneleponku sambil terkunci di kamar mandi.”
“Aku ingat.”
“Aku kira kamu akan pingsan.”
“Aku juga.”
Kami diam.
Kirana merangkak mengejar boneka kelincinya.
“Maya.”
“Hmm?”
“Kamu bahagia?”
Aku hampir menjawab cepat.
Tapi kemudian kupikirkan dulu.
Bahagia ternyata bukan berarti semua luka hilang.
Bukan berarti aku tidak pernah terbangun malam-malam karena teringat bunyi kunci itu.
Klik.
Kadang suara itu masih muncul dalam mimpi.
Tetapi sekarang setelah terbangun, aku tidak lagi berada di lantai kamar mandi.
Aku berada di kamarku sendiri.
Di sebelah ranjang kecil Kirana.
Ada lampu malam berbentuk bulan.
Ada botol susu.
Ada kaus kaki bayi yang entah bagaimana selalu kehilangan pasangannya.
Ada hidup.
Hidup yang berantakan.
Hidup yang tidak sempurna.
Tetapi milikku.
Aku menatap Renata.
“Iya.”
Lalu aku mengoreksi jawabanku.
“Lebih tepatnya… aku sedang belajar.”
Kirana tiba-tiba berdiri sambil berpegangan pada kursi.
Semua orang langsung berseru.
“Ayo, Kirana!”
Dia melepaskan tangannya.
Satu langkah.
Goyah.
Langkah kedua.
Lalu jatuh terduduk.
Semua orang tertawa.
Kirana sendiri bengong beberapa detik, kemudian ikut tertawa paling keras.
Aku berjalan menghampirinya.
Dia mengangkat kedua tangan.
“Mama!”
Aku berhenti.
Itu pertama kalinya dia mengucapkannya dengan jelas.
Mama.
Aku mengangkatnya.
Kirana langsung memeluk leherku dan meninggalkan krim kue di pipiku.
Orang-orang tertawa lagi.
Aku tidak peduli.
Aku mencium rambutnya.
Setahun lalu, aku memohon kepada seseorang untuk memanggil ambulans.
Aku menunggu suamiku menyelamatkanku.
Menunggu keluarga yang selama bertahun-tahun kucoba bahagiakan akhirnya menganggapku cukup berharga untuk dibela.
Mereka tidak melakukannya.
Dulu kupikir itulah bagian paling menyedihkan dari ceritaku.
Sekarang tidak lagi.
Karena ada sesuatu yang baru kusadari.
Pada malam itu, orang pertama yang akhirnya menyelamatkanku…
adalah diriku sendiri.
Aku yang meraih tas.
Aku yang mengambil ponsel.
Aku yang melakukan panggilan.
Aku yang akhirnya berhenti menunggu Arga berubah menjadi laki-laki yang selama ini kubayangkan.
Dan panggilan kecil dari lantai kamar mandi itu tidak cuma membuka sebuah pintu yang dikunci dari luar.
Ia membuka seluruh hidupku.
Kirana menarik antingku.
“Aduh!”
Dia tertawa.
Aku ikut tertawa sambil melepaskan jemarinya.
“Mama bukan mainan, Sayang.”
Dia tentu saja tidak peduli.
Tangannya langsung mencoba meraih rambutku.
Di belakang kami, seseorang memanggil agar kami berkumpul untuk foto.
Aku menggendong Kirana menuju keluarga dan teman-teman yang menunggu.
Tidak semuanya memiliki hubungan darah denganku.
Tidak semuanya sudah kukenal sejak lama.
Namun mereka datang.
Mereka tinggal.
Dan ketika aku membutuhkan bantuan, mereka membuka pintu.
Fotografer mengangkat kamera.
“Semuanya lihat sini!”
Kirana malah melihat ke arah lain.
Ayahku sedang tertawa.
Ibuku belum siap.
Laras masih membetulkan rambut.
Renata memegang piring.
Foto itu pasti tidak sempurna.
Aku justru menyukainya.
Sebelum kamera berbunyi, Kirana tiba-tiba menempelkan pipinya ke pipiku.
Klik.
Satu foto.
Tidak sempurna.
Tidak direncanakan.
Tetapi nyata.
Dan setelah bertahun-tahun hidup di tengah keluarga yang begitu sibuk mempertahankan penampilan sempurna, ternyata hanya itu yang kuinginkan.
Sesuatu yang nyata.
Aku memeluk putriku lebih erat.
Di kejauhan, matahari sore turun perlahan di balik pepohonan.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada tepuk tangan tiga ratus orang.
Tidak ada lampu kristal.
Cuma suara keluarga bercakap-cakap, piring beradu, anak kecil tertawa, dan ibuku dari belakang berteriak,
“Maya, jangan lupa makan! Dari tadi cuma gendong anak!”
Aku tertawa.
“Iya, Bu!”
Kirana ikut berteriak meski tidak jelas apa yang dia katakan.
Aku mencium keningnya.
Dan untuk pertama kalinya, ketika teringat suara pintu yang dikunci malam itu…
aku tidak lagi mendengar akhirnya.
Aku mendengar apa yang datang sesudahnya.
Tangisan pertama Kirana.
Suara dokter mengatakan kondisinya stabil.
Tawanya.
Langkah pertamanya.
Dan satu kata kecil yang ternyata mampu menenggelamkan semua suara buruk dari masa lalu.
“Mama.”
Aku tersenyum.
“Iya, Sayang.”
Aku ada di sini.
Dan kali ini…
tak ada seorang pun yang bisa mengunci kami di dalam lagi.
