Kedatangan 4 koper itu bukan karena masalah sewa rumah semata.

PART 2

Pukul 08:15 hari Sabtu, bel rumah Citra berbunyi nyaring dan beruntun.

Saat Citra mengintip, rombongan di luar sudah bertambah.

Selain Maya, Rendy, dan kedua anak mereka, kini ada Rian dan ibunya, Ibu Tutik.

“Buka pintunya, Citra!” seru Rian dari luar. “Tidak usah buat drama!”

Citra berbicara dari dalam tanpa membuka pintu.

“Bicara saja dari sana.”

Ibu Tutik maju mendekati pintu, suaranya melengking.

“Dulu kamu yang membuat anakku keluar dari rumah ini, sekarang kamu mau mengusir seluruh keluarganya?”

“Rian pergi atas kemauannya sendiri,” balas Citra tenang.

Maya menunjuk koper-koper di lantai.

“Kami cuma butuh tempat tinggal beberapa bulan!”

“Kemarin bilangnya cuma beberapa hari,” sahut Citra.

Suara kasak-kusuk terdengar dari luar.

Citra mendekatkan telinganya ke kayu pintu.

Ia mendengar Ibu Tutik berbisik kepada Maya:

“Nanti kamu dan anak-anak pakai kamar utama di lantai atas. Ibu pakai kamar tamu. Rian kembali ke kamar depan.”

Citra membuka pintu sedikit, hanya sebatas panjang rantai pengaman yang terpasang.

“Hebat sekali. Lalu saya harus tidur di mana di rumah saya sendiri?”

Maya mendengkus.

“Kamu kan bisa pakai ruang kerja kecil di belakang.”

Citra menutup pintu dengan rapat dan mengunci slot ganda.

Dia berjalan cepat menuju ruang kerja tempat ia menyimpan berkas-berkas penting di dalam lemari besi.

Citra mengambil map warna merah.

Di dalamnya ada sertifikat kepemilikan atas nama Citra tunggal.

Di bawah sertifikat itu, terdapat dokumen perjanjian pengosongan dan pembaruan domisili.

Dua tahun lalu, ketika Rian menggunakan alamat rumah ini untuk pendaftaran usaha pribadinya, Citra meminta Rian menandatangani surat perjanjian penggunaan alamat sementara di hadapan notaris.

Isi pasal tersebut jelas: Jika Rian tidak tinggal di rumah tersebut selama 90 hari berturut-turut karena perpisahan atau masalah rumah tangga, Rian wajib mencabut hak penggunaan alamat dan menyerahkan seluruh akses kunci.

Hari ini adalah hari ke-88.

Hari Senin besok adalah hari ke-90.

Jika Rian berhasil masuk dan tinggal kembali di dalam rumah sebelum hari Senin, tenggat waktu 90 hari itu gugur secara hukum.

Citra segera mengambil ponselnya dan menghubungi pengacaranya, Intan Pertiwi.

“Bu Intan, mereka ada di depan pintu rumah saya sekarang,” kata Citra menjelaskan situasi.

“Jangan pernah buka pintu atau beri akses masuk,” tegas Intan dari seberang telepon. “Rekam semua percakapan yang bisa kamu dengar. Kumpulkan bukti bahwa Rian tidak tinggal di sana selama 3 bulan terakhir.”

Citra kembali ke area pintu depan dengan fitur perekam suara ponsel yang sudah aktif.

Suara di luar pintu masih terdengar.

“Kalau Rian bisa masuk sebelum Senin,” ujar Maya dengan suara teredam, “kita bisa katakan dia tidak pernah keluar dari sini.”

“Benar,” timpal Ibu Tutik. “Lalu kita tunjukkan surat sewa itu kalau dia mencoba memanggil pihak berwajib.”

Citra tertegun di tempatnya berdiri.

Surat sewa?

Rian menyela dengan suara tergesa-gesa.

“Kalian pelankan suara! Jangan sampai Citra mendengar soal surat itu!”

Citra mengepalkan tangannya rapat-rapat.

Ponsel di tangannya merekam setiap kalimat tersebut dengan sangat jernih.

Ada dokumen lain yang dibuat tanpa sepengetahuannya.

Sabtu sore, suasana di luar rumah akhirnya sepi.

Rombongan itu pergi setelah Citra mengancam akan memanggil petugas keamanan kompleks.

Namun Citra tidak bisa tenang.

Dia memeriksa seluruh sudut rumah, memastikan kunci jendela aman, lalu duduk di meja makan bersama berkas-berkasnya.

Selama 8 tahun menikah dengan Rian, Citra selalu percaya pada suaminya.

Rian bekerja di bidang pemasaran properti dan terbiasa dengan dokumen serta surat perizinan.

Citra sendiri fokus mengurus jasa desain interior miliknya.

Mereka memiliki rekening terpisah dan aset terpisah sejak awal menikah.

Atau setidaknya, itulah yang selalu Citra kira.

Pukul 17:40, sebuah pesan masuk dari Intan.

“Citra, besok pagi jam 09:00 datang ke kantor saya. Saya menemukan dokumen mencurigakan atas nama kamu di data administrasi.”

Hari Minggu pagi.

Citra duduk di ruang rapat kantor hukum Intan Pertiwi di Jakarta Selatan.

Intan membuka sebuah folder tebal di atas meja.

“Apakah kamu pernah menyewakan rumah kamu kepada Rian?” tanya Intan langsung.

“Tidak pernah.”

“Apakah kamu pernah menerima uang sewa bulanan dari dia?”

“Sama sekali tidak.”

Intan memutar layar laptopnya ke arah Citra.

Di layar tertera salinan dokumen setebal 6 halaman.

Judulnya: Surat Perjanjian Sewa Menyewa Bangunan Tempat Tinggal.

Nama pemilik: Citra Pertiwi.

Nama penyewa: Rian Vidal.

Tanggal pembuatan: 18 bulan lalu.

Masa sewa: 5 tahun.

Nilai sewa: Rp 4.500.000 per bulan.

Citra membaca baris demi baris dengan mata melebar.

“Ini palsu. Saya tidak pernah buat surat ini!”

“Lihat halaman terakhir,” kata Intan.

Di bagian bawah kertas, tertera tanda tangan atas nama Citra.

Goresannya menyerupai tanda tangan asli Citra, namun ada sedikit perbedaan pada lekukan huruf pertama.

Citra merasa kakinya dingin.

“Dari mana dokumen ini berasal?”

“Rian menyerahkan salinan dokumen ini ke kantor kelurahan dan dinas pajak 2 minggu lalu untuk mempertahankan hak domisili hukumnya,” jelaskan Intan. “Jika dokumen ini dianggap sah, Rian memiliki hak guna bangunan sebagai penyewa resmi selama 5 tahun ke depan, meskipun kalian bercerai.”

Skenario kejam itu kini terlihat sepenuhnya terang bagi Citra.

Rian dan keluarganya tidak hanya ingin menumpang.

Mereka ingin menciptakan status hukum palsu.

Jika mereka berhasil masuk ke dalam rumah sebelum hari Senin, Rian bisa mengklaim bahwa dia tinggal di sana sebagai penyewa yang sah berdasarkan surat palsu itu, ditemani oleh keluarga yang dia izinkan tinggal.

“Apakah dia bisa merebut rumah saya dengan kertas ini?” tanya Citra.

“Sertifikat tanah tetap milik kamu,” jawab Intan tenang. “Tetapi kertas palsu ini diciptakan untuk memicu sengketa sipil yang rumit. Jika mereka sudah di dalam, mengusir mereka butuh proses pengadilan bertahun-tahun.”

Intan lalu mengambil selembar kertas hasil cetakan transaksi bank.

“Ada hal lain yang lebih parah.”

“Apa itu?”

“Rekening penampung pembayaran sewa yang tercantum di surat sewa palsu ini bukan rekening kamu.”

Citra melihat nomor rekening Bank BCA yang tertera.

“Itu bukan rekening saya. Saya tidak kenal nomor ini.”

“Kami sudah memeriksa alurnya,” ujar Intan. “Rekening itu atas nama Ibu Tutik, ibu mertuamu.”

Setiap bulan selama 11 bulan terakhir, ada transfer masuk sebesar Rp 4.500.000 dari rekening pribadi Rian ke rekening Ibu Tutik dengan catatan berita: Pembayaran Sewa Rumah Jakarta.

Rian mengirim uang ke ibunya sendiri, lalu menggunakan bukti transfer itu seolah-olah dia membayar sewa rumah kepada Citra.

Rencana ini sudah disusun dengan sangat rapi sejak hampir satu tahun yang lalu.

Hari Minggu malam pukul 20:12.

Ponsel Citra berdering.

Nama Rian muncul di layar.

Citra menekan tombol hijau dan menyalakan speaker.

“Besok pagi aku akan datang membawa kunci lama,” kata Rian dengan nada dingin. “Kamu tidak bisa melarang aku masuk ke rumahku sendiri.”

“Kunci lamamu tidak akan berfungsi,” balas Citra singkat.

Hening sejenak di ujung telepon.

Dua minggu lalu, Citra memang telah mengganti seluruh silinder kunci pintu utama karena salah satu gantungan kuncinya hilang.

Saat itu Citra tidak berpikir panjang, namun kini tindakan itu menjadi benteng pertahanan terbesarnya.

“Kamu sudah keterlaluan, Citra,” suara Rian meninggi.

“Kamu yang keterlaluan, Rian,” sahut Citra dengan nada sangat tenang. “Kamu memalsukan tanda tanganku di surat sewa 5 tahun.”

Tidak ada suara dari ujung telepon selama beberapa detik.

Suasana menjadi sangat hening.

“Aku… aku tidak tahu apa maksudmu,” kata Rian, gagap.

“Besok jam 09:00 pagi, pengacaraku akan menyerahkan semua bukti falsifikasi ini ke kepolisian jika kamu masih mendekati rumah ini.”

Panggilan langsung diputus oleh Rian.

Hari Senin pukul 09:05.

Tenggat waktu 90 hari resmi terlampaui.

Melalui tim hukumnya, Citra secara resmi mengirimkan surat somasi dan pemberitahuan pencabutan hak domisili Rian di alamat rumah tersebut.

Bersama surat itu, dipampangkan salinan dokumen surat sewa palsu beserta hasil verifikasi tanda tangan dari ahli grafologi yang menyatakan tanda tangan tersebut dibuat oleh orang lain.

Tiga jam kemudian, Rian mengirimkan pesan singkat ke ponsel Citra.

Bukan lewat pengacara.

Tetapi pesan pribadi:

“Citra, tolong jangan bawa ini ke hukum. Aku cuma mau bantu Mbak Maya yang sedang kesusahan.”

Citra membaca pesan itu dengan senyum sinis.

Dia membalas singkat:

“Membantu ma’am Maya tidak butuh memalsukan tanda tanganku.”

Rian tidak membalas lagi.

Hari Selasa sore.

Maya datang sendirian ke rumah Citra.

Tanpa suami, tanpa anak-anak, dan tanpa koper.

Dia berdiri di luar pintu dengan wajah pucat.

Citra tidak membukakan pintu pengaman, hanya bicara dari balik celah.

“Ada apa lagi?”

“Citra… saya mau bicara,” suara Maya terdengar pelan, sama sekali kehilangan nada sombongnya seperti hari Jumat lalu.

“Bicara saja dari sana.”

Maya menghela napas panjang.

“Saya benar-benar tidak tahu soal surat sewa palsu itu.”

Citra diam, mendengarkan.

“Rian bilang ke kami kalau rumah ini adalah milik bersama kalian,” lanjut Maya dengan mata berkaca-kaca. “Rian bilang kamu mau menjual rumah ini secara sepihak dan membuang Rian tanpa memberikan bagiannya.”

“Sertifikat rumah ini dibeli sebelum saya kenal Rian,” tegas Citra.

“Saya baru tahu itu kemarin setelah Rian panik,” kata Maya. “Dan soal ucapan saya tentang masuk sebelum hari Senin… itu arahan dari Ibu. Ibu yang menyuruh kami buru-buru pindah supaya Rian punya posisi kuat.”

“Kalian berniat mengusir saya dari rumah saya sendiri.”

Maya menunduk.

“Suami saya terkena pemutusan hubungan kerja 5 bulan lalu. Kami menunggak sewa rumah di Bandung selama 4 bulan dan sudah diusir pemilik rumah. Kami memang butuh tempat tinggal, Citra… Rian menjanjikan kami bisa tinggal gratis di sini.”

Citra menatap bayangan Maya dari balik kaca pintu.

Ada rasa prihatin atas kesulitan finansial yang dialami keluarga iparnya.

Namun hal itu tidak bisa menghapus tindakan manipulatif yang hampir menghancurkan hidupnya.

“Kalian bisa meminta bantuan secara jujur,” kata Citra. “Bukan dengan cara datang membawa koper dan membagi-bagi kamar di rumah orang lain.”

Maya tidak bisa menjawab.

Sebelum pergi, Maya membocorkan satu hal lagi.

“Rian melakukan semua ini bukan cuma untuk bantu saya, Citra.”

“Maksudmu?”

“Dua bulan lalu, Rian tahu kamu sempat berkonsultasi dengan pengacara soal perceraian. Dia takut kalau bercerai, dia tidak punya aset apa-apa dan harus keluar dari rumah ini tanpa membawa hasil. Ibu yang memberi ide untuk membuat bukti sewa seolah-olah dia punya hak tinggal yang panjang.”

Rian memanfaatkan kesulitan ekonomi Maya sebagai tameng untuk menutupi niat buruknya sendiri.

Hari Rabu, Intan melengkapi semua berkas bukti.

Di antara berkas yang dikumpulkan, ada sebuah dokumen berharga yang ditemukan Citra dari sebuah laptop tua milik Rian yang tertinggal di lemari meja kerja.

Laptop itu masih terhubung dengan akun email lama Rian.

Citra tidak membobol akun apa pun, ia hanya membuka aplikasi email yang sudah terbuka secara otomatis.

Di folder pesan keluar dari 14 bulan lalu, ada email yang dikirim Rian kepada seorang rekan kerjanya di kantor properti.

Rian menulis:

“Apakah bisa membuat surat sewa rumah dengan tanggal mundur atas nama istri tanpa ketahuan?”

Rekan kerjanya membalas:

“Jangan aneh-aneh. Memalsukan tanda tangan di surat perjanjian adalah tindak pidana. Kamu bisa masuk penjara kalau istri kamu melapor.”

Rian membalas lagi:

“Saya cuma butuh dokumen itu untuk bukti domisili dan jaminan tempat tinggal kalau terjadi apa-apa.”

Pesan tersebut menjadi bukti petunjuk yang sangat kuat bahwa Rian secara sadar dan sengaja merencanakan pemalsuan tanda tangan tersebut, meskipun sudah diperingatkan tentang konsekuensi hukumnya.

Dengan bukti-bukti yang begitu padat dan tidak bisa dibantah, pertahanan keluarga Rian hancur sepenuhnya.

Rendy, suami Maya, menghubungi Citra dua hari kemudian untuk menyampaikan permohonan maaf secara pribadi.

“Saya benar-benar minta maaf, Citra,” ujar Rendy di telepon. “Saya dibohongi oleh Rian dan Ibu. Saya pikir rumah itu memang rumah kalian berdua. Kalau saya tahu kebenarannya dari awal, saya tidak akan mau diajak ke Jakarta dengan cara seperti itu.”

Rendy dan Maya akhirnya memilih menyewa kontrakan kecil sederhana di daerah Depok sambil Rendy memulai pekerjaan barunya sebagai pengemudi taksi daring.

Sementara itu, Ibu Tutik harus mengembalikan seluruh uang sebesar Rp 49.500.000 yang selama ini ditransfer Rian ke rekeningnya dengan dalih “uang sewa”.

Uang itu disita oleh pihak hukum sebagai bagian dari penyelesaian sengketa keuangan internal sebelum proses perceraian diajukan.

Ibu Tutik sempat mengirimkan pesan panjang berisi makian kepada Citra, menuduh Citra sebagai wanita tega yang merusak keluarga.

Citra membalas pesan itu hanya dengan satu kalimat:

“Keluarga yang baik tidak dibangun di atas kertas pemalsuan tanda tangan.”

Setelah itu, Citra memblokir nomor Ibu Tutik selamanya.

Proses perceraian antara Citra dan Rian berlangsung di Pengadilan Agama Jakarta Selatan dua bulan kemudian.

Rian hadir tanpa didampingi pengacara, wajahnya tampak lesu dan menghindari tatapan mata Citra.

Di depan majelis hakim, Rian menandatangani surat persetujuan perceraian dan melepas seluruh tuntutan atau klaim apa pun terhadap rumah tinggal Citra.

Rian juga menandatangani pernyataan resmi pengakuan bahwa surat sewa 5 tahun tersebut adalah dokumen yang tidak sah.

Ketika keluar dari ruang sidang, Rian berjalan mendekati Citra yang didampingi Intan.

“Citra… apa kita benar-benar tidak bisa mulai dari awal lagi?” tanya Rian pelan.

Citra menatap pria yang pernah ia nikahi selama 8 tahun itu.

“Kamu tidak pernah takut kehilangan saya, Rian,” kata Citra tenang. “Kamu cuma takut kehilangan fasilitas dan tempat tinggal gratis.”

Rian menundukkan kepala, tidak mampu membantah kata-kata itu.

Dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan koridor pengadilan.

Bulan November.

Citra memutuskan untuk mengubah penataan rumahnya.

Kamar utama di lantai atas yang pernah ditunjuk-tunjuk oleh Maya untuk ditempati keluarganya, kini dirubah total oleh Citra.

Citra mengecat ulang dindingnya dengan warna krem hangat, memasang meja kayu besar di dekat jendela yang menghadap ke taman kecil, dan mengubahnya menjadi studio desain interior pribadinya.

Di sana, ia menyimpan sampel kain, papan inspirasi proyek, dan komputer kerjanya.

Kamar tamu yang tadinya ingin dikuasai oleh Ibu Tutik, dirapikan menjadi kamar yang nyaman untuk sahabat atau tamu yang benar-benar dia undang secara pribadi.

Suatu sore, saat Citra merapikan lemari tua di lorong rumah, ia menemukan sebuah foto pernikahan dirinya dengan Rian 8 tahun lalu.

Dalam foto itu, mereka berdua tersenyum lebar di depan pelaminan.

Citra memandangi foto itu selama beberapa detik.

Dulu, ia berpikir bahwa pernikahan berarti membuka seluruh pintu hidupnya tanpa batas untuk pasangan.

Kini, ia memahami sebuah pelajaran berharga.

Mencintai seseorang bukan berarti memberikan kunci atas segala hal yang kita miliki.

Bukan kunci rumah, bukan kunci kebebasan finansial, dan bukan kunci atas harga diri.

Citra memasukkan foto itu ke dalam kotak dus bekas, menutupnya rapat-rapat, lalu menyimpannya di gudang belakang.

Dia berjalan ke area ruang tamu dan membuka lebar-lebar jendela kaca yang menghadap ke jalan raya.

Angin sore Jakarta yang sejuk masuk mengisi ruangan.

Rumah ini masih berdiri kokoh dengan dinding yang sama, lorong yang sama, dan pintu utama yang sama.

Namun rasanya kini jauh berbeda.

Rumah ini tidak lagi terasa seperti tempat yang mengancam atau rawan dirampas.

Rumah ini kembali menjadi tempat perlindungan yang aman.

Rumah milik Citra sepenuhnya.

Dan setiap kali teringat malam ketika 4 koper itu mendarat di depan pintunya, Citra selalu mengingat kalimat bisikan yang ia dengar dari balik pintu:

“Kalau kita berhasil masuk sebelum hari Senin, nanti akan lebih sulit mengeluarkan kita.”

Citra tersenyum kecil.

Dia tidak pernah menyesali keputusannya untuk tetap mengunci pintu malam itu.

Sebab ada pintu yang dikunci bukan karena kita membenci orang di luar.

Melainkan karena kita akhirnya sadar betapa berharganya menjaga apa yang ada di dalam.