KARENA KEMISKINAN AKU MENIKAH DENGAN PRIA TUA KAYA, TETAPI MALAM PERTAMA IA HANYA DUDUK MENATAPKU TIDUR DAN RAHASIANYA MEMBUATKU TERDIAM
BAGIAN 1
“Tidak akan terjadi apa-apa di antara kita.”
Aku masih duduk kaku di tepi ranjang ketika Pak Hendra mengatakan itu.
Kebaya pengantinku bahkan belum kulepas.
Sejak masuk ke kamar beberapa menit sebelumnya, aku sudah menyiapkan diri menghadapi sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kupikirkan.
Namun pria berusia enam puluh delapan tahun yang baru beberapa jam menjadi suamiku itu justru menarik sebuah kursi kayu ke samping ranjang.
Ia duduk.
Tangannya diletakkan di atas paha.
“Tidurlah, Alya.”
Aku menatapnya.
“Bapak mau duduk di situ?”
“Iya.”
“Sampai kapan?”
“Sampai kamu tidur.”
Aku tidak mengerti.
Tiga minggu sebelumnya, aku bahkan belum membayangkan akan menikah dengannya.
Saat itu aku, Bapak, dan Ibu sedang membereskan barang-barang dari rumah kami di Sleman.
Rumah itu sudah tidak bisa kami pertahankan.
Usaha bengkel kecil Bapak berhenti setelah kondisi kesehatannya memburuk. Cicilan menumpuk. Beberapa pinjaman yang sebelumnya kami kira masih bisa diselesaikan justru semakin besar.
Pak Hendra datang sore itu.
Aku mengenalnya hanya sebagai kenalan lama Bapak.
Pengusaha properti.
Punya hotel kecil, beberapa ruko, gudang logistik, dan rumah besar di pinggiran Yogyakarta.
Istrinya sudah lama meninggal.
Ia duduk bersama Bapak hampir satu jam.
Setelah itu ia memanggilku.
“Alya, saya punya usul.”
Aku masih ingat wajah Ibu ketika mendengar syaratnya.
Pak Hendra bersedia membantu menyelesaikan sebagian besar tanggungan keluarga kami, menyiapkan rumah kecil untuk orang tuaku, dan membantu biaya pengobatan Bapak.
Sebagai gantinya, aku menikah dengannya.
Aku langsung berdiri.
“Tidak.”
Bapak mencoba menghentikanku.
“Alya.”
“Bapak serius membicarakan ini?”
Pak Hendra tidak tersinggung.
Ia hanya berkata tenang.
“Kamu boleh menolak.”
Aku benar-benar ingin menolak.
Sampai malam itu aku mendengar Bapak dan Ibu berbicara pelan di ruang belakang tempat kami menumpang.
“Kita tinggal di mana minggu depan?”
Suara Ibu bergetar.
Bapak tidak menjawab.
Dua hari kemudian aku menemui Pak Hendra.
“Apa Bapak benar-benar akan memenuhi semua yang Bapak janjikan?”
“Iya.”
“Tidak ada syarat lain?”
“Tidak.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Tiga minggu kemudian akad kami berlangsung sederhana.
Dan sekarang, pada malam pertama, pria yang kukira telah membeli hidupku justru duduk dua meter dariku.
“Kenapa Bapak menikahi saya?”
Ia diam beberapa saat.
“Nanti kamu akan tahu.”
Jawaban itu malah membuatku semakin tidak nyaman.
Aku tidur sambil tetap mengenakan kebaya.
Ketika bangun pagi, kursi kayu itu kosong.
Pak Hendra sudah pergi.
Malam kedua, kejadian serupa berlangsung lagi.
Ia masuk sekitar pukul sepuluh.
Membawa kursi yang sama.
Duduk.
“Tidurlah.”
Aku memberanikan diri bertanya.
“Bapak tidak punya kamar sendiri?”
“Ada.”
“Kenapa harus di sini?”
Ia menatapku sebentar.
“Karena saya ingin memastikan sesuatu.”
“Apa?”
Ia tidak menjawab.
Malam ketiga aku sengaja menunggu.
Kupikir mungkin ia akhirnya akan mengatakan alasannya.
Tetapi setelah hampir satu jam, ia tetap diam.
Akhirnya aku berkata,
“Saya tidak bisa terus seperti ini.”
Pak Hendra mengangkat kepala.
“Saya tahu.”
“Kalau Bapak ingin mengatakan sesuatu, katakan saja.”
“Belum waktunya.”
Aku kesal.
“Lalu kapan?”
“Sebentar lagi.”
Hari-hari di rumah itu juga terasa aneh.
Pak Hendra memperlakukanku dengan sangat sopan.
Ia tidak pernah mengatur pakaianku.
Tidak pernah bertanya ke mana aku pergi.
Bahkan ketika aku meminta izin menjenguk Bapak, ia memberikan kunci mobil dan meminta sopir mengantarku.
Namun ada satu aturan.
Aku tidak boleh masuk ke kamar kecil di lantai dua, tepat di ujung lorong.
“Kenapa?”
“Itu kamar lama.”
“Kamar siapa?”
Pak Hendra tidak menjawab.
Pembantu rumah bernama Bu Rini juga selalu berubah gugup kalau aku menanyakannya.
Pada malam kelima, aku tertidur lebih awal.
Entah sudah berapa lama aku tidur ketika suara napas berat membangunkanku.
Aku membuka mata.
Pak Hendra berdiri sangat dekat.
Wajahnya hanya beberapa puluh sentimeter dari wajahku.
Aku langsung menarik selimut.
“Bapak!”
Ia tersentak.
Tangannya gemetar.
Aku baru menyadari ada sesuatu di tangannya.
Sebuah foto lama.
Warnanya sudah pudar.
Pak Hendra menatap foto itu.
Lalu menatapku.
Matanya basah.
“Alya…”
Aku duduk.
“Foto siapa itu?”
Ia tidak menjawab.
Aku merebut foto tersebut sebelum ia sempat menyimpannya.
Dan tubuhku langsung kaku.
Di dalam foto itu ada seorang perempuan muda.
Usianya mungkin sekitar dua puluh tahun.
Rambutnya panjang.
Wajahnya menghadap kamera.
Aku memandang foto itu.
Lalu menyentuh wajahku sendiri.
Perempuan di foto tersebut memiliki bentuk mata, hidung, bahkan garis wajah yang hampir sama denganku.
Di belakang foto ada tulisan tangan yang sudah memudar.
Ratih Prameswari, 1981.
Prameswari.
Nama belakang keluargaku.
Aku menatap Pak Hendra.
“Siapa Ratih?”
Ia tidak langsung menjawab.
Aku berdiri.
“Kenapa namanya sama dengan nama keluarga saya?”
Pak Hendra memejamkan mata.
Lalu ia mengatakan satu kalimat yang membuat seluruh rasa takutku berubah menjadi pertanyaan yang jauh lebih besar.
“Karena sebelum saya mengenal ayahmu, saya sudah mengenal perempuan di foto itu.”
Aku menggenggam foto tersebut erat.
“Siapa dia?”
Pak Hendra menatapku.
“Ibumu tidak pernah memberitahumu bahwa sebelum kamu lahir, ada satu nama yang dilarang disebut di keluarga kalian?”
Aku membeku.
Saat itulah ponselku berbunyi.
Ibu menelepon.
Begitu kuangkat, suara Ibu langsung terdengar panik.
“Alya, kamu sudah masuk kamar lantai dua itu?”
Aku menatap Pak Hendra.
Jantungku berdetak cepat.
“Belum.”
Ibu terdiam.
Lalu ia berkata sangat pelan.
“Jangan buka pintu itu sebelum Ibu datang.”
DAN SEJAK MALAM ITU…
BAGIAN 2
RAHASIA KAMAR LANTai DUA
Aku tidak bisa tidur malam itu.
Foto perempuan bernama Ratih Prameswari masih kugenggam di tangan. Pak Hendra sudah keluar dari kamar sejak satu jam lalu, tapi kata-kata terakhirnya terus berputar di kepalaku.
Ibumu tidak pernah memberitahumu bahwa sebelum kamu lahir, ada satu nama yang dilarang disebut di keluarga kalian?
Aku menyalakan lampu meja.
Membuka ponsel.
Mencari nama Ratih Prameswari.
Tidak ada hasil.
Aku mencoba menggabungkan nama itu dengan nama Bapak.
Tidak ada.
Dengan nama Ibu.
Tidak ada.
Siapa perempuan ini?
Kenapa wajahnya hampir sama denganku?
Aku memandangi foto itu sekali lagi. Perempuan muda dengan senyum tipis, rambut panjang terurai, mengenakan kebaya sederhana. Matanya besar. Hidungnya mancung. Bentuk bibirnya…
Aku menyentuh bibirku sendiri.
Sama.
Persis sama.
Pukul tiga pagi, aku masih terjaga ketika mendengar suara langkah di lorong.
Pelan.
Berhenti tepat di depan kamarku.
Aku menahan napas.
Bayangan kaki terlihat di bawah celah pintu.
Tidak bergerak.
Hampir lima menit.
Lalu menghilang.
Pagi berikutnya, aku turun ke dapur dengan mata bengkak.
Bu Rini sedang menyiapkan sarapan. Melihatku, ia langsung menundukkan kepala.
“Bu.”
“Iya, Nyonya?”
Aku duduk di kursi.
“Bu Rini sudah lama kerja di sini?”
“Sejak tahun sembilan puluh.”
“Kenapa?”
Bu Rini berhenti memotong sayur.
“Tahun sembilan puluh?”
“Iya.”
“Apa Bu Rini tahu tentang Ratih Prameswari?”
Pisau di tangan Bu Rini terjatuh.
Berbunyi nyaring di lantai.
“Astaghfirullah.”
Ia buru-buru membungkuk mengambil pisau itu. Tangannya gemetar.
“Bu Rini.”
“Saya… saya tidak tahu apa-apa, Nyonya.”
“Bu Rini jelas tahu sesuatu.”
Ia menggeleng cepat.
“Jangan tanya saya. Jangan tanya saya.”
“Kenapa?”
“Karena saya sudah berjanji.”
“Berjanji pada siapa?”
Bu Rini menatapku.
Matanya berkaca-kaca.
“Pada almarhumah.”
“Almarhumah siapa?”
Ia tidak menjawab.
Meninggalkan sayuran yang belum selesai dipotong.
Berjalan cepat keluar dapur.
Aku mengikuti dengan mata.
Di ujung lorong, Pak Hendra berdiri.
Sudah rapi dengan kemeja putihnya.
Menatapku.
“Jangan ganggu Bu Rini.”
“Bapak.”
“Kenapa?”
“Bapak bilang saya akan tahu nanti. Kapan?”
Pak Hendra berjalan mendekat.
“Kamu mau sarapan?”
“Bapak.”
Ia duduk di kursi se enfrente.
“Alya, ada hal-hal yang lebih baik kamu ketahui setelah semuanya siap.”
“Apa maksudnya?”
Ia menuangkan teh ke cangkir.
“Besok.”
“Besok apa?”
“Besok ibumu datang.”
Aku menatapnya.
“Ibu memang bilang mau datang.”
“Bagus.”
“Bapak tahu kenapa Ibu melarang saya masuk kamar itu?”
Pak Hendra menyeruput tehnya.
“Karena ibumu takut.”
“Takut apa?”
Ia meletakkan cangkir.
“Alya, apakah kamu pernah bertanya kenapa ayahmu tidak pernah bercerita tentang masa mudanya?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu…
Aku memang tidak pernah bertanya.
Bapak selalu tertutup soal masa lalunya.
Setiap kali aku bertanya tentang keluarganya, ia selalu mengganti topik.
“Ayahmu bukan orang jahat,” kata Pak Hendra pelan.
“Tapi?”
“Tapi ada hal-hal yang dia sembunyikan.”
“Seperti apa?”
Pak Hendra berdiri.
“Besok malam, setelah ibumu datang, saya akan membuka kamar itu.”
“Kita akan masuk bersama.”
“Dan kamu akan tahu segalanya.”
Seharian itu aku tidak bisa tenang.
Aku mencoba menghubungi Ibu berkali-kali.
Tidak dijawab.
Pesan-pesanku juga tidak dibalas.
Menjelang sore, aku memberanikan diri berjalan ke lantai dua.
Lorong itu sunyi.
Lampu dinding menyala redup.
Di ujung lorong, pintu kayu itu tertutup rapat.
Aku berjalan pelan.
Setiap langkah terasa berat.
Ketika sampai di depan pintu, aku mengulurkan tangan.
Menyentuh gagang pintu.
Dingin.
Aku mencoba memutar.
Terkunci.
Tapi ada sesuatu yang aneh.
Di bawah pintu, ada celah kecil.
Dan dari celah itu, aku mencium bau.
Bau bunga melati.
Seperti bau yang sering kusium di rumah lama kami.
Bau yang selalu ada di dekat Ibu.
Aku mundur.
Jantungku berdebar.
Bau itu…
Kenapa ada bau melati di balik pintu yang sudah terkunci bertahun-tahun?
Aku berlari turun.
Di tangga, aku bertemu Pak Hendra.
Ia menatapku.
“Kamu ke lantai dua?”
Aku mengangguk.
“Bapak bilang jangan masuk.”
“Aku tidak masuk. Hanya melihat pintunya.”
Pak Hendra menghela napas.
“Besok.”
“Iya. Besok.”
Tapi malam itu, sesuatu terjadi.
Sekitar pukul sebelas, aku terbangun karena suara.
Suara perempuan.
Menangis.
Aku duduk di ranjang.
Mendengarkan.
Suara itu datang dari lantai atas.
Pelan.
Tersedu.
Aku menyalakan lampu.
Melihat ke arah pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi suara itu terus terdengar.
Aku keluar kamar.
Lorong gelap.
Suara tangis semakin jelas.
Aku menaiki tangga.
Satu per satu.
Sampai di lantai dua.
Lorong itu gelap.
Hanya cahaya bulan dari jendela di ujung.
Dan pintu kayu itu…
Terbuka.
Sedikit.
Aku menahan napas.
Pintu itu terbuka sendiri.
Aku melangkah pelan.
Mendorong pintu.
Dan masuk.
Ruangan itu gelap.
Bau melati sangat kuat.
Aku meraba dinding.
Mencari saklar.
Ketika lampu menyala, aku membeku.
Kamar itu bukan kamar biasa.
Di dinding, tergantung puluhan foto.
Semuanya perempuan yang sama.
Ratih Prameswari.
Dari usia muda sampai dewasa.
Di meja, ada buku harian.
Di ranjang, ada gaun pengantin putih yang sudah menguning.
Dan di sudut ruangan, ada kursi bayi.
Dengan nama yang terukir di sandarannya.
Alya.
Aku mundur.
Kakiku lemas.
“Alya.”
Aku menoleh.
Pak Hendra berdiri di ambang pintu.
Wajahnya pucat.
“Bapak…”
“Kamu tidak seharusnya masuk malam ini.”
“Bapak…”
Aku menunjuk kursi bayi itu.
“Kenapa ada namaku?”
Pak Hendra melangkah masuk.
Ia berdiri di sampingku.
Menatap kursi bayi itu.
“Karena kursi itu memang untukmu.”
“Apa?”
“Kursi itu dibeli Ratih sebelum kamu lahir.”
Aku menatapnya.
“Sebelum… aku lahir?”
Pak Hendra mengangguk.
“Ratih adalah ibu kandungmu.”
BAGIAN 3
KEBENARAN YANG TAK BISA DITUTUPI
Kakiku tidak bisa menopang tubuhku.
Aku jatuh duduk di lantai.
“Bapak… bilang apa?”
Pak Hendra tidak bergerak.
Ia tetap berdiri di sana.
Menatapku dengan mata yang basah.
“Ratih Prameswari adalah ibu kandungmu.”
“Tidak.”
“Alya.”
“Tidak mungkin.”
Aku menatap sekeliling ruangan.
Foto-foto itu.
Kursi bayi itu.
Buku harian itu.
“Kalau Ratih adalah ibu kandungku, lalu siapa perempuan yang selama ini kupanggil Ibu?”
Pak Hendra menarik napas.
“Duduklah.”
“Aku sudah duduk.”
“Di kursi.”
Aku menatap kursi kayu di sudut ruangan.
Kursi yang sama yang selalu ia bawa ke kamarku setiap malam.
“Kenapa Bapak selalu duduk di kursi itu?”
“Karena itu kursi Ratih.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Bapak harus menjelaskan.”
“Dan Bapak akan menjelaskan.”
Ia duduk di kursi itu.
Menatapku.
“Semuanya dimulai empat puluh tahun yang lalu.”
Tahun 1983.
Pak Hendra masih berusia dua puluh delapan tahun.
Ia baru saja membuka usaha properti kecil-kecilan di Yogyakarta.
Salah satu proyeknya adalah membangun rumah untuk keluarga Prameswari.
“Kakekmu, Raden Prameswari, adalah orang yang sangat dihormati. Tapi juga sangat keras.”
Ia memiliki seorang putri.
Ratih.
Berusia dua puluh dua tahun.
Cantik.
Cerdas.
Sedang kuliah di Fakultas Sastra.
“Ratih adalah perempuan yang sangat berbeda dari lingkungannya. Ia suka membaca. Suka menulis. Suka bermimpi.”
Pak Hendra bertemu dengannya saat mengurus proyek rumah.
Mereka jatuh cinta.
“Kakekmu tidak setuju.”
“Kenapa?”
“Karena saya bukan dari keluarga bangsawan. Saya hanya pengusaha biasa.”
Tapi Ratih keras kepala.
Ia tetap menemui Pak Hendra diam-diam.
Selama dua tahun mereka menjalin hubungan.
“Kami berencana menikah.”
“Lalu apa yang terjadi?”
Pak Hendra menunduk.
“Ratih hamil.”
Aku menahan napas.
“Kakekmu sangat marah. Ia mengusir Ratih dari rumah.”
“Ratih datang ke rumah saya. Saya bilang saya akan bertanggung jawab. Saya akan menikahinya.”
“Tapi?”
“Tapi kakekmu tidak berhenti di situ.”
Pak Hendra menggenggam tangannya.
“Ia mengirim orang untuk mengancam saya. Mengancam keluarga saya. Mengancam usaha saya.”
“Dan?”
“Saya masih muda. Saya takut. Saya… saya menyerah.”
Aku menatapnya.
“Bapak meninggalkan Ratih?”
Ia mengangguk.
“Bapak?”
“Saya pergi ke Jakarta. Saya mencoba melupakan semuanya. Saya pikir Ratih akan baik-baik saja. Keluarganya akan merawatnya.”
“Tapi?”
“Tapi saya salah.”
Pak Hendra berdiri.
Berjalan ke meja.
Membuka buku harian.
“Baca ini.”
Aku mengambil buku itu.
Membukanya.
Tulisan tangan yang indah.
“Hari ini aku bertemu dengan seseorang. Namanya Hendra. Dia berbeda dari yang lain.”
Aku membalik halaman.
“Aku hamil. Aku bahagia. Tapi aku takut.”
Halaman berikutnya.
“Hendra pergi. Aku tidak tahu ke mana. Aku sendirian.”
Halaman berikutnya.
“Ayah mengirimku ke rumah bibiku di Sleman. Dia bilang aku harus melahirkan dalam diam. Dia bilang anak ini tidak boleh membawa nama Prameswari.”
Aku menatap Pak Hendra.
“Jadi…”
“Kamu lahir di Sleman. Bulan Desember 1984.”
“Lalu?”
“Ratih… Ratih tidak selamat.”
Aku membeku.
“Ratih meninggal saat melahirkan kamu.”
Air mata jatuh di pipiku.
“Bapak tahu ini dari mana?”
“Bu Rini.”
“Bu Rini?”
“Bu Rini adalah bidan yang membantu persalinan Ratih.”
Aku menatap pintu.
Bu Rini berdiri di sana.
Sudah menangis.
“Nyonya…”
“Bu Rini…”
“Maafkan saya.”
Ia masuk.
Berlutut di lantai.
“Saya yang membantu melahirkan kamu. Saya yang melihat Ratih menghembuskan napas terakhirnya.”
“Bu…”
“Sebelum meninggal, Ratih berpesan agar kamu diasuh oleh seseorang yang bisa mencintai kamu.”
“Siapa?”
Bu Rini menunduk.
“Pamanmu.”
“Paman?”
“Adik kakekmu. Raden Surya.”
Aku mengerutkan kening.
“Raden Surya?”
“Orang yang selama ini kamu panggil Bapak.”
Dunia rasanya berputar.
Aku berdiri.
“Jadi… Bapak yang selama ini merawatku…”
“Bukan ayah kandungmu,” kata Pak Hendra.
“Bapak adalah adik dari kakekmu. Ia mengambil kamu setelah Ratih meninggal. Ia membesarkan kamu bersama istrinya.”
“Dan Ibu?”
“Istri Raden Surya. Bukan ibu kandungmu.”
Aku menutup mulut.
Mencoba mencerna semuanya.
“Jadi selama ini… aku dibesarkan oleh keluarga yang menyembunyikan kebenaran?”
Pak Hendra mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena kakekmu mengancam akan memutus hubungan keluarga jika mereka memberitahu kamu tentang Ratih.”
“Kenapa?”
“Karena Ratih telah melanggar tradisi keluarga. Melahirkan tanpa suami. Dengan pria yang tidak direstui.”
Aku duduk kembali.
“Dan Bapak? Kenapa Bapak baru muncul sekarang?”
Pak Hendra menarik kursi.
Duduk di depanku.
“Karena dua tahun lalu, Raden Surya menghubungi saya.”
“Kenapa?”
“Ia sakit. Ia tahu waktunya tidak lama. Ia ingin memastikan kamu tidak sendirian.”
Aku menatapnya.
“Jadi pernikahan ini…”
“Bukan pernikahan.”
Aku mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Pak Hendra menghela napas.
“Awalnya saya hanya ingin membantu keluarga Raden Surya. Saya tahu mereka dalam kesulitan. Saya ingin membayar hutang saya pada Ratih.”
“Tapi?”
“Tapi ketika saya melihat kamu pertama kali, saya melihat Ratih.”
Ia menunduk.
“Saya tidak bisa membiarkan kamu hidup susah. Saya ingin kamu aman.”
“Jadi Bapak menikahi saya?”
“Saya tahu itu salah. Saya tahu itu tidak masuk akal. Tapi saya tidak punya cara lain untuk memastikan kamu tetap di bawah perlindungan saya.”
“Apa maksud Bapak?”
Pak Hendra menatapku.
“Alya, hutang-hutang ayahmu… bukan hanya karena usahanya bangkrut.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudnya?”
“Ada orang yang sengaja membuat ayahmu bangkrut.”
“Siapa?”
“Keluarga Prameswari.”
Aku membeku.
“Mereka masih mengawasi kamu. Mereka tahu kamu adalah anak Ratih. Mereka ingin memastikan kamu tidak pernah tahu kebenaran.”
“Dan Bapak?”
“Saya menikahi kamu untuk melindungi kamu dari mereka. Dengan kamu menjadi istri saya, mereka tidak bisa menyentuh kamu.”
Aku menatap Pak Hendra.
“Ini gila.”
“Saya tahu.”
“Bapak menikahi saya hanya untuk melindungi saya?”
“Ya.”
“Tidak ada perasaan lain?”
Pak Hendra diam.
Aku menatapnya.
“Bapak?”
Ia menatapku.
“Ada.”
“Ada apa?”
“Saya… saya tidak tahu. Setiap kali saya melihat kamu, saya melihat Ratih. Saya tahu itu salah. Saya tahu kamu bukan dia. Tapi…”
Ia mengalihkan pandangan.
“Maafkan saya.”
Aku berdiri.
“Jadi selama ini, Bapak duduk di kamar saya setiap malam…”
“Untuk memastikan kamu aman.”
“Dan?”
“Untuk… untuk melihat kamu tidur.”
Ia menunduk.
“Saya tahu itu salah. Saya tahu itu tidak pantas. Tapi saya tidak bisa menahan diri. Kamu… kamu sangat mirip dengannya.”
Aku mundur.
“Bapak sakit.”
“Mungkin.”
“Bapak harus pergi.”
“Alya…”
“Pergi!”
Pak Hendra berdiri.
Ia menatapku lama.
Lalu berjalan keluar.
Pintu tertutup.
Aku berdiri sendirian di kamar itu.
Di antara foto-foto Ratih.
Di antara kenangan yang bukan milikku.
Pagi berikutnya, Ibu datang.
Bukan Ibu yang selama ini kupanggil Ibu.
Tapi perempuan yang merawatku sejak kecil.
Istri Raden Surya.
Ia masuk dengan mata bengkak.
“Alya.”
“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”
Ia menangis.
“Karena kami takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan kamu.”
Aku menatapnya.
“Jadi selama ini, aku hidup dalam kebohongan?”
“Bukan kebohongan. Kami… kami mencintai kamu seperti anak sendiri.”
“Tapi bukan anak kandung.”
Ia menunduk.
“Ratih adalah adik ipar saya. Saya… saya tidak bisa punya anak.”
Aku terdiam.
“Jadi kalian mengambil aku karena kalian tidak bisa punya anak?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Karena Ratih meminta.”
Aku menatapnya.
“Ratih meminta?”
Ia mengangguk.
“Sebelum meninggal, Ratih meminta kami merawat kamu. Ia bilang, kamu adalah hadiah terakhirnya.”
Air mata jatuh di pipiku.
“Aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Alya…”
“Aku butuh waktu.”
Ia mengangguk.
Aku keluar dari rumah itu.
Berjalan tanpa tujuan.
Di jalan, ponselku berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya.
“Selamat pagi, Alya.”
Suara perempuan.
Tua.
Dingin.
“Siapa ini?”
“Namaku Ratna Prameswari.”
Aku berhenti berjalan.
“Prameswari?”
“Aku bibi kamu. Adik Ratih.”
Aku menahan napas.
“Apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin bertemu.”
“Untuk apa?”
“Ada hal yang perlu kamu ketahui tentang Pak Hendra.”
Aku menggenggam ponselku.
“Apa?”
“Ia tidak sebaik yang kamu kira.”
BAGIAN 4
KEBENARAN YANG TERAKHIR
Aku bertemu Ratna Prameswari di sebuah kafe di pusat kota.
Perempuan berusia enam puluh tahun dengan wajah dingin dan pakaian mahal.
Ia tersenyum saat melihatku.
“Kamu benar-benar mirip Ratih.”
Aku duduk di hadapannya.
“Apa yang Bibi ingin sampaikan?”
Ratna menyeruput kopinya.
“Aku tahu kamu sudah tahu tentang Ratih.”
“Apa hubungannya?”
“Ada hal yang belum kamu ketahui.”
“Seperti apa?”
Ratna meletakkan cangkirnya.
“Pak Hendra tidak menikahimu untuk melindungimu.”
Aku menatapnya.
“Lalu untuk apa?”
“Untuk mengambil warisan.”
Aku mengerutkan kening.
“Warisan?”
“Ratih adalah anak tertua keluarga Prameswari. Ia berhak atas sebagian besar warisan.”
“Tapi Ratih sudah meninggal.”
“Iya. Tapi warisan itu jatuh kepada anaknya.”
“Kepada aku?”
Ratna mengangguk.
“Kakekmu meninggal dua tahun lalu. Dalam wasiatnya, ia meninggalkan sebagian besar hartanya untuk anak Ratih.”
“Untuk aku?”
“Ya. Tapi dengan syarat kamu harus menikah dengan pria yang disetujui keluarga.”
Aku terdiam.
“Dan Pak Hendra tahu ini?”
“Tentu saja.”
Aku menatap Ratna.
“Jadi… Pak Hendra menikahi aku untuk mengambil warisan?”
“Itu yang kami duga.”
Aku menutup mata.
“Apa Bibi punya bukti?”
Ratna mengeluarkan amplop dari tasnya.
“Baca ini.”
Aku membuka amplop.
Di dalamnya, foto-foto.
Pak Hendra sedang bertemu dengan seorang pengacara.
Foto berikutnya.
Dokumen-dokumen.
“Semua ini menunjukkan bahwa Pak Hendra telah mengurus warisan kamu sejak lama. Ia ingin memastikan kamu menikah dengannya agar ia bisa menguasai harta itu.”
Aku menatap foto-foto itu.
“Kenapa Bibi memberitahu aku?”
“Karena kami keluarga kamu. Kami tidak ingin kamu dimanfaatkan.”
Aku tertawa.
“Keluarga? Keluarga yang mengusir ibu kandungku? Keluarga yang membuat ayah angkatku bangkrut?”
Ratna terkejut.
“Siapa bilang?”
“Aku tahu. Pak Hendra memberitahu aku.”
Ratna terdiam.
“Jadi Bibi datang kemari bukan untuk menolong aku. Bibi datang untuk memastikan aku tidak menerima warisan itu.”
Ratna berdiri.
“Kamu salah.”
“Aku tidak salah.”
Ratna menatapku.
“Kamu akan menyesal.”
Ia berjalan keluar.
Aku duduk sendirian.
Menatap foto-foto di tangan.
Pak Hendra bertemu pengacara.
Dokumen-dokumen.
Apa ini benar?
Malam itu aku pulang ke rumah Pak Hendra.
Ia duduk di ruang tamu.
Menunggu.
“Alya.”
“Bapak.”
Ia berdiri.
“Kamu di mana saja?”
“Bertemu dengan Ratna Prameswari.”
Pak Hendra membeku.
“Apa?”
“Bibi aku. Adik Ratih.”
Pak Hendra menutup mata.
“Apa yang dia bilang?”
“Katanya Bapak menikahi aku untuk mengambil warisan.”
Pak Hendra membuka mata.
“Kamu percaya?”
Aku menatapnya.
“Aku tidak tahu.”
Ia berjalan mendekat.
“Alya, saya tidak butuh warisan itu.”
“Lalu kenapa Bapak menikahi aku?”
Ia menatapku.
“Karena saya mencintai Ratih.”
Aku mundur.
“Apa?”
“Saya tidak pernah bisa melupakan Ratih. Setiap hari saya menyesal telah meninggalkannya. Ketika saya melihat kamu, saya melihat kesempatan untuk menebus kesalahan saya.”
“Jadi Bapak menikahi aku karena aku mirip Ratih?”
“Bukan hanya itu.”
“Lalu?”
Pak Hendra menunduk.
“Saya… saya mencintai kamu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Bukan karena kamu mirip Ratih. Tapi karena kamu adalah kamu.”
“Bapak…”
“Saya tahu ini salah. Saya tahu ini tidak mungkin. Tapi saya tidak bisa menahan diri.”
Aku menatapnya.
“Bapak tahu berapa usia Bapak?”
“Enam puluh delapan.”
“Dan aku?”
“Dua puluh satu.”
“Bapak tidak malu?”
Pak Hendra menunduk.
“Saya malu. Tapi saya tidak bisa berbohong.”
Aku berjalan ke pintu.
“Alya.”
“Jangan ikuti aku.”
Aku keluar.
Malam itu aku menginap di hotel.
Menatap langit-langit.
Mencoba memahami semuanya.
Pagi berikutnya, aku menerima telepon.
Dari rumah sakit.
“Apakah ini Alya Prameswari?”
“Iya.”
“Kami dari RS Sardjito. Bapak Anda, Raden Surya, kritis.”
Aku bergegas ke rumah sakit.
Di sana, Bapak terbaring.
Dengan selang di hidungnya.
Ibu duduk di sampingnya.
“Alya.”
“Bapak.”
Bapak membuka mata.
“Alya… maafkan Bapak.”
“Bapak tidak salah.”
“Bapak… Bapak menyembunyikan kebenaran.”
“Bapak melindungi aku.”
Bapak menggeleng.
“Bapak… Bapak egois. Bapak ingin kamu tetap menjadi anak Bapak.”
“Aku tetap anak Bapak.”
Bapak tersenyum.
“Alya… ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Warisan itu… jangan ambil.”
“Kenapa?”
“Karena… karena itu tidak baik.”
“Apa maksud Bapak?”
Bapak menggenggam tanganku.
“Kakekmu… ia meninggalkan warisan itu bukan karena cinta. Ia meninggalkan warisan itu karena rasa bersalah.”
“Rasa bersalah?”
“Ia menyesal telah mengusir Ratih. Ia menyesal telah membuat Ratih menderita. Warisan itu… adalah cara dia menebus dosanya.”
“Lalu?”
“Tapi warisan itu juga membawa kutukan.”
“Kutukan?”
“Keluarga Prameswari… mereka tidak akan pernah berhenti. Mereka akan terus mengejar kamu. Mereka akan terus mencoba mengambil apa yang mereka anggap milik mereka.”
Aku menatap Bapak.
“Jadi Bapak ingin aku menolak warisan itu?”
Bapak mengangguk.
“Tolak. Dan hidup dengan tenang.”
Aku menatap Bapak.
“Bapak tahu Pak Hendra?”
Bapak tersenyum lemah.
“Hendra… ia bukan orang jahat.”
“Apa?”
“Ia memang mencintai Ratih. Tapi ia juga mencintai kamu.”
“Bapak tahu?”
“Ia datang ke rumah dua tahun lalu. Ia bilang ingin menebus kesalahannya. Ia bilang ingin melindungi kamu.”
“Dan Bapak percaya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena ia satu-satunya orang yang menangis saat melihat foto Ratih.”
Aku menutup mata.
Air mata jatuh.
Bapak meninggal malam itu.
Aku duduk di sampingnya.
Menggenggam tangannya.
Ketika ia menghembuskan napas terakhir, aku berbisik.
“Terima kasih, Bapak.”
Setelah pemakaman, aku pulang ke rumah Pak Hendra.
Ia duduk di teras.
Menatap langit.
“Alya.”
“Bapak.”
Aku duduk di sampingnya.
“Bapak ingin bicara.”
“Aku juga.”
Ia menatapku.
“Alya, saya akan menceraikan kamu.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Saya akan menceraikan kamu. Kamu bebas. Kamu bisa hidup dengan tenang. Saya akan mengurus semua dokumen. Saya akan memastikan warisan itu tetap menjadi milik kamu.”
“Bapak…”
“Tapi saya ingin kamu tahu satu hal.”
“Apa?”
“Saya mencintai kamu. Bukan karena kamu mirip Ratih. Tapi karena kamu adalah kamu.”
Ia menggenggam tanganku.
“Dan saya akan mencintai kamu sampai saya mati.”
Aku menatapnya.
Air mata jatuh.
“Bapak…”
“Alya, saya tahu saya tua. Saya tahu saya bukan suami yang ideal. Tapi saya ingin kamu bahagia.”
Aku tersenyum.
“Bapak…”
“Apa?”
“Aku tidak mau cerai.”
Pak Hendra terkejut.
“Apa?”
“Aku tidak mau cerai.”
“Tapi…”
“Aku masih tidak mengerti perasaanku. Aku masih marah. Aku masih bingung. Tapi…”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku tidak mau kehilangan Bapak.”
Pak Hendra menatapku.
Matanya basah.
“Alya…”
“Kita bisa mulai dari awal. Bukan sebagai suami istri. Tapi sebagai dua orang yang saling peduli.”
Pak Hendra tersenyum.
“Terima kasih.”
Aku tersenyum.
“Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
“Bapak harus berhenti duduk di kamar aku setiap malam.”
Pak Hendra tertawa.
“Janji.”
Epilog
Dua tahun kemudian.
Aku berdiri di depan makam Ratih.
Bunga melati di tangan.
“Bu, aku sudah tahu semuanya.”
Aku meletakkan bunga itu.
“Aku sudah memaafkan semuanya. Bapak, Ibu, Pak Hendra, bahkan keluarga Prameswari.”
Aku tersenyum.
“Aku memutuskan untuk menolak warisan itu. Aku tidak butuh. Aku hanya butuh kedamaian.”
Aku menatap langit.
“Bu, terima kasih telah memberiku kehidupan. Terima kasih telah memberiku orang-orang yang mencintaiku.”
Aku berjalan pulang.
Di rumah, Pak Hendra menunggu.
Dengan senyum.
Dan kursi kayu itu… sudah tidak ada lagi.
Diganti dengan dua kursi taman di teras.
Tempat kami duduk bersama.
Menikmati senja.
Sebagai dua orang yang saling peduli.
Bukan sebagai suami istri.
Tapi sebagai keluarga.
Karena keluarga bukan tentang darah.
Tapi tentang cinta.
Dan aku… akhirnya menemukan cinta itu.
Di tempat yang tidak pernah aku duga.
TAMAT
