Janji itu sederhana.
Ibuku pernah menggenggam pergelangan tanganku, memasangkan gelang merah tersebut, lalu berkata pelan,
“Kalau suatu hari kamu memilih hidup sederhana, Ibu tidak akan menghentikanmu. Tapi jangan pernah menjadi kecil hanya karena orang lain ingin melihatmu kecil.”
Waktu itu aku berusia dua puluh tiga tahun.
Aku tertawa mendengarnya.
Kupikir itu hanya nasihat seorang ibu yang terlalu mengkhawatirkan anak perempuan satu-satunya.
Ternyata tidak.
Ada bagian kedua dari kalimatnya yang baru benar-benar kupahami sore itu.
“Dan kalau nanti kamu punya anak, jangan ajari dia bertahan di tempat yang menyakitinya hanya karena kamu sendiri sanggup bertahan.”
Aku menatap gelang itu cukup lama.
Kemudian mengeluarkan ponsel.
Arga masih tertawa.
Vanessa juga.
Ratna sudah bangkit dari anak tangga dan terus mengomel sambil memegangi pipinya.
Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa aku sedang membuka sebuah nomor yang selama tujuh tahun tidak pernah kugunakan.
Nama kontaknya hanya satu kata.
Papa.
Jariku berhenti di atas tombol panggil.
Alya masih memeluk pinggangku.
Aku menunduk.
“Nak, kita pulang.”
Alya mengangkat wajah.
“Pulang ke mana, Bunda?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.
Selama lima tahun hidupnya, rumah ini adalah satu-satunya tempat yang Alya kenal sebagai rumah.
Namun sore itu aku tidak bisa lagi menyebutnya demikian.
“Ke tempat yang aman.”
Aku menekan tombol panggil.
Satu dering.
Dua.
Belum sempat dering ketiga terdengar, sambungan terangkat.
Tak ada sapaan formal.
Tak ada pertanyaan siapa ini.
Hanya sebuah suara tua yang sangat kukenal.
“Nadira?”
Aku memejamkan mata.
Tujuh tahun runtuh hanya karena satu suara.
“Papa.”
Di seberang sana sunyi.
Lalu terdengar suara kursi bergeser keras.
“Kamu di mana?”
Aku menelan ludah.
“Jakarta.”
“Papa tahu kamu di Jakarta. Papa bertanya kamu sekarang ada di mana.”
“Rumah keluarga Wijaya.”
Suara ayahku berubah.
Bukan lebih keras.
Justru jauh lebih tenang.
“Apa yang terjadi?”
Aku melihat Alya.
Aku tidak sanggup menceritakan semuanya.
Tidak melalui telepon.
Jadi aku hanya mengatakan satu kalimat.
“Mereka menyakiti cucu Papa.”
Hening.
Tiga detik.
Mungkin empat.
Kemudian ayahku berkata,
“Bawa Alya pergi dari sana. Sekarang.”
“Papa…”
“Jangan bawa barang apa pun yang membuatmu harus menunggu. Dokumen penting kalau bisa. Selain itu tinggalkan.”
Aku menggigit bibir.
“Dan Nadira?”
“Ya?”
“Malam ini datang ke gala.”
Aku terdiam.
Gala.
Aku hampir lupa.
Malam itu memang ada Nusantara Economic Foundation Gala di sebuah hotel mewah di pusat Jakarta. Acara tahunan yang selalu dipenuhi pemilik konglomerasi, pejabat perusahaan, investor, tokoh filantropi, dan keluarga-keluarga lama yang nama belakangnya lebih dikenal daripada wajah mereka sendiri.
Keluarga Wijaya sudah membicarakan undangan itu selama berminggu-minggu.
Ratna bahkan memesan kebaya khusus.
Arga berencana memperkenalkan Vanessa diam-diam kepada beberapa mitra bisnis sebagai “penasihat komunikasi perusahaan”.
Konyol.
Perempuan yang baru saja menampar anak lima tahun karena gaunnya terkena jus akan diperkenalkan sebagai penasihat komunikasi.
“Malam ini?” tanyaku.
“Ya.”
“Papa akan datang?”
Ayahku tidak langsung menjawab.
Lalu terdengar sesuatu yang hampir seperti tawa kecil.
“Sudah tujuh tahun Papa menunggu kamu berhenti bersembunyi.”
Sambungan terputus.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Arga akhirnya berhenti tertawa.
“Siapa?”
Aku menggendong Alya.
“Bukan urusanmu.”
Aku berjalan menuju pintu.
Arga menghalangi.
“Kamu mau membawa anakku ke mana?”
Anakku.
Lucu sekali bagaimana satu kata bisa terdengar begitu menjijikkan ketika diucapkan oleh orang yang lima menit sebelumnya bahkan tidak mau berjongkok untuk melihat apakah putrinya terluka.
Aku menatapnya.
“Geser.”
“Tidak.”
“Arga.”
“Kamu pikir setelah menampar Mama kamu bisa pergi begitu saja?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya mengangkat ponsel dan memperlihatkan layar.
Nomor darurat sudah siap.
“Kalau kamu menghalangi aku membawa Alya mendapatkan pemeriksaan medis, percakapan berikutnya akan berlangsung di depan petugas.”
Wajahnya berubah.
Sedikit saja.
Namun aku melihatnya.
Ketakutan pertama.
Bukan kepadaku.
Kepada konsekuensi.
Dia mundur.
Vanessa mendengus.
“Drama.”
Aku melewatinya.
Namun tepat di pintu, Alya tiba-tiba menoleh dari bahuku.
Dia melihat ayahnya.
Tidak menangis lagi.
Hanya melihat.
“Ayah…”
Arga mengangkat kepala.
Untuk sesaat aku berharap ada sesuatu dalam dirinya yang bergerak.
Penyesalan.
Kasih sayang.
Apa saja.
Alya berkata lirih,
“Kenapa Ayah tidak bantu Alya?”
Arga membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Aku berjalan pergi sebelum putriku harus menunggu jawaban dari laki-laki yang bahkan tidak memilikinya.
Aku membawa Alya untuk diperiksa.
Dokter memastikan kondisinya stabil, tetapi menyarankan pemantauan dan pemeriksaan lanjutan. Semua catatan pemeriksaan kusimpan.
Bukan untuk balas dendam.
Untuk melindungi anakku.
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Menjelang malam, Alya tertidur sebentar di pelukanku.
Aku duduk di kursi dekat jendela, menatap Jakarta yang mulai dipenuhi lampu.
Ponselku tidak berhenti bergetar.
Arga.
Ratna.
Arga lagi.
Pesan masuk.
“Kita selesaikan di rumah.”
Lalu:
“Jangan mempermalukan keluarga.”
Lima menit kemudian:
“Kamu juga salah karena terlalu memanjakan Alya.”
Kemudian Ratna:
“Kalau kamu masih ingin menjadi bagian keluarga Wijaya, pulang sebelum gala.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Bukan karena sakit hati.
Aku hanya kagum.
Setelah semua yang terjadi, yang mereka takutkan ternyata bukan kehilangan seorang istri.
Bukan kehilangan cucu.
Mereka takut malu.
Aku mematikan layar.
Sekitar pukul tujuh malam, seorang perempuan berusia hampir enam puluh tahun datang menjemput kami.
Namanya Bu Mirah.
Dulu dia sekretaris pribadi ibuku.
Begitu melihatku, dia berhenti di ambang pintu.
Tangannya menutupi mulut.
“Nona…”
Sudah lama sekali tidak ada yang memanggilku begitu.
Matanya kemudian jatuh pada Alya.
Wajahnya langsung berubah lembut.
“Ini cucu Ibu?”
Aku mengangguk.
Alya bersembunyi di belakang kakiku.
Bu Mirah tidak memaksanya.
Dia justru berjongkok beberapa langkah jauhnya.
“Halo, Alya. Tante Mirah bawa sesuatu.”
Dia mengeluarkan seekor boneka kelinci kecil dari tas.
Alya mengintip.
“Buat Alya?”
“Kalau Alya suka.”
Putriku mengambilnya perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak sore, ada senyum kecil di wajahnya.
Aku hampir menangis.
Bukan karena boneka.
Karena aku baru sadar betapa lama aku hidup di tempat yang membuat kebaikan sederhana terasa seperti kemewahan.
Aku tidak memakai gaun mewah malam itu.
Aku memilih kebaya modern berwarna gading milik ibuku yang selama bertahun-tahun disimpan Bu Mirah.
Potongannya sederhana.
Tidak penuh batu.
Tidak mencolok.
Di bagian dalam kerah masih ada jahitan kecil dengan inisial ibuku.
Alya memakai gaun biru muda.
Dia menolak melepas boneka kelincinya.
“Boleh dibawa?”
“Boleh.”
“Ke pesta orang kaya?”
Aku tertawa kecil.
“Terutama ke pesta orang kaya.”
Kami tiba sedikit terlambat.
Hotel itu penuh cahaya.
Kamera media berada di dekat pintu masuk. Para tamu berbicara dalam kelompok-kelompok kecil. Gelas-gelas kristal berkilau di bawah lampu gantung.
Aku langsung melihat keluarga Wijaya.
Ratna berdiri dengan kebaya hijau tua.
Arga mengenakan tuksedo hitam.
Vanessa ada di sebelahnya dengan gaun merah yang sama.
Ternyata dia benar-benar datang memakai gaun itu.
Gaun yang katanya begitu berharga hingga seorang anak lima tahun pantas diperlakukan kasar hanya karena menumpahkan jus.
Aku hampir tertawa.
Arga melihatku.
Wajahnya seketika menegang.
Dia berjalan cepat menghampiri.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Aku menggenggam tangan Alya.
“Datang ke acara.”
“Kamu tidak terdaftar sebagai tamu.”
“Benarkah?”
Dia mendekatkan wajah.
“Jangan bikin masalah malam ini.”
Aku menatapnya.
“Masalah sudah dibuat sore tadi. Bukan olehku.”
Vanessa menyusul.
Matanya langsung memeriksa kebayaku dari atas sampai bawah.
Kemudian dia tersenyum.
“Kamu benar-benar datang?”
Aku tidak menjawab.
Dia menunduk melihat Alya.
Dan saat itulah tangan kecil putriku langsung mencengkeram tanganku lebih erat.
Tubuhnya kaku.
Aku merasakannya.
Vanessa mungkin juga.
Namun bukannya menjauh, perempuan itu justru berkata,
“Lain kali hati-hati kalau membawa minuman, ya.”
Alya bersembunyi di belakangku.
Aku melangkah satu langkah ke depan.
“Jangan bicara kepada anak saya.”
Vanessa mengangkat alis.
Arga mendesis,
“Nadira.”
Belum selesai dia berbicara, lampu ballroom sedikit diredupkan.
Pembawa acara naik ke panggung.
Para tamu mulai bergerak menuju meja masing-masing.
Kemudian sebuah nama diumumkan.
Nama yang membuat beberapa orang langsung berdiri.
Aku tidak.
Karena aku sudah tahu.
“Bapak Surya Adinata.”
Tepuk tangan memenuhi ballroom.
Seorang laki-laki berusia tujuh puluh satu tahun berjalan masuk dari pintu utama.
Rambutnya sudah hampir seluruhnya putih.
Langkahnya tidak cepat.
Ia mengenakan setelan gelap sederhana.
Tidak ada rombongan besar.
Hanya dua orang staf dan Bu Mirah yang tadi pergi lebih dahulu.
Surya Adinata.
Pendiri Adinata Capital.
Nama yang selama puluhan tahun muncul di berbagai ruang bisnis dan kegiatan filantropi.
Ayahku.
Arga masih belum mengerti.
Dia justru berbisik kepada Vanessa,
“Itu Pak Surya. Jangan sampai salah bicara kalau nanti kita dikenalkan.”
Vanessa langsung memperbaiki rambut.
Ratna tersenyum lebar dari kejauhan.
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
Ayahku berjalan melewati beberapa orang yang ingin menyalaminya.
Lalu matanya menemukan kami.
Dia berhenti.
Alya mengintip dari belakang tubuhku.
Aku merasakan jemarinya terlepas dari tanganku.
“Alya?”
Dia mulai berjalan.
Kemudian berlari.
Boneka kelincinya hampir jatuh.
Semua terjadi sangat cepat.
Ayahku membungkuk sedikit ketika melihat seorang anak kecil berlari ke arahnya.
Dan Alya…
memeluk kakinya.
Ruangan tidak langsung sunyi.
Butuh beberapa detik sampai orang-orang menyadari sesuatu yang aneh sedang terjadi.
Alya mendongak.
Air matanya muncul lagi.
“Kakek…”
Arga membeku.
Ratna pucat.
Vanessa bahkan belum sempat menghapus senyum dari wajahnya.
Alya menunjuk.
“Dia yang memukul Alya.”
Tangannya mengarah tepat kepada Vanessa.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada gelas jatuh.
Tidak ada orang berteriak.
Justru itu yang membuat suasananya terasa lebih berat.
Ayahku tidak langsung melihat Vanessa.
Dia berjongkok terlebih dahulu.
Sejajar dengan Alya.
“Yang sakit sebelah mana?”
Alya menunjuk pipinya.
Ayahku mengusap rambutnya, sangat pelan.
“Kakek boleh lihat?”
Alya mengangguk.
Dia melihat bekas kemerahan yang masih samar.
Rahang ayahku mengeras.
Baru kemudian dia berdiri.
Matanya mencari aku.
“Nadira.”
Aku berjalan mendekat.
Arga menatapku seolah baru pertama kali melihat wajahku.
“Kenapa dia memanggil Pak Surya… Kakek?”
Aku tidak menjawab.
Ayahku yang menjawab.
“Karena Alya cucu saya.”
Seseorang di belakang kami menarik napas.
Ratna memegang ujung meja.
Arga menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Ayahku menatapnya.
“Dan Nadira adalah putri saya.”
Kali ini kesunyian benar-benar jatuh.
Aku pernah membayangkan momen ini.
Dulu.
Pada tahun pertama pernikahan, ketika Ratna menyebut keluargaku “tidak jelas”.
Pada tahun ketiga, ketika Arga mengatakan aku beruntung dinikahi keluarga Wijaya.
Pada tahun kelima, ketika dia menyuruhku berhenti memberikan pendapat tentang bisnis karena “kamu tidak mengerti dunia perusahaan”.
Dalam bayanganku, ketika identitasku terbuka, aku akan merasa puas.
Ternyata tidak.
Aku hanya merasa lelah.
Arga mendekat.
“Nadira, kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Pertanyaan itu begitu absurd hingga aku tertawa.
“Karena dulu aku ingin tahu apakah seseorang bisa mencintaiku tanpa nama Adinata.”
Wajahnya berubah.
“Aku mencintaimu.”
Aku menatapnya lama.
“Jangan.”
“Nadira…”
“Jangan pakai kata itu malam ini.”
Dia terdiam.
Ayahku memberi isyarat kepada salah satu stafnya.
Seorang pria membawa sebuah map.
Arga melihat map itu dan wajahnya langsung tegang.
“Apa ini?”
Ayahku tidak menyentuhnya.
Aku yang mengambil.
Di dalamnya terdapat dokumen yang sudah disiapkan tim hukum keluarga.
Bukan surat penghancuran perusahaan.
Bukan cek ajaib.
Bukan pula bukti bahwa seluruh Wijaya Group diam-diam milik keluargaku.
Hidup nyata tidak bekerja seperti itu.
Dan aku tidak membutuhkan dongeng semacam itu.
Yang ada di sana jauh lebih sederhana.
Pemberitahuan bahwa beberapa fasilitas pembiayaan dan kerja sama bisnis antara perusahaan keluarga kami dengan Wijaya Group akan ditinjau ulang sesuai prosedur dan ketentuan kontrak.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada bentakan.
Justru itu yang membuat Arga semakin pucat.
“Ini gara-gara masalah keluarga?”
Aku menggeleng.
“Tidak. Urusan bisnis akan dinilai oleh orang bisnis. Aku tidak akan menggunakan perusahaan Papa sebagai senjata pribadi.”
Aku mengeluarkan satu map lain dari tasku.
“Yang ini baru urusan keluarga.”
Arga melihatnya.
“Apa?”
“Dokumen dari pengacara.”
“Nadira…”
“Aku ingin berpisah.”
Ratna langsung maju.
“Kamu tidak bisa membawa Alya!”
Aku menoleh kepadanya.
“Bu Ratna.”
Dia berhenti.
Selama tujuh tahun aku memanggilnya Mama.
Malam itu untuk pertama kalinya aku tidak melakukannya.
“Mulai sekarang semua pembicaraan mengenai Alya dilakukan melalui jalur yang tepat. Bukan dengan teriakan.”
Arga memegang lenganku.
Refleks.
Ayahku bergerak.
Namun aku lebih cepat.
Aku melepaskan tangan Arga sendiri.
“Jangan sentuh aku.”
Dia segera melepaskan.
Matanya merah.
Entah karena marah atau panik.
“Nadira, kita punya tujuh tahun.”
“Benar.”
“Kamu mau membuang semuanya begitu saja?”
Aku menatap Alya.
Dia sedang memeluk boneka kelincinya sambil berdiri dekat kakeknya.
“Tidak.”
Aku kembali menatap suamiku.
“Aku sedang menyelamatkan bagian yang masih bisa diselamatkan.”
Proses setelah malam itu tidak selesai dalam semalam.
Tidak juga seminggu.
Aku sengaja tidak membuat hidupku berubah menjadi pesta kemenangan.
Ada pengacara.
Ada pertemuan.
Ada hari ketika aku sangat marah.
Ada pagi ketika Alya tiba-tiba bertanya,
“Ayah masih sayang Alya?”
Dan pertanyaan itu jauh lebih sulit daripada semua dokumen hukum yang pernah kubaca.
Aku tidak pernah mengajarinya membenci ayahnya.
Aku juga tidak berbohong.
“Ayah punya banyak hal yang harus dia perbaiki dalam dirinya.”
“Karena Ayah diam?”
Aku mengangguk.
“Kadang orang dewasa melakukan kesalahan besar karena memilih diam saat seharusnya melindungi seseorang.”
Alya berpikir.
Lalu bertanya,
“Kalau Ayah minta maaf?”
“Meminta maaf itu baik.”
“Terus selesai?”
Aku tersenyum sedih.
“Tidak selalu.”
Anak lima tahun ternyata bisa memahami sesuatu yang banyak orang dewasa sengaja tidak mau pahami.
Maaf tidak selalu berarti kembali.
Vanessa menghilang dari kehidupan kami cukup cepat.
Hubungannya dengan Arga juga tidak bertahan lama setelah masalah itu menjadi serius.
Aku tidak peduli.
Aku bahkan tidak pernah mencari tahu siapa meninggalkan siapa.
Ada saatnya rasa ingin tahu hanya menjadi tali yang mengikat kita pada orang yang sebenarnya sudah tidak penting.
Ratna beberapa kali mencoba menghubungiku.
Sebagian pesannya panjang.
Sebagian menyalahkan keadaan.
Lalu, beberapa bulan kemudian, datang satu pesan yang berbeda.
“Saya salah terhadap Alya.”
Hanya itu.
Aku membacanya.
Tidak membalas.
Belum.
Mungkin suatu hari.
Mungkin tidak.
Pengampunan bukan pintu yang harus dibuka karena orang lain sudah mengetuk.
Enam bulan kemudian, Alya mulai sekolah di tempat baru.
Hari pertamanya kacau.
Dia menangis karena pita rambutnya hilang.
Lalu tertawa karena ternyata pita itu tersangkut di dalam tas bekalnya sendiri.
Ayahku mengantar kami.
Seorang laki-laki yang dulu bisa membuat satu ruang rapat penuh eksekutif diam kini berdiri di depan gerbang sekolah membawa botol minum bergambar kelinci.
“Kakek jangan masuk,” kata Alya.
“Kenapa?”
“Yang sekolah Alya.”
“Oh.”
“Kakek kerja saja.”
Ayahku mengangguk serius.
“Baik, Bu Alya.”
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Ketika Alya berlari masuk, ayahku berdiri di sampingku.
“Nadira.”
“Hm?”
“Kamu mau kembali ke perusahaan?”
Pertanyaan itu sudah kutunggu.
Namun jawabanku ternyata berbeda dari yang dulu kubayangkan.
“Belum.”
Dia menoleh.
“Aku ingin membuat sesuatu sendiri.”
“Apa?”
Aku mengeluarkan sebuah folder.
Ayahku membukanya.
Di halaman depan tertulis rencana pendirian yayasan kecil untuk membantu perempuan dan anak mendapatkan akses konsultasi hukum, pendampingan psikologis, serta tempat aman sementara melalui mitra profesional.
Ayahku membaca cukup lama.
Kemudian menutup folder.
“Ini mahal.”
“Aku tahu.”
“Sulit.”
“Aku tahu.”
“Banyak masalah.”
“Papa mau membantu atau menakut-nakuti?”
Dia tertawa.
“Dua-duanya.”
Aku menyenggol lengannya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa menjadi anaknya lagi.
Bukan pewaris.
Bukan perempuan dari keluarga besar.
Hanya anak perempuan yang pulang terlambat.
Sangat terlambat.
Tapi masih diterima.
Setahun berlalu.
Rumah kami sekarang tidak sebesar rumah keluarga Wijaya.
Alya justru lebih menyukainya.
Ada halaman belakang kecil.
Dua pohon mangga.
Satu ayunan.
Dan seekor kucing liar yang datang setiap sore, makan tanpa izin, tidur di teras, lalu bertingkah seolah rumah itu miliknya.
Alya menamainya Bos.
“Karena dia suka nyuruh-nyuruh.”
Suatu sore aku sedang menyiram tanaman ketika Alya berlari keluar.
“Bunda!”
“Apa?”
“Gigi Alya copot!”
Dia membuka telapak tangan.
Sebuah gigi susu kecil tergeletak di sana.
Aku membeku.
Tiba-tiba aku kembali ke foyer marmer itu.
Dua gigi.
Darah.
Tangisan.
Tanganku dingin.
Alya melihat wajahku.
“Bunda?”
Aku berjongkok.
Kali ini tidak ada ketakutan di matanya.
Dia malah tertawa karena giginya ompong.
“Lucu nggak?”
Aku ikut tertawa.
Air mataku keluar.
Alya bingung.
“Bunda kok nangis?”
Aku mengusap pipinya.
“Karena Bunda senang.”
“Gigi copot kok senang?”
Aku memeluknya.
Bagaimana aku menjelaskan bahwa setahun lalu aku memegang gigi putriku sambil merasa gagal melindunginya?
Dan sekarang…
gigi itu tanggal karena memang waktunya.
Bukan karena seseorang menyakitinya.
Ada luka yang sembuh bukan ketika kita berhenti mengingat.
Melainkan ketika sebuah kenangan lama datang kembali dalam bentuk yang lebih lembut.
Alya memasukkan giginya ke kotak kecil.
“Buat peri gigi.”
Aku mengangkat alis.
“Di Indonesia ada peri gigi?”
Dia berpikir keras.
“Kalau nggak ada, kita impor.”
Aku tertawa begitu keras sampai ayahku yang sedang membaca koran di teras ikut menoleh.
Malamnya kami makan bertiga.
Ayahku diam-diam memasukkan uang ke bawah bantal Alya.
Aku memergokinya.
“Papa.”
Dia langsung memasang wajah tidak bersalah.
“Apa?”
“Berapa?”
“Rahasia peri.”
“Jangan kebanyakan. Nanti semua giginya mau dia cabut sendiri.”
Ayahku terdiam.
Lalu buru-buru mengambil sebagian uangnya kembali.
Aku tertawa lagi.
Rumah itu dipenuhi suara kecil.
Sendok beradu dengan piring.
Kucing mengeong meminta ayam.
Alya protes karena Kakek curang main ular tangga.
Tidak ada lampu kristal raksasa.
Tidak ada lantai marmer Italia.
Tidak ada keluarga terpandang yang sibuk menjaga citra.
Aneh.
Justru di rumah yang jauh lebih kecil itu aku akhirnya tahu seperti apa rasanya hidup dengan lapang.
Sebelum tidur, Alya memanggilku.
“Bunda.”
“Ya?”
Dia mengangkat pergelangan tanganku.
Gelang merah itu masih ada.
“Ini dari Nenek yang sudah nggak ada?”
“Iya.”
“Kenapa Bunda masih pakai?”
Aku terdiam.
Dulu jawabannya adalah karena janji.
Sekarang rasanya berbeda.
Aku membuka simpul gelang itu perlahan.
Setelah bertahun-tahun.
Benangnya sudah kusam.
Warnanya tidak lagi merah terang.
Aku meletakkannya di telapak tangan Alya.
“Karena dulu Bunda takut lupa sesuatu.”
“Apa?”
Aku mengecup keningnya.
“Bahwa Bunda boleh memilih hidup Bunda sendiri.”
Alya memandang gelang itu.
“Sekarang sudah ingat?”
Aku tersenyum.
“Iya.”
“Terus gelangnya?”
“Simpan.”
Alya memasukkannya ke kotak gigi kecilnya.
Gigi susu dan gelang merah.
Dua benda kecil.
Dua kehidupan yang berbeda.
Aku mematikan lampu kamar.
“Selamat malam, Nak.”
“Selamat malam, Bunda.”
Aku hampir menutup pintu ketika Alya tiba-tiba memanggil lagi.
“Bunda?”
“Hmm?”
“Nanti kalau Alya besar…”
Aku menunggu.
Dia menguap.
“Kalau ada orang jahat sama Alya, Alya nggak perlu diam, kan?”
Tanganku berhenti di gagang pintu.
Untuk beberapa detik aku tidak bisa bicara.
Lalu aku menjawab,
“Nggak perlu.”
“Walaupun orangnya keluarga?”
Dadaku terasa penuh.
“Walaupun keluarga.”
“Walaupun orang kaya?”
“Iya.”
“Walaupun punya rumah gede?”
Aku tertawa kecil.
“Terutama kalau dia pikir rumah gede membuat dia boleh menyakiti orang.”
Alya mengangguk puas.
Kemudian menarik selimut.
“Oke.”
Sesederhana itu baginya.
Aku menutup pintu perlahan.
Ayahku berdiri di ujung lorong.
Entah sejak kapan dia berada di sana.
Matanya sedikit basah.
Aku pura-pura tidak melihatnya.
Dia juga pura-pura tidak menangis.
Kami berjalan ke ruang tengah.
Di luar, Jakarta masih hidup dengan suara kendaraan dan lampu-lampu yang tidak pernah benar-benar padam.
Aku berdiri di depan jendela.
Dulu aku mengira akhir bahagia harus terlihat besar.
Perusahaan.
Warisan.
Nama keluarga.
Orang-orang yang menyesal sambil melihat kita menang.
Ternyata bukan itu.
Kadang akhir bahagia hanyalah seorang anak yang bisa tidur tanpa takut.
Seorang ibu yang tidak lagi berjalan di atas pecahan harga dirinya sendiri.
Seorang ayah tua yang mendapat kesempatan kedua untuk mengenal putrinya.
Rumah kecil.
Dua pohon mangga.
Seekor kucing kurang ajar.
Dan sebuah gelang merah yang akhirnya boleh dilepas.
Aku tidak memenangkan perang.
Aku bahkan tidak ingin menyebut hidupku sebagai perang lagi.
Aku hanya keluar dari sebuah rumah yang salah…
lalu membangun rumah yang benar.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ketika aku mematikan lampu ruang tengah dan berjalan menuju kamar, aku tidak bertanya dalam hati apakah besok semuanya akan baik-baik saja.
Aku sudah tahu jawabannya.
Tidak setiap hari akan baik.
Tetapi kami aman.
Kami bersama.
Dan kali ini, bila sesuatu mencoba merampas kedamaian itu…
aku tidak akan diam lagi.
