“KAMU URUS SENDIRI BIAYA PULANGMU. JANGAN BANYAK DRAMA, BARU LIMA HARI MELAHIRKAN SAJA.”


BAGIAN 1

Suamiku, Troy, menjatuhkan dua lembar uang dua puluh ribu rupiah yang kusut dan beberapa koin dingin ke telapak tanganku yang gemetar.

Baru lima hari yang lalu perutku dibelah melalui operasi caesar darurat. Di dadaku, aku memeluk erat bayi kami yang baru lahir, Nathan—kecil, tak berdaya, dan hanya dibungkus kain tipis dari rumah sakit.

Belum sampai tiga puluh menit sejak dokter menandatangani surat kepulanganku dari sebuah rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Selatan. Setiap langkah yang kuambil, setiap tarikan napasku, terasa seperti ribuan jarum menusuk luka jahitan yang masih basah. Rasa sakit menjalar dari pinggang hingga kepalaku.

“Troy…” suaraku bergetar, air mata mulai memenuhi sudut mataku. “Kita pulang naik kendaraan umum dengan bayi? Aku bahkan belum bisa berdiri tegak. Aku bisa pingsan di jalan.”

Namun bukannya rasa kasihan atau sedikit perhatian, wajah tampan pria yang selama dua tahun ini kulayani hanya menunjukkan kejengkelan dan rasa tidak sabar.

“Berhenti dramatis, Clarisse!” bentaknya sambil melihat jam mahal di tangannya—jam yang diam-diam kubelikan untuknya. “Kakakku saja tiga hari setelah melahirkan sudah kembali mencuci pakaian di kampung! Kamu terlalu manja. Naik bus atau angkot saja. Jalanan juga tidak macet. Jangan bertingkah seperti wanita kaya!”

Beberapa langkah dari tempat kami berdiri di depan pintu rumah sakit, sebuah mobil Land Cruiser hitam berkilau terparkir.

Mobil itu adalah hadiah dari ayahku saat kami menikah—mobil yang secara hukum masih atas namaku, tetapi selama dua tahun terakhir digunakan Troy untuk terlihat seperti “CEO sukses” di depan klien dan teman-temannya.

“Lalu bagaimana dengan mobil itu?” tanyaku pelan sambil menahan air mata.

“Aku yang pakai!” jawabnya cepat tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Mama, Papa, dan Samantha akan datang. Kami punya reservasi makan siang di restoran bintang lima di kawasan Sudirman untuk merayakan kontrak baruku. Kami tidak mungkin membiarkan mobil bau susu bayi dan obat-obatan. Kamu naik bus saja.”

Tepat saat itu pintu otomatis rumah sakit terbuka dan keluarganya keluar.

Ibu mertuaku, Carmela, mengenakan gaun mahal terbaiknya. Sementara adik iparku, Samantha, sibuk memperbaiki riasannya.

Ketika melihat kami, mereka bahkan tidak mendekati bayi itu.

“Troy, ayo cepat! Nanti meja VIP kita diberikan orang lain!” teriak Samantha dengan kesal.

Dia hanya melirik sekilas ke arah keponakannya lalu mendengus.

“Panas sekali di sini. Kenapa lama sekali?”

Troy mengambil tas bayi dari tangan perawat, tetapi bukannya menyerahkannya kepadaku, dia malah melemparkannya begitu saja ke bagasi SUV.

Lalu dia menoleh kepadaku dengan senyum meremehkan.

“Masih ada nasi dan lauk di kulkas apartemen. Panaskan saja nanti. Dan jangan sekali-kali menelepon atau menggangguku saat aku sedang makan siang dengan keluargaku. Malu sedikitlah di depan keluargaku.”

Sebelum aku sempat menjawab, mereka sudah masuk ke dalam mobil yang dingin oleh AC.

SUV hitam itu melaju cepat, meninggalkanku berdiri di bawah terik matahari siang, menggendong bayi kami, sementara uang empat puluh ribu rupiah untuk ongkos menggenggam erat di telapak tanganku.

Aku hampir merangkak ketika naik ke bus yang berhenti di depan halte.

Setiap rem mendadak sopir, setiap lubang di jalan, terasa seperti pisau yang kembali merobek jahitan di perutku.

Aku menahan asap kendaraan, kerumunan penumpang, dan air mata yang terus mengalir tanpa henti.

Namun ketika duduk di kursi vinil tua bus itu, sesuatu dalam diriku akhirnya runtuh.

Bukan hatiku.

Melainkan kebodohanku.

Troy tidak tahu.

Keluarganya yang sombong juga tidak pernah tahu siapa diriku sebenarnya.

Mereka mengira aku hanya seorang gadis desa miskin yang kehilangan keluarga dan merupakan anak seorang kontraktor bangkrut.

Aku membiarkan mereka percaya seperti itu karena aku ingin merasakan dicintai dengan tulus, jauh dari kekuasaan dan kekayaan miliaran keluargaku.

Yang tidak diketahui Troy adalah startup teknologi yang selalu dia banggakan, miliaran rupiah investasi yang masuk ke perusahaannya, dan para klien besar yang mengejarnya…

Semua itu bukan karena kemampuannya.

Semua itu adalah hadiah dariku.

Diam-diam aku meminta para anggota dewan dan investor modal ventura untuk memberikan dukungan finansial karena aku percaya pada mimpinya.

Namaku Clarisse Valderrama.

Aku adalah satu-satunya pewaris Don Aurelio Valderrama—pemilik salah satu konglomerasi terbesar di Asia Tenggara.

Ketika bus berhenti di lampu merah, sebuah SUV hitam berhenti tepat di sebelah kami.

Dari balik kaca gelap mobil itu, aku bisa melihat Troy tertawa sambil disuapi cokelat impor oleh adiknya.

Mereka bahagia merayakan sesuatu.

Sementara anaknya sendiri hampir kesulitan bernapas karena asap jalanan.

Dengan tenang aku mengeluarkan ponsel lamaku.

Di sana masih tersimpan satu nomor yang sudah tiga tahun tidak pernah kuhubungi.

Baru satu kali berdering, suara yang sangat kukenal langsung menjawab.

“Dad…” bisikku, seluruh tubuhku gemetar antara luka dan kemarahan yang membara.

“Baru lima hari aku menjalani operasi caesar. Suamiku menyuruhku pulang naik bus bersama bayi kami, sementara dia memakai mobilku untuk pergi makan bersama keluarganya. Dad… jemput aku dan cucumu. Aku pulang.”

Di ujung telepon, tidak ada suara selama lima detik.

Keheningan yang begitu berat dan mengerikan.

Ketika Don Aurelio akhirnya berbicara, suaranya terdengar seperti petir yang siap menghancurkan seluruh dunia.

“Katakan padaku di halte mana bus itu akan menurunkanmu, Clarisse.”

“Dan aku berjanji atas nama keluarga Valderrama… sebelum matahari terbenam hari ini, pria itu akan berlutut di atas pecahan kaca sambil melihat kehancuran setiap rupiah yang selama ini dia kira miliknya.”

 

 

“Halte depan Menara Astra, Dad. Sebelum belokan flyover Karet,” bisikku serak. Suaraku nyaris tertelan deru bising knalpot bajaj yang menyalip dari sisi kiri bus kota.

“Jangan bergerak dari sana, Clarisse,” suara Daddy di ujung telepon tidak berteriak, tapi desisnya seperti pisau bedah yang membelah udara beku. “Tiga menit.”

Panggilan terputus.

Kupeluk Nathan lebih erat ke dadaku. Bayi mungil itu menggeliat kecil, wajahnya merah kepanasan, terbatuk pelan saat asap solar hitam menyusup dari jendela bus metromini yang kacanya tak bisa ditutup rapat. Di perut bagian bawahku, kain kassa perban terasa basah dan hangat—rembesan darah segar bercampur keringat yang menusuk tajam setiap kali roda bus menghantam sambungan aspal jalan layang.

Uang empat puluh ribu rupiah yang dilemparkan Troy masih tergenggam kusut di tangan kiriku. Kertasnya basah oleh keringat dingin telapak tanganku. Uang empat puluh ribu. Harga yang dinilai suamiku untuk kepulangan seorang istri yang bertaruh nyawa di meja operasi dan seorang anak kandung yang bahkan belum genap seminggu menghirup udara bumi.

Bus berhenti dengan decitan rem angin yang memekakkan telinga tepat di pemberhentian dekat trotoar lebar jalan protokol.

Aku melangkah turun menyeret kaki kananku. Setiap inci gerakanku terasa seperti merobek daging panggulku sendiri. Seorang kondektur berkaus oblong robek sempat melirik sinis saat aku bergerak terlalu lambat di pintu keluar, tapi begitu melihat bercak merah yang mulai menembus kain rok terusan longgarku, pria itu menelan ludah dan menahan pintu tanpa berani mengumpat.

Kakiku menyentuh trotoar beton. Panas matahari jam dua belas siang di Jakarta membakar ubun-ubunku.

Tepat saat bus itu melaju kembali menyemburkan jelaga, suara sirene pendek terdengar dari jalur cepat.

Bukan mobil polisi.

Tiga unit Mercedes-Maybach hitam meluncur memotong arus lalu lintas dengan kecepatan tinggi, diikuti sebuah ambulans swasta berlogo Rumah Sakit Medistra yang menyalakan lampu rotator biru tanpa suara bising. Iring-iringan itu berhenti membentuk formasi segitiga tepat di depan halte, menutup akses trotoar dari pandangan orang luar.

Pintu penumpang mobil bagian tengah terbuka sebelum kendaraannya benar-benar berhenti total.

Seorang pria berambut kelabu dengan setelan jas abu-abu tua tiga lapis melangkah turun. Don Aurelio Valderrama. Pria yang selama tiga puluh tahun menggetarkan bursa efek Singapura dan lantai bursa Jakarta dengan satu ketukan jarinya di meja rapat. Pria yang tiga tahun lalu kutolak hartanya karena aku bersikeras ingin membuktikan bahwa cinta seorang Troy Ardiansyah murni tanpa embel-embel dinasti.

Wajah Daddy pucat pasi. Matanya yang tajam menatap bercak darah di rokku, lalu beralih ke wajah cucunya yang terbungkus kain selimut tipis rumah sakit.

“Clarisse…”

Suara kaisar bisnis itu bergetar. Tangannya yang biasanya kokoh saat menandatangani merger bernilai triliunan kini gemetar hebat ketika merengkuh pundakku.

“Dokter Santoso, bawa brankar sekarang!” teriak Daddy tanpa menoleh, memerintah tim medis yang berhamburan keluar dari ambulans membawa tandu darurat berlapis busa medis khusus.

“Dad, Nathan kepanasan…” bisikku, pandanganku mulai kabur oleh bintik-bintik hitam yang menari di pelupuk mata. Tubuhku limbung, tapi dua lengan Daddy yang kuat menahanku sebelum lututku mencium aspal.

“Dia aman, Clarisse. Kalian berdua sudah aman,” bisik Daddy di puncak kepalaku, air mata seorang ayah yang selama tiga tahun menelan kepedihan karena anaknya memilih hidup dalam kepalsuan kini menetes membasahi keningku.

Sebelum tim perawat mengangkatku ke dalam ambulans berpendingin udara yang harum antiseptik dan oksigen murni, aku menarik ujung jas Daddy dengan sisa tenagaku. Kugenggamkan dua lembar uang dua puluh ribu rupiah yang basah itu ke telapak tangannya.

“Troy sedang makan siang di The Grand Hyatt, Dad. Ruang VIP Cempaka. Dia merayakan kontrak putaran pendanaan Seri B senilai dua ratus miliar dari Konsorsium Valderrama Capital.”

Daddy menatap uang empat puluh ribu rupiah di telapak tangannya. Wajahnya yang tua mendadak berubah menjadi topeng pualam yang dingin tanpa emosi. Tatapannya adalah tatapan yang sama saat dia menghabisi kartel pelayaran saingannya sepuluh tahun lalu di Selat Malaka.

Daddy menoleh ke arah asisten pribadinya, Sebastian, yang berdiri kaku di samping pintu Maybach sambil memegang tablet digital.

“Sebastian.”

“Siap, Tuan Besar.”

“Hubungi Direktur Utama Bank Central Asia dan Bank Mandiri. Tarik seluruh jaminan bank garansi untuk Ardiansyah Tech Solution detik ini juga. Hubungi Otoritas Jasa Keuangan, bekukan rekening operasional perusahaannya atas dugaan penipuan identitas aset pemegang saham mayoritas.”

Daddy meremas dua lembar uang empat puluh ribu itu hingga remuk di kepalan tangannya.

“Dan telepon manajemen restoran The Grand Hyatt. Siapkan kursi untukku di ruang VIP Cempaka. Aku ingin makan siang bersama menantuku yang luar biasa berbakti itu.”

Restoran The Grand Hyatt, kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Suara denting gelas kristal beradu anggur putih impor mengalun di balik pintu geser kayu jati ruang privat VIP Cempaka. Ruangan berpendingin udara itu dipenuhi aroma daging wagyu panggang, truffle oil, dan parfum aroma melati yang disemprotkan berlebihan oleh Carmela.

Troy duduk di ujung meja, menyandarkan punggungnya di kursi beludru dengan senyum mengembang lebar. Di pergelangan tangan kirinya melingkar arloji Patek Philippe yang dulu kuberikan dengan dalih “hadiah undian kantor”. Di hadapannya, sepiring lobster termidor dan potongan stik daging sapi kelas atas tersaji rapi.

“Pokoknya kamu harus belikan Mama tas Hermes Birkin yang warna oranye itu, Troy,” celoteh Carmela sambil memotong daging dengan garpu perak. Mulutnya yang bergincu merah tua mengunyah dengan rakus. “Waktu kumpul arisan keluarga minggu lalu di Dharmawangsa, Tante Siska pamer tas barunya. Mama bilang anak Mama sekarang sudah jadi CEO teknologi yang didanai konglomerat luar negeri. Mama nggak mau kalah gengsi!”

“Gampang, Ma,” sahut Troy arogan sambil menyesap anggurnya. “Dana segar tahap pertama dua puluh lima miliar rupiah dari Valderrama Capital cair besok pagi ke rekening perusahaan. Nanti Troy transfer lima ratus juta ke rekening Mama. Buat belanja apa saja.”

Samantha bertepuk tangan manja, memamerkan cincin berlian imitasi di jarinya. “Kak Troy keren banget! Untung Kakak nggak ajak si Clarisse itu ke sini. Norak banget kalau dia duduk di restoran begini pakai daster murahannya. Malu-maluin keluarga kita saja kalau dilihat pelayan.”

“Iya, lagipula perempuan kayak gitu memang harus dikasih pelajaran biar nggak ngelunjak,” timpal ayah Troy, Hendra, yang sejak tadi sibuk menikmati sup asparagus kepiting. “Dari awal Papa sudah kurang sreg. Anak yatim piatu yang modalnya cuma tampang doang. Untung kamu pintar manfaatin mobil Land Cruiser pemberian bapaknya yang bangkrut itu buat lobi-lobi klien.”

Troy tertawa terbahak-bahak. “Tenang saja, Pa. Clarisse itu penurut seperti anjing kampung. Diancam sedikit saja langsung gemetar ketakutan. Palingan jam segini dia masih kepanasan di dalam bus kota sambil netein anak. Biarkan saja, biar dia tahu diri kalau posisinya di rumah itu cuma numpang.”

Tepat saat tawa mereka berempat memuncak, pintu geser kayu jati ruang VIP itu tidak dibuka dengan ketukan sopan pelayan.

Pintu itu didorong kasar dari luar.

Brak.

Tawa Troy terhenti seketika. Garpu di tangan Samantha melayang di udara.

Dua orang pria bertubuh kekar mengenakan setelan jas hitam dengan earphone spiral di telinga melangkah masuk terlebih dahulu, berdiri mengapit pintu tanpa ekspresi. Di belakang mereka, Don Aurelio Valderrama melangkah masuk dengan tenang, tongkat kayu eboni berujung perak di tangan kanannya mengetuk lantai parket dengan bunyi berirama: tap… tap… tap.

Sebastian menyusul di belakangnya, membawa sebuah koper kulit tipis dan berkas-berkas bermeterai.

Troy yang sering melihat foto Don Aurelio di majalah bisnis Forbes Asia langsung terlonjak dari kursinya. Anggurnya hampir tumpah mengotori taplak meja putih. Matanya membelalak kaget, jantungnya berdegup kencang karena rasa gembira yang luar biasa. Dia mengira sang penyandang dana utama perusahaannya datang sendiri untuk memberikan kejutan kehormatan.

“T-Tuan Besar Aurelio Valderrama?!” seru Troy tergagap, buru-buru menyeka mulutnya dengan serbet kain lalu merapikan jasnya yang miring. “Suatu kehormatan luar biasa, Tuan! Saya tidak menyangka Anda akan menyempatkan diri hadir di acara makan siang keluarga kami! Mari, silakan duduk di kursi utama…”

Carmela dan Samantha buru-buru membetulkan pakaian mereka, memamerkan senyum paling manis yang mereka miliki kepada pria paling berkuasa di industri modal ventura Asia Tenggara itu.

“Aduh, Tuan Valderrama… saya Carmela, ibunda dari Troy,” sambung Carmela genit, memajukan tubuhnya. “Anak saya ini memang jenius, dari kecil sudah berbakat bisnis. Pilihan Anda menyuntikkan dana ke startup anak saya sangat tepat—”

Bruk.

Don Aurelio tidak duduk. Dia bahkan tidak melirik kursi yang ditawarkan.

Sebuah benda kecil yang kusut dilemparkan oleh Don Aurelio ke tengah meja makan. Benda itu mendarat tepat di atas piring daging wagyu milik Troy, menempel di saus kental kecokelatan.

Dua lembar uang dua puluh ribu rupiah yang basah, lecek, dan bernoda darah kering yang samar.

Troy mengerutkan keningnya, bingung. “T-Tuan Valderrama? Ini… apa maksudnya uang receh ini?”

“Uang ongkos bus kota untuk putri tunggalku dan cucu pertamaku,” suara Don Aurelio sangat rendah, begitu tenang namun sarat dengan getaran yang membuat suhu ruangan ber-AC itu mendadak turun drastis hingga menusuk tulang.

Senyum di wajah Troy membeku.

“P-putri tunggal…?” lidah Troy kelu.

Don Aurelio menatap pria di hadapannya seperti sedang menatap bangkai serangga di selokan.

“Namanya Clarisse Valderrama, Tuan Ardiansyah. Bukan Clarisse tanpa nama keluarga seperti yang selama dua tahun ini kau hina dan kau perlakukan lebih rendah dari pembantu di apartemen murahmu.”

Prang!

Gelas anggur di tangan Samantha terlepas, pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.

Carmela ternganga lebar, matanya melotot hampir keluar dari kelopaknya. Wajah wanita itu seketika memutih seperti dinding kapur, tangannya gemetar hebat meraba dadanya sendiri.

“C-Clarisse… anak Anda…?” racau Hendra, suaranya tercekat di pangkal tenggorokan.

“Clarisse menolak menggunakan nama besarku karena dia ingin melihat apakah ada pria di dunia ini yang mencintainya secara tulus tanpa memandang seratus triliun aset keluargaku,” lanjut Don Aurelio, matanya yang kelabu menyala dingin menusuk manik mata Troy yang kini mulai bergetar liar karena teror yang merayap naik ke ubun-ubunnya.

“Dan jawabannya adalah kau. Seorang bajingan parasit yang menyuruh seorang ibu yang baru lima hari dibelah perutnya untuk menaiki bus kota berdesakan di tengah terik matahari, sementara kau memakai mobil pemberianku untuk mentraktir keluargamu makan lobster di hotel mewah.”

“Tuan Valderrama… tunggu… ini salah paham!” Troy panik luar biasa. Kakinya lemas hingga dia harus berpegangan pada tepi meja makan agar tidak tersungkur. Keringat dingin mengucur deras membasahi kerah kemejanya. “Clarisse tidak pernah bilang! Dia menyembunyikan identitasnya! Saya… saya sangat mencintainya, Tuan! Tadi itu cuma bercandaan keluarga, saya sudah berniat menjemputnya nanti sore dengan taksi online premium!”

“Bercanda?”

Sebastian melangkah maju satu langkah, membuka map kulit di hadapan Troy, lalu membacakan lembaran demi lembaran dengan nada datar seorang algojo pembaca vonis eksekusi mati.

“Pukul tiga belas lewat lima belas menit tadi, Konsorsium Valderrama Capital secara resmi membatalkan seluruh komitmen investasi Seri B senilai dua ratus miliar rupiah pada Ardiansyah Tech Solution atas klausul pelanggaran integritas dan pemalsuan kepemilikan paten perangkat lunak yang ternyata didaftarkan atas nama Clarisse Valderrama secara tunggal.”

“T-tidak… jangan…” bisik Troy dengan bibir membiru.

“Pukul tiga belas lewat dua puluh menit,” lanjut Sebastian tanpa ampun, “Bank Mandiri dan Bank Danamon menerbitkan surat panggilan penagihan seketika untuk seluruh pinjaman modal kerja perusahaan Anda sebesar empat puluh lima miliar rupiah yang jatuh tempo hari ini, menyusul penarikan dana jaminan rekening escrow keluarga Valderrama.”

“Papa! Tolong, Pa!” jerit Troy menoleh ke arah ayahnya dengan mata membelalak putus asa.

Namun Hendra hanya mematung pucat, dadanya sesak menatap kenyataan bahwa perusahaannya sendiri yang menjadi penjamin sekunder utang Troy kini otomatis ikut terseret ke jurang kepailitan total.

“Dan untuk mobil Land Cruiser hitam yang kau parkir di lobi bawah,” sambung Don Aurelio pelan, “tim hukumku baru saja mencabut kuasa pakainya dan melaporkannya sebagai tindak penggelapan aset keluarga ke Polres Metro Jakarta Selatan. Polisi lalu lintas sedang memasang gembok roda pada mobil itu di area valet saat ini juga.”

“Tuan Valderrama! Saya mohon ampun!”

Troy jatuh berlutut di atas lantai ruang VIP.

Pria yang setengah jam lalu tertawa pongah merendahkan istrinya kini bersujud mencium karpet di dekat ujung sepatu kulit Don Aurelio. Air mata ketakutan mengalir deras mencoreng wajahnya yang pucat pasi, tangannya yang gemetar mencoba meraih ujung celana sang konglomerat.

“Jangan hancurkan saya, Tuan! Saya ayah dari cucu Anda! Nathan butuh ayahnya! Clarisse istri saya, kami bisa membicarakannya baik-baik di rumah sakit! Saya akan bersujud di kaki Clarisse sampai dia memaafkan saya!”

Dua pengawal bertubuh kekar langsung mencengkeram kedua lengan Troy, menyentakkannya ke belakang tanpa kesulitan, memaksanya berlutut tegak dengan kedua tangan terkunci di punggung.

Don Aurelio membungkuk sedikit, menatap wajah pria yang telah menghancurkan hati putrinya itu dari jarak beberapa puluh sentimeter.

“Anakmu tidak butuh seorang pengecut yang meninggalkan darah dagingnya sendiri di trotoar rumah sakit demi pamer kemewahan palsu,” bisik Don Aurelio dingin. “Di akta kelahiran Nathan yang diterbitkan siang ini, kolom nama ayah dikosongkan atas permintaan resmi Clarisse melalui penetapan pengadilan darurat. Kau tidak punya hak hukum, hak asuh, atau hak kunjung seumur hidupmu atas cucuku.”

Don Aurelio merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet kulitnya, lalu menarik dua lembar uang dua puluh ribu rupiah yang baru dan kaku dari dalamnya.

Dia menjatuhkan uang itu tepat di atas kening Troy yang sedang menangis tersedu-sedu.

“Ini empat puluh ribu rupiah untukmu dan keluargamu,” kata Don Aurelio tanpa nada tinggi, namun setiap katanya terdengar seperti vonis akhir kehidupan. “Gunakan untuk naik bus kota kembali ke kampung halaman kalian. Karena apartemen di Senopati yang kalian tinggali sudah disegel oleh juru sita pengadilan setengah jam yang lalu.”

Carmela menjerit histeris mendengar rumah mewahnya disita, lalu pingsan terkulai di atas piring makannya sendiri, menumpahkan kuah sup ke gaun mahalnya. Samantha menangis histeris memegangi lengan ibunya yang tak sadarkan diri, sementara Hendra jatuh terduduk di lantai sambil memegangi dadanya yang nyeri karena serangan panik mendadak.

Don Aurelio tidak membuang waktu sedetik pun lagi untuk melihat pemandangan menjijikkan itu. Dia membalikkan badannya, melangkah tenang melewati pintu ruang VIP diiringi ketukan tongkat eboninya yang mantap.

“Pelayan,” panggil Don Aurelio kepada manajer restoran yang berdiri gemetar di lorong luar.

“Y-ya, Tuan Besar?”

“Keluarkan mereka dari gedung ini sekarang juga melalui pintu pembuangan sampah belakang. Bau kemunafikan mereka merusak selera makan pengunjung hotel.”

“Baik, Tuan Besar. Segera kami laksanakan.”

Tujuh bulan kemudian.

Pantai Jimbaran, Bali, diselimuti cahaya keemasan matahari terbenam yang memantul lembut di atas air laut tenang. Suara desau ombak berpadu dengan semilir angin sepoi-sepoi yang menggugurkan daun-daun kamboja putih di halaman sebuah vila pribadi di atas tebing.

Aku duduk di kursi malas anyaman rotan di tepi kolam renang tanpa batas, mengenakan gaun terusan katun putih yang longgar dan nyaman. Perutku sudah sembuh total; bekas luka sayatan operasi caesar di perut bawahku memang menyisakan garis tipis samar, tapi rasa sakitnya sudah lama menguap bersama hilangnya racun masa lalu dari hidupku.

Di sampingku, Nathan yang kini berusia tujuh bulan sedang duduk di atas karpet bermain beralas matras busa tebal. Pipinya tembam kemerahan, tawanya yang renyah berderai setiap kali dia menepuk-nepuk mainan bebek karet warna-warni dengan kedua tangan mungilnya yang gempal.

“Mama… ma… ma…” celoteh Nathan dengan air liur yang sedikit menetes di dagunya, mengulurkan tangannya meminta digendong.

Kuangkat tubuh kecil yang harum minyak telon dan bedak bayi itu ke dalam pelukanku, menciumi pipinya yang empuk berulang kali hingga dia tertawa geli menggeliat di dadaku. Di tempat ini, jauh dari kepalsuan metropolitan Jakarta, anakku tumbuh sehat, dikelilingi oleh udara laut yang bersih dan cinta yang melimpah tanpa syarat.

Langkah kaki terdengar dari arah selasar kayu teras vila.

Daddy melangkah mendekat dengan pakaian santai—celana linen krem dan kemeja putih longgar tanpa dasi, sesuatu yang tidak pernah kulihat selama tiga puluh tahun beliau memimpin kerajaan bisnisnya. Wajahnya tampak jauh lebih muda, gurat-gurat kelelahan di dahinya telah berganti dengan ketenangan seorang kakek yang menikmati masa pensiunnya.

Di tangannya, Daddy membawa sepiring potongan buah mangga manis dingin dan selembar surat kabar finansial nasional edisi pagi.

“Nathan belum tidur, Clarisse?” tanya Daddy sambil duduk di kursi rotan di sampingku, lalu mengulurkan jarinya yang langsung digenggam erat oleh jari-jemari mungil cucunya.

“Belum, Dad. Masih asyik main air tadi sore,” jawabku tersenyum, menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi. “Bagaimana laporan audit yayasan amal kita di Sumba?”

“Semuanya lancar. Sekolah kejuruan teknologi yang kamu bangun di sana sudah mulai menerima pendaftaran angkatan pertama,” jawab Daddy bangga. Beliau lalu meletakkan koran finansial itu di atas meja kecil di samping cangkir teh kamomilku.

Pandanganku tanpa sengaja jatuh ke kolom berita hukum dan ekonomi di halaman lima koran tersebut.

Sebuah foto hitam-putih memperlihatkan tiga orang yang mengenakan rompi oranye tahanan kejaksaan sedang digiring menuruni tangga pengadilan negeri dengan kepala tertunduk dalam-dalam di bawah sorot kamera wartawan.

Troy Ardiansyah.

Berita itu memuat vonis final pengadilan tingkat banding yang menolak permohonan kasasinya: hukuman delapan tahun penjara atas kasus penggelapan dana investor dan penipuan perbankan sistematis. Seluruh aset keluarganya telah habis dilelang negara untuk menutupi kerugian kredit macet, sementara Carmela dan Samantha dikabarkan kembali tinggal di rumah kontrakan sempit di pelosok daerah Jawa Tengah, bertahan hidup dari belas kasihan kerabat jauh yang dulu sering mereka caci maki.

Kupandangi foto pria yang dulu pernah kucintai itu selama beberapa detik.

Tidak ada rasa dendam yang melonjak girang di dadaku. Tidak ada pula setetes pun air mata kepedihan yang tersisa. Yang kurasakan hanyalah kehampaan mutlak, seperti melihat debu kering yang disapu ombak pasang di tepi pantai lalu hilang ditelan samudera luas.

Troy mengira bahwa dengan membuangku di pinggir jalan dan merampas mobil Land Cruiser itu, dia telah memenangkan segalanya. Dia tidak pernah mengerti bahwa apa yang dia miliki selama ini hanyalah bayang-bayang semu yang kupinjamkan dari kemurahan hatiku. Dan ketika kepalsuan itu ditarik dari bawah kakinya, dia hancur bersama keangkuhannya sendiri.

“Clarisse,” panggil Daddy pelan, menyadari arah pandanganku pada koran itu. “Ada yang mengganggumu?”

Kupalingkan wajahku dari lembaran kertas koran tersebut, lalu menatap wajah Nathan yang kini tertidur pulas di dekapanku dengan napasnya yang teratur dan damai.

“Tidak ada, Dad,” jawabku lembut sambil tersenyum tulus, menghirup aroma manis rambut anakku dalam-dalam. “Semuanya sudah berada di tempat yang seharusnya.”

Matahari terbenam sempurna di ufuk barat Jimbaran, meninggalkan semburat warna jingga keemasan yang megah di langit senja. Angin laut berembus sejuk membawa ketenangan yang abadi, membelai wajahku yang kini tegak menatap masa depan—seorang ibu yang utuh, seorang putri yang kembali ke pangkuan keluarganya, dan seorang wanita yang tahu pasti bahwa martabat sejatinya tak akan pernah bisa dibeli, dihina, atau direndahkan oleh siapa pun lagi di dunia ini.