Tanah di bawah pohon mangga itu sudah terbuka hampir sedalam lutut ketika kilat menyambar untuk kedua kalinya.
Aku masih berdiri di balik jendela, mematung, sementara mantan suami kakakku menatap lurus ke arahku.
Namanya Dimas.
Selama lima tahun menikah dengan Kak Rina, dia selalu terlihat seperti lelaki yang tahu cara membuat orang percaya kepadanya. Kemejanya selalu rapi, tutur katanya lembut, dan senyumnya mudah membuat orang lengah.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat wajah aslinya.
Dimas mengangkat telunjuk ke bibir.
Isyarat agar aku diam.
Lalu dia menunjuk ke arah pintu belakang.
Aku mundur perlahan.
Ponsel tua milik Kak Rina masih kugenggam. Rekaman tadi berhenti tepat sebelum kakakku mengatakan sesuatu yang tampaknya sangat penting.
Jangan pernah menggali…
Menggali apa?
Dan mengapa sekarang Dimas justru datang untuk menggali tempat itu?
Aku segera memasukkan dokumen, surat, dan ponsel ke dalam peti, lalu menutup ruang rahasia tersebut. Belum sempat aku berdiri, suara langkah terdengar dari lorong.
“Anisa?”
Suara Ibu.
Aku keluar dari ruang kecil itu dan menemukan beliau berdiri dengan wajah pucat.
“Kenapa kamu membuka ruangan ini?”
“Bu, Kak Rina menyimpan sesuatu di sini.”
Wajah Ibu berubah.
Aku memperlihatkan ponsel itu.
“Aku melihat rekamannya.”
Tongkat di tangan Ibu hampir terlepas.
“Apa yang kamu lihat?”
“Dimas. Pak Harun. Mereka menggali halaman belakang. Kak Rina juga ada di sana.”
Aku menatap mata Ibu.
“Sekarang katakan yang sebenarnya.”
Ibu terdiam lama.
Kemudian terdengar suara sekop menghantam tanah lagi dari luar.
Duk.
Duk.
Ibu langsung menggenggam lenganku.
“Kita harus pergi.”
“Tidak sebelum Ibu menjelaskan.”
“Anisa, dengarkan Ibu. Jangan keluar ke halaman belakang.”
“Kenapa?”
Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Karena malam ketika video itu direkam, seseorang meninggal di rumah ini.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Seseorang?”
Ibu mengangguk.
“Namanya Pak Jatmiko. Dia bekerja di kantor pertanahan kecamatan.”
Aku belum pernah mendengar nama itu.
Ibu kemudian bercerita.
Sekitar empat tahun lalu, jauh sebelum harga tanah di kawasan kami melonjak, sebuah perusahaan mulai membeli lahan secara diam-diam melalui beberapa perantara.
Dimas adalah salah satunya.
Dia mengetahui rencana pembangunan pusat perbelanjaan bahkan sebelum warga mengetahuinya.
Karena itu, dia membeli atau mengambil alih tanah dengan harga murah menggunakan berbagai cara.
Ada warga yang dibujuk.
Ada yang ditekan.
Ada pula yang tanda tangannya dipalsukan.
“Pak Jatmiko menemukan sesuatu,” kata Ibu.
“Apa?”
“Peta tanah lama.”
Menurut dokumen lama itu, batas tanah rumah kami ternyata tidak berhenti di belakang pohon mangga.
Ada sebidang tanah tambahan hampir enam ratus meter persegi yang selama puluhan tahun tercatat sebagai bagian dari warisan keluarga kami, tetapi kemudian menghilang dari dokumen pertanahan baru.
Nilainya sekarang bisa mencapai belasan miliar rupiah.
Aku mulai memahami semuanya.
“Jadi Dimas ingin tanah itu?”
Ibu menggeleng.
“Bukan cuma tanah.”
Pak Jatmiko ternyata menemukan bukti bahwa perubahan data kepemilikan dilakukan secara ilegal.
Dia membawa salinan dokumen tersebut kepada Kak Rina karena sebagian transaksi mencantumkan nama Dimas.
Malam itu terjadi pertengkaran.
Pak Jatmiko datang ke rumah.
Dimas menyusul bersama Pak Harun.
“Apa yang terjadi pada Pak Jatmiko?”
Ibu menunduk.
“Dia jatuh.”
“Jatuh?”
“Mereka bertengkar di belakang. Dimas mencoba merebut tas dokumennya. Pak Jatmiko terpeleset di tangga belakang dan kepalanya membentur batu.”
Aku menutup mulut.
“Dia meninggal?”
Ibu mengangguk.
“Dimas panik. Harun bilang kalau polisi datang, semua transaksi tanah mereka akan diperiksa. Mereka memindahkan tubuh Pak Jatmiko.”
Aku langsung teringat terpal hitam dalam video.
“Mereka menguburnya?”
“Tidak.”
Jawaban itu membuatku terdiam.
“Lalu apa yang mereka kubur?”
Ibu belum sempat menjawab.
Pintu belakang tiba-tiba bergetar.
Seseorang mencoba membukanya.
Aku mematikan lampu.
“Anisa!”
Suara Dimas terdengar dari luar.
“Aku tahu kamu di dalam.”
Aku menggenggam ponsel erat-erat.
Dimas mengetuk pintu.
“Aku cuma ingin mengambil sesuatu yang bukan milikmu.”
Aku tidak menjawab.
“Kalau kamu menemukan ponsel Rina, serahkan kepadaku. Setelah itu semuanya selesai.”
Ibu berbisik, “Jangan percaya.”
Dimas tertawa kecil dari balik pintu.
“Bu, sampai kapan mau menyimpan kebohongan?”
Tubuh Ibu menegang.
Lalu Dimas mengatakan sesuatu yang membuatku menoleh kepada beliau.
“Anisa belum tahu, kan, siapa sebenarnya yang menyembunyikan bukti malam itu?”
Aku menatap Ibu.
“Apa maksudnya?”
Ibu menangis.
“Maafkan Ibu.”
Pintu belakang dihantam keras.
Sekali.
Dua kali.
Pada hantaman ketiga, kait pintu terlepas.
Dimas masuk bersama Pak Harun dan seorang lelaki yang tidak kukenal.
Pakaian mereka basah kuyup.
“Berikan ponselnya,” kata Dimas.
Aku mundur.
“Dokumen kepemilikan yang kamu bawa pagi tadi palsu.”
Dia tersenyum.
“Bisa dibuktikan?”
“Ada surat Kak Rina.”
“Surat orang mati tidak akan mengubah sertifikat.”
“Ada video.”
Senyumnya menghilang.
Pak Harun langsung maju.
“Ambil ponselnya.”
Aku berlari ke ruang depan.
Dimas mengejar.
Dalam kepanikan, aku menjatuhkan sebuah kursi sehingga menghalangi lorong. Aku berhasil mencapai tangga, tetapi Pak Harun menarik bajuku dari belakang.
Aku berteriak.
Tiba-tiba terdengar bunyi keras.
Brak.
Pak Harun tersungkur.
Ibu berdiri di belakangnya sambil memegang tongkat kayunya.
“Lari, Nisa!”
Aku naik ke lantai dua.
Dimas menyusul.
Aku masuk ke kamar Kak Rina dan mengunci pintu.
Tanganku gemetar hebat.
Ponsel tua itu masih menyala.
Aku mencoba membuka galeri.
Ternyata video yang kulihat bukan satu-satunya rekaman.
Ada puluhan file.
Foto sertifikat.
Rekaman percakapan.
Salinan dokumen.
Dan sebuah folder bernama UNTUK ANISA.
Aku membukanya.
Ada video terakhir Kak Rina.
Dia duduk di kamar rumah sakit. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat.
“Nisa, kalau kamu melihat ini, mungkin aku sudah tidak ada.”
Air mataku langsung jatuh.
“Aku minta maaf karena melibatkanmu. Tapi hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.”
Kak Rina menarik napas.
“Yang mereka kubur di halaman bukan mayat Pak Jatmiko.”
Aku membeku.
“Mereka mengubur tas berisi dokumen asli karena polisi datang ke lingkungan malam itu. Tubuh Pak Jatmiko dibawa ke rumah sakit. Dimas menyuap seseorang agar kematiannya dicatat sebagai kecelakaan lalu lintas.”
Suara benturan terdengar dari pintu kamar.
Dimas sedang mendobrak.
Aku mempercepat video.
“Tapi aku mengambil tas itu kembali sebelum mereka sempat datang lagi.”
Aku menatap layar.
“Kalau kamu menemukan peti di ruang belakang, dokumen aslinya ada di sana.”
Aku teringat tumpukan kertas yang tadi kutinggalkan.
Jadi itulah bukti yang dicari Dimas.
Benturan berikutnya membuat kunci pintu hampir lepas.
Namun Kak Rina melanjutkan.
“Ada satu hal lagi. Jangan pernah menggali di bawah pohon mangga.”
Kalimat yang sama.
Aku menahan napas.
“Karena aku memindahkan semua bukti dari sana tiga tahun lalu. Yang kutanam sebagai gantinya adalah sesuatu yang sengaja kubuat agar Dimas kembali mencarinya.”
Aku mengernyit.
“Aku tahu suatu hari dia akan kembali. Dan kalau dia menggali, kamera yang kupasang akan merekam semuanya.”
Aku langsung menoleh ke jendela.
Kamera?
“Rekamannya otomatis dikirim ke penyimpanan daring dan ke alamat email seorang pengacara yang kupercaya.”
Pintu kamar jebol.
Dimas masuk.
Aku menyembunyikan ponsel di belakang tubuh.
“Sudah selesai bermain detektif?”
Aku menatapnya.
“Kak Rina menjebakmu.”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
“Kamera di halaman belakang.”
Dimas menoleh cepat ke jendela.
Itulah saat aku tahu Kak Rina tidak berbohong.
Dia panik.
Dimas berlari turun.
Aku mengejarnya.
Di halaman belakang, Pak Harun sedang membongkar lubang dengan tangan.
“Tidak ada!” teriaknya. “Tasnya tidak ada!”
Dimas menendang sekop.
“Cari kameranya!”
Tiba-tiba terdengar suara sirene.
Satu.
Kemudian dua.
Lalu beberapa kendaraan berhenti di depan rumah.
Pak Harun pucat.
“Kamu telepon polisi?”
Aku sendiri kebingungan.
Aku bahkan belum sempat meminta bantuan.
Pintu depan terbuka.
Beberapa petugas masuk bersama seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang mengenakan jas hujan.
Dia memandangku.
“Anisa?”
Aku mengangguk.
“Saya Bima Santoso. Pengacara kakak Anda.”
Dimas langsung mencoba lari melalui samping rumah, tetapi dua petugas sudah menunggu di sana.
Pak Bima mendekatiku.
“Kakak Anda memberi instruksi bahwa kalau sensor kamera belakang aktif setelah tengah malam, saya harus menghubungi polisi dan datang ke sini.”
Aku menatap pohon mangga.
Bahkan setelah meninggal, Kak Rina masih menjaga rumah ini.
Pemeriksaan berlangsung sampai pagi.
Pak Harun akhirnya menyerah.
Dokumen palsu yang mereka bawa disita.
Rekaman dari kamera memperlihatkan Dimas dan dua orang lainnya memasuki pekarangan tanpa izin, menggali tanah, dan membicarakan dokumen yang mereka kira masih terkubur.
Namun kejutan terbesar datang ketika petugas memeriksa dokumen asli dari peti.
Tanah enam ratus meter persegi itu memang milik keluarga kami.
Tetapi bukan itu saja.
Ada sebuah akta hibah yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya oleh almarhum ayahku.
Tanah tersebut tidak diwariskan kepada Kak Rina.
Tidak pula kepadaku.
Tanah itu sejak awal dihibahkan untuk pembangunan fasilitas kesehatan bagi warga.
Aku menatap Ibu.
Beliau menangis.
“Ayahmu pernah bilang, kalau suatu hari daerah ini berkembang, tanah itu jangan sampai membuat anak-anaknya bertengkar karena uang.”
Aku tertawa kecil di tengah air mata.
Selama ini semua orang mengira Kak Rina mempertahankan rumah karena nilainya.
Dimas bahkan melakukan segala cara untuk menguasainya karena membayangkan keuntungan miliaran rupiah.
Padahal Kak Rina mempertahankannya karena ingin memenuhi keinginan Ayah.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan terhadap Dimas dan jaringan transaksi tanahnya meluas. Kasus kematian Pak Jatmiko juga dibuka kembali setelah ditemukan rekaman dan dokumen yang menunjukkan adanya upaya menutupi kejadian sebenarnya.
Aku tidak pernah tahu berapa lama proses hukum itu akan berlangsung.
Namun satu hal akhirnya jelas.
Dimas tidak pernah memiliki bagian rumah kami.
Pagi setelah semuanya selesai, aku berdiri di bawah pohon mangga bersama Ibu.
Lubang yang mereka gali masih terbuka.
Di dasarnya terdapat sebuah kotak logam kecil yang sebelumnya tertutup tanah.
Petugas sudah memeriksanya dan mengatakan isinya tidak berbahaya.
Aku membukanya.
Hanya ada sebuah foto keluarga lama.
Ayah, Ibu, Kak Rina, dan aku.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan Kak Rina.
Aku mengenali tulisannya seketika.
“Nisa, kalau suatu hari kamu sampai menemukan kotak ini, berarti rencanaku berhasil dan kamu pasti sangat marah kepadaku.”
Aku tertawa sambil menangis.
Di bawahnya ada satu kalimat lagi.
“Rumah bisa dihargai dengan uang. Tanah bisa dihitung per meter. Tapi jangan pernah membiarkan keserakahan menentukan berapa harga sebuah keluarga.”
Setahun kemudian, rumah kayu tua itu masih berdiri.
Aku menolak tawaran terakhir pengembang.
Bukan karena takut.
Bukan pula karena berharap harga tanah naik lebih tinggi.
Sebagian tanah belakang digunakan sesuai amanat Ayah untuk sebuah klinik kecil yang melayani warga sekitar dengan biaya terjangkau.
Rumah utama kami pertahankan.
Atapnya sudah diperbaiki.
Dindingnya dicat ulang.
Namun ruang kecil di belakang tidak pernah kuubah.
Peti milik Kak Rina masih kusimpan di sana.
Suatu sore, setelah klinik mulai beroperasi, aku duduk bersama Ibu di teras.
Anak-anak berlarian di halaman. Beberapa warga menunggu pemeriksaan di gedung baru belakang rumah.
Ibu tiba-tiba berkata pelan, “Kakakmu pasti senang.”
Aku memandang pohon mangga yang bergerak tertiup angin.
Untuk sesaat, aku teringat malam hujan itu.
Suara sekop.
Lubang hitam.
Tatapan Dimas.
Dan sebuah rahasia yang hampir membuat keluarga kami kehilangan segalanya.
Aku menggenggam kunci kuningan peninggalan Kak Rina yang kini tergantung di leherku.
Barulah aku mengerti.
Kak Rina tidak meninggalkan kunci itu agar aku menemukan harta karun.
Dia meninggalkannya agar ketika semua orang datang membawa angka, ancaman, dan keserakahan, aku bisa membuka satu-satunya hal yang jauh lebih berharga.
Kebenaran.
