“Jika Bapak pikir ini cara untuk memaksa saya menjadi istri pura-pura, Bapak salah besar.”

PART 2

“Kamu tidak berutang apa pun pada saya.”

Maya berdiri terpaku di depan meja kayu jati tersebut.

Adrian menyandarkan punggungnya di kursi kerja.

“Saya melunasi biaya itu bukan untuk membeli kehadiranmu di gala.”

“Bukan juga untuk membuatmu merasa tertekan.”

“Saya melakukannya karena untuk pertama kalinya saya bertemu seseorang yang butuh bantuan, tapi tetap berani berkata tidak pada saya.”

Adrian menegakkan tubuhnya.

“Jika kamu ingin mengembalikan uang itu nanti, silakan.”

“Jika tidak, anggap saja itu hal benar pertama yang saya lakukan tanpa mencari keuntungan.”

Maya tidak langsung luluh.

Namun ketegangan di antara mereka mulai mencair.

Dua hari kemudian, Adrian kembali mendatangi Maya di area parkir hotel.

Kali ini Adrian tidak membawa berkas, tidak membawa pengawal, dan tidak menyebut nama kakeknya.

“Saya ingin kamu datang ke gala malam ini.”

“Bukan sebagai kepura-puraan.”

“Tapi karena di dekatmu, saya tidak perlu berakting menjadi orang yang sempurna.”

Maya diam sejenak sebelum memberikan syarat mutlak.

“Saya tidak akan mengaku sebagai istri Anda.”

“Saya hanya datang sebagai pendamping, dan saya berhak pulang kapan saja.”

Adrian mengangguk setuju.

Malam itu, adik perempuan Adrian, Siska, membantu meminjamkan gaun biru tua yang sederhana tanpa perhiasan mencolok.

Maya melangkah masuk ke ruang ballroom Hotel Grand Nusantara.

Lampu gantung kristal memantulkan cahaya ke seluruh ruangan yang diisi ratusan pengusaha dan pejabat tinggi.

Langkah Maya terasa mantap di sebelah Adrian.

Namun bisik-bisik dari para tamu mulai terdengar.

Rina Wijaya, tante Adrian, berdiri di tengah ruangan sambil memegang gelas minuman.

Rina melangkah mendekat dengan senyum sinis.

“Sungguh pemandangan yang menarik,” kata Rina dengan suara cukup keras.

“Sekarang staf pembersih hotel juga ikut dipamerkan dalam acara keluarga?”

Maya melepaskan pegangannya dari lengan Adrian.

Maya menatap Rina tanpa rasa takut.

Sebelum Maya melangkah pergi, Rina mengeluarkan telepon genggamnya.

Rina menunjukkan foto Arya yang sedang masuk ke ruang perawatan di Surabaya.

“Lihat ini,” panggil Rina pada para tamu di sekitarnya.

“Gadis ini memanfaatkan Adrian untuk membiayai pengobatan adiknya.”

“Dia menjual kesusahannya demi masuk ke lingkaran keluarga Wijaya.”

Keadaan di dalam ballroom mendadak hening.

Pandangan sinis ratusan tamu tertuju pada Maya.

Pada saat ketegangan mencapai puncaknya, seorang pria tua berjalan mendekat.

Pak Hardi Wijaya, kakek Adrian yang berusia 79 tahun, berjalan perlahan menggunakan tongkat kayu.

Pak Hardi memegang mik dari meja pembawa acara.

“Suara kalian terlalu bising,” kata Pak Hardi dingin.

Pak Hardi menatap Rina, lalu menatap Adrian dan Maya.

“Jadi ini wanita yang membuat kalian sibuk berselisih selama seminggu ini?”

Rina tersenyum, merasa berada di atas angin.

“Ayah, saya hanya menunjukkan kebenarannya.”

“Gadis ini bekerja sebagai cleaning service di hotel kita.”

“Adiknya butuh uang ratusan juta.”

“Apakah Ayah percaya dia berdiri di sini karena tulus?”

Pak Hardi memindahkan pandangannya ke arah Maya.

“Apakah benar cucu saya menawarkan uang agar kamu bersedia berpura-pura menjadi istrinya?”

Adrian hendak maju memotong, tetapi Maya mengangkat tangannya.

“Benar,” jawab Maya tegas.

“Dan saya menolaknya.”

Gumam kaget terdengar dari para pengusaha di ruangan itu.

Pak Hardi menaikkan sebelah alisnya.

“Lalu kenapa kamu ada di sini malam ini?”

“Karena dia meminta saya datang tanpa menggunakan uangnya,” jawab Maya.

Rina tertawa meremehkan.

“Sangat pandai bersilat kata.”

Maya menatap Rina lurus.

“Jika saya mengincar uang keluarga Anda, saya sudah menerima tawaran pertama sebesar Rp500.000.000.”

“Uang itu lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah keluarga saya.”

“Tapi saya menolaknya karena saya tidak menjual kehormatan saya.”

Pak Hardi bertanya tentang biaya rumah sakit di Surabaya.

Maya menjelaskan secara singkat.

Bahwa Adrian membayar biaya itu tanpa izinnya, dan Maya mendatangi ruang kerja Adrian khusus untuk mengembalikan lembaran bukti pelunasan itu.

“Saya marah karena dia merasa bisa mengatur hidup saya dengan uang,” tambah Maya.

Rina menyela lagi dengan nada tinggi.

“Dia membayar ratusan juta dan kamu berlagak memiliki harga diri tinggi?”

Adrian melangkah ke depan Maya.

Adrian berdiri tegap menghadapi tantenya sendiri.

“Cukup, Tante Rina.”

Adrian memandang seluruh tamu di ruangan tersebut.

“Saat pertama kali saya meminta Maya datang, saya bertindak kekanak-kanakan.”

“Saya pikir semua hal bisa dibeli dengan cek dan transfer bank.”

“Maya menolak saya.”

“Dia tidak mengancam, tidak meminta lebih, dan tidak membocorkannya ke media.”

Adrian menunjuk dirinya sendiri.

“Saya yang membayar deposit rumah sakit adiknya karena kemauan saya sendiri.”

“Dia tidak pernah meminta Rp1 pun.”

“Jika ada yang perlu disalahkan atas manipulasi di sini, itu adalah saya.”

Para tamu saling berpandangan.

Wajah Rina memerah tahan marah.

Pak Hardi menatap Adrian dengan pandangan tajam.

“Lalu kenapa kamu membawanya ke sini malam ini?”

Adrian menjawab pelan tapi terdengar jelas.

“Karena saat bersamanya, saya diingatkan bagaimana rasanya berbicara dengan seseorang yang tidak takut pada saya, tidak bermuka dua, dan tidak mengincar harta keluarga ini.”

Rina kembali berpaling pada Pak Hardi.

“Ayah! Apakah Ayah akan membiarkan seorang cleaning service merusak reputasi bisnis kita?”

Pak Hardi mengetukkan tongkatnya ke lantai dua kali.

Suara kayu berbenturan dengan lantai marmar terdengar nyaring.

“Saya di sini bukan untuk melihat siapa yang merusak reputasi.”

“Saya di sini untuk melihat apakah cucu saya bisa mengambil keputusan sebagai pria dewasa.”

Pak Hardi lalu mengungkap kenyataan sebenarnya.

Ancaman pengalihan saham ke yayasan independen memang benar ada dalam draf warisan.

Namun syarat bahwa Adrian harus membawa seorang ‘istri’ di gala malam ini sama sekali tidak pernah tertulis di hukum atau dokumen resmi mana pun.

Pak Hardi sengaja memancing isu tersebut dua minggu lalu untuk melihat reaksi keluarga.

Pak Hardi ingin melihat siapa yang sibuk merebut kekuasaan, dan siapa yang panik mencari jalan pintas.

Rina terperanjat.

“Ayah menjebak kami?”

“Saya memegang cermin di depan wajah kalian,” tegas Pak Hardi.

Pak Hardi lalu membeberkan bukti lain.

Selama tiga bulan terakhir, Rina telah menyewa detektif swasta untuk memata-matai Adrian.

Rina juga merekayasa laporan keuangan anak perusahaan untuk menjatuhkan kredibilitas Adrian di hadapan dewan komisaris.

Foto-foto adik Maya yang didapat Rina malam ini adalah hasil dari mata-mata yang disewa Rina menggunakan kas operasional yayasan.

Pak Hardi mengeluarkan satu amplop cokelat dari saku jasnya dan menyerahkannya kepada sekretaris perusahaan yang berdiri di sampingnya.

“Semua bukti transaksi pengeluaran ilegal yang kamu lakukan ada di sini, Rina.”

“Kamu menggunakan uang yayasan untuk mencari kelemahan cucuku.”

Rina tidak mampu menjawab.

Para tamu mulai berbisik-bisik menyalahkan tindakan Rina.

Di tengah kehebohan itu, Maya melangkah mundur.

“Saya permisi,” kata Maya pada Adrian.

Adrian tidak menahannya dengan paksa.

Adrian tidak memanggil pengawal.

Adrian hanya memanggil salah satu pengemudi hotel untuk memastikan Maya sampai di rumah dengan aman.

“Tidak usah,” jawab Maya. “Saya naik angkutan umum.”

Maya berjalan keluar dari Palacio de Linares versi Jakarta tersebut di bawah gerimis malam.

Selama satu minggu setelah acara gala, Adrian tidak menghubungi Maya.

Adrian tidak muncul secara mendadak di area kerja Maya.

Adrian meminta seluruh keputusan terkait pekerjaan Maya ditangani langsung oleh manajer SDM tanpa campur tangannya.

Operasi Arya di Surabaya berjalan lancar.

Tim dokter menyatakan tindakan medis berhasil dan masa pemulihan dimulai.

Ketika Maya kembali dari masa cutinya, Maya menerima surat resmi dari bagian keuangan hotel.

Pembayaran rumah sakit di Surabaya diubah statusnya menjadi pinjaman karyawan tanpa bunga dengan jangka waktu tenor lima tahun.

Dokumen itu disusun oleh pengacara independen atas permintaan Maya.

Maya membayar angsuran pertamanya pada akhir bulan.

Dua minggu kemudian, Adrian dan Maya bertemu secara tidak sengaja di area lorong lantai tiga.

Adrian melepaskan langkahnya dan memberi jalan bagi Maya.

“Bagaimana keadaan adikmu?” tanya Adrian.

“Membaik. Terima kasih.”

“Saya minta maaf atas kejadian malam itu,” ucap Adrian sungguh-sungguh. “Saya memperlakukanmu dengan buruk.”

Maya mengangguk pelan. “Permintaan maaf diterima.”

Beberapa hari setelahnya, Adrian mengajak Maya minum kopi di luar jam kerja.

di sebuah kedai kecil di kawasan Cikini.

Tanpa mobil mewah, tanpa pengawal.

Di kedai kopi itu, Adrian menceritakan masa lalunya.

Enam tahun lalu, mantan tunangannya membatalkan pernikahan dan menjual rahasia bisnis keluarganya ke media demi uang.

Sejak saat itu, Adrian memandang semua orang dengan curiga dan menilai segalanya dengan angka.

Maya mendengarkan, lalu berkata datar:

“Disakiti di masa lalu menjelaskan ketakutan Anda, tapi tidak memberi Anda hak untuk memperlakukan orang lain seperti barang.”

Adrian menerima teguran itu tanpa membantah.

Maya juga bercerita tentang kehidupannya.

Tentang ayahnya yang meninggal lima tahun lalu, perjuangan merawat Arya, dan kuliah manajemen perhotelan yang terpaksa berhenti di semester empat karena kendala biaya.

Pertemuan di kedai kopi itu berlanjut minggu demi minggu.

Ketika posisi koordinator kendali mutu hotel dibuka, Adrian berniat langsung menunjuk Maya.

Maya menolak keras.

Maya mendaftar secara resmi melalui jalur seleksi terbuka bersama 11 pelamar lainnya.

Maya mengikuti ujian tertulis, wawancara panels, dan presentasi operasional.

Maya meraih nilai tertinggi berdasarkan penilaian tim penilai luar.

Namun Rina, yang masih menyimpan dendam sebelum dicopot dari jabatannya, membocorkan cerita sengit ke media daring.

Artikel itu menuduh Maya menggunakan hubungan gelap untuk naik jabatan dari petugas kebersihan menjadi koordinator.

Saat wartawan berkumpul di depan pintu masuk hotel, Maya langsung menyerahkan surat pengunduran diri kepada HRD.

Maya tidak ingin kerja kerasnya tercemar.

Adrian mengambil tindakan berbeda kali ini.

Adrian tidak menyuruh Maya bersembunyi.

Adrian menggelar konferensi pers resmi di aula utama hotel.

Di hadapan puluhan wartawan, Adrian menunjukkan dokumen pinjaman resmi atas biaya rumah sakit adik Maya.

Adrian juga memperlihatkan hasil rekapitulasi nilai seleksi posisi koordinator yang dilakukan lembaga independen.

“Saya pernah melakukan kesalahan dengan bertindak sewenang-wenang sebagai pemilik,” tegas Adrian di depan kamera.

“Tetapi karyawan ini mendapatkan posisinya murni berdasarkan kualifikasi.”

“Setiap fitnah yang menyerang reputasinya akan kami proses secara hukum.”

Pak Hardi mendukung penuh langkah tersebut.

Setelah pemeriksaan internal selesai, bukti menunjukkan Rina yang membayar pembocor berita.

Rina resmi dikeluarkan dari struktur yayasan dan diminta mengembalikan seluruh dana operasional yang disalahgunakan.

Maya menarik kembali surat pengunduran dirinya setelah Adrian secara terbuka memperbaiki keadaan tanpa menempatkan Maya sebagai korban yang malang.

Delapan bulan berlalu.

Sistem kerja di hotel diubah.

Adrian tidak lagi memegang kendali penuh atas penilaian kinerja Maya secara langsung.

Hubungan mereka tumbuh secara alami.

Tanpa paksaan, tanpa drama harta.

Kesehatan Pak Hardi menurun beberapa bulan kemudian.

Sebelum wafat di rumah sakit, beliau memanggil Adrian dan Maya ke ruang perawatan.

“Saya tidak butuh pernikahan demi warisan,” bisik Pak Hardi pelan.

“Saya hanya ingin melihat cucu saya belajar menjadi manusia yang bisa menghargai orang lain.”

Pak Hardi meninggal dunia dengan tenang beberapa minggu kemudian.

Satu tahun setelah gala yang penuh kekacauan itu, Hotel Grand Nusantara mengadakan acara peresmian program beasiswa bagi anak-anak staf operasional.

Program itu dirancang oleh Maya dan didanai dari bagian keuntungan pribadi Adrian.

Setelah acara selesai, Adrian mengajak Maya naik ke ruang serba guna lantai paling atas.

Ruangan itu kosong.

Tidak ada wartawan.

Tidak ada kerabat yang berbisik.

Hanya ada satu meja kecil dan dua gelas air putih.

Adrian berdiri di hadapan Maya.

Adrian mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku jasnya.

Maya menyilangkan tangannya.

“Jika Bapak bilang butuh istri untuk acara lagi, saya akan keluar sekarang.”

Adrian tertawa lepas.

“Saya butuh satu tahun untuk belajar cara mengajukan pertanyaan yang benar.”

Adrian berlutut di satu kaki.

“Saya tidak membutuhkan istri untuk warisan, untuk pesta, atau untuk liputan media.”

“Saya membutuhkanmu.”

“Dengan seluruh ketegasanmu, batas-batasmu, dan caramu menegur kesalahan saya.”

“Apakah kamu bersedia menikah dengan saya?”

Maya menatap Adrian dalam diam.

Maya tidak langsung menjawab.

Maya membiarkan hening bertahan selama beberapa detik.

Bukan untuk mempermainkan, tapi agar mereka berdua ingat bahwa sebuah jawaban ‘ya’ hanya bermakna jika kata ‘tidak’ benar-benar dihormati.

Maya tersenyum tipis.

“Ya. Saya mau.”

Beberapa bulan kemudian, pernikahan mereka digelar di Solo secara sederhana.

Arya berjalan tanpa bantuan tongkat menuju kursi keluarga.

Siska menangis haru di barisan depan.

Rina hadir dari kejauhan, menyaksikan acara tanpa membuat keributan.

Sebelum pulang, Rina sempat menghampiri Maya.

“Kamu pikir kamu menang?” gumam Rina singkat.

Maya menjawab dengan suara tenang.

“Ini bukan perlombaan, Tante.”

Rina diam dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Perubahan di hotel berlanjut secara nyata.

Adrian rutin turun ke lapangan seminggu sekali untuk berdiskusi dengan tim kebersihan dan dapur.

Sistem dana darurat transparan untuk karyawan dibentuk dan dikelola oleh perwakilan staf.

Setiap kali Adrian mulai kembali ke tabiat lamanya yang ingin menyelesaikan masalah hanya dengan uang, Maya cukup menatapnya dengan satu pandangan khusus.

Adrian langsung paham.

Hingga bertahun-tahun kemudian, beberapa staf baru masih sering mendengar cerita tentang pemilik hotel yang mendatangi petugas kebersihan di lobi dan meminta wanita itu menjadi istrinya.

Tetapi orang-orang yang tahu kisah sebenarnya selalu meluruskan cerita itu.

Ini bukan cerita tentang wanita miskin yang diselamatkan oleh pria kaya.

Ini adalah cerita tentang pria berkuasa yang baru menyadari bahwa rasa hormat dan kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang.

Dan tentang seorang wanita yang menolak direndahkan, hingga mampu mengubah jalan hidup sebuah keluarga besar dengan keteguhan hatinya.