BAGIAN 2
Aku tidak langsung membuka pintu.
Dimas mengetuk lagi.
“Nita.”

Aku menatap amplop di tanganku.
Di luar, suara Bu Ratna mendadak hilang.
Rena juga tidak terdengar.
Mereka menunggu.
Aku memasukkan semua dokumen ke dalam tas kerja, lalu menyelipkan ponsel yang masih merekam ke saku celana.
“Nit, buka. Kita ngomong baik-baik.”
Aku menarik napas.
Kemudian kubuka pintu.
Dimas berdiri paling depan.
Wajahnya tegang.
Matanya langsung turun ke tanganku.
Kosong.
“Kamu cari apa?” tanyaku.
“Amplop.”
“Amplop apa?”
Dia mencoba tersenyum.
“Yang dari ibumu.”
“Bukannya tadi kamu bilang nggak tahu apa isi paketnya?”
Senyumnya hilang.
Bu Ratna berdiri di ruang makan dengan kedua tangan terlipat.
Rena duduk di sofa.
Tidak ada satu pun yang terlihat seperti orang yang baru datang mengambil daging.
Mereka terlihat seperti orang yang sedang menunggu barang bukti ditemukan.
“Sudahlah,” kata Bu Ratna. “Kalau sudah lihat, bilang saja.”
Aku menatapnya.
“Lihat apa, Bu?”
“Jangan pura-pura bodoh.”
Dimas memotong cepat.
“Ma.”
Tapi terlambat.
Aku tersenyum kecil.
“Jadi memang ada sesuatu yang seharusnya saya lihat?”
Bu Ratna sadar sudah salah bicara.
Dia mengalihkan pandangan.
Dimas menarik lenganku.
“Masuk kamar. Kita bicara berdua.”
Aku melepaskan tangannya.
“Nggak usah.”
“Nita.”
“Bicara di sini saja.”
Dia menurunkan suara.
“Jangan bikin masalah di depan Mama.”
Aku hampir tertawa.
“Masalahnya justru ada di depan Mama.”
Rena berdiri.
“Nita, jangan lebay.”
Aku menatapnya.
“Rp420 juta itu lebay?”
Wajahnya langsung pucat.
Dimas berhenti bernapas sesaat.
Bu Ratna menjatuhkan tas belanjanya.
Plastik di dalamnya berisik mengenai lantai.
Tidak ada lagi yang bisa berpura-pura.
Aku melanjutkan.
“Rekening atas namaku. Uang dari Ibu. Tanda tangan palsu. Penarikan Rp420 juta. DP rumah.”
Dimas melangkah mendekat.
“Kamu nggak ngerti konteksnya.”
“Bagus.”
Aku menatap matanya.
“Jelaskan.”
“Nita, waktu itu kita butuh investasi.”
“Investasi siapa?”
“Untuk keluarga.”
“Keluarga yang mana?”
Dia diam.
Aku menunjuk Bu Ratna.
“Rumah Ibu?”
Lalu menunjuk Rena.
“Nama Rena di sertifikat?”
Aku kembali menatap Dimas.
“Dan namamu juga?”
Rena tiba-tiba berkata,
“Itu cuma teknis.”
“Teknis?”
“Supaya gampang urus kredit.”
Aku tertawa pendek.
“Kredit dengan uangku?”
Bu Ratna akhirnya maju.
“Jangan bicara seolah-olah kamu dirampok. Dimas suamimu. Uang suami istri itu sama.”
“Kalau sama, kenapa rekeningnya disembunyikan?”
Tak ada jawaban.
“Kenapa ATM-nya dipegang Dimas?”
Sunyi.
“Kenapa tanda tanganku dipalsukan?”
Bu Ratna mulai kesal.
“Karena kalau setiap hal kecil harus menunggu kamu, semua urusan tidak akan selesai.”
Aku menatapnya lama.
“Rp420 juta itu hal kecil?”
“Nanti juga dikembalikan.”
“Dari mana?”
“Dimas kerja.”
Aku beralih kepada suamiku.
“Dari mana uangnya akan dikembalikan?”
Dia mengusap wajah.
“Nita, dengar dulu.”
“Aku dengar.”
“Rumah itu bisa dijual.”
“Kalau mau dijual, siapa yang dapat uangnya?”
Dia tidak menjawab.
Aku tahu.
Bukan aku.
Namaku tidak ada di sana.
Uangku keluar.
Asetnya menjadi milik mereka.
Sederhana.
Jelas.
Dan sangat disengaja.
“Nita,” Dimas berkata lebih pelan, “aku memang salah karena nggak bilang.”
“Bukan karena nggak bilang.”
Aku mendekat.
“Kamu memalsukan tanda tanganku.”
“Aku cuma—”
“Kamu membuat rekening atas namaku tanpa sepengetahuanku.”
“Aku bantu urus waktu kamu sibuk.”
“Lalu kamu ambil ATM-nya.”
“Niatku bukan mencuri.”
“Kalau bukan mencuri, kenapa aku tidak pernah tahu?”
Dia terdiam.
Aku melihat perubahan kecil di wajahnya.
Bukan penyesalan.
Takut.
Bukan takut kehilangan aku.
Takut kehilangan sesuatu yang lain.
“Ada berapa uang yang sudah kamu ambil?”
“Nita.”
“Jawab.”
“Sekitar itu.”
“Sekitar?”
Dia menelan ludah.
Aku langsung tahu.
Bukan hanya Rp420 juta.
Aku meraih tas.
“Aku pergi.”
Dimas menutup jalan.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke bank.”
Wajahnya berubah.
Bu Ratna cepat berkata,
“Besok saja.”
Aku menatapnya.
“Kenapa harus besok?”
Tidak ada jawaban.
Aku bergeser.
Dimas kembali menghalangi.
“Kita selesaikan di rumah.”
“Geser.”
“Nita.”
“Geser.”
Nada suaraku membuatnya berhenti.
Mungkin untuk pertama kalinya selama tujuh tahun pernikahan, dia melihat aku bukan sebagai istri yang bisa dibujuk dengan diam, pelukan, atau kalimat “demi keluarga”.
Aku berjalan keluar.
Di lift, tanganku gemetar hebat.
Begitu pintu tertutup, aku menghubungi Ibu.
“Bu.”
“Ya?”
“Jangan transfer apa pun lagi.”
Ibu langsung diam.
“Ada apa?”
“Mungkin bukan Rp420 juta saja.”
“Nita…”
“Aku ke bank.”
“Ajak seseorang.”
Aku teringat Santi.
Sepuluh menit kemudian dia menjemputku dengan motor.
Tidak bertanya.
Hanya memberiku helm.
Di perjalanan menuju kantor cabang bank yang buka sampai malam di pusat perbelanjaan, ponselku terus bergetar.
Dimas.
Bu Ratna.
Rena.
Dimas lagi.
Aku mematikan suara.
Saat kami tiba, hampir satu jam sebelum layanan tutup.
Aku menunjukkan KTP.
Meminta rekening diblokir sementara.
Petugas melihat dataku.
Lalu wajahnya berubah.
“Bu Nita, rekening ini sudah masuk permintaan penutupan.”
Aku merasa punggungku dingin.
“Kapan?”
“Siang tadi.”
“Siapa yang mengajukan?”
Petugas tidak langsung menjawab.
Dia mengetik sesuatu.
“Melalui surat kuasa.”
“Surat kuasa dari siapa?”
“Dari Ibu.”
Aku nyaris tertawa.
“Saya tidak pernah memberikan surat kuasa.”
Wajah petugas langsung serius.
Dia memanggil supervisor.
Aku menyerahkan fotokopi formulir lama yang dikirim Ibu.
Mereka memeriksa tanda tangan.
Lalu transaksi.
Saldo yang tadi tertulis Rp486.750.000 ternyata bukan saldo sekarang.
Saldo malam itu:
Rp3.214.500.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Santi memegang bahuku.
“Ke mana sisanya?”
Supervisor membuka riwayat.
Penarikan besar.
Transfer.
Pembayaran notaris.
Cicilan.
Dana masuk lalu berpindah.
Dalam tiga tahun, total uang yang pernah masuk mencapai lebih dari Rp730 juta.
Hampir semuanya sudah habis.
“Ini semua atas perintah siapa?”
“Sebagian menggunakan ATM.”
“Sebagian?”
“Sebagian lewat teller.”
“Dengan tanda tanganku?”
Supervisor mengangguk pelan.
Aku menunjukkan KTP lagi.
“Apakah orang yang datang mirip saya?”
Dia memeriksa arsip digital.
Lalu memanggil petugas keamanan internal.
Beberapa menit kemudian, mereka menunjukkan gambar buram dari dokumentasi teller.
Seorang perempuan mengenakan masker.
Rambut panjang.
Tubuh hampir sama denganku.
Aku mengenal tasnya.
Tas cokelat dengan gantungan huruf R.
Rena.
Aku menatap layar.
“Itu adik suami saya.”
Santi mengumpat pelan.
Aku tidak.
Aku sudah terlalu marah untuk mengumpat.
Aku hanya berkata,
“Saya mau buat laporan fraud.”
Malam itu aku tidak pulang ke apartemen.
Aku tidur di rumah Santi.
Dimas mengirim puluhan pesan.
Awalnya meminta maaf.
Lalu menjelaskan.
Lalu menyalahkan aku karena tidak percaya kepadanya.
Kemudian berubah menjadi ancaman halus.
Jangan bawa ini ke polisi.
Kita masih bisa bereskan.
Kalau keluarga kita hancur, itu karena kamu.
Aku membaca semuanya.
Tidak membalas.
Pagi harinya, aku pergi ke kantor polisi bersama Santi dan kuasa hukum yang direkomendasikan bank.
Aku menyerahkan rekaman percakapan.
Dokumen.
Riwayat transaksi.
Foto formulir palsu.
Serta foto sertifikat rumah.
Penyidik mendengarkan sampai selesai.
“Ini bukan cuma sengketa rumah tangga,” katanya.
Aku mengangguk.
“Saya tahu.”
Mereka meminta aku tidak memberi tahu Dimas bahwa laporan sudah dibuat.
Aku setuju.
Tapi sebelum keluar, pengacaraku bertanya,
“Bu Nita, selain rekening ini, apakah ada aset lain atas nama Ibu yang pernah diurus suami?”
Aku hampir menjawab tidak.
Lalu teringat sesuatu.
Empat tahun lalu, Dimas pernah meminta fotokopi KTP, NPWP, dan tanda tanganku di beberapa lembar kosong.
Katanya untuk pengajuan asuransi keluarga.
Aku langsung menoleh.
“Ya.”
Kami memeriksa.
Dan ternyata ada satu lagi.
Bukan asuransi.
Sebuah pinjaman usaha.
Nilai awal:
Rp1,2 miliar.
Peminjam:
Nita Maharani.
Aku membaca namaku sendiri berulang kali.
“Aku tidak pernah pinjam.”
Pengacara menatap dokumen.
“Jaminannya?”
Petugas menunjukkan halaman berikutnya.
Aku merasa isi perutku jatuh.
Jaminannya adalah tanah milik Ibu di Solo.
Tanah yang selama ini kupikir masih atas nama keluarga.
Dimas menggunakan surat kuasa palsu atas namaku untuk menjaminkannya.
Lebih parah lagi, pinjaman itu menunggak.
Kalau tidak dibayar, tanah bisa dieksekusi.
Aku langsung menelepon Ibu.
Begitu menjelaskan, dia menangis.
Bukan karena uang.
Karena tanah itu peninggalan Bapak.
Tempat rumah kecil kami dulu berdiri.
“Nita…”
“Bu, maaf.”
“Bukan salahmu.”
Tapi aku tahu satu hal.
Dimas bukan baru sekali mencuri.
Dia membangun sistem.
Memakai namaku.
Tanda tanganku.
Keluargaku.
Sedikit demi sedikit.
Dan mungkin dia belum selesai.
Sore harinya aku kembali ke apartemen bersama penyidik.
Bukan untuk menangkap siapa pun.
Belum.
Untuk mengambil barang-barang pribadi dan dokumen.
Dimas ada di sana.
Sendirian.
Begitu melihat dua orang di belakangku, wajahnya langsung berubah.
“Kamu lapor polisi?”
Aku tidak menjawab.
“Kamu serius?”
Aku berjalan ke kamar.
Dia mengejarku.
“Nita, dengar.”
Petugas menghentikannya.
“Pak, jangan menghalangi.”
Dimas tertawa pahit.
“Ini rumah saya.”
Aku berbalik.
“Separuh cicilannya kubayar.”
“Jadi sekarang semua dihitung?”
“Mulai hari ini, iya.”
Aku mengambil dokumen pernikahan.
Ijazah.
Paspor.
Perhiasan pemberian Ibu.
Lalu menemukan kotak kecil di bagian paling belakang lemari Dimas.
Terkunci.
Penyidik tidak mengizinkan aku membukanya karena itu milik Dimas.
Tapi ketika kotak diangkat, bagian bawahnya terbuka karena engsel rusak.
Sebuah buku tabungan jatuh.
Bukan atas namaku.
Bukan atas nama Dimas.
Nama pemiliknya:
Ratna Wulandari.
Bu Ratna.
Saldo terakhir Rp311 juta.
Aku memotret sampulnya.
Dimas langsung merampas.
“Itu punya Mama.”
“Uangnya dari mana?”
“Bukan urusanmu.”
Aku menatapnya.
“Kalau dari rekeningku, itu urusanku.”
Matanya berubah.
“Nita, jangan sok pintar.”
Aku berhenti.
Selama bertahun-tahun dia tidak pernah bicara kepadaku seperti itu.
Mungkin karena selama ini dia masih membutuhkan aku percaya bahwa dia mencintaiku.
Sekarang topeng itu tidak berguna.
Aku mendekat.
“Kamu tahu apa yang paling bodoh?”
“Apa?”
“Kalian mengambil daging Ibu bahkan sebelum aku sempat makan.”
Dia mengernyit.
“Apa hubungannya?”
“Karena kalau kalian tidak serakah soal delapan kilo daging, aku mungkin tidak akan menemukan amplop itu.”
Untuk pertama kali, dia tidak punya jawaban.
Dua hari kemudian, polisi memanggil Dimas.
Rena juga.
Bu Ratna datang bersama pengacara.
Mereka kompak mengatakan bahwa semua transaksi dilakukan dengan izinku.
Dimas bahkan menunjukkan percakapan WhatsApp lama.
Ada pesan dari nomorku:
Ambil saja uangnya. Pakai untuk rumah Mama. Aku setuju.
Aku menatap layar.
Pesan itu memang dari ak
