Ibu mertuaku mengusirku dari mansion mewah Pondok Indah yang kupakai uang pribadiku untuk membiayai pernikahan rahasia suamiku, lalu tiba-tiba Direktur Utama Bank Nasional berlutut memanggilku ‘Nyonya Presiden Boreal Group’ di depan ratusan tamu undangan yang terperangah!

Ibu mertuaku mengusirku dari mansion mewah Pondok Indah yang kupakai uang pribadiku untuk membiayai pernikahan rahasia suamiku, lalu tiba-tiba Direktur Utama Bank Nasional berlutut memanggilku ‘Nyonya Presiden Boreal Group’ di depan ratusan tamu undangan yang terperangah!

BAGIAN 1

“Angkat koper milikmu dari sini! Malam ini anakku memulai hidup baru yang jauh lebih terhormat dengan wanita yang sederajat dengannya!”

Batu teriakan melengking itu menusuk gendang telingaku saat gerbang besi tempa mansion mewah kawasan Pondok Indah didorong kasar oleh Ibu Marni, ibu mertuaku. Nafasku masih memburu. Aku baru saja menempuh perjalanan darat selama 15 jam yang sangat melelahkan dari Surabaya menuju Jakarta, membawa rasa lelah yang membuncah dan kerinduan mendalam pada suamiku. Di genggaman tangan kananku, layar ponsel masih menyala terang, menampilkan pesan singkat terakhir dari Budi, pria yang telah delapan tahun mendampingi hidupku: “Cepat pulang, sayang. Aku punya kejutan yang sangat luar biasa untukmu.”

Ya Allah! Kejutan yang dimaksud Budi ternyata adalah sebuah pesta pernikahan rahasia yang teramat megah!

Di atas hamparan rumput hijau seluas setengah hektar di halaman mansion itu, berdiri tenda kristal raksasa yang dihiasi dekorasi megah bernuansa emas murni dan putih bersih. Lampu-lampu gantung kristal meledakkan kemewahan, hamparan bunga impor menebarkan aroma harum yang mahal, dan ratusan tamu undangan berbusana batik sutra serta gaun pesta glamor tampak bersulang minuman bernilai puluhan juta Rupiah. Di atas taman, terbentang spanduk kain beludru mencolok bertuliskan huruf emas: “Pernikahan Suci Budi & Indah, Bahagia Selamanya.”

Demi Tuhan! Budi masih sah menjadi suamiku secara hukum negara dan agama.

Ibu Marni berdiri melipat tangan di dada, melemparkan senyuman paling sinis dan penuh kejam yang pernah kulihat seumur hidupku. “Indah bisa memberikan Budi keturunan yang sah, relasi bisnis pejabat kementerian, dan harga diri sebagai pria terpandang! Kamu cuma wanita kampung dari Surabaya yang cuma tahu cara bekerja membanting tulang seperti buruh kasar! Lagi pula, mansion mewah ini bukan tempatmu lagi, Laras!”

Kalimat itu terucap begitu tajam dan beracun. Dua tahun lalu, aku rela menjual rumah warisan peninggalan almarhum orang tuaku di Jawa Timur demi membiayai operasi saraf tulang belakang Budi akibat kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya. Saat siang malam mendampingi masa pemulihannya tanpa lelah, aku mengalami keguguran yang sangat hebat hingga dokter menyatakan peluang kehamilanku sangat tipis. Ibu Marni tahu betul seluruh penderitaan, darah, dan air mataku itu, tetapi malam ini ia justru menggunakannya sebagai belati berkarat untuk merobek harga diriku di depan umum!

Langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat. Budi keluar dari pintu utama memakai jas pengantin putih buatan perancang ternama, memegang gelas minuman mahal di tangannya. Wajahnya yang dulu kupeluk saat ia menangis kesakitan kini berubah begitu dingin, asing, dan penuh kesombongan.

“Jangan buat keributan di sini, Laras,” bisik Budi pelan namun dipenuhi nada penghinaan yang teramat dalam. “Indah membawa investasi segar sebesar 5.000.000.000 Rupiah untuk perusahaanku. Keluarga Indah kenal dekat dengan pejabat tinggi, pimpinan bank, dan kontraktor terbesar di Jakarta. Kamu tidak akan pernah paham ambisi besar seorang pria!”

Aku menatap mata suamiku tanpa meneteskan sebutir air mata pun. Rasa sakit di dadaku telah berubah menjadi dingin yang membekukan seluruh perasaanku.

Mereka semua tidak pernah tahu. Selama 8 tahun menikah, aku sengaja menyembunyikan identitas asliku. Aku bukan sekadar wanita karir biasa. Aku adalah pemilik saham mayoritas sekaligus Presiden Direktur Boreal Group—konsorsium devisa raksasa yang menjamin seluruh pinjaman bisnis Budi, membayar fasilitas mansion mewah Pondok Indah ini, dan mendanai setiap proyek konstruksi perusahaannya. Aku merahasikannya semata-mata agar Budi tidak merasa rendah diri sebagai seorang kepala keluarga.

Namun, ketulusan dan kebaikanku justru memelihara seekor ular berbisa yang kini balik mematokku tanpa ampun.

Tanpa suara, aku membuka tas tanganku, mengeluarkan sebuah dokumen eksekutif bertinta emas, lalu menekan nomor seluler di ponselku. Aku memasang pengeras suara dan berbicara dengan suara yang sangat tenang namun penuh wibawa.

“Bapak Salcedo, aktifkan pengambilalihan seluruh aset properti mansion ini detik ini juga. Bekukan seluruh jalur kredit korporat senilai 5.000.000.000 Rupiah dan hentikan seluruh layanan fasilitas di rumah ini sekarang.”

Ibu Marni tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku, sampai suaranya melengking tinggi memecah malam. Budi pun ikut tertawa meremehkan, menganggapku sudah gila akibat stres diselingkuhi.

“Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa, Laras?! Cuma wanita miskin yang halusinasi!” ejek Ibu Marni seraya mendorong koperku kasar.

Namun tepat 7 menit kemudian… seluruh lampu di mansion megah itu mendadak padam total!

Jooosh! Kegelapan gulita langsung menyelimuti area pesta. Puluhan petugas keamanan swasta bertubuh tegap di gerbang utama seketika menghentikan tugas mereka, melepaskan seragam, dan berjalan keluar meninggalkan lokasi. Sistem pendingin udara mati serentak, alunan musik pesta terhenti seketika, dan pengeras suara darurat sistem smart home terintegrasi di seluruh penjuru taman menyala otomatis. Suara berat dari Direktur Utama Bank Nasional menggelegar memecah kesunyian malam:

“Nyonya Presiden Laras, instruksi eksekusi seluruh aset dan pembekuan dana perusahaan Bapak Budi telah selesai dilaksanakan 100%. Apakah kami perlu membawa tim notaris dan tim hukum Boreal Group ke lokasi pesta Anda malam ini?”

Suasana halaman mansion seketika hening mencekam bagai kuburan.

Ratusan tamu undangan terperangah saling pandang dalam kegelapan. Aku menatap Budi yang mendadak gemetar hebat, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.

“Ya, Pak Salcedo. Kirim mereka sekarang. Pastikan tidak ada satu pun dokumen dari ruang kerja rumah ini yang dibawa keluar!”

Budi jatuh berlutut, seluruh badannya gemetar tanpa henti. Di dalam ruang kerja itu, tersimpan sebuah rahasia besar yang sangat kelam…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Angin malam kawasan Pondok Indah berhembus semakin dingin, menusuk hingga ke dalam tulang. Namun dinginnya udara Jakarta malam ini sama sekali tidak sebanding dengan kepanikan luar biasa yang mendadak melanda pesta pernikahan rahasia yang tadinya penuh kesombongan itu.

Pesta malam yang dirancang penuh kemewahan kini mendadak berubah menjadi panggung kebingungan dan ketakutan dalam kegelapan. Para tamu undangan dari kalangan kelas atas Jakarta—mulai dari pejabat pemerintah, pengusaha papan atas, hingga rekan bisnis terpandang—mulai berbisik panik. Jeritan-jeritan histeris melengking dari beberapa wanita bergaun mewah saat lampu-lampu kristal senilai ratusan juta mati total, meninggalkan halaman mansion seluas setengah hektar itu hanya disinari oleh remang-remang obor dekorasi yang meliuk-liuk tertiup angin malam.

“Apa-apaan ini?! Kenapa seluruh listriknya mati?! Hei, mana tim keamanan?! Nyalakan generator darurat sekarang juga!” teriak Indah, wanita yang berdiri memakai gaun pengantin putih penuh payet emas di samping Budi. Suaranya yang tadinya dibuat-buat halus kini melengking tinggi, kehilangan seluruh keanggunan palsunya.

Namun tidak ada satu pun petugas keamanan yang bergerak. Puluhan pengawal bertubuh tegap berotot yang tadi disewa Budi di pintu gerbang telah melepas seragam mereka satu per satu dan berjalan dingin keluar meninggalkan lokasi. Mereka adalah personel keamanan terlatih yang digaji langsung oleh Boreal Group. Begitu perintah eksekutif diterbitkan dari ponselku, loyalitas mereka kembali sepenuhnya kepada pemilik sah perusahaan: aku.

Ibu Marni mendesis tajam, matanya mendelik liar di antara keremangan malam. Ia melangkah maju dengan napas memburu, menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya yang gemetar karena amarah.

“Kurang ajar kamu, Laras! Kamu sengaja menyuap petugas keamanan dan mematikan saklar listrik utama untuk merusak hari bahagia anakku, kan?! Dasar perempuan kampung tidak tahu diri! Kamu pikir kamu siapa pura-pura kenal Direktur Utama Bank Nasional?! Jangan halusinasi!” jerit Ibu Marni histeris, mencoba menutupi rasa takutnya dengan bentakan kasar.

Aku berdiri tegak di tengah kegelapan yang menyelimuti halaman. Tidak ada satu pun riak ketakutan di wajahku. Kuatur helaan nafasku dengan sangat tenang. Kurapikan lipatan gaun cokelat elegan serta jilbab senada yang melilit tubuhku dengan sempurna. Di tangan kananku, kupegang gelas minuman dengan jemari yang stabil, persis seorang ratu yang sedang menyaksikan kehancuran musuh-musuhnya.

“Ibu Marni,” kataku dengan suara yang sangat pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirku membeku di udara, terdengar begitu jelas oleh orang-orang di sekelilingku. “Selama delapan tahun ini, Ibu selalu menganggap saya wanita lemah dari daerah yang hanya bisa bekerja membanting tulang. Ibu selalu menghina saya di depan keluarga besar. Tapi pernahkah Ibu bertanya, dari mana Budi mendapatkan modal pertama senilai belasan miliar untuk mendirikan perusahaannya? Dari mana uang untuk membayar cicilan mansion Pondok Indah yang Ibu tempati ini? Dan siapa sosok dibalik jaminan korporat yang membuat bank-bank besar mau memberikan pinjaman tanpa batas kepada anak kesayangan Ibu?”

“Halah! Jangan mimpi kamu, Laras! Itu semua murni hasil kerja keras Budi! Anakku pria sukses yang cerdas! Kamu cuma benalu yang menempel padanya!” bentak Ibu Marni, meski kini nada suaranya bergetar hebat melukiskan keraguan yang mulai menggerogoti dadanya.

Belum sempat Ibu Marni menyelesaikan kalimatnya, raungan sirine mobil polisi yang membahana memecah malam dari arah jalan raya Pondok Indah.

Sorot lampu depan yang sangat terang menembus kegelapan halaman mansion. Tiga unit mobil SUV hitam mewah berukuran besar merek Cadillac Escalade melaju perlahan memasuki halaman, dikawal ketat oleh dua mobil patroli kepolisian dengan lampu rotator biru yang menyala terang.

Gerbang besi tempa yang tadinya dikunci kini dibuka lebar-lebar oleh tim hukum korporat. Dari dalam mobil Escalade terdepan, turun seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas hitam buatan Italia dan pin emas berkilau di kerahnya. Beliau adalah Bapak Hendra Salcedo, Direktur Utama Bank Nasional sekaligus Wakil Komisioner Utama Boreal Group—pria paling berpengaruh dalam dunia perbankan tanah air.

Di belakang Bapak Hendra, menyusul lima orang pengacara senior berpakaian necis yang membawa koper-koper dokumen tebal, didampingi langsung oleh Kapolres Jakarta Selatan beserta jajaran tim penyidik berseragam lengkap.

Ratusan tamu undangan terperangah. Keheningan total yang Mencekam melingkupi seluruh area pesta pernikahan rahasia itu.

Bapak Hendra melangkah mantap melintasi rumput taman, mengabaikan Budi dan Ibu Marni yang berdiri terpaku bagaikan patung batu. Pria berkelas yang disegani oleh seluruh konglomerat negeri ini berjalan lurus ke arahku. Di hadapan ratusan tamu undangan elit yang ternganga tak percaya, Bapak Hendra menundukkan kepalanya secara hormat dan berlutut satu kaki di hadapanku!

“Mohon maaf atas keterlambatan kami dalam mengeksekusi perintah Anda, Ibu Presiden Laras,” ucap Bapak Hendra dengan suara tegas, dalam, dan penuh rasa penghormatan yang mutlak. “Seluruh rekening pribadi Saudara Budi, rekening operasional perusahaannya, serta seluruh jalur kredit korporat senilai 5.000.000.000 Rupiah telah kami bekukan secara total detik ini. Properti mansion Pondok Indah ini atas nama Boreal Group telah resmi disita kembali. Tim hukum dan pihak kepolisian siap mengeksekusi instruksi Anda selanjutnya.”

Baaaaam!

Kalimat itu bagaikan dentuman meriam yang menghantam kepala Budi dan Ibu Marni hingga hancur berkeping-keping.

“N-Nyonya… Presiden Boreal Group?!” gumam Budi dengan bibir yang gemetar hebat. Gelas kristal di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dan pecah berhamburan. Wajahnya yang tadinya penuh kesombongan kini berubah pucat pasi bagaikan mayat yang direndam dalam air es.

“Tidak! Ini pasti bohong! Ini pasti sandiwara murahan!” jerit Indah histeris, jemarinya meremas gaun pengantin mewahnya hingga kusut. “Budi bilang padaku kalau Laras cuma wanita karir biasa dari Surabaya yang tidak punya harta! Budi bilang perusahaan Boreal Group itu milik mitra bisnis utamanya dari luar negeri!”

“Budi membohongimu, Indah,” kataku seraya menatap wanita muda bergaun pengantin itu dengan tatapan kasihan. “Atau lebih tepatnya, dia membohongi dirinya sendiri karena rasa gengsi yang terlalu tinggi sebagai seorang pria.”

Aku melangkah perlahan mendekati Budi. Setiap detak sepatu hak tinggiku berbunyi begitu nyaring di tengah malam yang hening. Suamiku—pria yang dulu kucintai dan kubela dengan segenap jiwa dan ragaku—kini menyusut ketakutan, badannya gemetar hebat di hadapanku.

“Budi… delapan tahun lalu, saat kamu melamarku di Surabaya, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi istri yang berbakti dan menjaga kehormatanmu. Aku sengaja menyembunyikan statusku sebagai pemilik saham mayoritas dan Presiden Direktur Boreal Group karena aku ingin kamu merasa menjadi kepala keluarga yang berharga. Aku ingin kamu membangun bisnismu sendiri dengan penuh kebanggaan,” ucapku pelan, namun setiap kata dipenuhi penekanan yang menusuk kalbu.

“Tapi apa yang kamu lakukan setelah perusahaanku menopang seluruh hidupmu? Kamu menggunakan namaku untuk mengeruk pinjaman bank puluhan miliar, lalu saat kamu merasa sudah berada di atas, kamu bersama ibumu mengusirku dari rumah ini bagaikan anjing kurap!”

“L-Laras… ampun, Laras…” Budi langsung jatuh berlutut di atas rumput taman, memegang ujung gaun cokelatku dengan tangan gemetar dan mata yang berkaca-kaca. “Aku khilaf, Laras! Aku bersumpah aku tertipu oleh nafsu dan ambisi jahat! Tolong maafkan aku, sayang! Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi! Pesta ini… pesta ini cuma salah paham! Aku tidak pernah mencintai Indah!”

“Budi! Kurang ajar kamu!” teriak Indah histeris mendengarnya. “Kamu bilang kamu mencintaiku! Kamu bilang investasi lima miliar dari keluargaku yang akan menyelamatkan perusahaanmu dari kebangkrutan!”

“Tutup mulutmu, Indah!” bentak Budi panik. Ia kembali berpaling padaku, air mata dan keringat dingin mengucur deras membasahi wajahnya. “Laras, tolong… cabut instruksi pembekuan rekening itu! Kalau rekeningku dibekukan malam ini, perusahaanku bangkrut total! Aku diseret ke penjara karena utang korporasi!”

Ibu Marni yang tadi begitu sombong kini ikut merangkak di atas rumput. Wajah angkuhnya sirnah total, digantikan oleh ketakutan yang luar biasa mendalam. Dengan napas tersengal-sengal, ia mencoba meraih pergelangan kakiku.

“Laras… Mantu Ibu yang paling cantik dan baik hati… tolong maafkan Ibu, Nak!” ratap Ibu Marni dengan suara serak menahan tangis. “Ibu yang salah! Ibu yang bodoh karena tergiur oleh kekayaan keluarga Indah! Tolong jangan penjarakan Budi! Ibu mohon, Laras! Ibu rela berlutut dan mencium kakimu di depan semua orang!”

Aku melangkah mundur satu pijakan, menarik gaun cokelatku agar tidak tersentuh oleh tangan-tangan rapuh yang penuh dengan kebohongan itu.

“Sudah terlambat, Ibu Marni,” kataku dingin tanpa ekspresi. “Rasa hormat, kasih sayang, dan pengampunan saya sudah habis saat Ibu mengusir saya malam ini dari mansion yang kubayar dengan air mata dan darah warisan orang tua saya.”

Aku berpaling ke arah Bapak Hendra dan jajaran kepolisian. “Pak Salcedo, bawa tim penyidik kepolisian masuk ke dalam ruang kerja Budi di lantai dua. Buka brankas besi rahasia di balik lukisan dinding utama.”

Mendengar kata “brankas besi rahasia”, mata Budi membelalak lebar. Kepanikan yang sepuluh kali lipat lebih dahsyat menghantam kesadarannya. “T-TIDAK! Jangan ke ruang kerja! Laras, jangan! Aku mohon! Ada dokumen rahasia bisnis yang tidak boleh dibuka oleh siapapun!”

“Kenapa, Budi?” tanyaku menatapnya dengan pandangan tajam yang menembus jiwanya. “Apakah kamu takut rahasia keji yang kamu sembunyikan selama dua tahun ini terbongkar di depan seluruh tamu undangan?”

Kapolres Jakarta Selatan beserta empat petugas kepolisian dan tim hukum Boreal Group segera menerobos masuk ke dalam mansion. Budi mencoba berdiri untuk mengejar mereka dengan pusing, tetapi dua petugas polisi bertubuh kekar langsung menahan tubuhnya, mengunci kedua tangannya ke belakang dengan cengkeraman besi.

“Lepaskan aku! Lepaskan! Kalian tidak punya hak menggeledah rumahku!” teriak Budi histeris, meronta-ronta bagaikan orang gila.

Hanya butuh waktu sepuluh menit. Tim kepolisian kembali keluar ke area halaman membawa sebuah kotak besi hitam bernomor seri yang telah dibuka paksa, beserta satu set kantong plastik segil transparan berisi botol-botol kaca laboratorium dan tumpukan berkas dokumen rahasia bertinta merah.

Kepala Tim Penyidik melangkah maju ke sampingku dan membacakan temuan mengerikan tersebut melalui pengeras suara darurat pesta di depan seluruh ratusan tamu undangan.

“Laporan hasil penggeledahan resmi,” ujar Perwira Polisi itu dengan suara berat dan tegas. “Di dalam brankas pribadi Saudara Budi, kami menemukan bukti dokumen transfer dana ilegal sebesar 12 miliar Rupiah yang dipindahkan secara bertahap dari rekening Boreal Group ke rekening pribadi atas nama Ibu Marni.”

Tamu-tamu berbisik gempar! Ibu Marni memegang dadanya, wajahnya pucat pasi bagaikan mau mati saat itu juga.

“Dan bukan hanya penggelapan uang,” lanjut Perwira Polisi tersebut dengan raut wajah sangat serius. “Kami menemukan seperangkat botol sampel zat kimia beracun jenis Arsenik dosis rendah serta rekam medis rahasia dari sebuah klinik ilegal. Berdasarkan catatan transaksi dan buku harian medis yang ditemukan di dalam brankas, Saudara Budi bersama Ibu Marni telah secara sengaja dan bertahap memberikan zat beracun tersebut ke dalam minuman harian Nyonya Laras selama dua tahun terakhir demi membuat fisiknya lemah dan menggagalkan kehamilannya!”

Suasana pesta mendadak meledak dalam amarah! Suara teriakan kaget dan caci maki bersahutan dari para tamu undangan!

“Ya Allah! Biadab sekali mereka!” “Mereka meracuni istrinya sendiri demi menguasai harta?!” “Pria iblis dan ibu mertua berhati ular!”

Air mataku akhirnya menetes satu titik di pipi, bukan karena rasa sedih atas kehilangannya, melainkan karena kemarahan yang meluap-luap membakar dadaku. Merekalah penyebab keguguranku dua tahun lalu! Merekalah yang membuat rahimku rusak dan dinyatakan tidak subur oleh dokter! Selama ini aku hidup dalam rasa bersalah yang mendalam, berpikir keguguran itu adalah kesalahanku karena terlalu lelah bekerja, padahal suami dan ibu mertuaku sendiri yang secara perlahan memasukkan racun ke dalam minumanku demi menguras hartaku dan membuatku tak berdaya!

Ibu Marni menjerit histeris, menyangkal sambil menangis meraung-raung di atas rumput. “Bukan aku! Demi Tuhan itu ide Budi! Budi yang bilang kalau Laras tidak bisa memberi anak, kita bisa menguasai seluruh aset Boreal Group jika fisiknya perlahan lumpuh! Jangan tangkap saya, Pak Polisi!”

“Kamu ibu gila!” teriak Budi balik menyerang ibunya sendiri dengan mata memerah. “Ibu yang menyuruhku! Ibu yang membeli cairan racun itu dari dokter gadungan di Jawa Timur! Ibu yang merencanakan semuanya dari awal!”

Ibu dan anak yang tadinya begitu kompak menghinaku kini saling cakar dan saling tuduh di atas rumput taman, bertengkar seperti binatang liar yang terdesak di depan ratusan mata tamu undangan yang memandang mereka dengan rasa jijik yang luar biasa.

Indah yang menyaksikan kenyataan mengerikan itu mundur beberapa langkah dengan wajah trauma. “Kalian berdua monster iblis! Ayahku tidak akan pernah sudi memberikan investasi lima miliar pada keluarga pembunuh! Pernikahan haram ini batal!” Indah melepaskan cincin kawin emasnya dan melemparkannya tepat ke wajah Budi sebelum berlari histeris meninggalkan lokasi pesta.

“Saudara Budi dan Ibu Marni,” kata Kapolres dengan nada dingin tanpa ampun. “Kalian berdua resmi kami tahan atas dugaan tindak pidana penggelapan dana korporat, penipuan berskala besar, serta percobaan pembunuhan berencana!”

Borgol besi berdenting nyaring saat melingkari pergelangan tangan Budi dan Ibu Marni. Mereka berdua diseret secara paksa menuju mobil patroli polisi diiringi kilatan kamera ponsel para tamu yang mengabadikan kehancuran total keluarga penipu itu.

Saat Budi diseret melintas tepat di hadapanku, ia berlutut menyeret kakinya di tanah, meratapi nasibnya sambil menangis meraung-raung.

“Laras… maafkan aku, Laras! Jangan biarkan aku membusuk di sel tahanan! Aku masih suamimu, Laras! Aku mencintaimu!” jeritnya pilu memohon belas kasihan.

Aku menyilangkan kedua tanganku di dada, menatapnya dari atas dengan pandangan dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun rasa ampuni.

“Budi, perjalanan 15 jam dari Surabaya ke Jakarta malam ini adalah perjalanan terakhirku sebagai istri penurutmu. Dan mulai detik ini, kamu bukan siapa-siapa lagi dalam hidupku selain seorang penjahat yang akan menghabiskan sisa umurmu di penjara.”

Mobil kepolisian melaju pergi menembus malam, membawa Budi dan Ibu Marni menuju sel tahanan isolasi. Pesta pernikahan rahasia yang tadinya dirancang untuk merendahkan dan menghancurkan hidupku berakhir menjadi panggung kehancuran total bagi mereka sendiri.

Bapak Hendra Salcedo melangkah mendekat dan memberikan sebuah map kulit berwarna hitam padaku dengan senyuman penuh kebanggaan.

“Nyonya Presiden, ini laporan analisa keuangan terbaru dan berkas penyelidikan internal rahasia yang Anda minta enam bulan lalu.”

Aku menerima map tersebut dan membukanya di bawah sorotan lampu mobil Escalade. Bibirku mengukir senyuman tipis—sebuah senyuman kemenangan yang telah kurancang dengan sangat sempurna sejak awal.

Budi meratapi nasibnya di balik jeruji besi tanpa pernah tahu bahwa Indah—wanita dari keluarga kaya yang diselingkuhinya—sebenarnya adalah seorang agen penyamaran profesional yang kusewa enam bulan lalu untuk memancing seluruh niat jahat dan membongkar bukti kejahatannya.

Lebih dari itu, hasil pemeriksaan medis terbaru dari rumah sakit spesialis di Singapura bulan lalu menyatakan seluruh zat racun dalam tubuhku telah bersih total, dan di dalam rahimku saat ini tengah tumbuh janin berusia 8 minggu—penerus tunggal takhta Boreal Group yang tak akan pernah diizinkan melihat wajah ayah kandungnya selamanya.

Permainan selesai, Budi.