IBU MERTUAKU MENGELUARKAN SELURUH ISI KOPERKU DI DEPAN SUAMIKU DAN BERTERIAK, “PEREMPUAN YANG SUDAH MENIKAH

BAGIAN 2

Pukul 00.17, semua berkas selesai terkirim.

Aku menatap tulisan “terkirim” di layar laptop cukup lama.

Aneh.

Tidak ada petir.

Tidak ada musik dramatis.

 

 

 

 

Tidak ada perasaan bahwa hidupku baru saja berubah.

Yang terdengar hanya suara kipas angin tua di kamar dan sesekali motor lewat di jalan depan rumah.

Lalu ponselku bergetar.

Temanku menelepon lagi.

Namanya Rika.

Kami pernah duduk sebangku selama tiga tahun di SMA, lalu kehilangan kontak setelah kehidupan membawa kami ke arah berbeda. Aku masuk dunia keuangan. Dia menjadi pengacara.

“Dina.”

Nada suaranya berbeda.

“Ya?”

“Rekaman itu kamu dapat dari mana?”

“Rumah.”

“Kamu sendiri yang merekam?”

“Iya.”

Dia diam.

Aku mulai gugup.

“Kenapa?”

Rika tidak langsung menjawab.

“Aku mau kamu melakukan satu hal dulu. Jangan beri tahu Bagas kalau kamu sedang bicara denganku. Simpan salinan semua dokumen di tempat lain. Jangan cuma di laptop.”

Aku duduk lebih tegak.

“Memangnya separah itu?”

Kembali hening.

Lalu Rika berkata,

“Besok kita bicara langsung.”

Telepon ditutup.

Aku tidak tidur sampai hampir subuh.

Bukan karena takut.

Lebih tepatnya karena satu kalimat dalam rekaman itu terus berputar di kepalaku.

Suara Bagas.

Santai sekali saat mengucapkannya.

“Selama Dina masih merasa punya tanggung jawab sebagai istri, dia bakal terus bayar.”

Kemudian suara Bu Yuni tertawa kecil.

“Makanya jangan buru-buru kasih dia kendali. Perempuan kalau sudah merasa bersalah gampang diatur.”

Aku memejamkan mata.

Tujuh bulan lalu, ketika tanpa sengaja mendengar percakapan itu, aku tidak sanggup menerima maknanya.

Aku malah meyakinkan diriku sendiri bahwa mereka hanya sedang kesal.

Aku mencari alasan untuk orang yang sedang membicarakan bagaimana memanfaatkan diriku.

Lucu, ya?

Ternyata manusia bisa sangat pandai berbohong kepada dirinya sendiri.

Pagi berikutnya, Bagas menelepon enam kali.

Aku membiarkannya.

Panggilan ketujuh datang ketika aku sedang membantu Ibu memotong cabai di dapur.

Aku mengangkatnya.

“Ya?”

“Kenapa uangnya belum ditransfer?”

Bukan “bagaimana keadaanmu”.

Bukan “pipimu masih sakit?”

Bahkan bukan “maaf”.

Uang.

Itu yang pertama kali ditanyakannya.

“Aku tidak akan transfer.”

Di seberang sana sunyi.

“Apa?”

“Aku bilang aku tidak akan transfer uang untuk arisan Ibu.”

Nada Bagas langsung meninggi.

“Dina, jangan mulai.”

Aku menaruh pisau.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak membuatku takut.

“Mulai apa?”

“Kamu tahu sendiri Ibu gampang kepikiran. Gara-gara masalah kemarin kamu sekarang mau mempermalukan dia?”

Aku hampir tertawa.

“Bagas.”

“Apa?”

“Kamu menamparku dua kali.”

“Ya ampun. Itu lagi?”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan.

“Aku sudah bilang jangan membesar-besarkan. Aku sedang emosi. Kamu juga salah karena melawan Ibu.”

Tanganku mengepal.

Tapi sebelum aku sempat menjawab, seseorang mengambil ponsel dari tanganku.

Ayah.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

“Bagas.”

Suara di seberang langsung berubah.

“Oh, Ayah. Dina ada, Yah?”

“Mulai sekarang panggil saya Pak.”

Aku menatap Ayah.

Bagas tampaknya juga terkejut.

“Lho, kenapa begitu?”

“Karena orang yang mengangkat tangan kepada anak saya tidak perlu memanggil saya Ayah.”

Lalu telepon ditutup.

Ibu masih memegang cabai di tangannya.

Aku memandang mereka berdua dan tiba-tiba ingin menangis lagi.

Bukan karena Bagas.

Justru karena aku baru menyadari betapa lama aku hidup tanpa ada orang yang berdiri di sisiku seperti itu.

Siang harinya, Rika datang dari Jakarta.

Dia tidak datang dengan mobil mewah seperti pengacara dalam sinetron.

Dia datang naik kereta, rambutnya agak berantakan, membawa ransel besar dan dua gelas kopi.

Begitu melihatku, kalimat pertamanya malah,

“Ya ampun, kamu masih suka kopi tanpa gula?”

Aku tertawa.

Entah kenapa, pertanyaan bodoh itu membuat suasana terasa normal.

Kami duduk di ruang tamu.

Laptop dibuka.

Dokumen diperiksa satu demi satu.

Rika berhenti beberapa kali.

“Cicilan mobil ini atas nama siapa?”

“Bagas.”

“Yang bayar?”

“Aku.”

“Renovasi rumah?”

“Aku.”

“Rumah atas nama?”

“Ibunya.”

Dia menulis sesuatu.

“Kulkas?”

“Aku.”

“Mesin cuci?”

“Aku.”

“Biaya rumah sakit Bu Yuni?”

“Aku juga.”

Rika menatapku.

“Din.”

“Hm?”

“Kamu ini istri atau sponsor?”

Aku tidak bisa menahan tawa.

Ibu yang sejak tadi mendengarkan dari ruang makan juga ikut tertawa kecil.

Itulah pertama kalinya sejak aku pulang kami bisa tertawa membicarakan masalah itu.

Lalu Rika memutar rekamannya.

Ruangan kembali sunyi.

Suara Bu Yuni terdengar.

“Tabungan Dina masih banyak?”

Bagas menjawab,

“Lumayan.”

“Mobil jangan dilunasi dulu pakai uangmu. Biar dia saja. Nanti kalau sudah lunas, ya tetap atas namamu.”

Aku menunduk.

Rekaman berlanjut.

Ada bagian lain yang bahkan sudah kulupakan.

Bu Yuni berkata,

“Kalau dia mulai banyak tanya, bilang saja istri memang wajib membantu suami.”

Bagas tertawa.

“Aman, Bu. Dina enggak bakal pergi.”

Klik.

Rika menghentikan rekaman.

Tidak seorang pun berbicara.

Ayah bangkit dari kursinya dan berjalan keluar rumah.

Aku tahu dia sedang menenangkan diri.

Rika menutup laptop.

“Kamu mau apa sekarang?”

Aku bingung.

“Maksudmu?”

“Aku tidak bertanya apa yang seharusnya kamu lakukan. Aku bertanya apa yang kamu mau.”

Pertanyaan itu ternyata sulit.

Selama bertahun-tahun, keputusan hidupku selalu dimulai dengan:

Bagas maunya apa?

Bu Yuni nanti marah tidak?

Orang-orang akan bilang apa?

Baru hari itu seseorang bertanya kepadaku…

Aku sendiri mau apa?

“Aku tidak mau pulang.”

Rika mengangguk.

“Baik.”

“Aku juga tidak mau uangku terus dipakai.”

“Baik.”

Aku menarik napas.

“Dan aku mau mengakhiri pernikahan ini.”

Rika tidak tersenyum puas.

Tidak berkata bahwa aku akhirnya sadar.

Dia hanya membuka buku catatannya.

“Kalau begitu kita mulai dari situ.”

Hari kedua berlalu dengan urusan yang sangat tidak dramatis.

Mengganti beberapa kata sandi.

Memindahkan dokumen.

Mengamankan akun pribadi.

Membuat daftar barang yang kubeli.

Menyusun kronologi.

Aku bahkan sempat membantu Ibu menjemur pakaian.

Menjelang malam, Bagas mengirim dua puluh tiga pesan.

Awalnya marah.

Lalu menyalahkan.

Kemudian sedikit melunak.

Pesan terakhir berbunyi:

“Aku kangen. Pulanglah. Kita omongin baik-baik.”

Aku hampir membalas.

Hampir.

Lalu aku membaca pesan sebelumnya.

“Kamu jangan lupa rumah itu selama ini juga memberimu tempat tinggal.”

Aku meletakkan ponsel.

Tidak jadi.

Hari ketiga, Bu Yuni ikut menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Dia mengirim pesan suara.

“Dina, rumah tangga itu pasti ada masalah. Jangan sedikit-sedikit lari ke orang tua. Nanti tetangga bicara apa?”

Aku mendengarkannya bersama Ibu.

Ibu mengupas mangga sambil berkata,

“Kalau tetangga mereka terlalu sibuk, suruh bantu nyapu halaman saja.”

Aku tertawa sampai hampir tersedak.

Ternyata ibuku bisa sejahat itu kalau sedang kesal.

Hari keempat datang.

Pagi-pagi sekali aku sedang menyiram tanaman di depan rumah ketika suara mobil berhenti di ujung gang.

Aku mengenali mobil itu.

Bagas.

Jantungku langsung berdegup cepat.

Tubuh ternyata memiliki ingatan sendiri.

Meskipun pikiranmu sudah berkata tidak takut, tubuh masih ingat suara bentakan, pintu dibanting, tatapan yang membuatmu merasa kecil.

Aku masuk rumah.

“Ayah.”

Ayah melihat wajahku dan langsung mengerti.

Bagas muncul beberapa menit kemudian.

Dia membawa bunga.

Aku hampir tidak percaya.

Selama tiga tahun menikah, dia hanya memberiku bunga dua kali.

Saat ulang tahunku yang pertama setelah menikah.

Dan sekarang, ketika aku pergi.

Bagas berdiri di teras.

“Aku mau bicara sama Dina.”

Ayah tidak bergerak.

“Bicara di sini.”

“Ini masalah suami istri, Pak.”

“Waktu kamu menampar anak saya di depan ibumu, itu juga masalah suami istri?”

Bagas terdiam.

Aku keluar.

Begitu melihatku, wajahnya berubah.

“Dina.”

Aku berdiri di belakang Ayah.

Bagas mengangkat bunga.

“Aku datang baik-baik.”

Aku menatap bunga itu.

Mawar merah.

Aku tidak pernah suka mawar merah.

Aku suka bunga matahari.

Bagas tahu itu.

Setidaknya, dulu aku pernah memberitahunya.

“Pulang, Din.”

“Aku tidak akan pulang.”

Dia tersenyum kaku.

“Jangan bercanda.”

“Aku serius.”

Senyumnya hilang.

“Kamu mau menghancurkan pernikahan tiga tahun cuma karena dua tamparan?”

Ada sesuatu dalam diriku yang akhirnya benar-benar putus.

Bukan hati.

Bukan cinta.

Harapan.

Harapan bahwa Bagas suatu hari akan memahami apa yang telah dia lakukan.

“Bukan karena dua tamparan.”

“Terus?”

“Karena tiga tahun.”

Dia mengerutkan kening.

Aku melanjutkan.

“Dua tamparan itu cuma membuatku berhenti berbohong kepada diriku sendiri.”

Bagas mulai gelisah.

“Aku sudah bilang aku khilaf.”

“Aku sudah bicara dengan pengacara.”

Wajahnya langsung berubah.

Benar-benar berubah.

“Apa?”

“Aku sudah menyerahkan dokumen ke pengacara.”

“Dokumen apa?”

Aku tidak menjawab.

Dia melangkah maju.

Ayah langsung berdiri di antara kami.

“Jangan mendekat.”

Bagas berhenti.

“Dina, kamu mau bawa masalah keluarga ke hukum?”

“Aku hanya melindungi diriku.”

“Siapa pengacaramu?”

Aku diam.

“Dina!”

Lalu dari belakangku terdengar suara lain.

“Tidak perlu membentak.”

Rika keluar membawa map.

Aku bahkan tidak tahu dia sudah tiba.

Bagas mengenalnya.

Mereka pernah bertemu sekali saat resepsi pernikahan kami.

“Rika?”

“Pagi, Gas.”

“Apa urusanmu?”

“Sekarang? Lumayan banyak.”

Bagas menatap map di tangannya.

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di wajah suamiku.

Rika tidak mengancam.

Dia hanya berkata bahwa seluruh komunikasi selanjutnya mengenai proses hukum sebaiknya dilakukan secara tertib.

Bagas mencoba mengajakku bicara berdua.

Aku menolak.

Dia membujuk.

Lalu marah.

Lalu membujuk lagi.

Akhirnya keluarlah kalimat yang paling jujur hari itu.

“Kalau kamu enggak pulang, cicilan mobil bulan depan siapa yang bayar?”

Semua orang diam.

Bahkan Bagas sendiri tampaknya baru sadar apa yang dia katakan.

Aku menatapnya.

Kemudian, entah dari mana datangnya, aku tertawa.

Bukan tertawa mengejek.

Aku benar-benar tertawa.

Tiga tahun.

Aku menghabiskan tiga tahun takut kehilangan laki-laki yang, ketika aku pergi, kekhawatiran terbesarnya adalah cicilan mobil.

“Bayar sendiri, Gas.”

Wajahnya memerah.

“Aku suamimu.”

“Untuk sementara masih.”

Dia membanting bunga ke kursi teras.

Lalu pergi.

Aku melihat mobil itu menghilang di ujung jalan.

Kakiku gemetar.

Aku duduk.

Ibu memegang pundakku.

Rika menyerahkan segelas air.

Aku minum sampai habis.

Selesai?

Belum.

Justru bagian paling melelahkan dimulai setelah itu.

Tidak ada kemenangan instan.

Tidak ada satu surat sakti yang langsung membereskan semuanya.

Ada proses.

Ada percakapan panjang.

Ada malam ketika aku meragukan keputusanku sendiri.

Ada saudara Bagas yang menelepon dan berkata aku keterlaluan.

Ada kerabat yang menyuruhku “ingat umur”.

Ada orang yang berkata,

“Namanya juga suami sedang emosi.”

Ada pula yang bertanya,

“Memangnya kamu yakin bisa hidup sendiri?”

Pertanyaan terakhir itu sempat menghantuiku.

Bisakah?

Suatu malam aku mengatakannya kepada Ibu.

Kami sedang melipat pakaian.

“Bu, kalau aku ternyata enggak bisa?”

Ibu berhenti melipat handuk.

“Tidak bisa apa?”

“Hidup sendiri.”

Ibu menatapku seperti aku baru mengatakan sesuatu yang aneh.

“Kamu selama ini membayar rumah mereka, mobil mereka, makan mereka, tagihan mereka. Memangnya bagian mana yang menunjukkan kamu tidak bisa hidup sendiri?”

Aku terdiam.

Oh.

Benar juga.

Enam bulan kemudian, proses perpisahan kami selesai.

Beberapa urusan keuangan yang dapat dibuktikan diselesaikan melalui jalur yang disarankan Rika. Tidak semua uangku kembali.

Dan ternyata aku baik-baik saja dengan itu.

Dulu kupikir kemenangan berarti mendapatkan setiap rupiah kembali.

Tidak.

Ada uang yang memang hilang.

Ada waktu yang tidak bisa dikembalikan.

Tiga tahun tetap tiga tahun.

Aku berhenti menghitungnya sebagai utang kehidupan.

Bagas menjual mobil karena tidak sanggup meneruskan cicilannya.

Aku tahu kabar itu dari seorang kenalan.

Bu Yuni sempat beberapa kali mencoba menghubungiku.

Aku tidak membalas.

Bukan karena dendam.

Aku hanya tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan.

Sementara itu aku kembali ke Jakarta.

Tapi tidak ke rumah lama.

Aku menyewa apartemen studio kecil dekat kantor.

Kecil sekali.

Dapur dan ruang tengah nyaris seperti satu ruangan.

Balkonnya hanya cukup untuk dua kursi.

Pada malam pertama, aku duduk di lantai karena sofa belum datang.

Di depanku ada mi rebus, telur, dan segelas es teh.

Tidak mewah.

Tidak ada meja makan besar.

Tidak ada mesin cuci mahal.

Tidak ada kulkas dua pintu yang pernah kubeli untuk rumah orang lain.

Hanya aku.

Aku menyendok mi.

Lalu tiba-tiba menangis.

Lima menit.

Mungkin sepuluh.

Setelah itu aku tertawa sendiri.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang bertanya kenapa aku membeli telur dengan uangku sendiri.

Setahun berlalu.

Karierku justru membaik.

Perusahaan memindahkanku ke bagian audit internal.

Gajiku naik.

Aku mulai menabung lagi.

Bukan untuk cicilan mobil Bagas.

Bukan untuk renovasi rumah Bu Yuni.

Untuk diriku sendiri.

Aku membeli mesin kopi kecil.

Mengajak Ayah dan Ibu umrah dari sebagian tabunganku.

Dan saat ulang tahun Ibu, aku membelikannya gelang.

Tidak sama dengan gelang peninggalan Nenek yang dulu dijual.

Aku tahu tidak mungkin menggantikannya.

Ketika kuberikan kotaknya, Ibu langsung menggeleng.

“Ngapain beli mahal-mahal?”

“Biar Ibu punya gelang lagi.”

Ibu membuka kotaknya.

Dia menangis.

Aku ikut menangis.

Ayah yang duduk di sebelah kami mengomel karena katanya dua perempuan di rumah itu terlalu gampang menangis.

Padahal matanya sendiri merah.

Dua tahun setelah hari koper itu ditumpahkan, aku kembali ke Tasikmalaya untuk akhir pekan.

Koper yang kubawa masih sama.

Warna krem.

Ada goresan kecil di salah satu sisinya.

Ibu melihatnya dan berkata,

“Belum ganti juga?”

“Masih bagus.”

Aku meletakkan koper di kamar.

Kemudian ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.

Aku mengenali foto profilnya.

Bagas.

Pesannya pendek.

“Din, aku mau minta maaf. Bukan supaya kamu kembali. Aku cuma baru sekarang mengerti.”

Aku membaca sampai selesai.

Ada beberapa paragraf lagi.

Tentang kesalahannya.

Tentang bagaimana hidupnya berubah.

Tentang ibunya.

Tentang penyesalan.

Aku tidak tahu apakah semua itu benar.

Dan ternyata…

Aku juga tidak perlu tahu.

Aku mengetik satu kalimat.

“Semoga hidupmu ke depan menjadi lebih baik.”

Kukirim.

Lalu nomor itu kubisukan.

Tidak ada pidato.

Tidak ada balas dendam.

Tidak ada kebutuhan untuk menunjukkan bahwa hidupku sekarang jauh lebih baik.

Aku meletakkan ponsel.

Dari dapur terdengar Ibu memanggil.

“Dina! Bantu Ibu angkat gorengan!”

Aku keluar kamar.

“Sebentar!”

Ketika melewati koper, langkahku berhenti.

Aku teringat pagi itu.

Pakaian berserakan.

Kue lapis jatuh.

Pipiku panas.

Dan seorang perempuan berusia tiga puluhan yang berjongkok memunguti barang-barangnya sambil mengira hidupnya baru saja hancur.

Aku ingin kembali ke pagi itu.

Bukan untuk menghentikan tamparan Bagas.

Bukan untuk berdebat dengan Bu Yuni.

Aku hanya ingin berbisik kepada perempuan yang sedang memunguti pakaiannya itu:

Masukkan semuanya ke koper.

Jangan tinggalkan apa pun.

Lalu berjalanlah keluar.

Karena kali ini kamu tidak sedang meninggalkan rumahmu.

Kamu sedang pulang.

Aku menutup pintu kamar.

Di meja ruang makan, Ayah sudah mengambil gorengan pertama meski Ibu berkali-kali bilang tunggu aku.

“Yah! Itu punya aku!”

Ayah tertawa.

“Katanya perempuan yang sudah menikah enggak punya barang sendiri?”

Aku terpaku.

Ayah ternyata masih ingat kalimat itu.

Ibu langsung memukul pelan lengannya.

“Jangan bercanda begitu.”

Tapi aku malah tertawa.

Aku mengambil gorengan terakhir dari piring dan menggigitnya sebelum Ayah sempat merebutnya.

“Yang ini milikku.”

“Pelit.”

“Biarin.”

Kami tertawa.

Dan di tengah suara piring, aroma teh hangat, kipas angin yang berderit kecil, serta Ibu yang terus mengomel karena Ayah mengambil sambal terlalu banyak, aku akhirnya memahami sesuatu yang dulu terasa rumit sekali.

Rumah bukan tempat seseorang memeriksa kopermu.

Bukan tempat seseorang menghitung berapa banyak uang yang bisa diambil darimu.

Bukan pula tempat yang membuatmu harus mengecilkan diri agar diterima.

Rumah bisa sesederhana sebuah meja tua.

Tiga orang berebut gorengan.

Dan sebuah koper di kamar yang kini boleh kubuka, kututup, kubawa pergi, atau kubiarkan di sana…

tanpa seorang pun merasa berhak membongkarnya.

Malam itu, sebelum tidur, aku membuka koper tersebut.

Aku mengeluarkan pakaian satu per satu.

Di bagian paling bawah masih ada selendang yang dulu kubawa untuk Ibu pada hari aku meninggalkan Bagas.

Aku rupanya tidak pernah jadi memberikannya.

Aku membawa selendang itu ke kamar Ibu.

“Bu.”

“Hm?”

“Ini sebenarnya oleh-oleh yang kubawa dua tahun lalu.”

Ibu membentangkannya.

“Bagus.”

“Masih mau?”

Dia langsung memakainya di bahu.

“Kalau dari anakku, dua puluh tahun lagi juga Ibu mau.”

Aku tersenyum.

Kemudian memeluknya.

Besok pagi aku akan kembali ke Jakarta.

Senin ada rapat.

Selasa aku harus memeriksa laporan cabang.

Hidupku tidak berubah menjadi dongeng.

Masih ada pekerjaan yang menyebalkan.

Tagihan.

Macet.

Kesepian sesekali.

Ada malam ketika aku pulang terlalu lelah untuk memasak.

Ada hari ketika aku melihat pasangan lain berjalan bersama dan bertanya-tanya apakah suatu saat aku akan mencintai seseorang lagi.

Mungkin.

Mungkin juga belum.

Aku tidak terburu-buru.

Karena setelah bertahun-tahun mengira akhir bahagia berarti mempertahankan pernikahan apa pun yang terjadi, akhirnya aku menemukan bentuk akhir bahagia yang jauh lebih sederhana.

Punya rekening yang hanya bisa kuakses sendiri.

Punya pintu yang bisa kukunci.

Bisa mengunjungi orang tuaku kapan pun aku mau.

Bisa membeli hadiah tanpa meminta izin.

Bisa berkata tidak.

Bisa berkata iya.

Dan setiap pagi, ketika melihat wajahku di cermin, aku mengenali perempuan di sana.

Dina.

Bukan istri Bagas.

Bukan menantu Bu Yuni.

Bukan mesin pembayaran keluarga seseorang.

Hanya Dina.

Dan ternyata…

itu sudah lebih dari cukup.

SELESAI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *