IBU MERTUAKU MEMBERIKU PIRING KOSONG DI MEJA MAKAN, MALAM ITU AKU MENGHENTIKAN SEMUA CICILAN RUMAHNYA, TAPI HALAMAN KEDUA MEMBUKA 17 TRANSAKSI YANG TAK PERNAH KUIZINKAN

 

 

BAGIAN 1

—Untuk kamu tidak usah disiapkan dulu. Kalau nanti masih ada sisa, baru kita lihat —kata Ibu Ratna sambil meletakkan piring putih kosong di depanku.

Aku menatap piring itu beberapa detik.

Di meja makan ada kepiting soka, udang bakar, gurame asam manis, daging lada hitam, sup, buah, dan beberapa kotak makanan mahal yang baru dibuka.

Semua orang mendapat bagian.

Kecuali aku.

Ibu Ratna duduk kembali sambil tersenyum kepada Livia, istri kakak Dimas.

—Ambil udangnya lagi, Liv. Hari ini kan kita merayakan promosi kamu.

Livia terlihat tidak nyaman.

—Sudah cukup, Bu.

—Ambil saja. Kamu sudah bekerja keras.

Aku menoleh kepada Dimas.

Suamiku masih memotong daging di piringnya.

Aku menunggu dia mengatakan sesuatu.

Beberapa detik berlalu.

—Mas? —panggilku.

Dimas menghela napas.

—Bu, ya jangan begitu juga.

Ibu Ratna langsung melihatnya.

—Begitu bagaimana?

Dimas tidak menjawab.

Aku bertanya pelan.

—Aku memang tidak boleh makan?

Ibu Ratna menyandarkan punggung.

—Ratih, jangan dibesar-besarkan. Kamu tadi bilang baru pulang rapat. Saya pikir kamu sudah makan.

—Aku tidak pernah bilang begitu.

—Ya sudah. Nanti kalau kurang, pesan sendiri.

Arman, kakak Dimas, tertawa kecil.

—Ratih kan paling mampu pesan makanan sendiri.

Aku paham maksudnya.

Tiga tahun terakhir, setiap bulan Rp18,5 juta keluar dari rekeningku untuk cicilan rumah ini.

Sekitar Rp4,2 juta lagi untuk listrik, air, keamanan, dan kebutuhan rumah.

Beberapa kali aku juga membayar angsuran mobil Dimas.

Ketika usaha Arman bermasalah, aku membantu menutup dua tagihannya.

Ketika Ibu Ratna menjalani perawatan tulang belakang, aku mengirim uang muka Rp76 juta pada hari yang sama.

Aku tidak pernah mengungkitnya.

Setiap kali Dimas meminta bantuan, kalimatnya selalu sama.

—Kita keluarga, Ratih.

Malam itu aku baru menyadari sesuatu.

Aku memang dianggap keluarga saat ada tagihan.

Aku belum tentu dianggap keluarga saat ada makanan.

Aku menatap Dimas sekali lagi.

—Kamu tidak mau bilang apa-apa?

Dia akhirnya meletakkan garpunya.

—Ratih, jangan bikin suasana rusak cuma karena makan malam.

Aku mengangguk.

—Benar. Ini cuma makan malam.

Ibu Ratna tertawa pendek.

—Nah. Akhirnya paham juga.

Aku mengambil tas.

Dimas memegang lenganku sebentar.

—Mau ke mana?

—Pulang.

—Kita pulang bareng nanti.

—Aku pulang ke apartemenku.

Wajahnya berubah.

Apartemen di Kuningan itu kubeli dua tahun sebelum kami menikah. Selama ini disewakan karena aku tinggal bersama Dimas.

Tiga minggu sebelumnya penyewanya pindah.

Kuncinya masih ada di tasku.

Ibu Ratna menyilangkan tangan.

—Kamu benar-benar pergi hanya karena tidak dapat makan?

Aku berhenti di dekat pintu.

—Bukan karena makanan, Bu.

—Lalu?

—Karena sekarang saya tahu kapan saya dibutuhkan dan kapan saya dianggap tidak penting.

Arman mendecakkan lidah.

—Mulai lagi.

Aku tidak menjawab.

Di parkiran, Dimas menelepon dua kali.

Aku tidak mengangkatnya.

Sesampainya di apartemen, aku langsung membuka laptop.

Aku tidak menangis.

Aku hanya membuka catatan pengeluaran yang selama ini kuanggap sebagai bantuan keluarga.

Cicilan rumah Ibu Ratna.

Tagihan rumah.

Asuransi mobil Dimas.

Transfer rutin Rp9 juta setiap bulan ke rekening yang disebut Dimas sebagai kas keluarga.

Satu per satu kuhentikan pembayaran otomatis yang memang berada di bawah namaku.

Kemudian aku mengirim pesan kepada Rina, kepala keuangan di kantor.

“Mulai besok, tolong cabut akses kartu perusahaan tambahan milik Dimas. Semua pengeluaran yang berkaitan dengannya harus mendapat persetujuan saya.”

Rina membalas beberapa menit kemudian.

“Baik. Ada masalah?”

Aku mengetik sebentar.

“Urusan pribadi. Besok saya jelaskan.”

Pukul 08.12 pagi, Ibu Ratna menelepon.

Aku baru selesai mandi.

Begitu kuangkat, suaranya langsung tinggi.

—Ratih! Bank bilang autodebet cicilan tidak aktif. Kamu apakan rekeningnya?

—Saya hentikan pembayaran dari rekening saya.

—Aktifkan lagi sekarang.

—Tidak.

Dia diam sebentar.

—Apa?

—Mulai bulan ini, cicilan rumah Ibu bukan tanggung jawab saya.

—Kamu jangan main-main soal rumah!

Aku duduk di tepi sofa.

—Kemarin Ibu bilang uang itu ada batasnya. Saya setuju.

—Jangan kurang ajar.

—Saya sedang bekerja. Kalau ada urusan soal pembayaran, bicara dengan Dimas.

Aku menutup telepon.

Sore harinya Dimas datang ke apartemen.

Dia mengetuk pintu berkali-kali.

Ketika kubuka, wajahnya tegang.

—Kamu benar-benar menghentikan semuanya?

—Iya.

—Mama panik dari pagi.

—Itu rumah Mama.

—Tapi selama ini kamu yang bayar.

—Selama ini.

Dia masuk dua langkah lalu berhenti.

Karena di meja ruang tamu sudah ada seseorang.

Sinta, pengacaraku.

Di depannya ada map tebal.

Dimas menatapku.

—Ini apa?

Aku menunjuk kursi.

—Duduk.

Sinta mendorong map itu ke arahnya.

Halaman pertama adalah rancangan gugatan perceraian.

Dimas langsung menatapku.

—Ratih, kamu serius?

—Baca dulu.

Dia membalik halaman.

Lalu tangannya berhenti.

Wajahnya berubah.

Di halaman kedua ada daftar transaksi.

Bukan lima.

Bukan sepuluh.

Ada 17 transfer dari rekening pribadiku dalam empat belas bulan terakhir.

Totalnya Rp486 juta.

Aku tidak pernah membuat transfer itu.

Aku tidak pernah menyetujuinya.

Dan sebagian besar uang tersebut masuk ke satu perusahaan yang namanya bahkan baru pertama kali kulihat.

PT Karya Nusa Sentosa.

Aku menatap Dimas.

—Sekarang jelaskan kenapa uang saya masuk ke perusahaan keluarga kamu tanpa izin saya.

Dimas tidak langsung menjawab.

Dia hanya membaca nama perusahaan itu berkali-kali.

Lalu dia bertanya pelan.

—Kamu dapat daftar ini dari mana?

Aku langsung tahu.

Dia tidak terkejut karena transaksi itu ada.

Dia terkejut karena aku menemukannya.

Dan sejak saat itu, semuanya mulai terbuka.

BAGIAN 2

—Jawab pertanyaanku, Mas.

Dimas menutup map itu.

—Aku bisa jelaskan.

—Silakan.

Dia melirik Sinta.

—Harus di depan pengacara?

—Iya.

—Ratih, ini masalah rumah tangga.

Aku menatapnya.

—Rp486 juta keluar dari rekeningku tanpa izin. Ini bukan lagi sekadar masalah rumah tangga.

Dimas mengusap wajah.

—Uangnya tidak hilang.

—Lalu ke mana?

—Dipakai keluarga.

—Untuk apa?

Dia diam.

Sinta membuka kembali map itu.

—Dari tujuh belas transaksi, sebelas masuk ke PT Karya Nusa Sentosa. Empat masuk ke rekening Arman. Dua lainnya masuk ke rekening atas nama Dimas Pratama.

Aku melihat Dimas.

—Rekening kamu sendiri.

—Aku bilang, uangnya dipakai buat keluarga.

—Aku tidak bertanya siapa yang menikmati uangnya. Aku bertanya kenapa kamu mengambilnya tanpa izin.

—Aku tidak mengambil.

Sinta langsung menyela.

—Kami sudah meminta bank melakukan pemeriksaan awal. Permintaan transfer berkala dibuat melalui formulir digital.

Dimas menatap Sinta.

—Terus?

—Formulir itu memakai tanda tangan elektronik Ratih.

Aku berkata pelan.

—Tanda tangan yang tidak pernah kubuat.

Dimas langsung berdiri.

—Aku tidak mau bicara seperti orang sedang diinterogasi.

—Duduk, Mas.

Dia menatapku cukup lama.

Lalu kembali duduk.

Aku pernah tinggal bersamanya sembilan tahun.

Aku tahu kebiasaannya.

Kalau dia merasa benar, dia akan bicara cepat.

Kalau dia takut ketahuan, dia akan menghindari inti pertanyaan.

Malam itu dia melakukan yang kedua.

—Kamu ingat waktu Mama kesulitan bayar rumah? —katanya.

—Ingat.

—Kamu bilang bantu saja sebisanya.

—Aku menyetujui cicilan Rp18,5 juta setiap bulan.

—Ya.

—Bukan sebelas transfer tambahan ke perusahaan Arman.

Dia mengetuk meja dengan jarinya.

—Usaha Arman sedang sulit.

—Itu juga bukan izinku untuk mengambil uang.

—Jangan pakai kata mengambil.

—Lalu kata apa?

Dia tidak menjawab.

Sinta mengeluarkan beberapa lembar lagi.

—Kami juga menemukan bahwa formulir instruksi menggunakan salinan tanda tangan Ratih yang sama persis dengan dokumen pembelian kendaraan tahun 2023.

Aku langsung melihat Dimas.

Aku ingat dokumen itu.

Dua tahun lalu Dimas meminta salinan tanda tanganku untuk mengurus administrasi mobil.

Saat itu aku tidak curiga.

—Kamu simpan file tanda tanganku? —tanyaku.

—Semua pasangan punya dokumen satu sama lain.

—Kamu pakai untuk formulir bank?

—Aku belum bilang begitu.

Sinta menutup bolpoinnya.

—Kalau bukan Anda, bank akan mencari tahu siapa yang mengunggah dokumen itu.

Dimas berdiri lagi.

—Aku pulang dulu.

Aku tidak menghentikannya.

Sebelum keluar, dia menoleh kepadaku.

—Kamu benar-benar mau menghancurkan sembilan tahun pernikahan karena uang?

Aku menjawab tanpa menaikkan suara.

—Bukan karena uang. Karena kamu merasa berhak mengambil keputusan atas uangku tanpa bicara denganku.

Dia pergi.

Pintu tertutup.

Aku duduk cukup lama tanpa bicara.

Sinta menatapku.

—Kamu masih mau lanjut?

—Iya.

—Jangan jawab karena sedang emosi.

—Aku sudah memikirkan hal ini sejak tadi malam.

Sinta mengangguk.

—Besok kita fokus pada dua hal. Pisahkan keuangan dan minta bank menghentikan semua instruksi pembayaran yang masih aktif.

Aku menarik napas.

—Lakukan semuanya.

Pagi berikutnya aku bekerja seperti biasa.

Aku datang ke kantor di Cikarang pukul delapan kurang sedikit.

Rina sudah menunggu di ruanganku.

—Aku cek permintaanmu semalam —katanya.

—Ada apa?

Dia meletakkan tablet di depanku.

—Ada tiga kartu tambahan yang terhubung ke fasilitas perusahaan. Satu atas nama Dimas. Dua kartu vendor untuk kebutuhan perjalanan.

—Cabut semuanya.

—Sudah.

Aku menatapnya.

Rina belum selesai.

—Tapi aku menemukan sesuatu.

Aku langsung merasa tidak nyaman.

—Apa?

—Empat belas bulan terakhir ada beberapa reimbursement yang diajukan Dimas lewat akunmu.

Aku menatapnya.

—Dia tidak punya akun.

—Dia pernah diberi akses terbatas waktu kamu rawat inap dua tahun lalu. Akses itu ternyata tidak pernah dinonaktifkan.

Aku mengingatnya.

Aku pernah menjalani operasi kecil dan mengambil cuti hampir dua minggu. Dimas membantu mengurus beberapa tagihan hotel tim dan biaya perjalanan kantor.

Setelah itu aku lupa akses tersebut masih aktif.

—Berapa?

—Belum besar. Sekitar Rp63 juta totalnya.

Aku menutup mata beberapa detik.

—Untuk apa?

—Restoran, hotel, perjalanan Bandung, satu perjalanan Bali, dan dua pembayaran ke perusahaan event.

—Perusahaan apa?

Rina memperbesar layar.

PT Karya Nusa Sentosa.

Nama yang sama.

Aku tidak merasa marah saat itu.

Justru aku mulai takut pada satu hal.

Berapa banyak hal yang belum kutemukan?

—Rina, tarik semua data dua tahun terakhir.

—Ratih…

—Semua.

Dia mengangguk.

—Aku akan bantu.

Siang hari, Livia menelepon.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

Dia adalah menantu kesayangan Ibu Ratna. Selama bertahun-tahun aku mengira Livia menikmati perlakuan khusus itu.

—Ratih, bisa ketemu?

—Ada apa?

—Jangan lewat telepon.

Kami bertemu di sebuah kafe dekat Senayan setelah jam kerja.

Livia datang sendirian.

Dia duduk di depanku dan langsung meletakkan ponselnya di atas meja.

—Aku tidak tahu kamu sudah tahu sejauh apa.

—Tahu apa?

Dia membuka beberapa tangkapan layar.

Grup keluarga.

Aku tidak berada di dalam grup itu.

Ada Ibu Ratna, Dimas, Arman, dan Livia.

Pesan pertama berasal dari Ibu Ratna.

“Jangan bilang Ratih soal tambahan dana Arman. Nanti dia banyak tanya.”

Pesan berikutnya dari Dimas.

“Aku urus. Selama nominalnya tidak terlalu kelihatan dia tidak akan cek.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Livia menggeser layar.

Ada pesan lain.

Dimas menulis:

“Yang penting cicilan Mama aman. Ratih masih sanggup.”

Lalu Ibu Ratna membalas:

“Kalau dia mulai keberatan, ingatkan semua yang sudah keluarga ini lakukan buat dia.”

Aku menatap Livia.

—Kenapa kamu kasih ini sekarang?

Dia mengembuskan napas.

—Karena semalam aku baru tahu mereka juga pakai namaku.

—Untuk apa?

—PT Karya Nusa Sentosa pernah membayar beberapa acara lewat kantor tempatku bekerja. Arman bilang itu supaya pembukuannya lebih rapi. Aku pikir transaksi bisnis biasa.

—Kamu tidak tahu sumber uangnya?

—Tidak.

Aku masih sulit percaya.

Livia menunduk.

—Dan soal makan malam kemarin, aku minta maaf.

—Kamu tidak meletakkan piring kosong itu.

—Tapi aku diam.

Aku tidak menjawab.

Dia membuka satu gambar lagi.

Itu foto dokumen.

“Permohonan Penambahan Fasilitas Kredit.”

Nama pemohon utama: Ratna Wibowo.

Nama pasangan penjamin tambahan: Dimas Pratama.

Di bagian bawah ada kolom lain.

“Pemberi dukungan finansial.”

Namaku tertulis di sana.

Aku langsung mengangkat kepala.

—Ini apa?

—Aku menemukannya di printer rumah Mama tadi pagi.

—Berapa pinjamannya?

Livia memperbesar dokumen.

Rp2,4 miliar.

Aku merasa perutku menegang.

—Aku tidak pernah tahu soal ini.

—Aku juga baru lihat.

—Kenapa namaku ada?

—Aku tidak tahu.

Aku langsung menelepon Sinta.

Kurang dari satu jam kemudian, kami bertiga berada di kantornya.

Sinta membaca dokumen itu tanpa banyak bicara.

—Ini belum tentu sudah diajukan.

Livia menjawab.

—Ada email dari bank yang tercetak bersama dokumen.

Sinta melihat halaman berikutnya.

—Jadwal verifikasi hari Senin.

Saat itu hari Kamis.

Aku menatap tanggalnya.

Pengajuan dilakukan lima hari sebelum makan malam.

Artinya ketika Ibu Ratna meletakkan piring kosong di depanku, mereka sedang mengurus fasilitas kredit baru yang kembali memakai kondisi keuanganku sebagai pendukung.

Aku bertanya kepada Sinta.

—Kalau ini sampai disetujui, apakah aku ikut bertanggung jawab?

—Belum tentu. Tergantung dokumen akhir yang kamu tandatangani.

—Kalau tanda tanganku dipasang seperti sebelumnya?

Sinta diam sebentar.

—Itu sebabnya kita harus menghubungi bank sekarang.

Keesokan paginya kami datang ke kantor cabang bank yang menangani rumah Ibu Ratna.

Aku membawa bukti pembayaran tiga tahun terakhir.

Seorang manajer bernama Pak Dedi menemui kami.

Setelah melihat surat dari Sinta, ekspresinya berubah serius.

—Ibu Ratih memang tercatat sebagai sumber pembayaran rutin.

—Apakah saya debitur?

—Bukan.

—Penjamin?

Dia membuka data.

—Untuk fasilitas lama, tidak.

Aku langsung menatap Sinta.

—Fasilitas lama?

Pak Dedi berhenti.

—Rumah ini pernah direstrukturisasi tiga tahun lalu.

Aku tidak memahami istilah itu.

—Maksudnya?

—Kredit rumah awal sebenarnya hampir selesai. Lalu pemilik mengajukan pembiayaan ulang dengan nilai lebih besar.

Aku menatapnya.

—Lebih besar berapa?

Dia memeriksa layar.

—Total fasilitas setelah pembiayaan ulang Rp2,2 miliar.

Aku kehilangan kata-kata beberapa detik.

Selama ini Dimas selalu bilang aku membantu menyelesaikan sisa cicilan rumah keluarganya.

Tidak pernah ada yang mengatakan rumah itu sudah hampir lunas sebelum utangnya diperbesar lagi.

—Dana tambahannya ke mana?

Pak Dedi berhati-hati menjawab.

—Saya tidak bisa membuka transaksi pihak lain tanpa prosedur.

Sinta memberikan surat.

—Kami hanya membutuhkan dokumen yang berkaitan dengan klien saya.

Pak Dedi memeriksa cukup lama.

Lalu dia menunjukkan satu formulir.

Di dalamnya terdapat pernyataan bahwa penghasilan keluarga akan didukung oleh kontribusi rutin dariku sebesar minimal Rp25 juta per bulan.

Di bawahnya ada tanda tangan.

Namaku.

Aku menatap tanda tangan itu.

Bentuknya identik dengan tanda tanganku.

Tapi aku tidak pernah duduk di bank ini.

Tidak pernah menerima penjelasan.

Tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.

—Ini bukan tanda tangan yang saya buat.

Pak Dedi langsung berhenti menggulir layar.

—Ibu yakin?

—Sangat yakin.

Sinta meminta salinan resmi.

Bank kemudian menghentikan sementara proses fasilitas kredit baru Rp2,4 miliar sampai verifikasi selesai.

Keluar dari bank, aku duduk di mobil tanpa menyalakan mesin.

Sinta berada di kursi sebelah.

—Ratih?

—Rumah itu hampir lunas.

—Iya.

—Mereka menambah utang, lalu aku yang membayar tiga tahun.

—Dari dokumen ini, begitu kelihatannya.

Aku menghitung cepat.

Rp18,5 juta per bulan selama tiga tahun sudah lebih dari Rp660 juta.

Belum tagihan rumah.

Belum transfer rutin.

Belum tujuh belas transaksi.

Aku langsung menelepon Dimas.

Kali ini dia mengangkat.

—Kamu di mana?

—Kantor.

—Aku baru dari bank rumah Mama.

Dia diam.

—Mas?

—Kamu ngapain ke sana?

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Bukan “ada apa?”

Bukan “kamu menemukan apa?”

Pertanyaan pertamanya justru kenapa aku datang ke bank.

—Rumah Mama hampir lunas sebelum direfinance.

Tidak ada jawaban.

—Kamu tahu?

—Ratih, kita bicara nanti di rumah.

—Rumah mana?

Dia diam lagi.

—Jawab. Kamu tahu?

—Aku tahu ada restrukturisasi.

—Rp2,2 miliar bukan restrukturisasi kecil.

—Waktu itu keluarga butuh uang.

—Untuk apa?

—Usaha Arman.

—Berapa yang dia ambil?

—Aku tidak ingat.

—Kamu ingat cukup banyak untuk memakai tanda tanganku.

Dimas langsung menurunkan suara.

—Jangan menuduh sembarangan.

—Ada dokumen bank.

—Aku cuma bantu urus.

—Dengan tanda tanganku?

—Kamu waktu itu bilang kalau urusan cicilan rumah, bantu saja.

Aku memejamkan mata.

—Mas, izin membayar cicilan bukan izin memakai namaku untuk utang baru.

Dia tidak menjawab.

Aku berkata satu kalimat terakhir.

—Mulai sekarang bicara lewat Sinta.

Lalu kututup telepon.

Malamnya Ibu Ratna datang ke apartemen bersama Arman.

Aku tidak mengizinkan mereka masuk sampai Sinta tiba.

Begitu pintu kubuka, Ibu Ratna langsung bicara.

—Kamu puas sekarang?

—Soal apa?

—Bank menunda pengajuan kami.

—Karena nama saya dicantumkan tanpa persetujuan saya.

Arman memotong.

—Itu cuma dokumen pendukung.

—Dengan tanda tangan saya.

—Semua ini bisa dibicarakan.

Aku menatapnya.

—Sekarang baru bisa dibicarakan?

Ibu Ratna duduk di sofa.

—Ratih, Mama tidak pernah menganggap kamu orang lain.

Aku hampir tidak percaya mendengar kalimat itu.

Dua hari sebelumnya dia bahkan tidak menyediakan makanan untukku.

—Kalau begitu kenapa ada grup keluarga tanpa saya?

Wajahnya langsung berubah.

Livia ternyata belum memberi tahu mereka bahwa dia sudah menunjukkan percakapan kepadaku.

—Grup apa?

Aku membuka tangkapan layar.

Ibu Ratna membaca dua pesan pertama lalu menatap Arman.

Arman terlihat kesal.

—Livia kasih kamu?

—Itu tidak penting.

—Dia tidak seharusnya ikut campur.

—Pesannya ditulis oleh kalian. Bukan oleh Livia.

Ibu Ratna mulai bicara lebih pelan.

—Kami cuma takut kamu menolak membantu.

Aku menatapnya.

—Karena itu kalian tidak bertanya.

—Kami akan mengembalikan.

—Kapan?

Tidak ada jawaban.

—Rp486 juta dari tujuh belas transaksi. Rp63 juta pengeluaran perusahaan. Lebih dari Rp660 juta cicilan rumah. Belum uang bulanan lainnya. Kapan dikembalikan?

Arman memalingkan wajah.

Ibu Ratna berkata:

—Kamu menghitung semuanya seperti orang asing.

—Karena kalian menggunakan uang saya seolah-olah saya tidak punya hak menghitungnya.

Saat itu Dimas datang.

Dia mungkin diberi tahu oleh ibunya.

Begitu masuk, dia langsung berkata kepada Sinta:

—Saya ingin bicara berdua dengan istri saya.

Sinta menatapku.

Aku mengangguk.

Kami pindah ke ruang makan.

Dimas duduk di depanku.

—Ratih, aku salah.

Itu pertama kalinya dia mengatakannya.

Aku diam.

—Aku seharusnya bilang.

—Tentang bagian mana?

Dia menunduk.

—Semuanya.

—Kenapa kamu lakukan?

—Mama panik waktu usaha Arman jatuh. Rumah hampir lunas. Arman bilang lebih baik refinance daripada jual aset.

—Lalu?

—Dana tambahannya dipakai untuk usaha.

—Berapa?

—Sekitar Rp1,3 miliar.

Angkanya lebih besar dari dugaanku.

—Dan kamu pikir aku harus mencicil utangnya?

—Waktu itu gajimu jauh lebih besar daripada aku.

Aku menatapnya lama.

—Jadi karena penghasilanku lebih besar, kalian merasa tidak perlu meminta izin?

—Bukan begitu.

—Memangnya bagaimana?

Dimas tidak punya jawaban.

Aku kemudian bertanya soal tujuh belas transaksi.

Kali ini dia mengaku.

Sebelas transfer memang dia atur.

Empat transfer diminta Arman langsung.

Dua transfer masuk ke rekening Dimas untuk menutup tagihan kartu dan kebutuhan rumah.

—Aku berniat mengganti —katanya.

—Dengan uang dari mana?

Dia diam.

Aku menyandarkan badan.

—Ada satu hal yang masih belum kamu jelaskan.

—Apa?

—Pinjaman baru Rp2,4 miliar.

Wajahnya kembali tegang.

—Belum jadi.

—Tapi diajukan.

—Mama mau merapikan semua utang.

—Dengan membuat utang lebih besar?

—Sebagiannya untuk menutup yang lama.

—Sisanya?

Dia tidak menjawab.

Aku tahu ada sesuatu.

—Sisanya untuk apa?

Dimas mengusap kedua tangannya.

—Rencana usaha.

—Usaha siapa?

—Arman.

Aku berdiri.

—Selesai.

Dimas ikut berdiri.

—Ratih.

—Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

—Aku bisa berubah.

—Masalahnya bukan kamu tidak sengaja salah satu kali.

Aku menunjuk ruang tamu.

—Kalian membuat sistem. Ada grup tanpa aku. Ada perusahaan. Ada tanda tangan. Ada transaksi kecil supaya tidak terlihat. Ada cicilan yang ceritanya dibuat berbeda. Itu bukan satu kesalahan.

Dimas tidak menahanku lagi.

Dalam dua minggu berikutnya, semuanya bergerak cepat.

Aku pindah penuh ke apartemen Kuningan.

Rekening bersama kami ditutup setelah kewajiban yang benar-benar sah diselesaikan.

Dimas tidak lagi memiliki akses ke rekening, kartu, atau fasilitas kantor.

Bank menyatakan tanda tangan dalam beberapa dokumen membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dan menghapus namaku dari proses pengajuan fasilitas baru.

Untuk tujuh belas transaksi, pihak Dimas menawarkan penyelesaian.

Sinta menyarankan agar aku tidak menerima janji lisan.

Akhirnya dibuat perjanjian tertulis.

Arman harus menjual satu ruko investasinya di Bekasi.

Sebagian hasilnya digunakan mengembalikan dana yang keluar tanpa persetujuanku.

Dimas menyerahkan mobil yang selama ini sebagian besar cicilannya kubayar untuk diperhitungkan dalam penyelesaian aset.

Ibu Ratna harus memilih.

Mengambil alih cicilan rumah sendiri atau menjual rumah tersebut.

Dia memilih menjual.

Beberapa kali dia menghubungiku.

Aku tidak lagi menjawab sendiri.

Semuanya lewat Sinta.

Livia juga berhenti bekerja sama dengan perusahaan Arman.

Saat kami bertemu lagi, dia mengatakan satu hal.

—Ternyata selama ini aku diperlakukan baik karena mereka masih butuh koneksi kantorku.

Aku mengangguk.

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya mulai melihat pola yang sebelumnya kuanggap normal.

Tiga bulan kemudian, mediasi perceraian terakhir dijadwalkan.

Aku datang tanpa Dimas.

Dia sudah berada di ruangan bersama pengacaranya.

Pertemuan berjalan lebih tenang daripada yang kubayangkan.

Kami membahas aset.

Apartemen Kuningan tetap milikku karena kubeli sebelum menikah.

Satu investasi yang kami beli bersama dibagi sesuai kontribusi.

Dana yang masih harus dikembalikan keluarga Dimas memiliki jadwal pembayaran jelas.

Tidak ada perdebatan soal rujuk.

Dimas tampaknya sudah memahami bahwa aku tidak akan berubah pikiran.

Aku pikir semuanya hampir selesai.

Sampai pengacaranya menyerahkan satu amplop kepada Sinta.

—Ada dokumen dari bank yang mungkin berkaitan dengan klien Anda.

Sinta membukanya.

Aku melihat wajahnya berubah.

—Apa?

Dia tidak langsung menjawab.

—Ratih, lihat tanggal ini.

Dokumen tersebut adalah pemberitahuan pembatalan pencairan fasilitas kredit Rp2,4 miliar.

Alasannya: perubahan profil pembayaran dan penghentian sumber dana pendukung sebelum verifikasi akhir.

Tanggal pembatalannya adalah Senin setelah makan malam di rumah Ibu Ratna.

Aku membaca lampiran berikutnya.

Di sana ada jadwal.

Jika verifikasi berjalan normal, dana seharusnya dicairkan Senin pukul 10.00.

Sebesar Rp2,4 miliar.

Kemudian aku melihat dokumen terakhir.

Rencana penggunaan dana.

Rp780 juta untuk menutup sisa kredit rumah.

Rp520 juta untuk restrukturisasi utang usaha Arman.

Sisanya, sekitar Rp1,1 miliar, untuk uang muka pembelian sebuah vila di Sentul.

Nama calon pemiliknya bukan Arman.

Bukan Ibu Ratna.

Bukan juga perusahaan.

Nama calon pemiliknya adalah Dimas.

Aku perlahan melihat ke arahnya.

Dia tidak berani menatapku.

—Mas?

Tidak ada jawaban.

Aku membaca dokumen itu sekali lagi.

Ada alamat properti.

Harga.

Nomor pemesanan.

Bahkan ada kuitansi tanda jadi yang dibayar dua minggu sebelum makan malam.

Aku bertanya:

—Kamu mau beli vila?

Dimas menunduk.

Pengacaranya berkata pelan:

—Klien saya sebaiknya menjelaskan sendiri.

Aku menunggu.

Akhirnya Dimas bicara.

—Awalnya buat investasi.

—Dengan uang dari kredit rumah Mama?

—Sebagian.

—Dan pengajuannya memakai kondisi keuanganku?

Dia tidak menjawab.

Sinta melihat lampiran terakhir.

—Ada yang lebih penting.

Dia menyerahkan kertas itu kepadaku.

Itu salinan email antara Dimas dan seorang konsultan kredit.

Tanggalnya dua belas hari sebelum makan malam.

Dimas menanyakan satu hal.

“Setelah pencairan selesai, kalau saya melakukan pemisahan rumah tangga, apakah kewajiban pembayaran tetap bisa menggunakan rekening pendukung sampai fasilitas dialihkan?”

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Semua suara di ruangan terasa jauh.

Jadi ketika aku duduk di meja makan dengan piring kosong, Dimas bukan hanya tahu keluarganya memakai uangku.

Dia sudah memikirkan kehidupan setelah pernikahan kami.

Dan dia masih berharap rekeningku membantu membayar utang yang akan membiayai aset atas namanya.

Aku menatapnya.

—Jadi kamu memang sudah mau pergi?

—Belum tentu.

—Tapi kamu sudah bertanya caranya.

Dimas menarik napas panjang.

—Aku sedang bingung waktu itu.

Aku mengangguk.

Tidak ada lagi yang perlu kutanyakan.

Sinta meminta dokumen itu dimasukkan ke berkas penyelesaian.

Pihak Dimas tidak keberatan.

Mungkin karena tidak ada lagi alasan untuk menutupinya.

Beberapa minggu kemudian proses perceraian kami selesai.

Tidak ada perayaan.

Aku kembali bekerja seperti biasa.

Aku juga tidak pernah meminta rumah Ibu Ratna dijual lebih cepat.

Itu keputusan mereka.

Pada akhirnya rumah Menteng memang terjual.

Hasilnya digunakan untuk melunasi fasilitas lama dan memenuhi sebagian kewajiban pengembalian kepadaku.

Arman memindahkan usahanya ke tempat yang lebih kecil.

Dimas menyewa apartemen sendiri.

Livia sesekali masih mengirim pesan.

Hubungan kami justru lebih normal setelah aku tidak lagi menjadi bagian dari keluarga itu.

Suatu malam aku pulang terlambat dari kantor.

Aku membuka pintu apartemen, memanaskan makanan sederhana, lalu duduk sendirian di meja makan.

Di depanku ada satu piring.

Isinya nasi hangat, telur, dan sayur.

Tidak mahal.

Tidak ada acara.

Tidak ada orang yang menilai apakah aku pantas mendapat bagian.

Aku baru saja mulai makan ketika Sinta mengirim pesan.

“Bank sudah mengirim surat final. Kamu resmi tidak punya kewajiban apa pun atas kredit keluarga Dimas.”

Aku membaca pesan itu lalu meletakkan ponsel.

Beberapa bulan sebelumnya aku mungkin akan merasa bersalah.

Aku akan bertanya apakah Ibu Ratna sanggup membayar rumah.

Apakah Arman bisa menyelamatkan bisnis.

Apakah Dimas marah kepadaku.

Sekarang aku tidak lagi bertanya.

Karena satu piring kosong akhirnya membuatku memeriksa sesuatu yang seharusnya sudah kuperiksa sejak lama.

Bukan sekadar berapa banyak uang yang sudah kuberikan.

Tapi berapa banyak keputusan tentang hidupku yang ternyata dibuat tanpa melibatkanku.

Dan hal yang paling tidak pernah kuduga adalah ini:

Kalau malam itu Ibu Ratna tetap memberiku makan, kalau aku pulang bersama Dimas seperti biasa, dan kalau aku tidak menghentikan pembayaran otomatis malam itu, fasilitas Rp2,4 miliar tersebut kemungkinan sudah masuk tahap pencairan pada hari Senin.

Piring kosong itu dimaksudkan untuk menunjukkan posisiku di keluarga mereka.

Tanpa mereka sadari, justru dari situlah aku menemukan semuanya.