PART 2
Pukul 09:00 pagi harinya, Hendra Pratama memanggil mereka bertiga ke kediaman mewahnya di kawasan Pondok Indah.
Rumah megah itu terasa dingin dan mencekam.
Hendra duduk di kursi kulitnya, menyeruput teh tanpa memandang Arini yang duduk di seberang meja.
“Berapa harga yang diminta wanita ini untuk berpura-pura, Rehan?” tanya Hendra langsung, nadanya penuh hinaan.
Ia lalu menatap Arini dengan pandangan merendahkan.
“Kamu pikir pakaian mahal bisa menutup bau kemiskinanmu? Wanita dari kawasan kumuh Jakarta Timur seperti kamu tidak akan pernah pantas menginjakkan kaki di keluarga Pratama.”
Rehan hendak bersuara, tetapi Arini mendahuluinya.
Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas piring kecil tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
“Pak Hendra,” kata Arini dengan suara tenang dan pandangan lurus. “Hal yang menarik bukanlah berapa nilai saya di mata Anda. Tapi seberapa rendah nilai putra Anda sendiri, sampai Anda berpikir harus membelikannya seorang istri demi kelangsungan bisnis Anda.”
Hendra tertegun.

Matanya menyipit menatap Arini. Pria tua itu tersenyum sinis.
“Rupanya kamu punya lidah yang tajam. Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan di dunia ini.”
Dalam kurun waktu 3 hari berikutnya, kehidupan Arini berubah menjadi ruang kaca yang diawasi semua orang.
Berita tentang “Gadis Miskin Penjerat Dirut Pratama Corp” menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Foto-foto masa lalu keluarga Arini, rumah sederhana mereka, hingga pekerjaan ayahnya disebar oleh akun-akun anonim.
Namun di balik ingar-bingar media, ada hal lain yang terjadi di dalam apartemen Rehan.
Kevin sangat menyukai Arini.
Anak kecil itu selalu menunggu Arini pulang, mengajak membaca buku cerita tentang dinosaurus, dan meminta dibuatkan nasi goreng setiap pagi.
“Tante Arini, nanti kalau Tante menikah sama Papa, Tante tidur di sini terus kan?” tanya Kevin suatu malam sambil memegang tangan Arini.
Arini terdiam, matanya berkaca-kaca.
Ia tidak sanggup membohongi anak sekecil itu.
Ia membelai rambut Kevin hingga anak itu tertidur pulas.
Saat Arini keluar dari kamar Kevin, Rehan sudah berdiri di pantry sambil menyeduh dua cangkir kopi.
“Maafkan aku,” kata Rehan pelan. “Kevin sudah lama tidak merasakan kehadiran seorang ibu. Aku tidak bermaksud memanfaatkannya.”
“Dia anak yang manis, Pak Rehan,” balas Arini. “Tapi Anda harus ingat, kontrak kita tinggal 3 hari lagi. Jangan biarkan dia terlalu berharap.”
Rehan menatap Arini lama. Ada guratan kelelahan yang dalam di wajah pria itu.
“Ayahku sudah mulai bergerak di dewan komisaris,” ujar Rehan. “Dia menggunakan isu ini untuk menjatuhkan posisiku.”
Dugaan Rehan terbukti.
Hari berikutnya, Claudia muncul di sebuah acara wawancara televisi swasta.
Dengan mata berkaca-kaca, Claudia berakting sebagai korban kekejaman Rehan dan Arini.
“Saya sangat prihatin pada Kevin,” kata Claudia di depan kamera TV. “Sangat berbahaya membiarkan anak sekecil itu berada di dekat wanita yang mendekati ayahnya hanya demi menguras harta.”
Dampak dari wawancara itu sangat cepat.
Saham Pratama Corp merosot 8 persen dalam waktu 24 jam.
Dewan komisaris menggelar rapat darurat pada hari ke-5.
Dengan hasil pemungutan suara 7 melawan 6, Rehan secara resmi dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Direktur Utama Pratama Corp.
Hendra mengambil alih kepemimpinan sementara.
Malam itu, saat Arini kembali dari rumah sakit setelah memastikan kondisi ibunya yang stabil pasca operasi, Rehan duduk di ruang tamu dalam kegelapan.
Ponsel Arini tiba-tiba berdering.
Itu panggilan dari Maya, pengacara Rehan.
“Arini, pihak Hendra dan Claudia menawarkan kesepakatan,” kata Maya melalui telepon.
“Jika kamu mau membuat pernyataan publik bahwa Rehan menjebakmu dan memalsukan pertunangan ini demi menghindari kewajiban bisnis, Claudia akan mencabut semua tuntutan pencemaran nama baik. Mereka juga menawarkan uang Rp 1.000.000.000 untukmu.”
Arini mematikan ponselnya.
Ia berjalan mendekati Rehan yang masih duduk dalam diam.
“Anda kehilangan perusahaan Anda,” kata Arini pelan.
Rehan mendongak. “Aku kehilangan jabatan, Arini. Tapi aku tidak kehilangan prinsipku. Aku tidak akan pernah membiarkan Ayah mengatur hidupku dan Kevin lagi.”
“Mengapa Anda memilih saya malam itu?” tanya Arini. “Di antara ratusan wanita kaya di ruangan itu?”
Rehan tersenyum tipis, sebuah senyuman jujur yang jarang terlihat.
“Pagi hari sebelum acara gala, aku melihatmu di area parkir kantor. Kamu sedang memberi makan seekor kucing liar sambil membagi separuh roti lapismu. Di ruangan yang penuh dengan kepalsuan malam itu, kamu satu-satunya orang yang memiliki ketulusan.”
Arini terpaku.
Ia melangkah ke jendela, melihat gemerlap lampu kota Jakarta dari lantai 30.
“Kontrak kita berakhir besok,” kata Arini.
“Ya,” jawab Rehan. “Besok adalah hari ke-7.”
Pagi hari ke-7 tiba.
Sebuah konferensi pers besar digelar oleh Hendra Pratama di gedung pusat Pratama Corp untuk mengumumkan pemberhentian Rehan secara permanen dan restorasi hubungan bisnis dengan keluarga Claudia.
Ratusan wartawan telah memenuhi ruangan.
Hendra berdiri di podium dengan percaya diri.
“Putra saya telah melakukan kekhilafan berat akibat manipulasi dari pihak luar. Hari ini, kami memulihkan nama baik keluarga,” ujar Hendra dengan suara lantang.
Tiba-tiba, pintu utama hall terbuka lebar.
Rehan berjalan masuk dengan setelan jas hitam yang rapi.
Di sampingnya, Arini berjalan dengan anggun, mengenakan pakaian kerja sederhana namun sangat tegas.
Di belakang mereka, Maya membawa seberkas dokumen tebal dan sebuah drive penyimpanan data.
Kerumunan wartawan langsung mengarahkan kamera ke arah mereka.
Hendra mengerutkan kening. “Rehan! Apa-apaan ini? Keamanan, keluarkan mereka!”
“Tunggu dulu, Pak Hendra,” suara Maya bergema melalui mikrofon cadangan yang dibawanya.
“Sebelum Anda menutup rapat ini, kami ingin menyerahkan bukti-bukti resmi kepada rekan-rekan media dan anggota dewan komisaris.”
Maya menghubungkan drive data ke sistem layar utama hall.
Layar besar di belakang panggung langsung menampilkan salinan dokumen audit internal dan rekaman percakapan digital.
Arini maju satu langkah menuju podium.
“Selama seminggu ini, saya dituduh sebagai wanita matre yang merusak perusahaan ini,” kata Arini dengan suara jernih dan tenang tanpa ada rasa takut.
“Namun bukti digital ini menunjukkan hal sebaliknya.”
Layar menampilkan laporan keuangan rahasia.
“Dua bulan sebelum acara gala, Pak Hendra Pratama secara pribadi telah memindahkan dana perusahaan sebesar Rp 45.000.000.000 ke rekening cangkang di luar negeri untuk menutupi kerugian investasi pribadinya di sektor properti.”
Para anggota dewan komisaris langsung berdiri dari kursi mereka dengan wajah terkejut.
Suasana ruangan menjadi sangat riuh.
“Bohong! Itu fitnah!” teriak Hendra, wajahnya yang tadi tenang kini memerah padam.
“Rekaman audio ini ditandatangani secara digital oleh otoritas independen,” lanjut Arini, menunjukkan dokumen di tangannya.
“Pak Hendra memaksa Mas Rehan menikahi Claudia bukan demi ekspansi perusahaan, melainkan sebagai syarat dari keluarga Claudia untuk menyuntikkan dana segar guna menutupi penyalahgunaan dana yang dilakukan oleh Pak Hendra sendiri.”
Claudia yang duduk di jajaran depan langsung berdiri dan berjalan keluar dari ruangan dengan terburu-buru, menghindari kejaran kamera wartawan.
Rehan mengambil alih mikrofon.
“Saya menyerahkan seluruh bukti ini kepada tim pemeriksa independen dan pihak berwajib. Saya tidak akan kembali sebagai Direktur Utama.”
Rehan menatap ayahnya yang kini terduduk lemas di kursinya.
“Saya mengundurkan diri secara resmi dari Pratama Corp. Saya akan membangun usaha saya sendiri dari nol, tanpa ada campur tangan atau uang dari Anda lagi.”
Rehan menggenggam tangan Arini di depan seluruh kamera.
“Dan mengenai Arini… dia tidak pernah memeras saya. Dialah yang membuka mata saya tentang arti keberanian yang sesungguhnya.”
Siang harinya, di halaman luar gedung yang mulai sepi, Arini melepaskan cincin berlian dari jarinya dan mengulurkannya kepada Rehan.
“Tujuh hari sudah selesai, Pak Rehan. Ibu saya sudah pulih dari operasi, dan sisa pembayaran dari Anda sudah masuk ke rekening saya pagi tadi.”
Rehan melihat cincin di tangan Arini, tetapi tidak mengambilnya.
“Panggil aku Rehan,” katanya pelan.
“Kontrak kita sudah berakhir,” kata Arini. “Saya harus kembali ke kehidupan saya yang biasa.”
“Bagaimana dengan Kevin?” tanya Rehan.
Arini menahan nafasnya. “Jjelaskan padanya dengan baik. Dia anak yang pintar, dia pasti mengerti.”
Arini berbalik dan berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi.
Namun baru lima langkah berjalan, suara Rehan kembali terdengar.
“Bagaimana kalau kita mulai dari awal?”
Arini menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
Rehan berjalan mendekatinya, membiarkan angin siang meniup rambutnya yang sedikit berantakan.
“Tanpa kontrak Rp 600.000.000. Tanpa panggung gala. Tanpa berpura-pura di depan wartawan.”
Rehan berdiri tepat di depan Arini.
“Aku bukan lagi Dirut Pratama Corp. Aku hanya seorang duda umur 34 tahun yang sedang mencoba memulai bisnis baru dari bawah.”
“Arini Susanto… maukah kamu minum kopi bersamaku Sabtu ini? Hanya sebagai dua orang biasa yang ingin saling mengenal?”
Arini menatap pria di hadapannya.
Tidak ada lagi keangkuhan dari seorang eksekutif muda. Yang ada hanya seorang pria yang jujur dengan perasaannya.
Dari dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari sana, kaca jendela terbuka.
Kevin menyembulkan kepalanya sambil berteriak girang.
“Tante Arini! Ikut minum es krim juga ya!”
Arini tidak bisa menahan senyumnya lagi.
Ia melihat cincin di telapak tangannya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jas Rehan.
“Saya yang akan bayar kopinya kali ini,” kata Arini sambil tersenyum.
Rehan tertawa lega. “Setuju.”
Satu tahun kemudian.
Di sebuah rumah sederhana berlantai dua di kawasan BSD, Tangerang Selatan.
Suasana rumah terasa hangat dan penuh gelak tawa.
Aroma masakan memenuhi ruang makan.
Rahmi, ibu Arini yang kini sudah sehat sepenuhnya, sedang duduk di sofa bersama ayah Arini dan Rendy, adik Arini yang sudah kembali melanjutkan kuliahnya di jurusan teknik.
Di halaman belakang, Rehan sedang berusaha menyalakan panggangan BBQ sambil mengenakan celemek bergambar dinosaurus.
Tangannya belepotan bumbu dapur.
“Mas Rehan, cara mengoles bumbunya bukan begitu,” ujar Arini sambil berjalan mendekat membawa piring daging.
Arini mengambil kuas dari tangan Rehan dan mengajari suaminya cara mengoleskan bumbu dengan benar.
“Aku kan pengusaha, bukan koki,” alibi Rehan sambil tersenyum menggoda.
“Pengusaha yang perusahaannya baru saja mendapat kontrak kerja sama dengan 3 BUMN bulan lalu?” goda Arini.
Bisnis teknologi baru yang dibangun Rehan secara mandiri telah berkembang pesat dalam delapan bulan terakhir, tanpa menyentuh satu rupiah pun harta dari keluarga Pratama.
Sementara itu, Hendra Pratama harus menjalani masa pensiun yang sepi setelah terbukti melakukan pelanggaran tata kelola perusahaan dan kehilangan pengaruhnya di dunia bisnis.
Tiba-tiba, Kevin berlari dari dalam rumah sambil membawa dua buah boneka T-Rex.
“Mama! Papa! Lihat, T-Rex yang ini punya adik baru!” seru Kevin gembira.
Arini berlutut dan memeluk Kevin dengan penuh kasih sayang.
Panggilan “Mama” itu kini terasa sangat natural dan menghangatkan hatinya.
Rehan merangkul bahu Arini dari belakang, menatap ke arah keluarga mereka yang sedang berkumpul di dalam rumah.
“Kamu masih ingat ciuman pertama kita di gala Hotel Mulia?” tanya Rehan berbisik di telinga Arini.
Arini menoleh dan menatap mata suaminya.
“Ciuman yang penuh dengan kebohongan dan kamera itu?” tanya Arini.
“Aku menyesal telah melakukannya dengan cara seperti itu,” kata Rehan tulus.
“Tapi aku tidak pernah menyesali hasilnya,” tambah Rehan lagi, lalu menunduk dan mencium kening Arini dengan lembut.
Kali ini tanpa cermin, tanpa wartawan, tanpa kontrak, dan tanpa kepalsuan.
Arini menyandarkan kepalanya di dada Rehan.
Uang dan popularitas memang bisa membeli banyak hal di dunia ini.
Namun sebuah keluarga yang utuh, rasa hormat, dan cinta yang sejati hanya bisa dibangun saat dua orang bersedia saling menggenggam tangan dalam kejujuran, bahkan ketika seluruh dunia sedang mencoba menjatuhkan mereka.
