Ia berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh.

PART 2

Waktu menunjukkan tepat 30 menit ketika pintu utama ballroom terbuka lebar.

Hendra, kepala tim legal Megah Nusantara Capital, melangkah masuk bersama 4 anggota Dewan Komisaris dan tim audit internal.

Musik acara sepenuhnya dimatikan.

Reza tersenyum meremehkan, merasa yakin bahwa Hendra datang untuk membereskan keonangan yang dibuat istrinya.

“Hendra, bagus kamu datang,” kata Reza sambil membetulkan jasnya.

“Tolong jelaskan pada semua orang di sini kalau istriku baru saja membuat lelucon konyol.”

Hendra berjalan lurus tanpa mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Wajahnya sangat serius.

“Tuan Reza, Dewan Komisaris telah mengesahkan pemberhentian penuh atas jabatan Anda sebagai Direktur Utama terhitung detik ini,” tegas Hendra.

“Seluruh kewenangan tanda tangan Anda dibekukan.”

“Kartu kredit korporasi, laptop kerja, dan kendaraan dinas resmi ditarik malam ini.”

“Rumah dinas di Pondok Indah juga harus dikosongkan sebelum besok pagi.”

Suara bisik-bisik langsung pecah di antara 300 tamu undangan.

Ibu Heni maju dengan wajah pucat dan suara melengking.

“Apa-apaan ini?! Anak saya yang membesarkan perusahaan ini!”

Reza merebut mik dari panggung, matanya memerah menahan marah.

“Panggil pemilik saham mayoritas! Saya mau bicara langsung dengannya!”

“Biar dia sendiri yang mengatakan di depan muka saya kalau saya dipecat!”

Langkah kaki berhak tinggi terdengar nyaring di atas lantai marmer ballroom.

Semua orang menoleh ke arah pintu.

Maya kembali melangkah masuk.

Ia tidak lagi berjalan sebagai seorang istri yang diabaikan.

Ia berjalan sebagai pemimpin tertinggi.

Hendra dan para komisaris membungkukkan badan dengan hormat saat Maya mendekat.

“Selamat malam, Ibu Maya Valdés,” kata Hendra lantang.

“Seluruh instruksi eksekusi keputusan pemilik saham utama telah selesai dijalankan.”

Reza hampir menjatuhkan mik di tangannya.

Sheila melepaskan pegangan tangannya dari lengan Reza secara perlahan.

Maya berdiri tepat di hadapan Reza dan Ibu Heni.

“Kakekku yang mendirikan Megah Nusantara Capital 40 tahun lalu,” ucap Maya dengan suara tenang namun berwibawa.

“Aku memegang 68% saham pengendali tunggal di perusahaan ini.”

“Rumah mewah di Pondok Indah yang ibumu pamerkan adalah aset atas nama perusahaanku.”

“Tiga mobil mewah yang kamu pakai setiap hari adalah fasilitas kantor.”

“Dan jabatan Direktur Utama yang membuatmu sombong selama 5 tahun ini… aku yang memberikannya padamu.”

Reza ternganga, lidahnya terasa kelu.

Ibu Heni mendadak lemas dan harus dipegangi oleh salah satu tamu di dekatnya.

Maya membuka sebuah map kulit hitam yang dibawakan oleh Hendra.

“Dan sekarang, mari kita bicara tentang dana perusahaan sebesar Rp 64 miliar yang hilang.”

Wajah Reza seketika menjadi pucat pasi.

Sheila mundur 2 langkah menjauhi Reza.

Maya membacakan berkas itu baris demi baris di depan seluruh tamu.

Dua belas tahun lalu, kakek Maya, Broto Valdés, menyerahkan kendali penuh perusahaan kepadanya.

Sebelum meninggal, Broto berpesan agar Maya tidak pernah silau oleh pamer kekuasaan.

Maya yang memegang gelar magister hukum bisnis memilih mengendalikan perusahaan dari balik layar sebagai komisaris utama rahasia.

Ia lebih suka menganalisis laporan keuangan dan memutuskan investasi besar tanpa perlu dikenal publik.

Lalu ia bertemu Reza, yang saat itu hanya seorang supervisor penjualan biasa dari keluarga sederhana di Getafe.

Reza selalu bicara tentang ambisi dan kerja keras.

Maya jatuh cinta pada semangat itu dan memilih menyembunyikan identitas kekayaannya saat mereka menikah.

Maya ingin membangun rumah tangga yang murni tanpa bayang-bayang uang.

Namun di belakang layar, Maya diam-diam mendorong karier Reza.

Ketika ada posisi kosong di anak perusahaan, Maya mengatur agar Reza dipanggil wawancara.

Saat Reza membuat proposal bisnis yang lemah, Maya yang mengoreksi risikonya lewat dewan direksi.

Saat negosiasi Reza hampir gagal, Maya yang memberi izin khusus agar kesepakatan bisa tercapai.

Reza mengira semua keberhasilan itu murni karena kejeniusannya sendiri.

Enam tahun lalu, Maya menyetujui pengangkatan Reza sebagai Direktur Utama.

Reza sempat menangis terharu di hari pertamanya bekerja.

Namun uang dan posisi mengubah Reza dengan cepat.

Rumah dinas perusahaan diakui sebagai hasil jerih payahnya sendiri.

Ibu Heni mulai sering mengadakan pesta dan menyombongkan anak tunggalnya yang berhasil menjadi konglomerat dari nol.

Maya memilih diam melihat kesombongan itu.

Ia mengalah saat Ibu Heni menghina masakan sederhananya, bahkan saat Ibu Heni membuang piring makanan di depannya.

Maya bertahan bukan karena lemah.

Tetapi karena 3 bulan lalu, tim auditor independen yang disewa Maya menemukan ketidaksesuaian laporan keuangan.

Beberapa kali transfer dana besar keluar dari rekening Megah Nusantara Capital untuk biaya konsultasi fiktif.

Totalnya mencapai Rp 64 miliar.

Hendra melakukan penyelidikan rahasia atas perintah Maya.

Hasilnya mengejutkan.

Sebagian besar dana itu mengalir untuk pembelian unit apartemen mewah di kawasan Senopati atas nama Sheila.

Sisa uangnya digunakan untuk membeli mobil sport, perhiasan, dan liburan mewah Reza bersama Sheila.

Hari itu, rasa cinta Maya sepenuhnya padam.

Ia tidak akan membiarkan perusahaan yang dibangun kakeknya dihancurkan oleh pria yang tidak bersyukur.

Maya mengumpulkan seluruh bukti transfer, kontrak palsu, dan nota belanja perusahan yang direkayasa.

Ia menyiapkan rapat pleno darurat Dewan Komisaris untuk menjatuhkan Reza secara sah dan tanpa celah hukum.

Reza mengira diamnya Maya adalah bentuk rasa takut.

Reza memilih acara gala malam ini untuk membuang istrinya di depan umum.

Kini, Reza menyadari betapa fatal kesalahannya.

“Maya… kita bisa bicara baik-baik di rumah,” bisik Reza dengan suara gemetar.

Maya menatap cincin kawin yang masih ada di atas nampan perak.

“Tidak ada rumah lagi untukmu.”

Hendra maju memberikan surat resmi penarikan fasilitas.

“Tuan Reza, rumah Pondok Indah harus dikosongkan malam ini.”

“Pihak kepolisian dari Satuan Tindak Pidana Korupsi dan Keuangan sudah menerima laporan resmi dari perusahaan.”

Sheila langsung menjauh dari Reza dan memprotes.

“Saya tidak tahu apa-apa! Saya cuma konsultan di sini!”

Maya menatap Sheila dingin.

“Kamu bisa menjelaskan aset apartemen Senopati itu kepada penyidik besok pagi.”

Sheila menutup mukanya dan berlari keluar ballroom sebelum acara selesai.

Reza dan Ibu Heni diresmikan keluar dari hotel tanpa pengawalan dan tanpa kendaraan.

Kartu kredit korporasi Reza ditolak saat ia mencoba memesan taksi dari hotel.

Malam itu juga, Reza dan ibunya mendatangi apartemen Sheila di Senopati untuk mencari tempat tinggal sementara.

Reza mengetuk pintu apartemen dengan panik.

Sheila membuka pintu hanya beberapa sentimeter.

“Kamu tidak bisa tinggal di sini, Reza,” kata Sheila dingin.

“Aku yang membayar apartemen ini dengan uang dari perusahaanku!” bentak Reza.

“Uang itu uang hasil penggelapan yang sedang diperiksa polisi!” balas Sheila tajam.

“Sertifikatnya atas namaku, tapi apartemen ini sudah disegel sebagai barang bukti.”

Ibu Heni mencoba merayu.

“Sheila sayang, ibu kan selalu mendukungmu jadi menantu…”

Sheila tertawa mengejek.

“Empat jam lalu Ibu mendukung saya karena Reza seorang Direktur Utama.”

“Sekarang Reza cuma pria pengangguran yang terancam penjara puluhan miliar!”

“Jangan samakan bisnis dengan cinta!”

Pintu apartemen ditutup keras di depan wajah Reza dan ibunya.

Dalam hitungan hari, berita jatuhnya Reza Montiel menjadi perbincangan hangat di media bisnis nasional.

Megah Nusantara Capital mengeluarkan rilis resmi mengenai pemberhentian tidak dengan hormat atas dugaan pelanggaran hukum.

Satu minggu kemudian, Reza dan Ibu Heni terlihat berdiri di lobby kantor pusat Megah Nusantara Capital di Jalan Jenderal Sudirman.

Pakaian Reza tampak kusut dan tidak terawat.

Ibu Heni terlihat jauh lebih tua dengan mata sembap.

Petugas keamanan ingin mengusir mereka, namun Maya yang baru turun dari lift utama meminta petugas membiarkan mereka bicara.

Maya tampil anggun dengan setelan kerja resmi, dikawal oleh Hendra.

Reza mendatangi Maya dan langsung menundukkan kepalanya.

“Maya, tolong maafkan aku…” bisik Reza dengan suara parau.

“Aku tidak minta jabatanku kembali. Beri aku pekerjaan apa saja. Jadi staf biasa atau pengemudi di sini. Aku butuh uang untuk biaya hidup.”

Maya menatap mantan suaminya tanpa rasa benci.

“Kamu belum paham juga, Reza.”

“Kamu trahiku, Maya.”

“Kamu baru menyesal setelah tahu aku punya kuasa dan kamu tidak punya uang. Itu dua hal yang berbeda.”

Ibu Heni mencoba memegang tangan Maya.

“Maya… kita kan keluarga…”

Maya menarik tangannya dengan sopan.

“Saat Ibu menyebut saya wanita tidak berguna di depan ratusan orang, apakah Ibu menganggap saya keluarga?”

“Saat Ibu meminta Reza membuang saya, apakah kita keluarga?”

“Kata ‘keluarga’ tidak bisa dipakai hanya saat kalian butuh penolong.”

Hendra melangkah maju membawa berkas gugatan ganti rugi sebesar Rp 64 miliar beserta tuntutan pidana penggelapan jabatan.

Reza tidak bisa berkata-kata lagi.

Proses hukum berjalan dengan sangat cepat.

Aset-aset yang dibeli menggunakan uang hasil penggelapan disita oleh negara dan dikembalikan ke perusahaan.

Apartemen di Senopati, mobil mewah, dan perhiasan Sheila disita.

Sheila terbukti ikut menikmati dana hasil kejahatan dan harus menjalani pemeriksaan intensif.

Ibu Heni sempat dirawat di rumah sakit karena tekanan darah tinggi, kehilangan seluruh gaya hidup mewahnya dalam semalam.

Enam bulan kemudian, sidang putusan pengadilan digelar.

Reza dinyatakan bersalah atas kasus penggelapan dalam jabatan dan pemalsuan dokumen perusahaan.

Ia dijatuhi hukuman penjara serta kewajiban mengembalikan seluruh kerugian perusahaan.

Maya menghadiri sidang putusan itu dengan tenang.

Ia tidak datang untuk merayakan kemenangan.

Ia datang untuk menutup babak lama hidupnya.

Saat keluar dari gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, belasan wartawan media nasional sudah menunggu.

“Ibu Maya, setelah semua yang terjadi, apakah Anda merasa menang atas mantan suami Anda?” tanya seorang wartawan.

Maya berhenti dan menjawab dengan mantap.

“Perceraian bukan sebuah kemenangan.”

“Mengambil kembali harga diri juga bukan kemenangan.”

“Itu hanya tindakan menegakkan batas yang seharusnya tidak pernah dibiarkan dilanggar.”

Wartawan lain bertanya tentang perasaannya pada Reza.

“Selama 10 tahun, saya berpikir bahwa mencintai berarti harus terus berkorban dan mengecilkan diri agar pasangan terlihat besar,” jawab Maya.

“Saya salah.”

“Ketika kamu menyembunyikan nilai dirimu terlalu lama, orang lain tidak akan menghargai kebaikanmu. Mereka justru menganggap diammu sebagai bukti bahwa kamu tidak berharga.”

Di sudut halaman pengadilan, Reza yang mengenakan rompi tahanan tampak berjalan menuju mobil tahanan bersama petugas.

Matanya menatap Maya dari kejauhan dengan tatapan penuh penyesalan.

Maya tidak membalas tatapan itu dengan amarah.

Ia berbalik dan berjalan menuju mobilnya.

Rasa benci di hatinya telah berganti dengan kedamaian.

Malam harinya, Maya berdiri di balkon apartemen pribadinya di Jakarta Pusat.

Angin malam berembus pelan.

Di atas meja kerja, ada sebuah surat dari Reza yang dikirim dari dalam penjara.

Maya tidak membuka amplop itu.

Di bagian depan amplop, ada tulisan tangan Reza:

“Sekarang aku tahu siapa kamu sebenarnya.”

Maya mengambil pena, lalu tersenyum tipis.

Ia tidak membalas surat itu.

Maya hanya bergumam pelan pada dirinya sendiri.

“Bukan. Sekarang aku yang tahu siapa diriku sebenarnya.”

Lampu-lampu kota Jakarta menyala indah di bawah sana.

Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, Maya tidak lagi hidup sebagai istri yang bersembunyi di balik bayang-bayang pria.

Ia adalah Maya Valdés.

Dan ia tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun merendahkan harga dirinya.