Hanya dua puluh menit sebelum upacara pernikahan dimulai, ibu saya mengunci pintu ruang rias lalu berkata, “Hari ini yang akan berjalan ke altar bersama Arga Pratama adalah adikmu.”
Saya pikir beliau sedang bercanda.
Sampai adik saya keluar dari balik tirai, mengenakan gaun pengantin yang saya pesan khusus di Bandung selama enam bulan.
Saya tidak menangis. Saya juga tidak berusaha merebut kembali gaun itu.
Saya hanya melepas cincin pertunangan, meletakkannya di atas meja, lalu menelepon seseorang.
“Dulu kamu pernah bilang, kalau saya berubah pikiran sebelum menikah, tawaranmu masih berlaku. Benar?”
Di ujung telepon, pria itu terdiam beberapa detik.
Lalu suara beratnya terdengar.
“Turun ke lobi. Aku sudah menunggumu.”
“Jangan membuat keributan. Hari ini yang akan menikah dengan Arga Pratama adalah adikmu.”
Hanya dua puluh menit sebelum upacara pernikahan dimulai, ibu saya—Ratna Kusumawardani—mengunci pintu ruang rias di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta dan berdiri tepat di depan saya.
Saya menatap beliau.
“Maksud Ibu apa?”
Ibu menghindari tatapan saya.
Saat itulah tirai beludru di belakang kami bergerak pelan.
Ayu Prameswari keluar.
Adik saya.
Ia mengenakan gaun pengantin berhias mutiara yang saya pesan khusus dari Bandung selama enam bulan. Bahkan kerudung tipis di kepalanya adalah milik saya.
Ayu menunduk.
“Kak… maaf.”
Saya menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil.
“Maaf karena memakai gaun kakak, atau karena bersiap menikahi tunangan kakak?”
“Maya!”
Ibu membentak pelan.
“Ayu sedang hamil.”
Ruangan langsung sunyi.
Saya menoleh.
“Anak siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Namun wajah Ayu yang mendadak pucat sudah memberikan jawabannya.
Saya perlahan melihat cincin pertunangan di jari saya.
Tiga tahun berpacaran.
Satu tahun mempersiapkan pernikahan.
Arga pernah berlutut di depan keluarga saya dan mengatakan bahwa sepanjang hidupnya, hanya saya yang akan menjadi istrinya.
Ternyata adik saya sedang mengandung anaknya.
“Sudah berapa bulan?”
Ayu menggigit bibir.
“Sebelas… minggu.”
Saya terdiam.
Sebelas minggu lalu, saya sedang berada di Surabaya menemani ayah menjalani operasi jantung.
Setiap malam Arga menelepon lewat video.
Dia bilang merindukan saya.
Ternyata siang harinya dia tidur dengan adik saya.
Saya melepas cincin.
Ibu langsung memegang pergelangan tangan saya.
“Maya, pikirkan keluarga kita! Semua tamu sudah datang. Keluarga Arga juga baru saja menandatangani kontrak senilai tiga ratus miliar rupiah dengan perusahaan ayahmu.”
“Lalu?”
“Biarkan Arga menikahi adikmu.”
Saya menatap ibu.
Beliau mengatakannya begitu ringan, seolah-olah sedang menyuruh saya memberikan sebuah tas.
“Ibu sudah tahu sejak kapan?”
Ibu diam.
Saya mengerti.
Ini bukan keputusan yang dibuat pagi ini.
Mungkin semua orang sudah mengetahuinya sejak lama.
Hanya saya yang menjadi orang terakhir yang diberi tahu bahwa saya telah digantikan.
Dari luar terdengar ketukan.
Suara Arga terdengar.
“Maya, buka pintunya. Aku ingin bicara.”
Saya tidak bergerak.
Dia kembali berkata,
“Hubungan dengan Ayu itu tidak sengaja. Tapi bayi itu adalah cucu pertama keluarga Pratama. Ibuku tidak akan membiarkannya lahir tanpa status.”
Saya tertawa hambar.
“Lalu saya?”
Di luar pintu hening beberapa detik.
“Maya, kamu lebih kuat daripada Ayu. Tanpa aku pun kamu bisa hidup.”
Satu kalimat itu membunuh sisa perasaan yang masih saya miliki.
Saya melepas cincin dan meletakkannya di meja rias.
Ayu tiba-tiba meraih tangan saya.
“Kak, jangan salahkan Mas Arga. Malam itu dia mabuk…”
Saya menarik tangan saya.
“Jangan khawatir. Kakak tidak akan merebutnya.”
Ayu langsung mengangkat kepala.
Bahkan ibu terlihat terkejut.
Saya mengambil ponsel.
Ada satu nomor yang selama lima tahun tidak pernah saya hubungi.
Seorang pria yang dulu pernah memberikan sebuah perjanjian pernikahan kepada saya dan berkata:
“Kalau suatu hari kamu tidak ingin menikah dengan Arga Pratama lagi, telepon aku.”
Saat itu saya menolaknya.
Karena pria itu adalah seseorang yang bahkan keluarga Pratama tidak berani menyinggung sembarangan.
Saya menekan tombol panggil.
Baru satu dering, dia sudah mengangkat.
Saya bertanya,
“Dulu kamu bilang kalau saya berubah pikiran sebelum menikah, tawaranmu masih berlaku. Benar?”
Di ujung telepon, dia terdiam beberapa detik.
Lalu suaranya terdengar rendah.
“Turun ke lobi.”
Saya membeku.
“Aku sedang menunggumu.”
Saya berjalan ke jendela.
Di bawah, sebuah Rolls-Royce hitam baru saja berhenti di depan karpet merah.
Manajer hotel sendiri berlari turun untuk membuka pintu.
Seorang pria dengan setelan hitam keluar.
Begitu melihat wajahnya, ponsel di tangan ibu terjatuh.
“Tidak mungkin…”
Ibu buru-buru menarik saya menjauh dari jendela.
“Maya, kamu menelepon siapa?”
Sebelum saya sempat menjawab, pintu ruang rias diketuk tiga kali.
Bukan Arga.
Suara seorang pria terdengar dari luar.
“Nona Maya, Tuan meminta saya menjemput Anda.”
Sebuah amplop diselipkan melalui celah bawah pintu.
Di atasnya hanya tertulis:
DOKUMEN HASIL TES DNA.
Tangan ibu langsung gemetar.
Beliau hendak merebut amplop itu.
“Maya, jangan dibuka!”
Saya mundur dan merobek bagian atas amplop.
Lembar pertama jatuh ke lantai.
Nama saya tercetak di bagian paling atas.
Di bawahnya tercantum nama seseorang yang belum pernah saya dengar sepanjang dua puluh tujuh tahun hidup saya.
Saya baru hendak membaca lebih lanjut ketika suara berat dari luar kembali terdengar.
“Maya.”
Seluruh ruangan membeku.
“Buka pintunya.”
Ibu tiba-tiba berdiri di depan saya dengan air mata mengalir.
“Kamu tidak boleh bertemu dengannya.”
“Kenapa?”
Beliau menatap saya, bibirnya gemetar.
“Karena kalau kamu keluar dari pintu ini, kamu akan tahu kenapa selama dua puluh tujuh tahun… Ibu tidak pernah berani memberitahumu siapa sebenarnya ayah kandungmu.”
Tangan saya menyentuh gagang pintu.
Dan tepat ketika saya hendak memutarnya—
Pria di luar berkata,
“Sudah cukup, Ratna. Hari ini kamu harus mengembalikan anak perempuan saya kepada saya.”
Ibu langsung jatuh terduduk.
Pukul sepuluh malam.
Datang sendirian.
Ibu akan memberitahumu siapa yang menukar dirimu waktu itu.
Maya membaca pesan itu untuk ketiga kalinya.
Dua kata “Ibu” membuat ujung jarinya terasa dingin.
Di kamar lantai tiga puluh enam Hotel Indonesia Kempinski, tidak ada yang tahu siapa perempuan yang mengirim pesan itu.
Raka Adiwijaya berdiri beberapa langkah darinya dan terus menatapnya.
“Maya, siapa yang mengirim pesan?”
Maya mematikan layar ponselnya.
“Tidak ada.”
Raka langsung tahu dia berbohong.
Namun dia tidak memaksa.
“Kamu mau pergi ke mana?”
“Tidak ke mana-mana.”
“Kamu tidak pernah pandai berbohong.”
Maya menatapnya.
“Kamu juga tidak pernah menceritakan semua kebenaran kepadaku.”
Raka terdiam.
Jarak di antara mereka tiba-tiba terasa jauh lagi.
Di sisi lain ruangan, Ayu masih duduk dengan gaun pengantin.
Arga berdiri di sampingnya, tetapi tidak berani menyentuhnya.
Amplop hasil tes DNA masih berada di atas meja.
Belum ada yang membacanya.
Ayu tiba-tiba berdiri.
“Buka.”
Ratna langsung panik.
“Ayu…”
“Buka!”
Raka mengambil kertas dari dalam amplop.
Matanya membaca hasilnya.
Lalu dia mengangkat kepala.
“Candra Pratama bukan ayah biologismu.”
Ayu membeku.
Arga terlihat lega.
Namun hanya sedetik kemudian, Ayu tertawa getir.
“Kamu senang?”
“Ayu, aku hanya…”
“Kamu takut aku ternyata saudara tirimu, kan?”
Arga menegang.
“Bukan begitu.”
“Kalau begitu kamu masih mau menikah denganku?”
Arga tidak menjawab.
Ayu mengerti.
Ia melepas cincin di jarinya dan melemparkannya ke meja.
“Ini cincin yang pernah dipakai kakakku, kan?”
Wajah Arga berubah.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Kamu mengambil cincin kakakku untuk melamarku?”
“Cuma sementara…”
Tamparan keras terdengar.
“Apa kau pikir kami berdua ini apa?”
Maya melihat adiknya.
Anehnya, dia tidak merasa puas.
Ada hukuman yang tidak membuat seseorang bahagia.
Hanya membuat semuanya terasa semakin menyedihkan.
Maya berbalik kepada Ratna.
“Di mana brankas di Bandung?”
Ratna terkejut.
“Kamu mau ke sana?”
“Alamatnya.”
“Bukankah orang keluarga Adiwijaya bilang brankas itu sudah dibuka?”
“Alamatnya, Bu.”
Ratna akhirnya menyebut sebuah alamat di kawasan Dago, Bandung.
Maya mengingatnya.
Raka menatapnya.
“Aku ikut.”
“Tidak perlu.”
“Kamu mau pergi sendirian?”
“Aku ingin sendiri.”
“Tidak.”
Maya tertawa dingin.
“Dengan hak apa kamu melarangku?”
Raka terdiam.
“Kita belum menikah.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu jangan mengaturku seolah-olah aku sudah menjadi istrimu.”
Maya pergi.
Raka tidak mengejarnya.
Namun ketika pintu lift tertutup, dia mengambil ponselnya.
“Siapkan mobil.”
Asistennya bertanya,
“Mau ke mana, Pak Raka?”
“Bandung.”
Hampir pukul sepuluh malam.
Gerimis turun di gang-gang tua kawasan Braga.
Maya turun dari taksi di ujung jalan.
Lampu-lampu kuning memantul di jalan basah.
Alamat yang dikirim kepadanya berada di ujung gang sempit.
Sebuah rumah tua dengan pintu kayu hitam.
Maya mendorongnya.
Tidak terkunci.
Di dalam gelap.
“Ibu?”
Maya sendiri merasa aneh memanggilnya begitu.
Tidak ada jawaban.
Dia menyalakan lampu ponsel.
Di tengah halaman berdiri pohon kamboja tua.
Di seberangnya, cahaya samar keluar dari sebuah kamar.
Maya berjalan mendekat.
Pintunya terbuka.
Seorang perempuan berdiri membelakanginya.
Jaket abu-abu.
Rambut disanggul rendah.
Di pergelangan tangannya ada gelang giok hijau yang sama persis seperti yang pernah terlihat dalam sebuah rekaman CCTV lama.
Jantung Maya berdegup kencang.
“Siapa Anda?”
Perempuan itu perlahan berbalik.
Saat melihat wajahnya, Maya tidak bisa berkata apa-apa.
Perempuan itu berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya masih cantik, tetapi terlihat sangat lelah. Matanya merah seperti sudah menunggu pertemuan ini selama bertahun-tahun.
“Maya…”
Suaranya bergetar.
“Kamu sudah sebesar ini.”
Maya mengepalkan tangan.
“Anda Sari Wulandari?”
Perempuan itu mengangguk.
“Ya.”
“Ibu kandung saya?”
Air mata perempuan itu langsung jatuh.
“Ya.”
Maya mengira dirinya akan langsung memeluk perempuan itu.
Namun dia tidak mampu.
Dua puluh tujuh tahun kehilangan tidak bisa hilang hanya karena satu kata: ibu.
“Anda yang mengirim pesan?”
“Ya.”
“Kenapa Anda bilang saya tidak boleh percaya kepada Raka Adiwijaya?”
Wajah Sari berubah.
Dia menarik kursi.
“Duduklah.”
“Saya tidak datang untuk minum teh.”
“Maya…”
“Siapa yang menukar saya waktu itu?”
Sari menatap pintu.
“Pertama-tama, kamu harus tahu satu hal.”
Dia mengambil sebuah kotak kayu kecil dari tasnya.
Di dalamnya ada gelang bayi yang sudah menguning.
Tulisan di atasnya:
Sari Wulandari — Bayi Perempuan.
“Ini gelangmu.”
“Kenapa ada di sini?”
“Karena orang yang menukar kamu bukan perawat.”
Maya membeku.
“Maksud Anda?”
“Orang itu bisa keluar masuk ruang bersalin dengan bebas.”
“Siapa?”
Sari menggenggam gelang itu.
“Orang dalam keluarga.”
“Siapa?”
Tiba-tiba terdengar suara dari luar.
Sari langsung mematikan lampu.
“Ada orang datang!”
“Siapa?”
“Bukan Ibu.”
Langkah kaki berhenti di halaman.
Maya melihat melalui celah pintu.
Sosok seorang pria muncul di bawah atap.
“Raka?”
Sari mendadak pucat.
“Kamu bilang siapa?”
Raka masuk ke halaman.
“Maya!”
Maya membuka pintu.
“Kamu mengikutiku?”
“Aku mengkhawatirkanmu.”
Sari menatap Raka dengan wajah yang semakin aneh.
“Kamu… anak Laksana Adiwijaya?”
Raka membeku.
“Anda mengenal ayah saya?”
Kotak kayu di tangan Sari jatuh.
“Tidak mungkin…”
Maya menatap keduanya.
“Ada apa?”
Sari menunjuk Raka.
“Kamu tidak boleh menikah dengannya.”
Maya terkejut.
“Apa?”
“Tidak boleh!”
“Kenapa?”
Sari menatap Raka dengan air mata memenuhi matanya.
“Karena ayahnya adalah orang terakhir yang menggendongmu keluar dari ruang bayi malam itu.”
Raka membeku.
“Anda yakin?”
“Saya melihatnya sendiri.”
Maya merasa seluruh ruangan berputar.
“Ayahmu… yang membawa saya pergi?”
“Tidak.”
Sari menggeleng.
“Dia hanya menggendongmu. Tapi orang yang memberinya perintah…”
Dia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika ponsel Raka berdering.
Laksana Adiwijaya.
Raka mengangkat.
“Raka, segera bawa Maya pergi dari rumah itu.”
Raka mengerutkan kening.
“Bagaimana Ayah tahu kami di sini?”
Hening.
Justru keheningan itu membuat Maya merinding.
Dia merebut ponsel Raka.
“Ayah tahu Ibu ada di sini?”
“Maya…”
“Ayah tahu sejak awal?”
“Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalau begitu jelaskan!”
Laksana menghela napas.
“Tanyakan kepada Sari siapa yang memerintahkan Laksana Adiwijaya membawa kamu pergi.”
Maya menoleh kepada ibunya.
Sari menutup mata.
Lalu menyebut satu nama.
Hanya tiga suku kata.
Namun membuat Raka menjatuhkan ponselnya.
“Laksana Adiwijaya.”
BAB 2 — KEBOHONGAN SEORANG AYAH
“Laksana Adiwijaya.”
Tiga kata itu terdengar seperti pisau yang membelah rahasia selama dua puluh tujuh tahun.
Maya menatap Sari.
“Anda bilang dia yang memerintahkan saya dibawa pergi?”
Sari mengangguk.
Raka langsung bertanya,
“Ada buktinya?”
“Ada.”
“Di mana?”
“Sudah diambil dari brankas.”
Raka mengerutkan kening.
“Anda sudah membuka brankas?”
“Ya.”
“Apa isinya?”
Sari menatap Maya.
“Rekaman suara dan buku catatan milik Maya Sulastri.”
“Maya Sulastri ada hubungannya dengan saya?”
“Banyak.”
Raka bertanya,
“Dia yang bekerja di rumah sakit malam itu?”
Sari mengangguk.
“Maya Sulastri adalah perawat magang di rumah sakit tempat kamu dilahirkan.”
Maya membeku.
“Bibi Ayu?”
“Ya.”
“Dia tahu saya dibawa pergi?”
“Tahu.”
“Kenapa tidak pernah bicara?”
“Karena dia juga diancam dengan rahasianya sendiri.”
Raka bertanya,
“Anak Ayu?”
Sari mengangguk.
“Ayu belum menikah, tetapi saat itu dia hamil. Jika keluarga mengetahui kehamilannya, nama baik keluarga akan hancur. Ratna membawa Ayu ke Yogyakarta untuk melahirkan secara diam-diam.”
Maya mulai memahami sesuatu.
“Jadi malam itu ada dua bayi?”
“Tidak.”
Sari menatapnya.
“Ada tiga.”
Maya tersentak.
“Tiga?”
“Kamu, Ayu, dan anak kandung Ratna.”
Dada Maya terasa sesak.
“Anak kandung Ratna?”
“Ya.”
“Di mana anak itu?”
Sari menggeleng.
“Tidak ada yang tahu.”
Maya teringat perkataan ibunya.
Ibu pernah mengatakan rumah sakit mengalami kekacauan malam itu lalu membawa Maya pulang ke Jakarta.
Kalau begitu…
“Orang tua Ratna mengira saya anak mereka?”
“Awalnya begitu.”
“Lalu anak kandung mereka?”
“Hilang malam itu.”
Maya merasakan tubuhnya dingin.
“Lalu kenapa Laksana membawa saya pergi?”
Sari memejamkan mata.
“Karena masalah warisan.”
Maya tertawa kecil karena semuanya terdengar mustahil.
“Saya bahkan masih bayi.”
“Tapi kamu adalah cucu satu-satunya keluarga Wulandari.”
Sari menggenggam tangannya.
“Kakekmu saat itu memiliki saham besar di Adiwijaya Group. Dia tidak menyukai Laksana dan ingin saham itu suatu hari diwariskan kepadamu.”
“Jadi Laksana menginginkan saham itu?”
“Ya.”
“Kalau begitu kenapa dia menikahi Anda?”
Sari terdiam.
“Bukan suami saya.”
Maya menatapnya.
“Lalu?”
“Saya pernah menikah dengannya.”
“Kalau begitu kenapa dia mengatakan dia ayah saya?”
Sari menutup mata.
“Karena ayah kandungmu adalah orang lain.”
Semua yang terasa mulai jelas kembali menjadi kacau.
Maya berdiri.
“Cukup!”
“Maya…”
“Kalian semua hanya mengatakan setengah kebenaran!”
Dia menatap Sari.
“Laksana melakukan tes DNA dengan saya. Hasilnya menyatakan dia ayah saya.”
Sari langsung pucat.
“Tidak mungkin.”
“Saya melihat hasilnya sendiri!”
“Dia bukan ayah biologismu.”
“Kalau begitu siapa yang berbohong?”
Tidak ada yang menjawab.
Raka tiba-tiba berkata,
“Hasil DNA.”
Maya menoleh.
“Maksudmu?”
“Kita belum pernah memverifikasi sampel ayah secara langsung.”
“Kamu curiga hasilnya dipalsukan?”
“Aku curiga pada semua hal yang belum diverifikasi.”
Sari mengangguk.
“Kamu harus melakukan tes ulang.”
Maya tertawa pahit.
“Hari ini saya sudah melihat berapa banyak hasil tes?”
Raka melangkah mendekat.
“Kali ini aku akan ikut.”
“Dan saya harus percaya padamu?”
Raka terdiam.
Maya menatapnya.
“Ayahmu adalah orang yang membawa saya pergi.”
“Aku tahu.”
“Kamu masih menyembunyikan sesuatu?”
“Tidak.”
“Bersumpahlah.”
Raka menatap matanya.
“Aku tidak tahu ayahku terlibat dalam semua ini.”
Maya ingin percaya.
Tetapi setelah semua kebohongan, kepercayaan telah menjadi sesuatu yang sangat mahal.
Saat itu terdengar ketukan dari luar.
“Maya!”
Suara Ratna.
Maya membuka pintu.
Ratna berdiri di bawah hujan, rambutnya basah.
Di belakangnya ada Budi Kusumawardana, ayah Maya.
“Kamu benar-benar di sini!”
Maya menatap dingin.
“Ayah dan Ibu mengikuti saya?”
“Tidak.”
Ratna menatap Sari.
“Dia yang memanggil kami.”
Maya menoleh.
Sari mengangguk.
“Ibu memanggil mereka.”
“Kenapa?”
“Karena ada sesuatu yang harus mereka katakan.”
Budi masuk.
Begitu melihat Sari, dia langsung menundukkan kepala.
“Nona Sari.”
“Pak Budi.”
Mereka jelas saling mengenal.
Maya bertanya langsung,
“Di mana anak kandung Ibu dan Ayah?”
Ratna gemetar.
“Siapa yang bilang?”
“Ibu kandung saya.”
Budi menjawab,
“Kami tidak tahu.”
“Sari bilang malam itu ada tiga bayi.”
“Benar.”
“Kalau begitu kenapa Ayah dan Ibu membawa saya pulang?”
Budi menjawab,
“Karena gelangmu ditukar.”
“Oleh siapa?”
“Kami tidak tahu.”
Ratna menangis.
“Setelah mengetahui kamu bukan anak kandung kami, Ibu kembali ke Yogyakarta untuk mencari. Tapi catatan rumah sakit sudah diubah.”
“Kenapa tidak lapor polisi?”
Budi menundukkan kepala.
“Karena perusahaan keluarga sedang bergantung pada sebuah pinjaman.”
“Apa hubungannya?”
“Ada seseorang yang mengatakan kalau kami terus menyelidiki, pinjaman itu akan ditarik.”
“Siapa?”
Dia tidak menjawab.
Sari berkata,
“Laksana Adiwijaya.”
Maya memejamkan mata.
Lagi-lagi nama itu.
Budi mengangguk.
“Dia datang menemui saya secara pribadi.”
“Apa katanya?”
“Dia meminta kami membesarkanmu dengan baik.”
“Sebagai gantinya?”
“Keluarga kami diselamatkan.”
Maya tersenyum getir.
“Jadi sejak kecil saya sudah punya harga.”
“Maya!”
Ratna berlari mendekat.
“Ibu tidak pernah menganggapmu sebagai barang.”
“Tapi hari ini Ibu menukarkan saya dengan kontrak keluarga Pratama.”
Ratna terdiam.
Dia tidak mampu menyangkalnya.
Raka tiba-tiba menerima pesan.
Wajahnya berubah.
“Hasil DNA baru sudah keluar.”
Maya menatapnya.
“Secepat itu?”
“Rumah sakit swasta di dekat sini.”
“Hubungan saya dengan Laksana?”
Raka memberikan ponselnya.
Maya membaca hasilnya.
Lalu seluruh tubuhnya membeku.
Tidak ditemukan hubungan biologis ayah-anak.
Sari menutup mata.
“Aku sudah bilang.”
Maya merasa kosong.
“Kalau begitu siapa ayah kandung saya?”
Tidak ada yang menjawab.
Budi tiba-tiba menatap Sari.
“Kamu belum mengatakannya?”
Sari pucat.
Maya langsung menyadari.
“Ibu tahu?”
Ratna memalingkan wajah.
“Maya…”
“Katakan!”
Sari menangis.
“Ayah kandungmu sudah meninggal.”
“Namanya siapa?”
Sari menatap Raka.
Tatapan itu membuat Raka tiba-tiba merasa tidak nyaman.
“Ibu, katakan.”
Sari membuka mulut.
“Namanya Laksana.”
Maya membeku.
“Laksana siapa?”
Sari berbisik,
“Laksana Wiratama.”
Raka langsung menatapnya.
“Paman Wiratama?”
“Adik bungsu ayahmu.”
Maya membeku.
Sari mengangguk.
“Dia meninggal dalam kecelakaan ketika Ibu mengandungmu lima bulan.”
Raka seperti sedang menyusun kembali semua kenangannya.
“Keluarga bilang Paman Wiratama tidak pernah menikah.”
“Kami belum sempat mendaftarkan pernikahan.”
Sari menghapus air matanya.
“Ayahmu tahu kakekmu ingin memberikan saham kepadamu. Dia sangat bahagia. Tapi setelah dia meninggal, semuanya berubah.”
“Laksana menginginkan saham?”
“Ya.”
“Lalu dia menikahi Ibu?”
Sari mengangguk.
“Pernikahan itu awalnya hanya untuk melindungi kami. Setidaknya itulah yang Ibu pikirkan.”
“Tapi dia membawa saya pergi?”
“Ibu tidak tahu apa niat sebenarnya.”
Raka berkata,
“Mungkin Ayah tidak bermaksud menyakiti Maya.”
Maya menatapnya.
“Kamu masih membelanya?”
“Aku hanya ingin bukti.”
Saat itu ponsel Sari berdering.
Sebuah pesan masuk.
Wajahnya langsung berubah.
“Orang yang mengambil barang dari brankas ingin bertemu.”
“Siapa?”
“Tidak menyebutkan nama.”
Pesan itu berisi sebuah alamat.
Sebuah kedai teh tua di pinggir Sungai Ciliwung.
Hampir tengah malam.
Kedai itu sudah tutup.
Namun lantai duanya masih terang.
Maya naik lebih dulu.
Raka mengikutinya.
Di sebuah ruangan yang menghadap sungai, seorang pria tua sedang duduk menyeduh teh.
Maya mengenalinya.
“Candra Pratama?”
Ayah Arga mengangkat kepala.
“Akhirnya kamu datang.”
Raka berdiri di depan Maya.
“Anda mengambil barang dari brankas?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena barang itu awalnya dititipkan Maya Sulastri kepadaku.”
Sari melangkah maju.
“Kamu dan Maya pernah saling mencintai?”
Candra mengangguk.
“Ya.”
“Tapi Ayu bukan anakmu.”
“Bukan.”
Maya bertanya,
“Kalau begitu siapa ayahnya?”
Candra diam.
“Kamu tahu?”
“Tahu.”
“Siapa?”
Candra menuang teh.
“Pertanyaan itu seharusnya dijawab oleh ibu angkatmu.”
“Ibu bilang tidak tahu.”
“Dia berbohong.”
Maya menutup mata.
Lagi-lagi kebohongan.
Candra meletakkan sebuah alat perekam suara tua di atas meja.
“Ini yang ada di dalam brankas.”
Raka bertanya,
“Anda mengambilnya untuk menghancurkannya?”
“Kalau aku ingin menghancurkannya, kalian tidak akan melihatnya.”
Dia menekan tombol.
Suara berdesis terdengar.
Kemudian suara seorang perempuan muda.
“Kak, ini aku, Maya Sulastri.”
Ratna yang berada di bawah langsung berlari naik.
“Maya…”
Dia menutup mulutnya.
Rekaman berlanjut.
“Kalau Kakak mendengar rekaman ini, mungkin aku sudah tidak punya kesempatan untuk bicara langsung.”
“Malam itu aku menukar gelang dua bayi.”
Maya membeku.
Sari melangkah maju.
“Tidak…”
Suara dalam rekaman berlanjut.
“Tapi aku bukan orang yang merencanakannya.”
Semua menahan napas.
“Ada seseorang yang menyuruhku hanya menukar gelang itu.”
“Dia berjanji akan memberikan anakku identitas yang layak.”
“Aku setuju karena aku takut.”
“Tapi kemudian aku menyesal.”
“Ketika aku kembali ke ruang bayi, semuanya sudah berubah.”
“Anak Kakak hilang.”
Ratna terduduk.
Rekaman masih berjalan.
“Aku tahu siapa yang berada di balik semua ini.”
Semua orang diam.
Suara dalam rekaman mengecil.
“Dia adalah…”
Suara tiba-tiba berdesis keras.
Rekaman berhenti.
Raka mengerutkan kening.
“Rusak?”
Candra menggeleng.
“Bagian itu dihapus.”
“Oleh siapa?”
“Tidak tahu.”
Maya menatapnya.
“Jadi kami datang ke sini untuk mendengar rekaman yang bahkan tidak menyebut nama pelaku?”
“Tidak.”
Candra mengeluarkan sebuah buku catatan.
“Rekaman tidak menyebut namanya. Tapi buku ini mungkin bisa.”
Dia membuka halaman terakhir.
Satu halaman telah disobek.
“Di mana halaman pentingnya?”
“Diambil seseorang sebelum aku.”
Raka bertanya,
“Siapa?”
Candra menatap ke bawah.
Semua ikut melihat.
Budi berdiri di tangga.
Wajahnya putih.
“Bukan saya.”
Maya menatap ayahnya.
“Bagaimana Ayah tahu tentang brankas?”
“Ibumu pernah memberitahuku.”
“Tapi Ibu tidak pernah memberitahu kode.”
Budi terdiam.
Maya perlahan turun.
“Ayah.”
Budi menatapnya.
“Di mana halaman itu?”
“Ayah tidak mengambilnya.”
“Kalau begitu lihat mata saya dan katakan lagi.”
Budi tidak sanggup.
Maya merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
“Kenapa?”
Budi menutup mata.
“Ayah hanya ingin melindungi keluarga.”
“Keluarga yang mana?”
“Nama keluarga Kusumawardana.”
“Dengan menyembunyikan kebenaran tentang saya?”
“Bukan hanya tentangmu.”
Budi menatap Ratna.
“Tapi juga tentang anak kandung kita.”
Ratna membeku.
“Kamu tahu dia di mana?”
Budi tidak menjawab.
“Kamu tahu anak kita masih hidup?”
“Masih hidup.”
Dua kata itu membuat Ratna hampir jatuh.
“Di mana?”
“Dekat.”
“Siapa?”
Budi mengeluarkan selembar kertas yang dilipat empat dari sakunya.
“Ini halaman terakhir buku itu.”
Candra langsung berdiri.
“Kamu benar-benar mengambilnya?”
“Ya.”
“Apa isinya?”
Budi menatap Maya.
“Identitas tiga bayi setelah malam itu.”
Tidak ada yang berani bernapas.
Dia membuka kertas.
“Bayi pertama, putri Sari Wulandari, dibawa dari rumah sakit lalu akhirnya dibesarkan keluarga Kusumawardana.”
Maya mengepalkan tangannya.
Itu dirinya.
“Bayi kedua, putri Maya Sulastri, kemudian dibesarkan Ratna.”
“Eka,” bisik Ratna.
“Benar.”
“Dan anak saya?”
Budi terdiam.
Ratna berteriak,
“Katakan!”
“Bayi ketiga tidak hilang.”
Ratna membeku.
“Maksudmu?”
“Dia diberikan kepada keluarga lain.”
“Keluarga siapa?”
Budi menatap Candra.
“Bukan keluarga Pratama.”
Dia menggeleng.
“Sebuah keluarga di Jakarta.”
Maya bertanya,
“Ayah tahu siapa dia sekarang?”
“Tahu.”
“Lalu kenapa dua puluh satu tahun Ayah tidak membawanya pulang?”
Budi tersenyum pahit.
“Karena ketika Ayah menemukannya, dia hidup jauh lebih baik daripada siapa pun di keluarga kita.”
“Siapa dia?”
Budi menatap Maya.
Kemudian menatap Raka.
Tatapan itu membuat Raka tiba-tiba merasa tidak nyaman.
Budi memberikan kertas itu kepada Ratna.
Ratna membacanya.
Kakinya langsung lemas.
“Tidak mungkin…”
Maya menopang tubuhnya.
“Ibu?”
Ratna menatap pintu.
Semua orang ikut menoleh.
Seorang perempuan muda baru saja muncul.
Mantelnya berwarna krem.
Rambutnya panjang.
Wajahnya cantik dan tenang.
Raka langsung mengenalinya.
“Nadia Adiwijaya?”
Maya pernah mendengar nama itu.
Sepupu Raka.
Satu-satunya putri yang sejak kecil selalu dimanjakan keluarga Adiwijaya.
Nadia menatap semua orang di ruangan.
Lalu melihat Budi.
“Paman memanggil saya ke sini untuk apa?”
Ratna memandangnya.
Air matanya tidak berhenti.
“Anakku…”
Nadia mengerutkan kening.
“Anda siapa?”
Ratna maju, tetapi tidak berani menyentuhnya.
Budi berkata,
“Nadia Adiwijaya bukan anak kandung keluarga Adiwijaya.”
Raka berbalik.
“Apa?”
“Dia adalah putri kandungku dan Ratna.”
Nadia tertawa.
“Paman sedang bicara apa?”
Tidak ada yang tertawa.
Wajah Nadia mulai pucat.
“Mas Raka?”
Raka tidak tahu harus menjawab apa.
Nadia mundur.
“Tidak mungkin.”
Ratna menangis.
“Ibu minta maaf…”
“Jangan panggil aku begitu!”
Nadia berbalik hendak pergi.
Namun Candra tiba-tiba berkata,
“Tunggu.”
Dia melihat kertas itu.
“Ada yang tidak benar.”
Budi mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Tanggal lahir.”
Candra menunjuk baris terakhir.
“Nadia lahir tanggal tujuh belas Agustus.”
“Lalu?”
“Tiga bayi di rumah sakit itu semuanya lahir tanggal enam belas.”
Ruangan langsung membeku.
Ratna merebut kertas itu.
Benar.
Tanggalnya berbeda.
Budi menjadi pucat.
“Tidak mungkin…”
Raka langsung memahami.
“Halaman ini sudah diubah.”
Maya memandang semua orang di sekelilingnya.
Setelah semua kebohongan ini, mereka masih belum tahu siapa sebenarnya bayi ketiga.
Ponsel Maya tiba-tiba bergetar.
Nomor asing yang sama.
Sebuah pesan baru masuk.
Akhirnya kamu menemukannya.
Maya langsung menelepon.
Kali ini seseorang mengangkat.
Bukan suara perempuan.
Suara seorang pria tua.
“Kamu ingin tahu siapa sebenarnya anak kandung Ratna Kusumawardani?”
Maya merasa tubuhnya dingin.
“Siapa Anda?”
Pria itu tertawa pelan.
“Seharusnya kamu menanyakan pertanyaan lain.”
“Pertanyaan apa?”
“Di antara tiga perempuan yang berdiri di sana…”
Suaranya berhenti sejenak.
“…siapa yang sampai sekarang belum pernah melakukan tes DNA?”
Maya melihat sekeliling.
Dirinya sudah pernah dites.
Eka juga memiliki hasil tes.
Nadia berdiri tepat di depannya.
Lalu Maya teringat seseorang.
Seseorang yang sejak awal tidak pernah benar-benar masuk ke dalam cerita.
Maya menoleh kepada Budi.
“Ayah…”
Budi langsung pucat.
“Keluarga kita… masih punya satu anak perempuan lagi.”
Ratna menjatuhkan kertas itu.
Karena mereka berdua tiba-tiba teringat kepada putri sulung yang sejak usia tiga tahun dikirim ke Australia untuk tinggal bersama neneknya.
Kirana Kusumawardana.
Perempuan yang selama dua puluh empat tahun…
tidak pernah sekalipun kembali ke Indonesia.
