Hendra berjalan melewati Siska, membawa panci tembaganya, dan keluar menuju mobil.

PART 2

Mobil sedan tua milik Hendra menyusuri jalan raya yang lengang.

Baru 10 menit berkendara, ponsel di dasbor berdering.

Nama Aris muncul di layar.

Hendra menekan tombol speaker.

“Ayah, tolong antarkan kembali makanannya,” suara Aris terdengar panik dari seberang telepon.

“Pak Raymond sudah bertanya soal aroma masakan, dan Siska sekarang sedang menangis di kamar.”

“Kamu mendengar apa yang dikatakan Siska pada Ayah tadi?” tanya Hendra tenang.

Hening sejenak di ujung telepon.

“Iya, Aris tahu. Tapi tolong mengerti posisi Aris, Yag. Sebagai orang tua, Ayah harusnya bisa lebih mengalah demi masa depan anak.”

Hendra tidak menjawab.

Ia langsung mematikan sambungan telepon.

Tiba di rumahnya yang sepi, Hendra meletakkan panci tembaga itu di atas meja dapur.

Di sampingnya terletak kotak kayu cokelat berisi kartu resep almarhumah istrinya.

Ketika Hendra membuka tutup kotak kayu itu, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa.

Beberapa kartu resep posisi lipatannya terbalik.

Kartu resep itu pernah dibongkar oleh seseorang.

40 menit kemudian, pintu depan rumah Hendra diketuk pelan.

Kevin berdiri di luar sambil membawa tas punggung.

“Kakek, ada hal penting yang harus Kakek ketahui,” ujar Kevin langsung.

Mereka berdua duduk di meja makan.

Kevin menceritakan bahwa selama 3 bulan terakhir, Siska sering datang ke rumah Hendra saat Hendra sedang keluar rumah.

Siska memotret seluruh kartu resep rahasia milik Rahma.

Istri Pak Raymond, Bu Vina, baru saja mendirikan perusahaan katering eksklusif.

Bu Vina sedang mengincar kontrak besar bernilai miliaran rupiah dengan sebuah jaringan hotel berbintang di Jakarta.

Siska memberikan resep-resep kuliner milik ibunya kepada Bu Vina agar Bu Vina bisa mengaku memiliki pengalaman kuliner puluhan tahun.

“Resep daging panggang saus anggur merah malam ini adalah menu utama yang akan mereka pamerkan,” bisik Kevin.

“Ibu bilang tidak akan ada orang yang tahu dari mana resep itu berasal.”

Kevin lalu mengeluarkan ponselnya.

Ia memutar sebuah rekaman suara.

Sore harinya, Kevin secara tidak sengaja merekam percakapan telepon antara Siska dan Bu Vina di halaman belakang.

Suara Siska terdengar sangat jelas di dalam rekaman:

“Bu Vina tenang saja, resep resep ini milik almarhumah ibu saya. Ayah saya yang masak sore ini. Setelah masakan matang, Bu Vina tinggal klaim itu racikan tim katering Bu Vina. Ayah saya tidak akan protes karena dia tidak tahu apa-apa.”

Hendra mendengarkan rekaman itu sampai selesai.

Wajahnya tetap tenang, tetapi tangannya memegang erat tepi meja.

“Kapan mereka mempresentasikan menu itu ke pihak hotel?” tanya Hendra.

“Hari Kamis malam. Di rumah Ibu lagi,” jawab Kevin.

Hendra menutup kotak kayu resep milik Rahma dengan perlahan.

Kini ia sadar.

Makan malam hari ini bukan sekadar tentang membantu promosi Aris.

Anak dan mantunya sedang menjual karya hidup almarhumah istrinya demi keuntungan pribadi.

Senin pagi pukul 09.00 WIB, Hendra mendatangi kantor Samuel, mantan akuntan dan pengelola keuangan Rumah Makan Rahma selama 18 tahun.

Samuel mendengarkan cerita Hendra dari awal hingga akhir tanpa memotong.

Setelah cerita selesai, Samuel membuka laptopnya.

“Apakah istri bos mantumu menggunakan nama Rumah Makan Rahma atau nama almarhumah Ibu Rahma secara terbuka?” tanya Samuel.

Mereka memeriksa situs web bisnis katering milik Bu Vina.

Situs itu terlihat sangat profesional dengan foto-foto hidangan mewah.

Di halaman profil, tertulis sebuah kalimat:

“Hidangan kami dibuat berdasarkan warisan resep rahasia keluarga dari Rumah Makan Rahma yang terkenal sejak tahun 1995.”

Hendra membaca kalimat itu berkali-kali.

Bu Vina tidak pernah mengenal Rahma.

Bu Vina tidak pernah bekerja di rumah makan itu.

Bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di sana.

“Ini bukan cuma soal masalah keluarga,” kata Samuel tegas.

“Ini adalah klaim palsu dalam kegiatan bisnis. Kita harus mengumpulkan semua bukti legalitas.”

Selama 3 hari berikutnya, Hendra mengumpulkan dokumen dari arsip lamanya.

Ia menemukan izin usaha Rumah Makan Rahma tahun 1995, bukti hak cipta resep keluarga, foto-foto penyerahan penghargaan kuliner atas nama Rahma, hingga nota pembelian bahan baku bertanggal puluhan tahun lalu.

Ia juga mencetak seluruh tampilan situs web Bu Vina dan menyimpan file rekaman suara dari Kevin.

Hendra kemudian menemui Susilo, seorang pengacara senior yang merupakan pelanggan setia Rumah Makan Rahma dulu.

Setelah memeriksa seluruh berkas, Susilo mengangguk.

“Bukti ini sangat kuat. Kita tidak perlu berdebat panjang. Kita hanya perlu menunjukkan fakta di depan pihak yang berkepentingan.”

Hari Kamis pukul 18.30 WIB.

Hendra duduk di dalam mobil Susilo, parkir sekitar 50 meter dari rumah Siska di BSD.

Pukul 19.00 WIB, dua mobil mewah hitam muncul dan parkir di halaman rumah Siska.

Itu adalah rombongan pimpinan eksekutif dari jaringan hotel berbintang.

Pukul 19.15 WIB, pesan dari Kevin masuk ke ponsel Hendra:

“Pihak hotel sudah duduk di meja makan.”

Hendra dan Susilo turun dari mobil.

Hendra tidak menggunakan kunci cadangan yang masih ia simpan.

Ia menekan bel pintu depan.

Aris yang membukakan pintu.

Saat melihat Hendra berdiri bersama seorang pria berjas membawa map tebal, wajah Aris mendadak pucat.

“Ayah? Sedang apa di sini? Ini acara sangat penting,” bisik Aris panik.

“Justru karena penting, Ayah harus hadir,” jawab Hendra datar.

Hendra berjalan masuk menuju ruang makan utama.

Di sana, 8 orang duduk mengelilingi meja makan yang dihias mewah.

Bu Vina duduk di dekat dua pejabat tinggi jaringan hotel.

Pak Raymond duduk di ujung meja.

Siska berdiri sambil tersenyum kaku, menyajikan hidangan di tengah meja.

Di atas meja, tersaji daging sapi panggang yang mencoba meniru racikan Hendra.

Sausnya terlalu cair dan warnanya terlalu pucat.

Hendra tahu mereka memasaknya terlalu cepat tanpa teknik yang benar.

Langkah kaki Hendra membuat seluruh ruangan menjadi hening.

“Ada apa ini, Siska?” tanya Pak Raymond heran.

Siska menatap ayahnya dengan mata membelalak. “Ayah, tolong keluar!”

Hendra menatap dua utusan pihak hotel.

“Selamat malam. Nama saya Hendra. Selama 26 tahun saya dan almarhumah istri saya mendirikan dan mengelola Rumah Makan Rahma.”

Wajah Bu Vina berubah seketika.

“Maaf, Pak Raymond, orang tua ini mungkin salah masuk rumah,” potong Bu Vina cepat.

Susilo maju melangkah dan meletakkan map tebal di atas meja makan.

“Saya Susilo, kuasa hukum Bapak Hendra. Kami datang untuk menyelaraskan informasi terkait klaim resep dan sejarah bisnis yang dicantumkan dalam proposal katering milik Ibu Vina.”

Salah satu perwakilan hotel, seorang pria berjas abu-abu bernama Pak Bambang, membuka map tersebut.

Susilo menunjukkan surat izin usaha Rumah Makan Rahma atas nama Hendra dan Rahma, lengkap dengan dokumen pendaftaran hak cipta resep.

Lalu Susilo meletakkan salinan transkrip rekaman suara di hadapan Pak Bambang.

“Perusahaan katering Ibu Vina mengklaim memiliki warisan resep kuliner tradisional dari Rumah Makan Rahma. Padahal, pemilik sah dari resep tersebut tidak pernah memberikan izin lisensi atau kerja sama dalam bentuk apa pun,” tegas Susilo.

Pak Bambang membaca dokumen tersebut dengan teliti.

Matanya tertuju pada lembar transkrip percakapan antara Siska dan Bu Vina.

“Apakah ini benar?” tanya Pak Bambang sambil menatap Bu Vina.

Bu Vina gagap. “I-itu cuma kesalahpahaman internal keluarga mereka!”

Siska mencoba membela diri. “Ayah saya selalu memasak resep itu untuk kami! Itu resep keluarga, jadi saya berhak membagikannya!”

Hendra menatap putrinya dengan pandangan dingin.

“Ayah memasak untuk memberi makan anak dan cucu Ayah, Siska. Bukan untuk kamu jual kepada orang lain agar kamu bisa berpura-pura menjadi pemilik sejarah yang tidak pernah kamu bangun.”

Pak Raymond berdiri dari kursinya.

Ia membaca transkrip rekaman di mana nama Aris dan posisi direktur operasional ikut disebut sebagai bagian dari kesepakatan ini.

“Aris,” suara Pak Raymond terdengar berat. “Kamu tahu soal ini?”

Aris gemetaran. “Saya… saya tidak tahu detailnya, Pak. Ini semua ide Siska dan Bu Vina!”

Siska menoleh kaget ke arah suaminya. “Aris! Kamu ikut merencanakan ini malam itu! Kenapa sekarang kamu lempar semua ke aku?”

Suasana ruang makan menjadi panas.

Siska dan Aris saling menunjuk dan berdebat di depan semua orang.

Pak Bambang dari pihak hotel berdiri, memotong perdebatan mereka.

“Kami dari pihak manajemen hotel membatalkan seluruh proses penilaian katering ini malam ini. Kami tidak bisa bekerja sama dengan pihak yang tidak jujur mengenai keabsahan produk dan sejarah usahanya.”

Pak Bambang lalu berbalik menatap Hendra.

Ia memberikan kartu namanya.

“Pak Hendra, kami menghormati resep asli Rumah Makan Rahma. Jika Pak Hendra berkenan, minggu depan kami ingin mengundang Pak Hendra secara resmi ke kantor kami untuk mendiskusikan konsultasi kuliner secara legal.”

Hendra menerima kartu nama itu dan mengangguk pelan. “Terima kasih.”

Dua utusan hotel itu segera merapikan berkas mereka dan keluar dari rumah.

Pak Raymond menatap Aris dengan tatapan kecewa yang sangat dalam.

“Aris, besok pagi datang ke ruangan saya. Surat keputusan promosi kamu dibatalkan, dan divisi kepatuhan internal akan memeriksa posisi kamu.”

Pak Raymond memanggil istrinya, lalu berjalan keluar meninggalkan rumah itu.

Pintu depan tertutup keras.

Ruang makan mewah itu kini terasa sunyi dan mencekam.

Siska menatap Hendra dengan amarah.

“Ayah puas sekarang? Ayah sudah menghancurkan karir Aris dan masa depan keluarga kami!”

Dari arah tangga, Kevin berjalan turun membawa tas pakaian besar.

“Bukan Kakek yang menghancurkannya, Ibu,” kata Kevin.

“Ibu dan Mas Aris sendiri yang menghancurkannya sejak Ibu menaruh 6 piring di meja malam itu.”

Siska tertegun melihat anaknya membawa tas. “Kevin, kamu mau ke mana?”

“Saya mau tinggal bersama Kakek,” jawab Kevin mantap.

Siska mencoba menahan tangan Kevin, tetapi Kevin menghindar dan berdiri di samping Hendra.

Siska beralih memandang ayahnya.

“Ayah tega melakukan ini pada anak kandung Ayah sendiri?”

Hendra menatap putrinya untuk terakhir kalinya malam itu.

“Selama bertahun-tahun, Ayah selalu mengalah karena Ayah pikir itu cara menjaga keluarga. Tapi Ayah salah. Keluarga tidak dibangun di atas kebohongan, dan Ayah tidak akan membiarkan nama almarhumah ibumu dipakai untuk perbuatan curang.”

Hendra berbalik dan berjalan keluar bersama Kevin dan Susilo.

6 bulan berlalu.

Dampak dari peristiwa malam itu mengubah banyak hal.

Promosi Aris dibatalkan sepenuhnya.

Ia dipindahkan ke cabang luar kota dengan penurunan jabatan karena pelanggaran etika perusahaan.

Usaha katering Bu Vina ditutup total setelah kabar tentang klaim resep palsu itu tersebar di kalangan pengusaha acara.

Siska dan Aris harus menjual rumah mewah mereka di BSD untuk menutup utang operasional dan pindah ke rumah kontrakan yang jauh lebih kecil.

Sementara itu, di rumah sederhana milik Hendra, dapur tua itu kembali hidup.

Setiap hari Minggu, aroma masakan gurih selalu memenuhi ruangan.

Kevin kini mahir memasak beberapa resep warisan neneknya.

Ia membantu Hendra menyusun buku resep resmi yang diterbitkan secara terbatas dengan judul: Rahma dan Hendra: Warisan Rasa Tanpa Kebohongan.

Pada suatu hari Minggu pukul 13.10 WIB, bel rumah Hendra berbunyi.

Hendra membuka door.

Siska berdiri di depan pintu.

Wajahnya tampak jauh lebih kurus, tanpa pakaian mewah, dan tanpa riasan tebal.

Ia berdiri sendirian tanpa Aris.

Hendra memandangnya tanpa kata.

Siska menundukkan kepala.

“Aroma masakannya… masih sama seperti dulu,” bisik Siska dengan suara bergetar.

Hendra tidak menjawab.

Siska menelan ludah, air mata mulai menetes di pipinya.

“Siska minta maaf, Ayah…”

Hendra melihat ke dalam rumah.

Di meja makan kecilnya, sudah tertata 2 piring untuk dirinya dan Kevin.

Hendra tidak mengucapkan patah kata pun bahwa ia sudah memaafkan semuanya.

Proses menyembuhkan luka butuh waktu.

Namun, Hendra berjalan ke lemari piring.

Ia mengambil piring ketiga.

Lalu ia meletakkan piring itu di atas meja makan, persis di sebelah kursi yang kosong.

Hendra menatap putrinya dari kejauhan.

“Duduklah. Makanannya nanti dingin.”

Siska berjalan masuk perlahan, mengambil tempat duduk di kursi tersebut, dan menangis perlahan di meja makan.

Hari itu, ada 3 orang yang duduk bersama di satu meja.

Tidak ada yang makan di dapur.

Dan tidak ada lagi kursi yang dihilangkan.