Dipaksa Makan Di Dapur Oleh Mertua Kejam Dan Suami Penakut Karena Menganggapku Penjahit Miskin Beban Keluarga, Mereka Sombong Mengusirku Tanpa Tahu Perusahaan Triliunan Rupiah Yang Mereka Sembah Adalah Milikku Dan Dosa Besar Mereka Terbongkar!

“Brak!”
Suara kursi terseret kasar menggema di ruang makan mewah berlantai marmer di kawasan elit Menteng, Jakarta Selatan. Tubuhku hampir saja terjerembap ke lantai sebelum sempat mendaratkan pinggulku di atas busa empuk kursi tersebut.
“Jangan berani-berani duduk di sini! Tempat ini khusus untuk anggota keluarga berkasta tinggi, bukan untuk wanita dari kampung yang cuma menumpang hidup!”
Ibu Ratna, mertuaku, berdiri tegak dengan mata melotot tajam. Gaun sutra mahal berbalut perhiasan emas di lehernya berkilauan di bawah lampu kristal ruang makan. Tangannya masih mencengkeram sandaran kursi yang baru saja ia tarik secara paksa dari bawah tubuhku.
Seketika, dentang sendok dan garpu terhenti. Suasana di ruang makan yang megah itu mendadak hening mencengkam.
Di atas meja kayu jati berukir itu, sudah tersaji berbagai hidangan mewah. Ada rendang daging sapi kental yang harum, ayam pop khas Padang, sate kambing muda, gulai kepala ikan, dan berbagai masakan mahal yang sengaja dipesan dari restoran bintang lima untuk menyambut acara makan malam keluarga besar suamiku.
Aku berdiri mematung di tengah ruangan. Wajahku memanas, rasa malu yang membakar menjalar cepat dari dada hingga ke ujung telingaku.
Namaku Laras.
Empat tahun lalu, aku mengikat janji suci pernikahan dengan Rizky, pria yang kuduga akan menjadi pelindung hidupku. Namun selama empat tahun itu pula, aku tidak pernah dianggap sebagai manusia utuh di rumah ini. Bagi keluarga besar ini, aku hanyalah parasit.
Rizky berasal dari keluarga pengusaha kaya raya di Jakarta. Sementara aku? Aku hanya seorang anak yatim yang dibesarkan oleh seorang ibu berhati emas yang menggantungkan hidup dari warung kelontong kecil di pelosok kampung Yogyakarta.
Sebelum menikah, aku bekerja membanting tulang sebagai penjahit pesanan di sebuah kontrakan sempit. Namun setelah mengikat janji nikah, Rizky memintaku berhenti. Dia berjanji akan menanggung seluruh hidupku dan memintaku fokus mengurus rumah tangga.
Aku menurut. Aku mengorbankan seluruh impian dan kebebasanku demi menghormati suamiku. Tapi ternyata, pengorbananku justru menjadi senjata bagi mereka untuk menginjak-injak harga diriku setiap hari.
“Laras! Kenapa masih berdiri seperti patung di situ? Bawa piringmu dan makan di dapur saja!” perintah Ibu Ratna dengan suara melengking penuh penghinaan.
Aku menatap mata mertuaku, menahan getaran di bibirku. “Kenapa aku harus makan di dapur, Bu? Aku ini istri sah Rizky.”
Ibu Ratna tertawa sinis, suara tawa yang terdengar sangat merendahkan. “Astaga! Jangan bikin saya mengulang kalimat yang sama! Kamu itu tidak sadar diri! Orang kampung tanpa pendidikan seperti kamu tidak pantas duduk sejajar dengan trah keluarga kami!”
Beberapa saudara kandung dan sepupu Rizky saling berbisik. Saling lempar senyum ejekan. Ada yang berpura-pura terbatuk untuk menyembunyikan tawa geli mereka melihat penderitaanku.
Aku berusaha tersenyum, mengendalikan napas yang mulai memburu. “Baik, Bu.”
Aku mengambil sebuah piring porselen, hendak mengisinya dengan sedikit nasi. Namun belum sempat sendok menyentuh piring, seorang wanita bergaun merah di sebelah Rizky mendengus kencang.
“Ya Allah, Rizky… kasihan sekali hidupmu,” ujar wanita itu dengan nada berpura-pura prihatin. “Dulu aku kira kamu akan menikah dengan putri pengusaha kaya yang bisa membantu kejayaan bisnismu. Ternyata kamu malah memungut wanita dari jalanan yang cuma jadi beban dan benalu!”
Namanya Maya. Dia sepupu kandung Rizky yang merasa paling berkuasa karena mengelola sebuah toko pakaian wanita kelas atas di mall ternama. Sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di rumah ini, Maya selalu memandangku dengan tatapan jijik.
Aku menghentikan pergerakanku. Pandanganku beralih pada pria yang duduk tepat di samping Maya.
Pria yang berjanji di depan penghulu untuk selalu menjaga dan membelaku.
Rizky.
Aku menatap matanya dalam-dalam. Berharap ada sedikit saja rasa iba atau keberanian dalam dirinya untuk berdiri dan membelaku. Berharap dia berkata, “Cukup! Laras adalah istriku, hormati dia!”
Namun, kenyataan menghantamku dengan sangat keras. Rizky hanya menunduk dalam-dalam. Tangannya sibuk mengaduk sup di piringnya, seolah-olah penindasan yang terjadi pada istrinya hanyalah angin lalu yang tidak penting. Dia memilih menjadi pengecut demi menjaga kenyamanan posisinya di mata ibunya.
Hati ini retak. hancur berkeping-keping.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, aku membawa piringku melangkah menuju dapur kotor di belakang.
Dari balik pintu dapur, aroma harum masakan tidak lagi terasa lezat. Suara gelak tawa dari meja makan depan terdengar begitu jelas menyayat hati.
“Kenapa sih Rizky dulu ngebet banget mau nikahin Laras?” tanya salah seorang paman Rizky.
“Entahlah! Muka biasa saja, cantik tidak, gaya kampungan!” sahut sepupu yang lain.
“Pendidikan cuma tamatan SMA, kerjaan cuma tukang jahit keliling. Sekarang malah cuma numpang makan!” cemooh Maya diiringi tawa renyah dari Ibu Ratna.
Lalu suara Maya terdengar lagi, lebih keras dan penuh nada ejekan. “Kalau aku jadi Rizky, demi Tuhan aku pasti malu setengah mati membawa istri seperti dia ke acara penting!”
Tanganku yang memegang piring porselen mendadak berhenti. Cucuran air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menetes basah di atas meja dapur. Aku menggenggam tepi piring itu begitu kuat, begitu kencang, hingga buku-buku jariku memutih dan gemetar hebat.
Bukan karena kata-kata hinaan mereka yang menyakitkan. Aku sudah terbiasa dihina oleh mereka selama empat tahun ini.
Tapi rasa sakit yang luar biasa ini membakar dadaku karena suamiku… pria yang kucintai dengan segenap jiwaku, mendengar istrinya diinjak-injak seperti kotoran… dan dia tetap memilih diam bisu!
Malam itu, di kamar tidur kami yang dingin, aku berbaring membelakangi Rizky. Selimut tebal tidak mampu menghangatkan hatiku yang membeku.
“Mas…” panggilku pelan, suaraku parau menahan serak.
“Hm? Ada apa, Ras? Aku ngantuk,” jawab Rizky dingin sambil menatap layar ponselnya.
“Kenapa tadi Mas diam saja waktu Ibu dan Maya menghinaku di depan semua orang?”
Rizky mendesak napas panjang, terdengar sangat jengkel. Dia mematikan layar ponselnya dan membalikkan badan. “Sudahlah, Laras! Jangan mulai bikin drama malam-malam begini!”
“Aku ini istri sah kamu, Mas! Aku manusia! Punya perasaan!” suaraku menaik satu nada, menumpahkan beban yang menyumbat di tenggorokan.
“Aku tahu kamu istriku!” potong Rizky kasar. “Tapi kamu harus paham posisi! Kalau aku bela kamu di depan Ibu dan Maya, masalahnya malah tambah panjang! Ibu bisa marah besar dan memotong anggaranku!”
Aku menahan tangis yang nyaris pecah. Mutiara bening mengalir deras di pipiku. “Jadi… demi mengamankan uangmu dan menghindari masalah, kamu biarkan aku dipermalukan dan dibuang ke dapur seperti anjing?”
Rizky tidak menjawab. Dia kembali membelakangiku, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. “Tidur, Laras. Jangan kekanak-kanakan.”
Aku perlahan duduk di tepi ranjang. Menatap punggung suamiku dalam kegelapan.
Di detik itu, ada sesuatu yang patah dan mati di dalam diriku. Namun di saat yang sama, sebuah api besar terpantik dari puing-puing kehancuranku.
Bukan karena aku ingin membalas dendam dengan kejam. Bukan karena aku benci.
Tapi aku baru menyadari satu hal yang teramat krusial: Selama empat tahun ini, aku terlalu sering mengecilkan diriku sendiri, menundukkan kepalaku begitu dalam, hanya demi membuat orang lain merasa berkuasa dan nyaman di atas penderitaku!
Keesokan paginya, tepat pukul 07.00 WIB, saat matahari baru saja memancarkan sinarnya di atas langit Jakarta, ponsel pribadi yang selalu kusembunyikan di dalam tas kerjaku bergetar kencang.
Aku menggeser layar dan mengangkatnya.
“Halo, Ibu Laras?” suara seorang pria di ujung telepon terdengar begitu formal dan penuh hormat.
“Iya, Pak Broto. Ada apa?” jawabku dengan nada suara yang berwibawa, sangat berbeda dengan suaraku saat menghadapi mertuaku.
“Saya ingin memastikan kembali, Bu. Apakah agenda rapat finalisasi penandatanganan kontrak pengadaan seragam medis untuk seluruh jaringan Rumah Sakit Swasta Prima Internasional senilai sembilan puluh miliar Rupiah tetap dilaksanakan pagi ini?”
Aku memejamkan mata sejenak, mengisap udara segar pagi hari, lalu menjawab tegas. “Ya. Rapat tidak boleh ditunda. Saya akan tiba di kantor setengah jam lagi.”
“Baik, Bu Direktur Utama. Seluruh jajaran direksi dan tim hukum sudah siap menunggu keputusan Ibu.”
Telepon ditutup.
Aku memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas kulit berharga puluhan juta rupiah yang sengaja kupilih dari koleksi tersembunyiku. Saat aku berbalik, Rizky yang sedang duduk menikmati kopi pagi di meja makan menatapku dengan kening berkerut.
“Siapa yang telepon pagi-pagi begini, Ras? Pak Broto siapa?” tanya Rizky curiga.
“Orang kantor,” jawabku singkat sambil merapikan blazer hitam yang membalut tubuhku dengan sempurna.
“Kantor?” Rizky menaruh cangkir kopinya. Matanya meneliti penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Sejak kapan kamu punya urusan kantor? Kamu kerja lagi?”
Aku menatap suamiku, melukiskan senyuman tipis yang sangat misterius di bibirku. “Tidak seperti yang ada di dalam pikiranmu, Mas.”
Tanpa menunggu tanggapannya, aku melangkah keluar rumah. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dengan sopir pribadi berjas rapi sudah menunggu tepat di depan pagar.
Pagi itu, aku membelah kemacetan kota Jakarta menuju sebuah gedung pencakar langit megah di kawasan pusat bisnis Sudirman.
Begitu kakiku melangkah masuk menembus pintu kaca utama gedung tersebut, puluhan staf berjas rapi dan para satpam langsung membungkuk hormat.
“Selamat pagi, Ibu Laras!” sapa mereka serentak penuh kehangatan dan rasa hormat yang mendalam.
Aku mengangguk anggun. “Selamat pagi.”
Sekretaris utamaku menyambut di depan lift eksekutif dan menyerahkan sebundel berkas tebal. “Semua dokumen audit dan kontrak kerja sama antar-korporasi sudah siap, Bu. Tinggal menunggu tanda tangan basah dari Ibu.”
Aku membuka halaman pertama dokumen berstempel emas itu.
Di sana tertera nama korporasi raksasa yang selama empat tahun ini tidak pernah diketahui oleh Rizky, Ibu Ratna, maupun Maya.
PT Surya Busana Megah.
Perusahaan konveksi dan manufaktur tekstil terbesar yang menguasai rantai pasok seragam medis, militer, dan korporasi di seluruh Indonesia!
Perusahaan itu bukan milik keluarga suamiku yang sombong.
Bukan pula milik investor asing.
Perusahaan raksasa itu… adalah milikku 100%!
Empat tahun lalu, sebelum menikah dengan Rizky, aku memang berhenti menjadi penjahit rumahan. Tapi aku tidak pernah berhenti bekerja!
Dengan kecerdasan dan ketekunan yang diwariskan oleh almarhum ayahku, aku membangun usaha secara diam-diam. Berawal dari satu mesin jahit tua di kontrakan sempit, aku mengembangkan bengkel produksi, membeli lahan pabrik di daerah Cikarang, hingga berhasil mendirikan holding company tekstil raksasa bernilai ratusan miliar Rupiah.
Selama empat tahun usia pernikahanku, aku sengaja merahasiakan kekayaan dan tahtaku.
Bukan karena aku berniat membohongi Rizky.
Tapi aku hanya ingin menguji satu hal dalam hidupku… Aku ingin tahu, apakah Rizky benar-benar mencintaiku tulus sebagai Laras, seorang wanita biasa… atau dia hanya mencintai status dan harta yang bisa kuberikan?
Dan selama empat tahun hidup dalam penderitaan dan penghinaan… aku telah mendapatkan jawabannya secara sempurna!
Siang harinya, aku kembali ke rumah dengan pakaian sederhana seperti biasa.
Rizky sudah berada di rumah, duduk santai di sofa ruang tamu sambil memainkan laptopnya. Begitu melihatku masuk, dia langsung berdiri.
“Laras! Baguslah kamu sudah pulang. Nanti malam kita makan malam di rumah Mama lagi!” kata Rizky dengan nada memerintah.
Aku meletakkan tas di atas meja. “Ada acara apa lagi, Mas? Bukankah baru semalam kita di sana?”
Rizky mengibaskan tangannya. “Mama mau membicarakan bisnis baru. Maya sepupuku itu mau mengembangkan brand pakaian muslimah premium. Dia mau ekspansi besar-besaran.”
Aku mengukir senyum kecil di bibirku, menyembunyikan rasa geli yang menggelitik dada. “Lalu? Apa hubungannya denganku?”
“Maya butuh partner yang paham teknis jahitan dan potong kain. Dia tahu kamu kan mantan penjahit,” ujar Rizky tanpa rasa dosa. “Daripada kamu menganggur tidak jelas di rumah dan cuma jadi beban keuangan keluarga, lebih baik kamu bantu proyeknya Maya. Nanti Maya bakal kasih kamu gaji bulanan. Lumayan kan?”
Aku menatap dalam-dalam ke dalam manik mata suamiku.
Ternyata… kekonyolan dan kebodohan pria ini sungguh tidak ada batasnya! Dia bahkan tidak pernah menyadari bahwa wanita yang dipandangnya rendah sebagai ‘pengangguran’ ini adalah pemilik dari holding manufaktur tekstil terbesar yang menguasai pasar nasional!
“Jadi, Mas mau aku bekerja untuk Maya?” tanyaku memastikan.
“Iya! Ini kesempatan buat kamu berbakti sama keluarga!” tegas Rizky mantap.
Malam harinya, kami kembali melangkah masuk ke dalam rumah megah Ibu Ratna. Suasana malam ini terasa sangat formal dan mencolok.
Maya duduk anggun di sofa utama bersama Ibu Ratna. Di atas meja kaca terhampar puluhan katalog desain pakaian, sampel kain sutra, dan lembaran rancangan anggaran biaya.
“Laras, sini kamu!” panggil Maya dengan nada angkuh seraya melambaikan tangannya seolah memanggil seorang pelayan.
Aku berjalan mendekat dan duduk di kursi kayu biasa. Maya menyodorkan sebuah katalog tebal ke pangkuanku.
“Kamu kan dulu mantan penjahit kelas teri di kampung. Coba kamu lihat desain sketsa ini. Kamu sanggup tidak membuat sampel potongannya dalam waktu tiga hari?” tanya Maya dengan nada menggurui.
Aku membuka katalog tersebut, meneliti sketsa dan spesifikasi bahan yang ditulisnya. Produk yang ingin dia buat sangat standar, bahkan memiliki banyak cacat dalam perhitungan pola.
Aku tersenyum tipis. “Bisa. Ini sangat mudah.”
Maya tertawa puas lalu menoleh pada Ibu Ratna dan saudara-saudara yang lain. “Tuh kan, Tante! Aku bilang juga apa. Daripada Laras cuma numpang makan gratis di rumah Rizky, mendingan aku berdayakan dia jadi tukang jahit sampel di konveksiku. Kasihan juga lihat dia tidak punya penghasilan.”
Ibu Ratna manggut-manggut dengan wajah penuh rasa bangga pada keponakannya. “Memang kamu ini berhati emas, Maya! Masih mau menampung dan memberi pekerjaan buat orang kelas bawah seperti Laras.”
Aku hanya diam, mendengarkan setiap kalimat beracun yang keluar dari mulut mereka.
Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku sama sekali tidak merasa sakit hati. Tidak ada keinginan sedikit pun untuk berteriak membela diri.
Sebab orang-orang bodoh ini tidak pernah tahu… dan aku belum berniat memberi tahu mereka… belum saatnya.
Acara makan malam kembali dimulai. Sekali lagi, atas perintah terselubung dari Ibu Ratna, aku diminta duduk di ujung meja paling jauh, terpisah dari deretan kursi utama. Dan sekali lagi, aku menurut tanpa membantah sedikit pun.
Namun, di tengah-tengah acara makan malam yang dipenuhi kesombongan Maya membanggakan rencana bisnisnya, sebuah mobil kemewahan ekstrem berhenti di depan pintu utama mansion.
Seorang pria paruh baya berjas hitam buatan Italia melangkah masuk dengan langkah tegap, didampingi dua pengawal berbadan tegap.
Seketika, seluruh anggota keluarga di meja makan berdiri serentak! Ibu Ratna bahkan sampai menyenggol cangkir tehnya hingga tumpah.
“Astaga! Pak Hendra!” seru Ibu Ratna dengan nada suara yang bergetar hebat penuh rasa hormat.
Pria itu adalah Bapak Hendra, komisaris utama konglomerasi keuangan paling berpengaruh di Indonesia sekaligus investor tunggal terbesar yang memegang nasib seluruh saham bisnis keluarga Ibu Ratna!
Ibu Ratna dan Rizky bergegas berlari menyambutnya. “Pak Hendra! Suatu kehormatan luar biasa Bapak berkenan hadir di rumah kami yang sederhana ini! Ada angin apa, Pak?” sambut Ibu Ratna dengan senyum manis yang dipaksakan.
Namun, Bapak Hendra sama sekali tidak mengacuhkan uluran tangan Ibu Ratna maupun Rizky. Pandangan mata tajam pria berkuasa itu menyapu seluruh isi ruangan…
Hingga akhirnya, matanya tertuju tepat pada sosokku yang sedang berdiri tenang di ujung meja makan.
Langkah kaki Bapak Hendra mendadak terhenti. Wajahnya yang semula dingin dan berwibawa seketika berubah drastis menjadi penuh dengan keterkejutan dan rasa hormat yang sangat mendalam!
Dia berjalan cepat melewati Ibu Ratna dan Rizky, lalu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat di hadapanku!
“Ibu Laras! Ya Allah… maafkan saya! Saya tidak tahu kalau Ibu Direktur Utama ada di sini!”
Seketika… udara di ruang makan mewah itu seolah tersedot habis.
Suasana mendadak menjadi hening, sesenyap kuburan!
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Piring porselen berisi kue mahal yang dipegang oleh Maya terlepas dari genggamannya.
PRANGGG!
Suara pecahan piring yang hancur berkeping-keping di atas lantai marmer bergema nyaring, memecah keheningan yang mencekam. Namun tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang peduli pada pecahan porselen tersebut.
Mata semua orang—Ibu Ratna, Rizky, Maya, dan seluruh kerabat yang tadi tertawa terbahak-bahak—terbelalak lebar dengan mulut melongo.
Ibu Ratna mematung dengan wajah pucat pasi. Rizky melangkah maju satu langkah dengan lutut yang gemetar hebat.
“A… Apa? Pak Hendra… Bapak bilang apa tadi?” gagap Rizky, suaranya bergetar hebat, hampir tidak terdengar. “Bapak salah orang, kan? Ini Laras! Dia istri saya! Dia cuma mantan penjahit kampung yang tidak punya pekerjaan!”
Bapak Hendra langsung membalikkan badannya, menatap Rizky dengan tatapan mata yang kilat membunuh.
“Kurang ajar kamu, Rizky!” bentak Bapak Hendra dengan suara menggelegar yang membuat seluruh ruangan bergetar. “Jjaga mulutmu! Di hadapanmu ini adalah Ibu Laras Surya Putri! Beliau adalah Pendiri sekaligus Direktur Utama dan Pemilik Saham Tunggal dari PT Surya Busana Megah! Holding manufaktur tekstil terbesar di negara ini!”
“Apa?! PT Surya Busana Megah?!” jerit Maya melengking. Wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darahnya.
Bapak Hendra tidak memedulikan jeritan Maya. Dia kembali berbalik menatapku dengan sikap sangat santun.
“Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan saya mengganggu waktu Ibu Laras,” ujar Bapak Hendra penuh penyesalan. “Saya mendatangi rumah ini karena mendapat informasi bahwa Ibu berada di sini. Saya membawa dokumen finalisasi kontrak pengadaan seragam rumah sakit internasional senilai sembilan puluh miliar Rupiah yang membutuhkan persetujuan dan tanda tangan basah dari Ibu malam ini juga.”
Bapak Hendra memberi isyarat kepada asistennya. Sebuah map kulit berwarna hitam bersepuh emas dibuka dan diserahkan kepadaku bersama sebuah pena montblanc edisi terbatas.
Aku menerima pena tersebut dengan sangat tenang.
Di dalam ruangan megah itu, tidak ada lagi suara tawa. Tidak ada lagi ejekan. Yang ada hanyalah deru napas panik dan ketakutan yang mencekam dari orang-orang yang beberapa menit lalu menganggapku sebagai sampah.
Rizky menatapku seolah-olah dia baru saja melihat hantu di siang bolong. “Ras… Laras… demi Tuhan, tolong katakan padaku… ini semua cuma mimpi, kan? Perusahaan raksasa itu… punya kamu?”
Aku menatap Rizky dengan tatapan dingin tanpa emosi. “Kenapa, Mas? Kamu kaget? Bukankah tadi kamu bilang aku ini cuma beban keluarga yang harus mengemis pekerjaan pada sepupumu?”
“T-Tunggu!” Maya mendadak berteriak histeris sambil berlari mendekat. Tangannya gemetar hebat saat menunjuk berkas di tanganku. “Kalau… kalau perusahaan itu milik Laras… berarti… berarti proposal pengajuan investasi dan kerja sama produksi brand pakaianku yang kumasukkan minggu lalu…”
Aku memotong kalimat Maya dengan senyuman paling sinis yang pernah kuukir dalam hidupku.
“Iya, Maya,” ucapku pelan namun menusuk hingga ke dasar jantungnya. “Proposal bisnismu yang bernilai lima miliar itu ada di atas mejaku. Dan tadi pagi… aku baru saja menandatangani surat penolakan absolut karena analisis timku menyatakan bahwasanya rancangan bisnismu sangat amat tidak bermutu dan penuh potensi korupsi!”
“TIDAK! YA ALLAH, LARAS!” Maya histeris, tubuhnya melemas dan dia ambruk terduduk di atas lantai marmer, menangis meraung-raung. Tanpa investasi dari perusahaanku, bisnis pakaiannya dipastikan gulung tikar dan dia akan dikejar-kejar oleh utang bank!
Ibu Ratna yang sejak tadi berdiri mematung, perlahan mendekatiku. Wajahnya yang biasa sombong kini dipenuhi dengan raut wajah kepalsuan dan ketakutan yang amat sangat.
“Laras… cucuku… menantuku sayang…” panggil Ibu Ratna dengan suara bergetar, mencoba meraih tanganku. “Kenapa… kenapa kamu tidak pernah cerita sama Ibu? Kalau Ibu tahu kamu adalah pengusaha triliuner, Ibu tidak mungkin…”
Aku menarik tanganku dengan cepat sebelum kulitnya menyentuh kulitku.
“Ibu tidak mungkin membuangku ke dapur?” potongku tajam. “Ibu tidak mungkin membiarkan saudara-saudaraku menghinaku seperti sampah? Jadi, penghormatan di rumah ini hanya berlaku untuk uang dan kekayaan, Bu? Bukan untuk kemanusiaan?”
Ibu Ratna bungkam. Wajahnya memerah karena malu luar biasa di hadapan Bapak Hendra dan para pengawalnya.
Rizky meraih bahuku, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa bersalah dan keputusasaan. “Laras! Tolong jelaskan padaku! Kenapa selama empat tahun pernikahan kita… kamu merahasiakan kekayaan luar biasa ini dari aku? Aku ini suamimu, Laras!”
Aku menepis tangan Rizky dengan kasar. Aku menatap pria yang pernah kuberikan seluruh cintaku ini dengan tatapan penuh kekecewaan yang mendalam.
“Kenapa aku merahasiakannya dari kamu, Mas?” bisikku tajam. “Karena aku ingin tahu… apakah Rizky yang kunikahi adalah pria sejati yang mencintaiku apa adanya ketika dia mengira aku tidak punya apa-apa… atau dia hanya seorang pengecut yang memanfaatkan istrinya!”
Rizky tertunduk layu. Kata-kataku menghantam kesadarannya bagaikan hantaman godam raksasa.
“Dan selama empat tahun hidup bersamamu…” lanjutku dengan suara parau, “aku sudah mendapatkan jawabannya secara sangat jelas. Kamu tidak pernah membelaku. Kamu biarkan ibumu dan sepupumu menginjak-injak harga diriku hanya demi menjaga posisi dan kenyamanan dirimu sendiri!”
Aku menandatangani berkas kerja sama senilai sembilan puluh miliar itu di depan mata mereka semua, lalu menyerahkannya kembali kepada Bapak Hendra.
“Terima kasih, Pak Hendra. Tugas Bapak sudah selesai malam ini,” kataku anggun.
“Baik, Bu Laras. Kami permisi terlebih dahulu,” jawab Bapak Hendra seraya membungkuk hormat.
Namun, sebelum Bapak Hendra melangkah pergi keluar pintu, dia mendadak menghentikan langkahnya. Pria tua itu menepuk jidatnya, seolah-olah baru teringat akan sebuah perkara yang sangat vital.
“Astaga, Bu Laras! Saya hampir lupa!” kata Bapak Hendra dengan wajah berubah menjadi sangat serius.
Aku mengerutkan dahi. “Ada apa lagi, Pak Hendra?”
Bapak Hendra merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map dokumen tua berwarna cokelat kusam yang diikat dengan pita segel hukum.
“Sore tadi, tim auditor dan tim hukum independen kami berhasil membongkar arsip rahasia dari brankas lama milik Bank Sentral. Kami menemukan dokumen hukum berumur belasan tahun yang selama ini dihilangkan secara ilegal,” ujar Bapak Hendra.
Dia menyerahkan dokumen tua itu kepadaku.
Dengan rasa penasaran yang membuncah, aku membuka lembaran pertama yang sudah menguning tersebut.
Begitu mataku membaca baris demi baris tulisan di lembaran itu, jantungku rasanya berhenti berdetak seribu detik! Tubuhku membeku kaku!
Di sana, terukir dengan sangat jelas nama almarhum ayah kandungku:
BAPAK SURYA ATMAJA — PEMEGANG SAHAM UTAMA & PENDIRI TUNGGAL KELOMPOK USAHA CITRA MANDIRI HOLDING (AKTA WARISAN YANG BELUM DIALIHKAN).
Mata air mataku menetes di atas kertas kusam itu. Ayahku… pria sederhana yang meninggal dunia delapan tahun lalu karena sakit keras dalam kemiskinan… ternyata adalah pemilik sah dari Citra Mandiri Holding!
Dan Citra Mandiri Holding… adalah induk perusahaan raksasa yang menaungi seluruh kekayaan, rumah mewah Menteng ini, dan bisnis milik keluarga Ibu Ratna dan Rizky!
“I-Ini… ini tidak mungkin…” bisikku gemetar hebat. “Ayahku… adalah pemilik asli dari seluruh harta keluarga ini?”
“Benar, Bu Laras!” tegas Bapak Hendra dengan suara lantang yang memekakkan telinga semua orang di ruangan itu. “Almarhum Ayah Ibu adalah pemilik modal utama. Namun saat beliau meninggal dunia delapan tahun lalu, ada seseorang yang dengan sengaja menyembunyikan surat wasiat ini, memalsukan tanda tangan warisan, dan menyerobot seluruh aset milik almarhum Ayah Ibu untuk memperkaya dirinya sendiri!”
Darahku mendidih seketika. Hawa dingin menyengat dari ujung kaki hingga ke kepala.
“Siapa…” suaraku bergetar hebat menahan amarah yang meledak-ledak. “SIAPA ORANG BAJINGAN YANG TEGA MENYEMBUNYIKAN WARISAN ALMARHUM AYAHKU?!”
Bapak Hendra menatap lurus ke arah meja makan. Pandangannya tidak tertuju pada Ibu Ratna… tidak pula pada Maya…
Melainkan tertuju tepat pada sosok suamiku.
Rizky!
“Nama pelaku pemalsuan dan penyembunyian dokumen itu tertera dengan sangat jelas di halaman terakhir, Bu Laras,” kata Bapak Hendra pelan.
Dengan tangan yang gemetar hebat akibat amarah yang tak tertahankan, aku membuka halaman terakhir dokumen berstempel hukum itu.
Dan saat mataku membaca nama yang tertulis di garis tandatangan saksi dan penerima pengalihan ilegal tersebut…
PLOT TWIST 1: Di sana tertera nama almarhum ayah Rizky bersama tanda tangan basah dari Ibu Ratna! Mereka berdua adalah dalang utama yang memiskinkan ayahku hingga berpulang ke Rahmatullah dalam penderitaan!
Namun, yang membuat jiwaku benar-benar hancur menembus dasar kerak bumi adalah sebuah dokumen lampiran tertanggal empat tahun lalu… tepat satu bulan sebelum Rizky menikahiku!
Di lampiran itu tertera nama: RIZKY PRATAMA.
Suamiku sendiri!
PLOT TWIST 2: Empat tahun lalu, Rizky secara tidak sengaja menemukan surat wasiat asli milik ayahku di brankas ibunya. Rizky TAHU SEJAK AWAL bahwa aku adalah pewaris tunggal dari seluruh harta triliunan Rupiah tersebut!
Dia mendekatiku, berpura-pura menjadi pria manis yang mencintaiku, memintaku berhenti bekerja, dan menikahiku… BUKAN KARENA CINTA! Tapi demi mengikatku dalam pernikahan agar aku tetap menjadi wanita bodoh yang tidak pernah mengulik sejarah kekayaan almarhum ayahku! Dia menyembunyikan warisanku agar keluarganya bisa terus menikmati fasilitas mewah dari harta curian tersebut!
“KURANG AJAR KALIAN!” jeritku menggelegar, menumpahkan seluruh kepedihan jiwa yang terakumulasi selama empat tahun!
Rizky langsung berlutut di atas lantai, merangkak mendekati kakiku sambil menangis histeris. “Laras! Ampuni aku, Laras! Demi Allah, aku bersalah! Aku terpaksa melakukan itu karena diancam oleh Ibu! Tolong ampuni suamimu ini, Laras!”
Ibu Ratna ikut menangis histeris, berlutut menyembah di sebelah anaknya. “Laras! Tolong kasihanilah kami! Jangan bawa ini ke jalur hukum! Kami ini keluargamu!”
Aku mundur dua langkah, menatap mereka bertiga—Ibu Ratna, Rizky, dan Maya—yang kini bersimpuh di atas lantai seperti pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari orang yang pernah mereka buang ke dapur.
Aku menyapu air mataku, meluruskan punggungku, dan menatap mereka dengan pandangan paling dingin pencabut nyawa.
“Keluarga?” bisikku penuh kejam. “Keluarga mana yang tega membiarkan putri pemilik harta makan di dapur kotor sementara kalian menikmati harta curian dari almarhum ayahnya?”
Aku mengambil tas kulitku dan menatap Bapak Hendra.
“Pak Hendra,” panggilku tegas.
“Saya di sini, Bu Laras.”
“Lakukan proses penyitaan seluruh aset Citra Mandiri Holding malam ini juga atas nama penyalahgunaan hak waris dan pemalsuan dokumen negara. Kosongkan rumah mewah ini dalam waktu 1×24 jam. Dan kirimkan berkas pidana pemalsuan dokumen serta penggelapan aset atas nama Rizky Pratama dan Ratna ke Polda Metro Jaya besok pagi!”
“Siap! Laksanakan, Bu Direktur!” jawab Bapak Hendra mantap.
“TIDAKKKK! LARAS, AMPOOON!” jerit Ibu Ratna pingsan seketika di atas lantai. Rizky menangis meraung-raung memeluk kakiku yang terlapis sepatu kulit mahal, namun pengawal Bapak Hendra dengan cepat menyeret tubuh pengecut itu menjauh dariku.
Aku membalikkan badan, melangkah tegap keluar dari mansion megah yang kini akan segera menyipta kemiskinan bagi mereka.
Tepat di garis pintu utama, aku berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang, melontarkan kalimat terakhir yang mengakhiri seluruh penderitaanku selama empat tahun:
“Besok pagi, surat gugatan cerai dan surat perintah pengosongan rumah akan tiba di tanganmu, Rizky. Nikmatilah sisa hidupmu di balik jeruji besi, karena penjahit kampung yang dulu kamu buang ke dapur ini… kini resmi mengambil kembali seluruh dunianya!”
