Dihina bagai sampah kampung dan disiram anggur hingga tersungkur di lantai ballroom oleh keluarga kaya sombong, wanita ini langsung membatalkan investasi Rp 18 triliun yang seharusnya menyelamatkan bisnis keluarga itu dari kebangkrutan total malam ini

Astaga! Gelas kristal berisi anggur merah pekat itu sengaja ditumpahkan tepat ke dada gaun batik tulis buatan tangan milik almarhumah Neneku. Cairan lengket berwarna merah tua itu meresap cepat ke serat kain, menyisakan noda mencolok yang merusak keindahan motif batik kuno tersebut. Belum sempat aku memproses rasa terkejut dan sedihku, sebuah dorongan tangan yang sangat kasar menghantam bahu kiriku.
“Bruk!”
Aku tersungkur keras ke lantai marmer dingin di tengah ballroom megah Hotel Kempinski, kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Suara benturan lututku bergaung nyaring di tengah kesunyian ruangan. Kain batik kesayanganku kini basah dan terendam tumpahan cairan di lantai yang mengkilap.
“Ya Allah! Lihat wanita kampung ini! Dasar tidak tahu diri!” jerit Putri Wibowo, putri bungsu keluarga Wibowo, dengan nada suara melengking yang penuh dengan rasa jijik. Wajah cantiknya yang dipoles riasan mahal kini dipenuhi seringai kejam. “Pakaian lusuh dan kusam seperti ini berani masuk ke acara gala amal elit? Kamu pikir tempat ini pasar kaget di kampungmu, hah?”
Gelak tawa riuh seketika membahana di seluruh sudut ballroom. Para tamu undangan—kaum borjuis Jakarta, pejabat berpengaruh, hingga para pengusaha papan atas—menatapku seolah-olah aku adalah kotoran yang tidak sengaja menempel di alas sepatu mereka. Tidak ada satu pun orang yang mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Tidak ada satu pun hati yang tergerak oleh rasa iba.
“Kurang ajar! Siapa yang membiarkan sampah kampung ini lolos dari pintu depan?” bentak Ibu Ratna Wibowo, wanita berusia 58 tahun yang berdiri anggun dengan gaun malam sutra berhias deretan berlian. Dialah ratu arisan sosialita Jakarta, sosok yang membangun seluruh citra hidupnya di atas pilar kesombongan dan kebiasaan merendahkan orang lain. Ratna melangkah maju, lalu tumit sepatu hak tingginya menekan ujung kain batikku dengan sengaja. “Hei, perempuan miskin! Bersihkan lantai ini sekarang juga menggunakan bajumu itu! Kamu sudah mengotori ballroom mahal ini dengan keberadaanmu yang menjijikkan!”
“Ibu, lihat tas kulit tuanya yang murahan itu,” sela Rizky Wibowo, pemuda berusia 28 tahun yang berdiri di samping ibunya sambil memegang gelas minuman kristal. Dia adalah anak laki-laki manja yang tidak pernah bekerja satu hari pun dalam hidupnya, hanya tahu menghabiskan uang orang tuanya untuk balapan mobil mewah dan berfoya-foya di klab malam. Rizky menendang tas kulit sederhanaku hingga terlempar beberapa meter menjauh. “Pasti dia datang menyusup ke sini cuma mau mencuri makanan sisa pesta! Cepat usir dia sebelum aku memanggil sekuriti untuk melemparnya ke dalam selokan!”
Aku memegangi dadaku yang terasa sesak dan nyeri. Namun, rasa sakit di hatiku jauh lebih membakar daripada benturan di fisiku. Di balik penampilan sederhanaku malam ini, aku bukanlah wanita miskin tanpa berdaya yang ada dalam benak dangkal mereka. Namaku adalah Siti Rahma. Di usia 45 tahun, aku adalah Pendiri sekaligus CEO Utama dari PT Rahma Nusantara Megah—sebuah imperium bisnis raksasa bernilai lebih dari Rp 85 triliun yang menguasai sektor properti, teknologi, dan manufaktur di seluruh penjuru Indonesia. Perusahaanku mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan dan memiliki gedung pencakar langit di setiap kota besar.
Namun, aku tidak pernah melupakan akar asal-usulku. Aku dibesarkan di sebuah kampung kecil di Yogyakarta oleh Neneku, Nenek Aminah, seorang penjual sate panggul di pinggir jalan yang mengorbankan seluruh keringat dan air matanya agar aku bisa bersekolah hingga sukses. Baju batik tulis yang kupakai malam ini adalah kenangan manis terakhir yang ditinggalkan beliau sebelum berpulang ke Rahmatullah lima tahun lalu. Bagi mereka, ini hanyalah kain tua murahan, tapi bagiku, kain ini bernilai lebih tinggi dari seluruh perhiasan berlian yang menempel di tubuh Ratna Wibowo.
Tiba-tiba, langkah kaki yang berat mendekat. Bapak Hendra Wibowo, pemilik utama Wibowo Corp berusia 62 tahun, berdiri di depanku. Pria yang mengenakan tuksedo buatan Italia itu menatapku dengan pandangan penuh penghinaan dan kepuasan terselubung.
“Ada apa ini, Ratna? Kenapa ada pengemis lusuh yang mengotori acara penting kita?” tanya Hendra dengan suara berat yang dipenuhi keangkuhan.
“Ini, Papi! Wanita kampung ini menyusup masuk dan merusak acara gala amal kita!” seru Putri sambil bersedekap dengan manja.
Hendra menggelengkan kepalanya sambil terkekeh sinis. “Kurang ajar sekali. Kamu tahu tidak, perempuan miskin? Malam ini adalah malam paling menentukan bagi masa depan keluarga Wibowo! Malam ini, kami akan merayakan dan menandatangani kesepakatan investasi raksasa senilai Rp 18 triliun dengan investor utama dari PT Rahma Nusantara Megah! Uang investasi itu akan melipatgandakan kekayaan kami dan menyelamatkan kejayaan keluarga Wibowo hingga tujuh keturunan! Dan kamu, perempuan busuk, berani-beraninya mengotori malam kemenangan kami!”
Aku menatap lurus ke dalam manik mata Hendra Wibowo. Sungguh sebuah ironi kehidupan yang sangat kejam. Hendra sama sekali tidak pernah melihat wajahku secara langsung. Selama enam bulan proses negosiasi alot transaksi sebesar Rp 18 triliun itu, seluruh rapat dilakukan melalui perwakilan tim pengacara dan konsultan hukum kelas atas. Di dalam pikiran Hendra yang picik, seorang CEO dari PT Rahma Nusantara Megah pastilah seorang pria tua kaya raya, bukan seorang wanita berdarah Jawa-kampung yang kini terduduk di lantai di hadapannya.
Hendra tidak pernah tahu fakta mematikan yang tersembunyi di balik dinding perusahaannya. Wibowo Corp sebenarnya sudah hancur menggerogoti dari dalam. Hutang rahasia mereka menumpuk puluhan triliun Rupiah akibat krisis manajemen dan investasi bodong. Kesepakatan penyuntikan modal Rp 18 triliun dari perusahaankulah satu-satunya tumpuan terakhir yang sanggup menyelamatkan keluarga Wibowo dari jurang kebangkrutan total dan ancaman sel penjara.
Demi Tuhan, keluarga sombong ini baru saja membuat kesalahan paling fatal, paling mahal, dan paling menghebohkan dalam sejarah dunia bisnis Indonesia!
Aku menyapu sisa anggur merah yang menetes di pelipisku, lalu berdiri dengan tegak dan tenang. Pandangan mataku yang tajam mengunci satu per satu wajah anggota keluarga Wibowo yang masih terkekeh merendahkan. Sambil tersenyum dingin penuh makna, aku mengambil tas kulitku yang tergeletak di lantai, lalu menarik keluar sebuah map dokumen tebal berlapis kain beludru hitam dengan logo segel emas yang sangat megah.
Map dokumen perjanjian investasi dan akuisisi senilai Rp 18 triliun yang seharusnya kutandatangani di atas panggung malam ini…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Suasana ballroom megah itu mendadak menghening saat aku membuka map beludru hitam bertinta emas di tanganku. Cahaya lampu kristal penthouse memantul di atas lembaran kertas tebal bernilai triliunan Rupiah tersebut. Hendra Wibowo mengerutkan dahinya, tatapannya beralih dari noda anggur di bajuku ke arah logo segel emas yang terpampang jelas di sampul dokumen.
“Tunggu… dari mana kamu mendapatkan dokumen itu?!” suara Hendra mendadak meninggi, tercampur antara keterkejutan dan kemarahan. Dia melangkah maju satu langkah, mencoba merebut map tersebut dari genggamanku. “Itu adalah draft dokumen rahasia kesepakatan akuisisi PT Rahma Nusantara Megah! Bagaimana mungkin dokumen sepenting itu ada di tangan pengemis kampung sepertimu?! Kamu mencurinya dari meja panitia, ya?!”
Aku menarik mundur tanganku dengan tenang, menatap Hendra dengan sorot mata yang dingin tanpa kegetiran sedikit pun. “Aku tidak mencurinya, Pak Hendra Wibowo. Dokumen ini ada di tanganku karena akulah yang memerintahkan tim hukumku untuk menyusun setiap klausul di dalamnya.”
Seketika gelak tawa melengking meledak dari mulut Ratna Wibowo. Dia memegangi perutnya seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling konyol sepanjang hidupnya. “Ya Allah! Astaga! Ratapan kehaluan perempuan ini sungguh tidak ada batasnya! Dengarkan dia, semuanya! Wanita dengan pakaian lusuh bau cairan anggur ini mengaku sebagai pemimpin tertinggi PT Rahma Nusantara Megah! Aduh, kepalaku sampai sakit karena tertawa!”
Putri Wibowo ikut melipat tangannya di dada sambil mendesis geli. “Mimpi di siang bolong! CEO PT Rahma Nusantara Megah itu adalah salah satu orang terkaya di Asia! Mana mungkin sosok sekelas beliau berpenampilan seperti orang habis jualan sate di pinggir jalan! Kamu benar-benar tidak tahu malu!”
“Sudah, Papi, jangan buang-buang waktu melayani orang gila ini!” sela Rizky Wibowo kasar. Pemuda itu maju dan merampas kasar dokumen di tanganku. Dengan wajah penuh kemenangan, Rizky meludahi lantai di dekat kakiku. “Paling ini cuma dokumen cetakan palsu yang dia buat di rental komputer murah untuk menipu orang-orang di gala amal ini! Biar aku robek saja kertas sampah ini!”
Namun, sebelum jemari Rizky sempat merobek lembaran pertama, pintu kaca ganda ballroom Hotel Kempinski terbuka lebar secara mendadak.
Delapan pria berbadan tegap mengenakan setelan jas hitam elegan melangkah masuk dengan barisan rapi. Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pria muda berkacamata dengan raut wajah sangat panik dan tergesa-gesa. Pria itu adalah Aditya, Sekretaris Eksekutif Utama PT Rahma Nusantara Megah, sosok yang sangat dikenal oleh seluruh jajaran direksi dan elit pengusaha di Jakarta.
Aditya menerobos kerumunan tamu undangan yang terpana. Tanpa memedulikan tatapan heran ratusan pasang mata, Aditya langsung berlari kencang menghampiriku. Di hadapan keluarga Wibowo yang membatu, Aditya membungkukkan tubuhnya hingga 90 derajat dengan rasa hormat yang luar biasa mendalam.
“Mohon ampun atas keterlambatan saya, Ibu Chairman Siti Rahma!” ucap Aditya dengan suara tegas yang bergaung keras di seluruh ruangan. “Helikopter pribadi Ibu sudah mendarat di helipad atap hotel, dan seluruh jajaran Direksi Utama serta Dewan Komisaris sudah berkumpul menunggu instruksi akhir dari Ibu terkait penandatanganan malam ini.”
Seketika itu juga, seolah-olah waktu di dalam ballroom berhenti berputar.
Gelas kristal di tangan Ratna Wibowo terlepas dan jatuh berkeping-keping di atas lantai marmer. Suara dentang kaca pecah itu memecah kesunyian yang mencekam. Wajah Ratna yang tadinya merah karena tertawa kini berubah pucat pasi, bagaikan kertas polos tanpa darah.
Rizky mematung dengan tangan gemetar. Kertas dokumen yang tadinya hendak dia robek kini meluncur jatuh dari jemarinya yang mendadak kehilangan tenaga. Pandangannya beralih antara wajah Aditya yang menunduk hormat dan wajahku yang berdiri tenang.
Hendra Wibowo mundur dua langkah dengan tubuh menyeringai gemetar. Tenggorokannya naik turun, mencoba menelan ludah yang terasa sangat pahit. “Ad… Aditya? Apa yang kamu katakan? Kamu… kamu memanggil perempuan kampung ini dengan sebutan Ibu Chairman Siti Rahma?!”
Aditya berdiri tegak, memandang Hendra dengan tatapan penuh keheranan dan ketegasan. “Pak Hendra, jaga mulut Anda! Di hadapan Anda saat ini adalah Ibu Siti Rahma, Pemilik Tunggal dan Pendiri PT Rahma Nusantara Megah! Beliau adalah pimpinan tertinggi kami yang memiliki hak mutlak atas seluruh keputusan investasi bernilai puluhan triliun Rupiah di negeri ini!”
“Tidak… Tidak mungkin! Ini pasti mimpi buruk!” jerit Putri Wibowo histeris sambil memegangi kepalanya. “Papi, katakan padaku kalau ini cuma drama! Wanita ini tadi diam saja saat aku menyiramnya! Dia cuma perempuan miskin biasa!”
Aku melangkah satu tapak ke depan, berdiri tepat di hadapan Hendra Wibowo yang kini bergetar hebat bagaikan daun kering ditimpa angin malam. Aku mengambil kembali map dokumen tebal di lantai, menyapu debu halus yang menempel di permukaannya.
“Pak Hendra Wibowo,” suaraku terdengar begitu tenang, namun setiap kata yang keluar memiliki bobot yang sanggup meruntuhkan sebuah kerajaan. “Anda tadi berpidato dengan sangat membara di depan para tamu kehormatan. Anda bilang, penyuntikan modal sebesar Rp 18 triliun dari perusahaanku akan melipatgandakan kekayaan keluarga Anda dan menjadikan Anda penguasa bisnis. Tapi, kenapa Anda tidak menceritakan fakta sebenarnya kepada seluruh tamu undangan di ballroom ini?”
Hendra menatapku dengan mata melotot penuh ketakutan. “Ibu… Ibu Siti, tolong… jangan…”
“Kenapa Anda tidak memberitahu mereka bahwa tanpa uang penyertaan modal Rp 18 triliun milikku malam ini, Wibowo Corp akan dinyatakan pailit dan bangkrut total esok pagi jam sembilan tepat?!” lanjutku dengan nada lantang yang terdengar oleh seluruh wartawan dan pengusaha yang hadir.
Bisik-bisik gempar langsung meletus di antara para tamu undangan. Kamera wartawan yang tadinya mati kini mulai menyala, lampu blitz berkilat-kilat membabi buta mengarah ke wajah keluarga Wibowo.
“Mari kita buka sedikit lembaran rahasia bisnis keluarga Wibowo yang sangat terhormat ini,” kataku sambil tersenyum tipis. “Utang obligasi jatuh tempo Wibowo Corp yang belum terbayar mencapai Rp 7 triliun. Pinjaman darurat di berbagai bank nasional menumpuk hingga Rp 5 triliun. Dan yang paling parah, selama tiga tahun terakhir, Anda dan jajaran direksi telah melakukan pemalsuan laporan keuangan secara sistematis untuk menutupi kerugian akibat kerandungan judi saham anak Anda, Rizky, serta gaya hidup super mewah istri Anda, Ratna Wibowo!”
“Ya Allah! Papi! Apa yang dikatakan wanita ini benar?!” jerit Ratna sambil mencengkeram lengan suaminya dengan kuku panjangnya. “Perusahaan kita bangkrut?! Uang kita habis?!”
“Diam, Ratna! Diam!” bentak Hendra dengan suara parau. Pria tua itu kini sudah kehilangan seluruh keangkuhan dan harga dirinya. Tanpa memedulikan ribuan pasang mata yang menyaksikan, Hendra meluncur berlutut di atas lantai marmer, tepat di atas genangan cairan anggur merah yang tadinya dipaksa disiramkan ke bajuku.
“Ibu Siti Rahma… Saya mohon! Ampuni kami!” tangis Hendra pecah seketika. Dia menangkupkan kedua tangannya di udara, bersujud di dekat kakiku. “Kami tidak tahu! Demi Tuhan, kami sungguh tidak tahu kalau wanita anggun dan bijaksana di hadapan kami ini adalah Ibu Siti Rahma! Istri dan anak-anak saya sangat bodoh, mereka tidak mengenali keagungan Ibu! Mohon jangan batalkan akuisisi ini! Jika Ibu membatalkannya, seluruh hidup kami hancur! Kami akan dipenjara!”
Ratna dan kedua anaknya berdiri terpaku dalam kepanikan luar biasa. Ratna yang tidak sanggup menerima kenyataan pahit itu ikut berlutut sambil menangis meraung-raung.
“Ibu Siti! Maafkan saya! Saya tadi kalap! Saya akan cuci baju batik Ibu sampai bersih mengkilap! Saya akan belikan seribu gaun batik baru untuk Ibu! Tolong kasihanilah keluarga kami!” jerit Ratna sambil mencoba meraih ujung kain batikku.
Aku menarik kakiku mundur, menatap mereka dari ketinggian dengan tatapan dingin penuh penghakiman. “Kalian memohon belas kasihan sekarang? Di mana rasa kasihan kalian saat melihat seorang wanita yang kalian anggap lemah tersungkur di lantai? Di mana kemanusiaan kalian saat kalian menendang tas kulitku dan menyuruhku membersihkan lantai dengan bajuku? Kalian mengukur harga diri manusia hanya dari merk pakaian, mobil, dan ketebalan dompetnya. Malam ini, kalian harus belajar bahwa roda kehidupan selalu berputar!”
Hendra panik setengah mati. Dengan tangan gemetar, dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. “Saya… Saya akan telepon Direktur Utama Bank Nusantara Pertama sekarang juga! Saya akan minta beliau memberikan penjaminan agar Ibu percaya pada keseriusan kami!”
Hendra menekan tombol panggil dengan terburu-buru, lalu menempelkan ponselnya ke telinga. Namun, sebelum panggilan itu tersambung di ponsel Hendra, nada dering keras terdengar bergema dari dalam saku bajuku.
Aku mengeluarkan ponsel pribadiku, lalu menekan tombol speakerphone sehingga suaranya bergaung jernih ke seluruh ballroom.
Dari balik telepon, terdengar suara lantang dari Direktur Utama Bank Nusantara Pertama: “Selamat malam, Ibu Chairman Siti Rahma. Melaporkan sesuai dengan instruksi khusus Ibu tadi sore. Selaku Pemegang Saham Mayoritas 80% di Bank Nusantara Pertama, kami telah mengunci seluruh akses rekening kredit Wibowo Corp. Tim hukum dan juru sita kami telah menyiapkan berkas penyitaan seluruh aset jaminan Wibowo Corp yang akan dieksekusi besok pagi tepat pukul delapan.”
Mendengar suara itu, ponsel di tangan Hendra terlepas dan jatuh menghantam lantai. Matanya terbelalak lebar bagaikan mau melompat keluar.
Siti Rahma… bukan sekadar investor yang mau membeli perusahaannya. Siti Rahma adalah pemilik mayoritas dari bank raksasa yang memegang seluruh leher keuangan Wibowo Corp!
Belum sempat keluarga Wibowo memproses benturan kenyataan yang membunuh itu, pintu ballroom kembali terbuka. Seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas abu-abu melangkah masuk dengan tenang. Pria itu adalah Pak Budi, kepala tim pengacara hukum pribadi yang selama ini disewa oleh Hendra Wibowo untuk menangani seluruh urusan akuisisi dan keuangan rahasia keluarganya.
Hendra yang melihat kedatangan pengacaranya mendadak mendapatkan sedikit titik harapan palsu. Dia merangkak mendekati Budi. “Budi! Tolong saya! Kamu adalah pengacara terbaikku! Buatkan adendum perjanjian baru! Yakinkan Ibu Siti untuk menyelamatkan kita!”
Namun, Pak Budi tidak berhenti di depan Hendra. Pria itu terus melangkah maju, lalu berdiri dengan ikhlas dan khidmat di samping kiriku. Budi membungkuk sedikit memberiku hormat, lalu berbalik menatap Hendra dengan senyuman tipis yang penuh misteri.
“Maafkan saya, Pak Hendra Wibowo,” kata Pak Budi dengan suara tenang namun menohok. “Saya rasa ada hal penting yang belum pernah saya sampaikan kepada Anda selama dua tahun saya bekerja sebagai penasihat hukum Anda.”
Hendra mengerutkan keningnya dengan napas terengah-engah. “Apa… apa maksudmu, Budi?!”
“Nama saya adalah Budi Santoso,” ujar Budi perlahan. “Saya bukan sekadar pengacara yang Anda sewa dengan bayaran tinggi. Saya adalah adik angkat kandung dari Ibu Siti Rahma. Kami tumbuh bersama di kampung kecil yang sama di Yogyakarta di bawah asuhan almarhumah Nenek Aminah!”
Seluruh isi ruangan mendadak tertahan napasnya. Kesaksian itu bagaikan dentuman meriam yang menghancurkan sisa-sisa mental keluarga Wibowo hingga berkeping-keping!
Budi melanjutkan dengan dingin: “Selama dua tahun terakhir, atas perintah langsung dari Kakak saya, Ibu Siti Rahma, saya sengaja menyusup ke dalam struktur eksekutif Wibowo Corp. Saya membiarkan Anda merasa aman sambil mengumpulkan seluruh bukti otentik mengenai penggelapan pajak puluhan miliar, pemalsuan dokumen sertifikat tanah, hingga pencucian uang yang Anda lakukan bersama putra Anda, Rizky Wibowo!”
“Kamu… Kamu adalah mata-mata?!” jerit Rizky dengan wajah pucat bagai mayat. Tubuhnya gemetar hebat hingga kedua lututnya tidak sanggup lagi menopang berat badannya.
“Bukan mata-mata, Rizky,” potongku tegas. “Itu dinamakan keadilan. Kalian merasa begitu kuat dan tak tersuntuk sehingga kalian berpikir bisa membodohi hukum dan menindas orang-orang kecil sekehendak hati kalian.”
Aku membuka map dokumen investasi Rp 18 triliun di tanganku. Di hadapan ratusan kamera wartawan, di bawah sorotan lampu kilat yang tak berhenti menyala, aku memegang lembaran kertas perjanjian bernilai astronomis itu.
Dengan gerakan yang sangat perlahan namun penuh ketegasan, aku merobek kertas perjanjian tersebut menjadi dua bagian.
“Kriieek!”
Suara robekan kertas itu terdengar bagaikan vonis mati bagi keluarga Wibowo. Aku merobeknya lagi, dan lagi, hingga menjadi serpihan-serpihan kertas putih kecil.
Aku mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi, lalu melemparkan serpihan kertas tersebut ke udara. Ratusan potongan kertas berterbangan di bawah lampu kristal, lalu gugur perlahan melayang dan jatuh menutupi kepala, bahu, serta tubuh keluarga Wibowo yang masih bersimpuh menangis di atas lantai.
“Dengan ini, aku nyatakan seluruh bentuk kerjasama, investasi, dan negosiasi dengan Wibowo Corp batal secara permanen!” tegas suara saya membelah ballroom. “Tidak akan ada uang Rp 18 triliun. Tidak akan ada akuisisi. Dan tidak akan ada ampun bagi orang-orang yang kehilangan rasa kemanusiaannya!”
Tepat pada saat itu, sirine kendaraan bergema di luar hotel. Sepuluh petugas berseragam dinas dari Kepolisian Republik Indonesia dan Tim Penyidik Kejaksaan Agung melangkah masuk ke dalam ballroom dengan memegang dokumen resmi bertinta merah.
Komisaris Polisi yang memimpin pasukan melangkah menuju ke arah Hendra dan Rizky. “Bapak Hendra Wibowo dan Saudara Rizky Wibowo. Atas laporan resmi dan penyerahan bukti-bukti valid dari tim hukum PT Rahma Nusantara Megah, Anda berdua resmi kami tetapkan sebagai tersangka kasus penipuan keuangan berskala besar, penggelapan pajak negara, dan pemalsuan dokumen. Anda berdua wajib ikut kami ke markas kepolisian sekarang juga!”
Dua pasang borgol besi yang dingin berkilat di bawah lampu ruangan. Petugas kepolisian langsung mengunci pergelangan tangan Hendra dan Rizky.
“Papi! Rizky! Tidak!” jerit Ratna histeris sambil memeluk kaki suaminya, namun petugas wanita dengan sigap mengamankannya. Petugas dari dinas perpajakan dan juru sita pengadilan mulai menempelkan stiker segel pada seluruh barang berharga, tas mewah milik Putri, serta perhiasan berlian yang dikenakan Ratna sebagai barang bukti penyitaan aset.
Putri Wibowo meraung-raung di lantai saat tas kulit impor seharga ratusan juta Rupiah ditarik paksa dari tangannya. Rizky menangis tersedu-sedu bagaikan bayi saat diseret keluar ballroom dengan tangan terborgol di belakang punggungnya. Hendra Wibowo hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, berjalan lunglai menuju mobil tahanan diiringi sorakan dan jepretan kamera dari seluruh elit Jakarta yang hadir.
Dalam hitungan jam, kisah kehancuran tragis keluarga Wibowo menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi nasional, surat kabar, dan media sosial di Indonesia. Keluarga kaya yang tadinya dipuja-puja karena kesombongannya kini menjadi lambang kehinaan dan peringatan keras bagi seluruh negeri.
Tiga bulan berlalu sejak malam kejadian di Hotel Kempinski.
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah merampungkan seluruh proses hukum. Hendra Wibowo dan Rizky Wibowo dijatuhi hukuman penjara belasan tahun atas kejahatan finansial mereka. Seluruh harta kekayaan keluarga Wibowo—mulai dari armada mobil mewah, rekening bank, hingga istana megah tempat tinggal mereka di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat—disita oleh negara dan dilelang secara terbuka untuk membayar utang-utang mereka.
Ratna Wibowo dan Putri Wibowo, yang kini tak memiliki uang sepeser pun dan ditinggalkan oleh seluruh teman sosialita mereka, terpaksa angkat kaki dari kawasan Menteng dan tinggal di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota, hidup dari belas kasihan kerabat jauh yang dulu sering mereka hina.
Hari ini adalah hari pengumuman pemenang lelang atas rumah megah Menteng milik keluarga Wibowo.
Hendra Wibowo, yang mendapat pengawalan khusus dari pihak kepolisian untuk menyaksikan proses penyerahan aset, berdiri di luar gerbang besi tinggi rumah mewahnya. Pria tua itu kini mengenakan pakaian tahanan yang kusam, tubuhnya tampak kurus kering, dan rambutnya memutih penuh duka.
Sebuah mobil sedan hitam Rolls-Royce bergerak pelan dan berhenti tepat di depan gerbang utama. Pintu mobil terbuka, dan aku melangkah keluar dengan anggun. Aku mengenakan gaun batik tulis motif klasik khas Yogyakarta—kain batik yang sama yang telah dibersihkan dan dirawat kembali dengan sempurna.
Hendra menatapku dengan mata kuyu yang tak lagi memiliki sisa-sisa keangkuhan. Dia menarik napas berat, suara parau keluar dari tenggorokannya yang kering.
“Ibu Siti Rahma…” desis Hendra pusing. “Anda telah memenangkan lelang rumah ini. Anda telah mengambil seluruh kekayaan keluarga saya, menghancurkan nama baik kami di seluruh negeri, dan memenjarakan saya serta anak saya di balik jeruji besi. Apakah balasan dendam Anda hanya karena tumpahan anggur di baju batik Anda malam itu belum membuat hati Anda puas?”
Aku melangkah pelan mendekati gerbang kayu jati antik rumah megah itu. Jemariku mengelus ukiran kayu antik pada pintu gerbang dengan kehangatan dan rasa kerinduan yang sangat mendalam.
Aku berbalik menatap Hendra Wibowo, lalu tersenyum dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Ini sama sekali bukan tentang tumpahan anggur malam itu, Pak Hendra. Empat puluh tahun yang lalu, ayahmu merebut tanah dan rumah warisan ini dari Neneku yang buta huruf menggunakan surat tanah palsu saat kami diusir paksa hingga terlunta-lunta di kampung. Hari ini, aku tidak hanya meruntuhkan kerajaan palsumu, tapi aku telah resmi mengambil kembali hak milik tanah leluhurku yang sah!”
