Hari itu saya sadar, Ibu tidak pernah tersesat saat membeli tiket.
Ibu memang sengaja membuang saya di terminal.
Aneh, saya tidak langsung menangis ketika mendengar kenyataan itu.
Saya hanya berdiri di depan rumah yang dulu menjadi rumah saya, memandangi gembok baru yang menggantung di pintu.
Tas sekolah bergambar kartun masih berada di punggung saya.
Di dalamnya ada dua buku tulis, satu kotak pensil, penghapus berbentuk stroberi, dan selembar kertas tempat saya berlatih menulis nama sendiri.
NISA HERLINA.
Tulisan itu miring-miring.
Saya baru enam tahun.
Saya belum mengerti soal sertifikat rumah, uang penjualan, pernikahan kedua, atau orang dewasa yang memilih kehidupan baru.
Yang saya mengerti cuma satu.
Saya tidak punya tempat untuk pulang.
“Kalau begitu Nisa ikut aku dulu.”
Suara Mas Rian terdengar dari belakang.
Mbah Sumi langsung menoleh.
“Kamu mau bawa anak orang ke mana, Rian?”
Mas Rian menggaruk rambut pirangnya.
Wajahnya yang biasanya galak mendadak terlihat kebingungan.
“Ya… ke kontrakan.”
“Kontrakanmu itu bahkan tikus mungkin mikir dua kali sebelum masuk.”
Mbak Lela hampir tertawa.
Hampir.
Kemudian dia melihat saya dan senyumnya lenyap.
Mas Doni, seperti biasa, tidak banyak bicara.
Dia mengambil tas sekolah dari punggung saya.
“Berat,” katanya.
Cuma itu.
Entah kenapa justru kalimat pendek itu yang membuat saya menangis.
Saya memeluk pinggangnya sambil sesenggukan.
Mas Doni kaku seperti tiang listrik.
Tangannya menggantung beberapa detik sebelum akhirnya menepuk kepala saya pelan.
Malam pertama di kontrakan mereka terasa aneh.
Kamar itu cuma sedikit lebih besar daripada kios kecil di terminal. Atap sengnya bocor di dua tempat. Ada kipas angin tua yang harus dipukul dulu supaya mau berputar.
Mereka punya satu kasur busa.
Mas Rian menunjuk kasur itu.
“Nisa tidur situ.”
“Terus kalian?”
“Lantai.”
Saya menggeleng.
“Bareng saja.”
“Tidak.”
Itu pertama kalinya saya tahu bahwa tiga orang yang terkenal kasar di terminal ternyata bisa berdebat hampir setengah jam hanya gara-gara menentukan siapa yang tidur dekat pintu.
Mbak Lela akhirnya membentangkan tikar.
Mas Rian mengambil sarung.
Mas Doni memakai tas berisi pakaian sebagai bantal.
Saya tidur di kasur sendirian.
Menjelang tengah malam, hujan turun.
Saya terbangun dan memanggil Ibu.
Tidak ada yang menjawab.
Saya memanggil sekali lagi.
“Ibu…”
Tiba-tiba terdengar suara Mas Rian dari lantai.
“Kenapa?”
Saya diam.
Mas Rian duduk.
“Mimpi?”
Saya mengangguk.
Dia tidak berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Mungkin dia sendiri tidak yakin.
Dia cuma duduk di lantai dekat kasur sampai saya tertidur lagi.
Begitulah keluarga aneh kami dimulai.
Tidak ada foto keluarga.
Tidak ada rumah besar.
Tidak ada orang dewasa yang benar-benar tahu bagaimana membesarkan anak.
Ada hari ketika sarapan kami cuma nasi dengan kecap.
Ada malam ketika Mas Rian pulang dengan bahu lecet setelah mengangkat karung seharian.
Ada saat Mbak Lela menghitung uang receh hasil jualan nasi bungkus berkali-kali karena uang untuk membeli buku sekolah saya kurang sebelas ribu rupiah.
Mas Doni yang paling jarang bicara justru paling rajin datang ke sekolah.
Rapat orang tua?
Dia datang.
Pembagian rapor?
Dia datang.
Lomba menggambar?
Dia juga datang.
Pernah wali kelas bertanya kepadanya, “Bapak ini ayahnya Nisa?”
Mas Doni terdiam lama.
Saya yang menjawab.
“Kakak saya.”
Sejak hari itu saya memanggil mereka kakak.
Mas Rian.
Mbak Lela.
Mas Doni.
Tahun-tahun berlalu tanpa terasa.
Rambut pirang Mas Rian perlahan kembali hitam.
Tato Mbak Lela tetap ada, tetapi tangan bertatonya sekarang lebih sering memegang centong nasi daripada rokok.
Mas Doni akhirnya berhenti mencuci bus setelah mendapat pekerjaan tetap di sebuah gudang logistik.
Kami pindah dari kontrakan pertama ke kontrakan yang sedikit lebih besar.
Tetap sempit.
Tetap panas.
Tapi punya dua kamar.
Hari pertama pindah, mereka bertiga menunjuk kamar depan.
“Punya Nisa.”
Saya protes.
“Kenapa selalu aku yang dapat kamar?”
Mas Rian menjawab santai, “Karena kamu paling cerewet.”
Saya melempar bantal kepadanya.
Begitulah.
Tidak indah setiap hari.
Kami juga bertengkar.
Saya pernah marah karena Mas Rian melarang saya ikut study tour karena uang sedang sulit.
Saya mengunci pintu kamar dan tidak mau makan.
Malamnya saya mendengar mereka berbicara di luar.
“Motor gue jual saja,” kata Mas Rian.
“Jangan bodoh,” sahut Mbak Lela.
“Terus bagaimana?”
Besok paginya saya keluar kamar dan mengatakan saya tidak ingin ikut study tour.
Saya berbohong bahwa saya mabuk perjalanan.
Mereka tahu.
Saya tahu mereka tahu.
Tidak ada yang membahasnya lagi.
Ketika saya kelas tiga SMA, giliran saya yang mulai bekerja kecil-kecilan.
Saya membantu anak-anak SD belajar matematika setiap sore.
Uangnya tidak banyak.
Tetapi pertama kali menerima bayaran, saya membeli empat bungkus martabak mini.
Mas Rian tertawa.
“Gaji pertama kok habis buat makanan?”
Saya menjawab, “Dulu kalian juga begitu.”
Dia langsung diam.
Mbak Lela membuang muka sambil pura-pura mengambil sambal.
Matanya merah.
Lalu datanglah hari pengumuman perguruan tinggi.
Saya membuka hasilnya menggunakan ponsel tua Mas Doni.
Jari saya dingin.
Situsnya sempat tidak bisa dibuka.
Mas Rian mondar-mandir.
“Gimana?”
“Belum.”
Lima menit.
Sepuluh menit.
Kemudian halaman itu terbuka.
Saya membaca nama saya.
Membaca sekali lagi.
Dan satu kalimat di bawahnya membuat pandangan saya kabur.
Saya diterima.
Dengan beasiswa penuh.
Mbak Lela menjerit sampai tetangga keluar rumah.
Mas Rian memeluk Mas Doni.
Mas Doni malah berkata, “Eh, jangan peluk gue.”
Malam itu kami membeli ayam bakar.
Satu ekor.
Bagi empat.
Mungkin bagi orang lain itu makan malam biasa.
Bagi kami, itu pesta.
Saya kira bagian tersulit hidup saya sudah selesai.
Ternyata belum.
Tiga minggu kemudian seseorang mengetuk pintu kontrakan.
Saya sedang melipat pakaian ketika Mbak Lela membuka pintu.
Lalu tubuhnya membeku.
Seorang perempuan berdiri di luar.
Usianya sekitar akhir empat puluhan. Rambutnya mulai beruban di beberapa bagian. Wajahnya terlihat jauh lebih kurus daripada yang saya ingat.
Saya mengenal matanya.
Dua belas tahun berlalu, tetapi saya mengenal mata itu.
“Nisa.”
Satu kata.
Tangan saya langsung dingin.
Ibu.
Perempuan yang selama bertahun-tahun hanya muncul dalam potongan ingatan kini berdiri beberapa meter dari saya.
Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan.
Bahkan tidak ada air mata seperti yang sering muncul dalam sinetron.
Yang terdengar justru suara pedagang bakso lewat di depan gang.
Ibu masuk setelah Mbak Lela bergeser.
Mas Rian dan Mas Doni pulang beberapa menit kemudian.
Begitu melihat mereka, wajah Ibu berubah.
“Aku mau bicara sama anakku.”
Mas Rian menjawab, “Bicara saja.”
“Empat mata.”
“Nisa yang menentukan.”
Saya menatap Ibu.
“Bicara di sini.”
Ibu duduk.
Tangannya meremas ujung tas.
Lalu keluarlah cerita panjang.
Pak Budi sakit.
Usahanya gagal.
Mereka memiliki utang.
Biaya pengobatan semakin besar.
Entah dari mana Ibu mengetahui bahwa saya memperoleh beasiswa.
Dia juga mendengar saya memiliki tabungan dari mengajar les dan beberapa hadiah prestasi sekolah.
“Nisa,” katanya, “bagaimanapun dia ayahmu.”
Saya hampir tertawa.
“Ayah?”
“Ayah tirimu.”
“Orang yang meninggalkan saya di terminal?”
Ibu menunduk sebentar.
“Waktu itu keadaan kami sulit.”
Kalimat itu menusuk lebih tajam daripada bentakan.
Sulit.
Jadi saya ditinggalkan.
Sesederhana itu?
Ibu mulai menangis.
“Ibu salah. Tapi sekarang Pak Budi benar-benar membutuhkan pengobatan.”
“Kenapa datang kepada saya?”
“Kamu punya uang.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bukan “Ibu kangen.”
Bukan “Ibu mencari kamu.”
Bukan “Maaf.”
Kamu punya uang.
Mbak Lela berdiri.
Saya tahu wajah itu.
Kalau saya tidak segera bicara, mungkin meja plastik kami akan menjadi korban.
Saya menahan tangannya.
Ibu justru memandang mereka bertiga.
Kemudian mengatakan kalimat yang membuat dada saya panas.
“Tiga preman jalanan tidak berpendidikan ini sama sekali tidak pantas kamu anggap sebagai keluargamu, Nisa!”
Mas Rian mengepalkan tangan.
Mbak Lela maju setengah langkah.
Mas Doni tetap diam.
Saya berdiri.
Entah dari mana keberanian itu muncul.
Mungkin dari dua belas tahun melihat tiga orang bekerja sampai tangan mereka kapalan.
“Mereka bertiga berjuang keras dari preman jalanan menjadi orang baik hanya untuk membesarkan saya.”
Suara saya gemetar.
Saya tidak peduli.
“Sementara Ibu, demi mengejar kenyamanan hidup bersama pria lain, tega berubah dari seorang ibu menjadi orang asing yang tidak punya hati.”
Ibu menatap saya.
Lama.
Lalu…
Dia menampar meja.
“Jangan kurang ajar!”
Mas Rian langsung berdiri di depan saya.
Mbak Lela berada di sebelah kiri.
Mas Doni di kanan.
Tiga orang.
Persis seperti bertahun-tahun lalu ketika mereka duduk menemani anak kecil enam tahun di terminal.
Bedanya sekarang saya tidak bersembunyi di belakang mereka.
Saya maju.
“Mas.”
Mas Rian menoleh.
“Biar saya.”
Saya memandang Ibu.
“Saya tidak akan memberikan uang beasiswa itu.”
“Itu uangmu!”
“Justru karena itu.”
Saya mengambil napas.
“Uang itu untuk kuliah saya.”
Ibu menangis semakin keras.
Dia bercerita tentang Pak Budi yang sakit, obat yang mahal, rumah kontrakan yang menunggak.
Saya mendengarkan sampai selesai.
Kemudian saya mengatakan sesuatu yang bahkan membuat Mas Rian menoleh kaget.
“Tapi saya bisa membantu mencari rumah sakit dan jalur bantuan biaya yang sesuai.”
Ibu terdiam.
“Saya tidak akan memberikan uang tunai. Saya juga tidak akan mengorbankan kuliah.”
“Nisa…”
“Kalau memang Pak Budi membutuhkan pengobatan, kita cari cara yang benar.”
Mungkin Ibu mengira saya akan memeluknya setelah mengatakan itu.
Tidak.
Memaafkan bukan tombol yang bisa ditekan dalam satu sore.
Ada luka yang terlalu lama dibiarkan terbuka.
Ibu akhirnya pergi.
Sebelum keluar pintu, dia berhenti.
“Nisa.”
Saya menatapnya.
Bibirnya bergerak seolah hendak mengatakan sesuatu.
Namun tidak jadi.
Pintu tertutup.
Saya berdiri beberapa detik.
Kemudian kaki saya lemas.
Mas Rian menangkap bahu saya.
Saya menangis.
Bukan tangisan seorang anak yang menunggu ibunya kembali.
Tangisan itu sudah selesai bertahun-tahun lalu.
Saya menangis karena akhirnya bisa mengatakan apa yang selama ini tersimpan di dada.
Malamnya, Mas Doni membuat teh.
Dia meletakkan gelas di depan saya.
“Kamu tidak jahat.”
Saya menatapnya.
“Hah?”
“Karena tidak kasih uang.”
Hanya Mas Doni yang bisa menyelesaikan masalah dua belas tahun dengan enam kata.
Saya tertawa sambil menangis.
Beberapa bulan kemudian saya mulai kuliah.
Hari pertama, ketiganya mengantar saya.
Mas Rian memakai kemeja yang terlalu sempit.
Mbak Lela memakai sandal baru.
Mas Doni membawa tas saya meskipun saya sudah berkali-kali bilang bisa membawanya sendiri.
Di depan gerbang kampus saya berkata, “Kalian pulang saja.”
Tidak ada yang bergerak.
“Mas?”
Mas Rian mengeluarkan ponsel.
“Foto dulu.”
Kami meminta seorang mahasiswa mengambil foto.
Empat orang berdiri di depan gerbang kampus.
Saya di tengah.
Mas Rian tersenyum terlalu lebar.
Mbak Lela membuat pose dua jari.
Mas Doni tetap memasang wajah datar.
Foto itu kemudian saya cetak.
Saya tempel di meja belajar.
Kuliah tidak mudah.
Saya sempat hampir menyerah pada semester kedua.
Saya merasa tertinggal dibanding mahasiswa lain.
Mereka punya laptop bagus.
Saya memakai laptop bekas yang kipasnya berbunyi seperti mesin bus.
Suatu malam saya pulang dan melihat sebuah kotak di meja.
Laptop.
Bukan baru.
Tetapi jauh lebih baik daripada milik saya.
Saya langsung tahu.
“Siapa yang beli?”
Tidak ada jawaban.
Saya menatap Mas Rian.
Dia sibuk melihat televisi.
“Mbak?”
“Bukan aku.”
Saya melihat Mas Doni.
Dia makan kerupuk.
Kemudian saya melihat pergelangan tangan Mbak Lela.
Gelang emas kecil yang beberapa tahun terakhir selalu dipakainya hilang.
“Mbak.”
Dia langsung masuk dapur.
Saya mengejarnya.
“Kenapa dijual?”
“Berisik. Cuma gelang.”
Saya menangis lagi.
Mbak Lela kesal.
“Kalau tiap dikasih sesuatu nangis, besok aku kasih bawang sekilo.”
Empat tahun berlalu.
Saya lulus.
Kali ini bukan terminal atau kontrakan yang menjadi saksi.
Sebuah aula besar.
Nama saya dipanggil.
Saya berjalan ke depan mengenakan toga.
Dari kursi keluarga terdengar teriakan.
“NISAAAA!”
Saya tahu siapa.
Mas Rian.
Orang-orang menoleh.
Saya malu setengah mati.
Tetapi saya tersenyum.
Setelah acara selesai, saya mencari mereka di tengah kerumunan.
Mbak Lela menangis tanpa malu.
Mas Doni memegang buket bunga.
Mas Rian membawa bingkai foto.
Foto lama kami di depan gerbang kampus.
Di bawahnya dia menempel secarik kertas.
Tulisan tangannya jelek.
“Dulu kami cuma bisa antar sampai gerbang. Sekarang kamu yang tentukan mau pergi sejauh apa.”
Saya tidak kuat.
Saya memeluk mereka bertiga.
Beberapa bulan kemudian saya mendapatkan pekerjaan di perusahaan logistik besar di Jakarta.
Mungkin lucu.
Mas Doni dulu membongkar barang di gudang supaya saya bisa sekolah.
Sekarang saya bekerja mengatur sistem distribusi barang dari kantor ber-AC.
Gaji pertama saya tidak membeli tas.
Tidak membeli sepatu.
Saya mencari rumah kontrakan yang lebih baik.
Dua kamar.
Dapur bersih.
Atap tidak bocor.
Ketika saya memberikan kuncinya, Mas Rian menolak.
“Kamu simpan uangmu.”
“Tidak.”
“Nisa.”
Saya memasukkan kunci ke tangannya.
“Dua belas tahun lalu kalian memberikan satu-satunya kasur kepada saya.”
Dia terdiam.
“Sekarang giliran saya.”
Mbak Lela menangis lagi.
“Ini debu,” katanya sambil mengusap mata.
Padahal rumah baru saja dibersihkan.
Lalu, pada suatu Minggu pagi, ada seseorang datang.
Ibu.
Kali ini dia tidak meminta uang.
Pak Budi telah meninggal beberapa bulan sebelumnya setelah menjalani perawatan.
Ibu membawa sebuah tas plastik tua.
“Saya cuma mau mengembalikan ini.”
Dia mengeluarkan sesuatu.
Tas sekolah bergambar kartun.
Tas saya.
Tas yang saya bawa ketika ditinggalkan di terminal.
Saya membeku.
“Ternyata dulu tertinggal beberapa barangmu di lemari,” katanya. “Ibu menyimpannya.”
Saya menyentuh tas itu.
Warnanya sudah pudar.
Resletingnya berkarat.
Di dalamnya masih ada penghapus berbentuk stroberi.
Saya menatap Ibu.
Untuk pertama kalinya dia tidak membuat alasan.
Tidak menyalahkan keadaan.
Tidak menyebut Pak Budi.
Dia hanya berkata,
“Ibu melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan seorang ibu.”
Saya diam.
“Maaf.”
Satu kata itu terlambat dua belas tahun lebih.
Namun anehnya…
Saya tidak marah.
Saya juga belum bisa memeluknya.
Saya hanya menarik kursi.
“Duduk dulu.”
Ibu duduk.
Mbak Lela membuat teh.
Mas Rian tidak berkata apa-apa.
Mas Doni meletakkan sepiring pisang goreng di meja.
Tidak ada keajaiban hari itu.
Hubungan saya dan Ibu tidak langsung pulih.
Dia tidak mendadak menjadi ibu sempurna.
Saya juga tidak melupakan masa lalu.
Kami memulainya dari sesuatu yang jauh lebih kecil.
Pesan singkat.
Makan siang sesekali.
Telepon lima menit.
Kadang saya masih marah setelah bertemu dengannya.
Kadang saya tidak membalas pesannya berhari-hari.
Tetapi Ibu tidak lagi memaksa.
Mungkin akhirnya dia mengerti bahwa hubungan yang pernah dibuang tidak bisa dipungut kembali seperti mengambil barang yang tertinggal.
Harus dibangun.
Pelan.
Satu bata setiap kali.
Beberapa tahun kemudian saya berhasil mengumpulkan modal.
Saya mengajak ketiga kakak saya duduk.
“Saya punya ide.”
Mas Rian langsung curiga.
“Kalau pinjam uang, gue lagi bokek.”
Saya tertawa.
“Bukan.”
Saya membuka sebuah map.
Saya ingin membuka usaha katering dan distribusi makanan rumahan.
Mbak Lela punya pengalaman memasak.
Mas Doni memahami gudang dan pengiriman.
Mas Rian mengenal hampir seluruh pedagang serta sopir di sekitar terminal.
Mereka menatap saya seperti saya baru mengatakan ingin membeli bulan.
“Serius?” tanya Mbak Lela.
“Serius.”
Usaha itu dimulai dari dapur kecil.
Dua puluh bungkus.
Lalu lima puluh.
Seratus.
Kami mendapat pesanan dari kantor.
Kemudian perusahaan bus.
Setahun kemudian kami menyewa tempat sendiri dan mempekerjakan sebelas orang.
Beberapa pekerja kami adalah anak-anak muda sekitar terminal yang dulu sering dianggap pembuat masalah.
Mas Rian yang memilih mereka.
“Orang bisa berubah kalau ada yang kasih kesempatan,” katanya.
Saya menatapnya.
Dia tidak sadar sedang membicarakan dirinya sendiri.
Atau mungkin sadar.
Suatu sore kami kembali ke Terminal Kampung Rambutan.
Bukan karena ada masalah.
Kami sedang mengantar pesanan.
Saya berhenti di dekat ruang tunggu.
Bangkunya sudah berbeda.
Warungnya berubah.
Wajah-wajah asing berlalu-lalang.
Tetapi saya masih ingat.
Seorang anak kecil pernah duduk di sana sambil memeluk tas sekolah.
Menunggu seseorang yang tidak akan kembali.
Mas Rian berdiri di samping saya.
“Kenapa?”
Saya menunjuk bangku.
“Dulu di situ.”
Dia mengangguk.
Kami diam sebentar.
Kemudian Mbak Lela berteriak dari kejauhan.
“WOI! BANTU ANGKAT KARDUS, JANGAN MALAH NOSTALGIA!”
Saya tertawa.
Mas Rian mengangkat kardus.
Mas Doni berjalan dari belakang membawa dua kardus sekaligus.
Pemandangan biasa.
Sangat biasa.
Namun tiba-tiba saya menyadari sesuatu.
Selama bertahun-tahun saya mengira kisah hidup saya dimulai ketika seorang ibu meninggalkan anaknya di terminal.
Ternyata bukan.
Kisah saya dimulai beberapa jam setelahnya.
Ketika tiga anak muda yang hidupnya sendiri berantakan memilih duduk menemani seorang bocah asing sepanjang malam.
Mereka tidak punya banyak uang.
Tidak punya pendidikan tinggi.
Tidak punya rumah.
Bahkan mereka sendiri belum benar-benar tahu bagaimana mengurus kehidupan masing-masing.
Tetapi mereka punya satu hal yang saat itu tidak diberikan ibu kandung saya.
Mereka tinggal.
Sesederhana itu.
Mereka tinggal.
Saat saya menangis.
Saat uang habis.
Saat nilai saya buruk.
Saat saya diterima kuliah.
Saat saya wisuda.
Dan saat hidup akhirnya menjadi sedikit lebih ramah kepada kami.
Saya mengambil foto mereka bertiga di depan terminal.
Mas Rian protes karena rambutnya berantakan.
Mbak Lela menyuruh saya mengambil ulang karena wajahnya katanya terlihat bulat.
Mas Doni cuma berkata,
“Cepat. Panas.”
Saya tertawa.
Klik.
Satu foto.
Tidak sempurna.
Mas Rian sedang setengah berkedip.
Mbak Lela belum siap.
Mas Doni melihat ke arah lain.
Justru foto itu yang kemudian saya bingkai dan taruh di ruang kerja.
Di bawahnya saya menulis satu kalimat kecil.
Bukan tentang darah.
Bukan tentang siapa melahirkan siapa.
Saya menulis:
“Keluarga adalah mereka yang tetap tinggal ketika kita tidak punya apa-apa untuk diberikan.”
Bertahun-tahun lalu, seorang anak enam tahun ditinggalkan di sebuah terminal sambil membawa sepotong roti dan sebotol air.
Dia pikir hari itu dia kehilangan keluarganya.
Dia salah.
Karena tepat pada malam yang sama…
dia justru menemukan tiga orang yang kelak mengajarinya arti pulang.
