Dia menatap Maya dengan tatapan dingin.

PART 2

Dalam waktu 2 minggu, Maya berhasil mengolah seluruh sisa hasil panen menjadi mentega kelapa dan minyak murni.

Bambang mendapatkan kontrak pasokan rutin dengan sebuah toko bahan makanan di dekat Stasiun Pekanbaru.

Namun Herman mulai melakukan sabotase.

Dia memajukan jam pemerasan menjadi pukul 4:00 pagi secara sembunyi-sembunyi.

Dia menyembunyikan alat saring dan memprovokasi para pekerja bahwa Maya akan menggantikan posisi mereka.

Maya tidak melayani provokasi itu.

Dia mengubah jam kerjanya menjadi pukul 3:30 pagi, mencatat setiap jadwal pemerasan, dan meminta bantuan Pak Karta serta Rian, pekerja muda usia 20 tahun yang kagum pada kerja keras Maya.

Suatu hari, surat penting datang dari distributor besar di Jakarta.

Mereka ingin menguji produk perkebunan selama 60 hari.

Malam harinya, Maya menemukan pintu ruang pendingin terbuka lebar secara sengaja.

Seluruh stok mentega kelapa hampir meleleh dan rusak.

Maya tidak berteriak.

Keesokan paginya, dia membawa catatan jam kerja, daftar piket, dan bukti gembok yang dirusak ke meja Bambang.

Bambang memanggil Herman saat itu juga.

Di hadapan bukti-bukti tertulis, Herman akhirnya tidak bisa berkutik.

Terungkap bahwa Herman selama ini bekerja sama dengan tengkulak lokal secara ilegal.

Herman sengaja membuang sebagian hasil panen agar stok terlihat sedikit, lalu menjual sisanya secara gelap untuk mendapat komisi pribadi.

Bambang memberikan opsi tegas: berhenti melakukan kecurangan atau angkat kaki hari itu juga.

Herman memilih pergi sambil membawa tasnya dengan penuh dendam.

Setelah mobil yang membawa Herman pergi menjauh, Bambang berjalan ke dapur membawa sebuah kotak kayu tua.

“Ini milik almarhumah istri saya,” kata Bambang pelan. “Kamu harus melihatnya.”

Maya membuka kotak kayu itu dengan hati-hati.

Di dalamnya terdapat 3 buku catatan berdebu, lembaran angka, dan sketsa alat pemeras manual.

Maya membaca halaman pertama dan tertegun.

Perhitungan produksi harian.

Kebutuhan rumah tangga.

Jumlah eksedens.

Estimasi harga jual.

Itu adalah sketsa dan perhitungan yang persis sama dengan yang ditulis Maya di bekas karung tepung.

“Siapa yang menulis ini, Pak?”

“Siti, istri saya.”

Siti meninggal 6 tahun lalu karena sakit berkepanjangan.

“Sapi dan kelapa unggul ini adalah ide Siti,” lanjut Bambang. “Dia bilang, mengandalkan hasil mentah saja adalah tindakan membuang peluang.”

Maya membalik halaman berikutnya.

Siti bahkan telah menghitung biaya cetakan, pengemasan, dan gaji untuk pengelola dapur tambahan.

“Beliau sudah tahu semuanya,” gumam Maya.

“Ya.”

“Lalu kenapa rencana ini tidak pernah dijalankan?”

Bambang menatap keluar jendela ke arah perkebunan yang luas.

“Karena saya tidak mau mendengarkannya waktu itu.”

Bambang bercerita bahwa 6 tahun lalu perkebunan mengalami masa sulit.

Harga komoditas jatuh dan mereka kehilangan banyak tanaman akibat hama.

Saat Siti mengusulkan diversifikasi produk, Bambang hanya melihat risiko dan biaya tambahan.

Tak lama kemudian Siti jatuh sakit dan meninggal dunia.

Rasa bersalah membuat Bambang mengunci semua ide Siti.

Membiarkan minyak kelapa itu terbuang selama 6 tahun adalah cara keliru Bambang untuk mempertahankan kenangan masa lalu.

Dia takut jika ide itu dijalankan, dia harus mengakui kesalahan besarnya saat istrinya masih hidup.

Maya menutup buku catatan itu perlahan.

“Mewujudkan ide seseorang bukan berarti menggantikan posisinya, Pak.”

Bambang mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca.

“Saya baru menyadarinya sekarang.”

Hari itu juga, Bambang mengangkat Maya menjadi kepala divisi pengolahan hasil panen perkebunan secara resmi.

Bukan sebagai pembantu dapur.

Bukan sebagai asisten.

Tapi sebagai pimpinan produksi.

Maya menerima jabatan itu dengan 1 syarat.

“Pak Karta harus diangkat menjadi kepala lapangan mengurus seluruh area pohon kelapa.”

Bambang mengerutkan alisnya.

“Kenapa Karta?”

“Karena dia sudah 12 tahun melakukan pekerjaan pengawas tanpa pernah mendapat gaji yang layak.”

Bambang terdiam sejenak lalu mengangguk.

Keesokan harinya, Bambang bicara langsung dengan Pak Karta.

Pria tua itu tidak langsung menerima.

Dia menanyakan rincian tanggung jawab, target harian, dan kewenangan mengambil keputusan di lapangan.

Setelah semuanya jelas, Pak Karta menjabat tangan Bambang dengan mantap.

“Saya sudah siap melakukan pekerjaan ini sejak 2 tahun lalu jika ada yang mau bertanya.”

Ucapan sederhana itu membuat Bambang teringat betapa banyaknya potensi orang di sekitarnya yang terabaikan.

Kepindahan Herman masih menyisakan sedikit kecanggungan di antara beberapa pekerja muda.

Dika, pekerja usia 19 tahun, merasa segan karena Herman yang dulu membawanya bekerja di perkebunan itu.

Maya memahami perasaan Dika.

Suatu malam, Dika berdiri canggung di pintu dapur.

“Mbok Maya, saya tahu Pak Herman melakukan kesalahan… tapi dulu dia baik sama saya.”

Maya tidak marah. Dia meletakkan sepotong roti hangat beroles mentega segar di depan Dika.

“Seseorang bisa saja pernah membantumu di masa lalu, tapi melakukan kesalahan di masa sekarang. Bantuan masa lalu tidak menghapus kesalahan hari ini, dan kesalahan hari ini tidak menghilangkan kebaikan masa lalunya.”

Dika menatap Maya dengan mata berbinar.

“Mbak Maya tidak marah pada saya?”

“Saya terlalu sibuk untuk marah, Dika.”

Dika tertawa pelan. Rasa canggung di antara para pekerja pun perlahan sirnah.

5 hari kemudian, alat pemeras dan cetakan otomatis yang dipesan dari Kota Padang tiba di perkebunan.

Bambang membeli mesin dengan kapasitas 2 kali lebih besar dari yang diminta Maya.

Maya menyilangkan tangan di dada saat mesin itu diturunkan dari truk.

“Ini bukan tipe yang saya minta, Pak.”

“Saya tahu.”

“Kenapa dibeli?”

“Karena tipe yang kamu minta hanya cukup untuk kapasitas hari ini. Mesin ini cukup untuk kapasitas produksi kita 6 bulan ke depan.”

Maya menatap Bambang dengan wajah bersungut-sungut.

“Harusnya Bapak diskusi dulu dengan saya.”

Bambang tersenyum tipis.

“Kamu benar. Saya minta maaf. Ini tidak akan terulang lagi.”

Sikap terbuka Bambang membuat argumen Maya mereda.

Rian, yang paham soal mesin dari pengalaman membantu ayahnya di bengkel, memimpin pemasangan alat tersebut.

Dengan mesin baru, proses pengolahan yang biasanya memakan waktu 5 jam kini selesai dalam 2 jam saja.

Tiba-tiba, surat balasan dari distributor Jakarta tiba.

Mereka menyetujui kontrak uji coba: 25 kilogram mentega kelapa premium dan 50 liter minyak murni per minggu selama 60 hari.

Maya menegaskan bahwa dia sendiri yang harus mengawal pengiriman pertama ke Jakarta.

“Jarak Pekanbaru ke Jakarta cukup jauh,” kata Bambang.

“Justru karena itu saya harus ikut. Saya ingin bertemu langsung dengan pembeli yang menggunakan produk kita.”

Maya tahu persis, dia tidak boleh membiarkan pihak ketiga mengendalikan nasib produk mereka.

Maya berangkat ke Jakarta ditemani Pak Karta dan Rian.

Sepanjang perjalanan, mereka memastikan kotak pendingin berisi es batu tetap terjaga agar kualitas mentega tidak rusak.

Tiba di kantor distributor Jakarta, sang pemilik usaha, Candra Wijaya, menatap Pak Karta terlebih dahulu.

“Apakah Anda pemilik Perkebunan Kayu Manis?”

Pak Karta menunjuk ke arah Maya.

“Beliau pimpinan produksi kami.”

Candra terkejut sejenak, lalu dengan cepat menyesuaikan sikapnya.

“Selamat siang, Ibu Maya.”

“Panggil saya Maya.”

Sesi pengujian kualitas berjalan sangat sukses.

Tekstur mentega kelapa sangat lembut, aroma kelapa murni sangat khas, dan ketahanan produk luar biasa.

Dua manajer dari jaringan restoran ternama di Jakarta bahkan langsung meminta sampel tambahan.

Namun saat memeriksa berkas kontrak kerja sama, mata Maya tertahan di halaman 4.

Ada klausul kecil yang tersembunyi di bagian bawah:

Selama masa uji coba 60 hari, Perkebunan Kayu Manis wajib memberikan hak eksklusif tunggal kepada pihak distributor. Jika pesanan dikurangi oleh distributor, pihak perkebunan dilarang menjual eksedens produk ke pihak mana pun selama 12 bulan.

Maya meletakkan pena di atas meja.

“Hapus klausul ini.”

Candra tersenyum diplomatis.

“Itu klausul standar dalam bisnis kami, Mbak Maya.”

“Kalau begitu cari produsen lain yang mau menandatanganinya.”

Pak Karta dan Rian menahan napas.

Candra mengikis senyumnya dan menatap Maya tajam.

“Mbak Maya, Anda menolak akses ke pasar terbesar di negara ini hanya karena beberapa baris kalimat?”

“Saya menolak menyerahkan leher usaha kami kepada pihak yang bisa mematikan bisnis kami kapan saja.”

Diskusi berlangsung alot selama 2 jam.

Keberanian dan ketegasan Maya akhirnya membuahkan hasil.

Klausul eksklusif dihapus total, dan Maya bahkan berhasil menaikkan harga patokan minyak murni sebesar 8%.

Saat perjalanan pulang ke Pekanbaru, Pak Karta memecah keheningan.

“Kalau saya yang negosiasi tadi, saya pasti sudah tanda tangan tanpa membaca halaman 4 itu.”

Maya menatap pemandangan di luar jendela.

“Karena itulah saya harus ikut, Pak.”

Setibanya di Perkebunan Kayu Manis, Bambang sudah menunggu di depan gerbang.

Dia membaca lembar kontrak yang sudah ditandatangani.

Saat matanya sampai di halaman 4, dia melihat korekan pena dan paraf Candra di samping klausul yang dihapus.

“Kamu menghapus klausul eksklusivitas?”

“Ya.”

“Kamu melindungi perkebunan ini.”

“Saya melindungi bisnis kita.”

“Itu hal yang sama.”

Malam itu mereka makan malam bersama di dapur perkebunan.

Setelah pekerja lain pulang, Bambang melihat Maya sedang mencermati kembali buku catatan lama milik almarhumah Siti.

“Saya seharusnya mendengarkannya dulu,” kata Bambang pelan.

“Ya, Bapak memang seharusnya mendengarkannya waktu itu,” jawab Maya tanpa basa-basi.

Bambang menghargai kejujuran Maya.

“Dan saya seharusnya mendengarkanmu sejak hari pertama kamu datang.”

“Itu juga benar.”

Bambang tertawa lepas, sebuah tawa tulus yang sudah 6 tahun tidak pernah terdengar di perkebunan itu.

Masa uji coba 60 hari mengubah total nasib Perkebunan Kayu Manis.

Kontrak Jakarta diperpanjang untuk jangka panjang.

Toko di Stasiun Pekanbaru menambah jumlah pesanan 2 kali lipat.

Bahkan datang tawaran baru dari jaringan hotel di Kota Padang dan Medan.

Maya membaca surat tawaran itu di depan Bambang.

“Jika kita mengambil tawaran ini, kita butuh area pengolahan baru.”

“Apa lagi yang kita butuhkan?” tanya Bambang.

“2 pekerja tambahan untuk bagian pengemasan.”

“Ada lagi?”

“Pasokan es batu tambahan untuk pengiriman.”

“Lalu apa lagi?”

Maya menatap Bambang lurus.

“Modal tambahan.”

“Itu sudah pasti.”

Malam itu, Bambang meletakkan peta area perkebunan di meja dapur.

“Jika perkebunan ini milikmu, apa yang akan kamu lakukan?”

Maya berhenti mengaduk bahan adonan.

“Ini bukan milik saya.”

“Saya tahu. Tapi saya ingin mendengar sudut pandangmu.”

Maya tidak lagi ragu-ragu.

Selama 1 jam penuh, Maya memaparkan rencananya dengan jelas.

Area gudang mana yang bisa diubah menjadi ruang sterilisasi, bagaimana menjaga kesejahteraan pekerja agar produksi tetap stabil, dan mengapa mereka tidak boleh bergantung pada 1 pembeli besar saja.

Bambang mendengarkan tanpa memotong satu kalimat pun.

Saat Maya selesai berbicara, Bambang menunjuk ke arah peta perkebunan.

“Besok pagi kita mulai renovasi gudang barat.”

Sejak malam itu, dinamika kerja di antara mereka berubah total.

Tidak ada lagi sekat antara pemilik dan pekerja.

Segala keputusan besar diambil melalui diskusi terbuka.

Tidak ada lagi kalimat “karena saya pemilik tempat ini”.

Suatu sore, Bambang datang membawa sebuah kotak kecil dari kayu jati.

Maya membukanya dan menemukan cetakan mentega manual dari kayu ukir.

Di permukaannya terukir logo seikat batang kayu manis dan dua huruf besar:

KM.

Kayu Manis.

Maya menyentuh ukiran halus itu dengan jarinya.

“Di mana Bapak mendapatkan ini?”

“Saya memesannya khusus dari pengukir tua di Kota Padang.”

“Logo kayu manis ini…”

“Itu sketsa yang pernah digambar Siti di buku catatannya.”

Bambang menatap Maya dengan tulus.

“Saya ingin hasil kerjamu memiliki identitas resmi. Dan saya ingin kamu tetap di sini. Bukan sebagai pengelola dapur, bukan hanya sebagai kepala produksi, tapi sebagai mitra yang membangun tempat ini bersama saya.”

Maya memegang cetakan kayu itu erat-erat.

Dia teringat pada kedai ibunya yang disita bank.

Dia teringat pada hari-hari sulit saat mencari pekerjaan.

Dan dia teringat pada galon minyak murni yang dibuang ke tanah pada hari pertamanya.

“Saya akan bertahan di sini,” kata Maya pelan. “Tapi bukan karena Bapak meminta.”

Bambang menunggu kelanjutan kalimatnya.

“Saya bertahan karena tempat ini sekarang juga bagian dari perjuangan saya.”

Maya tidak bicara soal surat kepemilikan tanah.

Dia berbicara tentang peleringatan pagi sebelum fajar, perhitungan angka di bawah lampu minyak, mentega yang diselamatkan dari sabotase, dan para pekerja yang kini memiliki penghidupan lebih baik.

Bambang tersenyum dan mengangguk paham.

Keesokan harinya, Maya menggunakan cetakan kayu jati itu untuk pertama kalinya.

Dia menekan cetakan itu di atas balok mentega segar yang kuning keemasan, lalu mengangkatnya perlahan.

Ukiran kayu manis dan huruf KM tercetak sempurna di atas permukaan mentega.

Rian bersiul kagum melihat hasilnya.

Pak Karta tersenyum bangga dan menyarankan agar balok pertama disimpan sebagai kenang-kenangan.

Maya menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“Produk pertama ini harus langsung dijual.”

“Bahkan yang pertama?”

“Khususnya yang pertama.”

Mentega berlogo KM itu dikirim sore harinya ke pelanggan utama di Pekanbaru.

Pagi berikutnya, Maya berdiri di dekat jendela dapur saat proses pemerasan dimulai.

Dia melihat Rian dan Dika mengangkut wadah penampung dengan hati-hati.

Pak Karta mengawasi kesehatan pohon dan hasil panen.

Mbak Marni mulai menyiapkan bahan pembuatan kue di dapur yang bersih.

Bambang berjalan melintasi halaman sambil membawa dokumen pemesanan baru.

Tidak ada satu tetes pun bahan berharga yang terbuang ke tanah.

Di laci meja dapur, Maya masih menyimpan lembaran kertas karung tepung tempat dia menuliskan perhitungan pertamanya.

75 liter per hari.

Ratusan liter setiap minggu.

Bertahun-tahun terbuang sia-sia di atas tanah.

Maya tidak perlu melihat kertas itu lagi untuk tahu angkanya.

Dia menyimpannya hanya untuk mengingatkan satu hal penting:

Selama bertahun-tahun, semua orang menyebut hasil olahan itu sebagai “barang sisa” hanya karena tidak ada yang tahu cara memanfaatkannya.

Sesuatu yang dianggap tidak berguna oleh orang lain, sering kali hanya sedang menunggu orang yang tepat untuk melihat nilainya dari sudut pandang yang berbeda.