DIA DITUDUH MELAKUKAN PENIPUAN TUJUH TAHUN LALU… TAPI DIA KEMBALI UNTUK MENGAMBIL KEMBALI APA YANG MEMANG MENJADI HAKNYA
Suasana di ruang resepsi sebuah klub golf di Jakarta Selatan mendadak sunyi ketika Ardi Pratama melangkah melewati pintu kaca. Ia mengenakan jas gelap dengan potongan sempurna, berdiri tegak, dan memiliki tatapan dingin yang tak lagi dikenali siapa pun di ruangan itu. Sudah tujuh tahun ia tidak menginjakkan kaki di Jakarta, sejak malam ketika keluarga tunangannya, Nadia, menuduhnya melakukan penipuan di depan umum dan mengusirnya dari perusahaan arsitektur ternama milik keluarga mereka.
Di samping meja utama, Nadia sedang tertawa kecil bersama beberapa pemegang saham. Namun ketika melihat percakapan orang-orang di sekitarnya tiba-tiba terhenti, ia menoleh.
Matanya langsung bertemu dengan mata Ardi.
Gelas wine di tangannya hampir terlepas.
—Tidak mungkin… —bisiknya, merasakan perutnya seketika mual.
Ayahnya, Hendra Wijaya, pemilik perusahaan sekaligus kepala keluarga, segera berjalan cepat dari meja kehormatan dengan wajah penuh kemarahan. Di belakangnya mengikuti Raka, sepupu Nadia yang mengambil alih posisi Ardi sebagai direktur utama setelah Ardi pergi tujuh tahun lalu.
—Siapa yang memberimu izin masuk ke sini? Keluar sekarang juga, kalau tidak mau kali ini benar-benar kami masukkan ke penjara! —bentak Hendra, tanpa peduli puluhan tamu sedang memperhatikan mereka—. Kau masih punya muka untuk datang ke acara keluarga kami setelah apa yang sudah kau curi?
Ardi tidak mundur sedikit pun.
Ia menatap lelaki tua itu dengan ketenangan yang justru membuat suasana semakin mencekam.
—Saya tidak datang untuk meminta izin, Pak Hendra. Saya datang untuk menghadiri rapat pemegang saham pukul delapan malam —jawab Ardi dengan suara tenang dan berat—. Dan gedung tempat kalian mengadakan acara ini sekarang dimiliki oleh dana investasi yang saya wakili.
Raka tertawa keras, tetapi terdengar jelas bahwa tawanya dipaksakan.
—Ayolah, Ardi. Semua orang tahu kau berakhir bekerja di kantor kecil di Bandung setelah kabur dari Jakarta. Kalau kau tidak sampai masuk penjara, itu karena Nadia masih merasa kasihan kepadamu. Jadi jangan mencoba mengesankan siapa pun dengan kata-kata besar. Keamanan! Keluarkan gelandangan ini!
Ardi memasukkan satu tangan ke dalam saku jasnya.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah dokumen dengan stempel resmi dan meletakkannya di depan para anggota dewan.
—Kalau petugas keamanan menyentuh saya, Raka, perintah pembekuan aset perusahaan ini akan langsung dijalankan malam ini.
Senyum Raka lenyap.
Ardi membuka dokumen itu perlahan.
—Saya menghabiskan tujuh tahun terakhir melacak setiap transfer yang dulu digunakan untuk menuduh saya melakukan penipuan. Dan ternyata uang itu tidak pernah masuk ke rekening saya.
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya berpindah langsung kepada Raka.
—Uang tersebut mengalir melalui jaringan perusahaan cangkang yang semuanya terhubung dengan nama perusahaan milikmu.
Suara bisikan langsung memenuhi ruangan.
Beberapa pemegang saham saling berpandangan. Seorang direktur bahkan berdiri dari kursinya untuk melihat dokumen tersebut lebih dekat.
Hendra menoleh tajam kepada Raka.
Untuk pertama kalinya, wajah lelaki tua itu tampak pucat.
—Apa maksudnya ini, Raka? —tanyanya dengan suara bergetar.
—Itu… bohong, Paman. Dokumennya palsu… —balas Raka terbata-bata sambil mundur satu langkah.
Nadia akhirnya maju.
Wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan kepanikan.
—Ardi… kenapa kau tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepadaku? —tanyanya dengan suara pecah—. Malam itu aku memintamu menjelaskan semuanya, tetapi kau justru pergi.
Ardi menatapnya.
Tidak ada kemarahan di matanya.
Justru itu yang membuat Nadia semakin terpukul.
—Aku datang mencarimu tiga kali ke rumahmu, Nadia —jawabnya pelan—. Tetapi kau memilih mempercayai keluargamu sebelum memberiku kesempatan untuk menjelaskan.
Nadia menundukkan kepala.
—Aku…
—Hari itu aku sadar bahwa cintamu bergantung pada nama keluarga dan reputasi.
Kata-kata itu membuat Nadia terdiam.
Ardi berjalan menuju meja utama.
Ia meletakkan dokumen resmi tersebut tepat di tengah meja, lalu menatap Hendra tanpa sedikit pun keraguan.
—Kalian punya waktu dua puluh empat jam untuk mengaudit seluruh pengelolaan perusahaan selama Raka menjabat dan menyerahkan kendali perusahaan kepada saya.
Hendra mengerutkan kening.
—Apa maksudmu?
Ardi menjawab dengan tenang.
—Pukul delapan pagi tadi, dana investasi yang saya wakili telah membeli 60 persen saham perusahaan.
Ruangan seketika meledak dalam bisikan.
Raka menatap Ardi seperti baru saja melihat sesuatu yang mustahil.
Nadia justru melangkah mendekat.
—Ardi, kumohon… —tangannya hampir menyentuh lengan Ardi—. Kita bisa membicarakan semuanya secara pribadi. Aku memang melakukan kesalahan.
Ardi menarik lengannya dengan tenang.
Tidak kasar.
Tidak terburu-buru.
Namun cukup jelas untuk menunjukkan bahwa batas antara mereka sudah berubah.
—Mulai sekarang, bagi saya Anda adalah Ibu Nadia, salah satu pemegang saham perusahaan —katanya tegas—. Masa lalu sudah selesai malam ini.
Nadia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ardi melanjutkan langkahnya.
—Saya sudah membangun kembali hidup saya bersama seorang wanita yang benar-benar mencintai saya. Dia tetap berada di sisi saya ketika saya kehilangan nama, uang, dan pekerjaan. Baginya, saya bukan dinilai dari nama keluarga atau jumlah uang di rekening.
Ia berhenti sejenak di dekat pintu.
Tidak menoleh.
—Dan saya tidak berniat kehilangan wanita seperti itu hanya demi kembali kepada orang-orang yang dulu memilih menghancurkan saya.
Ardi kemudian meninggalkan ruangan.
Orang-orang yang hadir otomatis menyingkir dari jalannya.
Tidak ada yang berani berbicara.
Di belakangnya, keluarga Hendra Wijaya mulai terjebak dalam kepanikan, tuduhan, dan pertanyaan yang tidak bisa lagi mereka hindari.
Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, orang-orang yang dulu menghancurkan nama Ardi harus berhadapan dengan kenyataan bahwa lelaki yang mereka usir dari Jakarta ternyata tidak pernah benar-benar kalah.
Ia hanya pergi untuk membangun kekuatan yang tidak bisa lagi mereka kendalikan.
