PART 2
Aris duduk di dalam sebuah kafe kecil yang berjarak 500 meter dari rumahnya.
Oscar, teknisi yang memasang sistem keamanan di rumah Aris 2 tahun lalu, mengirimkan tautan akses server cadangan otomatis melalui pesan pribadi.
Aris membuka laptopnya dan mulai memeriksa rekaman video beberapa minggu terakhir.
Pada rekaman tanggal 12 bulan lalu, pukul 07:15 WIB.
Kamera di sudut dapur merekam Vina sedang menuangkan jus jeruk ke dalam gelas Naya.
Vina mengambil sebuah botol kecil dari kantong apronnya, meneteskan 5 tetes cairan bening ke dalam gelas, lalu mengaduknya.
10 menit kemudian, kamera ruang tengah memperlihatkan Naya berjalan sempoyongan.
Naya tampak bingung, menangis, dan menjatuhkan mainannya.
Vina berdiri di depan Naya sambil memegang ponselnya, merekam setiap detik kepanikan anak kecil itu.
“Ayo mengamuk lagi, Naya. Biar Papa lihat betapa rusaknya mental kamu,” bisik Vina di depan kamera ponselnya.
Aris mengepalkan tangannya di atas meja.

Dia melanjutkan pencarian pada rekaman area ruang kerja.
Pada rekaman tanggal 28 bulan lalu, pukul 14:20 WIB.
Seorang pria berjas rapi duduk di kursi kerja Aris.
Itu adalah Sergio.
Vina berdiri di sampingnya sambil menyodorkan beberapa lembar dokumen.
“Tinggal dua video lagi, Sergio. Aris makin kasihan melihat kondisi Naya. Dia mulai berpikir untuk memasukkan Naya ke asrama khusus di Bandung,” kata Vina.
Sergio tertawa pelan.
“Bagus. Begitu Aris menyerahkan hak pengasuhan sementara dan menandatangani perjanjian pengelolaan aset, perusahaan kita resmi mengambil alih pengoperasian villa Nusa Dua.”
Pukul 13:15 WIB, Aris kembali ke rumahnya.
Dia tidak membawa koper.
Dia membuka pintu depan dengan kunci cadangan.
Vina yang sedang duduk di sofa terkejut melihat Aris berdiri di ambang pintu.
“Aris? Kenapa kamu kembali? Bukannya kamu harus ke bandara?”
Aris tidak menjawab pertanyaan itu.
Dia berjalan lurus ke kamar Naya.
“Naya, ambil tas sekolahmu. Kita pergi ke rumah Nenek.”
Vina langsung berdiri dan menyusul ke koridor.
“Aris, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba membawa Naya? Dia sedang tidak stabil hari ini, dia butuh istirahat!”
Aris menatap Vina dengan pandangan dingin yang belum pernah Vina lihat sebelumnya.
“Jangan sentuh anakku.”
Aris menggandeng tangan Naya dan berjalan keluar rumah tanpa menoleh lagi.
Mereka menuju rumah Ibu Carmen, ibu dari almarhumah Maya yang tinggal di kawasan Darmo.
Ibu Carmen menyambut cucunya dengan pelukan hangat.
Setelah Naya berada di dalam kamar bersama neneknya, Aris menghubungi Laura Valdes, pengacara keluarga yang mengurus surat warisan almarhumah Maya.
1 jam kemudian, Laura tiba di rumah Ibu Carmen.
Laura mendengarkan cerita Aris dan langsung memeriksa dokumen korporasi aset keluarga Maya.
“Aris, ini bukan kebetulan,” ujar Laura sambil membuka laptopnya.
“3 minggu lalu, sebuah perusahaan bernama PT Horizon Costa mengajukan permohonan peninjauan ulang struktur pengelolaan PT Aset Bali, perusahaan yang menaungi villa Nusa Dua.”
“Siapa direktur PT Horizon Costa?” tanya Aris.
“Sergio Llorente.”
Aris teringat draft dokumen yang pernah ditunjukkan Vina 4 bulan lalu.
Saat itu, Vina berpura-pura memberikan saran bisnis secara tidak sengaja.
Vina mengatakan daripada villa Nusa Dua kosong dan memakan biaya perawatan, lebih baik dikelola oleh agen profesional agar menghasilkan pendapatan yang bisa disimpan untuk tabungan masa depan Naya.
Aris sempat membaca draft proposal itu, namun menunda menandatanganinya karena ada pasal mengenai wewenang pengelola yang terlalu luas.
Laura menunjukkan lembar salinan dokumen permohonan tersebut.
“Rencana mereka sangat rapi, Aris.”
“Di dalam draft ini ada pasal khusus.”
“Jika kamu dianggap tidak mampu atau terhalang mengurus aset karena fokus pada pengobatan medis Naya yang membutuhkan perawatan intensif di luar kota, maka hak penandatanganan operasional harian dilimpahkan kepada Vina sebagai istri sah.”
“Selanjutnya, Vina berhak menunjuk PT Horizon Costa sebagai pengelola tunggal selama 10 tahun dengan klausul penalti pembatalan sebesar Rp 10.000.000.000.”
Skema itu sangat jelas.
Mereka tidak berniat mencuri kepemilikan tanah secara langsung karena hukum waris sangat ketat.
Mereka menciptakan kondisi palsu di mana Naya terlihat memiliki gangguan perilaku berat.
Mereka memanfaatkan rasa bersalah Aris yang sering bertugas di luar kota.
Mereka ingin Aris merasa gagal sebagai ayah, sehingga bersedia menyerahkan pengasuhan Naya ke lembaga khusus dan menyerahkan urusan aset kepada Vina.
Setelah itu, Sergio dan Vina akan menyedot seluruh keuntungan operasional villa melalui kontrak manajemen palsu.
“Mereka meracuni anakku demi uang,” kata Aris dengan suara bergetar menahan amarah.
Ibu Carmen yang mendengarkan dari pintu kamar mengusap air matanya.
Sore itu juga, Aris membawa Naya ke rumah sakit swasta untuk menjalani pemeriksaan darah dan urin secara menyeluruh.
Dokter spesialis anak dan tim forensik medis melakukan tes laboratorium.
Hasil tes keluar malam harinya.
Dalam sampel darah Naya ditemukan kandungan zat penenang jenis Clobazam dengan dosis yang tidak seharusnya dikonsumsi oleh anak usia 6 tahun tanpa resep dokter.
Dokter membuat surat keterangan medis resmi mengenai temuan zat berbahaya tersebut.
Aris dan Laura langsung mendatangi Markas Kepolisian Resort Surabaya untuk membuat laporan polisi resmi atas dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak, pemberian zat berbahaya, dan permufakatan jahat.
Sementara itu, teknisi Oscar terus mendownload seluruh riwayat rekaman CCTV dari server cloud selama 1 tahun terakhir.
Oscar menemukan 14 video kunci lainnya.
Salah satu rekaman audio paling krusial tercipta 7 bulan lalu, saat Aris dan Vina baru menikah selama 3 bulan.
Dalam video itu, Vina sedang melakukan panggilan video di ruang kerja saat Aris sedang bertugas di Jakarta.
Layar laptop Vina memantulkan wajah Sergio.
“Kita harus sabar, Sergio. Aris sangat menjaga aset peninggalan almarhumah istrinya,” kata Vina dalam rekaman itu.
Suara Sergio terdengar jelas dari pengeras suara laptop.
“Gunakan anak itu. Aris selalu merasa bersalah kalau soal anaknya. Bikin anak itu tampak bermasalah.”
Vina tertawa pelan di depan kamera.
“Tenang saja. Dia tidak akan curiga padaku. Dia sudah ada di genggamanku.”
Bukti tidak berhenti sampai di sana.
Tim hukum Laura melakukan penelusuran rekam jejak digital dan dokumen legalitas PT Horizon Costa.
Hasilnya mengejutkan.
Vina dan Sergio ternyata pernah bekerja di perusahaan agen properti yang sama di Bali 3 tahun sebelum Vina mengenal Aris.
Bahkan, PT Horizon Costa didirikan 2 bulan sebelum Vina pertama kali bertemu Aris di sebuah acara penggalangan dana sosial di Surabaya.
Di dalam folder lama pada akun penyimpanan awan milik Vina yang berhasil diproses oleh kepolisian melalui penetapan izin pengadilan, ditemukan berkas presentasi bertanggal 4 tahun lalu.
Berkas itu berisi analisis detail mengenai total kekayaan almarhumah Maya, struktur saham PT Aset Bali, daftar properti di Nusa Dua, serta profil Aris sebagai duda kaya yang berduka.
Vina sudah menargetkan Aris bahkan sebelum Aris mengenal namanya.
Pernikahan, sikap manis, toleransi terhadap foto almarhumah Maya, dan kesabaran Vina selama ini hanyalah sandiwara yang dirancang secara dingin.
Selama 3 hari berturut-turut setelah Aris membawa Naya pergi, Vina mengirimkan belasan pesan singkat ke ponsel Aris.
Pesan pertama berpura-pura cemas: “Aris, kamu di mana? Kenapa membawa Naya tanpa bicara dulu? Aku khawatir sekali.”
Pesan kedua mulai menyalahkan Naya: “Naya itu butuh terapi, Aris! Kamu tidak tahu betapa bahagianya dia berpura-pura manis di depanmu tapi mengamuk saat kamu pergi!”
Pesan ketiga mulai membawa nama Sergio tanpa sadar: “Sergio dan PT Horizon Costa cuma mau membantu kita mengelola villa Bali supaya kamu tidak pusing lagi memikirkan biaya perawatan!”
Aris tidak membalas satu pun pesan itu.
Dia hanya menyimpan seluruh tangkapan layar pesan tersebut dan menyerahkannya kepada penyidik kepolisian sebagai bukti tambahan.
Hari ke-4, polisi menerbitkan surat perintah penangkapan dan penetapan tersangka terhadap Vina Rivas dan Sergio Llorente.
Petualangan hukum dimulai.
Sebuah pertemuan resmi digelar di kantor kepolisian dengan dihadiri oleh penyidik, Laura sebagai kuasa hukum Aris, serta Vina yang didampingi pengacara hukumnya.
Vina masuk ke ruang pemeriksaan dengan wajah pucat, namun masih berusaha bersikap tenang.
Saat melihat Aris duduk di seberang meja, Vina mencoba berbicara dengan suara bergetar.
“Aris, ini semua salah paham. Kamu merusak pernikahan kita cuma karena rincian dari anak kecil yang sedang tantrum?”
Aris menatap mata perempuan yang pernah dicintainya itu tanpa ekspresi.
“Aku sudah melihat seluruh rekaman CCTV rumah.”
Vina membeku.
“CCTV apa?”
“Dapur. Ruang kerja. Panggilan videomu dengan Sergio 7 bulan lalu. Dan file presentasi analisis warisan Maya yang kamu buat 4 tahun lalu,” kata Aris datar.
Wajah Vina mendadak kehilangan seluruh warnanya.
Laura meletakkan lembaran bukti hasil laboratorium medis di atas meja.
“Ini laporan kandungan obat penenang Clobazam di dalam darah Naya. Tanpa resep dokter. Dan kami punya video saat Anda meneteskannya ke dalam gelas jus buah Naya pada pukul 07:15 WIB.”
Pengacara yang mendampingi Vina tampak terkejut dan membalik-balik lembaran bukti medis tersebut.
Vina panik. Dia melihat ke arah pengacaranya, lalu kembali menatap Aris.
“Aku… aku cuma kasih sedikit supaya dia tenang! Kamu tidak tahu betapa rewelnya dia kalau kamu tidak ada di rumah!”
“Dia rewel karena obat yang kamu berikan,” potong Aris tajam. “Kamu meracuni anakku untuk membuat narasi bahwa dia mengalami gangguan mental.”
Vina mengepalkan tangannya di atas meja, lalu berteriak hysteris.
“Toh villa di Bali itu bakal tetap jadi milik Naya saat dia dewasa! Aku cuma mau mengurus operasionalnya!”
Laura menatap Vina dingin.
“Dan pernyataan itu baru saja menjadi pengakuan terbuka bahwa Anda memiliki motif ekonomi di balik tindakan penganiayaan anak ini.”
Penyidik kepolisian langsung mencatat seluruh pernyataan tersebut ke dalam Berita Acara Pemeriksaan.
Hari itu juga, Vina Rivas dan Sergio Llorente resmi ditahan di rutan kepolisian untuk menjalani proses peradilan atas tuduhan penganiayaan anak terencana, pemalsuan, dan penipuan korporasi.
Setelah proses hukum berjalan, Aris mengambil langkah penting untuk melindungi masa depan putrinya.
Aris mendatangi kantor notaris bersama Ibu Carmen dan Laura.
Aris secara sukarela mengubah klausul kepemimpinan dalam PT Aset Bali.
Dia melepas haknya untuk membuat keputusan tunggal atas aset-aset peninggalan almarhumah Maya.
Aris membentuk dewan pengawas independen yang terdiri dari Ibu Carmen, seorang auditor publik independen, dan lembaga wali amanat hukum.
Setiap keputusan mengenai villa Nusa Dua harus mendapatkan persetujuan tertulis dari dewan pengawas sampai Naya berusia 21 tahun.
Laura tertegun melihat keputusan Aris.
“Aris, kamu membatasi kekuasaanmu sendiri atas harta itu.”
Aris menatap surat keputusan yang baru ditandatanganinya.
“Harta itu milik Naya dari mamanya. Tugas saya hanya memastikan harta itu utuh sampai dia dewasa, tanpa bisa diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk oleh keputusan salah yang mungkin saya buat di masa depan.”
6 bulan kemudian.
Musim panas tiba.
Aris membawa Naya dan Ibu Carmen berlibur ke Nusa Dua, Bali.
Villa keluarga itu berdiri megah di atas tebing yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Pintu-pintu kaca besar dibuka lebar, membiarkan angin laut yang segar masuk memenuhi seluruh ruangan.
Naya berlari gembira di sepanjang balkon batu yang dihiasi pot-pot bunga kertas warna-warni.
Ibu Carmen berjalan perlahan memeriksa kamar-kamar yang sudah lama tertutup.
Di dalam sebuah laci meja jati di kamar utama, Ibu Carmen menemukan sebuah buku catatan bergaris milik almarhumah Maya.
Di halaman tengah buku itu, ada coretan tangan Maya berupa gambar pemandangan laut dan sebuah kalimat sederhana: “Di rumah ini, aku ingin Naya belajar mencintai laut dan merasa aman.”
Ibu Carmen membawa buku itu ke balkon dan memperlihatkannya kepada Naya.
Naya mengeja tulisan di halaman tersebut.
“Ini tulisan Mama Maya?” tanya Naya.
Aris berlutut di samping putrinya. “Iya, Sayang. Mama Maya yang tulis khusus buat kamu.”
Naya menatap foto ibunya yang terpajang di dinding ruang tengah, lalu menatap Aris.
“Papa, rumah ini punya Naya?”
“Rumah ini milik Naya. Nanti kalau Naya sudah besar, Naya bebas menentukan mau dipakai untuk apa rumah ini.”
Naya berpikir sejenak, lalu menunjuk ke arah Ibu Carmen.
“Kalau begitu, Nenek Carmen harus tinggal di kamar paling besar di atas ya.”
Ibu Carmen tertawa kecil sambil mengusap air mata di sudut matanya dan berpaling ke arah laut.
Malam harinya, mereka makan malam bersama di teras luar.
Naya bercerita tentang teman-teman barunya di sekolah Surabaya, Ibu Carmen menceritakan kisah lucu masa kecil Maya saat pertama kali belajar berenang di pantai Nusa Dua, dan Aris tertawa lepas tanpa beban.
Saat waktu tidur tiba, Aris mengantar Naya ke kamarnya.
Di dekat pintu kamar, tergeletak sebuah tas ransel kain berwarna hijau lusuh dengan tali yang mulai terkelupas.
Itu adalah tas ransel yang dibawa Naya saat Aris menjemputnya kembali pada hari pembalatan penerbangan 6 bulan lalu.
“Naya, besok Papa belikan tas baru ya untuk sekolah? Tas hijau ini sudah tua dan agak rusak,” kata Aris lembut.
Naya menggelengkan kepala dengan cepat.
“Tidak mau, Pa.”
“Kenapa? Nanti talinya putus di sekolah.”
Naya memeluk tas ransel hijau itu di dadanya.
“Naya mau pakai tas ini terus.”
“Kenapa?” tanya Aris penasaran.
Naya menatap mata papanya dengan tulus.
“Karena tas ini yang Naya pakai waktu Papa balik ke rumah dan jemput Naya.”
Aris terpaku di tempatnya berdiri.
Bagi Aris, perjuangan 6 bulan terakhir adalah soal hukum, dokumen puluhan miliar, analisis laboratorium, dan pengusutan pengkhianatan yang kejam.
Namun bagi seorang anak berusia 6 tahun, semua itu hanya tentang satu momen sederhana: momen ketika ayahnya memilih untuk percaya padanya, berbalik arah, dan menggandeng tangannya keluar dari ketakutan.
Aris duduk di tepi tempat tidur, memeluk putri kecilnya erat-erat, dan mengusap rambutnya.
Naya menatap Aris sambil tersenyum tenang.
“Naya sudah tahu dari awal kalau Papa pasti kembali.”
5 kata sederhana itu menyentuh bagian terdalam dari hati Aris.
Aris melangkah keluar menuju balkon kamar, menatap ombak laut Nusa Dua yang berkilau di bawah cahaya bulan.
Matanya berkaca-kaca.
Dia akhirnya menyadari di mana cerita ini sebenarnya bermula dan berakhir.
Bukan pada angka Rp 45.000.000.000.
Bukan pada villa megah di tebing laut.
Bukan pada kelicikan dokumen kejahatan Vina dan Sergio.
Cerita ini bermula 12 menit sebelum sebuah taxi sampai, ketika seorang anak perempuan berusia 6 tahun mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berbisik:
“Papa, jangan pergi hari ini.”
Vina mungkin bisa merencanakan segalanya dengan rapi.
Vina bisa mempelajari kelemahan Aris, memanfaatkan rasa duka, merancang dokumen palsu, dan menyiapkan obat penenang.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa dihitung atau dihancurkan oleh kejahatan apa pun:
Rasa percaya seorang anak bahwa ayahnya akan selalu mendengarkan suaranya.
Dan hari itu, Aris tidak hanya menyelamatkan harta warisan putrinya.
Dia telah menyelamatkan jiwa dan kepercayaan anak kandungnya selamanya.
